Anda di halaman 1dari 13

BAB I

DATA PASIEN
A. IDENTIFIKASI
Nama

: Ny. M

Umur

: 35 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Seputih Agung

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

MRS

: 20 Agustus 2014

KRS

: 22 Agustus 2014

B. ANAMNESIS (autoanamnesis tanggal 20 Agustus 2014)


Keluhan Utama

Perut terasa kencang-kencang sejak 5 hari SMRS


Keluhan tambahan :
Keluar darah dan lendir dari jalan lahir sejak 5 hari SMRS
Riwayat perjalanan penyakit :
5 hari SMRS os mengeluh perut kencang-kencang yang menjalar ke pinggang,keluhan
disertai dengan keluanya lendir dan darah dari jalan lahir sekitar 5 hari SMRS. Kencang-kencang
dirasakan semakin sering, menurut pasien kencang-kencang dirasakan dengan frekuensi sekitar 1
sampai 2 kali dalam waktu 10 menit.Pasien juga mengeluhkan keluardarah dan lendir dari jalan
lahir, pasien mengaku darah akan keluar dari jalan lahir ketika terasa kencang-kencang pada
perutnya. Jumlah darah yang keluar dari jalan lahir tidak begitu banyak, dalam sehari pasien
mangaku mengganti softex sekitar 1 sampai 2 kali. Riwayat keluar air-air (-). Sebelum ke RS pasien
sempat dibawa ke bidan dan dilakukan pemeriksaan dalam dan didaptkan pembukaan 2 cm.
Riwayat trauma (-). Riwayat keputihan (+) sejak awal bulan kehamilan. Riwayat demam (-).
Riwayat post coitus (+). Riwayat perut diurut-urut (-). Gerakan janin masih dapat dirasakan pasien.
Riwayat Perkawinan : 1 x lamanya 6 tahun.
Riwayat Reproduksi : Menarche umur 14 tahun, haid teratur, siklus 28 hari, lamanya 7 hari.

Riwayat Obstetri
N

Tempat

Bersalin
Bidan

1.

: G2P1A0
Tahun Hasil

2010

Jenis

Penyuli

kehamila

Persalina

Nifas Anak
BB

n
Aterm

n
Spontan

2900

Riwayat sosial ekonomi

: Sedang

Riwayat gizi

: Nafsu makan baik dan tidak ada gangguan pada miksi maupun
defekasi.

Riwayat penyakit yang pernah diderita :


R/ DM disangkal.
R/ Hipertensi disangkal.
R/ Penyakit jantung disangkal.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Status Present
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah

: 120/70 mmHg

Nadi

: 90 x/menit

Pernafasan

: 20 x/menit

Suhu

: 37,2oC

Kepala

Normocephale, rambut hitam dengan distribusi yang merata dan tidak

mudah dicabut.
Mata

Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, eksophtalmus -/-

Telinga

Bentuk normal, liang lapang, serumen (-), sekret (-).

Hidung

Bentuk normal, sekret -/-, deviasi septum (-), edema konka -/-

Tenggorokan

Faring tidak hiperemis, T1-T2 tenang.

Mulut

Bentuk normal, sianosis (-).

Leher

Pembesaran KGB regional (-)

Thoraks:
Cor

Inspeksi

Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

Iktus kordis tidak kuat angkat

Perkusi

Batas kanan jantung pada sela iga IV linea parasternalis dekstra.

Batas kiri jantung pada sela iga V linea midklavikularis sinistra. Batas atas jantung pada
sela iga II linea parasternalis sinistra.
Auskultasi : Bunyi jantung I-II reguler murni, gallop (-), murmur (-)
Pulmo

: Inspeksi

: Simetris dalam keadaan statis dan dinamis

Palpasi :

Fremitus kanan dan kiri sama, nyeri tekan (-), krepitasi (-), massa (-)

Perkusi

: Sonor di kedua lapang paru depan dan belakang

Auskultasi

:Suara napas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-

Abdomen
Inspeksi :Datar, benjolan (-)
Auskultasi

:Bising usus (+) normal

Perkusi : Timpani
Palpasi

: Supel, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), defans muskuler (-), massa (-), hepar dan
lien tidak teraba

Ekstremitas

+ +

++

Akral hangat
, edema
, tremor

Status Obstetri (20 Agustus 2014)


Hari pertama haid terakhir (HPHT) desember 2013.
Pemeriksaan luar:
Tinggi fundus uteri 28 cm, detak jantung janin 146 kali/menit teratur,
Leopold I : Bulat lunak (kesan bokong)
Leopold II : Bagian memanjang di sebelah kanan (punggung kanan), teraba bagian kecilkecil di kiri
Leopold III : Bulat, keras, melenting (presentasi kepala)
Leopold IV : belum masuk PAP
His (+) sering 1-2x dalam 10 menit
Pemeriksaan Dalam:
Vaginal toucher : portio tebal lunak, pembukaan 2 cm, ketuban (+), bagian terbawah kepala.
Hasil pemeriksaan laboratorium
Darah rutin :

Hb

Eritrosit

: 10,6 gr%
: 3.8 jt/mm3

Leukosit

Hematokrit : 32 %

Trombosit

: 9800/mm3

: 225.000/mm3

Hasil pemeriksaan USG


Umur kehamilan : 33-35 minggu
DJJ : 146 x/menit
TBJ : 1900 gram
Ketuban : (+)
D. DIAGNOSIS KERJA
G2P1A0 hamil 33-35 minggu dengan partus prematurus imminens, janin tunggal hidup presentasi
kepala.
E. PROGNOSIS
Ibu dan janin: dubia ad malam
F. PENATALAKSANAAN
EVALUASI
20 Agustus 2014
Keluhan : Perut kencang kencang (+) dan keluar lendir serta darah dari jalan lahir (+), keluar air
air (-)
Status present:
KU

: Baik

Kesadaran

: CM

TD

: 110/90 mmHg

HR

: 78 x/menit

: 36,2oC

RR

: 20 x/menit

Status Obstetrikus
Pemeriksaan Luar
Tinggi fundus uteri 28 cm, detak jantung janin 146 kali/menit teratur,
Leopold I : Bulat lunak (kesan bokong)
Leopold II : Bagian memanjang di sebelah kanan (punggung kanan), teraba bagian kecilkecil di kiri
Leopold III : Bulat, keras, melenting (presentasi kepala)
Leopold IV : belum masuk PAP
His (+) sering 1-2x dalam 10 menit

Pemeriksaan Dalam:
Vaginal toucher : portio tebal lunak, pembukaan 2 cm, ketuban (+), bagian terbawah kepala.
Hasil pemeriksaan USG
Umur kehamilan : 33-35 minggu
DJJ : 146 x/menit
TBJ : 1900 gram
Ketuban : (+)
Diagnosis:
G2P1A0 hamil 33-35 minggu dengan partus prematurus imminens, janin tunggal hidup presentasi
kepala.
Terapi:
1. Observasi his, denyut jantung janin, tanda vital ibu, perdarahan pervaginam.
2. Batasi aktivitas / tirah baring.
3. IVFD RL xx gtt/menit + bricasma 1 ap XV XX gtt/menit
4. Injeksi ceftriaxon 2 x 1gr IV
5. Injeksi Dexamethasone 2 x 5 mg IV
6. Injeksi asam traneksamat 2 x 1 ap IV
21 Agustus 2014
Keluhan : Perut kencang kencang mulai berkurang, keluar lendir serta darah (-), keluar air-air (-).
Status present:
KU

: Baik

Kesadaran : CM

TD

: 120/90 mmHg

HR

: 80 x/menit

: 37,2oC

RR

: 18 x/menit

Status Obstetrikus
Pemeriksaan Luar
Tinggi fundus uteri 28 cm, detak jantung janin 138 kali/menit teratur,
Leopold I : Bulat lunak (kesan bokong)
Leopold II : Bagian memanjang di sebelah kanan (punggung kanan), teraba bagian kecilkecil di kiri
Leopold III : Bulat, keras, melenting (presentasi kepala)
Leopold IV : belum masuk PAP

His (+) frekuensi 1x dalam 10 menit


Diagnosis: G2P1A0 hamil 33-35 minggu dengan partus prematurus imminens, janin tunggal hidup
presentasi kepala.
Terapi:
1. Observasi his, denyut jantung janin, tanda vital ibu, perdarahan pervaginam.
2. Batasi aktivitas / tirah baring.
3. IVFD RL xx gtt/menit + bricasma 1 ap XV XX gtt/menit
4. Injeksi ceftriaxon 2 x 1gr IV
5. Injeksi Dexamethasone 2 x 5 mg IV
6. Injeksi asam traneksamat 2 x 1 ap IV
22 Agustus 2014
Keluhan : Perut kencang kencang(-) , keluar lendir serta darah (-), keluar air air (-).
Status present:
KU

: Baik

Kesadaran : CM

TD

: 110/70 mmHg

HR

: 82 x/menit

: 37,2oC

RR

: 20 x/menit

Status Obstetrikus
Pemeriksaan Luar
Tinggi fundus uteri 28 cm, detak jantung janin 140 kali/menit teratur,
Leopold I : Bulat lunak (kesan bokong)
Leopold II : Bagian memanjang di sebelah kanan (punggung kanan), teraba bagian kecilkecil di kiri
Leopold III : Bulat, keras, melenting (presentasi kepala)
Leopold IV : belum masuk PAP
His (-)
Diagnosis: G2P1A0 hamil 33-35 minggu dengan partus prematurus imminens, janin tunggal hidup
presentasi kepala.
Terapi :

Rawat jalan

Amoxicillin 3 x 500 mg per oral

Histolan 3 x 10 mg per oral

Sulfas ferosus 1 x 300 mg per oral

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Persalinan Prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37
minggu (antara 22-<37 minggu) atau dengan berat janin kurang dari 2.500 gram. Merupakan
hal yang berbahaya karena mempunyai dampak yang potensial meningkatkan kematian
perinatal.

B. Etiologi dan faktor resiko


Etiologi persalinan preterm sering kali tidak diketahui. Ada kondisi medik yang mendorong untuk
dilakukan tindakan sehingga terjadi persalinan preterm.
Ada beberapa kondisi ibu yang merangsang terjadi kontraksi spontan; kemungkinan telah terjadi
produksi prostaglandin:
1. Kelainan bawaan uterus
2. KPD
3. Serviks Inkompeten
4. Kehamilan Ganda
Mayor
1. Kehamilan multipel
2. Hidramnion
3. Anomali uterus
4. Serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu
5. Serviks mendatar/memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu
6. Riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali
7. Riwayat persalinan preterm sebelumnya
8. Operasi abdominal pada kehamilan preterm
9. Riwayat operasi konisasi
10. Iritabilitas uterus
Minor

1. Penyakit yang disertai demam


2. Perdarahan pervaginam setelah kehamilan 12 minggu
3. Riwayat pielonefritis
4. Merokok lebih dari 10 batang perhari
5. Riwayat abortus pada trimester II
6. Riwayat abortus pada trimester I lebih dari 2 kali.
Pasien tergolong risiko tinggi bila dijumpai satu atau lebih faktor risiko mayor; atau dua atau
lebih faktor risiko minor; atau keduanya.
C. Kriteria Diagnosis
Kriteria persalinan prematur antara lain kontraksi yang teratur dengan jarak 7-8 menit atau
kurang atau 2x dalam 10 menit dengan lama kurang lebih 30 detik dengan adanya pengeluaran
lendir kemerahan atau cairan pervaginam pada saat usia kehamilan 22- 37 minggu dan diikuti
salah satu berikut ini :
Pada periksa dalam :

Pendataran 50-80% atau lebih

Pembukaan 2 cm atau lebih

D. Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorium

Pemeriksaan kultur urine

Pemeriksaan gas dan pH darah janin

Pemeriksaan darah tepi ibu

Jumlah lekosit
C-reactive protein . CRP ada pada serum penderita yang menderita infeksi akut dan
dideteksi berdasarkan kemampuannya untuk mempresipitasi fraksi polisakarida somatik
nonspesifik kuman Pneumococcus yang disebut fraksi C. CRP dibentuk di hepatosit sebagai
reaksi terhadap IL-1, IL-6, TNF.

2. Pemeriksaan ultrasonografi
Penipisan serviks bila ketebalan seviks < 3 cm (USG) , dapat dipastikan akan terjadi
persalinan preterm. Sonografi serviks transperineal lebih disukai karena dapat menghindari
manipulasi intravagina terutama pada kasus-kasus KPD dan plasenta previa.
E. Penatalaksanaan

Upaya menghentikan kontrasksi uterus

Kemungkinan obat-obatan tokolitik hanya berhasil sebentar tapi pentingnya untuk dipakai
memberikan kortikosteroid sebagai induksi matositas paru bila usia gestasia < 34 mingu.

Intervensi, ini bertujuan untuk menunda kelahiran sampai bayi cukup matang.
Penundaan kelahiran ini dilakukan bila :

Umur kehamilan < 25 minggu

Pembukaan serviks < 3 cm

Tidak ada gawat janin

Ibu masuk rumah sakit (rawat inap), lakukan evaluasi terhadap his dan pembukaan

Berikan kortikosteroid untuk memperbaiki kematangan paru janin.

Berikan 2 dosis betamethason 12 mg IM selama 12 jam (atau berikan 4 dosis


deksamethason 5 mg IM selama 6 jam)

Steroid tidak boleh diberikan bila ada infeksi yang jelas.

Pemberian antibiotik, mungkin berhasil pada kasus dengan resiko infeksi tinggi. Organisme
yang menyebabkan adalah golongan aerob gram (+) dan (-), anaerob lain-lain yang bersal
dari :

Biasanya flora normal dari vagina/rektum

Kadang-kadang eksogen akibat tindakan-tindakan aseptik (sering grup A


streptokokus)

1. Akselerasi pematangan fungsi paru


Terapi glukokortikoid, misalnya dengan betamethasone 12 mg im. 2 x selang 24 jam.
Atau dexamethasone 5 mg tiap 12 jam (im) sampai 4 dosis. Thyrotropin releasing hormone 400
ug iv, akan meningkatkan kadar tri-iodothyronine yang dapat meningkatkan produksi surfaktan.
Suplemen inositol juga merupakan pilihan karena inositol merupakan komponen membran
fosfolipid yang berperan dalam pembentukan surfaktan.
2. Pemberian tokolitik
Indeks tokolitik > 8 menunjukkan kontraindikasi pemberian tokolitik
Kontraksi
Ketuban
pecah
Perdarahan
Pembukaan

0
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

1
Irregular
-

2
Regular
Tinggi/tida

Spotting
1 cm

k jelas
Perdarahan
2 cm

3
-

4
Rendah/peca

3 cm

h
4 cm

Nifedipin 10 mg diulang tiap 30 menit, maksimum 40 mg/6 jam. Umumnya hanya


diperlukan 20 mg dan dosis perawatan 3 x 10 mg.

Golongan beta-mimetik

Salbutamol Perinfus : 20-50 g/menit Per oral : 4 mg, 2-4 kali/hari (maintenance) atau :

Terbutalin Per infuse : 10-15 g/menit, Subkutan: 250 g setiap 6 jam. Per oral : 5-7.5 mg
setiap 8 jam (maintenance)
Efek samping : Hiperglikemia, hipokalemia, hipotensi, takikardia, iskemi miokardial,
edema paru

3. Magnesium sulfat
Parenteral : 4-6 gr/iv pemberian bolus selama 20-30 menit, infus 2-4gr/jam (maintenance)
Efek samping : Edema paru, letargi, nyeri dada, depresi pernafasan (pada ibu dan bayi)
Berikan obat-obat tokolitik tidak lebih dari 48 jam. Monitor keadaan ibu dan janin (nadi, tekanan
darah, tandadistres nafas, kontraksi uteru, pengeluaran cairan ketuban, atau darah pervaginam, DJJ,
balans (cairan, gula darah).

Salbutamol dengan dosis awal 10 mg dalam larutan NaCl atau RL melalui infus 10
tetes/menit. Bila kontraksi masih ada, tingkatkan tetesan infus 10 tetes permenit setiap 30
menit sampai kontraksi stop atau nadi ibu lebih dari 120/menit. Bila kontrasksi berhenti,
jaga tetesan tersebut paling tidak 12 jam setelah kontraksi uterus terakhir.

Maintenance Ventolin peroral 3 x 4 mg/hari, paling sedikit 7 hari.

Efek samping dan hal yang harus diperhatikan :

Takhikardi ibu : kurangi tetesan bila nadi 120/menit, hati-hati pemakaian pada ibu
anemia.

Edema paru ibu : dapat terjadi bila memakai steroid bersamaan dengan salbutamol,
batasi air, jaga keseimbangan cairan dan hentikan obat.

MgSO4 dengan dosis awal 6 gram dosis selanjutnya 2 g/jam.


Efek samping dan hal yang harus diperhatikan :
Hati-hati untuk hipermagnesia untuk janin dan ibu. Lakukan kontrol dengan pemeriksaan

refleks dan respiratory rate dan produksi urin.

Nifedipin dengan dosis awal 20 mg oral, dosis selanjutnya 3 x 20 mg.


Efek samping : lemas dan hipotensi

Nitrat dengan dosis awal 10 mg sublingual. Dosis selanjutnya 20 mg oral


Efek samping : pusing / sakit kepala dan mual

Bila Pemberian tokolitik tidak berhasil, lakukan persalinan dengan upaya optimal, jangan
menyetop kontraksi uterus bila :

Umur kehamilan > 35 mingu

Serviks membuka > 3 cm

Perdarahan aktif

Janin mati dan adanya kelainan kongenital yang kemungkinan hidup kecil

Adanya khorioomnionitis

Preeklamsia

Gawat janin.

Monitoring kemajuan persalinan memakai patograf. Hindarkan pemakaian vakum untuk


melahirkan (sebab resiko perdarahan intrakranial pada bayi prematur cukup tinggi). Persiapkan
menolong bayi prematur, asfiksia bisa memperburuk penyakit membran hialin dan komplikasi
prematur dan lain-lain. Bila mungkin rujuk pada tempat untuk perawatan yang lebih mampu.
F. Kontraindikasi penundaan persalinan
Mutlak
Gawat janin, korioamnionitis, perdarahan antepartum yang banyak.
Relatif
Gestosis; diabetes mellitus (beta-mimetik), pertumbuhan janin terhambat, pembukaan serviks
lebih dari 4 cm.
G. Cara persalinan
1. Janin presentasi kepala : pervaginam dengan episiotomi lebar dan perlindungan forseps
terutama pada bayi < 35 minggu.
2. Indikasi seksio sesarea :

Janin sungsang

Taksiran berat badan janin kurang dari 1500 gram (masih kontroversial)

Gawat janin, bila syarat pervaginam tidak terpenuhi

Infeksi intrapartum dengan takikardi janin, gerakan janin melemah, ologohidramnion,


dan cairan amnion berbau. bila syarat pervaginam tidak terpenuhi

Kontraindikasi partus pervaginam lain (letak lintang, plasenta previa, dan sebagainya).

Lindungi bayi dengan handuk hangat, usahakan suhu 36-37 C ( rawat intensif di bagian NICU ),
perlu dibahas dengan dokter bagian anak.

Bila bayi ternyata tidak mempunyai kesulitan (minum, nafas, tanpa cacat) maka perawatan cara
kangguru dapat diberikan agar lama perawatan di rumah sakit berkurang.
H. Penyulit
1.

Sindroma gawat nafas (RDS)

2.

Perdarahan intrakranial

3.

Trauma persalinan

4.

Paten duktus arteriosus

5.

Sepsis

6.

Gangguan neurologi

I. Komplikasi
1.

Pada ibu, setelah persalinan preterm, infeksi endometrium lebih sering terjadi mengakibatkan
sepsis dan lambatnya penyembuhan luka episiotomi. Bayi-bayi preterm memiliki risiko
infeksi neonatal lebih tinggi; Morales (1987) menyatakan bahwa bayi yang lahir dari ibu yang
menderita anmionitis memiliki risiko mortalitas 4 kali lebih besar, dan risiko distres
pernafasan, sepsis neonatal, necrotizing enterocolitis dan perdarahan intraventrikuler 3 kali
lebih besar.

2.

Sindroma gawat pernafasan (penyakit membran hialin).


Alveoli bisa membuka lebar karena adanya suatu bahan yang disebut surfaktan, yang
dihasilkan oleh paru-paru dan berfungsi menurunkan tegangan permukaan. Bayi prematur
seringkali tidak menghasilkan surfaktan dalam jumlah yang memadai, sehingga alveolinya
tidak tetap terbuka.
Diantara saat-saat bernafas, paru-paru benar-benar mengempis, akibatnya terjadi Sindroma
Distres Pernafasan. Sindroma ini bisa menyebabkan kelainan lainnya dan pada beberapa
kasus bisa berakibat fatal. Kepada bayi diberikan oksigen; jika penyakitnya berat, mungkin
mereka perlu ditempatkan dalam sebuah ventilator dan diberikan obat surfaktan (bisa
diteteskan secara langsung melalui sebuah selang yang dihubungkan dengan trakea bayi).

3.

Ketidakmatangan pada sistem saraf pusat bisa menyebabkan gangguan refleks menghisap
atau menelan, rentan terhadap terjadinya perdarahan otak atau serangan apneuHal ini bisa
menyebabkan apneu (henti nafas), karena pusat pernafasan di otak mungkin belum matang.

4.

Ketidakmatangan sistem pencernaan menyebabkan intoleransi pemberian makanan.

5.

Jaundice.

6.

Infeksi atau septikemia.

7.

Sistem kekebalan pada bayi prematur belum berkembang sempurna. Mereka belum menerima
komplemen

lengkap

antibodi

dari

ibunya

melewati

plasenta.

Resiko terjadinya infeksi yang serius (sepsis) pada bayi prematur lebih tinggi. Bayi prematur
juga

lebih

rentan

terhadap

enterokolitis

nekrotisasi

(peradangan pada usus).


8.

Anemia
BAB III
DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham M.D, et all. 2005. Preterm Birth. In: Williams Obstetrics. 23nd

ed.McGraw- Hill.

2. Goepfert A.R. 2001. Preterm Delivery. In: Obstetrics and Gynecology Principle
for Practise. McGraw-Hill.
3. Iams J.D. 2004. Preterm Labor and Delivery. In: Maternal-Fetal Medicine. 5th ed.Saunders.
4.

Jafferson

Rompas.

2004.http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/145-

11Persalinanpreterm.pdf/145.30
5. Medlinux. 2007.http://medlinux.blogspot.com/2007/11/ruptur membran - pre- persalinan.html