Anda di halaman 1dari 7

ACARA VII

KUALITAS AIR UNTUK PERTANIAN


I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pertanian

berkelanjutan

merupakan

suatu

upaya

memelihara,

memperpanjang,

meningkatkan dan meneruskan kemampuan produktif dari sumberdaya pertanian untuk


memenuhi kebutuhan konsumsi pangan. Guna mewujudkan pertanian berkelanjutan,
sumberdaya pertanian seperti air dan tanah yang tersedia perlu dimanfaatkan secara berdaya
guna dan berhasil guna. Kebutuhan akan sumberdaya air dan tanah cenderung meningkat
dengan adanya pertambahan jumlah penduduk dan perubahan gaya hidup, sehingga
kompetisi dalam pemanfaatannya juga semakin meningkat tajam baik antara sektor pertanian
dengan sektor non-pertanian maupun antar pengguna dalam sektor pertanian itu sendiri.
Pengelolaan air untuk memenuhi kebutuhan tanaman di lahan dapat dilakukan melalui
irigasi. Namun, saat ini pemeliharaan irigasi dan air irigasi di Indonesia kurang diperhatikan.
Oleh karena itu, kualitas air irigasi menjadi hal yang harus diperhatikan dengan baik agar
produksi pertanian dapat memenuhi standar kuantitas maupun kualitas. Kualitas air untuk
pertanian ini, harus tetap dijaga baik sebelum maupun sesudah memasuki areal pertanian.
B. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara menghitung kualitas air secara kuantitatif.
C. Tinjauan Pustaka
Air merupakan regulator yang universal dimana hampir berbagai macam zat terlarut
di dalamnya dan berinteraksi langsung dengan sistem yang terdapat dalam setiap organisme
hidup. Kualitas air merupakan salah satu aspek yang semakin banyak mendapatkan perhatian
dan pengelolaan sumber daya air. Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi
air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan ke kegiatan lain. Sebagai contoh: kualitas air untuk
keperluan irigasi berbeda dengan kualitas air untuk keperluan air minum. Kualitas air
mengacu pada kandungan polutan yang terkandung dalam air dan kaitannya untuk
menunjang kehidupan ekosistem yang ada di dalamnya. Dalam memahami kualitas air, kita
perlu mengetahui sifat-sifat air terlebih dahulu (Haslam, 1995).
Air irigasi didistribusikan ke petak pertanian dengan jumlah dan kualitas air sesuai
kebutuhan tanaman yang diusahakan, serta mengalirkan kelebihan air ke tempat lain hingga

tidak merusak tanaman. Air irigasi yang cukup dengan kualitas air yang sesuai dengan
peruntukan tanaman dapat mendukung pertanian sehat. Salah satu parameter yang digunakan
untuk mengukur kualitas air adalah baku mutu air, yaitu batas kadar yang diperbolehkan bagi
zat atau bahan pencemar dalam air tetapi masih sesuai dengan peruntukannya. Sesuai
keputusan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup Negara tentang Pedoman
Penetapan Baku Mutu Lingkungan, air irigasi termasuk golongan D yang diperuntukkan bagi
pertanian dan dapat pula digunakan untuk usaha perkotaan, industri, dan listrik tenaga air.
Persyaratan kualitas air golongan D ini lebih rendah disbanding golongan A, B, dan C yang
berturut-turut diperuntukkan bagi air minum, mandi, serta peternakan dan perikanan.
Berbagai persyaratan tersebut meliputi sifat fisik, kimia dan biologi. Sifat fisik memuat
seperti kekeruhan dan warna kekeruhan air terkait padatan yang tersuspensi, sementara sifat
kimia diantaranya adalah derajat keasaman, kadar O2 terlarut, serta padatan terlarut seperti
nitrat fosfat dan residu pestisida. Untuk sifat biologi, parameter yang digunakan adalah
jumlah mikroorganisme pathogen yang ada di dalam air (Anonim, 2010).
Kualitas

air

dijabarkan

dalam

kekeruhan

yang

dinyatakan

dalam

NTU

(Nephelometric Turbidity Units). Semakin banyak padatan tersuspensi dalam air maka air
terlihat semakin kotor dan nilai NTU nya semakin tinggi. Nilai pH air mengindikasikan
apakah air bersifat asam atau basa. Tingkat pH yang baik untuk air minum adalah antara 6,5
dan 8,5. Nilai pH di bawah 6,5 akan terlalu asam dan pH di atas 8,5 akan terlalu basa. Secara
umum, kualitas air harus memenuhi syarat kesehatan yang meliputi persyaratan mikrobiologi,
fisika, kimia dan radioaktif. Parameter kualitas air tersebut harus dipenuhi sesuai standar
yang telah ditetapkan oleh Departemen Pertanian sebelum didistribusikan ke tanaman
budidaya (Anonim, 2011).
Pencemaran air dapat dijadikan indikator penentuan kualitas air. Pencemaran air
dikelompokkan menjadi empat, yaitu dari bahan organik, anorganik, zat kimia, dan limbah.
Bahan buangan organik biasanya berupa limbah yang dapat terdegradasi oleh
mikroorganisme sehingga dapat meningkatkan perkembangan mikroorganisme. Sementara
itu, bahan buangan anorganik berupa limbah yang tidak dapat membusuk dan
mikroorganisme tidak dapat mendegradasinya. Macam-macam bahan anorganik berasal dari
logam-logam seperti ion kalsium (Ca), ion timbal (Pb), ion magnesium (Mg), ion arsen (As),
dan air raksa (Hg). Bila logam-logam tersebut mencemari air, maka akan menimbulkan
akumulasi yang pada akhirnya menyebabkan air menjadi sadah dan mengganggu kesehatan
manusia. Bahan buangan yang berasal dari zat kimia dihasilkan oleh sabun, pestisida, zat
warna kimia, larutan penyamak kulit, dan zat radioaktif. Limbah adalah zat, energi atau

komponen lain yang dikeluarkan/ dibuang akibat sesuatu kegiatan baik industry maupun nonindustri. Limbah bisa merusak kualitas air untuk pertanian dan membahayakan kesehatan
tanaman budidaya (Harmayani dan Konsukartha, 2007).
Kondisi DAS dikatakan baik jika memenuhi beberapa kriteria, antara lain kualitas air
baik dari tahun ke tahun, debit sungai konstan dari tahun ke tahun, ketinggian air muka tanah
konstan dari tahun ke tahun, serta fluktuasi debit antara debit maksimum dan minmum kecil.
Ini digambarkan dengan nisbah debit tersebut. DAS sendiri merupakan suatu sistem yang
mempunyai potensi besar untuk mengalami polusi atau pencemaran. Komponen utama DAS
yang berpotensi untuk tercemar adalah badan air dan tanah, yang selanjutnya akan
berpengaruh pula pada makhluk hidup (manusia, hewan, dan tumbuhan) yang berinteraksi
dengan komponen-komponen yang ada dalam sistem DAS atau daerah yang dipengaruhinya.
Penurunan kualitas air di DAS antara lain disebabkan oleh: (a) meningkatnya kandungan
sedimen dalam air sungai, (b) sistem pembuangan air limbah industry di sepanjang aliran
sungai sehingga terjadi pencemaran, (c) limbah rumah tangga yang ikut mempengaruhi
kualitas air dan (d) akibat negatif intensifikasi pertanian (Mulyadi et al., 2008).
Daerah Aliran Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong sebagian besar dimanfaatkan
untuk berbagai kegiatan domestik, industri, dan pertanian. Limbah dari kegiatan tersebut
umumnya langsung dibuang ke dalam sungai dan akan berdampak sangat buruk terhadap
kualitas sungai. Dampak buruk terhadap kualitas air sungai tersebut tentu saja tergantung dari
jenis, jumlah, dan sifat dari limbah yang masuk ke dalam sungai. Nilai pH air yang normal
adalah sekitar 6 7,5 (normal). Fluktuasi nilai pH pada air sungai dipengaruhi oleh berbagai
hal, antara lain (i) bahan organik atau limbah organik, meningkatnya kemasaman dipengaruhi
oleh bahan organik yang membebaskan CO2 jika mengalami proses penguraian; (ii) bahan
anorganik atau limbah anorganik, air limbah industri bahan organik umumnya mengandung
asam mineral dalam jumlah tinggi sehingga kemasamannya juga tinggi; (iii) basa dan garam
basa dalam air seperti NaOH2 dan Ca(OH)2 dan sebagainya; (iv) hujan asam akibat emisi gas
(Siradz et al., 2008).
Masalah yang ditimbulkan oleh air irigasi terkait kualitasnya dapat berupa salinitas,
daya hantar listrik (EC), kandungan lumpur, pH, akumulasi Na+. Cl-, dan BO3- yang bersifat
racun, serta kandungan N yang tinggi. Kesemuanya itu dapat menurunkan kuantitas maupun
kualitas hasil panen atau bersifat korosif terhadap alat-alat pertanian. Salinitas terjadi bila
garam-garam yang berasal dari air tanah yang dangkal dan salin atau dari garam-garam yang
terlarut dalam air irigasi terakumulasi pada zona perakaran sehingga tanaman tidak mampu
menyerap air dari tanah dalam jumlah cukup banyak untuk memenuhi kebutuhannya. Apabil

penyerapan air sangat menurun maka tanaman akan memperlihatkan gejala kekeringan dan
bila tidak segera diatasi dapat merugikan atau bahkan kegagalan panen (Ayers dan Westcot,
1989).
Dalam menentukan kualitas air dikenal tiga parameter utama, yaitu oksigen terlarut,
kebutuhan oksigen biologis, dan kebutuhan oksigen kimia. Oksigen (O2) merupakan
parameter penting dalam air. Sebagian besar makhluk hidup dalam air membutuhkan O2
untuk mempertahankan hidupnya, baik tanaman air maupun hewan yang hidup di air
bergantung pada oksigen terlarut. Keseimbangan oksigen terlarut dalam air secara alamiah
terjadi secara berkesinambungan (Isidoro dan Ramon, 2007).
Kriteria air yang bagus digunakan dalam sektor pertanian, antara lain air tersebut
tidak memiliki konsentrasi garam yang tinggi karena dengan tingginya tingkat konsentrasi
garam maka akan meningkatkan tekanan osmotic yang berpengaruh dalam penghambatan
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu, air yang bagus digunakan untuk
pertanian juga harus memiliki kandungan sodium yang rendah karena sodium terdapat di
koloid tanah dan akan berfluktuasi sesuai penambahan air irigasi atau air hujan dan sistem
koloid tanah, sebab air yang baik bagi pertumbuhan tanaman adalah yang bersodium rendah.
Kriteria lain adalah nilai pH berkisar antara 6,5 8,4 atau pH netral, karena apabila pH tinggi
atau lebih dari 8,5 sering ada HCO3- dan CO3- dalam konsentrasi tinggi atau disebut
alkalinity. Selain itu, air yang baik untuk pertanian juga harus memilih nutrisi yang tidak
berlebih karena apabila nutrisinya berlebih maka akan mengurangi kualitas hasil pertanian
(Nawawi, 2001).
II. METODOLOGI
Praktikum Pengelolaan Air Untuk Pertanian Acara VII yang berjudul Kualitas Air Untuk
Pertanian ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 24 Mei 2013 di Laboratorium
Agrohidrologi, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu sampel air dari sungai Winongo, Code,
Gajah Wong di dekat Museum Affandi Yogyakarta dan sungai Gajah Wong di sekitar
Gembira Loka. Alat yang digunakan yaitu pH meter, EC meter, botol, beaker glass, cawan
dan oven.
Cara kerja pada praktikum ini yaitu mula-mula dari masing-masing kelompok mengambil
sampel air di tempat yang telah ditentukan. Air diambil dari bagian tepi kiri, kanan dan
tengah sungai sebelum dikompositkan. Air dimasukkan ke dalam botol lalu diambil diambil
sebanyak setengah botol air mineral 600 ml pada masing-masing titik air dan dihomogenkan.

Air dituang ke beaker glass sebanyak 50 ml lalu dicek pH dan DHL dari sampel yang telah
homogen tersebut lalu hasilnya dicatat. Cawan kosong ditimbang, lalu diisi air dan dioven
pada suhu 110C hingga kering. Hasil yang didapat ditimbang dan dicatat. Kekeruhan air
sampel antara sungai satu dengan yang lain dibandingkan satu sama lain. Jumlah bahan
terlarut dalam air dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.
Zat Terlarut (gr) = Berat Cawan + Air Setelah Dioven (gr)
Berat Cawan (gr)
III.

HASIL PENGAMATAN

Tabel 3.1. Data Warna, pH, DHL, dan Bahan Terlarut pada berbagai Sampel
Lokasi Sampel
Warna
++
++++
+++
+

Sungai Winongo
Sungai Code
Sungai Gajah Wong Bonbin
Sungai Gajah Wong Affandi

pH

DHL (ms/cm)

Bahan Terlarut (gr)

8,12
8,16
8,08
7,40

2,90
0,40
0,80
0,55

0,0158
0,0077
0,0149
0,0153

Keterangan:
Jernih = +
Keruh = ++++++
Contoh Perhitungan:
-

Sungai Winongo
pH

= (8,17 + 8,07)/ 2

= 8,12

DHL

= (4,1 + 1,7)/ 2

= 2,90

Bahan Terlarut

= 32,9058 32,89

= 0,0158

IV.

PEMBAHASAN

Sungai Code merupakan sungai yang membelah Yogyakarta menjadi dua bagian.
Sungai ini bermata di kaki Gunung Merapi, tepatnya di sekitar Hargobinangun, dan berakhir
saat bertemu dengan Sungai Opak.
Daerah Aliran Sungai Gajah Wong yang merupakan sub DAS Opak memiliki luas
46,082 km2. Secara garis besar, hulu sungai Gajah Wong adalah dari Gunung Merapi dan
hilirnya adalah pantai selatan. Pemanfaatan lahan pada DAS Gajah Wong mempengaruhi
kualitas air sungai dan diidentifikasi sebagai sumber pencemar. Bagian hulu sungai, sumber
pencemar utama adalah dari rumah tangga, pertanian, dan jasa. Bagian tengah adalah dari

pertanian dan pemukiman, sedangkan bagian hilir adalah pemukiman, jasa, dan industri.
Daya tampung sungai ini di bagian hulu dan tengah sangat baik, sedangkan semakin ke hilir,
semakin kurang baik.
Berdasarkan hasil pengamatan, sungai yang memiliki tingkat kekeruhan tertinggi
sampai yang terendah berdasar warnanya yakni sungai Code, Gajah Wong di Bonbin,
Winongo, dan Gajah Wong Affandi. Air yang kerush berasal oleh adanya butiran-butiran
koloid tanah. Apabila di dalam media air terjadi kekeruhan maka kandungan oksigen akan
menurun. Hal ini disebabkan intensitas cahaya matahari yang masuk akan semakin berkurang
karena phytoplankton sulit berfotosintesis. Untuk nilai pH, keempat lokasi tersebut tidak
menunjukkan adanya perbedaan yang berarti. Menurut standar baku mutu kualitas air
berdasarkan PP No. 82 tahun 2001 untuk parameter pH yaitu 6-9, air di keempat lokasi
tersebut masih dalam tahap aman dari sisi tingkat keasaman tentunya. Kemudian, Daya
Hantar Listrik (DHL) tertinggi terdapat pada sampel air di Sungai Winongo (2,9 ms/ cm) dan
yang terendah pada Sungai Code (0,4 ms/ cm). DHL menunjukkan adanya konsentrasi garam
total terlarut (salinitas), banyaknya natrium dan perbandingannya dengan kation-kation lain,
dll. Artinya, pada Sungai Winongo, tingkat kejenuhan garam atau pencemaran salinitas terjadi
secara signifikan. Dari situ dapat diperkirakan bahwa semakin ke hulu dari titik pengambilan
sampel pemukiman akan semakin padat, sedangk di Sungaan pada ketiga lokasi yang lain
diperkirakan kualitas airnya masih cukup baik (dari sisi salinitas) dan tidak berbeda secara
signifikan. Lalu dari bahan terlarut didapatkan bahan terlarut tertinggi pada Sungai Winongo
(0,0158 gr) dan terendah pada Sungai Code (0,0077 gr). Bahan terlarut menunjukkan adanya
penambahan materi ke dalam sungai, kemungkinan berupa limbah rumah tangga. Bahan
terlarut secara signifikan turut menentukan kualitas air sungai pada keempat lokasi tersebut.
Sungai Winongo berarti merupakan sungai yang kualitas airnya cukup rendah dibandingkan
dengan ketiga lokasi lainnya.
Perbandingan antara/ pada Sungai Gajahwong Affandi dan di Bonbin menunjukkan
bahwa kualitas air di hulu (Affandi) lebih baik daripada kualitas air di Bonbin. Hal itu terlihat
dari adanya perbedaan besarnya/ tingkat kekeruhan Affandi yang lebih rendah, pH yang lebih
rendah, dan DHL yang lebih rendah, walaupun bahan larut yang lebih tinggi namun tidak ada
perbedaan signifikan pada nilai tersebut (selisih hanya 0,0004 gram).
Ditinjau lebih jauh, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas air. Faktorfaktor tersebut dibagi menurut 3 persyaratan yaitu fisika, kimia, dan mikrobiologis.
1. Dari segi fisika
a.

Kekeruhan; tingkat kekeruhan harus rendah.

b. Warna; warnanya mendekati bening.


c.

Rasa tawar; air yang baik tidak berasa (tawar).

d. Bau; air yang berkualitas tidak berbau.


e.

Temperatur normal; jika normal, fitoplankton dapat hidup.

f.

Tidak mengandung zat padatan, misalnya sampah plastik.

2. Dari segi kimia


a.

Derajat keasaman harus 6-9 (menurut PP No. 82 tahun 2001)

b. Kesadahan (kandungan/ tingkat pengapuran).


c.

Kandungan besi (Fe) dengan batas maksimal 1,0 mg/liter.

d.

Alumunium (Al) menurut Menkes No. 82 tahun 2001 yaitu 0,2 mg/liter (maksimal). Al
menyebabkan air semakin berasa.

e.

Zat organik, mempengaruhi flora dan fauna mikro dalam air.

f.

Sulfat, mempengaruhi korositas pada besi.

g. Nitrat dan nitrit, mempengaruhi toksisitas darah manusia.


h. Klorida, juga mempengaruhi korositas.
i.

Zink, batas maksimal 15 mg/liter. Lebih dari itu, air akan berasa pahit.

3. Dari segi mikrobologi


a.

Tidak mengandung patogen seperti pada golongan coli, Salmonella tyhi, Vibrio cholera, dll.

b.

Tidak mengandung bakteri non patogen seperti Actinomycetes, Cledocera, Phytoplankton


coli, dll.
Manfaat mengetahui kualitas air bagi bidang pertanian adalah sebagai patokan atau
informasi primer dalam menentukan berbagai hal yang berkaitan dengan tingkat produksi
pertanian seperti menentukan tanaman yang cocok baik spesies maupun kultivar/ varietasnya.
Contohnya, pH yang ditolerir oleh cabe tidaklah sama dengan padi dan bahkan dalam 1
spesies (cabe keriting dan rawit) pun akan berbeda. Selain itu, kualitas air juga menentukan
tahan atau tidaknya tanaman untuk bertahan dalam cekaman toksin (racun) pada air. Lalu, air
yang berkualitas bagi bidang pertanian juga diharapkan merupakan air yang subur yakni air
yang mengandung zat organik dan anorganik atau mikroorganisme baik (positif) sehingga
secara tidak langsung dapat menentukan banyaknya biaya untuk membeli pupuk tambahan.