Anda di halaman 1dari 16

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Perilaku
1. Perilaku
a) Batasan Perilaku
Yang dimaksud dengan perilaku manusia, adalah tindakan atau aktifitas
dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang luas, antara lain:
berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan
sebagainya. Dari uraian ini, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan
perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang diamati
langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2007).
Menurut Skinner (1938) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2007),
merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap
stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi dari proses
adanya stimulus terhadap organisme, lalu kemudian organisme tersebut
merespon, maka teori Skinner ini disebut teori S-O-R atau Stimulus
Organisme Respon.
Menurut Notoatmodjo (2007) dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus
ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua:
1) Perilaku tertutup (covert behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau
tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada
perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang
yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh
orang lain.
2) Perilaku terbuka (overt behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan yang nyata
atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk
tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang
lain.
2. Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang (organisme) terhada


stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistem pelayanan
kesehatan, makanan dan minuman, serta lingkungan (Notoatmodjo, 2007). Dari
batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yaitu:
a. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance)
Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga
kesehatan agar tidak sakit dan usaha penyembuhan bilamana sakit.
b. Perilaku pencarian atau penggunana sistem atau fasilitas kesehatan, atau sering
disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior)
Ini menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit
atau kecelakaan.
c. Perilaku kesehatan lingkungan
Adalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun
sosial budaya, dan sebagainya.
3. Domain Perilaku Kesehatan
Menurut Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan
seperti dikutip Notoatmodjo (2007) membagi perilaku itu dalam 3 domain
(ranah/kawasan) meskipin kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batas
yang tegas dan jelas. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepntingan tujuan
pendidikan, yaitu mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku
tersebut, yang terdiri dari: ranah kognitif (pengetahuan), ranah afektif (sikap), dan
ranah psikomotor (keterampilan).
4. Pengukuran Perilaku
Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung, yaitu
dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa
jam, hari, atau bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara
langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden
(Notoatmodjo, 2007).
5. Proses Adaptasi Perilaku

Menurut penelitia Rogers (1974) yang dikutip Notoatmodjo (2007),


mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru dalam diri
orang tersebut terjadi prosese berurutan, yaitu:
a. Kesadaran (awareness), yaitu orang tersebut menyadati dalam arti
mengetahui stimulus (onjek) terlebih dahulu
b. Tertarik (interest), yaitu orang mulai tertarik pada stimulus
c. Evaluasi (evaluation), yaitu menimbang-nimbang baik tidaknya hal tersebut
bagi dirinya, hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik
d. Mencoba (trial), dimana orang telah mulai mencoba perilaku yang baru
e. Menerima (adoption), yaitu subjek telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
6. Teori Perilaku Lawrence Green
Green mencoba menganalisis perilaku manusia, berangkat dari tingkat
kesehatan. Bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yaitu:
faktor perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non behavior
causes). Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh:
a. Faktor predisposisi (predisposising factor), yang terwujud di dalam
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, dan sebagainya.
b. Faktor pendukung (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik,
tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana kesehatan,
misalnya Puskesmas, obat-obatan, alat-alat steril, dan sebagainya.
c. Faktor pendorong (reinforcing factor), yang terwujud dalam sikap dan
perilaku petugas kesehatan atau petugas yang lain, yang merupakan
kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
2.2 Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan
dapat terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan perabaan. Dari penginderaan sampai menghasilkan
pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi
terhadap objek. Pengetahuan atau kognitif ini merupakan domain yang sangat

10

penting dalam membentuk tindakan seseorang Sebagian besar pengetahuan


manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007).
Pengetahuan juga dapat dijelaskan sebagai hasil dari mengetahui
obyek-obyek di alam nyata menurut akal dengan jalan pengamatan. Setiap kali
objek yang diamati menjadi milik kesadaran, maka ia diketahui, dan dalam arti
wujudnya yang ada dalam jiwa kita dinamakan pengertian (Sadulloh, dkk, 2007).
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6
tingkatan, yaitu:
1. Tahu (know)
Tahu artinya sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Yang termasuk pengetahuan tingkat ini adalah mengingat lagi
(recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari ataupun
rangsangan yang telah diterima.
2. Memahami (Comprehesion)
Dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi itu
secara benar.
3. Aplikasi (Application)
Dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya (real).
4. Analisis (Analysis)
Suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam
komponen-komponen, tapi masih dalam suatu struktur organisasi dan masih ada
kaitan satu sama lain.
5. Sintesis (Syntesis)
Menunjuk kepada

suatu

kemampuan

untuk

meletakkan

dan

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.


Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi
baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap sesuatu
materi atau objek. Pada dasarnya, tingkat pengetahuan atau pemahaman pada

11

seseorang dapat mendorong serta dapat menolong dirinya dalam setiap masalah
untuk dapat melakukan sesuatu yang baik dalam d.iri dan atau hidupnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang menurut
Notoatmodjo (2007) adalah:
a. Faktor internal: faktor dari dalam diris sendiri, misalnya intelegensia, minat,
kondisi fisik.
b. Faktor eksternal
1). Faktor dari luar diri, misalnya keluarga, masyarakat, sarana
2). Faktor pendekatan belajar: faktor upaya belajar, mislanya

strategi dan

metode dalam pembelajaran.


2.3 Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul serta tinggal di suatu tempat di
bawah satu atap dalam keadaan saling bergantung (DepKes RI, 2008).
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena
hubungan darah, perkawinan, dan adopsi dalam satu rumah tangga yang
berinteraksi satu dengan lainnya dalam peran dan menciptakan serta
mempertahankan suatu budaya (Bailon dan Malagya, 2009).
Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan
perkawinan, adaptasi, dan kelahiran

yang bertujuan menciptakan dan

mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental,


dan emosional serta sosial individu yang ada di dalamnya, dilihat dari interaksi
yang regular dan ditandai dengan adanya ketergantungan dan hubungan untuk
mencapai tujuan umum (Zaidin Ali, 2009).
2.4 Infeksi
Infeksi adalah masuknya organisme ke dalam jaringan tubuh dan
berkembang biak di dalam tubuh pejamu. Mikroorganisme seperti itu disebut
agen menular. Kondisi ini dapat diperparah lagi bila penderita sedang dalam
proses asuhan keperawatan. Hal ini akan mempermudah terjadinya infeksi karena
kuman-kuman, virus, dan sebagainya akan masuk ke dalam tubuh penderita yang

12

daya tahan tubuhnya menurun. Infeksi yang terjadi pada penderita-penderita yang
sedang dalam proses asuhan keperawatan ini disebut Infeksi Nosokomial
(Darmadi, 2008).
2.5 Tuberculosis Paru
Tuberculosis Paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan
oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, tetapi juga dapat mengenai organ tubuh lainnya. Kuman ini
berbentuk batang mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada
pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA).
Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan
hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab, Dalam jaringan tubuh
kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun (Depkes RI,
2011).
Tuberkulosis

adalah

penyakit

yang

disebabkan

oleh

infeksi

Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini berbentuk batang, berukuran panjang 5


dan lebar 3, tidak membentuk spora dan termasuk bakteri aerob. Mycobacteria
dapat diberi pewarnaan seperti bakteri lainnya misalnya dengan pewarnaan gram.
Namun sekali diberi warna oleh pewarnaan gram, maka warna tersebut tidak
dapat dihilangkan dengan asam. Oleh karena itu, maka mycobacteria disebut
sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Pada dinding sel mycobacteria, lemak
berhubungan dengan arabinogalaktan dan peptidoglikan di bawahnya. Struktur ini
menurunkan permeabilitas dinding sel sehingga mengurangi efektivitas terhadap
antibiotik (PDPI, 2011). Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi menular,
menyerang pada paru, yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculose
(Arita Murwani, 2011).
2.6 Konsep Infeksi Pada Pasien TB Paru
Infeksi adalah masuknya organisme ke dalam jaringan tubuh dan
berkembang biak di dalam tubuh pejamu. Mikroorganisme seperti itu disebut

13

agen menular. Kondisi ini dapat diperparah lagi bila penderita sedang dalam
proses asuhan keperawatan. Hal ini akan mempermudah terjadinya infeksi karena
kuman-kuman, virus, dan sebagainya akan masuk ke dalam tubuh penderita yang
daya tahan tubuhnya menurun. Infeksi yang terjadi pada penderita-penderita yang
sedang dalam proses asuhan keperawatan ini disebut Infeksi Nosokomial
(Darmadi, 2008).
Sedangkan Tuberculosis Paru adalah penyakit menular langsung yang
disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar
kuman TB menyerang paru, tetapi juga dapat mengenai organ tubuh lainnya
(Depkes RI, 2011).
Dari beberapa pengertian tentang infeksi dan TB Paru di atas, peneliti
menyimpulkan sesuai dengan teori Darmadi (2008) dan Depkes RI (2011) bahwa
infeksi pada TB Paru adalah peristiwa masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh
pejamu yang dapat menyebabkan sakit, patogen mengganggu fungsi normal
tubuh dan dapat berakibat gangguan pada sistem pernapasan yaitu timbulnya
penyakit TB Paru.
2.6.1 Penyebaran Penyakit Infeksi
Penyebaran penyakit infeksi adalah penyebaran penyakit yang
disebabkan oleh mikroba patogen dan bersifat sangat dinamis (Darmadi, 2008).
Secara umum, proses terjadinya penyakit infeksi seperti penyakit TB Paru
melibatkan 3 faktor yaitu:
1). Faktor penyebab penyakit yang sering disebut agen (Mycobacterium
tuberculosis)
2). Faktor manusia, yang sering disebut pejamu
3). Faktor lingkungan.
Ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi dan dalam epidemiologi disebut
Segitiga Epidemiologi atau disebut Trias Penyebab Penyakit.
Penjamu

14

Agen

Lingkungan
Gambar 1. Segitiga Epidemiologi

Penyakit TB dapat timbul dengan beberapa penyebab, salah satunya


adalah mikroba patogen yaitu Mycobacterium tuberculosis. Penyakit yang
disebabkan oleh mikroba patogen ini disebut dengan penyakit infeksi. Mikroba
sebagai makhluk hidup harus berkembang biak, bergerak, dan berpindah tempat
untuk bertahan hidup. Habitat mikroba ini untuk berkembang biak dan bertahan
hidup disebut dengan reservoir (Darmadi, 2008).
Penyakit TB Paru merupakan salah satu penyakit infeksi yang menular.
M. tuberculosis sebagai makhluk hidup dan agen infeksius utama tentunya ingin
bertahan hidup dengan cara berkembang biak pada suatu reservoir yang cocok
dan mencari reservoir baru dengan cara berpindah atau menyebar. Hal ini
membuat orang yang sehat akan menjadi ikut tertular TB dan orang orang yang
sedang sakit serta sedang dalam proses asuhan keperawatan akan memperoleh
tambahan beban penderitaan (Darmadi, 2008). Mekanisme transmisi mikroba
patogen ke pejamu yang rentan (susceptable host) melalui dua cara yaitu:
1) Transmisi langsung (direct transmission)
Penularan langsung oleh mikroba patogen ke pintu masuk yang sesuai
pejamu.
2) Transmisi tidak langsung
Penularan mikroba patogen yang memerlukan adanya media perantara, baik
berupa barang/bahan, air, udara, makanan/minuman, maupun vektor.
a. Vehicle-borne
Sebagai media perantara penularan adalah barang/bahan yang terkontaminasi
seperti peralatan makan dan minum, instrumen bedah/kebidanan, peralatan
laboratorium, peralatan infus/transfuse
b. Vector-borne
Sebagai media perantara penularan adalah vektor (serangga), yang
memindahkan mikroba patogen ke pejamu.
c. Food-borne

15

Makanan dan minuman adalah media perantara yang cukup efektif untuk
penyebaran mikroba patogen ke pejamu, yaitu melalui pintu masuk (port
dentre) saluran cerna.
d. Water-borne
Tersedianya air bersih baik secara kuantitatif maupun kualitatif adalah
mutlak. Kualitas air yang meliputi aspek fisik, kimiawi, dan bakteriologis,
diharapkan terbebas dari mikroba patogen sehingga aman untuk dikonsumsi. Jika
tidak sebagai media perantara- air sangat mudah menyebarkan mikroba patogen
ke pejamu, melalui pintu masuk (port dentre) saluran cerna maupun pintu
masuk yang lain.
e. Air-borne
Mikroba patogen dalam udara masuk ke saluran nafas pejamu dalam bentuk
droplet nuclei yang dikeluarkan oleh penderita (reservoir) saat batuk atau bersin,
bicara atau bernapas melalui mulut atau hidung. Penularan melalui udara ini
umumnya mudah terjadi dalam ruangan yang tertutup seperti di dalam gedung,
ruangan/bangsal/kamar perawatan, atau pada laboratorium klinik.
2. Penularan Penyakit Infeksi
Penularan penyakit infeksi adalah penularan penyakit yang disebabkan oleh
sebuah agen biologi seperti virus, bakteri, atau parasit dan bukan disebabkan
faktor fisik seperti luka bakar atau faktor kimia seperti keracunan (Darmadi,
2008).
Penularan penyakit TB Paru yaitu lewat jalan nafas, sumber penularannya
adalah penderita TB Paru BTA Positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita
menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet
yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama
beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam
saluran pernafasan (Arita Murwati, 2008).
Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam
bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar

16

3000 percikan dahak. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana


percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi
jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.
Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan
lembab. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan
dahak, makin menular pasien tersebut. Faktor yang memungkinkan seseorang
terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan
lamanya menghirup udara tersebut (Depkes RI, 2011). Adapun cara penularan TB
Paru yaitu:
1) Secara langsung
a) Berbicara berhadapan
b) Percikan air ludah
c) Berciuman
d) Udara bebas (dalam satu kamar)
2) Secara tidak langsung
Melalui alat-alat yang tercemar basil, dll
a) Makanan/minuman
b) Tidur
c) Mandi
d) Saputangan
e) dll (Arita Murwani, 2008).
3. Pengelolaan Infeksi
Seperti diketahui, penderita yang terindikasi memilik penyakit TB Paru
harus menjalani proses asuhan keperawatan, yaitu penderita harus menjalani
observasi, tindakan medis akut, atau pengobatan yang berkesinambungan. Daya
tahan tubuh yang lemah sangat rentan terhadap penyakit TB. Masuknya mikroba
atau transmisi mikroba ke penderita, tentunya berasal dari sekitar penderita, di
mana penderita menjalani proses asuhan keperawatan seperti:
1) Penderita lain yang juga sedang dalam proses keperawatan
2) Petugas pelaksana (dokter, perawat, bidan, dan sebagainya)
3) Peralatan medis yang digunakan
4) Tempat (ruangan/bangsal/kamar) di mana penderita dirawat

17

5) Tempat/kamar di mana penderita menjalani tindakan medis akut seperti kamar


operasi dan kamar bersalin
6) Makanan dan minuman yang disajikan
7) Lingkungan tempat pelayanan kesehatan secara umum
Objek pengendalian infeksi adalah mikroba patogen yang dapat berasal
dari unsur-unsur di atas. Untuk dapat mengendalikannya diperlukan adanya
mekanisme kerja atau sistem yang bersifat lintas sektoral/bagian dan diperlukan
adanya sebuah wadah atau organisasi di luar struktur organisasi pelayanan
kesehatan yang sudah ada. Wadah atau organisasi ini adalah Panitia Medik
Pengendalian Infeksi (Darmadi, 2008).
Tugas Panitia Medik Pengendalian Infeksi adalah mengelola (managing)
unsur-unsur penyebab timbulnya infeksi. Pencegahan artinya jangan sampai
timbul, sedangkan pengendalian artinya meminimalisasi timbulnya risiko infeksi.
Dengan demikian tugas utama Panitia Medik Pengendalian Infeksi adalah
mencegah dan mengendalikan infeksi dengan cara menghambat pertumbuhan dan
transmisi mikroba yang berasal dari sumber di sekitar penderita yang sedang
dirawat (Darmadi, 2008).
4. Rantai Penularan
Pada proses infeksi dikenal adanya istilah rantai penularan (chain of
transmission), yaitu proses berpindah atau menyebarnya mikroba patogen dari
sumber penularan ke pejamu melalui mekanisme penularan (Darmadi, 2008).
Cara-cara memutuskan rantai penularan adalah dengan memerhatikan unsur dari
rantai penularan itu sendiri:

18

1. Sumber penularan: dengan cara mengeliminasi, membuang, menjauhkan,


atau memasang barier.
2. Mekanisme transmisi: mengenal cara-cara penularan, media-media perantara,
dan agen antimikrobial.
3. Pejamu/calon penderita: memperpendek waktu pemaparan, mamasang
barier/isolasi (Darmadi, 2008).
Dengan mengenal unsur-unsur yang berpengaruh atas terjadinya penularan,
maka dapat disusun sebuah tindakan/langkah-langkah (action) untuk memutus
rantai penularan agak tak terjadi infeksi (Darmadi, 2008).
5. Reaksi Infeksi
Reaksi infeksi adalah proses yang terjadi pada pejamu sebagai akibat
dari mikroba patogen mengimplementasikan ciri-ciri kehidupannya terhadap
pejamu.

Kerusakan

jaringan

maupun

gangguan

fungsi

jaringan

akan

menimbulkan manifestasi klinis, yaitu manifestasi klinis yang bersifat sistemik


dan manifestasi klinik yang bersifat khusus seperti tanda dan gejala suatu
penyakit infeksi (Darmadi, 2008).
1) Gejala TBC Paru meliputi:
a. Gejala utama : Batuk berdahak dan terus menerus selama 3 (tiga) minggu atau
lebih.
b. Gejala tambahan yang sering terjadi:
(1). Dahak bercampur darah.
(2). Batuk darah
(3) Sesak nafas dan nyeri dada
(4) Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak
badan, berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam, meriang lebih dari
sebulan.
Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru
selain TB, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lainlain. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap
orang yang datang ke UPK dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai
seorang tersangka (suspek) pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak
secara mikroskopis langsung (Depkes RI, 2011).

19

2) Gejala aktif TBC yaitu :


a. Demam
Biasanya sub febril menyerupai demam influenza, kadang-kadang
panas badan dapat mencapai 40-41 derajat celcius, timbul saat pagi atau sore hari,
disertai keringat pada malam hari. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya
tahan tubuh pasien, dan demam ini merupakan keluhan terbanyak dari pasien
(Sudoyo, 2006).
b. Batuk
Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus, gejala batuk lama
kira-kira lebih dari 4 minggu. Mula-mula batuknya kering, kemudian ada
dahaknya, pada keadaan yang lanjut dapat terjadi batuk darah karena terdapat
pembuluh darah yang pecah (Sudoyo, 2006).
c. Sesak Nafas
Pada penyakit yang ringan (baru muncul) belum dirasakan adanya
sesak nafas. Sesak nafas akan dirasakan bila penyakit sudah lanjut, dimana
kerusakan terjadi sudah mengenai sebagian besar paru-paru (Sudoyo, 2006).
d. Nyeri dada
Gejala ini agak jarang ditemukan. Nyeri dada timbul jika infiltrasi
radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan gesekan antar kedua
pleura sewaktu pasien menarik/melepaskan nafasnya (Sudoyo, 2006).
e. Malaise
Penyakit TB Paru bersifat radang yang menahun. Gejala malaise sering
ditemukan berupa anoreksia, BB menurun, sakit kepala, meriang, nyeri otot,
berkeringat saat malam hari, dan lain-lain. Gejala malaise ini semakin lama
makin berat dan timbul secara tidak teratur (Sudoyo, 2006).
Mikroba patogen yang telah bersarang pada jaringan/organ yang sakit
akan terus berkembang biak, sehingga kerusakan dan gangguan fungsi organ
semakin meluas. Demikian seterusnya, di mana pada suatu kesempatan, mikroba
patogen keluar dari tubuh pejamu dan mencari pejamu baru dengan cara
menumpang prooduk metabolisme tubuh atau produk proses penyakit dari
pejamu yang sakit (Darmadi. 2008).

20

6. Upaya Pencegahan Penularan Penyakit Infeksi


Tindakan atau upaya pencegahan penyakit infeksi adalah tindakan yang
paling utama. Upaya pencegahan ini dapat dilakukan dengan cara memutuskan
rantai penularannya. Jadi, kunci untuk mencegah atau mengendalikan penyakit
infeksi adalah mengeliminasi mikroba patogen yang bersumber pada reservoir
serta mengamati mekanisme transmisinya, khususnya menggunakan media
perantara. Dengan demikian diharapkan kejadian infeksi dapat dicegah atau
dikendalikan (Darmadi, 2008).
Menurut Darmadi (2008), kasus infeksi dapat dicegah dan dikendalikan
dengan memperhatikan tiga sikap pokok berikut:
1) Kesadaran dan rasa tanggung jawab para petugas (medical provider) bahwa
dirinya dapat menjadi sumber penularan atau media perantara dalam setiap
prosedur dan tindakan medis (diagnosis dan terapi), sehingga dapat
menimbulkan terjadinya infeksi.
2) Selalu ingat akan metode mengeliminasi mikroba patogen melalui tindakan
aseptik, disinfeksi, dan sterilisasi.
3) Di setiap unit pelayanan perawatan dan unit tindakan medis, khususnya
kamar operasi dan kamar bersalin harus terjaga mutu sanitasinya.
Sedangkan tindakan untuk pencegahan penularan pada pasien TB Paru
adalah:
1) Pasien dianjurkan untuk batuk atau bersin dan mengeluarkan ludah pada
tissue dan menghindari meludah di sembarang tempat, tissue tersebut tidak
2)
3)
4)
5)
6)
7)

boleh dibuang di sembarang tempat.


Tangan dicuci dengan menggunakan air mengalir dari sabun
Tindakan kontrol infeksi sementara dengan memakai masker
Jangan menghentikan terapi pengobatan, minumlah obat secara teratur
Berbicara dengan orang lain tidak berhadapan dalam jarak dekat
Pasien dianjurkan berjemur di bawah sinar matahari
Kasur pasien sebaiknya dijemur

21

8) Pakaian, alat-alat makan dan alat-alat lain yang digunakan pasien sebaiknya
dipisahkan dengan anggota keluarga.
9) Kamar pasien sebaiknya mendapat cukup sinar matahari dan ventilasi yang
7.
1)
a.
b.
c.
2)
a.

cukup (Depkes RI, 2011).


Pengobatan
Tujuan pengobatan pada pasien TB Paru adalah:
Mencegah kematian
Mencegah kekambuhan
Menurunkan tingkat penularan
Jenis dan dosis Obat Anti Tuberculosis (OAT)
Isoniasid (H)
Dosis harian yang dianjurkan 5 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan

intermitten 3x seminggu diberikan dengan dosis 10 mg/kg BB.


b. Rifampisin (R)
Dosis 10 mg/kg BB diberikan sama untuk pengobatan harian maupun
intermitten 3x seminggu.
c. Pirasinamid (Z)
Dosis harian yang dianjurkan 25 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan
intermitten 3x seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kg BB.
d. Streptomisin (S)
Dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan
intermitten 3x seminggu digunakan dosis yang sama. Penderita yang berumur
sampai 60 tahun dosisnya 0,75 gr/hari, sedangkan untuk 60 tahun atau lebih
dosisnya 0,50 gr/hari.
e. Etambutol (E)
Dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan
intermitten 3x seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kg BB (Depkes RI, 2011).
8. Prinsip Pengobatan
Obat anti tuberkulosis diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa
jenis, dalam jumlah cukup dan dosis yang tepat selama 6-8 bulan pengobatan agar
semua kuman dapat dibunuh. Dosis tahap intensif dan tahap lanjutan ditelan
sebagai dosis tunggal. Pengobatan tuberkulosis paru diberikan dalam dua tahap,
tahap pertama : tahap intensif atau tahap awal, dimana pada tahap ini penderita
mendapat obat setiap hari dan mendapat pengawasan yang ketat untuk mencegah

22

terjadinya kekebalan terhadap semua OAT, kedua : tahap lanjutan, pada tahap ini
penderita mendapat jenis obat lebih sedikit namun dalam jangka waktu yang lebih
lama, tujuannya adalah untuk membunuh kuman persister (dormant) dehingga
mencegah terjadinya kekebalan (Depkes RI, 2011).
9. Paduan Obat Tuberkulin
Paduan pengobatan yang dipergunakan dalam program penangulangan
penyakit tuberculosis paru, sesuai dengan rekomendasi WHO berdasarkan
klasifikasi dan tipe penderita, yang terdiri dari tiga kategori, yaitu:
a. Kategori 1 (2HRZE/4H3R3)
Obat ini diberikan untuk:
1) Penderita baru BTA positif
2) Penderita TB Paru BTA negatif rontgen positif yang sakit berat
3) Penderita TB Paru ekstra berat
b. Kategori 2 (2HRZES/HRZE/5H3R3E3)
Obat ini diberikan untuk:
1) Penderita kambuh BTA positif
2) Penderita gagal BTA positif
3) Penderita dengan pengobatan setelah lalai
c. Kategori 3 (2HRZ/4H3R3)
Obat ini diberikan untuk:
1) Penderita baru BTA negatif dan rontgen sakit ringan.
2) Penderita ekstra paru ringan, yaitu TB kelenjar limfe (limfadenitis),
pleuritis eksudativa unilateral, TB kulit, TB tulang).
d. OAT sisipan (HRZE)
Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif
dengan kategori 1 atau penderita BTA positif pengobatan ulang dengan
kategori 2, hasil pemeriksaan masih BTA positif, diberikan obat sisipan
(HRZE) setiap hari selama 1 bulan (Depkes RI, 2011).