Anda di halaman 1dari 13

PEMANFAATAN CITRA QUICKBIRD DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

UNTUK MENGKAJI VOLUME SAMPAH SEBAGIAN DAERAH MAGUWOHARJO DAN


CATURTUNGGAL
Oleh:
Edwin Renada Taufan, Sarash Amalia Pridasari, Fonna Mauliddiyah,
Intan Sania Nurmalasari, dan Anggini Nur Azizah
Jurusan Sains Informasi Geografi dan Pengembangan Wilayah
Fakultas Geografi
Universitas Gadjah Mada
Abstrak
Sampah menjadi masalah yang dialami oleh hampir seluruh negara, khususnya negara
berkembang. Indonesia termasuk negara berkembang, sehingga masalah sampah tak luput dari
perhatian. Karena itulah, dibutuhkan penghitungan terhadap volume sampah, khususnya terhadap
sumber sampah dari kawasan permukiman dan komersil. Volume sampah dapat diprediksi dari data
penginderaan jauh melalui pengukuran terhadap ukuran rumah mukim serta pola dan kualitas
permukiman. Jumlah penghuni permukiman dapat diketahui melalui ukuran rumah mukim, sedangkan
karakteristik penghuni tampak dari pola dan kualitas permukiman. Lalu volume sampah diketahui
melalui pembuatan blok permukiman, cek lapangan terhadap hasil interpretasi citra, dan wawancara.
Metode stratified sampling digunakan dalam pengukuran. Formula volume sampah diaplikasikan
dalam mengestimasi volume sampah permukiman dan komersil. Tempat Penampungan Sementara
(TPS) dapat ditentukan lokasinya berdasrkan variabel yang dilakukan, yaitu fisik lahan dan estimasi
volume sampah, dan prosedur, yakni pemodelan spasial, menafsir karakteristik permukiman dan
komersil serta volume sampah, dan penentuan lokasi TPS. Fisik lahan dapat dibedakan dari lokasi
bukan daerah genangan, jarak dari permukiman, jalan, dan sumber sampah, hingga dari segi estetika.
Estimasi volume sampah yang diperoleh membuktikan bahwa semakin luas rumah mukim, semakin
teratur pola permukiman, semakin baik kualitas permukiman, dan semakin luas penggunaan lahan
komersil, maka volume sampah yang dihasilkan semakin tinggi karena tingkat konsumsi penghuni
maupun komersil semakin meningkat, sehingga volume sampah yang dihasilkan semakin meningkat.

Kata kunci: penginderaan jauh, volume sampah, interpretasi visual, Sistem Informasi Geografis,
pendekatan kuantitatif berjenjang tertimbang.

A. LATAR BELAKANG
1

Sampah kota diartikan sebagai


sampah yang dibuang oleh masyarakat
kota. Permasalahan sampah kota salah
satunya bermula dari adanya produksi
sampah yang besar. Volume sampah yang
besar yang diproduksi daerah kota timbul
akibat banyaknya kegiatan dan jumlah
penduduknya. Semakin banyak jumlah
penduduk kota, maka volume sampah
yang dihasilkan dari kegiatan mereka
yang bermacam-macam akan semakin
besar pula. Masalah persampahan kota
kemudian menjadi semakin kompleks
ketika volume sampah yang dihasilkan
oleh kegiatan para penduduknya mampu
melebihi
daya
tampung
tempat
pembuangan akhir (Mulasari, Husodo
dan Muhadjir, 2014).
Keberadaan sampah memberi
dampak pada berbagai aspek kehidupan.
Umumnya dampak tersebut bersifat
negatif, sehingga manusia menghindari
sampah meski setiap hari manusia selalu
menghasilkan sampah (Hakim, Wijaya
dan Sudirja, 2006). Oleh karena itu,
sampah perlu dikelola dengan baik dan
professional.
Pengelolaan
sampah
dapat
dibantu
dengan
kontribusi
dari
penginderaan jauh. Penginderaan jauh
dapat menafsir kegiatan penduduk
perkotaan
dari
gambaran
fisik
lingkungan permukimannya. Kegiatan
yang bersifat komersial dan non
komersial akan memiliki volume sampah
yang berbeda. Dengan menafsir volume
sampah, maka dapat dianalisis daerah
mana yang volume sampahnya banyak
dan dihasilkan rekomendasi solusi
terhadap permasalahan volume sampah
tersebut.
a. RUMUSAN MASALAH
Pertanyaan yang muncul dan menjadi
rumusan masalah penelitian persampahan
permukiman adalah sebagai berikut.

1. Bagaimana hasil penyadapan citra


Quickbird untuk memperoleh data
kegiatan komersial dan non komersial di
lingkungan
permukiman
Kelurahan
Maguwoharjo?
2. Bagaimana proses pemetaan bangunan
komersial dan non komersial di
lingkungan
permukiman
Kelurahan
Maguwoharjo?
3. Seberapa banyak volume sampah yang
dihasilkan dari kegiatan komersial
maupun non komersial di lingkungan
permukiman Kelurahan Maguwoharjo
dan bagaimana persebarannya?
b. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian
persampahan permukiman adalah sebagai
berikut.
1. Mengaplikasikan teknik interpretasi citra
penginderaan jauh (Citra Quickbird)
untuk menyadap kegiatan komersial dan
non
komersial
di
lingkungan
permukiman Kelurahan Maguwoharjo.
2. Menerapkan sistem informasi geografis
(SIG) untuk memetakan bangunan
komersial dan non komersial di
lingkungan
permukiman
Kelurahan
Maguwoharjo.
3. Melakukan analisis dan pemetaan
volume sampah permukiman Kelurahan
Maguwoharjo.
c.MANFAAT PENELITIAN
Penelitian
mengenai
persampahan
permukiman diharapkan memiliki manfaat
sebagai berikut.
1. Data spasial kegiatan komersil dan non
komersial di lingkungan permukiman
Kelurahan
Maguwoharjo,
Kecamatan
Depok, Kabupaten Sleman dapat tersedia.
2. Adanya perkembangan teknologi aplikatif
terkait penginderaan jauh untuk studi
persampahan perkotaan.

3. Sebagai salah satu bahan pertimbangan


dalam perencanaan penataan ruang kota
serta pengambilan keputusan dalam suatu
kebijakan.
d. TINJAUAN PUSTAKA
1. Kota
Kota merupakan bagian kecil muka bumi
yang mengalami perubahan-perubahan yang
cepat sehubungan dengan fungsinya sebagai
pusat kegiatan penduduk dengan tata guna lahan
dan fungsi sosial ekonomi yang beraneka.
Perubahan yang cepat tersebut menyebabkan
petugas kota selalu tertinggal dalam menyajikan
peta yang mutakhir dimana hal ini kurang
menguntungkan bagi perencana dan pengelola
kota (Sutanto, 1981).
Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang
mempunyai kegiatan utama bukan pertanian
dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat
permukiman 11 perkotaan, pemusatan dan
distribusi
pelayanan
jasa
pemerintahan,
pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
Kawasan Perkotaan Yogyakarta adalah kawasan
strategis provinsi yang merupakan kesatuan
ruang mencakup Kota Yogyakarta, sebagian
Kabupaten Sleman, dan sebagian Kabupaten
Bantul selanjutnya disebut kawasan.
2. Pemetaan
Pembuatan
peta
kota
memerlukan
pengukuran atau survey terrestrial. Pengukuran
tersebut perlu menggunakan teknik tertentu agar
dapat dilakukan secara cepat, lengkap dan
terpercaya hingga ke penyajiannya. Teknik baru
tersebut berupa penginderaan jauh atau remote
sensing, yakni ilmu dan seni untuk memperoleh
informasi tentang objek, daerah atau gejala yang
menganalisa data yang direkam oleh sensor
tanpa berhubungan langsung dengan objek,
daerah atau gejala yang dikaji (Lillesand, Th.M
& Kiefer, R.W, 1979 dalam Sutanto, 1981).
3. Sampah
Sampah tidak dapat lepas dari kehidupan
manusia karena setiap kegiatan yang dilakukan
oleh manusia menghasilkan bahan sisa-sisa yang
telah diambil bagian utamanya karena

pengolahan atau karena sudah tidak ada


manfaatnya bila ditinjau dari segi ekonomi,
sebab sudah tidak ada harganya dan dari segi
lingkungan hidup dapat menimbulkan berbagai
pencemaran
dan
gangguan
kelestarian.
(((Hadiwiyoto,1998)
dalam
Hidayati
dkk,2010:200) dalam Fajria,2013)
Pertumbuhan jumlah sampah di kota-kota
besar di Indonesia setiap tahun meningkat secara
tajam. Kemampuan Pemerintah untuk mengelola
sampah hanya mencapai 40,09% di perkotaan
dan 1.02% di perdesaan (Tuti Kustiah, 2005: 3),
sehingga diperlukan kebijakan yang tepat agar
sampah yang di perkotaan khususnya tidak
menyimpan potensi permasalahan yang akan
berdampak di masa mendatang.
Saat ini hampir seluruh pengelolaan sampah
berakhir di TPA sehingga menyebabkan beban
TPA menjadi sangat berat, selain diperlukan
lahan yang cukup luas, juga diperlukan fasilitas
perlindungan lingkungan yang sangat mahal.
Semakin banyaknya jumlah sampah yang
dibuang ke TPA salah satunya 2 disebabkan
belum dilakukannya upaya pengurangan volume
sampah secara sungguh-sunguh sejak dari
sumber (Tuti Kustiah, 2005: 3).
Pertambahan jumlah sampah yang tidak
diimbangi dengan pengelolaan yang ramah
lingkungan akan menyebabkan terjadinya
perusakan dan pencemaran lingkungan (Tuti
Kustiah, 2005: 1). Lebih jauh lagi, penanganan
sampah yang tidak komprehensif akan memicu
terjadinya masalah sosial, seperti amuk massa,
bentrok antar warga dan pemblokiran fasilitas
TPA (Hadi, 2004).
Menurut UU No.18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sampah, terdapat 3 jenis sampah
yang harus dikelola:
Sampah rumah tangga
Merupakan sampah yang berasal dari
kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga,
namun tinja dan sampah spesifik tidak
termasuk di dalamnya.
Sampah sejenih sampah rumah tangga
Merupakan sampah yang berasal dari
kawasan komersial, kawasan industri,

kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas


umum dan fasilitas lainnya.
Sampah spesifik
i.
Sampah yang mengandung bahan
berbahaya dan beracun
ii.
Sampah yang mengandung limbah
bahan berbahaya dan beracun
iii.
Sampah yang timbul akibat bencana
iv. Puing bongkaran bangunan
v. Sampah yang secara teknologi belum
dapat diolah
vi.
Sampah yang timbul secara periodik
3.1 Istilah Mengenai Sampah
Persampahan/sampah adalah limbah yang
berbentuk padat dan juga setengah padat, dari
bahan organik dan atau anorganik, baik benda
logam maupu bukan logam yang dapat terbakar
dan yang tidak dapat terbakar.
Pewadahan Sampah adalah aktivitas
menampung sampah sementara yang dilakukan
oleh penghasil sampah (sumber sampah) dengan
menggunakan tempat sampah yang besarnya
disesuaikan dengan volume sampah yang
dihasilkan.
Pengumpulan sampah adalah aktivitas
penanganan yang tidak hanya mengumpulkan
sampah dari wadah individual dan atau dari
wadah komunal (bersama) melainkan juga
mengangkutnya ke tempat terminal tertentu, baik
dengan pengangkutan langsung maupun tidak
langsung (SNI, 2002).
Pemindahan sampah adalah kegiatan
memindahkan sampah hasil pengumpulan ke
dalam alat pengangkut untuk dibawa ke tempat
pembuangan akhir.
Pengangkutan sampah adalah kegiatan
membawa sampah dari lokasi pemindahan atau
langsung dari surnber sampah menuju tempat
pembuangan akhir.(Nugrahadi,2014)
3.2 Perhitungan Volume Sampah
Hidayati dkk,2000 dalam Fajriati,2013
menjelaskan bahwa volume sampah perkotaan
dihitung berdasarkan sumber sampah, yaitu
sampah domestik atau sampah rumah tangga
serta sampah komersial atau sampah non rumah
tangga. Perhitungan volume sampah domestik,
terdapat beberapa faktor mempengaruhi

besarnya volume sampah domestik


yang
dihasilkan faktor tersebut antara lain.
a. Jumlah Penghuni
Jumlah penghuni akan mempengaruhi
volume sampah yang dihasilkan pada sebuah
rumah. Semakin banyak jumlah penghuni maka
sampah yang dihasilkan akan semakin banyak.
Jumlah penghuni pada sebuah rumah tidak dapat
diekstrak secara langsung melalui citra,
melainkan dengan asumsi tertentu. Asumsi yang
digunakan adalah jumlah penghuni dapat
dicerminkan oleh ukuran rumah mukim, dimana
semakin besar ukuran rumah mukim maka akan
semakin banyak penghuninya dan sebaliknya.
b. Karakteristik Penghuni
Karakteristik penghuni yang dimaksud
berhubungan dengan kekuatan ekonomi yang
dimiliki penghuni. Kekuatan ekonomi akan
mempengaruhi tingkat daya beli serta jumlah
kebutuhan yang harus dipenuhi. Semakin baik
kekuatan
ekonomi
maka
kemampuan
menghasilkan sampah semakin tinggi dan begitu
pula sebaliknya. Namun karakteristik penghuni
ini juga tidak dapat diekstrak melalui citra,
melainkan menggunakan asumsi tertentu.
Asumsi yang digunakan adalah karakteristik
penghuni yang dicerminkan dari pola
permukiman huniannya. Masyarakat dengan
perekonomian baik cenderung menghuni
permukiman dengan pola teratur dan sebaliknya.
4. Citra
Citra
merupakan
gambaran
hasil
perekaman suatu objek di permukaan bumi yang
digambarkan dengan cara optik maupun
elektronik. Citra penginderaan jauh dapat
dimanfaatkandalam berbagai macam bidang
seperti pembangunan, pertanian, kehutanan,
kesehatan, dan lain sebagainya.
Salah satu citra yang cocok digunakan
untuk analisa permasalahan permukiman adalah
Citra Quickbird. Quickbird merupakan satelit
pengindraan jauh yang diluncurkan pada 18
Oktober 2001 di Amerika Serikat dan mulai
memproduksi data pengindraan jauh pada bulan
Mei 2002. Sensor yang digunakan pada satelit
ini nadalah dengan model pushbroom scanner.

Quickbird memiliki kemampuan dapat


menyimpan data dalam ukuran besar dengan
resolusi
tertinggi.
Satelit
Quickbird
menghasilkan data multispektral pada saluran
spektral biru, hijau, merah, dan inframerah dekat
serta pankromatik. Quickbird dapat digunakan
pada berbagai aplikasi terutama dalam hal
perolehan data yang memuat infrastruktur,
sumber daya alam bahkan untuk keperluan
pengelolaan tanah seperti manajemen dan pajak.
5. SIG
Sistem
Informasi
Geografis
(SIG)
merupakan sistem pengelolaan data secara
digital
yang
dapat
digunakan
untuk
memanipulasi, menganalisis, dan memonitoring
data bereferensi geografi. Saat ini SIG
dimanfaatkan untuk memecahkan beberapa
macam masalah dalam bebragai macam bidang
kehidupan melalui pengelolaan datanya salah
satunya dalam bidang kesehatan lingkungan dan
masyarakat.
B. METODE PENELITIAN
Lokasi penelitian berada di Desa
Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten
Sleman. Data yang digunakan adalah citra
Quickbird perekaman tahun 2010 dan data
volume tempat sampah permukiman dan
komersial di Desa Maguwoharjo yang diperoleh
melalui survei terestrial.
Peralatan yang
digunakan berupa seperangkat komputer, alat
cetak dan perangkat lunak pengolah pembuatan
peta berupa ArcGIS 10.2. Tahapan penelitian
adalah sebagai berikut.
Penelitian ini menggunakan metode
kuantitatif, di mana pada penelitian ini lebih
menekankan pada perhitungan mengenai volume
sampah yang dihasilkan oleh permukiman dan
komersial seperti warung makan dan hotel.
Penelitian ini dilengkapi dengan teknik
interpretasi visual citra penginderaan jauh
(Quickbird) untuk penyadapan informasi faktor
fisik dan lingkungan seperti blok permukiman
dan variabel fisik lahan seperti jarak tempat
sampah terhadap permukiman, jarak tempat
sampah terhadap jalan, dan jarak terhadap
sumber sampah. Survei tererstrial digunakan

untuk memenuhi data variabel fisik lahan


lainnya adanya genangan, estetika keberadaan
tempat sampah, dan koreksi citra. Metode
analisis SIG yang digunakan adalah metode
kuantitatif
yang
memasukkan
rumus
penghitungan volume sampah permukiman dan
volume sampah komersial.
Interpretasi visual dilakukan dengan
melakukan proses digitasi penggunaan lahan
permukiman dan industri komersial. Setelah
melakukan proses interpretasi visual, maka
dilakukanlah
proses
penghitungan
yang
meadukan antara data citra dan data yang
diperoleh di lapangan seperti ukuran tempat
sampah. Penghitungan ini dilakukan untuk
mendapatkan
estimasi
volume
sampah
permukimna
dan
komersial
di
Desa
Maguwoharjo. Selain melakukan penghitungan,
dilakukan pula proses skoring untuk mengetahui
tingkatan komersial yang ada di daerah tersebut.
Tingkatan komersial tersebut ada yang usaha
komersial rendah, sedang, dan tinggi. Skoring
tersebut merupakan skoring kualitatif dilakukan
berdasarkan persepsi dari peneliti dan belum ada
sistem skoring mutlak, sehingga persepsi antara
satu
peneliti
dengan
peneliti
lainnya
dimungkinkan berbeda. Perbedaan tersebut
bergantung pada pengetahuan peneliti terhadap
suatu permasalahan yang dihadapi.
Tahap selanjutnya adalah layouting peta.
Layouting peta dilakukan untuk mendapatkan
Peta Estimasi Volume Sampah di Desa
Maguwoharjo.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN


Daerah kajian penelitian kelompok 3
adalah sebagian desa Maguwoharjo dan sebagian
desa Caturtunggal. Jika dilihat pada citra, daerah
kajian kelompok 3 seperti gambar yang ada di
bawah ini.

Gambar Citra Quickbird


Kajian perhitungan volume sampah pada
sebagian desa Maguwoharjo dan Caturtunggal
bertujuan untuk melakukan analisis tentang

volume sampah. Sampah merupakan masalah


yang hampir dialami oleh hampir seluruh negara
yang ada di berbegai belahan dunia termasuk
negara Indonesia mengingat negara ini adalah
negara yang penduduknya sangat padat sehingga
permasalahan sampah di Indonesia merupakan
masalah lingkungan yang harus mendapatkan
perhatian lebih.
Asumsi awal yang diterapkan dalam
perhitungan volume sampah rumah tangga ialah
pengaruh dari faktor-faktor yang mempengaruhi
volume sampah yaitu, jumlah penghuni,
karakteristik penghuni, dan kegiatan penghuni.
Beberapa faktor diatas dapat disadap dan
diestimasi dari citra penginderaan jauh.
Tahap awal kajian perhitungan volume
sampah dalam penelitian ini ialah tahap
interpretasi visual citra. Citra yang diinterpretasi
ialah citra digital Quickbird, dengan lokasi
kajian berupa sebagian timur-selatan Desa
Maguwoharjo. Quickbird merupakan salah satu
citra penginderaan jauh yang dapat digunakan
untuk studi perkotaan karena kemampuannya
dalam memetakan fenomena perkotaan dengan
resolusi spatial yang tinggi. Hasil interpretasi
visual citra hanya mampu menjawab ukuran
rumah mukim dan karakteristik penghuni yang
berkaitan dengan kekuatan ekonomi penghuni.
Asumsi untuk jumlah penghuni yang
merepresentasikan ukuran rumah mukim ialah
semakin banyak penghuni maka produksi
sampah akan lebih tinggi daripada rumah dengan
jumlah penghuni sedikit. Asumsi yang
digunakan untuk mengetahui jumlah penghuni
adalah memperhatikan ukuran bangunan,
semakin besar ukuran rumah mukim maka
kemungkinan jumlah penghuni di dalamnya
cukup banyak begitu juga sebaliknya. Asumsi
untuk karakteristik penghuni (pola dan kualitas)
adalah semakin baik kekuatan ekonomi maka
kemampuan untuk memproduksi sampah akan
semakin tinggi daripada penduduk dengan
dengan kekuatan ekonomi rendah, untuk
membedakan kekuatan ekonomi ini hal yang
perlu diperhatikan ialah pola dan kualitas
pemukiman yang ada. Asumsi asumsi dalam

menghitung produksi volume rumah tangga ini


perlu dilakukan pembuktian dengan melakukan
survey pada daerah kajian dengan metode
resampling yaitu mengambil beberapa sample
data untuk mewakili beberapa data yang lain.
Pembedaan
klasifikasi
sampah
berdasarkan sumbernya seperti yang diketahui
didalamnya
terdapat
faktor-faktor
yang
mempengaruhi besarnya faktor produksi
sampah, kesemua itu akan digunakan dalam
pembuatan satuan pemetaan yaitu blok
pemukiman, setiap blok nantinya akan dihitung
volume sampahnya, dengan cara sebagai
berikut :
a. Membuat blok pemukiman
Membuat blok pemukiman utama dengan batas
jalan utama. Kemudian dalam blok ini akan
dipecah menjadi blok yang lebih kecil. Hal
pertama yang harus dibedakan ialah rumah
mukim dan rumah komersil. Informasi ini dapat
disadap melalui citra penginderaan jauh atau
citra foto udara beresolusi tinggi.
b. Melakukan cek hasil interpretasi
Melakukan hasil interpretasi terhadap blok
pemukiman mengenai ketepatannya ialah
dengan melakukan perhitungan tingkat akurasi
pemetaan dan selanjutnya dilakukan revisi.
c. Melakukan survei lapangan untuk
mengetahui volume sampah
Survei dilakukan dengan menggunakan metode
stratified sampling yaitu pengukuran yang
dilakukan dengan cara wawancara terhadap
pemilik bangunan mengenai berapa volume
sampah yang dihasilkan dalam sehari. Cara ini
efektif dilakukan dengan alat bantu takaran
sampah, sehingga hasil konversi nilai rerata
produksi perbangunan dapat dilakukan dengan
mudah, selain itu masyarakat lebih mudah
menjawab dengan orienatasi alat takar. Alat takar
dapat berupa tempat sampah, plastik sampah, dll.
Setelah semua informas yang dibutuhkan
didapatkan, barulah informasi tersebut diolah
dengan menggunakan perhitungan volume
sampah dengan beberapa rumus. Rumus yang

pertama untuk mengetahui volume sampah suatu


daerah kajian adalah dengan mengkalikan
jumlah rumah mukim dengan rerata produksi
sampah per rumah mukim. Akan tetapi rumus
tersebut
mengalami
revisi
mengingat
karakteristik antar rumah mukim satu dengan
yang lainnya pasti berbeda sehingga rumus yang
tepat untuk digunakan ialah jumlah rumah
mukim tipe satu , dua, tiga dan seterusnya
(tergantung jumlah variasi rumah mukim)
dikalikan dengan rerata volume sampah per tipe
rumah mukim. Selanjutnya perhitungan volume
sampah juga dilihat dari segi volume sampah
komersil dimana dalam menilai volume sampah
komersi terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan yaitu jumlah / luas objek yang
dikaji, jenis kegiatan dan volume rerata.
Jumah atau luas objek yang dikaji dapat
diukur dari citra penginderaan jauh namun akan
lebih baik hasilnya jika melakukan pengukuran
atau suver secara langsung. Jenis kegiatan
tertentu akan menentukan jenis dan jumlah
sampah yang dihasilkan, contoh jika rumah
mukim nya termasuk kategori komersil ialah jika
bangunan tersebut merupakan restoran atau
rumah makan, tentu saja produksi sampahnya
lebih banyak jika dibandingkan dengan rumah
mukim jenis kegiatan rumah tangga. Informasi
jenis kegiatan sangat terbatas sekali jika diambil
dari data penginderaan jauh oleh sebab itu perlu
diadakannya survey. Volume dihitung secara
langsung di lapangan dengan menggunakan alat
takar, bahkan pada bangunan komersil tertentu
terkadang dapat dimintai data seberapa besar
volume sampah yang dihasilkan dalam sehari.
Perhitungan volume sampah komersil yaitu
dengan menggunakan aplikasi rumus luas objek
komersil tipe satu, dua , tiga san seterusnya
dikalikan dengan rerata volume sampah per
objek satu, dua, tiga dan seterusnya.
Tempat
penampungan
sementara
merupakan tempat yang bersifat statis sekaligus
permanen. Sebenarnya dengan mengetahui
volume sampah yang terdapat pada TPS , dapat
diketahui seberapa besar produksi sampah pada
blok pemukiman tertentu, asalkan TPS tersebut

jelas menampung sampah daerah mana saja dan


tidak keluar dari area blok pemukiman yang
akan diestimasi produksi sampahnya. Penentuan
lokasi tempat penampungan sampah sementara
harus memperhatikan beberapa hal yaitu :
variabel yang digunakan , jenis fisik lahan,
volume sampah (estimasi). Prosedur yang
digunakan adalah yang pertama melakukan
pendekatan kuantitatif
(berjenjang, binary)
dengan membuat pemodelan spasial selain itu
prosedur yang harus dilakukan adalah menafsir
karakteristik pemukiman dan kegitaan komersil ,
menafsir volume sampah dan penentuan lokasi
TPS.
Tempat pembuangan sementara harus
memenuhi standar tertentu agar lokasinya tepat
dan tidak mengganggu pemandangan atau
keindahan area sekitarnya oleh sebab itu perlu
diadakannnya penilaian variabel fisik lahan.
Variabel fisik lahan dapat dinilai dari jarak
pemukiman, jarak terhadap jalan, jarak terhadap
sumber sampah, estetika (buan di pinggir jalan),
bukan merupakan daerah genangan.
Hasil survey lapangan menyatakan
bahwa
pemukiman
sebagian
daerah
Maguwoharjo dan Caturtunggal di bagi menjadi
komersial dan non komersial. Non komersial
berarti bangunan tersebut merupakan rumah
mukim (rumah penduduk) sedangkan komersial
dibagi lagi atau diklasifikasikan lagi menjadi
fasilitas pendidikan, hotel dan toko. Dari data
yang didapatkan dengan menggunakan metode
sampling diperoleh produksi sampah untuk
rumah mukim sebesar 67.80 liter per hari atau
sekitar satu kantong plastik besar sehari. Toko
menghasilkan 57.75 liter sampah per hari dan
fasilitas pendidikan sebesar 50.00 liter per hari.
Jumlah produksi sampah per rumah mukim atau
per hotel pasti juga berbeda tergantung dari
luasan bangunan dan kegiatan didalamnya. Oleh
sebab itu pada citra sebagian daerah
Maguwoharjo dan Caturtunggal terdapat hotel
yang amat luas dengan produksi sampah per hari
nya 976 liter per hari. Mengetahui jumlah
produski volume sampah suatu area kajian dapat
dilakukan dengan mengkalikan jumlah atap

rumah dengan jumlah produksi sampah, pada


daerah Maguwoharjo terhitung atap permukiman
sebanyak kurang lebih 3.450. jumlah atap rumah
sebesar 3.450 dikalikan dengan 67,80 sedangkan
fasilitas pendidikan (sekolah) teridentifikasi
terdapat tujuh buah dikalikaan dengan 50 liter
selanjutnya terdapat kurang lebih 100 toko
(warung, laundry, ruko), rata-rata menghasilkan
sampah sekitar 57,75 liter dan terkhir terdapat
dua hotel pada area kajian kami yang lumayan
luas. Hotel pertama tidak begitu luas dan
kegiatannya juga minim sedangkan hotel satunya
yang terletak di jalan Solo sangatlah luas dan
memiliki
banyak
pengunjung
sehingga
dimungkinkan aktivitasnya juga banyak. Hasil
wawancara yang didapat hasil produksi sampah
pada kedua hotel terebut masing-masing adalah
144 dan 976 liter
Hasil survey yang telah dilakukan
kelompok tiga memungkinkan untuk dibuatnya
klasifikasi apakah blok pemukiman tersebut
memiliki jumlah produksi sampah yang sedikit,
sedang ataupun tinggi. Hal ini disesuaikan
dengan padanya pemukiman dan juga sampah
yang diproduksi suatu bangunan dalam sehari
dari hasil perhitungan kesemuanya didpati
volume sampah area kajian kelompok tiga atau
sebagian daerah Maguwoharjo sebesar 241.155
liter per hari
Daerah Maguwoharjo dan Caturtunggal
terbilang memiliki kepadatan pemukiman yang
tinggi termasuk adanya bangunan komersial
seperi hotel , toko , warung , laundry dll.
Diharapkan dari kegiatan penelitian ini
didapatkan estimasi volume sampah yang
dihasilkan oleh rumah mukim (komersial dan
non komersial) per hari.

D. KESIMPULAN
Analisis tentang volume sampah dapat
dilakukan dengan cara mengumpulkan data
penginderaan jauh, membuat blok permukiman,
dan melakukan cek lapangan terhadap hasil
interpretasi blok permukiman. Lalu formula atau
rumus volume sampah permukiman dan
komersil diaplikasikan terhadap pengukuran,

sehingga volume sampah permukiman dan


komersil dapat diketahui. Semakin luas suatu
penggunaan lahan komersil, semakin banyak
sampah yang dihasilkan. Semakin besar ukuran
rumah mukim, dan semakin teratur pola
permukiman rumah mukim, semakin besar
volume sampah yang dihasilkan. Dari hasil
penelitian kami didapati volume sampah per hari
pada daerah kajian yaitu sebagian daerah
Maguwoharjo adalah sebesar kurang lebih
241.155

DAFTAR PUSTAKA
Fajria, Ine.2013.Skripsi : Pemanfaatan Citra Geoeye untuk Kajian Tempat
Penampungan Sementara Sampah di Kecamatan Depok, Kabupaten
Sleman. Yogyakarta : FGE UGM
Hadi, Sudharto P. 2001.Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan.Yogyakarta :
Gajahmada University Press.
Hidayati, Iswari Nur. 2015. Modul Praktikum Penginderaan Jauh untuk Studi
Perkotaan (GKP 0209). Yogyakarta : Fakultas Geografi UGM.
Nugrahadi, Aria.2014.Skripsi : Evaluasi Kebijakan dan Strategi Pengeolaan Smapah
di Kawasan Perkotaan Yogyakarta.Yogyakarta : UGM
Sutanto. 1981. APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DALAM PERENCANAAN KOTA.
Yogyakarta : Fakultas Geografi UGM
Tuti Kustiah.2005.Kajian Kebijakan Pengelolaan Sanitasi Berbasis Masyarakat.
Bandung : Pusat Penelitian & Pengembangan Permukiman, Balitbang
Departemen Pekerjaan Umum
Undang-Undang No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah
Hakim, Memet, Joice Wijaya dan Rija Sudirja. 2006. Mencari Solusi Penanganan
Masalah Sampah Kota. Bandung : Fakultas Pertanian UNPAD dengan Direktorat
Jenderal Hortikultura DEPTAN RI
Mulasari, Surahma Asti, Adi Heru Husodo dan Noeng Muhadjir. 2014. Kebijakan
Pemerintah dalam Pengelolaan Sampah Domestik. Jurnal Kesehatan Masyarakat
Nasional Vol. 8, No. 8, Mei 2014.

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGINDERAAN JAUH UNTUK STUDI PERKOTAAN
(GKP 0209)
PEMANFAATAN CITRA QUICKBIRD DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
UNTUK MENGKAJI VOLUME SAMPAH SEBAGIAN DAERAH
MAGUWOHARJO DAN CATURTUNGGAL

Disusun oleh :
Intansania Nurmalasari

13/348120/GE/07580

Fonna Maulidyah

13/348102/GE/07574

Edwin Renada Taufan

13/350037/GE/07658

Sarash Amalia Pridasari

13/350049/GE/07660

Anggini Nur Azizah

13/352872/GE/07677

LABORATORIUM PENGINDERAAN JAUH TERAPAN


FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015