Anda di halaman 1dari 12

REFERAT

PSIKIATRI FORENSIK
Untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal

Disusun Oleh :

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Alvian Yuta Nugraha


Anggita Rizki Kusuma
Dede Chrisna Febri Hertanto
Heru Fery Santoso
Lia Agustina Arini
Pradetyawan

J510145088
J510145093
J510145102
J510145100
J510145090
J510145108

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


RSDM DR. MOEWARDI SURAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015

I.

PENDAHULUAN

Banyak yang menganggap psikiatri forensik, cabang ilmu kedokteran


forensik.

Psikiatri

forensik

merupakan

cabang

dari

psikiatri.

Forensik

digambarkan sebagai pemanfaatan atau aplikasi cabang ilmu kedokteran ini


(psikiatri) untuk keperluan hukum. Psikiatri (kedokteran) forensic berfungsi
sebagai pemberi bantuan dalam hukum bersifat aktif. Ilmu hukum kedokteran,
dokter dan ilmu kedokteran berkedudukan sebagai objek telaah yang bersifat
pasif.
Ilmu Psikiatri (Ilmu Kedokteran Jiwa), teori maupun praktis diasosiasikan
dengan hukum positif yang ada, misalnya : KUHAP / KUH Pidana / KUH Perdata
/ UU Kes No. 36 TH 2009. Ilmu Kedokteran Jiwa yang dipergunakan untuk
kepentingan penegakan hukum. Psikiatri berbicara secara abstrak, antara lain
struktur kepribadian pelaku kejahatan, sedikit banyak dipengaruhi oleh
proyeksi/kecenderungan emosi/pikiran ahli pembuat visumnya. Jadi seringkali
kesimpulan Visum psikiatrikum dianggap aneh oleh hakim/orang awam lainya.
Dulu hak memasukkan seseorang ke dalam RS Jiwa sepenuhnya ditangan
hakim pengadilan berdasarkan Reglement op het Krankzinnigenwezen 1897.
Dokter hanya membantu menterjemahkan pasal-pasal : 44 KUHP, 61 KUH
Perdata dan 433 KUH perdata. UU Kesehatan Jiwa no : 3/1966 tidak
membedakan seluruh warga Negara Indonesia, tidak membedakan antara
golongan psikosis, (44 KUHP ayat 1 dan 433 KUH Perdata) dengan neurosis dan
retardasi mental maupun gangguan kepribadian lain (belum ada aturan-aturanya)
yang telah diklarifikasikan berdasarkan psikiatri modern. (I.C.D. WHO 1965).
Sehingga, hukuman akan diberikan sesuai dengan 44 KUHP terhadap semua
kasus gila tanpa kecuali.
Deviasi seksuil (patologi seks) dimasukkan oleh Coville kedalam golongan
psikopat, bersamaan dengan gangguan pola kepribadian, (pre psikotik), gangguan
sifat

kepribadian

(adaptasi

lingkungan

kurang

matang),

sosiopat

(amoral/antisosial), maupun psikopat akibat kelainan organis. Psikopat versi


hukum mencakup juga retardasi mental.Ruang lingkup dalam perkara perdata : *)

Perkawinan : berdasar pasal 28, 61 ayat 3 dan 6, dan pasal 88 KUH Perdata, orang
yang kurang sempurna budi akalnya (retardasi) dan boros dimasukan dalam
kuratele (pengampuan) adalah inkompeten. Hal ini tak disinggung dalam UU
Perkawinan No.I Th.74 maupun PP No.9 /75 tentang pelaksanaanya. *) Perikatan
(termasuk kontrak perjanjian tertulis dan karena UU) berdasarkan 1233 KUH
Perdata. Pasal 1320 dan 1330 mengatur syaratnya dan kompetensi seseorang yang
melakukan perikatan. Di pengadilan, psikiater bisa sebagai saksibiasa atau saksi
ahli yang diminta oleh hakim. Sedangkan keterangan psikatris boleh diminta oleh
jaksa /polisi/pihak pihak lainya.

II.

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PSIKIATRI FORENSIK


Menurut American Academy of Psychiatry and The Law. Psikiatri Forensik
adalah penggunaan keilmuan dan ekspertise psikiatri pada konteks hukum (baik
pidana, perdata, administratif, dan terutama pada konsultasi klinis dalam area
penilaian tingkat risiko / masalah ketenagakerjaan).
Psikiatri Forensik merupakan cabang dari ilmu kedokteran forensik dalam
menentukan keadaan jiwa seseorang yang tidak sehat diperlukan keterangan dari
seorang dokter ahli kejiwaan. Dari segi hukum pidana, keterangan dokter psikiatri
forensik sangat diperlukan dalam suatu pengadilan, karena akan membantu hakim
dalam memutuskan suatu perkara atau kejahatan yang dilakukan oleh tersangka.
Namun setelah penulis melakukan observasi pada Rumah Sakit Jiwa prof. HB.
Saanin Gadut Padang, keterangan dokter tersebut bisa dijadikan alat bukti di
Pengadilan bagi pelaku kejahatan yang menderita gangguan jiwa.
Penerapan Psikiatri Forensik Ditujukan terhadap pelaku kejahatan,
khususnya untuk mengungkapkan motif kejahatan, (berbeda dengan pemeriksaan
dokter / ahli patologi forensik yang tertuju terhadap korban kejahatan. Bisa
dilakukan oleh psikiater, bisa oleh dokter umum (terutama kasus-kasus yang
diagnostiknya jelas).
B. KEDUDUKAN PSIKIATER DALAM PSIKIATRI FORENSIK
Dalam bidang kedokteran maka fungsi dokter adalah sebagai terapis,
berfungsi sebagai medical agent, melakukan pemeriksaan medis untuk :
1.
2.
3.

Mengumpulkan gejala-gejala penyakit pada pasien


Mencari hal-hal yang dapat diduga sebagai penyebab / latar belakang
Mengusahakan upaya terapi untuk memperbaiki keadaan pasien dari
gangguan penyakitnya.

A. Posisi Dokter

Posisi medis: hubungan Dokter dengan orang yang diperiksa


merupakan hubungan Dokter-pasien.
Pemeriksaan dilakukan dalam upaya menetukan kondisi kesehatan
pasien, kemudian menentukan berbagai macam terapi.
Pasien orang bebas, tidak mempunyai status hukum tertentu, ikatan
dengan dokter berdasarkan saling percaya.
Dalam Psikiatri Forensik ia berfungsi sebagai saksi ahli, sebagai pembantu
ahli hukum untuk mengumpulkan data-data yang dapat dipakai dalam mengambil
keputusan hukum. Psikiater berfungsi sebagai pengumpul unsur bagi kepentingan
hukum (Legal agent).
B. Posisi Legal
Dokter mendapatkan posisi legal melalui surat dari lembaga hokum
(legal institute) yaitu; Pengadilan, kejaksaan, dan polisi untuk
memeriksa seseorang yang telah mempunyai status hukum tertentu:
terdakwa, saksi, penggugat.
Hubungan Dokter dengan orang yang diperiksa bersifat netral, dan tetap
mempunyai ikatan kerahasiaan kecuali terhadap lembaga hukum yang
meminta.
C. VISUM ET REPERTUM PSYCHIATRICUM
Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter
(dalam kapasitasnya sebagai ahli) atas permintaan tertulis dari penegak hukum
yang berwenang tentang apa yang dilihat dan yang ditemukan pada obyek yang
diperiksanya dengan mengingat sumpah atau janji ketika menerima jabatan, untuk
kepentingan peradilan. Dasar hukumnya adalah pasal 44 (1) KUHP, yang
berbunyi : Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggung
jawabkan kepadanya disebabkan karena jiwanya cacat dalam tubuhnya
(gebrekkigeontwikkeling) atau terganggu karena penyakit (ziekelijke storing) tidak
dipidana. Jadi yang dapat dikenakan pasal ini tidak hanya orang yang menderita
penyakit jiwa (psikosis) tetapi juga yang retardasi mental.

Terhadap suatu perkara, di dalam sidang pengadilan penghimpunan alat


bukti merupakan bagian penting untuk memberikan keyakinan pada hakim dalam
pengambilan keputusan hukum. Alat bukti yang sah, antara lain:
1.
2.
3.
4.

Pengakuan terdakwa
Keterangan saksi/saksi ahli
Alat bukti petunjuk
Alat bukti terdakwa
Keterangan ahli ada dua :
1. Lisan, yang disampaikan saksi ahli dalam kesaksiannya di dalam siding
pengadilan
2. Tertulis, yang dalam bidang kedokteran disebut Visum et Repertum yaitu
hasil pemeriksaan medis yang dilakukan oleh seorang dokter atau sebuah
tim dokter dan ditujukan untuk kepentingan peradilan sebagai sarana
pembuktian.
Visum et Repertum untuk bidang psikiatri disebut Visum et Repertum

Psyciatrucum.

Bentuk baku Visum et Repertum Psyciatricum


i.
Identitas pemeriksa
ii.
Identitas peminta
iii.
Identitas terperiksa
Laporan hasil pemeriksaan :

1. anamnesis
2. status internistik
3. status neurologik
4. status psikiatrik
5. pemeriksaantambahan
6. diagnosis
iv. Kesimpulan
Kasus-kasus hukum yang sering dimintakan VetR. Psychiatricum:
a. Kasus pidana
- Terperiksa sebagai pelaku
- Terperiksa sebagai korban
b. Kasus perdata
- pembatalan kontrak
- pengampuan atau curatelle
- hibah

- perceraian
- adopsi
c. Kasus-kasus lain
- kompentensi untuk diinterview
- kelayakan untuk diajukan di siding pengadilan
Apabila ditemukan penyakit jiwa maka harus dibuktikan apakah penyakit
itu telah ada sewaktu tindak pidana tersebut dilakukan, semakin panjang jarak
antara saat kejadian dan saat pemeriksaan akan menyulitkan dokter untuk
menentukannya. Visum et Reperterum psikiatri diperuntukkan bagi tersangka
bukan bagi korban sebagaimana Visum et Reperterum lainnya. Menjelaskan
tentang segi kejiwaan tersangka apakah dapat dipidana atau tidaknya seseorang
atas tindak pidana yang dilakukan, maka sebaiknya V et R psikiatri dibuat oleh
dokter spesialis kedokteran jiwa.
Yang berhak menjadi pemohon Visum et Repertum Psychiatricum

Penyidik

Penuntut Umum

Hakim Pengadilan

Tersangka atau terdakwa, melalui pejabat sesuai dengan tingkat proses


pemeriksaan

Korban, melalui pejabat sesuai dengan tingkat proses pemeriksaan

Penasehat hukum, melalui pejabat sesuai dengan tingkat proses


pemeriksaan

D. PEMERIKSAAN PSIKIATRI FORENSIK


a. Dasar Hukum Pemeriksaan Psikiatri Forensik :
UU Kesehatan nomor 36 /2011 Pasal 150:
1) Pemeriksaan kesehatan jiwa untuk kepentingan penegakan hukum
(visum et repertum psychiatricum) hanya dapat dilakukan oleh dokter
spesialis kedokteran jiwa pada fasilitas pelayanan kesehatan.
2) Penetapan status kecakapan hukum seseorang yang diduga mengalami
gangguan kesehatan jiwa dilakukan oleh tim dokter yang mempunyai
keahlian dan kompetensi sesuai dengan standar profesi.
b. Pemeriksaan Forensik Pada Kasus Pidana
1) Pembuatan VeR alat bukti di pengadilan

2) Baik korban maupun pelaku (meski lebih sering pelaku)


3) Pasal 44 KUHP: Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat
dipertanggung-jawabkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam
c.
1.

2.

3.

pertumbuhan atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana


Praktik Dalam Psikiatri Forensik
Perilaku membahayakan diri sendiri&/orang lain
Penderita epilepsy ditempat kerja
Kasus bunuh diri
Perilaku kriminal
Psikodinamika & psikopatologi :
Sadar atau tidak sadar
Bertanggung jawab / tidak
Kompetensi di masyarakat (civil competency)
Kompetensi sebagai seorang profesional
Kompetensi sebagai saksi
Kompetensi membuat surat wasiat / waris
Kompetensi membuat kontrak
Kompetensi dalam perawatan medis
Kompetensi dalam menangani surat penting dalam

masalah

medicolegal.
Kompetensi untuk jadi orangtua / pengampu
4. Membantu mengatasi keadaan buruk di masyarakat:
- Terorisme
- Pengembalian terhukum kemasyarakat
* hukuman masyarakat (social punishment)
* telah menjalani hukuman
5. Pendampingan dibidang medicolegal:
Dokter yang terlibat hukum dalam menjalankan profesinya
Pasien dan keluarga yang harus mengatasi surat medicolegal (informed
concent)
Tim medis dengan kesukaran masalah hukum (kedaruratan maupun
perawatan terminal)

JUMLAH KASUS PSIKIATRI FORENSIK TAHUN 2008-2012

d. Pemeriksaan Perilaku Kriminal


Penting untuk menentukan :
- perilaku kriminal bagian dari penyakit
- Pelaku tidak / dapat menyadari perbuatannya
- Adanya episode tidak terkontrol (epilepsi)
- Penilaian unsur kemampuan bertanggung jawab
e. Criminal Profiling
Definisi: pengumpulan informasi di tempat kejadian meliputi laporan
perilaku pelaku untuk mengetahui motivasi pelaku dan deskripsi tipe
orang yang bertanggung jawab terhadap hal tersebut.(DavidOrmerod).
Tujuan utama:
- Mengurangi jumlah tersangka dalam investigasi kriminal
- Panduan melihat hubungan potensial dengan kejahatan

Melihat potensi meningkatnya perilaku kriminal


Menentukan strategi, tindakan yang perlu diambil dan mempertahankan
investigasi tetap pada jalurnya.

Profiling tidak mengidentifikasi identitas spesifik tersangka namun


perilaku tertentu dan karakteristik kepribadian tersangka. Seluruh kejadian
criminal termasuk korban, dapat mengambarkan orang seperti apa yang
bertanggung jawab untuk perbuatan tersebut. Profil criminal dapat disusun,
misalnya pada kasus perkosaan, kejahatan ritual dan penganiayaan seksual.

III.

KESIMPULAN

Kebutuhan dan jenis layanan psikiatri/psikologi forensik dalam ranah


hukum pidana dan perdata makin meningkat. Pentingnya pedoman pemeriksaan
dan

pengembangan

instrument

pemeriksaan

untuk

penanganan

kasus

psikiatri/psikologi forensik.

IV.

DAFTAR PUSTAKA

Dr Wahjadi Dharmabrata, Psikiatri Forensik, EGC,2003


Prof Marlina S M, Psikiatri Forensik, Lokakarya Pembuatan Pedoman VeRP,
Bandung, 2009
Prof Budi Sampoerna, Peran dan Tanggung Jawab Psikiatri Forensik di
Pengadilan, Lokakarya Pembuatan Pedoman VeRP, Bandung, 2009

Leatherman ME, Goethe KE. Substituted Decision making: elder Guardianship.


Law and Psychiatry In: Journal of Psychiatric Practice Vol 15, No 16. Lippincott
Willliam Wilkins. Nov 2009
Simon R, Schuman D: Clinical Manual of Psychiatry and law. American
Psychiatric Publishing, Inc, 2007: 64-6
Perlin Ml, Champine P, Dlugaez HA, Connell m. Competence in the law: from
Legal theory to application. Jhon Willey & son, 2008: 219-57
Simon R, Liza H: Textbook of Forensic Psychiatry. American Psychiatric
Publishing, Inc, 2010
Grissco T: Evaluating competencies: Forensic assessment and instrument. 2nd ed.
Kluwer Academic. New York 2003
Herilbrun K, Geoffrey RM, DeMatteo: Forensic Mental Health Assessment. A
case book. Oxford University Press.2002