Anda di halaman 1dari 24

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara

agraris karena sektor pertanian merupakan

sektor terbesar dan berperan dalam pembangunan nasional meskipun saat ini
sektor pertanian sedang menurun daripada tahun-tahun sebelumnya. Pemanfaatan
sektor pertanian sangat dibutuhkan untuk menciptakan manfaat yang lebih, salah
satu kegiatannya yakni usahatani.Usahatani merupakan suatu ilmu yang
mempelajari pengalokasian sumberdaya lahan, tenaga kerja, modal, manajemen
yang efektif dan efisien agar memperoleh hasil yang maksimal.
Kegiatan pertanian yang selalu ditandai dengan kegiatan di sawah, tegalan,
dan terdapat di desa tidak selamanya dapat digambarkan seperti itu.Seiring
perkembangan zaman, maka terciptalah inovasi-inovasi baru.Salah satu contohnya
adalah pertanian perkotaan. Maksud dari pertanian perkotaan adalah kegiatan
pertanian yang dapat dilakukan di perkotaan meskipun terbatas akan lahan
budidaya. Misalnya dengan cara teknik vertikultur, hidroponik, aeroponik, teknik
menanam tanaman di atas gedung serta teknik-teknik lain yang lebih kreatif.
Teknik-teknik tersebut tidak memerlukan lahan yang luas.
Laporan praktikum ini berjudul Laporan Usahatani Perkotaan Kreatif
membahas tentang gambaran kegiatan budidaya yang dilakukan, kegiatan
pemasaran, macam-macam biaya yang dikeluarkan, uji kelayakan usaha,
permasalan usahatani serta solusi dari permasalahan dalam usahatani.
I.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui gambaran umum kegiatan budidaya pakcoy putih
2. Untuk mengetahui gambaran umum kegiatan pemasaran komoditas
pakcoy putih
3. Untuk menghitung pendapatan (TVC, TFC, TC, TR, profit) dari hasil
usahatani komoditas pakcoy putih
4. Untuk menguji kelayakan (R/C rasio, BEP unit dan rupiah) usahatani
komoditas pakcoy putih

5. Untuk mengetahui deskripsi permasalahan dalam usahatani komoditas


pakcoy putih
6. Untuk mengetahui solusi dari permasalahan dalam usahatani pakcoy putih

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Usahatani Perkotaan Kreatif


Indonesia merupakan sebuah Negara agraris sehingga pembangunan di
sektor pertanian memegang peranan penting di dalam upaya menyejahterakan
masyarakat.Revitalisasi di bidang pertanian berarti menempatkan kembali esensi
pertanian, secara kontekstual maupun proporsional, baik di perkotaan maupun di
pedesaan.
Pertanian perkotaan atau biasa disebut sebagai urban agriculture
merupakan suatu aktivitas atau kegiatan pertanian yang dilakukan di dalam
maupun di pinggiran kota dengan tujuan untuk memproduksi, memelihara,
mengolah, dan mendistribusikan beragam produk pangan atau non-pangan dengan
memanfaatkan sumberdaya manusia, material, produk, dan jasa yang ada di
daerah perkotaan (Smith et al., 1996).
Pertanian perkotaan mempunyai peranan penting di antaranya sebagai
sumber pasokan pangan dan opsi ketahanan pangan rumah tangga perkotaan,
upaya untuk meningkatkan produktivitas ruang terbuka di perkotaan, dan sebagai
peluang pendapatan serta kesempatan kerja penduduk perkotaan (FAO,
2003).Pertanian perkotaan mempunyai peluang besar sebagai pengembangan
pertanian berbasis agribisnis dan berwawasan lingkungan.
Menurut Irawan (2005), konversi lahan pertanian biasa terjadi sebagai
bentuk persaingan pemanfaatan lahan untuk sektor pertanian dan sektor nonpertanian. Hal tersebut berkaitan erat dengan fenomena ekonomi dan social, yang
ditandai dengan keterbatasan lahan, pertumbuhan penduduk, dan juga
pertumbuhan ekonomi.
Pertanian perkotaan tidak memerlukan lahan yang luas, sehingga
pemanfaatan lahan yang ada harus dipikirkan terlebih dahulu secara cermat untuk
memperoleh hasil yang optimal. Oleh karena itu perlu pemikiran yang kreatif dan
inovatif, baik dalam pengoptimalan penggunaan lahan maupun pilihan komoditas
yang akan dibudidayakan. Pertanian perkotaan kreatif biasanya tidak bisa lepas
dari sayuran organik maupun pola tanam vertikultur. Sayuran organik sebagai

suatu bentuk gaya hidup yang bagus dengan memperhatikan kandungan gizi
sayuran dan ramah lingkungan.
2.2 Tinjauan Desain Usahatani Perkotaan Kreatif
Perkembangan wilayah perkotaan menyebabkan semakin meningkatnya
keberadaan lahan sempit dan juga alih fungsi lahan sempit menjadi suatu bentuk
usahatani perkotaan kreatif. Bentuk pemanfaatan lahan sempit perkotaan menjadi
suatu usahatani kreatif sangat tergantung oleh pemikiran pengolahnya, sehingga
model pemanfaatan lahan sebagai media tanam dalam proses budidaya juga
beragam, mulai dari penggunaan penggunaan polybag, bedengan, maupun dengan
pembuatan kerangka secara vertikultur.
Salah satu desain usahatani perkotaan kreatif yang banyak diterapkan ialah
pola vertikultur dengan menggunakan kerangka. Vertikultur pada dasarnya
merupakan cara bertani/bertanam dengan menempatkan media tanam dalam
wadah-wadah yang disusun secara vertical atau ke atas (Nitisapto dalam
Sutarminingsih, 2003). Vertikultur cocok diterapkan pada daerah-daerah dengan
lahan sempit, khususnya wilayah perkotaan yang kini rata-rata menjadi area
pemukiman yang padat.
Penerapan pola tanam vertikultur mempunyai beberapa keunggulan di
antaranya ialah dapat menghemat lahan, menghemat air, mendukung pertanian
organik tanpa penggunaan pestisida anorganik, bahan yang digunakan dapat
disesaikan dengan mudah, umur tanaman relative singkat, dan juga perawatan
tanaman relatif mudah (Sutarminingsih, 2003).
Menurut Nitisapto (1993), beberapa penggunaan wadah media tanam yang
sering digunakan dengan tingkat keberhasilan cukup tinggi ialah kolom wadah
media yang disusun secara vertical, kolom wadah media yang disusun secara
horizontal, wadah media digantung, dan juga pot susun.
2.3 Tinjauan Komoditas
Pakcoy (Brassica rapaL.) adalah jenis tanaman sayur-sayuran yang
termasuk keluarga Brassicaceae. Tumbuhan pakcoy berasal dari China dan telah
dibudidayakan setelah abad ke-5 secara luas di China selatan dan China pusat

serta Taiwan. Sayuran ini merupakan introduksi baru di Jepang dan masih sefamili
dengan Chinese vegetable. Saat ini pakcoy dikembangkan secara luas di Filipina
dan Malaysia, di Indonesia dan Thailand.
Adapun klasifikasi tanaman sawi pakcoy adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisio

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Rhoeadales

Famili

: Brassicaceae

Genus

: Brassica

Spesies

: Brassica rapa L

Tanaman pakcoy merupakan salah satu sayuran penting di Asia, atau


khususnya di China. Daun pakcoy bertangkai, berbentuk oval, berwarna hijau tua,
dan mengkilat, tidak membentuk kepala, tumbuh agak tegak atau setengah
mendatar, tersusun dalam spiral rapat, melekat pada batang yang tertekan. Tangkai
daun, berwarna putih atau hijau muda, gemuk
dan berdaging, tanaman mencapai tinggi 1530 cm.
Keragaman morfologis dan periode kematangan cukup besar pada
berbagai varietas dalam kelompok ini.Terdapat bentuk daun berwarna hijau pudar
dan ungu yang berbeda.Lebih lanjut dinyatakan pakcoy kurang peka terhadap
suhu ketimbang sawi putih, sehingga tanaman ini memiliki daya adaptasi lebih
luas.Vernalisasi minimum diperlukan untuk bolting.Bunga berwarna kuning pucat
(Hendra, 2014).
2.4 Tinjauan Biaya Usahatani
Analisis usaha tani terdiri dari analisis biaya dan pendapatan usaha tani
yang berguna untuk mengukur dan sebagai alat evaluasi keberhasilan usaha tani,
untuk mengetahui biaya produksi per unit produk usahatani yang dihasilkan,
untuk bahan perencanaan usaha tani periode berikutnya, untuk mengetahui
keuntungan usaha tani, untuk dasar pengajuan kredit usaha tani ke bank, dan
untuk mengetahui rentabilitas usaha tani (Rodjak, 2006).

Menurut Hadisaputro dalam Rodjak (2006), suatu usaha tani dapat


dikatakan berhasil apabila usaha tani itu memenuhi syarat-syarat, di antaranya
adalah penerimaan yang diperoleh lebih besar daripada biaya produksi,
pendapatan dapat dipergunakan untuk membayar bunga modal, dapat membayar
upah petani dengan keluarganya secara layak, dan juga mampu mengembangkan
teknologi yang lebih baik dan lebih efisien dalam pemakaian faktor produksi.
Biaya adalah nilai dari semua korbanan ekonomi yang dapat diperkirakan
dan dapat diukur untuk menghasilkan suatu produk. Biaya usaha tani dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

Biaya tetap adalah biaya yang besar kecilnya tidak mempengaruhi pada
hasil produksi. Biaya tetap tersebut antara lain pajak, sewa tanah, dan
penyusutan alat-alat pertanian yang tahan lama.

Biaya tidak tetap atau biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya
mempunyai pengaruh langsung pada hasil produksi. Biaya tidak tetap itu
diantaranya biaya sarana produksi, upah tenaga kerja, dan pestisida.
Jumlah biaya tetap ditambah biaya variabel disebut biaya produksi total,

atau secara singkat dapat dirumuskan sebagai berikut :


TC

= TFC+ TVC

Keterangan :
TC

= biaya produksi total

TFC

= biaya tetap

TVC

= biaya variabel
Sedangkan untuk penerimaan usaha tani adalah nilai semua produk yang

dihasilkan dari suatu usaha tani dalam satu periode tertentu atau satu musim
tanam atau dalam satuan tahun kegiatan usaha, dengan rumus penerimaan
usahatani R = Q x P, dimana R adalah penerimaan, Q adalah jumlah produk usaha
yang dihasilkan dalam satu musim tanam atau dalam satu tahun, dan P adalah
harga jual produk per unit.
2.5 Tinjauan Pemasaran
Menurut Kotler (2009), pemasaran adalah suatu proses sosial dan
manajerial dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka

butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan secara bebas


mempertukarkan produk dan jasa bernilai dengan pihak lain.
Fungsi universal pemasaran ialah sebagai pembelian, penjualan,
pengiriman, penyimpanan, standardisasi dan penilaian, pembiayaan, pengambilan
resiko, dan informasi pasar (Cannon et al., 2008).
Terdapat fokus yang harus diperhatikan di dalam aspek pemasaran, di
antaranya ialah:

Lebih dari sekedar membujuk pelanggan


Pemasaran lebih dari sekedar penjualan dan periklanan semata, tujuan

utama pemasaran ialah mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen


sehingga pemenuhan akan kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan sangat baik.
Jika keseluruhan kegiatan pemasaran dilakukan dengan baik, maka konsumen
akan tidak perlu banyak dbujuk. Mereka akan melakukan pembelian dengan cara
yang sama pada kesempatan yang berbeda,

Dimulai dengan kebutuhan konsumen


Pemasaran dimulai berdasarkan apa yang dibutuhkan oleh konsumen,

bukan pada produksi. Setelah mengantisipasinya baru kemudian dilakukan proses


produksi, termasuk di dalamnya pertimbangan mengenai desan produk dan biaya
yang dibutuhkan.

Tidak berjalan sendiri


Di dalam proses pemasaran terdapat beberapa kegiatan di antaranya ialah

produksi, akuntansi, dan keuangan. Masing-masing dari setiap aktivitas tersebut


tentu tidak dapat berjalan sendiri dan sangat perlu adanya koordinasi satu sama
lain.

Membangun hubungan dengan pelanggan


Kegiatan pertukaran di dalam pemasaran merupakan bagian dari hubungan

yang

terjadi

secara

terus-menerus

dan

bukan

merupakan

satu

kali

transaksi.Pemasaran bertujuan untuk membantu setiap orang dalam pemenuhan


kebutuhannya. Hubungan yang baik antara produsen dengan konsumen dalam
pemasaran akan menyebabkan alur transaksi yang ada akan berjalan secara terusmenerus, hal ini tentunya sangat menguntungkan perusahaan jika ditinjau dari
loyalitas pembeli atau para konsumennya (Cannon et al., 2008).

Tahapan dalam membangun strategi pemasaran menurut Bilson Simamora


(2003) ialah sebagai berikut:

Segmentasi pasar
Segementasi

pasar

berarti

mengelompokkan

pasar

berdasarkan

karakteristik yang ada.Terdapat empat variabel utama yang harus diperhatikan


dalam pengelompokan suatu pasar, di antaranya ialah unsur demografis, geografis,
psikografis, dan juga perilaku.

Target pasar
Target pasar ialah suatu tindakan mengevaluasi keaktifan daya tarik setiap

segmen pasar dan memilih salah satu atau lebih dari segmen pasar tersebut untuk
dimasuki. Setelah mengetahui segmen mana yang efektif untuk dimasuki, setiap
perusahaan akan mengalokasikan sumber daya yang ada untuk menargetkan salah
satu segmen yang dianggap paling memungkinkan untuk dikembangkan.

Posisi pasar
Posisi pasar ialah tindakan untuk menempatkan posisi bersaing produk dan

bauran pemasaran yang tepat pada setiap pasar sasar.Kegiatan menempatkan


produk ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat sekitar
mengenai produk yang kita pasarkan.

III.

METODOLOGI

3.1 Teknik Pembuatan Desain Usahatani Perkotaan Kreatif

Membuat
sayatan
botol secara
berhadapan
diukur
2/3telah
bagian
dari bagian atas botol
Mengisi
botol
yangpada
telahsisi
terpasang
dengan
media tanam
yang
disiapkan
Mengikat 2botol
buahpada
bambu
berukuran 1 penopang
m tepat dibambu
tengah yang
secaraada
horizontalMemasukkan
dengan
bagian2 atas
bambu
berukuran
belahan
bambu
Menyisipkan
masing-masing
Membuat
4 lubang
pada
3beruku
bagian
Membagi
bambu
be2
Membagi botol air mineral 1,5 l menjadi 2 bagian yang sama

3.2 Teknik Budidaya

Ada beberapa tahapan kegiatan yang harus dilakukan untuk melakukan


budidaya tanaman pakcoy putih:

Panen

Pasca panen
3.3 Teknik Pemasaran
Strategi dalam pemasaran pakcoy putih ini dilakukan dengan metode
pemasaran yang baik dan tepat sasaran. Ada 4 (empat) metode Pembauran
pemasaran (marketing mix) untuk lebih mensukseskan penjualan, diantaranya
adalah:
a. Product
Produk kami yaitu pakcoy putih yang merupakan produk organik yang
dikemas dengan plastik wrap dan sterofoam.
b. Price
Harga dari pakcoy ini yaitu Rp 8000 per 200 gram
c. Place
Tempat penjualan kami yaitu dimana ibu-ibu biasanya berkerumun
pada pagi atau sore hari untuk berbelanja harian.
d. Promotion
Untuk meningkatkan nilai penjualan pakcoy putih ini maka
diperlukan adanya promosi. Bentuk promosi yang dilakukan yaitu promosi
secara interpersonal, atau langsung kepada calon pembeli

3.4 Diagram alur Perhitungan Biaya hingga Profit

10

Menghitung semua biaya produksi (TC) dalam usahatani

Menghitung penerimaan (TR) dari hasil penjualan dengan cara TR = P x Q

Menghitung pendapatan yang diterima dengan cara mencari selisih antara


total penerimaan (TR) dengan total biaya produksi (TC)

Menghitung kelayakan usahatani digunakan analisis Revenue Cost Ratio


(R/C) menggunakan persamaan

Menganalisis kelayakan usahatani dengan indicator: R/C > 1 berarti layak


diusahakan, R/C = 1 berarti impas, dan R/C < 1 berarti tidak layak
diusahakan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

11

4.1 Gambaran Umum Kegiatan Budidaya


4.1.1 Persemaian
Tempat persemaian pakcoy putih diolah dengan cangkul sedalam 20-30
cm supaya gembur. Selanjutnya dibuat bedengan dengan arah membujur dari
Barat ke Timur, agar mendapatkan cahaya penuh.Media semai pakcoy putih
berupa bedengan dengan media semai setebal 7 cm yang dibuat dari
campuran pupuk organik dan tanah dengan perbandingan 1:1.130 benih pakcoy
putih disebar merata di atas media persemaian yang sebelumnya telah disiram,
kemudian tutup kembali dengan pupuk, supaya bibit dapat menembus media
dengan mudah.
4.1.2 Penanaman
Bibit pakcoy putih yang telah berumur 23 hari atau telah berdaun 3-4
helai, dipindahkan ke media tanam dalam kerangka yang telah disiapkan dan di
desain sedemikian rupa, sehingga mendukung pertumbuhan tanaman pakcoy.
Media tanam dalam kerangka berupa campuran tanah dan pupuk organik
dengan perbandinga 1:1 yang di letakkan dalam botol Aqua 1,5 liter.
4.1.3 Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan mulai dari persemaian hingga panen.Penyiraman
dilakukan pada pagi dan sore hari. Pada pagi hari dilakukan mulai pukul 06.0006.20 WIB dan sore pukul 17.00-17.20 WIB.Penyulaman pada tanaman yang
mati dilakukan 1 minggu setelah tanam.
4.1.4 Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
Organisme pengganggu tanaman pakcoy putih adalah ulat, cara
pengendalian ulat dilakukan secara mekanis dan kimiawi. Secara mekanis
dilakukan dengan cara mengambil langsung organisme pengganggu tanaman
dari tanaman budidayanya. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan
pemberian larutan cabe pada tanaman budidaya yang terserang hama.

4.1.5 Panen dan Pasca Panen

12

Pakcoy putih dipanen pada umur 53 hari setelah tanam dengan cara
mencabut tanaman langsung dari media tanamnya. Pakcoy yang sudah di
panen di wrapping dan dipasarkan.
4.2 Gambaran Umum Kegiatan Pemasaran
Kegiatan pemasaran pakcoy dilakukan sebagai tindak lanjut setelah
usahatani pakcoy.Kegiatan ini ditujukan untuk memperoleh keuntungan dari hasil
usahatani.Dalam kegitaan pemasaran tersebut diperlukan suatu startegi untuk
menarik minat konsumen untuk melakulkan pembelian. Dalam hal ini kelompok
kami menggunakan strategi melalui pendekatan place, product, promotion, dan
price. Dari segi tempat, penjualan yang kami lakukan adalah tempat dimana ibuibu biasanya berkerumun pada pagi atau sore hari untuk berbelanja harian.Kami
mendapatkan pelanggan ibu-ibu rumah tangga yang berminat dengan sayuran
kami.Dari sisi product kami menawarkan bahwa produk kami benar-benar produk
organik dan dikemas dalam plastic wrapping dalam satuan gram sehingga jika
diamati tampak seperti sayuran yang dijual pada swalayan. Dari sisi promotion,
promosi yang dilakukan dengan cara pendekatan individu karena memang
produksi yang dihasilak tidak banyak sedangkan dari segi harga kami
menawarkan harga yang relative sama dnegan harga pakcoy putih non organik
sehingga pembeli menganggap tidak terlalu mahal.
4.3 Hasil Perhitungan Pendapatan (TVC, TFC, TC, TR, Profit)
4.3.1 TVC (Total Variabel Cost)
Keterangan
Benih
Pupuk Kandang
Plastik Wrap
Sterofoam

Jumlah unit
1
9,4
1
3
Jumlah

Satuan
130 benih
5 kg
pcs
10 pcs

Harga (Rp)
2.000
5.000
25.000
3.000

Total (Rp)
2.000
47.000
25.000
9.000
83.000

Tenaga Kerja
Jumla
Laki-Laki

h
orang

Jumla
h hari

Jumlah
jam/har
i

HOK

Upah/HO
K (Rp)

Total (Rp)

13

pembibitan dan
pengolahan
pembuatan
kerangka
Panen
Perempuan
pembibitan &
pengolahan
pembuatan
kerangka
Transplanting
Penyiraman

0,25

70.000

17.500

0,167

0,06

70.000

4.384

0,25

70.000

17.500

0,5

0,25

50.000

12.500

0,167

50.000

6.263

0,167

45.000

1.879

50.000

337.500
397.526
480.526

90
Jumlah
TVC

0,3

0,1252
5
0,0417
5
6,75

4.3.2 TFC (Total Fix Cost)


Biaya
Keterangan

Jumlah unit

Satuan

Harga

Sewa/musi

sewa/hektar/tahun

m tanam
(Rp)
3.650

Sewa Lahan
Peralatan
14

Keteranga

Jumla

Satua

h unit

Cangkul

Harga Harga

Tahun

Biaya

Biaya
penyusutan

awal/

akhir/

ekonomi

penyusut

unit

unit

an/th

buah

75.00

10.00

10

tanam (Rp)
6.500
2.167

0
10.00

10

4.000

1.333

/musim

Parang

buah

0
50.00

Paranet

0
12.00

0
0

20.000

6.667

buah

0
15.00

5.000

15

667

222

buah

0
10.00

3.000

15

467

156

buah

0
22.00

15.00

17.500

5.833

Tang

Ember

Kerangka

0
Jumlah
TFC

0
16.378
20.028

4.3.3 TC (Total Cost)


TC = TFC + TVC
= Rp 20.028,00 + Rp 480.526
= Rp 500.554,00
4.3.4 TR (Total Revenue)
TR = Q x P
= 30 x Rp 8.000,00
= Rp 240.000,00
4.3.5 Profit
Profit = TR TC
= Rp 240.000,00 Rp 500.554,00
= - Rp 260.554,00
Pada kegiatan produksi pakcoy putih ini mengalami kerugian sebesar Rp
260.554,00.
4.4 Hasil Perhitungan Kelayakan Usaha (R/C rasio, BEP Unit dan Rupiah)

15

RC rasio

= Rp 240.000,00/Rp 500.554,00
= 0,48 (usaha tani tidak layak dikembangkan)

BEP unit
= Biaya Tetap / (harga per unit biaya variable per unit)
= Rp 20.028,00 / (Rp 8.000,00 Rp 4.805,00)
= Rp 20.028,00 / Rp 3195,00
= 6,26 ~ 7
Usaha tani pakcoy putih akan mengalami titik impas apabila penjualan
minimal sebanyak tujuh unit.

BEP penerimaan
= Biaya Tetap / (Kontribusi Margin per unit : Harga per unit)
= Rp 20.028,00 / (Rp 3.195,00 : Rp. 8.000,00)
* Rp.8.000,00 Rp.4.805,00
= Rp 20.028 / 0,399
= Rp 50.195,48 ~ Rp 50.195,00
Usaha tani pakcoy putih akan balik modal ketika penerimaan sebesar lima
puluh ribu seratus Sembilan puluh lima rupiah.

4.5 Deskripsi Permasalahan


Di dalam praktikum Usahatani yang kelompok kami lakukan ini, terdapat
beberapa permasalahan yang di hadapi, yang terbagi atas dua bahasan, yakni
tentang permasalahan budidaya, dan permasalahan pemasaran.

4.5.1 Permasalahan Budidaya


Benih yang seharusnya kami terima adalah benih kailan, tetapi
pada saat praktikum berlangsung, benih yang kami terima ternyata
bukanlah benih kailan, melainkan benih pakcoy putih.

16

Perlakuan budidaya menggunakan kerangka vertikultur tentunya


memiliki beberapa keterbatasan dan kekurangan. Diantaranya adalah
keadaan kerangka yang harus kokoh untuk menopang pertumbuhan
tanaman selama masa budidaya sampai masa panen.Masalah yang kami
hadapi disini yaitu kurang kokohnya kerangka yang telah kami buat.
Diantaranya terdapat ikatan yang renggang dan goyang ketika tanaman
di letakkan di kerangka tersebut. Selain itu, desain rangka yang telah
kami ukur sebelumnya, ternyata setelah diletakkan di lapang membuat
kami kesulitan untuk menyiram tanaman, karena tanaman menjadi
terlalu tinggi untuk dijangkau. Masalah ini diakibatkan jarak antar
tanaman satu dengan tanaman lain di atasnya terlalu tinggi, tidak
efisien. Kemudian masalah selanjutnya yakni ketika baris tanaman
disiram, air siraman tersebut mengenai tanaman di bawahnya, sehingga
menggenangi tanaman tersebut.
Selain masalah kerangka, masalah lainnya terjadi pada saat masa
budidaya berlangsung yang datang dari faktor lingkungan, masalah
tersebut serangan hama. Tidak adanya perencanaan penanggulangan
komoditas apabila tanaman terserang hama, mengakibatkan tanaman
menjadi rusak dan tidak dapat dijual.
4.5.2 Permasalahan Pemasaran
Sistem pertanian yang kami terapkan adalah sistem pertanian
organik.Fakta di lapangan menunjukkan bahwa peminat tanaman
organik tidak sebanyak peminat tanaman hasil dari sistem pertanian
konvensional.Tentunya kami sebagai mahasiswa yang baru memulai
suatu usahatani, masalah ini menjadi masalah yang serius. Kami harus
menentukan kemanakah produk ini akan dipasarkan di mana kami
nantinya bisa mendapatkan pendapatan dari hasil penjualan tersebut.
Masalah selanjutnya adalah mengenai packaging produk yang
harus menarik sehingga membuat konsumen ingin membelinya. Produk
pertanian organik tidak sama dengan produk dari sistem pertanian
konvensional, oleh karena itu penanganan hasil panennya pun tidaklah
sama, baik dari segi kesehatan, kualitas maupun harga. Mengapa

17

kegiatan ini diperlukan, dikarenakan konsumen tidak ingin produk yang


dibelinya dengan harga yang lebih tinggi dari produk konvensional,
ternyata tidak memiliki keistimewaan ataupun kelebihan dibandingkan
dengan produk dari sistem pertanian konvensional.
4.6 Solusi
Dari berbagai permasalan diatas, tentunya masing-masing masalah
mepunyai solusi yang dapat dijadikan pembelajaran pada saat kita akan memulai
usahatani kembali.
a. Solusi Permasalahan Budidaya
Masalah pertama yaitu tentang pembagian benih yang salah, untuk
permasalahan ini dapat diselesaikan dengan cara tetap melanjutkan proses
budidaya pakcoy putih tersebut dan tidak perlu mengulang menanam
benih kailan dari awal, karena praktikum telah berjalan selama dua
minggu. Hal yang dikhawatirkan adalah nantinya ketika masa panen telah
tiba, semua kelompok telah panen, sedangkan tanaman kelompok kami
belum memasuki masa panen.
Untuk permasalahan kerangka, sebaiknya menggunakan alat-alat
yang memang didesain untuk mengolah bambu, seperti bahan yang kami
gunakan di praktikum usahatani tersebut. Peralatan tersebu tseperti parang,
gergaji, pahat, dan tang. Maksud dari anjuran ini agar ketika membuat
kerangka dapat dilakukan dengan lebih mudah dan lebih rapi hasil
kerjanya. Selain itu ketika masing-masing bagian kerangka tersebut
disatukan, tidak terdapat celah antar bagian, sehingga kerangka dapat
terikat kuat dan tidak renggang. Selainitu, sebelum memasang kerangka di
lapang, terlebih dahulu menguji dan memperhitungkan lebih teliti lagi
ukuran dari kerangka yang dibuat, agar ketika masa budidaya berlangsung,
tidak ada kesulitan dalam hal perawatan tanaman, seperti menyiram dan
memberi pupuk. Kemudian hal yang perlu diperhatikan adalah letak antar
tanaman yang diatas dengan yang di bawah tidak bolehsejajar, agar air
siraman tanaman yang di atas tidak mengenai tanaman yang di bawahnya.

18

Faktor lingkungan harus diperhatikan dengan serius, terbukti pada


saat usahataniini berlangsung tanaman pakcoy putih menjadi banyak yang
rusak karena tidak ada penanganan serangan hama. Perencanaan
penanggulangan serangan hama, harus diantisipasi sebelum benih mulai
ditanam, tentunya harus memenuhi kaidah-kaidah sistem pertanian organik
yang tidak memperbolehkan menggunakan pestisida jenis apapaun.
b. Solusi Permasalahan Pemasaran
Pencarian dan pemilihan pasar merupakan faktor penting penentu
laba-rugi yang kita dapatkan dari hasil usahatani ini. Maka, langkah yang
harus diakukan adalah mencari dan menentukan kemana hasil pertanian
kita nantinya akan dipasarkan. Kegiatani ni dilakukan berbarengan dengan
masa budidaya, agar ketika masa panen tiba, kita dapat langsung
memasarkan hasil pertanian kita tersebut. Kita harus ingat bahwa sifat dari
produk pertanian yang mudah rusak, sehingga kita perlu memasarkan
produk kita dengan cepat agar konsumen mau untuk membeli dan
mengonsumsi hasil pertanian kita.
Sedangkan untuk masalah packaging, sebaiknya mencari desaindan
logo yang akan kita gunakan untuk produk kita, dan memastikan kemasan
logo yang akan dibuat dapat menarik minat konsumen. Langkah
berikutnya yakni mencantumkan tulisan produk organik di kemasan dan
logo tersebut, dan selanjutnya mengemasnya denganrapi.

V. PENUTUP
5.1

Kesimpulan

19

Berdasarkan analisis kegiatan pratikum usahatani, didapatkan hasil bahwa


kegiatan produksi Pakcoy Putih dengan sistem vertikultur mengalami kerugian
sebesar Rp 260.554,00 sehingga usahatani Pakcoy Putih menggunakan sistem
vertikultur ini tidak layak untuk diusahakan. Hal ini terlihat dari nilai RC Ratio
sebesar 0,48. Sementara untuk analisis BEP diperoleh untuk BEP unit sebesar 7,
dan nilai BEP penerimaan sebesar Rp 50.195,00.
Permasalahan budidaya yang dihadapi antara lain adalah kesalahan dalam
penerimaan benih, kurang kokohnya kerangka yang digunakan, ketidakefisienan
desain kerangka pada saat penyiraman, dan faktor serangan hama. Sedangkan
permasalahan pemasaran yang dihadapi ialah berbedanya perlakuan yang harus
diberikan pada tanaman organik dengan pada tanaman hasil pertanian
konvensional.
5.2

Saran
Dari hasil praktikum usahatani perkotaan kreatif ini, diperoleh kenyataan

bahwa desain kerangka sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Oleh karena


itu, sebaiknya pengujian letak antartanaman dan perhitungan ukuran kerangka
yang akan digunakan dilakukan dengan lebih teliti. Selain itu, untuk budidaya
tanaman organik akan lebih baik apabila diberikan antisipasi terhadap serangan
hama. Dari sisi pemasaran, akan lebih menarik jika dilakukan pemberian desain
atau logo pada packaging produk.

20

DAFTAR PUSTAKA
Cannon, Joseph P et al. 2008. Pemasaran Dasar. (Penerjemah: Fitriati dan
Cahyani). Jakarta: Salemba Empat.
FAO. 2003. Trade Reform and Food Security Conceptualizing the Linkage.
Food and Agriculture Organization. Rome.
Hendra, Heru Agus et al. 2014. Bertanam Sayuran Hidroponik Ala Paktani
Hydrofarm. Jakarta: PT. AgroMedia Pustaka.
Irawan, B. 2005.Konversi Lahan Sawah: Potensi Dampak, Pola Pemanfaatannya,
dan Faktor Determinan. Forum Penelitian Agro Ekonomi.Pusat Penelitian
dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Bogor.
Kotler, Philip. 2009. Manajemen Pemasaran. Jakarta : Erlangga.
Nitisapto, M. 1993. Budidaya Sayuran Sistem Pertanian Vertikal. Jurusan Ilmu
Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakrta.
Rodjak, Abdul. 2006. Manajemen Usahatani. Bandung: Pustaka Gratuna.
Simamora, Bilson. 2003. Memenangkan Pasar dengan Pemasaran. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Smith, J., A Ratta and J. Nasr. 1996. Urban Agriculture: Food, Jobs, and
Sustainable Cities. Publication Series for Habitat II, vol.1, Newyork:
UNDP.
Soekartawi, 2002 .AnalisisUsahatani.Universitas Indonesia Press, Jakarta
Sutarminingsih, Ch. Lilies. 2003. Pola Bertanam Secara Vertikal, Vertikultur.
Yogyakarta: Kanisius.

21

LAMPIRAN

Pengolahan
lahan
untuk
Penanaman benih
pakcoy putih
pembibitan

Kegiatan
budidaya pakcoy
Pemasangan
paranet putih

Pengambilan tanaman dari kerangka

Kegiatan pemanenan

22

Pembongkaran kerangka

Pencucian pakcoy putih (pasca panen

Penimbangan berat pakcoy putih

Wrapping (pasca panen)

Pemasaran pakcoy putih

23

24