Anda di halaman 1dari 40

Hubungan Antara Kontrol Diri dengan Perilaku Seksual Remaja

PROPOSAL
Disusun Oleh:
Wahyu Nur Wibowo
1211600127

Fakultas Psikologi
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
2011

Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Masyarakat Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan berbagai persoalan
mengenai perilaku seksual dikalangan remaja mulai dari sekolah menengah pertama
(SMP), sekolah senengah atas (SMA), hingga perguruan tinggi. Masalah yang muncul
beraneka ragam mulai dari berpegangan tangan, berciuman, berpelukan, saling meraba
hingga melakukan hubungan seks sebelum menikah (pre-martial intercouse) fenomena
perilaku seksual tersebut sudah bukan merupakan hal yang asing, sering kita jumpai
ketika dipusat perbelanjaan para remaja berpegangan tangan, di media televisi dan film
bioskop pun sudah banyak menampilkan adegan berciuman dan berpegangan tangan,
bahkan di media internet tak jarang kita menjumpai situs-situs porno yang menampilkan
adegan layaknya suami istri dikalangan reaja saat ini, yang lambat laun akan
mengakibatkan pernikahan dini atau menikah di bawah usia karena remaja sudah
terlanjur basah dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Remaja yang terpaksa melakukan pernikahan dini akibat melakukan hubungan seks
pranikah dari tahun ke tahun terus meningkat. Hal itu didukung hasil beberapa penelitian
yang dilakukan di antaranya oleh BKKBN pada tahun 2003 menunjukkan jumlah remaja
Indonesia yang menikah sebelum berusia 15 tahun sebesar 7,5 persen dari seluruh jumlah
remaja Indonesia (Wilopo, 2004). Penelitian yang dilakukan terhadap 2.880 responden
usia 15-24 tahun di enam kota di Jawa Barat juga memperlihatkan sebesar 39,65 persen
responden pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah.
Dari data survey mengenai perilaku seksual yang muncul di kalangan remaja juga tak
kalah mengejutkan, perilaku seksual pada remaja yang muncul akhir-akhir ini cukup
memperihatinkan. Beberapa remaja berpendapat bahwa mereka permisif terhadap
perilaku seksual. Bahkan banyak dari mereka yang sudah kehilangan keperawanannya
saat masih duduk di bangku sekolah. Perilaku seksual remaja dapat dicontohkan dengan
berbagai kasus yang menimpa remaja. Sepasang remaja yang melakukan bunuh diri di rel
kereta api seperti yang dikutip dari Harian Kompas 24 April 1988. Remaja laki-laki yang
baru berusia 17 tahun dan perempuan berusia 13 tahun, nekad melakukan bunuh diri
secara bersama-sama dengan cara merebahkan diri di rel kereta api yang sedang melaju
cepat dari arah Jakarta menuju Bogor sambil berpelukan. Alasan tindakan bunuh diri yang

dilakukan sepasang remaja ini adalah untuk menutupi aib orangtuanya karena telah
melakukan hubungan intim layaknya suami isteri.
Hasil penelitian Yayasan Kusuma Buana pada tahun 1993 di 12 kota besar
menunjukan bahwa 10% remaja putri dan 31% remaja putra mengaku pernah melakukan
hubungan seks pranikah. (Muadz, 2011: 17). Hasil dari Suatu penelitian yang dilakukan
oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora
(LSCK PUSBIH) menunjukkan hampir 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang
keperawanannya saat kuliah, bahkan semua responden mengaku melakukan hubungan
seks tanpa ada paksaan atas dasar suka sama suka dan adanya kebutuhan. Selain itu, ada
sebagian responden mengaku melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu pasangan
dan tidak bersifat komersil. Penelitian itu dilakukan selama 3 tahun mulai Juli 1999
hingga Juli 2002, dengan 2 melibatkan sekitar 1.660 responden yang berasal dari 16
perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Yogya. Dari 1.660 responden itu, 97,05%
mengaku sudah hilang keperawanannya saat kuliah. Hanya ada tiga responden atau
0,18% saja yang mengakui sama sekali belum pernah melakukan kegiatan seks, termasuk
masturbasi. Berdasarkan hasil tersebut, total responden yang belum pernah melakukan
kegiatan seks berpasangan hanya 2,95 % atau 2,77% ditambah 0,18%. Sementara
sebanyak 97,05% telah melakukan kegiatan seks berpasangan. Sebanyak 73%
menggunakan metode coitus interuptus. Selebihnya menggunakan alat kontrasepsi yang
dijual bebas di pasaran. Selain itu, hanya ditemukan 46 mahasiswi atau 77% responden
saja yang belum pernah melakukan seks berpasangan di bawah level petting sex dan 98
orang mengaku pernah melakukan aborsi. (Seksualitas n.d)
Selanjutnya menurut Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) di
tahun 2002-2003, remaja mengatakan mempunyai teman yang pernah berhubungan
seksual pada: usia 14-19 tahun, perempuan 34,7%, laki-laki 30,9%. Sedangkan pada usia
20-24 tahun perempuan 48,6% dan laki-laki 46,5%. (Munir, 2010). Selain itu, dari data
yang dikumpulkan oleh Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Maria Ulfa
Anshori yang pernah melakukan penelitian bersama Pusat Kajian Kesehatan Perempuan
Universitas Indonesia (UI) soal aborsi pada 2003. Dari penelitian itu tercatat rata-rata
terjadi 2 juta kasus aborsi per tahun. Lalu pada tahun berikutnya, 2004 penelitian yang
sama menunjukkan kenaikan tingkat aborsi yakni 2,1-2,2 juta per tahun. (Yunis, 2013).
Selanjutnya data dari penelitian yang dilakukan oleh DKT Indonesia pada tahun 2005

menyebutkan bahwa 51% remaja di Jabodetabek, 54% remaja di Bandung, 47% remaja di
Surabaya, dan 52% remaja di Medan telah melakukan seks pranikah. (Muadz, 2011: 18)
Pada tahun yang sama Di tahun 2005 Yayasan DKT Indonesia melakukan penelitian
yang sama. DKT memfokuskan penelitiannya di empat kota besar antara lain:
Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Medan. Berdasarkan norma yang dianut, 89%
remaja tidak setuju adanya seks pra nikah. Namun, kenyataannya yang terjadi di
lapangan, pertama, 82% remaja punya teman yang melakukan seks pra nikah. Kedua,
66% remaja punya teman yang hamil sebelum menikah. Ketiga, remaja secara terbuka
menyatakan melakukan seks pra nikah. Persentase tersebut menunjukkan angka yang
fantastis. Jabodetabek 51%, Bandung 54% Surabaya 47% dan Medan 52%. (Munir, 2010)
Tahun 2006, PKBI menyebutkan, pertama, kisaran umur pertama kali yakni 13-18
tahun melakukan hubungan seks. Kedua, 60% tidak menggunakan alat atau obat
kontrasepsi. Ketiga, 85% dilakukan di rumah sendiri. Sementara merujuk pada data Terry
Hull dkk (1993) dan Utomo dkk (2001), PKBI menyebutkan, 2,5 juta perempuan pernah
melakukan aborsi per tahun dan 27% atau kurang lebih 700 ribu remaja dan sebagian
besar dengan tidak aman. Selain itu 30-35% aborsi penyumbang kematian ibu. (Munir,
2010)
Pada 2007 SKRRI melakukan penelitian kembali. Penelitian tersebut menunjukkan
peningkatatan yang drastis. Pertama, perilaku seks pranikah remaja cenderung terus
meningkat dan kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) juga terjadi pada remaja. Kedua,
jumlah kelompok remaja Indonesia yang menginginkan pelayanan Keluarga Berencana
(KB) diberikan kepada mereka. Ketiga, meningkat jauh dari SKRRI 2002. Keempat,
jumlah remaja 15-24 tahun sekira 42 juta jiwa, berarti sekira 37 juta jiwa remaja
membutuhkan alokon tidak terpenuhi (unmet need berKB kelompok remaja). Kelima,
kelompok ini akan tetap menjadi unmet need. Sebab dalam undang-undang No 10 tahun
1992, pelayanan KB hanya diperuntukkan bagi pasangan suami istri, sesuai dengan
pemilihannya. (Munir, 2010)
Hasil survey terakhir suatu lembaga survey yang dilakukan di 33 provinsi tahun 2008,
sebanyak 63 persen remaja mengaku sudah mengalami hubungan seks sebelum nikah.
Berdasar data penelitian pada 2005-2006 di kota-kota besar mulai Jabotabek, Medan,
Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar, masih berkisar 47,54 persen remaja mengaku

melakukan hubungan seks sebelum nikah. Namun, hasil survey terakhir tahun 2008
meningkat menjadi 63 persen. (Pedulisantri, 2015)
Penelitian Komnas Perlindungan Anak (KPAI) di 33 Provinsi pada bulan Januari-Juni
2008 menyimpulkan empat hal: Pertama, 97% remaja SMP dan SMA pernah menonton
film porno. Kedua, 93,7% remaja SMP dan SMA pernah ciuman, genital stimulation
(meraba alat kelamin) dan oral seks. Ketiga, 62,7% remaja SMP tidak perawan. Dan yang
terakhir, 21,2% remaja mengaku pernah aborsi. (Munir, 2010)
Fakta lain berbicara bahwa berdasarkan penelitian dari Australian National University
(ANU) dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) tahun 2010/2011 di
Jakarta, Tangerang dan Bekasi (Jatabek), dengan jumlah sampel 3006 responden (usia 1724 tahun), menunjukkan 20.9 persen remaja mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum
menikah. Kemudian 38,7 persen remaja mengalami kehamilan sebelum menikah dan
kelahiran setelah menikah. Sementarta riset Pusat Penelitian Kesehatan Universitas
Indonesia (UI) menyebutkan, 650 ribu ABG Jakarta tidak perawan. Riset itu dilakukan
tahun 2010/2011. Jika ditambah Tangerang dan Bekasi, ada 20,9 persen remaja hamil
sebelum menikah. (Poskotanews, 2012)
Dari data yang diambil dari majalah Detik edisi 25 Juni-1 Juli 2012 dalam rubric
Fokusnya ternyata sebanyak 21 persen remaja atau satu di antara lima remaja di Indonesia
pernah melakukan aborsi. Data menyedihkan itu merupakan hasil pengumpulan data yang
dilakukan Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA). Data diperoleh dengan cara
mengumpulkan 14.726 sampel anak SMP dan SMA di 12 kota besar di Indonesia, antara
lain Jakarta, Bandung, Makassar, Medan, Lampung, Palembang, Kepulauan Riau dan
kota-kota di Sumatera Barat dalam Forum Diskusi Anak Remaja pada 2011. Hasilnya
mengagetkan, mereka mengaku hampir 93,7 persen pernah melakukan hubungan seks.
Lalu 83 persen mengaku pernah menonton video porno, dan 21,2 persennya itu mengaku
pernah melakukan aborsi. (Yunis, 2013). Meskipun angka ini tidak bisa menggambarkan
perilaku seksual remaja di Indonesia, namun hasil survei tersebut layak untuk dijadikan
cermin bahwa perilaku seksual remaja sudah sampai taraf yang memprihatinkan.
Selain data yang telah dipaparkan diatas terdapat pula salah satu fenomena yang
akhir-akhir ini muncul dan mencuat kepermukaan, seorang gadis belia berumur 17 tahun
yang menikah saat ia duduk dibangku kelas 2 SMA, gadis tersebut berasal dari SMU X
di salah satu SMU Swasta yang berada di kota tangerang, dirinya menceritakan bahwa

dirinya melahirkan saat berada di toilet di SMU tempat dirinya menuntut ilmu, dirinya
melahirkan saat hendak buang air. Dirinya juga menceritakan bahwa kejadian tersebut
muncul karena kurangnya kontrol dari orang tua yang membebaskan dirinya dan juga
kurangnya kontrol diri saat berpacaran dengan kekasihnya tersebut, dan demi
menghindari malu dirinya terpaksa berhenti sekolah dan memutuskan untuk menikah
dini.
Kasus yang telah dipaparkan tersebut merupakan penggambaran seperti fenomena
gunung es atau biasa disebut juga dengan teori gunung es (Iceberg Theory) yang
merupakan penggamaran bahwa dari sesuatu yang nampak mungkin juga terdapat sesuatu
yang mungkin lebih besar dari sesuatu yang nampak tersebut, yaitu adalah sesuatu yang
tidak nampak. Secara singkat pada sebuah gunung es biasanya yang tampak hanya bagian
atasnya, sementara kebawahnya yang tidak tampak justru semakin besar.
Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja adalah kontrol diri
(Sarwono,20111). Kontrol diri (self control) dapat diartikan sebagai kemampuan
mengatur proses fisik, psikologis, dan perilaku dalam menghadapi stimulus sehingga
dapat menghindari konsekuensi yang tidak diinginkan (Calhoun dan Acocella, 1990).
Safarino (1997) mengemukakan bahwa kontrol diri diperlukan untuk mengatur perilaku
yang diinginkan dan yang tidak diinginkan pada saat seseorang berhadapan dengan
stimulus-stimulus. Kontrol diri merupakan salah satu faktor dari dalam diri manusia yang
sangat penting sehingga dapat terhindar dari perilaku seksual pranikah di kalangan
remaja. Kontrol diri yang tinggi sangat dibutuhkan sehingga seorang individu tidak
gampang terpengaruh oleh stimulus yang bersifat negatif (Walgito, 2002).
Keterkaitan kontrol diri dengan perilaku seksual remaja dapat dilihat dari tingginya
seks pranikah pada remaja. Seorang remaja yang tidak mampu mengendalikan diri,
mengakibatkan dirinya terjerumus ke dalam kehidupan seksual bebas, misalnya seks
pranikah, kumpul kebo, dan prostitusi yang berakibat negatif pada diri sendiri seperti
terjangkit STDs (seksually transmitted diseases), kehamilan (pregnancy) dan drop out
dari sekolah. Seseorang yang mempunyai pengetahuan yang memadai mengenai seks,
namun apabila tidak disertai dengan kontrol diri yang kuat akan jatuh pada perilaku
seksual yang tidak sehat (Dariyo, 2004).
Dari paparan di atas, memperlihatkan bahwa kontrol diri memiliki keterkaitan dengan
perilaku seksual pada remaja. Keterkaitan antara kontrol diri dengan perilaku seksual

pada remaja memperlihatkan bahwa kemampuan mengendalikan diri remaja berperan


penting dalam menekan perilaku seksual. Kontrol diri yang tinggi dapat menekan
kecenderungan perilaku seksual remaja. Dengan adanya kontrol diri yang kuat, remaja
dapat menekan stumulus-stimulus negatif baik dari dalam diri maupun dari luar diri yang
dapat mempengaruhi perilaku seksual remaja. Dengan kata lain, perilaku seksual pada
remaja dapat ditekan apabila terdapat kontrol diri yang kuat. Sebaliknya, kontrol diri yang
lemah akan mengakibatkan tingginya perilaku seksual.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat dihasilkan rumusan
masalah penelitian ini yaitu adakah hubungan antara kontrol diri dengan perilaku
seksual remaja.
C. Tujuan Penelitian
a. Tujuan umum
Untuk mengetahui apakah kontrol diri mempengaruhi perilaku seksual pada
remaja?
b. Khusus
1. Mengidentifikasi kontrol diri pada remaja
2. Mengidentifikasi perilaku seksual remaja
3. Menganalisis hubungan antara kontrol diri dengan perilaku seksual remaja
pada siswa SMA.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Memperkaya wawasan peneliti dibidang psikologi, khususnya psikologi
perkembangan anak dan remaja dan Psikologi seksual
2. Manfaat Praktis
Memberikan masukan atau gambaran kepada para orangtua dan para guru pada
khususnya, serta masyarakat luas pada umumnya. Penelitian ini diharapkan juga
bisa menjadi suatu wacana tentang pentingnya kontrol diri pada remaja.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat

memberikan manfaat praktis sebagai

berikut:
a. Bagi remaja
Diharapkan bisa menjadi masukan dan pengetahuan berdasarkan informasi
yang diperoleh. agar para remaja lebih berhati-hati dalam menjaga perilaku
seksual dalam kehidupannya.
b. Bagi orang tua

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi orang tua dalam
menerapkan bimbingan yang sesuai dengan perkembangan anak, dan agar
orang tua lebih melakukan pengawasan yang ketat, arahan serta bimbingan
pada remaja sehingga dapat meminimalisasi kegiatan remaja yang mengarah
pada tindakan negatif.
c. Bagi peneliti lain
Agar penelitian ini dapat digunakan sehingga bahan informasi dan referensi
dalam melakukan penelitian sejenis.

Tinjauan Pustaka
A. Konsep Dasar Remaja
1. Pengertian Remaja
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin (adolescere) (kata
bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti tumbuh atau tumbuh
menjadi dewasa. Bangsa primitif memandang masa puber dan masa remaja tidak
berbeda dengan periode-periode lain dalam rentang kehidupan; anak dianggap sudah
dewasa apabila sudah mampu mengadakan reproduksi (Hurlock, 1980: 206). Gunarsa
(2001) menyebutkan bahwa masa remaja sebagai masa peralihan dari masa anak ke
masa dewasa, meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan
memasuki masa dewasa. (Darmasih, 2009: 8)

Secara umum dapat dikatakan bahwa masa remaja adalah masa transisi atau
peralihan dari masa anak ke dewasa, pada masa ini individu banyak mengalami
perubahan, baik perubahan secara fisik maupun psikis (Hurlock, 1980: 206).
Remaja merupakan masa dimana terjadinya kematangan seksual, dimana
kisaran rentang usianya adalah dari 12 tahun sampai dengan umur 20 tahun, dimana
usia tersebut menjelang masa dewasa muda. Masa remaja secara umum dianggap
dimulai dengan pubertas, proses yang mengarah kepada kematangan seksual atau
fertilitas (kemampuan untuk bereproduksi) (Papalia, et. Al, 2008: 534)
Dari yang sudah simpaikan di atas, dapat disimpulkan bahwa masa remaja
merupakan masa transisi atau perlaihan dari masa anak ke dewasa. Periode masa
remaja terjadi berkisar umur 12-20 tahun.
2. Ciri-Ciri Masa Remaja
Masa remaja mempunyai cirri-ciri tertentu yang membedakan dengan periode
kanak-kanak dan periode dewasa. Hurlock (1980: 207) menyatakan ciri-ciri tertentu
seorang remaja, yaitu sebagai berikut:
a. Masa semaja sebagai periode yang penting
Pada periode remaja, baik akibat langsung maupun akibat jangka panjang
tetap penting. Ada periode yang penting karena akbiat fisik dan ada lagi karena
akibat psikologis. Pada periode remaja keduanya sama-sama penting.
Dalam membahas akibat fisik pada masa remaja, Tanner (1971) mengatakan
sebagai berikut:
Bagi sebagian besar anak muda, usia antara dua belas dan enam belas tahun
merupakan tahun kehidupan yang penuh kejadian sepanjang menyangkut
pertumbuhan dan perkembangan. Tak dapat disangkal, selama kehidupan janin
dan tahun pertama atau kedua setelah kelahiran, perkembangan berlangsung
semakin cepat, dan lingkungan yang baik semakin lebih menentukan, tetapi yang
bersangkutan sendiri bukanlah remaja yang memperhatikan perkembangan atau
kurangnya perkembangan dengan kagum, senang atau takut. (Hurlock, 1980:
207)
Perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya
perkembangan mental yang cepat, terutama pada awal masa remaja. Semua

perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya


membentuk sikap, nilai dan minat baru.
b. Masa remaja sebagai periode peralihan
Yaitu sebuah peralihan dari satu tahap perkembangan ke tahap berikutnya. Apa
yang telah terjadi sebelumnya akan meninggalkan bekasnya pada apa yang akan
terjadi sekarang dan yang akan datang. Bila anak-anak berlaih dari masa kanakkanak ke masa dewasa, anak-anak harus meninggalkan segala sesuatu yang
bersifat kekanak-kanakan dan juga harus mempelajari pola perilaku dan sikap
baru untuk menggantikan perilaku dan sikap yang sudah ditinggalkan.
Remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa. Kalau remaja
berperilaku seperti anak-anak, ia akan diajari untuk bertindak sesuai umurnya.
Kalau remaja berusaha berperilaku seperti orang dewasa, ia seringkali dituduh
terlalu besar untu celananya dan dimarahi karena mencoba bertindak seperti
orang dewasa.
Namun masa remaja adalah masa yang sangat menguntungkan dan sangat
strategis, dimana masa ini memberikan waktu kepada remaja untuk mencoba gaya
hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling
sesuai bagi dirinya.
c. Masa remaja sebagai periode perubahan
Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar
dengan tingkat perubahan fisik. Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik
terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Kalau
perubahan fisik menurun maka perubahan sikap dan perilaku menurun juga.
Ada empat perubahan yang sama yang hampir bersifat universal.
1. Meningginya emosi, yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan
fisik dan psikologis yang terjadi. Karena perubahan emosi biasanya terjadi
lebih cepat selama masa awal remaja, maka meningginya emosi lebih
menonjol pada masa awal periode akhir masa remaja.
2. Perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial
untuk dipesankan, menimbulkan masalah baru. Bagi remaja muda, masalah
baru yang timbul tampaknya lebih banyak dan lebih sulit diselesaikan

dibandingkan masalah yang dihadapi sebelumnya. Remaja akan tetap merasa


ditimbuni masalah, sampai ia sendiri menyelesaikannya menurut kepuasannya.
3. Dengan berubahnya minat dan pola perilaku, maka nilai-nilai juga berubah.
Apa yang pada masa kanak-kanak dianggap penting, sekarang setelah hampir
dewasa tidak penting lagi.
4. Sebagian besar remaja bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Mereka
menginginkan dan menuntut kebebasan, tetapi mereka sering takut
bertanggung jawab akan akibatnya dan meragukan kemampuan mereka untuk
dapat mengatasi tanggung jawab tersebut.
Secara garis besar, ada empat perubahan besar yang terjadi pada remaja, yaitu
perubahan emosi, peran, minat, pola perilaku (perubahan sikap menjadi
ambivalen).
d. Masa remaja sebagai periode bermasalah
Masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak
laki-laki maupun anak perempuan. Terdapat dua alasan bagi kesulitan itu, yaitu:
1. Sepanjang masa kanak-kanak
Masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru,
sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi
masalah.
2. Karena para remaja mersa diri mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi
masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru-guru.
Karena ketidakmampuan remaja untuk mengatasi sendiri masalahnya
menurut cara yang mereka yakini, banyak remaja akhirnya menemukan
bahwa penyelesaiannya tidak selalu sesuai harapan mereka.
Anna Freud (1969) menjelaskan sebagai berikut:
Banyak kegagalan yang seringkali disertai akibat yang tragis, bukan karena
ketidakmampuan individu tetapi karena kenyataan bahwa tuntutan yang diajukan
kepadanya justru pada saat semua tenaganya telah dihabiskan untuk mencoba
mengatasi masalah pokok yang disebabkan oleh pertumbuhan dan perkembangan
seksual yang normal. (Hurlock,1980: 208)
e. Masa remaja sebagai masa mencari identitas

Penyusaian diri dengan standar kelompok adalah jauh lebih penting bagi anak,
lebih besar daripada individualitas. Seperti telah ditunjukan, dalam hal pakaian,
berbicara dan perilaku anak yang lebih besar ingin lebih cepat seperti temantemannya.
Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih
tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan. Lambat laun mereka mulai
mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan
teman-temanya dalam segala hal. Identitas yang dicari remaja berupa usaha untuk
menjelaskan siapa dirinya dan apa peranannya dalam masyarakat.
Dalam masa pencarian identitas yang sedang dialami remaja, Erikson (1964)
menjelaskan:
Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa
dirinya, apa peranannya dalam masyarakat. Apakah ia seorang anak atau seorang
dewasa? Apakah nantinya ia dapat menjadi seorang suami atau ayah? Apakah ia
mampu percaya diri sekalipun latar belakang ras atau agama atau nasionalnya
membuat beberapa orang merendahkannya? Secara keseluruhan, apakah ia akan
berhasil atau akan gagal? (Hurlock, 1980: 208)
Erikson (1964) selanjutnya menjelaskan bagaimana pencarian identitas ini
mempengaruhi perilaku remaja:
Dalam usaha mencari perasaan kesinambungan dan kesamaan yang baru,
para remaja harus memperjuangkan kembali perjuangan tahun-tahun lalu,
meskipun untuk melakukannya mereka harus menunjuk secara artifisial orangorang yang baik hati untuk berperan sebagai musuh; dan mereka selalu siap untuk
menempatkan idola dan ideal mereka sebagai pembimbing dalam mencapai akhir.
Identifikasi yang sekarang terjadi dalam bentuk identitas ego adalah lebih dari
sekedar penjumlahan identifikasi masa kanak-kanak. (Hurlock, 1980: 208).
Salah satu cara untuk mencoba mengangkat diri sendiri sebagai individu
adalah dengan menggunakan simbol status dalam bentuk mobil, pakaian dan
pemilikian barang-barang lain yang mudah terihat. Dengan cara ini, remaja
menarik perhatian pada diri sendiri dan agar dipandang sebagai individu,

sementara pada saat yang sama ia mempertahankan identitas dirinya terhadap


kelompok sebaya.
f. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan
Anggapan streotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang rapih, yang
tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak dan berperilaku merusak,
menyebabkan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan
remaja takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku
remaja yang normal.
Seperti ditunjukkan oleh Majeres (1976):
Banyak anggapan populer tentang remaja yang mempunyai arti yang bernilai,
dan sayangnya, banyak diantaranya bersifat negative. (Hurlock, 1980: 208)
Stereotip populer juga mempengaruhi kondep diri dan sikap remaja terhadap
dirinya sendiri. Dalam membahas masalah stereotip budaya remaja, Anthony
(1969) menjelaskan:
Setereotip juga berfungsi sebagai cermin yang ditegakkan masyarakat bagi
remaja, yang menggambarkan citra diri remaja sendiri yang lambat laun dianggap
sebagai gambaran yang asli dan remaja membentuk perilakunya sesuai dengan
gambaran ini. (Hurlock, 1980: 208).
Adanya keyakinan orang dewasa mempunyai pandangan yang buruk tentang
remaja, membuat perlaihan ke masa dewasa menjadi sulit. Hal ini menimbulkan
banyak pertentangan dengan orang tua dan atara orang tua dan anak terjadi jarak
yang menghalangi anak untuk meminta bantuan orang tua untuk mengatasi
berbagai masalahnya.
g. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistis
Russian (1975) mengungkapkan sebagai berikut:
Remaja cenderung melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang
ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita. Cita-cita
yang tidak realistik ini, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi keluarga dan
teman-temanya, menyebabkan meningginya emosi yang merupakan ciri dari awal

masa remaja. Semakin tidak realistik cita-citanya semakin ia menjadi marah.


Remaja akan sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau
kalau ia tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri (Hurlock,
1980: 208-209).
Dengan bertambahnya pengalaman pribadi dan pengalaman sosial, dan dengan
meningkatnya kemampuan untuk berpikir rasional, remaja akan memandang diri
sendiri, keluarga, teman-teman dan kehidupan pada umumnya secara lebih
realistik. Dengan demikian remaja tidak akan terlalu banyak kekecewaan.
Jurich (1975) menjelaskan bahwa menjelang berakhirnya masa remaja, pada
umumnya baik anak laki-laki maupun perempuan sering terganggu oleh idealisme
yang berlebihan bahwa mereka segera harus melepaskan kehidupan mereka yang
bebas bila telah mencapai status orang dewasa. Bila telah mencapai usia dewasa ia
merasa bahwa periode remaja lebih bahagia daripada periode masa dewasa,
bersama dengan tuntutan dan tanggung jawabnya, terdapat kecendrungan untuk
mengagungkan masa remaja dan kecendrungan untuk merasa bahwa masa bebas
yang penuh bahagia telah hilang selamanya (Hurlock, 1980: 209).

h. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa


Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja
menjadi gelisah untuk meninggalkan streotip belasan tahun dan untuk
memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Berpakaian dan
bertindak seperti orang dewasa ternyata belum cukup. Oleh karena itu, remaja
mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status
dewasa. Yaitu merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan dan
terlibat dalam perbuatan seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan
memberikan citra mereka inginkan.
3. Tahap Perkembangan Remaja
Masa remaja digolongkan menjadi 3 tahap yaitu:
a. Masa pra remaja: 12-14 tahun
Yaitu periode sekitar kurang lebih 2 tahun sebelum terjadinya pemasakan
seksual yang sesungguhnya, tetapi sudah terjadi perkembangan fisiologis yang
berhubungan dengan pemasakan beberapa kelenjar endokrin.

b. Masa remaja awal: 14-17 tahun


Yaitu periode dalam rentang perkembangan deimana terjadi kematangan alatalat seksual dan tercapai kemampuan reproduksi.
c. Masa remaja akhir 17-21
Yaitu masa dimana remaja tumbuh menjadi dewasa yang mencakup
kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. (Hurlock dalam Yasin, n.d).
4. Tugas Perkembangan Remaja
Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan perubahan besar
dalam sikap dan pola perilaku anak. Akibatnya, hanya sedirkit anak laki-laki dan anak
perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugas-tugas tersebut selama awal
masa remaja, apalagi mereka yang matangnya terlambat. Kebanyakan harapan
ditumpukan pada hal ini adalah bahwa remaja muda akan meletakkan dasar-dasar bagi
pembentukan sikap dan pola perilaku.
Setiap fase perkembangan mempunyai serangkaian tugas perkembangan yang
harus diselesaikan dengan baik. Karena keberhasilan dalam menyelesaikan tugastugas perkembangan pada fase tertentu akan mempelancar pelaksanaan tugas-tugas
perkembangan pada fase berikutnya. Namun sebaliknya, apabila terdapat kegagalan
menyelesaikan tugas-tugas perkembangan berakibat tidak baik untuk kehidupan pada
fase berikutnya.
Havighurst (dalam Taryadi, 2007:15) menjelaskan bahwa tugas perkembangan yaitu:
Tugas yang muncul pada saat atau sekitar satu periode tertentu dari kehidupan
individu dan jika berhasil akan menimbulkan fase bahagia dan membawa
keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi, kalau gagal
akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas
berikutnya.
Havighurst (dalam Taryadi, 2007:15) mengemukakan sejumlah tugas perkembangan
yang harus bisa terselesaikan dengan baik oleh remaja, agar akan mempelancar
pelaksanaan tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya, yaitu:
a. Tugas-tugas yang berkaitan dengan perubahan fisik
Menerima kondisi fisiknya dan memanfaatkan tubuhnya secara efektif,
mampu mengagungkan konsep mereka tentang penampilan diri pada waktu
dewasa nantinya sehingga lebih sesuai dengan apa yang diharapkan.

b. Tugas-tugas yang berkaitan dengan hubungan dengan lawan jenis


Menerima hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya dari jenis
kelamin yang manapun, baik laki-laki maupun perempuan.
c. Tugas-tugas yang berkaitan`dengan peran seks
Menerima peran jenis kelamin masing-masing (laki-laki atau pun perempuan),
yaitu belajar bergaul dengan lawan jenis dan memerankan peran seks yang
diakui.
d. Tugas-tugas yang berkaitan dengan keadaan emosi
Berusaha melepaskan diri dari ketergantungan emosi terhadap orang tua dan
orang dewasa lainnya. Serta belajar dan mampu melepaskan diri dari orang
tua.
e. Tugas-tugas yang berkaitan dengan pekerjaan
Belajar mempersiapkan karier ekonomi dan mulai menyadari betapa besar dan
tingginya biaya hidup dan betapa kecilnya penghasilan seseorang yang baru
selesai sekolah
f. Tugas-tugas yang berkaitan dengan minat seks dan kehidupan keluarga
Mulai melakukan hubungan dengan lawan jenis (heteroseksual) dan
menyiapkan hubungan serta mempersiapkan perkawinan dan kehidupan
berkeluarga
g. Tugas-tugas yang berkaitan dengan hubungan social
Merencanakan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab baik dengan
keluarga, teman, guru, sekolah, dan masyarakat lainnya
h. Tugas-tugas yang berkaitan dengan perubahan moral
Remaja belajar mencapai system nilai dan etika tertentu sebagai pedoman
tingakah lakunya yang sesuai dengan aturan masyarakat
5. Perubahan Psikologis Pada Remaja
Wirdhana, dkk (2014: 26) menyebutkan bahwa ada perubahan psikologis yang
dialami seseorang pada fase remaja, yaitu:
a. Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak.
b. Remaja mengalami perubahan yang drastic dalam kesadaran diri mereka.
c. Remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan.
d. Para remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga
seringkali mereka terlihat tidak memikirkan akibat dari perbuatan mereka.
e. Pada usia 16 tahun keatas, keunikan remaja akan berkurang karena telah
sering dihadapkan pada dunia nyata.
6. Tumbuh Kembang Remaja dan Perkembangan Fisik
Masa pertumbuhan dan perkembangan remaja diawali dengan masa Pubertas.
Masa puber adalah masa dimana tubuh mengalami perubahan besar-besaran, dari

struktur tubuh anak-anak menjadi struktur tubuh orang dewasa. Biasanya masa puber
pada laki-laki antara umur 11-12 tahun, lebih lambat dari perempuan yang sudah
mulai saat umur 8-10 tahun. Tapi ini tidak mutlak, karena kondisi tubuh masingmasing orang berbeda. Jadi ada laki-laki atau perempuan yang mengalami masa puber
lebih cepat atau justru lebih lambat.

1.

Perubahan yang Terjadi Pada Masa Pubertas


Perubahan dari anak memasuki remaja, diatur oleh hormone seks. Perubahan
terjadi disebabkan oleh pusat pengendali utama dari bagian otak yang disebut
hypothalamus. Hormon esterogen dominan pada remaja perempuan dan
testosterone pada remaja laki-laki.
a. Hormon Esterogen dan Progesteron pada perempuan
1. Pengaruh dan manfaat hormone esterogen
Hormon ini membuat seorang anak perempuan memiliki sifat
kewanitaan setelah remaja. Hormon esterogen mempunyai beberapa
khasiat, yaitu:
a) Merangsang pertumbuhan saluran susu di payudara sehingga
payudara membesar
b) Merangsang pertumbuhan saluran telur, rongga rahim dan
vagina
c) Membuat dinding rahim kian tebal
d) Membuat cairan vagina bertambah banyak
e) Mengakibatkan tertimbunnya lemak di daerah panggul
perempuan
2. Pengaruh dan manfaat hormon progesterone:
a) Melemaskan otot-otot halus
b) Meningkatkan produksi lemak di kulit
c) Meningkatkan suhu badan
d) Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang dan besar
e) Mempertebal dinding rahim
f) Merangsang kelenjar-kelenjar agar mengeluarkan cairan nutrisi
bagi sel telur yang dibuahi.
b. Hormon Testosteron pada laki-laki
Hormon testosteron dihasilkan oleh testis. Hormon testosteron bersama
hormon androgen menimbulkan cirri-ciri pertumbuhan seks sekunder.

2.

Perubahan Fisik
Pada masa remaja, pertumbuhan fisik berlangsung sangat pesat. Dalam

perkembangan seksualitas remaja, ditandai dengan dua ciri yaitu ciri - ciri seks
primer dan ciri- ciri seks sekunder.
a. Cirri-ciri seks primer
Menurut Wirdhana (2014: 25) menyebutkan bahwa perubahan fisik yang
terjadi pada remaja adalah sebagai berikut:
1) Remaja Perempuan
Memasuki usia remaja, beberapa jenis hormone/zat dalam tubuh,
terutama hormone esterogen dan progesterone, mulai berperan aktif
sehingga pada perempuan mulai tumbuh payudara, pinggul mulai
melebar dan membesar dan akan mengalami menstruasi atau haid.
Perubahan lainnya seperti:
a. Tumbuh
b.
c.
d.
e.
f.
g.

rambut-rambut

halus

disekitar

ketiak

dan

vagina/kemaluan
Muncul jerawat pada wajah
Kulit dan rambut mulai berminyak
Keringat bertambah banyak
Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang
Tangan dan kaki bertambah besar
Tulang wajah mulai memanjang dan membesar, sehingga

tidak terlihat seperti anak kecil lagi


h. Pinggul membesar
i. Indung telur membesar
j. Vagina mulai mengeluarkan cairan
2) Remaja Laki-laki
Hormon testosterone akan membantu tumbuhnya bulu-bulu halus
disekitar ketiak, kemaluan laki-laki, janggut dan kumis, terjadi
perubahan suara pada remaja laki-laki, tumbuhnya jerawat dan mulai
diproduksinya sperma yang pada waktu-waktu tertentu keluar sebagai
mimpi basah. Perubahan lain antara lain:
a.
b.
c.
d.

Tubuh bertambah berat dan tinggi


Keringat bertambah banyak
Kulit dan rambut mulai berminyak
Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang

e. Tangan dan kaki bertambah besar


f. Tulang wajah mulai memanjang dan membesar, sehingga
g.
h.
i.
j.

tidak terlihat seperti anak kecil lagi


Pundak dan dada bertambah besar dan bidang
Tumbuh jakun
Suara berubah menjadi berat
Penis dan buah zakar membesar

B. Perilaku Seksual
a. Pengertian perilaku seksual remaja
Perilaku seksual secara umum adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin
atau hal-hal yang berhubungan dengan perihal hubungan intim antara laki-laki dan
perempuan. Sarlito (dalam Anfaldi, 2013) mengatakan perilaku seksual adalah segala
tingkah laku yang didorong hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama
jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini beraneka ragam mulai dari perasaan tertarik
hingga kencan, bercumbu, dan bersenggama. Objek seksualnya bisa berupa orang
lain seperti berpegangan tangan, berciuman, petting, dan senggama. Bisa juga
dilakukan oleh diri sendiri seperti onani atau masturbasi.
Berbeda pendapat mengenai pengertian perilaku seksual menurut Erwin J.
Pengertian perilaku seksual menurut Erwin J. (dalam Anfaldi, 2013) adalah bentuk
perilaku yang muncul berdasarkan dengan dorongan seksual. Dorongan seksual
menurut Wimpie Pangkahila (dalam Anfaldi, 2013) adalah suatu bentuk keinginan
seseorang yang mengarah pada hubungan seksual.
Dorongan seksual mulai muncul pada masa remaja Karena pengaruh hormon seks,
khususnya hormon testosterone. Perilaku seksual seperti berpegangan tangan,
berpelukan, berciuman biasanya banyak dilakukan pada saat seseorang sedang kencan
untuk membuktikan rasa cinta terhadap pasangannya bahkan lebih parahnya lagi yaitu
dengan melakukan hubungan seks pranikah.
Wirdhana, dkk (2014: 21) menjelaskan bahwa perilaku seksual yaitu segala
bentuk perilaku yang muncul akibat dorongan seksual. McDougall (dalam Djalali,
2010) mendefinisikan perilaku seksual pada remaja yaitu merefleksikan komposisi
dari insting keingintahuan, dorongan untuk kawin dan keinginan untuk bercumbu.
b. Bentuk-bentuk perilaku seksual remaja

Menurut Masland (2004), bentuk tingkah laku seks bermacam-macam mulai dari
persaan tertarik, pacaran, kissing, kemudian sampai intercourse. Tahap perilaku seks ini
meliputi :
a. Kissing
Ciuman yang dilakukan untuk menimbulkan rangsangan seksual, seperti
dibibir disertai dengan rabaan pada bagian-bagian sensitive yang dapat
menimbulkan

rangsangan

seksual.

Berciuman

dengan

bibir

tertutup

merupakan ciuman yang umum dilakukan. Berciuman dengan mulut dan bibir
terbuka.
b. Necking
Berciuman di sekitar leher bawah. Necking merupakan istilah yang digunakan
untuk menggambarkan ciuman disekitar leher dan pelukan yang lebih
mendalam.
c. Petting
Perilaku menggesek-gesekkan bagian tubuh yang sensitive, seperti payudara
dan organ kelamin. Merupakan langkah yang lebih mendalam dari necking. Ini
termasuk merasakan dan mengusap-usap tubuh pasangan, dada, buah dada,
kaki, dan kadang-kadang daerah kemaluan, baik di dalam atau di luar pakaian.
d. Intercrouse
Bersatunya dua orang secara seksual yang dilakukan oleh pasangan pria dan
wanita dengan alat kelamin pria masuk ke dalam alat kelamin wanita untuk
mendapatkan kepuasan seksual.

Gunarsa (dalam Saud n.d) mengidentifikasi bentuk-bentuk perilaku seksual, meliputi:


1. Berjalan berduaan dengan pacar sambil bergandengan tangan
2. Memegang bahu atau pundak ketika berjalan dengan pacar
3. Memeluk pinggang pacar pada saat berboncengan di sepeda motor
4. Ciuman di kening
5. Berpelukan erat
6. Ciuman di bibir
7. Ciuman di leher
8. Saling meraba bagian tubuh dalam keadaan berpakaian
9. Ciuman pipi
10. Saling meraba bagian tubuh dalam keadaan tidak berpakaian
11. Menempelkan alat kelamin dalam keadaan tidak berpakaian
12. Bersenggama
Menurut Hurlock, 1973 (dalam Simbolon, 2013:49) bentuk-bentuk perilaku seksual
adalah:

a. Necking
Adalah keintiman fisik yang dicirikan oleh causal kissing yang dibatasi
pada daerah sekitar leher keatas. Dalam bentuk spesifiknya, necking
meliputi mencium kening, pipi, dan bibir.
b. Petting
Merupakan sebagai kontak fisik yang tidak melibatkan perpaduan alat
kelamin, tetapi digunakan untuk mempengaruhi timbulnya erotic (nafsu
birahi) dan memberikan pelepasan seksual. Bentuk-bentuk petting meliputi
meraba buah dada atau dada, meraba paha, memegang alat kelamin, dan
menempelkan kedua alat kelamin tanpa memasukan alat kelamin laki-laki
kedalam alat kelamin perempuan.
c. Premarital intercourse
Adalah kontak fisik berupa masuknya alat kelamin laki-laki ke dalam alat
kelamin wanita, yang dalam bentuk spesifiknya dapat menggunakan alat
kontrasepsi ataupun tanpa alat kontrasepsi.
Dalam hal ini tahapan-tahapan perilaku seksual yang akan dihunakan oleh peneliti
sebagai alat ukur diambil dari pendapat yang dikemukakan oleh Hurlock.
Pertimbangan penulis menggunakan teori ini karena dirasa sudah mewakili seluruh
bentuk perilaku seksual. Bentuk perilaku seksual yaitu necking, petting, premartial
intercourse.
c. Factor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja
Menurut Luthfie (dalam Saud, n.d) beberapa faktor yang menimbulkan dorongan
untuk melakukan perilaku seksual pada remaja, yaitu:
1. Budaya tertutup, dimana orang tua menganggap tabu kalau membicarakan soal
seks pada anaknya sehingga mereka mencari sumber lain yang belum tentu
benar.
2. Tabloid dan majalah porno yang menyebabkan mereka berkhayal bagaimana
melakukan hubungan intim dengan lawan jenis.
3. Blue film merupakan faktor pemicu yang amat cepat merangsang orang buat
melakukan hubungan seksual. Gambar dan suara yang muncul dari film
tersebut membuat remaja yang melihatnya menjadi terkesima, sehingga
terangsang untuk melakukan hal yang serupa.
4. Situs seks, pengaruh yang ditimbulkannya hampir sama dengan blue film (film
porno). Gambar-gambar bernuansa seksual yang ditampilkan melalui cybersex
di internet dapat mengundang timbulnya rangsangan atau dorongan untuk
melakukan seks permisif.

5. Telepon/SMS seks, termasuk faktor yang bisa memicu terjadinya perilaku seks
bebas, karena meskipun tidak melihat gambarnya tetapi dari desahan suara
yang dimunculkan lewat kabel telepon itu membuat remaja berimajinasi.
6. Mengunjungi ke night club, di tempat ini banyak wanita-wanita yang
pakaiannya mengundang birahi sehingga menimbulkan rangsangan. Karena
itu, remaja yang sering ke night club sangat mungkin terpengaruh untuk
melakukan perilaku seks bebas.
7. Problema seks di televisi. Tayangan acara tertentu yang menampilkan adegan
hot. Dilihat dari nilai tradisional, acara problem seks di televisi dianggap tidak
begitu cocok, karena sebagian besar acara yang dipertontonkan kadang terlalu
vulgar, bahkan dalam memberi contoh terkadang juga tidak pas. Terapannya
lebih cocok untuk orang dewasa, tetapi kenyataannya remaja pun sangat
menggandrungi tontonan yang bertemakan seks.
8. Konsultasi seksologi di media massa dan media elektronik juga dapat
merangsang orang untuk melakukan hubungan seks, apalagi jika pertanyaan
dan jawaban ahli terkesan terlalu vulgar dan tidak sesuai dengan
perkembangan moralitas remaja.
9. Gaya berpacaran remaja sekarang sudah sangat maju. Pegangan tangan dan
ciuman saat berada di mall bahkan di tempat-tempat terbuka, sudah dianggap
biasa.
d. Dampak-dampak dan resiko perilaku seksual remaja
Perilaku seksual pranikah dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada remaja,
diantaranya sebagai berikut (Nalurieta, 2013):
1. Dampak psikologis
Dampak psikologis dari perilaku seksual pranikah pada remaja diantaranya
2.

perasaan marah, takut, cemas, depresi, rendah diri, bersalah dan berdosa.
Dampak Fisiologis
Dampak fisiologis dari perilaku seksual pranikah tersebut diantaranya dapat

3.

menimbulkan kehamilan tidak diinginkan dan aborsi.


Dampak social
Dampak sosial yang timbul akibat perilaku seksual yang dilakukan sebelum
saatnya antara lain dikucilkan, putus sekolah pada remaja perempuan yang
hamil, dan perubahan peran menjadi ibu. Belum lagi tekanan dari masyarakat

4.

yang mencela dan menolak keadaan tersebut (Sarwono, 2003).


Dampak fisik
Dampak fisik lainnya sendiri menurut Sarwono (2003) adalah berkembangnya
penyakit menular seksual di kalangan remaja, dengan frekuensi penderita
penyakit menular seksual (PMS) yang tertinggi antara usia 15-24 tahun.

Infeksi penyakit menular seksual dapat menyebabkan kemandulan dan rasa


sakit kronis serta meningkatkan risiko terkena PMS dan HIV/AIDS.

Menurut nanang (dalam Asna, 2011: 16) menyebutkan risiko berhubungan seksual
sebelum menikah antara lain:
1. Hilangnya keperawanan dan keperjakaan
Melakukan hubungan intim sebelum menikah jelas saja membuat remaja
sudah tidak perawan dan tidak perjaka lagi. Pada perempuan, indikasi fisiknya
bisa saja berupa robeknya selaput dara (tapi tidak selalu pada hubungan
2.

pertama)
Ketagihan
Karena sudah merasakan kenikmatan, maka mudah sekali muncul rasa
ketagihan. Selalu ingin berbuat, mengulangi dan makin susah mengendalikan

3.

diri
Hubungan cinta tidak lagi mulus dan tulus
Biasanya pacaran menimbulkan seks. Apabila sudah bosan dengan pasangan,
maka akan ditinggalkan dan tidak adanya sikap tanggung jawab atas perbuatan

4.

yang telah dilakukan


Hamil
Jika sudah melakukan intim, pasti ada peluang untuk hamil, sekalipun baru
dilakukan pada waktu menstruasi, sekalipun loncat-loncat sehabis hubungan
intim. Prinsip hamil adalah terjadinya pertembuan antara sel telur yang disebut
juga masa subur sulit diprediksi secara pasti (bahkan ovulasi bisa saja terjadi
agak lama dari setelah menstruasi tiba)
Beberapa risiko kehamilan yaitu resiko medis, psikologis, dan sosial dari
kehamilan yang terjadi pada masa remaja:
a. Resiko Medis
Kehamilan pada remaja mempunyai risiko medis yang cukup tinggi karena
pada masa remaja ini, alat reproduksi belum cukup matang untuk
melakukan fungsinya (Munajat N, 1996 dalam Asna, 2011: 17)
Menurut Munajat (dalam Asna, 2011: 18) risiko medis kehamilan adalah
sebagai berikut:
1) Rahim baru siap melakukan fungsinya setelah umur 20 tahun, karena
baru pada usia ini fungsi hormonal melewati masa kerjanya yang
maksimal. Pada usia 14-18 tahun, otot-otot rahim belum cukup
berkontraksi dengan kekuatannya,sehingga jika terjadi kehamilan
dapat terjadi rupturnya (robek) rahim. Disamping otot rahim,

penyangga rahim juga belum cukup kuat untuk menyangga kehamilan,


sehingga risiko lain yang juga dapat terjadi adalah prolapsus teri
(turunnya rahim ke liang vagina)
2) Pada usia remaja 14-19 tahun, system hormonal belum stabil, hal ini
dapat dilihat dari belum teraturnya menstruasi, hal yang sama terjadi
bila remaja tersebut mengalami kehamilan.
3) Terlalu dininya usia kehamilan dan persalinan memperpanjang rentang
usia reproduksi aktif
4) Lebih cenderung mengakibatkan anemia
5) Kehamilan remaja (pada usia 16 tahun) jarang menghasilkan bayi yang
sehat
6) Remaja yang hamil lebih sering terserang keracunan kehamilan seperti
muntah-muntah yang hebat, tekanan darah tinggi, kejang-kejang
bahkan kematian.
Risiko medis terhadap bayinya:
1) Berat badan lahir lebih rendah dapat mengakibatkan retardasi
mental, kerusakan otak, kejang-kejang, kebutaan
2) Bayi cenderung premature sehingga terjadi penyakit karena paruparunya belum matang
a. Risiko psikologis dan sosial
Menurut Munajat (dalam Asna, 2011: 19) Resiko psikologis dan sosial
pada kehamilan sebagai berikut:
1) Dari sisi remaja:
Kehamilan remaja dapat menyebabkan terganggunya perencanaan
masa depan remaja. Misalnya kehamilan remaja sekolah, akibatnya
mereka terpaksa meninggalkan sekolah.
2) Dari sisi anak yang dikandung:
Kehamilan remaja yang tidak diinginkan, sehingga anak ini akan
mendapat cap buruk sepanjang hidupnya.
5.

Aborsi dengan segala risikonya


Jika hubungan intim di luar nikah sudah berbuah kehamilan, satu-satunya
jalan yang terfikir dalam benak adalah menggugurkan kandungan. Jalan ini
dianggap jalan yang terbaik yang dapat membantu menghilangkan perasaan
malu, tidak harus ketahuan orang lain tentang perbuatannya, dan tetap bisa
dijalankan

kehidupan seperti biasanya. Tetapi ternyata risiko aborsi juga

banyak sekalipun dilakukan oleh dokter (Munajat N, 1996 dalam Asna, 2011:

6.

19).
Risiko aborsi:
1) Infeksi alat reproduksi,
2) Kemandulan,
3) Perdarahan dan gangguan neurologis/syaraf,
4) Tingginya risiko kematian ibu atau anak atau kedua-duanya,
5) Ruptur uterus (robek rahim),
6) Fistuala genital traumatis,
7) Risiko shock hipovolemik,
8) Kematian (Munajat N, 1996 dalam Asna, 2011: 20).
PMS (Penyakit Menular Seksual) dan HIV (Human Immunodeficiency
Virus)/AIDS (Aquired Immune Deficiency Syndrome) Salah satu akibat yang
ditimbulkan dari aktivitas seksual yang tidak sehat adalah munculnya penyakit
menular seksual (PMS) melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti
pasangan. Ada beberapa jenis penyakit menular seksual (Sjaiful Fahmi Daili
dkk, 2007 dalam Asna, 2011: 20), yaitu:
1) Gonorea
Dapat disebut juga kencing nanah, penyakit ini menyerang organ
seks dan organ kemih. Bakterinya dinamakan gonococus. Pada
perempuan berjangkitnya penyakit gonorea akan terlihat setelah 5-20
hari melakukan hubungan seksual. Pada laki-laki dapat terlihat 3-7 hari
melakukan hubungan seksual. Selain itu, penyakit ini juga dapat
menyebabkan kemandulan (Sjaiful Fahmi Daili, 2007 dalam Asna,
2011: 20).
2) Sifilis
Sifilis disebut juga raja singa, penyakit ini ditularkan melalui
hubungan seksual atau pengguna barang-barang dari seseorang
yang tertular (seperti baju, handuk, dan jarum suntik). Penyebab
timbulnya penyakit ini adalah adanya kuman Treponema pallidum,
yang dapat menyerang selaput lendir, anus, bibir, lidah dan mulut
(Namyo O. Hutapea, 2007 dalam Asna, 2011: 20-21).
3) Herpes
Herpes termasuk jenis penyakit biasa, disebabkan oleh virus herpes
simpleks, dibagi menjadi 2, yakni: herpes 1 dan herpes 2. Herpes
1 dapat menyerang dan menginfeksi bagian mulut dan bibir, sedangkan
herpes 2 menyerang dan menginfeksi bagian organ seksual (penis dan
vagina) (Sjaiful Fahmi Daili dan Jubianto Judarsono, 2007 dalam
Asna, 2011: 21).

4) AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome)


AIDS disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency
Virus), penularan AIDS dapat terjadi tidak hanya melalui hubungan
seksual. Pemakaian jarum suntik yang tidak steril yang biasanya terjadi
pada pengguna narkoba dan menerima transfusi darah yang sudah
tercemar HIV juga menyebabkan seseorang tertular penyakit ini.
Selain itu penularan dapat juga terjadi pada ibu ke bayi yang
dikandung atau disusuinya (Wirya Duarsa N, 2007: 146).
5) HIV (Human Immunodeficiency Virus)
Yaitu jenis virus yang menyebabkan AIDS, HIV ini menyerang sel-sel
darah dalam tubuh, sehingga jumlah sel darah putih semakin berkurang
dan menyebabkan sistem kekebalan tubuh menjadi lemah (Wirya
Duarsa N, 2007: 146).
6) Trikomoniasis
Penyakit ini merupakan suatu penyakit yang menyerang vagina dan
menyebabkan terjadinya infeksi dengan mengeluarkan cairan busa
disertai dengan rasa gatal dan panas pada vagina tersebut. Penyakit ini
jelas disebabkan adanya hubungan seksual (Tony S. Djajakusumah,
7.

2007: 179).
IRS (Infeksi Saluran Reproduksi)
Remaja perempuan yang sudah seksual aktif di bawah usia 20 tahun serta
berganti-ganti pasangan cenderung mudah terkena kanker mulut rahim.
Apalagi, beberapa kejadian seperti tertinggal kondom di dalam vagina atau
rahim, dapat menimbulkan infeksi pada organ reproduksi perempuan (Munajat

8.

N, 1996: 5)
Gangguan Fungsi seksual
Adanya kasus dimana terjadi ketegangan luar biasa pada perempuan ketika
mencoba melakukan hubungan seksual pertama kali hingga virginismus
(ketegangan vagina sehingga tidak bisa melonggar) yang bisa mengakibatkan

9.

penis terjepit (Munajat N, 1996: 5)


Perasaan malu, bersalah, berdosa.
Setelah melakukan HUS (Hubungan Seksual) pertama di luar nikah
merupakan hal yang sangat alamiah muncul perasaan malu, takut (hamil,

ketahuan orang lain, perasaan bersalah dan berdosa) (Munajat N, 1996: 6)


10. Perasaan tak berharga.
Setelah berhubungan seksual biasanya perempuan yang menyerahkan
segalanya

kepada

laki-laki,

menjadi

ingin

memasrahkan

daripada

pasangannya. Akhirnya muncul perasaan kepalang tanggung basah sekalian.

Jadi, meskipun suatu saat kesadaran mulai muncul, kejadian biasanya sering
terulang kembali, karena ketakutan akan ditinggalkan dan, merasa sudah
tanggung menyerahkan segalanya (Munajat N, 1996: 5).
C. Kontrol Diri
1. Pengertian Kontrol Diri
Kontrol diri (self control) dapat diartikan sebagai kemampuan mengatur proses
fisik, psikologis dan perilaku dalam menghadapi stimulus sehingga dapat menghindari
konsekuensi yang tidak diinginkan (Calhoun dan Acocella dalam Indriani, 2014: 16).
Goldfried dan Merbaum (dalam dalam Indriani, 2014: 16) mendefenisikan kontrol diri
sebagai

suatu

kemampuan

untuk

menyusun,

membimbing,

mengatur

dan

mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa keindividu kearah konsekuensi


positif. Menurut Mahoney dan Thoresen (dalam dalam Indriani, 2014: 16), kontrol
diri merupakan jalinan yang secara utuh (integrative) yang dilakukan individu
terhadap lingkungannya. Individu dengan kontrol diri tinggi sangat memperhatikan
cara-cara yang tepat untuk berperilaku dalam situasi yang bervariasi.
Berdasarkan penjelasan di atas, kontrol diri adalah suatu aktivitas pengendalian
tingkah laku. Pengendalian tingkah laku mengandung makna, yaitu melakukan
pertimbangan-pertimbangan terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu untuk
bertindak. Semakin tinggi kontrol diri semakin intens pengendalian terhadap tingkah
laku.
2. Jenis dan Aspek Kontrol Diri
Averill (dalam Indriani, 2014: 17) menyebut kontrol diri dengan sebutan kontrol
personal, yaitu kontrol perilaku (behavior control), kontrol kognitif (cognitive
control) dan mengontrol keputusan (decisional control).
a. Kontrol Perilaku (behavior control)
Kontrol perilaku merupakan kesiapan tersedianya suatu respons yang dapat
secara langsung memengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang tidak
menyenangkan. Kemampuan mengontrol perilaku dibagi menjadi dua komponen
yaitu:
1) Mengatur pelaksanaan (regulated administration)
Yaitu kemampuan individu untuk menentukan siapa yang mengendalikan situasi
atau keadaan. Apakah dirinya sendiri atau aturan perilaku dengan menggunakan
kemampuan dirinya dan bila tidak mampu individu akan menggunakan sumber
eksternal.

2) Kemampuan memodifikasi stimulus (stimulus modifiability)


Yaitu kemampuan untuk mengetahui bagaimana dan kapan suatu stimulus yang
tidak dikehendaki dihadapi.
b. Kontrol Kognitif (cognitive control)
Yaitu kemampuan individu dalam mengolah informasi yang tidak diinginkan
dengan cara menginterpretasi, menilai atau menghubungkan suatu kejadian dalam
suatu kerangka kognitif sebagai adpatasi psikologis atau mengurangi tekanan.
Kontrol kognitif terdiri dari dua komponen yaitu:
1) Memperoleh informasi (information gain)
Informasi yang dimiliki oleh individu mengenai suatu keadaan yang tidak
menyenangkan, individu dapat mengantisipasi keadaan tersebut dengan berbagai
pertimbangan.
2) Melakukan penilaian (appraisal)
Melakukan penilaian berarti individu berusaha menilai dan menafsirkan suatu
keadaan atau peristiwa dengan cara memperhatikan segi-segi positif secara subjektif.

c. Mengontrol Keputusan (Decesional control)


Yaitu kemampuan seseorang untuk memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan
pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya.
Menurut Block dan Block (dalam dalam Indriani, 2014: 18) ada tiga jenis kualitas
kontrol diri yaitu:
1. Over control
Yaitu kontrol diri yang dilakukan oleh individu secara berlebihan yang
menyebabkan individu banyak menahan diri dalam bereaksi terhadap stimulus.
2. Under control
Yaitu suatu kecenderungan individu untuk melepaskan impulsivitas dengan bebas
tanpa perhitungan yang masak.
3. Appropriate control
Yaitu kontrol individu dalam upaya mengendalikan implus secara tepat.
Beberapa aspek yang digunakan untuk mengukur kontrol diri menurut Averill
(dalam Ghufron&Risnawita, 2012) yaitu: Kontrol perilaku (Behavior Control),
kontrol kognitif (Cognitive Control) dan mengontrol keputusan (Decesional
Control).
3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kontrol Diri
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kontrol diri adalah (dalam Indriani,
2014: 19):
a. Faktor internal

Faktor internal yang ikut andil terhadap kontrol diri adalah usia. Semakin
bertambah usia seseorang, maka semakin baik kemampuan mengontrol diri
seseorang itu.
b. Faktor eksternal
Faktor eksternal diantaranya yaitu lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga
terutama orangtua menentukan bagaimana kemampuan mengontrol diri
seseorang. Bila orangtua menerapkan sikap disiplin kepada anaknya secara intens
sejak dini dan orangtua tetap konsisten terhadap semua konsekuensi yang
dilakukan anak bila ia menyimpang dari yang sudah ditetapkan, maka sikap
kekonsistensian ini akan diinternalisasi anak. Dikemudian akan menjadi kontrol
diri baginya.
D. Hipotesis
1. Ada hubungan antara kontrol diri dengan perilaku seksual remaja
2. Ada hubungan negatif antara kontrol diri dengan perilaku seksual remaja. Artinya
semakin tinggi kontrol diri, maka semakin jarang perilaku seksual di kalangan remaja
yang terjadi. Namun sebaliknya semakin rendah kontrol diri, maka semakin sering
perilaku seksual di lakukan oleh remaja.
E. Kerangka Pemikiran
Remaja

Kontrol diri

Behavior

Cognitive

Decesional

Control

Control

Control

Tinggi

Rendah

Perilaku Seksual

METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan jenis penelitian
korelasional. Penelitian korelasional merupakan penelitian yang dilakukan oleh peneliti untuk
mengetahui tingkat hubungan antara dua variable atau lebih, tanpa melakukan perubahan,
tambahan atau manipulasi terhadap data yang sudah ada (Arikunto, 2010: 4). Penelitian
korelasional dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara
sex education yang diberikan orangtua dengan perilaku seksual remaja.
B. Populasi, Sample dan Metode Pengambilan Sample
a. Populasi dan Sample
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin
meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya
merupakan penelitian populasi. Studi atau penelitiannya juga disebut studi
populasi atau studi sensus (Arikunto, 2010: 173)
Penelitian populasi dilakukan apabila peneliti ingin melihat semua liku-liku
yang ada didalam populasi. Oleh karena subjeknya meliputi semua yang terdapat
di dalam populasi, maka disebut juga sebagai sensus. Penelitian populasi hanya
dapat dilakukan bagi populasi terhingga dan subjeknya tidak terlalu banyak
(Arikunto, 2010: 174). Namun jika populasi terlalu luas, maka peneliti harus
mengambil sampel dari populasi yang telah didefinisikan (Kasiram, 2008: 222)

Menurut

Tulus

Winarsunu,

populasi

adalah

seluruh

individu

yang

dimasukkan untuk diteliti, dan yang nantinya akan dikenai generalisasi.


Generalisasi adalah suatu cara pengambilan kesimpulan terhadap kelompok
individu yang lebih luas jumlahnya berdasarkan data yang diperoleh dari
kelompok individu yang sedikit jumlahnya (Winarsunu, 2004:12)
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa dan siswi yang terdaftar pada SMU 109
kota tangerang dan masih aktif.

2.

Sample
Sample adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Dinamakan

penelitian sample apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil


penelitian

sample.

Yang

dimaksud

dengan

menggeneralisasikan

adalah

mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi


(Arikunto, 2010: 174-175). Apabila subjek kurang dari 100 lebih baik diambil
semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, tetapi jika jumlah
subjeknya besar, dapat diambil 10-15% atau 20-25% atau lebih (arikunto, 2006:
134). Penelitian ini mempunyai jumlah populasi lebih dari 100. Maka peneliti
mengambil sample 25% dari populasi.
Adapun Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
teknik purposive sampling. Purposive sampling atau disebut juga sampel
bertujuan yaitu teknik sampling yang dilakukan dengan cara mengambil subjek
bukan didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi didasarkan atas tujuan
tertentu/pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam pengambilan sampelnya
(Arikunto, 2010: 183). Pertimbangan dalam penelitian ini adalah sampel yang
terpilih harus memenuhi karakteristik yang telah ditentukan oleh peneliti, yaitu:
1.
2.
3.

Remaja awal-remaja akhir yang berusia (15-18 tahun)


Sedang memiliki pacar atau pernah memiliki pacar
Bersedia untuk berpartisipasi menjadi responden

C. Identifikasi Variabel Penelitian


Variabel Tergantung : Perilaku Seksual Remaja
Variabel Bebas
: Kontrol Diri

D. Definisi Operasional Variabel Penelitian


1. Perilaku Seksual Remaja :
Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong hasrat seksual, baik
dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk perilaku seksual menurut
Hurlock, 1973 (dalam Simbolon, 2013:49) bentuk-bentuk perilaku seksual adalah:
a. Necking
Adalah keintiman fisik yang dicirikan oleh causal kissing yang dibatasi
pada daerah sekitar leher keatas. Dalam bentuk spesifiknya, necking meliputi
mencium kening, pipi, dan bibir.
b. Petting
Merupakan sebagai kontak fisik yang tidak melibatkan perpaduan alat
kelamin, tetapi digunakan untuk mempengaruhi timbulnya erotic (nafsu
birahi) dan memberikan pelepasan seksual. Bentuk-bentuk petting meliputi
meraba buah dada atau dada, meraba paha, memegang alat kelamin, dan
menempelkan kedua alat kelamin tanpa memasukan alat kelamin laki-laki
kedalam alat kelamin perempuan.
c. Premarital intercourse
Adalah kontak fisik berupa masuknya alat kelamin laki-laki ke dalam alat
kelamin wanita, yang dalam bentuk spesifiknya dapat menggunakan alat
kontrasepsi ataupun tanpa alat kontrasepsi.
2. Kontrol Diri
Kontrol diri adalah suatu aktivitas pengendalian tingkah laku. Pengendalian
tingkah laku mengandung makna, yaitu melakukan pertimbangan-pertimbangan
terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu untuk bertindak. Semakin tinggi
kontrol diri semakin intens pengendalian terhadap tingkah laku.
Bentuk kontrol diri, antara lain (Averill dalam Indriani, 2014: 17):
a. Kontrol Perilaku (Behavior Control)
Indikator:
1) Kemampuan untuk mengatur pelaksanaan, yakni: kemampuan individu
dalam membuat perencanaan, membuat pertimbangan dan membuat
peraturan untuk dirinya sendiri.

2) Kemampuan untuk memodifikasi stimulus, yakni: kemampuan individu


dalam membuat pilihan, menanggung resiko dan memikirkan sebab akibat
dari perbuatannya.
b. Kontrol Kognitif (Cognitive Control)
Indikator:
1) Kemampuan untuk memperoleh informasi, yakni: kemampuan individu
dalam mencari sumber informasi, memperoleh dan mengolah sumber
informasi untuk dirinya.
2) Kemampuan untuk melakukan penilaian, yakni: kemampuan individu
dalam menilai suatu peristiwa dan menarik pengalaman dari peristiwa.
c. Mengontrol Keputusan (Decesional Control)
Indikator:
Kemampuan untuk memilih hasil atau tindakan yang diyakini/disetujui, yakni:
kemampuan individu dalam berkomitmen dan percaya diri.
E. Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode skala. Metode skala
merupakan suatu pengumpulan data yang berbentuk self report yang berisi daftar atau
kumpulan pernyataan-pernyataan yang harus dijawab oleh individu (azwar, 2002: 85)
Metode skala merupakan teknik pengumpulan data yang memiliki karakteristik
tertentu yang membedakan dari berbagai bentuk alat pengumpul data yang lain. Metode
skala ini digunakan untuk mengukur variable pada penelitian ini, yaitu perilaku seksual
pada remaja dan Sex Education yang diberikan Orangtua.
Karakteristik Skala Psikologi (Azwar, 2012:5-6)
1.

Stimulus atau aitem dalam skala psikologi berupa pertanyaan atau pernyataan
yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur melaikan

2.

mengungkap indicator perilaku dari atribut yang bersangkutan.


Atribut psikologi diungkap secara tidak langsung lewat indikator-indikator
perilaku sedangkan indicator perilaku diterjemahkan dalam bentuk aitem-

3.

aitem, maka skala psikologi selalu berisi banyak aitem.


Respon subjek tidak dklasifikasikan sebagai jawaban benar atau salah.
Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sungguhsungguh.

Pada penelitian ini menggunakan dua macam skala, yaitu skala untuk mengungkap
Kontrol diri dan skala untuk mengungkap perilaku seksual pada remaja.
1. Skala Perilaku Seksual Remaja
Skala perilaku seksual remaja dalam penelitian ini disusun berdasarkan tiga
komponen yang terdiri dari 14 aitem.
Bentuk-bentuk perilaku seksual ini meliputi:
a. Necking
Adalah keintiman fisik yang dicirikan oleh causal kissing yang dibatasi
pada daerah sekitar leher keatas. Dalam bentuk spesifiknya, necking meliputi
mencium kening, pipi, dan bibir.
b. Petting
Merupakan sebagai kontak fisik yang tidak melibatkan perpaduan alat
kelamin, tetapi digunakan untuk mempengaruhi timbulnya erotic (nafsu
birahi) dan memberikan pelepasan seksual. Bentuk-bentuk petting meliputi
meraba buah dada atau dada, meraba paha, memegang alat kelamin, dan
menempelkan kedua alat kelamin tanpa memasukan alat kelamin laki-laki
kedalam alat kelamin perempuan.
c. Premarital intercourse
Adalah kontak fisik berupa masuknya alat kelamin laki-laki ke dalam alat
kelamin wanita, yang dalam bentuk spesifiknya dapat menggunakan alat
kontrasepsi ataupun tanpa alat kontrasepsi.
Skala dalam penelitian ini menggunakan Skala Likert dengan alternatif
pilihan jawaban Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Kurang Sesuai (TS), dan
Sangat Tidak Sesuai (STS), melalui pernyataan favorable dan pernyataan
unfavorable. Pada pernyataan favorable nilai bergerak dari empat sampai satu.
Pilihan Sangat Sesuai (SS) diskor 4, Sesuai (S) diskor 3, Tidak Sesuai (TS)
diskor 2, Sangat Tidak Sesuai (STS) diskor 1, sebaliknya pada pernyataan
unfavorable nilai bergerak dari satu sampai empat. Pilihan Sangat Sesuai (SS)
diskor 1, Sesuai (S) diskor 2, Tidak Sesuai (TS) diskor 3, Sangat Tidak Sesuai
(STS) diskor 4.
Tabel 1

Blue Print Skala Perilaku Seksual Remaja


No
1

Aspek
Necking

Petting

Indicator
F
a. Mencium kening
b. Mencium pipi
c. Mencium bibir
1. Meraba buah dada atau dada
2. Meraba paha,
3. Memegang alat kelamin
4. Menempelkan kedua alat kelamin

Jumlah

tanpa memasukan alat kelamin laki3

Premarital

laki kedalam alat kelamin perempuan


b. Memasukkan alat kelamin laki-laki

intercourse

kedalam alat kelamin perempuan

2. Skala Kontrol Diri


Skala Kontrol diri dalam penelitian ini disusun berdasarkan tiga komponen yang
terdiri dari 25 aitem. Bentuk-bentuk Kontrol diri ini meliputi:
a. Kontrol Perilaku (Behavior Control)
Indikator:
1) Kemampuan untuk mengatur pelaksanaan, yakni: kemampuan individu
dalam membuat perencanaan, membuat pertimbangan dan membuat
peraturan untuk dirinya sendiri.
2) Kemampuan untuk memodifikasi stimulus, yakni: kemampuan individu
dalam membuat pilihan, menanggung resiko dan memikirkan sebab akibat
dari perbuatannya.
b. Kontrol Kognitif (Cognitive Control)
Indikator:
1) Kemampuan untuk memperoleh informasi, yakni: kemampuan
individu dalam mencari sumber informasi, memperoleh dan mengolah
sumber informasi untuk dirinya.
2) Kemampuan untuk melakukan penilaian, yakni: kemampuan individu
dalam menilai suatu peristiwa dan menarik pengalaman dari peristiwa.
c. Mengontrol Keputusan (Decesional Control)
Indikator:
Kemampuan untuk memilih hasil atau tindakan yang diyakini/disetujui, yakni:
kemampuan individu dalam berkomitmen dan percaya diri.

Skala ini menggunakan model skala likert. yang telah dimodifikasi dan
dibuat dalam empat alternatif jawaban dengan menghilangkan jawaban netral
untuk

menghindari

jawaban

subjek

yang

mengelompok

sehingga

dikhawatirkan akan kehilangan banyak data. Modifikasi skala likert


meniadakan kategori jawaban netral berdasarkan tiga alasan.
Pertama, kategori netral itu mempunyai arti ganda, bias diartikan
belum dapat memutuskan atau memberi jawaban. Kategori jawaban yang
artinya ganda (multi interpretable) ini tentu saja tidak diharapkan dalam suatu
instrument. Kedua, tersedianya jawaban yang netral itu menimbulkan
kecenderungan menjawab kenetral, terutama bagi mereka yang raguragu atas
arah kecenderungan jawabannya, kearah sering ataukah kearah jarang. Ketiga,
maksud kategorisasikan jawaban SS-S-TS-STS adalah terutama untuk melihat
kecenderungan pendapat responden, jika disediakan kategori jawaban netral
itu akan menghilangkan banyak data penelitian sehingga mengurangi
banyaknya informasi yang dapat dijaring dari para responden (Hadi dalam
Indriani, 2014).
Pernyataan dalam skala yang mengandung kecenderungan favorable dan
unfavorable yaitu:
1. Pernyataan favorable
a. Nilai 4 jika jawaban SS (Sangat Sesuai)
b. Nilai 3 jika jawaban S (Sesuai)
c. Nilai 2 jika jawaban TS (Tidak Sesuai)
d. Nilai 1 jika jawaban STS (Sangat Tidak Sesuai)

2. Pernyataan unfavorable
a. Nilai 4 jika jawaban STS (Sangat Tidak Sesuai)
b. Nilai 3 jika jawaban TS (Tidak Sesuai)
c. Nilai 2 jika jawaban S (Sesuai)
d. Nilai 1 jika jawaban SS (Sangat Sesuai)
Tabel 2
Blue Print Skala Kontrol Diri
No
1

Aspek
Kontrol

Perilaku
Kontrol
kognitif

Indicator
a. Mengatur pelaksanaan
b. Kemampuan memodifikasi stimulus
a. Kemampuan
informasi

untuk

memperoleh

Jumlah

b. Kemampuan
3

untuk

melakukan

Mengontrol

penilaian
Kemampuan untuk memilih hasil atau

keputusan

tindakan yang diyakini/disetujui

Daftar Pustaka
Al-Ghifari, A. Hamil di Luar Nikah Trend atau Aib, Cet. 1. Bandung : Mujahid Press, 2005.
Anfaldi

Fazri.

(2013,

February

9).

Perilaku

Seksual.

Retrieved

from:

http://fazrianfaldi.blogspot.com/2013/02/perilaku-seksual.html diakses pada 6 Mei 2015


8:38PM
Arikunto Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta
Arikunto Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta
Asna Khodijatul. 2011. Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Terhadap Kesehatan
Reproduksi dengan Perilaku Seksual Pra Nikah pada Siswa di SMA Negeri 14 Kota

Semarang Tahun Ajaran 2010/2011. Skripsi (Tidak diterbitkan). Semarang: Fakultas Ilmu
Kelolahragaan Universitas Negeri Semarang
Azwar, S. 2002. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Liberty
Azwar, S. 2012. Penyusunan Skala Psikologi (Edisi 2). Yogyakarta: Pustaka pelajar
Dariyo, A. 2004. Psikologi Perkembangan Remaja. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Darmasih Ririn. 2009. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seks Pranikah Pada Remaja
SMA di Surakarta. Skripsi (Tidak diterbitkan). Surakarta: Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah
Djalali M. Asad. (2010, maret 20). Diktat Kuliah Psikologi Motivasi. Retrieved from:
https://drmasda.wordpress.com/page/2/ diakses pada 27 Mei 2015 3:28AM
Hurlock E.B. 1980. Psikologi Perkembangan. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan (Istiwidayanti, & Soedjarwo, Penerjemah). Edisi ke-5 Jakarta: Erlangga
Indriani Rizka. 2014. Hubungan Antara Kontrol Diri dan Pengetahuan Tentang Perilaku
Seksual Pranikah dengan Prilaku Seksual Pranikah Pada Remaja
Jaccard, J., Dodge, T., & Dittus. Parent-adolescent communication about sex and birth
control: A conceptual framework. In New directions for child and adolescent development
(Vol. 97, pp. 1-41). California: Wiley Periodicals, Inc. 2002
Kasiram Moh. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif. Malang: UIN Malang
Press.
Masland, Robert. 2004. Apa Yang Ingin Diketahui Remaja Tentang Seks. Bumi Aksara:
Jakarta
Muadz M Masri. 2011. Penyiapan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja (Ditinjau dari aspek
8 Fungsi Keluarga, Kesehatan, Ekonomi, Psikologi, Pendidikan, Agama, & Sosial. Bandung:
Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Jawa Barat.
Munir Misbahol. (2010 6 Desember). Tiap Tahun, Remaja Seks Pra Nikah Meningkat.
Retrieved from: http://news.okezone.com/read/2010/12/04/338/400182/tiap-tahun-remajaseks-pranikah-meningkat diakses pada 31 Mei 2015 2:21PM

Nalurieta.

(2013

Maret).

Perilaku

Seks

Pranikah.

Retrieved

from:

https://windanalurieta.wordpress.com/category/uncategorized/ diakses pada 2 Juni 2015


7:13AM
Papalia Diane E, et. al. 2008. Human Develoment. Psikologi Perkembangan (A.K. Anwar,
Penerjemah). Edisi IX . Jakarta: Kencana
Pedulisantri (2015 28 Maret). 63 Persen Remaja Berhubungan Seks di Luar Nikah. Retrieved
from:http://pedulisantri.blogspot.co.id/2015/03/63-peren-remaja-berhubungan-seks-di.html
diakses pada 11 Desember 2015 10:24 AM
Poskotanews (2012 27 Mei). 20,9 persen Abg Hamil dil Luar Nikah. Retrieved from:
http://poskotanews.com/2012/05/27/209-persen-abg-hamil-di-luar-nikah/ diakses pada 2 Juni
2015 1:06 AM
Safita Renny, (n.d). Peranan Orang Tua dalam Memberikan Pendidikan Seksual pada Anak.
Retrieved from:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=252706&val=6813&title=Peranan
%20Orang%20Tua%20dalam%20Memberikan%20Pendidikan%20Seksual%20pada
%20Anak diakses pada tanggal 13 October 2015 9:27AM
Sarwono, S.W. 1989. Psikologi Remaja. Jakarta: CV. Rajawali
Saud

Tri

Amalia.

(n.d).

Makalah

Perilaku

seksual.

Retrieved

from:

https://buyungchem.wordpress.com/makalah-perilaku-seksual-oleh-tri-amalia-saud/

diakses

pada 7 Mei 2015 1:32AM


Seksualitas.

(n.d).

mahasiswi

Yogyakarta

Retrieved

from:

http://www.seksualitas.net/mahasiswi-di-yogyakarta.htm#_ diakses pada 31 Mei 2015


2:12PM
Sembrani

Herman

(2012

19

Desember).

Pendidikan

seks

Retrieved

from:

http://hermansembrani.blogspot.com/2012/12/pendidikan-seks-dalam-perspektif.html diakses
pada 2 Juni 2015 1:17AM
Simbolon Roy B. 2013. Hubungan Antara Intensitas Mengakses Situs Seks dengan Perilaku
Seksual Remaja pada Siswa SMU X Bandung XII. Skripsi (tidak diterbitkan). Bandung:
Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati

Taryadi Ade. 2007. Hubungan Antara Efektifitas Komunikasi Orangtua-Remaja dengan


Perilaku Kenakalan Remaja di SMUN 8 Pandegelang-Banten. Skripsi (Tidak diterbitkan).
Bandung: Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Wahyuni Sri. 2014. Tugas Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Anak Sex Education dan
Bahaya

Narkoba

Retrieved

from:

http://sriewahwah.blogspot.co.id/2014/07/tugas-

pendidikan-jasmani-dan-kesehatan.html diakses pada 13 October 2015 10:47


Walgito, B. 2002. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Wilopo. S.A. (2004). Perlu Layanan Konseling Seks Bagi Remaja. Retrieved from:
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=93686. diakses pada 17 October 2015
10:18
Winarsunu Tulus. 2004. Statistika dalam Penelitian Psikologi dan Pendidikan. Malang: UMM
Wirdhana Indra, dkk. 2014. Materi Pegangan Kader tentang Bimbingan dan Pembinaan
Keluarga Remaja. Jakarta: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Wyckoff, S. C., Miller, K. S., Forehand, R., Bau, J. J., Fasula, A., Long, N., et al. Patterns of
sexuality communication between preadolescents and their mothers and fathers. J. Child Fam
Stud (2008) 17:649-62
Yasin Sanjaya (n.d) Pengertian Remaja Definisi Menurut Para Ahli Ciri Tahap dan
Perkembangan Masa Remaja.Retrieved from: http://www.sarjanaku.com/2013/03/pengertianremaja-definisi-menurut-para.html diakses pada 7 Mei 2015 8:18AM
Yunis Tabrani. (2013 Maret 31) Hamil diluar nikah? ITU BIASA! Retrieved from:
http://coretanbidan.blogspot.com/2013/03/my-first-blog.html diakses pada 31 Mei 2015
2:31PM