Anda di halaman 1dari 5

TUGAS MATA KULIAH

MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR


BUDIDAYA IKAN NILEM

Disusun oleh :
QURROTU AINI PUTRI
13/350018/PN/13331
BUDIDAYA PERIKANAN

JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

a. Ikan Nilem (Osteochilus hasselti C.V)


Ikan nilem termasuk dalam famili Cyprinidae, merupakan ikan air tawar yang memiliki
syarat hidup meliputi kisaran pH dan suhu masing masing 6,5-7 dan 22-26 . Bentuk tubuh
ikan nilem memanjang dan pipih. Terdapat dua pasang sungut di kepalanya. Warna perut
kemerahan dan warna punggungnya cokelat kehijauan.Warna sirip ekor, dubur, dan perut
kemerahan. Ukuran panjang total ikan nilem dapat mencapai 35 cm.
Ikan nilem merupakan spesies ikan air tawar lokal Indonesia yang telah umum
dibudidayakan khususnya di Pulau Jawa. Potensi pembudidayaan ikan nilem karena telurnya

yang sangat lezat dan digemari. Oleh sebab itu telur ikan nilem berpotensi menjadi produk
ekspor bahkan berpeluang menjadi pengganti caviar. Potensi lainnya yaitu telur ikan nilem juga
dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat saus. Selain dari telurnya, anakan nilem juga
berpotensi secara ekonomis yakni sebagai camilan. Terlebih ikan nilem dapat dipanen dari
ukuran 5 gram (baby fish).
Berdasarkan kebiasaan makannya, ikan nilem termasuk omnivora. Jenis pakan yang umum
dikonsumsi berupa pakan alami dari kelompok ganggang yang disinyalir banyak mengandung
anti bodi. Sehingga ikan nilem memiliki karakteristik tahan terhadap penyakit., Pada lingkungan
budidaya di keramba, mayoritas pakannya berupa peryphiton dan tumbuhan penempel lain.
Sehingga ikan nilem dapat berperan sebagai biocleaning agent yakni sebagai pembersih kolam
ataupun danau.
Keberhasilan budidaya nilem tergantung pada benih. Benih yang digunakan harus berkualitas
baik dan ketersediaannya harus berkesinambungan agar budidaya dapat dilakukan secara
kontinyu (tidak musiman). Umumnya benih yang tersedia belum memenuhi permintaan pasar.
Sebab benih-benih tersebut diproduksi melalui pembenihan tradisional sehingga ketersediannya
masih tergantung oleh musim. Terlebih kondisi iklim yang tidak menentu akhir-akhir ini
membuat ketersediannya kurang terjamin. Maka dari itu manajemen budidaya ikan nilem
khususnya pembenihannya, harus diperbaiki dari sistem pemeliharaan secara lokal-tradisional ke
sistem pemeliharaan yang cakupannya lebih luas dan intensif.

b. Sarana Prasarana Pembudidayaan


Pada umumnya sarana yang dibutuhkan untuk budidaya ikan terdiri dari lahan, konstruksi
kolam (bila dilakukan di kolam), peralatan, pakan dan obat-obatan. Sedangkan prasarana yang
digunakan meliputi jalanan, transportasi, pengairan, dan penerangan.
Dalam budidaya ikan nilem khususnya untuk pembenihan, perlu diperhatikan teknis yang
mendasar yakni pemilihan induk. Induk yang dipilih harus memiliki performa yang baik dan
telah matang gonad sehingga siap memijah. Namun terkadang indukan tidak mau memijah
karena faktor tertentu, maka diperlukan rekayasa untuk menginduksi pemijahan. Rekayasa ini
dapat dilakukan dengan pemberian sediaan hormon baik yang alami maupun sintesis. Maka

selain hal-hal tersebut di atas, sarana yang diperlukan dapat ditambah dengan hormon
reproduksi.
Untuk menghasilkan anakan yang baik dengan nilai survival rate tinggi maka perlu
dilakukan inkubasi dan perawatan embrio. Pada pembenihan intensif, inkubasi embrio dilakukan
dalam wadah atau tempat yang terkontrol. Dalam skala kecil, inkubasi embrio dapat dilakukan
dengan menggunakan baskom, bak plastik ataupun akuarium yang dilengkapi dengan sistem
aerasi. Adapun untuk skala lebih besar, inkubasi embrio dapat dilakukan pada bak terpal, bak
fiber ataupun corong penetasan. Hal yang perlu dikontrol dalam lingkungan inkubasi yakni
temperatur, pH dan oksigen. Temperatur yang mendukung perkembangan embrio nilem dengan
baik berkisar antara 26-29

. Sedangkan pH yang optimum untuk mendukung

perkembangan embrio berkisar antara 6-9. Selain itu, embrio yang sedang berkembang
membutuhkan oksigen secara terus menerus. Telur ikan nilem dapat berkembang dan menetas
dengan baik pada media dengan kandungan oksigen terlarut sebesar 4,0-4,2 ppm hingga 6,0-7,7
ppm.
c. Teknik Pemeliharaan dan Hasil
Pada saat menetas, larva ikan nilem masih memiliki cadangan makanan berupa yolk yang
akan habis selama 5-6 hari. Setelah yolk habis, larva perlu diberi pakan baik pakan alami maupun
pakan buatan . Fase ini merupakan fase kritis karena larva nilem mengalami transisi dari pola
pemanfaatan pakan internal ke pakan eksternal. Apabila larva dapat melalui fase kritis tersebut,
maka larva dapat berkembang ke fase selanjutnya. Oleh sebab itu, manajemen pakan pada fase
tersebut harus sangat diperhatikan. Pada minggu-minggu pertama setelah penetasan, larva ikan
nilem menyukai zooplankton dan larva crustacea sedangkan pada minggu selanjutnya larva
nilem mulai menyukai fitoplankton. Sedangkan pakan buatan dapat berupa emulsi kuning telur
ayam rebus ataupun pellet komersial dalam bentuk serbuk.
Perkembangan larva nilem sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
1. Kualitas induk
Induk yang baik adalah induk yang memiliki fekunditas tinggi dengan kualitas sel telur
yang baik. Induk yang siap dipijahka adalah induk yang telah menyelesaikan tahap
vitelogenesis. Menurut suatu penelitian, induk ikan nilem yang memiliki kisaran berat
50-90 gram saat memijah menghasilkan telur sebanyak 14.119,78 6.369, 89 butir.

Sedangkan untuk kisaran berat 100-150 gram menghasilkan telur sebanyak 31.611,58
15.726,99 butir.
2. Kedalaman air pemeliharaan
Pada dasarnya kedalam kolam tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup
larva. Namun ada kecenderungan dengan semakin dangkal kolam pendederan
kelangsungan hidup semakin rendah.
3. Temperatur

Temperatur yang sesuai untuk pemeliharaan larva nilem adalah berkisar 22

- 26

4. Kecukupan pakan
Untuk memenuhi kecukupan pakan maka pada kolam pendederan dilakukan pemupukan
menggunakan pupuk baik pupuk kandang maupun buatan. Adapun pupuk yang umum
digunakan adalah pupuk kandang dan pupuk Urea atau TSP. Dosis pupuk kandang adalah
200 gram/m3 sedangkan pupuk Urea atau TSP 100 gram/m 3. Selanjutnya, larva nilem
yang didederkan diberi pakan sebesar 4% dari biomassa tubuhnya.
5. Padat tebar.
Benih ikan nilem dapat tumbuh dengan baik pada jaring apung dengan kepadatan 112/100 L.
Hal-hal tersebut perlu dijaga agar pemeliharaan larva nilem dapat berjalan optimal dan
menghasilkan benih nilem yang berkualitas baik dan tersedia secara berkesinambungan.
Pada saat menetas larva nilem memiliki panjang 4,258 0,09 cm dan meningkat menjadi
9 cm pada satu bulan pertama. Pada kondisi laboratorium, panjang benih berumur dua bulan
yang dipelihara pada kepadatan seragam (100 ekor/6L) mencapai 21,9 1,38 mm sedangkan
benih yang dipelihara dengan kepadatan tidak seragam hanya mencapai 16,7 5,89 mm.
REFERENSI
G.E. Wijayanti. 2013. Panduan Teknis Pembenihan Ikan Nilem secara Intensif. Laboratorium
Struktur dan Perkembangan Hewan. Fakultas Biologi, Universitas Jendral Soedirman.
Rocmatin, S.Y., A. Solichin, S.W. Saputra. 2014. Aspek Pertumbuhan dan Reproduksi Ikan
Nilem (Osteochilus hasselti) di Perairan Rawa Pening Kecamatan Tuntang Kabupaten
Semarang. Diponegoro Journal of Maquares (Management of Aquatic Resource) 3 (3) :
153-159.
Subagja, J., R. Gustiano, dan L. Winarlin. 2006. Pelestarian Ikan Nilem (Osteochilus hasselti
C.V.) Melalui Teknologi Pembenihannya. Lokakarya Nasional Pengelolaan dan
Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia : Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan
Ketahanan Nasional : 279-286.