Anda di halaman 1dari 19

A.

Judul

: PERANAN

PERUSAHAAN

PENGELOLAAN

DAN

DAERAH

PEMBERDAYAAN

DALAM
PASAR

TRADISIONAL DI KOTA MEDAN (Studi Perusahaan


Daerah Pasar Kota Medan

B. Latar Belakang
Berdasarkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah, kota dan kabupaten memiliki kewenangan penuh untuk mengatasi
masalah perpasaran dalam konteks kebijakan. antara lain dengan menelurkan
peraturan daerah yang melindungi pasar tradisional, mensinergikannya dengan
pasar modern, dan memacu daya saingnya.
Pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh
Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan
Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha
berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil,
menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal
kecil, dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar.
Pasar Tradisional sebagai lokasi perdagangan merupakan salah satu pilar
perekonomian. Melalui berbagai fungsi dan peran strategis yang dimiliki, pasar
tradisional menjadi salah satu wadah atau sarana untuk mencapai kesejahteraan
rakyat Indonesia. Fungsi dan peran tersebut tercermin dalam berbagai hal
diantaranya pasar tradisional menjadi indikator nasional terkait pergerakan tingkat

kestabilan harga kebutuhan sembilan bahan pokok. Untuk itu para ahli statistik
dan instansi pemerintah melakukan monitoring setiap bulannya.
Pasar Tradisional menjadi wadah utama penjualan produkproduk
kebutuhan pokok yang dihasilkan oleh para pelaku ekonomi berskala menengah,
kecil, serta mikro yang sebagian besar merupakan produk hasil pertanian.
Meskipun jumlah toko modern semakin meningkat dan tren belanja masyarakat di
toko modern juga meningkat, tidak semua produk pertanian dapat dijual di tokotoko modern sehingga keberadaan Pasar Tradisional sebagai sarana penjualan
produk-produk hasil pertanian sangat dibutuhkan.
Isu-isu Utama Pasar Tradisional mendapatkan keuntungan dari krisis
keuangan dunia (global crisis) saat ini. Keinginan masyarakat/konsumen untuk
memperoleh produk dengan harga murah di saat krisis membuat pasar tradisional
terselamatkan dari desakan pasar modern. Kondisi ini bertolak belakang dengan
pertumbuhan pasar modern yang kian agresif dan terus meningkatkan distribusi,
promosi dan perbaikan model bisnis ritel. Mayoritas pasar tradisional dikuasai dan
dikelola oleh Pemda setempat, biasanya di bawah kendali Dinas Pasar. Sejumlah
kecil pasar tradisional dikembangkan melalui kerjasama antara Pemda dan
perusahaan swasta, umumnya di bawah skema bangun, operasi, dan transfer.
Keberadaan pasar tradisional dalam beberapa tahun terakhir mulai
menghadapi ancaman bahkan dikhawatirkan akan semakin banyak yang gulung
tikar dalam waktu tidak lama lagi karena tidak mampu bersaing menghadapi
semakin banyaknya pusat perbelanjaan atau pasar modern yang merambah hingga
ke pelosok permukiman penduduk. Masyarakat pun tampaknya lebih memilih

berbelanja di pasar-pasar modern dengan berbagai pertimbangan, seperti


kenyamanan, kebersihan, kualitas barang, sampai alasan demi gengsi.
keberadaan pasar tradisional tidak mungkin ditiadakan karena sebagian
besar masyarakat masih berada dalam kondisi ekonomi menengah ke bawah,
sehingga tidak memiliki daya beli yang cukup besar untuk terus-menerus
berbelanja di pasar-pasar modern. Hilangnya pasar-pasar tradisional akan
berdampak pada pertumbuhan ekonomi suatu daerah, seperti bertambahnya
pengangguran, menurunnya daya beli akibat tingkat pendapatan per kapita yang
semakin kecil, melemahnya sektor-sektor perdagangan informal, terhambatnya
arus ditribusi kebutuhan pokok yang pada akhirnya bermuara pada marginalisasi
ekonomi pasar tradisional.
Pengelola pasar, yang diangkat oleh Kepala Dinas Pasar, mengelola pasar
milik Pemda. Di beberapa kasus, pengelola pasar bertanggung jawab atas
beberapa pasar sekaligus. Dinas Pasar menetapkan target retribusi pasar tahunan
pada setiap pasar tradisional miliknya. Tugas utama yang diemban setiap kepala
pasar adalah pemenuhan target yang sudah ditetapkan. Kegagalan pemenuhan
target tidak jarang berbuntut pada pemberhentian langsung kepala pasar. Karena
itu, penarikan dana retribusi dari para pedagang menjadi ajang perhatian utama
dari setiap kepala pasar dari pada pengelolaan pasar yang lebih baik1.
Mengingat dalam mengelola pasar-pasar termasuk fokusnya pada
Perusahaan Daerah Pasar merupakan hal yang tidak mudah, karena jumlah para
pedagang adalah sangat banyak maka sudah barang tentu mengakibatkan suatu
1 Ridhwan, 2010. Revitalisasi Pasar Tradisional. Tugas Ekonomi Regional Dan
Perkotaan
3

permasalahan terhadap Pemerintah Kota Medan, baik permasalahan pedagang


yang terdapat di dalam pasar-pasar maupun para pedagang kaki lima yaitu
pedagang yang berjualan di luar pasar, seperti di pinggir-pinggir jalan umum dan
lain sebagainya dan bersifat tidak menetap.
Kehadiran pasar-pasar modern yang dikelola dengan baik dan profesional
oleh para investor diklaim telah mendiskreditkan keberadaan Pasar Tradisional
khususnya di perkotaan sementara hanya sebagian kecil Pasar Tradisional yang
dikelola secara profesional. Sebagian besar Pasar Tradisional masih terkesan
becek, bau, sumpek, pengap, dan kotor. Hal tersebut dibuktikan dari berbagai hasil
penelitian khususnya di kota-kota besar di Indonesia yang menunjukkan bahwa
keberadaan pasar modern telah berdampak pada penurunan omset pedagang di
Pasar Tradisional secara signifikan. Kehadiran pasar modern tersebut bukan satusatunya penyebab penurunan produktivitas Pasar Tradisional. Persoalan internal
seperti buruknya manajemen pasar, minimnya sarana dan prasarana pasar hingga
minimnya bantuan permodalan turut andil dalam penurunan omset penjualan di
Pasar Tradisional2.
Meskipun pasar modern terus berkembang, kehadiran Pasar Tradisional
masih dibutuhkan oleh sebagian besar warga masyarakat. Para petani masih
bergantung pada Pasar Tradisional untuk menjual hasil produksinya karena tidak
semua hasil produksi mereka dapat menembus pasar modern. Di samping itu

2 Fransisca Yaningwati, dkk, 2009, Dampak Keberadaan Hypermarket Terhadap


Pedagang Pasar Tradisional, Laporan Hasil Penelitian Fundamental, Universitas
Brawijaya, Malang. Halaman 5
4

segmen pasar keduanya juga berbeda namun dengan lokasi yang berdekatan dapat
menjadi permasalahan tersendiri3.
pentingnya peran Pasar Tradisional bagi perekonomian dan kesejahteraan
masyarakat, permasalahan-permasalahan seputar Pasar Tradisional harus segera
diatasi. Apalagi permasalahan tersebut tidak hanya berasal dari internal Pasar
Tradisional sendiri namun juga melibatkan faktor eksternal hubungannya dengan
pasar modern dan preferensi belanja masyarakat. Tidak seperti pasar modern yang
dikelola secara profesional dengan kualitas manajemen dan SDM yang baik serta
responsif dalam menghadapai perubahan jaman, Pasar Tradisional lebih banyak
melibatkan masyarakat golongan menegah ke bawah dengan kemampuan yang
terbatas. Oleh karena itu, sebagai negara yang menganut prinsip kesejahteraan
(welfare state) peran aktif dari Pemerintah sangat diperlukan.
Oleh karena itu Penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam bentuk
skripsi yang berjudul Peranan Perusahaan Daerah Dalam Pengelolaan Dan
Pemberdayaan Pasar Tradisional Di Kota Medan (Studi Perusahaan Daerah
Pasar Kota Medan.

1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka peneliti merumuskan
masalah sebagai berikut :
a. Bagaimana pengaturan hukum pedagang tradisional di Kota Medan ?
b. Bagaimanakah peran perusahaan daerah dalam pengelolaan pasar tradisonal di
3 Anonim, 2009, Evaluasi dan Kajian Dampak Kebijakan Persaingan Usaha
Dalam Industri Ritel, Laporan Hasil Penelitian, Komisi Pengawas Persaingan
Usaha, Jakarta, halaman. 9
5

Kota Medan ?
c. Bagaimana kendala dan upaya perusahaan daerah pasar dalam pengelolaan dan
pemberdayaan pasar tradisional di Kota Medan ?

3. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari hasil penulisan yang ingin dicapai adalah sebagai
berikut :
a. Secara teoritis, hasil penelitian ini merupakan sumbangan bagi perkembangan
ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu hukum khususnya dibidang
perjanjian jual beli rumah secara kuasa substitusi.
b. Secara praktis bahwa penelitian ini adalah sebagai sumbangan pemikiran bagi
ilmu pengetahuan mengenai hak cipta bagi para praktisi hukum maupun
akademisi.

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan bagi penulis dalam melaksanakan penelitian tentang
proposal skripsi yang berjudul Analisis Hukum Kelemahan Perjanjian Jual Beli
Rumah Secara Kuasa Substitusi Menurut Hukum Perdata ini adalah :
a. Untuk mengetahui syarat jual beli menurut hukum perdata .
b. Untuk mengetahui kelemahan perjanjian rumah secara kuasa substitusi
c. Untuk mengetahui akibat hukum yang ditimbulkan dalam perjanjian jual beli
secara kausa substitusi menurut hukum perdata.

D. Defenisi Operasional
1. Perusahaan Daerah

suatu badan usaha yang modalnya merupakan kekayaan daerah yang


dipisahkan dan pendiriannya diprakarsai oleh Pemerintah Daerah4. Tujuan
Perusahaan daerah ialah untuk turut serta melaksanakan pembangunan daerah
khususnya dan pembangunan ekonomi nasional umumnya dalam rangka
ekonomi terpimpin untuk memenuhi kebutuhan rakyat dengan mengutamakan
insdustrialisasi dan ketentraman serta kesenangan kerja dalam perusahaan,
menuju masyarakat yang adil dan makmur.
2. Pasar Tradisional
Pasar tradisional adalah tempat pembeli dan penjual melakukan transaksi
secara langsung dan disertai dengan proses tawar menawar. Barang yang
diperjualbelikan merupakan barang kebutuhan sehari-hari masyarakat, seperti
makanan, kue, buah-buahan, pakaian, barang elektronik, dan jasa 5.
3. Hukum Perdata
Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Apabila
seseorang yang melakukan hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya ,
suatu aspek dinamika berupa pola tindakan baik yang abstrak maupun yang
kongkrit dan setiap status yang ada dalam organisasi , terciptanya serangkaian
tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu
serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku. 6.

E. Tinjauan Pustaka
1. Pengelolaan Pasar Tradisonal
4 Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 10 Tahun 2014 Tentang Perusahaan
Daerah
5M.Yahya Harahap, 1986. Strategis Pasar, Alumni, Bandung, halaman. 181.
6MR Tirtaamidjaja, 2007, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Djambatan, Jakarta, halaman. 24
7

Istilah perjanjian sudah lazim dipergunakan dalam lalu lintas hidup


masyarakat. Didalam berbagai literatur hukum ada beberapa pendapat yang
memberikan pengertian mengenai perjanjian. Pendapat tersebut antara lain adalah
R. Subekti Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji
kepada seorang lain atau dua orang lain itu saling berjanji untuk melakukan
sesuatu hal7.
Wirjono Prodjodikoro Perjanjian adalah suatu perhubungan hukum
mengenai harta benda dua pihak, dalam mana suatu pihak berjanji atau dianggap
berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal, sedang pihak lain berhak menuntut
pelaksanaan janji itu. Baik pendapat dari R Subekti maupun Wirjono Prodjodikoro
masing-masing mempunyai kekurangan. Kekurangan daripada pendapat R.
Subekti adalah bahwa perjanjian bukan hanya terjadi dua orang saja bisa juga dua
orang atau lebih, dan bisa juga perjanjian itu dilakukan oleh badan hukum. Dan
perjanjian merupakan suatu yang kongkrit sebagai sumber dari perikatan. Dengan
demikian hubungan antara perikatan dan perjanjian adalah bahwa perjanjian itu
menerbitkan suatu perikatan. Suatu perjanjian juga dinamakan persetujuan, karena
dua pihak itu saling setuju untuk melakukan sesuatu.
Pemberian kuasa adalah suatu persetujuan dengan mana seorang
memberikan kekuasaan kepada seorang lain yang menerimanya, untuk atas
namanya menyelenggarakan suatu urusan. Dari rumusan Pasal 1792 KUH-Perdata
tersebut, dapat diambil beberapa hal yang menjadi unsur dari pemberian kuasa,
yaitu :
a) Pemberian kuasa tersebut merupakan suatu perjanjian;
7 Ibid. Halaman. 30
8

b) Adanya penyerahan kekuasaan atau wewenang dan pemberi kuasa kepada


penerima kuasa;
c) Adanya perwakilan, yaitu seseorang mewakili orang lain dalam mengurus
suatu kepentingan
Pemberian kuasa yang umum dikenal oleh masyarakat karena seringkali
dijumpai dalam kehidupan bermasyarakat. Macam pemberian kuasa itu dapat
ditinjau dari berbagai sebab yaitu :
a) Dari sifat perjanjiannya, maka pemberian kuasa dapat merupakan pemberian
kuasa umum maupun pemberian kuasa khusus. Yang dimaksud dengan
pemberian kuasa umum adalah pemberian kuasa yang dirumuskan dalam katakata umum, hanya meliputi perbuatan pengurusan. Misalnya untuk memindah
tangankan benda atau untuk sesuatu perbuatan lainnya yang hanya dapat
dilakukan oleh seorang pemilik harus dilakukan dengan kata-kata yang tegas.
Demikian bunyi Pasal 1795 sampai 1796 KUH- Perdata Sedangkan pemberian
kuasa khusus adalah pemberian kuasa mengenai hanya satu kepentingan
tertentu atau lebih. Untuk melakukan perbuatan tertentu diperlukan pemberian
kuasa khusus yang menyebutkan perbuatan yang harus dilakukan, yaitu
misalnya untuk menjual rumah
b) Dari cara pemberian kuasa itu dapat diberikan, Pemberian kuasa yang
diberikan dengan akta resmi adalah dinyatakan dalam Pasal 1171 ayat (2)
KUH-Perdata yaitu pemberian kuasa untuk memasang hipotik harus
dinyatakan dilakukan dengan akta resmi yaitu dengan akta otentik didepan
pejabat umum. Dalam hal pemberian kuasa dengan akta resmi ini juga disebut

dalam Pasal 1683 ayat (1) yaitu mengenai penerimaan suatu hibah harus
dilakukan dengan akta otentik
c) Dari cara bertindaknya sipenerima kuasa, Sipenerima kuasa bertindak atas
namanya sendiri. Hal itu dapat kita lihat pada seorang komisioner yang
bertindak seolah-olah perbuatan hukum yang dibuatnya itu adalah untuk
kepentingannya sendiri . Sipenerima kuasa bertindak atas nama orang lain.
Contohnya makelar, dimana perbuatannya dilakukan untuk kepentingannya
orang lain dan disaat melakukan tugasnya itu terhadap pihak ketiga ia
menyebutkan bahwa ia bertindak atas perintah tuan X misalnya.
Berakhirnya pemberian kuasa karena ditariknya kembali kuasa oleh
pemberi kuasa, mengandung prinsip bahwa kuasa dapat ditarik setiap saat bila
dikehendaki. Bahkan Pasal 1814 KUH-Perdata memberikan kemungkinan
penarikan atau pencabutan kembali kuasa secara paksa, asalkan ada alasan untuk
itu. Bila ternyata penerima kuasa tidak mau mengembalikan secara sukarela maka
dapat dipaksa dengan peran hakim.
Dalam hal meninggalnya pemberi kuasa dan si penerima kuasa tidak tahu
akan hal itu, dan terus melakukan tugasnya selaku kuasa, maka perbuatannya itu
tetap sah (Pasal 1818 ayat (1) KUH-Perdata). Tetapi jika yang meninggal dunia
adalah si penerima kuasa mulak maka, ahli waris dan si penerima kuasa harus
memberitahukannya kepada pemberi kuasa dan sedapat mungkin melakukan
tindakantindakan seperlunya untuk kepentingan pemberi kuasa.
2. Perjanjian Jual Beli

10

Istilah perjanjian jual beli berasal dari terjemahan contract of sale. Perjanjian jual
beli diatur dalam pasal 1457 samapi dengan pasal 1540 KUHPerdata jual beli
(menurut BW) adalah suatu perjanjian timabal balik dalam mana piahk yang satu
(penjual) berjanji untuk menyerahkan hak milik atas suatu barang, sedang pihak
yang lainnya (sipembeli) berjanji untuk membayar harga yang terdiri dari atas
sejumlah uang sebagai imbalan dari perolehan hak milik tersebut.
Unsur-unsur pakok dalam perjanjian jual beli adalah barang dan harga.
Dimana pertama-tama antara penjuan dan pembeli harus ada akata sepakat tentang
harga dann benda yang menjadi objek jual beli. Sesuai dengan asas
konsensualisme yang menjiwai hukum perjanjian BW, perjanjian jual beli itu
sudah dilahirkan pada detik tercapainya sepakat mengenai barang dan harga.
Begitu kedua belah pihak telah setuju dengan barang dan harg, maka lahirlah
perjanjian jual beli yang sah. Sifatnya konsensual dari perjanjian jual beli tersebut
ditegaskan dalam pasal 1458 yang berbunyi jual beli dianggap sudah terjadi
antara kedua belah pihak seketika setelah mereka mencapai sepakat tentang
barang dan harga, meskipun barang ini belum diserahakn maupun harganya belum
dibayar.
Penyerahan adalah pemindahan benda yang dijual kedalam kekuasaan
pembeli. Penyerahan ini harus memperhatikan jenis bendanya, apakah benda
bergerak atau benda tidak bergerak, karena apabila benda bergerak, penyerahan
nyata dan penyerahan juridis adalah satu tindakan, sedangkan untuk benda

11

bergerak, maka perlu diperhatikan pasal 612,613,616 KUHPerdata. Juga disini


berlaku ketentuan bahwa jual beli milik orang lain tidak sah.
Pada dasarnya semua orang atau badan hukum dapat menjadi subjek
hukum dalam perjanjian jual beli, yaitu bertindak sebagai penjual atau pembeli
dengan syarat yang bersangkutan telah dewasa dan atautelah menikah. Namun
secara yuridis ada beberapa orang yang yang tidak diperkenankan untuk
melakukan perjanjian jual beli.
Objek jual beli dalam jual beli adalah semua benda bergerak dan tidak
bergerak, baik menurut tumpukan, berat, ukuran, dan timbangannya, sedangkan
yang tidak diperkenankan untuk di perjual belikan adalah :
a) Benda atau barang orang lain
b) Barang yang tidak dperkenankan oleh undan-undang. Seperti;obat terlarang
c) Bertentangan dengan ketertiban, dan
d) Kesusilaan yang baik
Ketentuan pasal 1481 KUHPerdata menentukan bahwa kebendaan yang
dijual harus di serahkan, dalam keadaan seperti pada waktu penjualan dilakukan
ketentuan tersebut memberikan arti bahwa keadaan kebendaan pada saat
penyerahan dilakukan haruslah sesuai dengan saat kebendaan tersebut dijual.
Dengan keadaan yang demikian, berarti dapat dimintakan pertanggungjawaban
atas kewajiban penjual untuk memelihara dan merawat kebendaan hingga saat
12

penyerahan. Ini berarti meskipun jual beli telah berlaku secara sahpada saat
penjual dan pembeli mencapai kata sepakat mengenai kebendaan yang di jual dan
harga pembelian kebendaan, selama kebendaan belum diserahkan, maka segala
hasil dan pendapatan yang diperoleh dari kebendaan tersebut masihlah menjadi
milik dari penjualdengan demikian tepatlah rumusan pasal 1481 ayat 2 yang
menyatakan sejak waktu itu (waktu penyerahan) segala hal menjadi kepunyaan
pembeli.
Berdasarkan pasal 1482 KUHPerdata yang merupakan pelaksanaan dari
ketentuan umum yang diatur dalam pasal 1339 KUHPerdata yang berbunyi :
perjanjian-perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas
dinyatakan di dalamnya, melainkan juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat
perjanjian diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang.
3. Kuasa Substitusi
seseorang tidak dapat menjalankan suatu urusan, maka alternatifnya adalah
menunda urusan tersebut sampai ia mampu melakukannya sendiri atau
mewakilkan kepada orang lain untuk melakukannya. Mewakilkan kepada orang
lain untuk menjalankan suatu urusan itulah yang dalam bahasa sehari-hari dikenal
dengan pemberian kuasa. Terdapat beberapa pengertian tentang surat kuasa dan
masalah-masalah yang perlu dibahas dalam surat kuasa yang ada hubungannya
dengan kegiatan kita sehari-hari baik secara yuridis maupun dalam kenyataan
dilapangan. Berikut ini penulis sengaja menyajikan pembahasan tentang

13

pemberian kuasa (surat kuasa) dalam bentuk tanya jawab guna lebih
mempermudah para pembaca untuk memahaminya.
Pemberian kuasa secara sosiologis, dapat dikatakan sebagai lembaga yang
terbentuk didalam kehidupan kemasyarakatan, yang kemudian dituangkan dalam
peraturan yang disahkan negara atau dalam undang-undang. Sebagai suatu
lembaga, pemberian kuasa dapat disejajarkan dengan hak milik, jual beli, dan
lain-lain yang kesemuanya itu tumbuh sebagai suatu kebiasaan yang ada dalam
masyarakat.
Kuasa Substitusi adalah penggantian penerima kuasa melalui pengalihan.
Atau dengan kata lain bahwa Kuasa Substitusi adalah Kuasa yang dapat
dikuasakan kembali kepada orang lain. Misalnya Pemimpin Cabang BRI
mendapat Kuasa dari Direksi untuk menandatangani SKMHT kemudian Pinca
tersebut memberikan kuasa kembali kepada Kaunit untuk menandatangani
SKMHT yang dibuat untuk masing-masing nasabah yang ada di BRI Unit masingmasing.
Pada pelaksanaan perjanjian mengenai kuasa melalui ketentuan yang ada
pada Pasal 1803 KUH Perdata menegaskan bahwa Si Kuasa bertanggungjawab
untuk orang yang telah ditunjuk olehnya sebagai penggantinya dalam
melaksanakan kuasanya.
Pasal tersebut menghendaki apabila pengangkatan kuasa substitusi tidak
diperbolehkan atau tidak mendapat persetujuan dari Pemberi Kuasa (pemberi
kuasa pertama kali sebelum terbit kuasa substitusi) dan apabila pengangkatan
kuasa substitusi telah mendapat wewenang dari Pemberi Kuasa tanpa menentukan

14

siapa orangnya, ternyata orang tersebut tidak cakap atau tidak mampu maka hal
tersebut menjadi tanggung jawab dari Pemberi Kuasa substitusi.
Status dari surat kuasa penting dalam keberadaanya dapat dilaksanakan
sepenuhnya. Surat kuasa adalah termasuk dalam perjanjian yang akan
menimbulkan perikatan yaitu hak dan kewajiban antara dua pihak yaitu pihak
pemberi kuasa di satu sisi dan pihak penerima kuasa dilain pihak. Surat Kuasa
merupakan suatu perjanjian maka syarat syahnya bukan ditentukan ada atau tidak
adanya meterai. Karena merupakan perjanjian maka untuk syarat syahnya sudah
diatur dalam pasal 1320 KUH Perdata tentang syarat syahnya suatu perjanjian,
yaitu: Cakap, Sepakat, Hal tertentu dan Causa yang halal8.
SK Substitusi (pengganti) bagi pihak ketiga sebagai ganti penerima kuasa
guna mewakili pemberi kuasa. Secara singkat, posisinya menjadi: pemberi kuasa
SK, penerima kuasa, SK Substitusi, penerima kuasa substitusi, mewakili pemberi
kuasa sekaligus mewakili pemberi kuasa substitusi (tanpa menghilangkan
tanggung jawab pemberi SK Substitusi kepada pemberi kuasa).
Secara lebih sederhana, dapat dianalogikan dengan suatu proyek
pengerjaan yang di-subkontrakkan, demikianlah konstruksi suatu SK Substitusi.
Sehingga SK Substitusi pada dasarnya bukanlah suatu SK yang berdiri sendiri, ia
menginduk pada suatu perjanjian pokoknya, yakni SK asal/semula, dan SK
Substitusi hanya berperan sebagai perjanjian turunan yang membawa konsekuensi
SK Substitusi menjadi turut gugur pula bila SK asal/semula gugur. Jika SK
Substitusi diberlakukan, penerima kuasa awal/asal/semula tetap bertanggung
8 Retnowulan Sutantio, 2002, Hukum Acara Perdata Dalam Teori Dan Praktek ,
C.V. Mandar Maju, Bandung. Halaman. 124
15

jawab atas setiap tindakan hukum penerima SK Substitusi, baik sengaja maupun
lalai. Logika dibalik konsekuensi demikian adalah wajar, dimana dalam SK
awal/semula tidak disebutkan siapakah yang dikemudian hari akan menjadi
penerima SK Substitusi, berkompetens ataukah tidak, disukai pemberi kuasa atau
tidaknya, atau bahkan penerima SK Substitusi adalah pihak yang tidak
berkompeten/tidak cakap/tidak mampu. Untuk SK yang berasal dari luar
yurisdiksi Indonesia yang akan digunakan di Indonesia, maka prasyarat yang
dibutuhkan adalah dengan melegalisir/dibuat dalam akta notaris SK tersebut pada
notaris negara asal, kemudian dilegalisasi oleh KBRI negara tersebut. Sementara
bila dalam sebuah SK terdapat lebih dari seorang penerima kuasa, maka perlu
dipertimbangkan oleh pemberi kuasa mengenai tindak lanjut pokok kuasa di
dalamnya.
Kewajiban dari pemberi kuasa diatur dalam Pasal 1807 1812, dimana
kewajiban dari pemberi kuasa adalah sebagai berikut : Pemberi kuasa diwajibkan
untuk memenuhi perikatan-perikatan yang dibuat oleh penerima kuasa menurut
kekuasaan yang telah diberikan kepadanya. Pemberi kuasa wajib untuk
mengembalikan biaya-biaya yang telah dikeluarkan si penerima kuasa selama ia
diberikan kuasa untuk mengurus segala urusan-urusan yang dimiliki oleh si
pemberi kuasa, serta si pemberi kuasa wajib untuk membayar upah kepada si
penerima kuasa apabila hal ini telah diperjanjikan sebelumnya.
Kuasa dapat diberikan dan diterima dalam suatu akte umum, dalam suatu
tulisan dibawah tangan, bahkan dalam sepucuk surat ataupun dengan lisan.
Penerimaan suatu kuasa dapat pula terjadi secara diam-diam sesuai dengan

16

ketentuan yang ada dalam Pasal 1793 BW. Dari ketentuan ini dapat kita lihat
bahwa pemberian kuasa itu adalah bebas dari sesuatu bentuk cara (Formalitas)
tertentu ; dengan perkataan lain, ia adalah suatu perjanjian konsensual artinya
sudah mengikat (sah) pada saat tercapainya kata sepakat antara si pemberi dan
penerima kuasa.

F. Metode Penelitian.
Metode penelitian diperlukan untuk mengetahui cara memperoleh data dan
keterangan dari suatu objek yang diteliti. Guna tercapainya dari penelitian ini
maka diupayakan pengumpulan data yang baik dan layak, yang dilakukan
meliputi :
1. Sifat dan materi penelitian.
Penelitian skripsi ini merupakan penelitian empiris penelitian dilakukan
terhadap fakta-fakta/peristiwa yang berkaitan dengan permasalahan skripsi
ini.
2. Sumber Data.
Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data skunder
yaitu data yang diproleh dari bahan kepustakaan dengan membaca dan
mengkaji bahan-bahan kepustakaan. Data skunder dalam penelitian terdiri
dari bahan primer, bahan sekunder dan bahan tertier. Bahan primer berupa
norma dasar, Yurisprudensi dan Traktat dan berbagai peraturan sebagai
peraturan organiknya. Bahan sekunder berupa rancangan peraturan, buku-

17

buku hasil karya para sarjana dan hasil-hasil penelitian sebelumnya yang
berkaitan dengan masalah yang diteliti.
Data skunder yang dibutuhkan bersumber dari :
a. Bahan hukum primer yaitu peraturan konvensi, yang mana dalam
penelitian ini dipakai dalam skripsi ini bahan yang digunakan penulis
yakni buku-buku tentang perjanjian jual beli melalui kuasa substitusi.
b. Bahan hukum sekunder meliputi ruang lingkup yang luas, sehingga
meliputi hasil penelitian-penelitian sebelumya yang berkaitan dengan
masalah ini, makalah-makalah pribadi, buku-buku hasil karya para
sarjana.
c. Bahan hukum tersier meliputi bahan yang memberikan petunjuk maupun
3.

penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti internet


Alat Pengumpul Data.
Alat yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah studi
dokumen dengan penelitian kepustakaan. Dengan metode ini data
dikumpulkan melalui bahan-bahan kepustakaan, beberapa buku-buku,
majalah, dokumen-dokumen serta sumber-sumber teoritis lainnya, dan hasil
dari penelitian ini sebagai dasar penyelesaian dari pokok masalah dalam

4.

skripsi ini.
Analisis Data.
Data yang diproleh dari studi pustaka kemudian akan dianalisis secara
kualitatif yang akan diuraikan secara deskriktif analisis. Berdasarkan
pemikiran tersebut metode kualitatif yang dipakai dalam penelitian ini
bertujuan

untuk

menginterprestasikan

secara

kualitatif,

kemudian

mendeskriptifkannya secara lengkap dan mendetail aspek-aspek tertentu yang

18

berkaitan dengan pokok permasalahan yang selanjutnya dianalisis untuk


mengungkapkan kebenaran dan memahami kebenaran tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Buku-Buku
Amiruddin dan Zainal Asikin .2006. Pengantar Metode Penelitian Hukum.
Jakarta: Kencana Bahar,
Muljadi, Kartini & Widjaja, Gunawan. 2003. Perikatan Yang Lahir dari
Perjanjian, PT. RadjaGrafindo Persada, Jakarta
M.Yahya Harahap, 1986. Segi-segi Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung,
Prodjodikoro, Wirjono, 1981. Hukum Perdata Tentang Persetujuan-Persetujuan
Tertentu. Sumur. Bandung,
Retnowulan Sutantio, 2002, Hukum Acara Perdata Dalam Teori Dan Praktek ,
C.V. Mandar Maju, Bandung
R. Subekti 1995.Aneka Perjanjian .Citra Aditya Bakti, Bandung.
Tirtaamidjaja, 1970, Pokok-Pokok Hukum Perniagaan, Djambatan, Jakarta
Wirjono Prodjodikoro S.H. 1981. Hukum Perdata tentang PersetujuanPersetujuan Tertentu Cet Ke VII ,Sumur, Bandung
Undang-Undang
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Undang-Undang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehankiman, UndangUndang.35, No. 15 tahun 1970 Indonesia,

19

Anda mungkin juga menyukai