Anda di halaman 1dari 155

PP 46 Wajib Lapor SPT Masa Atau Tidak?

Tarif Pajak

Sep 22, 2013


36 6871
Artikel ini saya buka dengan pertanyaan dari salah satu pembaca (rekan coco)
saudara Dwi, bbrp hari lalu saya sdh ajukan. surat pbk ke 411128-420, saya dpt bukti
penerimaan surat, sedangkan hasilnya maks 30hari dan dikirim ke alamat yg tertera.
Ketika saya tanyakan krg byr(0,25%) yg hrs saya setor ke bank , apakah perlu saya laporkan ke
kpp beserta bukti pbk (stlh sy terima) dg form spt masa pph final psl 4(2) , petugas bilang tdk
usah, saya jd bingung, bisakah diperjelas saudara Dwi, apakah pelaporan pbk beserta ssp krg byr
bukan keharusan? terima kasih
Bagi sebagian pembaca pasti ada yang bertanya-tanya, siapa yang salah dari kejadian diatas?
Apakah KPP bersalah melarang WP melaporkan SPT PPh 4 (2)? Tidak salah
Apakah WP salah karena tidak melapor SPT masa? Juga Tidak Salah
Apakah isi blog saya salah tentang pelaporan SPT PPh Final 4 (2)? Tidak salah juga hehehe..
Daripada bingung akan saya perjelas dibawah ini
PP 46 TIDAK WAJIB Lapor SPT Masa Jika:
1. Wajib Pajak pada bulan tersebut tidak mempunyai omset/NIHIL (SE-42/PJ/2013 huruf F
angka 5) saat ini sudah diberlakukan
2. WP dengan omzet tertentu yang telah menyetor PPh Pasal 4 (2) dan telah divalidasi oleh
Kas Negara tidak perlu melaporkan SPT Masa (PMK 107/PMK.011/2013 pasal 10 ayat 3
dan SE-42/PJ/2013 huruf E angka 12) saat ini sudah diberlakukan
Pada 2 poin diatas jelas terjawab ya kenapa KPP membolehkan WP untuk tidak menyampaikan
SPT Masa, karena SSP PPh Final 1% (atas kekurangan 0,25%) pastinya sudah divalidasi dan
otomatis sudah dianggap lapor juga, sedangkan bukti Pbk nantinya akan diinput oleh petugas
KPP dan menambah dari SSP Final 1% sehingga jumlahnya pas.
PP 46 WAJIB lapor SPT Masa (2) jika:
1. Wajib Pajak yang menyetor Pajak Penghasilan yang bersifat final tetapi SSP-nya TIDAK
MENDAPAT VALIDASI dengan NTPN, wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan

Masa Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) ke Kantor Pelayanan Pajak sesuai tempat
kegiatan usaha Wajib Pajak terdaftar (SE-42/PJ/2013 huruf F angka 4) saat ini sudah
diberlakukan
2. Wajib Pajak yang melakukan pembayaran Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud
(menyetor sebelum tanggal 15 dan mendapat validasi berupa nomor NTPN), wajib
menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan paling lama 20 (dua puluh)
hari setelah Masa Pajak berakhir. TETAPI ketentuan ini berlaku mulai Masa Pajak
Januari 2014 (SE-42/PJ/2013 huruf E angka 10,11) saat ini belum diberlakukan tunggu
tahun depan
KENAPA postingan saya menegaskan harus lapor SPT Masa PPh Final 1%?
Jika dilihat ketentuan TIDAK WAJIB lapor diatas, akan sangat memungkinkan WP tidak lapor
SPT Masa dengan alasan:
tidak ada omset sehingga tidak ada pajak yang disetor, sehingga tidak lapor SPT Masa (apa iya?
bisa jadi tidak setor karena masih belum tahu tentang PP 46 ini)
Bagaimana caranya KPP mengetahui WP tersebut omsetnya sedang kosong atau tidak? Salah
satunya dengan melihat pelaporan omset di SPT Masa
Jika tidak lapor SPT masa bagaimana KPP tahu? AR akan menelepon, mengunjungi lokasi kerja,
acara lain atau mengirim surat untuk mengonfirmasi apakah WP tersebut tidak setor 1% karena
memang sedang tidak ada usaha atau lupa atau tidak tahu.
Nahh.. Karena itulah saya menegaskan lapor saja SPT masa-nya sekalipun nihil ataupun ada
setoran dengan NTPN. Gak masalah seharusnya bisa diterima oleh petugas pelayanan KPP
karena dengan WP lapor maka akan mempermudah pengawasan WP. Tetapi kembali ke kasus di
atas, ada KPP yang tidak mengharuskan WP lapor SPT Masa, ya rekan Coco bisa turuti saja
karena jawaban dari KPP diatas tidak bertentangan dengan aturan.
Apakah saat ini kami wajib lapor SPT masa? Saat ini (masa Juli-Desember 2013) tidak
wajib lapor SPT Masa dengan catatan SSP telah dibubuhi dengan no NTPN, tetapi mulai
masa januari 2014 wajib lapor SPT masa.
Pak Dwi, jika pph pasa 4 ayat 2 PP 46 sudah final dan dilaporkan tiap bulan, apakah pd akhir
thn
juga harus dilaporkan SPT masa ? terima kasih.
Balas

Dwi Utomo Jan 20, 2015 at 09:52

Pak Yohan
Lebih tepatnya nanti pas SPT tahunan PPh OP juga dilaporkan namun jika nggak ada
sumber penghasilan lainnya di SPT Tahunan hasilnya akan nihil.
Balas

siti Nov 20, 2014 at 17:39

Selamat sore pak, saya ingin menanyakan pak saya baru pertama kali bayar pajak ini. kemarin
saya ke KPP untuk melapor PPH final 1% tapi di tolak oleh KPP nya soalnya sudah terlapor saat
pembayaran pajak di bank. jadi kemarin saya hanya melapor PPH psal 21 saja . itu bagaimana ya
pak ? jelas oleh orang KPP nya di tolak tapi mulai Januari 2014 wajib lapor SPT massa
.

yang salah siapa ini ? mohon pencerahannya pak . Terimakasih


Balas

Dwi Utomo Nov 21, 2014 at 13:14


Selamat sore bu Siti
Tidak ada yang salah disini, yang salah adalah kalau ibu Siti nggak setor 1% padahal ada
omset usaha. Pada PP 46 ini tidak wajib lapor SPT masa PPh final jika sudah disetor dan
sudah terbit NTPN. Jadi simpan baik-baik tanda setornya untuk keperluan administrasi
pajak jika dibutuhkan. Ibu bisa telpon ke KPP terdaftar dan minta contact person AR bu
Siti jika kesulitan datang langsung.
Balas

graceroom Jun 17, 2014 at 19:51

Dear Pak Dwi,


untuk pelaporan SPT Masa atas PP 46 ini, berarti dilaporkan sebagai SPT Masa PPH pasal 4 (2)
ya?
Balas

Irfan Hartono Jun 19, 2014 at 16:14


untuk PP 46, jika pembayarannya sudah mendapatkan kode Nomor Transaksi Penerimaan
Negara (NTPN) dari tempat pembayaran (kantor Pos/ Bank ) maka tidak perlu melapor
lagi. dengan setor saja sudah dianggap melapor juga. Demikian.
Balas

Ajimi Jun 14, 2014 at 05:31

Apakah saat ini kami wajib lapor SPT masa? Saat ini (masa Juli-Desember 2013) tidak wajib
lapor SPT Masa dengan catatan SSP telah dibubuhi dengan no NTPN, tetapi mulai masa januari
2014 wajib lapor SPT masa.
Salam mas dwi, mengenai pernyataan diatas, mulai tahun 2014 kami telah menyetor SSP PPH
psl 4 (2) dan mendapatkan NTPN, apakah kami perlu melaporkan SPT Masa PPH pasal 4 (2)
untuk tahun 2014 ini? Trims atas jawabannya
Balas

Nektarina May 23, 2014 at 15:36

Siang Pak Dwi,


Kami baru mengajukan SKB di bulan April 2014, dan di bulan-bulan sebelumnya kami telah
dipotong 2% PPh Psl 23 dari klien kami. Hingga saat ini kami belum setor PP46 yang 1%,
karena masih bingung prosedurnya. Pertanyaan:
Apakah PPh 23 tsb bisa jadi kredit pajak thn. 2014? Tidak bisa PBK kan kah?
Karena belum setor PP46, apakah ada sanksi-nya?
Terima kasih sebelumnya.
Balas

Dwi Utomo May 23, 2014 at 16:44


Selamat sore bu Rina ya

o Iya PPh 23 sebelum tanggal SKB terbit akan menjadi kredit pajak dan tidak bisa
di Pbk kecuali transaski PPh 23nya hanya kepada perusahaan ibu aja
o Misalkan pada januari sebenarnya ada omset namun baru disetor mei, maka kena
sanksi 2% x 3 bulan x pajaknya
Salam
Balas

Ares May 22, 2014 at 13:43

Siang Pak,
Untuk PP 46 nihil, perlu dilapor juga gak?
Thx pak
Balas

Dwi Utomo May 23, 2014 at 09:06


Nggak perlu kalau nihil pak, kecuali bapak ikut tender dan minta tanda lapor 3 bulan
terakhir gpp bisa dilaporkan
Balas

Ares May 22, 2014 at 13:39

Dear Pak Dwi,


Untuk plaporan spt masa PP46 ke KPP, apa saja yang harus dilampirkan? apa cukup dengan
SSP?
Thx pak,
Salam
Balas

Dwi Utomo May 23, 2014 at 09:05


SSP saja pak Ares untuk lampirannya

Balas

ria Mar 11, 2014 at 23:14

Dear Pak Dwi


kami sudah mengajikan SKB untuk tidak dipotong pph 23, pada thn 2013 SKB tersebut keluar
bulan nop 2013, sedangkan dari klien kami kami tetap dipotong pph ps.23 karena pemotongan
tersebut sehingga kami blm setor pph final yg 1% dari Omzet Juli-Des13. untuk melakukan
PBK ke pph final kan diperlukan ssp lembar pertama dan itu sangat sulit kami dapatkan.
bolehkah PBK menggunakan bukti potong pph 23 dari Juli -Des 13. kalalu booleh bagaimana
caranya yah kalaupun tidak bisa bolehkan perusahaan kami yg dengan omzet < 4.8 M tetep
menggunakan perhitungan seperti biasa 50% x 25% x laba setahun, mohon pencerahannya
segera
Balas

Dwi Utomo Mar 12, 2014 at 16:00


Dear rekan Ria
Sayangnya untuk PPh 23 tidak bisa di-Pbk-kan karena SSP dari klien itu adalah rekapan
dari semua PPh 23 bulan tsb jadi NPWP yg dipakai setor adalah milik si klien bukan
NPWP perusahaan Saudara. Akhirnya PPh 23 tsb menjadi kredit pajak dan untuk bulan
yg belum setor 1% (jul-des) harus disetorkan juga sekalipun sudah terlanjur dipotong.
Untuk tarifnya ya atas laba jan-jun saja sesuai ketentuan
Balas

Soni Jan 16, 2014 at 16:15

Apakah saat ini kami wajib lapor SPT masa? Saat ini (masa Juli-Desember 2013) tidak wajib
lapor SPT Masa dengan catatan SSP telah dibubuhi dengan no NTPN, tetapi mulai masa januari
2014 wajib lapor SPT masa.
Selamat siang Pak Dwi,
Apakah untuk SSP Januari 2014 yang sudah mendapat NTPN wajib untuk menyampaikan SPT
Masa? Saya agak bingung dengan SE nya. Mohon pencerahannya. terima kasih.
Balas

Irfan Hartono Jan 16, 2014 at 16:34


Wajib Pajak yang telah melakukan penyetoran PPh Final berdasarkan PP Nomor 46
Tahun 2013, dianggap telah menyampaikan SPT Masa PPh Final Pasal 4 ayat (2), sesuai
dengan tanggal validasi NTPN yang tercantum pada SSP. Sedangkan yang tidak
mendapat validasi dengan NTPN, wajib menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2)
ke KPP sesuai tempat kegiatan usaha WP terdaftar dengan mengisi baris pada angka 11
formulir SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2)
Balas

01:10

PP 46 Wajib Lapor SPT Masa Atau Tidak? | PAJAK INDONESIA Dec 28, 2013 at

[] sumber : http://amsyong.com/2013/09/pp-46-wajib-lapor-spt-masa-atau-tidak/ []
Balas

novi Dec 18, 2013 at 11:22

Pg Pak Dwi,
Suami saya punya usaha dan dia binggung bagaimana lapor pajak krn penghasilan per bln < dari
5 juta. Yg saya tanyakan apa penghasilan < 5 juta per bulan tetap x 1 %?
Balas

Dwi Utomo Dec 18, 2013 at 15:39


Sore bu Novi
Iya tetap sekalipun penjualannya kecil tetap dikalikan 1%
Balas

qiu Dec 9, 2013 at 20:46

Pa dwi saya dokter tapi ada usaha apotik. Pph mana yg digunakan ya pa?

Balas

Dwi Utomo Dec 9, 2013 at 21:51


Malam pak
Untuk dokter ada beberapa jenis sumber penghasilan, silahkan disesuaikan dengan
kondisi bapak
1.Jika dokter merangkap sebagai PNS atau dokter swasta di RS, maka dipotong PPh 21,
mintalah bukti potong tsb untuk dilampirkan di SPT Tahunan
2.Jika dokter bekerja dengan membuka praktek sendiri, maka atas penghasilan tsb
dihitung dengan norma
3.Untuk apotek, jika omsetnya <4,8M maka dihitung dengan setor tarif 1% (PP 46)
Kompleks juga jenis pajaknya pak
Balas

ARIF Nov 27, 2013 at 16:25

siang P Dwi
kalo bayar di kantor pos trus ada bukti pembayaran dari kantor pos disitu tertera NTPN, apa
sama saja dengan NTPN yang di SSP, ? trima kasih pak
Balas

Dwi Utomo Dec 2, 2013 at 16:24


Sore pak Arif
Sama saja pak, baik NTPN dari pos, bank persepsi, struk ATM, billing system semua
sama dan sah.
Balas

Paryono Nov 25, 2013 at 14:29

Dear Bapak Pengasuh

Perusahaan kami berdiri Maret 2011, tahun 2011 dan 2012 operasi belum maksimal sehingga
omset kami tidak sampai 4,8 Milyar.
Pertanyaan saya, jika omset sampai bulan November 2013 ini sudah melampaui 4,8 M apakah
kami tetap dikanakan PPh Final 1 % untuk bulan Juli sd Desember tahun 2013 ini?
Terima kasih
Paryono
Balas

Dwi Utomo Nov 25, 2013 at 14:38


Dear pak Yono
Iya pak, katakanlah hingga november saat ini omset perusahaan sudah 5M, maka
kewajiban setor 1% masih berlaku hingga masa desember 2013, barulah nanti sejak
januari 2014 angsur/setor PPh 25 lg. Jika nanti omset 2014 hanya 3M, maka sejak januari
2015 setor 1% lagi. Begitu seterusnya.
Balas

Danar Sugiantoro Nov 22, 2013 at 18:33

Dear Bpk Dwi Utomo.


Perusahaan kami baru berdiri di bulan Agustus 2013.
1. Kami belum ada omzet, pkp sudah dikukuhkan dan no seri pajak sudah dapat.
mulai kapan kami sampaikan Spt M PPN nya?
2. Bolehkah mengajukan SKB PPh 23 sedangkan kami belum bayar PPh final 1 %.
3. Aktiva tetap yg kami beli sudah kami susutkan di Sep, bolehkah kami susutkan di Jan 14,
krn kalau kami susutkan di sep 13, akan mubazir krn sampai akhir tahun kami termasuk dalam
PP 46 tsb.
Best Regard,
Danar
Balas

Dwi Utomo Nov 22, 2013 at 20:35

Dear pak Danar


1.Kewajiban lapor SPT Masa PPN (terlepas dari belum ada omset) adalah sejak bulan
diterbitkannya Surat pengukuhan PKP. Misal diterbitkannya di bulan agustus, maka
lapornya mulai masa agustus.
2.Harus diketahui dulu pak, apakah benar usaha pak Danar ikut PP 46 atau tidak. Caranya
adalah dengan menyetahunkan omset yang diterima pada bulan pertama kali. Misal
November ini Pak Danar terima penghasilan 500jt, maka 500jtx12=6M, karena lebih dari
4,8M jadinya tidak wajib setor 1%. Dan lagi syarat permohonan SKB PPh adalah dengan
melampirkan buku kontrak/tender, jadi tanpa itu juga kemungkinan besar SKB ditolak.
3.Secara akuntansi tetap disusutkan pak, saya masih belum paham ruginya dimananya
atas penyusutan tsb?
Cheers
Balas

Danar Sugiantoro Nov 25, 2013 at 14:02

Dear Pak Dwi,


sebelumnya terimakasih atas penjelasannya.
Kami bergerak di bidang penyewaan komputer , software dan jasa service. Surat
atau tender dalam bentuk apa yang bisa kami lampirkan untuk permohonan skb
tsb pak?
Tanpa biaya penyusutan saja, 2013 sudah di bawah omzet 4,8 M, apakah ndak
bisa kita akuin di 2014 saja, sehingga bisa mengurangi omzet di 2014 , sehingga
masuk PP 46 lagi ..
Regards,
Danar
Balas

Dwi Utomo Nov 25, 2013 at 14:09


1.Untuk dokumen lampiran SKB bisa menggunakan buku kontrak, SPK,
adendum, keterangan pemenang tender, perjanjian jual beli dsb ya yg
mirip-miriplah pak

2.Jika secara akuntansi komersil bisa digeser ke tahun depan, silahkan saja
pak. Saran saya tetap disusutkan sejak sekarang.
Balas

Danar Sugiantoro Nov 25, 2013 at 14:25

Dear P Dwi,
Matur nuwun sanget pak.
moga Sukses tugas ten Timika. Amin.
Salam,
Danar.
Balas

Dwi Utomo Nov 25, 2013 at 14:33

Inggih maturnuwun pak danar, sukses pisan kangge njenengan.


Balas

Abams Nov 15, 2013 at 15:06

Rekan Dwi, bagaimana perlakuan PP 46 terhadap wp Badan, apakah sama? lalu bagaimna
dengan tarif PPh badan 25%..?? tolong dibantu y,, tks.
Balas

Dwi Utomo Nov 16, 2013 at 12:11


Sama pak Abams, baik kriteria, cara setor, cara lapor.
Tarif PPh badan 25% tetap diterapkan pada omset jan-jun saja atau laba semester 1. Jika
usaha bapak tergolong yang mendapat fasilitas pengurangan 50%, maka laba semester 1 x
50% x 25%= pajak terutang 2013.

Balas

coco Sep 22, 2013 at 17:50

Terima kasih penjelasannya saudara Dwi. ^^


Balas

Dwi Utomo Sep 22, 2013 at 19:27


Sama-sama rekan ^

Pajak 1% ? Saatnya Anda Tahu! PP 46 Tahun 2013 Apakah Saya Wajib Kena? (2)

Tarif Pajak

Aug 3, 2013
207 54391
Apa yang dikenai pajak/objek pajak berdasarkan PP 46 Tahun 2013?

Penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak dengan
peredaran bruto (omzet) yang tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 tahun
pajak.

Lebih detail objeknya?


1. peredaran bruto (omzet) merupakan jumlah peredaran bruto (omzet) semua
gerai/counter/outlet atau sejenisnya baik pusat maupun cabangnya.
2. Usaha meliputi usaha dagang dan jasa, seperti misalnya toko/kios/los
kelontong, pakaian, elektronik, bengkel, penjahit, warung/rumah makan,
salon, dan usaha lainnya.
Berapa tarifnya?

Pajak yang terutang dan harus dibayar adalah 1% dari jumlah peredaran
bruto (omzet)

Siapa yang dikenai pajak/subjek pajak berdasarkan PP 46 Tahun 2013?

Orang pribadi

Badan, tidak termasuk Bentuk Usaha Tetap (BUT),

Inti subjek pajaknya ?


1. Yang menerima penghasilan dari usaha dengan peredaran bruto (omzet)
yang tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 (satu) Tahun Pajak.
2. Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila Wajib
Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.
Siapa yang tidak dikenai pajak berdasarkan PP 46 Tahun 2013? (Non
Subjek Pajak)

Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha perdagangan


dan/atau jasa yang menggunakan sarana yang dapat dibongkar
pasang dan menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk
kepentingan umum. misalnya pedagang keliling, pedagang asongan,
warung tenda di area kaki-lima, dan sejenisnya.

Badan yang belum beroperasi secara komersial atau yang dalam jangka
waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh
peredaran bruto melebihi Rp4,8 miliar.

Apa yang dimakud beroperasi secara komersial?

Saat melakukan produksi, saat ada transaksi komersial/pemasukan uang

Bagaimana Ilustrasi Saat Beroperasi Komersial?

Secara garis besar memang WP sampai dengan saat mulai beroperasi masih dikenai tarif umum
PPh, dan jika jangka waktu 1 tahunnya berada di tengah tahun maka diteruskan sampai dengan
akhir tahun pajak.
Misalnya jika mulai beroperasi 1 Agustus 2013 maka sampai dengan 31 Juli 2014 (dan
diteruskan hingga akhir tahun pajak) mendapat kelonggaran untuk menggunakan tarif umum.
Kemudian apakah tahun 2015 menggunakan tarif umum atau final, dilihat dari omset bulan
Januari sampai Desember 2014 (hal ini dituangkan di dalam SE-42).
PP Nomor 46 TAHUN 2013 dan PMK-107/PMK.011/2013 memang tidak mendefinisikan
beroperasi secara komersial, jadi ada 2 opsi, bagi yang melakukan penyerahan jasa atau
perdagangan, terjadi pada saat melakukan penjualan. Kemudian di Contoh Penghitungan Angka
5 Lampiran PMK-107/PMK.011/2013 untuk yang industri, dimulai ketika melakukan produksi.
Contoh lainnya

Jika mulai beroperasi pada 25 Februari 2012, maka 1 tahun SMB-nya jatuh pada 24 Februari
2013. Karena 1 tahun sejak mulai beroperasinya ini tidak melewati masa berlaku PP Nomor 46
TAHUN 2013 (1 Juli 2013), maka seharusnya untuk menentukan pengenaan pajaknya
menggunakan ketentuan Pasal 10 PP Nomor 46 TAHUN 2013, yaitu melihat peredaran bruto
tahun 2012 yang disetahunkan.
Berbeda halnya jika WP mulai beroperasi 1 November 2012. Karena 1 tahun sejak beroperasinya
(31 Oktober 2013) melewati masa berlaku PP Nomor 46 TAHUN 2013, maka pengenaan
pajaknya mengikuti ketentuan Pasal 7 PMK-107/PMK.011/2013. Hal ini memang tidak
disebutkan dalam PP Nomor 46 TAHUN 2013, PMK-107/PMK.011/2013, maupun SE42/PJ/2013. Jadi, jika ada WP menanyakan masalah tersebut sebaiknya meminta penegasan ke
KPP.
Apa Penghasilan Yang Tidak Termasuk Dalam Akumulasi Bruto 4,8M/ penghasilan yang
tidak dikenakan pajak 1%?

Jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 2 ayat (3);

Penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri;

Usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan yang


bersifat final dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
tersendiri; dan

Penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.

FAQs aka TJ
T: Bang, yang dimaksud 1 tahun pajak sebagai dasar/objek pajak saat ini tahun berapa?
J: Untuk tahun pajak 2013 berarti yang dilihat adalah omset tahun lalu (Tahun buku 2012), jika
omset Anda tahun 2012 kurang dari 4,8 M maka Anda perlu wajib PPh Final 1% dan Anda
mulai bayar 1% sejak masa Juli 2013
T: Jadi kalau omset usaha saya tahun 2012 hanya 4 Miliar saya mulai Juli 2013 setor 1% ya?
J: Benar bung, karena masih < dari 4,8 miliar rupiah dalam 1 tahun pajak
T: Bang, saya mulai buka usaha sejak Mei 2013, hingga akhir Juni omset saya Rp. 600.000.000,
apa di masa Juli saya pakai tarif 1%.
J: Gini itungannya, harus disetahunkan dulu.
Omset 2 bulan (Mei-Juni 2013) = Rp. 600.000.000

Omset disetahunkan =Rp600.000.000 x 12/2 = Rp.3.600.000.000 (3,6 miliar )


Karena masih dibawah 4,8 miliar jadi harus pakai tarif 1% final
T: Bang, saya juragan es cendol, punya gerai ada 5, berikut data omset masing-masing gerai
2012
Gerai es cendol A: Omset 2012 = Rp. 600.000.000
Gerai es cendol B: Omset 2012 = Rp. 900.000.000
Gerai es cendol C: Omset 2012 = Rp. 800.000.000
Gerai es cendol D: Omset 2012 = Rp. 800.000.000
Gerai es cendol E: Omset 2012 = Rp. 900.000.000
Untuk tahun 2013 ini saya wajib PPh Final 1% atau tidak? Lokasi semua gerai di Indonesia
J: Berati total omset Saudara 2012 adalah 600jt+900jt+800jt+800jt+900jt=4 miliar rupiah
Saudara wajib setor 1% dari omset
T: Bang, saya pengusaha abon internasional. Ada 3 lokasi jualan abon saat ini, yaitu:
Lokasi I di Surabaya, omset 2012 Rp. 1,5 miliar
Lokasi II di Arab Saudi, omset 2012 Rp. 2 miliar
Lokasi III di Taiwan, omset 2012 Rp. 1,5 miliar
Berarti saya masih pakai aturan lama ya kan total omset sudah 5 miliar?
J: Omset di PP 46/2013 adalah akumulasi omset usaha domestik saja yang diakui, karena omset
diluar negeri sudah dipungut pajaknya oleh otoritas pajak negara masing-masing sesuai P3B
(Perjanjian Pajak-Pajak Berganda). Jadi omset tuan 2012 adalah dari lokasi I saja yang ada di
Surabaya sebesar Rp 1,5 miliar dan tuan wajib PPh Final 1%
T: Tarif 1% itu dikalikan dengan omset yang mana pak?
J:
1
dikalikan
dengan
omset/peredaran
bruto
bulan
berjalan,
contoh:Tahun 2012 omset bapak Rp400.000.000 dan otomatis wajib PPh Final 1% sejak di tahun
2013, dan ternyata di bulan Juli 2013 omset bapak sebesar Rp. 50.000.000 maka untuk yang
disetorkan di SSP Masa Juli 2013 adalah Rp50.000.000 x 1% =Rp.500.000 (lima ratus ribu)
Pajak 1% ? Saatnya Anda Tahu! PP 46 Tahun 2013 Apakah Saya Wajib Kena? (2)

Tarif Pajak

Aug 3, 2013
207 54391

Apa yang dikenai pajak/objek pajak berdasarkan PP 46 Tahun 2013?

Penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak dengan
peredaran bruto (omzet) yang tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 tahun
pajak.

Lebih detail objeknya?


1. peredaran bruto (omzet) merupakan jumlah peredaran bruto (omzet) semua
gerai/counter/outlet atau sejenisnya baik pusat maupun cabangnya.
2. Usaha meliputi usaha dagang dan jasa, seperti misalnya toko/kios/los
kelontong, pakaian, elektronik, bengkel, penjahit, warung/rumah makan,
salon, dan usaha lainnya.
Berapa tarifnya?

Pajak yang terutang dan harus dibayar adalah 1% dari jumlah peredaran
bruto (omzet)

Siapa yang dikenai pajak/subjek pajak berdasarkan PP 46 Tahun 2013?

Orang pribadi

Badan, tidak termasuk Bentuk Usaha Tetap (BUT),

Inti subjek pajaknya ?


1. Yang menerima penghasilan dari usaha dengan peredaran bruto (omzet)
yang tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 (satu) Tahun Pajak.
2. Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila Wajib
Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.
Siapa yang tidak dikenai pajak berdasarkan PP 46 Tahun 2013? (Non
Subjek Pajak)

Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha perdagangan


dan/atau jasa yang menggunakan sarana yang dapat dibongkar
pasang dan menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk
kepentingan umum. misalnya pedagang keliling, pedagang asongan,
warung tenda di area kaki-lima, dan sejenisnya.

Badan yang belum beroperasi secara komersial atau yang dalam jangka
waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh
peredaran bruto melebihi Rp4,8 miliar.

Apa yang dimakud beroperasi secara komersial?

Saat melakukan produksi, saat ada transaksi komersial/pemasukan uang

Bagaimana Ilustrasi Saat Beroperasi Komersial?

Secara garis besar memang WP sampai dengan saat mulai beroperasi masih dikenai tarif umum
PPh, dan jika jangka waktu 1 tahunnya berada di tengah tahun maka diteruskan sampai dengan
akhir tahun pajak.
Misalnya jika mulai beroperasi 1 Agustus 2013 maka sampai dengan 31 Juli 2014 (dan
diteruskan hingga akhir tahun pajak) mendapat kelonggaran untuk menggunakan tarif umum.
Kemudian apakah tahun 2015 menggunakan tarif umum atau final, dilihat dari omset bulan
Januari sampai Desember 2014 (hal ini dituangkan di dalam SE-42).
PP Nomor 46 TAHUN 2013 dan PMK-107/PMK.011/2013 memang tidak mendefinisikan
beroperasi secara komersial, jadi ada 2 opsi, bagi yang melakukan penyerahan jasa atau
perdagangan, terjadi pada saat melakukan penjualan. Kemudian di Contoh Penghitungan Angka
5 Lampiran PMK-107/PMK.011/2013 untuk yang industri, dimulai ketika melakukan produksi.
Contoh lainnya
Jika mulai beroperasi pada 25 Februari 2012, maka 1 tahun SMB-nya jatuh pada 24 Februari
2013. Karena 1 tahun sejak mulai beroperasinya ini tidak melewati masa berlaku PP Nomor 46
TAHUN 2013 (1 Juli 2013), maka seharusnya untuk menentukan pengenaan pajaknya
menggunakan ketentuan Pasal 10 PP Nomor 46 TAHUN 2013, yaitu melihat peredaran bruto
tahun 2012 yang disetahunkan.
Berbeda halnya jika WP mulai beroperasi 1 November 2012. Karena 1 tahun sejak beroperasinya
(31 Oktober 2013) melewati masa berlaku PP Nomor 46 TAHUN 2013, maka pengenaan
pajaknya mengikuti ketentuan Pasal 7 PMK-107/PMK.011/2013. Hal ini memang tidak
disebutkan dalam PP Nomor 46 TAHUN 2013, PMK-107/PMK.011/2013, maupun SE42/PJ/2013. Jadi, jika ada WP menanyakan masalah tersebut sebaiknya meminta penegasan ke
KPP.
Apa Penghasilan Yang Tidak Termasuk Dalam Akumulasi Bruto 4,8M/ penghasilan yang
tidak dikenakan pajak 1%?

Jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 2 ayat (3);

Penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri;

Usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan yang


bersifat final dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
tersendiri; dan

Penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.

FAQs aka TJ
T: Bang, yang dimaksud 1 tahun pajak sebagai dasar/objek pajak saat ini tahun berapa?
J: Untuk tahun pajak 2013 berarti yang dilihat adalah omset tahun lalu (Tahun buku 2012), jika
omset Anda tahun 2012 kurang dari 4,8 M maka Anda perlu wajib PPh Final 1% dan Anda
mulai bayar 1% sejak masa Juli 2013
T: Jadi kalau omset usaha saya tahun 2012 hanya 4 Miliar saya mulai Juli 2013 setor 1% ya?
J: Benar bung, karena masih < dari 4,8 miliar rupiah dalam 1 tahun pajak
T: Bang, saya mulai buka usaha sejak Mei 2013, hingga akhir Juni omset saya Rp. 600.000.000,
apa di masa Juli saya pakai tarif 1%.
J: Gini itungannya, harus disetahunkan dulu.
Omset 2 bulan (Mei-Juni 2013) = Rp. 600.000.000
Omset disetahunkan =Rp600.000.000 x 12/2 = Rp.3.600.000.000 (3,6 miliar )
Karena masih dibawah 4,8 miliar jadi harus pakai tarif 1% final
T: Bang, saya juragan es cendol, punya gerai ada 5, berikut data omset masing-masing gerai
2012
Gerai es cendol A: Omset 2012 = Rp. 600.000.000
Gerai es cendol B: Omset 2012 = Rp. 900.000.000
Gerai es cendol C: Omset 2012 = Rp. 800.000.000
Gerai es cendol D: Omset 2012 = Rp. 800.000.000
Gerai es cendol E: Omset 2012 = Rp. 900.000.000
Untuk tahun 2013 ini saya wajib PPh Final 1% atau tidak? Lokasi semua gerai di Indonesia
J: Berati total omset Saudara 2012 adalah 600jt+900jt+800jt+800jt+900jt=4 miliar rupiah
Saudara wajib setor 1% dari omset
T: Bang, saya pengusaha abon internasional. Ada 3 lokasi jualan abon saat ini, yaitu:
Lokasi I di Surabaya, omset 2012 Rp. 1,5 miliar
Lokasi II di Arab Saudi, omset 2012 Rp. 2 miliar
Lokasi III di Taiwan, omset 2012 Rp. 1,5 miliar
Berarti saya masih pakai aturan lama ya kan total omset sudah 5 miliar?

J: Omset di PP 46/2013 adalah akumulasi omset usaha domestik saja yang diakui, karena omset
diluar negeri sudah dipungut pajaknya oleh otoritas pajak negara masing-masing sesuai P3B
(Perjanjian Pajak-Pajak Berganda). Jadi omset tuan 2012 adalah dari lokasi I saja yang ada di
Surabaya sebesar Rp 1,5 miliar dan tuan wajib PPh Final 1%
T: Tarif 1% itu dikalikan dengan omset yang mana pak?
J:
1
dikalikan
dengan
omset/peredaran
bruto
bulan
berjalan,
contoh:Tahun 2012 omset bapak Rp400.000.000 dan otomatis wajib PPh Final 1% sejak di tahun
2013, dan ternyata di bulan Juli 2013 omset bapak sebesar Rp. 50.000.000 maka untuk yang
disetorkan di SSP Masa Juli 2013 adalah Rp50.000.000 x 1% =Rp.500.000 (lima ratus ribu)
Kredit tambahan ilustrasi: tanyajawabpajak.com

Download PMK-107/PMK.11/2013
Download lampiran PMK-107/PMK.11/2013
Download SE-42/PJ/2013

LABEL

PP 46

PPh Final 1%

Twitter

Facebook

Google +

Pinterest

tweet

Artikel sebelumnya
Mencoba Wordpress 3.6 dan Twenty Thirteen Yang Elegan
Artikel selanjutnya
Pajak 1% ? Saatnya Anda Tahu! PP 46 Tahun 2013 Tata Cara Setor? (3)
Artikel lainnya

Faktur Pajak Lengkap & Tidak Lengkap


Sep 19, 2014
2 7619

BKP Strategis Bebas PPN Setelah Uji Materiil MA (SE-24/PJ/2014)


Aug 19, 2014
2 8081
207 Komentar

1.

Anggie Apr 27, 2015 at 14:34

Siang pak, saya mau nanya


saya bekerja di PT yg kena pp 46 final 1 %, karena ini tahun pertama saya membuat

laporan pajak nya dan saya masih blm tahu banyak soal pajak. Bagaimana ya pak cara
menghitung pajak penghasilan terutang yang tercantum di L/R untuk PT saya?
Makasih sebelumnya
Balas

2.

rahayu Apr 5, 2015 at 20:47

Pak Dwi,
saya mau nanya, apakah pajak final 1 % yang kita bayar berpengaruh di dalam pengisian
spt tahunan?
Karenan bersifat final, bagaimana jika setelah satu tahun ternya pajak yang kita bayarkan
kurang bayar atau lebih bayar? terimakasih.
Balas

3.

andy Mar 16, 2015 at 22:19

Paksaya cuma jual sarapan pagi dengan omzet 1 hari sekitar 150rb dengan lokasi
jualan dikaki lima cuma dalam lingkungan komplek pasarapakah saya diharuskan
bayar pph final 1%? Kalau mau hapus npwp saya bisa gak (dulunya ngurus npwp gara2
mau ambil kredit dibank)? Soalnya dengan adanya pph final 1% ini sangat memberatkan
saya..sekian terima kasih
Balas

Dwi Utomo Mar 17, 2015 at 08:47

Selamat pagi pak Andy


Setiap WNI yang mempunyai penghasilan maka dia diharuskan ber-NPWP dan
membayar pajak termasuk PPh final 1%. Apakah NPWP bisa dihapus? tentu bisa
pak, salah satu penyebabnya karena pribadi bersangkutan tidak mempunyai
penghasilan atau sudah meninggal. Pastinya Pak ANdy gak mau kan dalam
kriteria itu, jadi tetap ber-NPWP pak dan ikut membayar/mengawasi penggunaan
pajak karena itu kewajiban dan sikap patriotik sebagai WNI.
Balas

4.

devina Jan 25, 2015 at 19:37

Yth. Bapak Dwi, bruto yang dimaksud apakah termasuk PPN barang juga?
Balas

Dwi Utomo Jan 26, 2015 at 11:06

Tidak bu Devina, nilai bruto tidak termasuk PPN.


Balas

5.

devina Jan 25, 2015 at 19:23

Yth Pak Dwi, didalam bruto untuk perhitungan PP 46 apakah termasuk PPN barang yang
dijual? Atau PPN nya dikeluarkan terlebih dahulu?
Balas

Dwi Utomo Jan 26, 2015 at 11:12

PPN-nya dikeluarin dulu ya bu


Balas

6.

Darma Sanjaya Jan 20, 2015 at 00:22

Malam Pak Dwi. Mau tanya mengenai bukti potong pph21. jika UKM dengan omset <
4,8 dan membayar pph final 1%, tetapi ada bukti potong pph21 dari pemberi jasa, apakah
bukti potong tersebut menjadi kredit pajak ?. Sebab setahu saya segala penghasilan yang
bersifat final maka bukti potong maupun beaya2 nya tidak dapat dikreditkan. Mohon
pencerahannya.
Terima Kasih.

Balas

Dwi Utomo Jan 20, 2015 at 10:01

Selamat siang pak Darma


Bukti potong PPh 21 biasanya dibuat untuk pemberi jasa yang statusnya
perorangan, bisa dilihat di bupotnya pakah ditujukan untuk individu atau badan
usaha. Untuk badan usaha yang memberikan jasa biasanya dibuatkan bukti potong
PPh 23. Apakah mungkin pengusaha kecil mengkreditkan pajak? Mungkin saja,
biasanya karena mereka tidak memiliki SKB PPH sehingga walaupun sudah setor
pajak 1%-nya juga masih dipotong/pungut pihak lain.
Balas

Darma Sanjaya Jan 21, 2015 at 15:18

Selamat Siang Pak Dwi,


Terima Kasih atas pencerahannya.

Darma S.
Balas

7.

Abdi Jan 16, 2015 at 13:04

Selamat siang Pak Dwi,


Saya lagi Asmsyong nih pak tetang PPh Badan

mohon bantuan pak Dwi.

Usaha saya berbentuk PT, mulai beroperasi tanggal 28 Agustus 2014. Sebelum mulai
operasional, saya tanya AR di domisili saya untuk PPh-nya bagaimana. Menurut AR
tersebut karena perusahaan masih baru maka ikut PPh Final 1% karene omzet belum
mencapai 4,8M. Jadi sampai dengan Desember 2014 ini saya setor PPh 1% dari omzet.
Tapi tadi pagi saya telpon ke Kring Pajak untuk menanyakan perihal SPT Tahunan, malah
dapat info bila perusahaan belum berjalan setahun maka yang dikenakan adalah tarif
umum .

Amsyong saya pak.. yang benar yang mana ya? Mohon bantuan Pak Dwi.
Terima kasih.
Balas

Abdi Feb 4, 2015 at 16:43

Selamat siang Pak Dwi,


Sekedar info saja, saya sudah diskusi lagi dengan AR saya, jadi seharusnya Pajak
yang dikenakan adalah Tarif Umum BUKAN Pajak Final 1% sesuai dengan
PMK-107/PMK.011/2013 Pasal 27 dan SE-32/PJ/2014.
Selamat beraktifitas kembali, tetap update ya Pak Dwi tulisan2nya, website bapak
menjadi referensi utama buat saya yang orang awa untuk urusan pajak.
Terima kasih.
Balas

8.

fitri Dec 17, 2014 at 17:28

sore pak mau tanya,


selama ini saya kan bayar 1% dari omset saya, hanya per juni 2014 saya sudah tidak
beroperasi pak, nah dari juni itu saya tidak membayar pph final 1% itu, kemudian
beberapa hari lalu saya mendapat surat himbauan dr kantor pajak karena belum melapor
dan menyetorkan pph final pasa 4 ayat 2, bagaimana saya menanggapi surat himbauan
tersebut, jika saya balas surat tersebut, kira2 dokumen apa saja yg harus saya lampirkan
yg menunjukan saya sudah tidak mendapat penghasilan dr usaha tersebut. karena usaha
tersebut sekarang sudah saya serahkan ke kakak saya dan sudah menjadi beban pajak dia
atas omset tsb. mohon pencerahannya. trims
Balas

9.

ROSALYN Nov 23, 2014 at 17:06

Selamat siang Pak Dwi,


Mohon pencerahannya, apakah usaha cafe di daerah (Medan) diberlakukukan PPH 1 %
untuk omzet dibawah 4.8M?
Terimakasih dan regads,
Balas

Dwi Utomo Nov 24, 2014 at 13:23

Iya berlaku nasional bu


Balas

10.

ROSALYN Nov 21, 2014 at 22:15

Selamat malam Pak Dwi Utomo,


Mohon pencerahannya pak, apakah PP 46 itu berlaku untuk usaha cafe di daerah? dengan
hitungan omzet per tahun tidak lebih dari 4.8M maka wajib final PPH 1%?
Terimakasih.
salam
Balas

Dwi Utomo Nov 24, 2014 at 13:18

Jika usaha cafe dijalankan atas NPWP pribadi maka iya juga berlaku PP 46, untuk
WP badan pun juga berlaku tetapi setelah memperhitungkan setahun beroperasi
komersil.
Balas

11.

Sofyan Nov 19, 2014 at 17:27

Saya mau bertanya, kalau misalkan perusahaan saya tahun 2013 kemarin omzet di atas
4.8 M di tahun 2014 ini kan berarti saya tidak kena yang 1%. Tapi kalau omzet di tahun
2014 di bawah 4.8M untuk tahun 2015 apakah saya kena yang 1% plus bayar selisih
pajak antara penjualan pembelian karena perusahaan sudah PKP?
Thanks & best regards,
Sofyan
Balas

Dwi Utomo Nov 20, 2014 at 10:11

Selamat pagi pak Sofyan


Jika tahun buku 2014 ini < 4,8M memang sejak januari 2015 nanti kembali setor
1% atas omset bulanan. Sedangkan atas kewajiban sebagai PKP maka ada
perhitungan PK-PM sehingga nanti bisa diketahui apakah ada kurang bayar PPN
atau tidak. Kalau atas selisih nggak ada pak. Ya kewajiban PPh final 1% plus
kewajiban pungut PPn aja.
Balas

12.

Aprilia Nov 19, 2014 at 11:19

mas Dwi yth,


saya memiliki beberapa usaha, diantaranya adalah sebagai penyalur produk bbm yg
penghasilannya telah d kenakan pajak final, dalam satu tahun omset-nya alhamdulillah
lebih dari 4,8 M
selain itu pula saya punya usaha jasa angkutan kota (AngKot), yg omsetnya kurang dari
4,8M setahun
jika d akumulasikan, omset saya setahun sebagai penyalur produk bbm+usaha angkot
sekitar 5 M-an
nah yang ingin saya tanyakan, apakah saya termasuk kategori WP PP46?
omset yg d maksud PP46 apakah omset keseluruhan (final+non final) atau yg non finalnya saja, sehingga atas usaha angkot saya d kenai pp 46?
oke itu saja mas Dwi pertanyaan saya, mudah2-an dapat d carikan solusinya

trima kasih
Balas

Dwi Utomo Nov 19, 2014 at 14:26

Yth bu April
Akumulasi 4.8M tidak dihitung dari omset SPBU karena SPBU sudah dikenakan
PPh 22 final (Permenkeu 107/PMK.11/2013 pasal 3 ayat (2) huruf C) oleh
pertamina sehingga yang dimaksud adalah omset angkotnya saja. Sehingga wajib
PP 46 juga atas penghasilan kotor angkot bulanan.
Balas

13.

Ades (M) Nov 18, 2014 at 16:47

Salam Pajak Pak Dwi,


Mohon advice dan pencerahannya.
saya sebagai pengelola dan pemilik (Direktur) dari badan usaha yang masih berbentuk
CV.
Setiap bulan dari CV tersebut saya mendapatkan gaji Rp. 1,500,000.Untuk pelaporan SPT Tahun menggunakan Form apa yaa Pak ? dan apakah saya tetap
harus membuat Laporan SPT PPh21 OP juga atau hanya satu Form 1770 saja.
Dan bagaimana dengan perhitungan Gaji bulanan saya apakah menjadi koreksi Fiskal
Positive pada Laporan Fiskal CV saya itu.
Pencarahan dan adive dari Bapak sangat saya tunggu.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya.
Salam pajak,
Ades (M)
Balas

Dwi Utomo Nov 18, 2014 at 16:55

Salam pajak pak Ade


Sebaiknya menggunakan form 1770 dan nantinya atas gaji pemilik CV dikoreksi
fiskal positif. Ada artikel disini untuk panduan
Balas

14.

athaira Nov 14, 2014 at 19:40

pak dwi..
saya mau bertanya..
Perusahaan saya di tahun 2012 mempunyai omzet di bwah 4,8M, tetapi di 2013 sudah di
atas 4,8M
di juli 2013 sd Des 2013 saya telah membayar PPh final
Saya masih belum jelas mengenai aturan pp 46 ini, dan kebetulan bukti potong pph 23 di
tahun 2013 baru saya peroleh di 2014, atas saran dari AR saya laporkan NIHIl untuk SPT
tahunan 2013, dan kemudian akan dilakukan perbaikan.
Yang mau saya tanyakan:
SPT Tahunan yang saya laporkan adalah dari periode januari Des 2013, tetapi yang
dikenakan pajak apakah hanya dari januari-Juni 2013 saja, karena dari Juli-Des2013 saya
terkena PPh final?
Terimakasih
Balas

Dwi Utomo Nov 17, 2014 at 17:10

Selamat sore rekan Athaira


Yang rekan lakukan sudah benar, yaitu setor 1% untuk juli-des 2013. Untuk saran
AR bisa saja dilakukan, namun yang pasti yang dilaporkan memang atas
penghasilan januari-des 2013 di SPT, namun akhirnya atas penghasilan 12 bulan
terkoreksi(terkurangi) dengan penghasilan jul-des dan kemudian harus juga
dikurang dengan kredit pajak yg muncul, salah satunya PPh 23.

Balas

15.

radian Oct 25, 2014 at 10:09

pagi pak dwi, saya benar2 awam soal pajak, dan kemarin membuat badan usaha
komanditer namun belum beroperasi. Persoalannya sekarang ternyata PKP nya dicabut
karena ini persh jasa catering keluarga dan memang belum berjalan cukup lama dan saya
harus mengurus ulang segala sesuatunya, nah saya diminta untuk memberi laporan 3
bulan terakhir nihil, apa yg harus saya sertakan dan lakukan ya pak?
terimakasih atas petunjuknya
Balas

Dwi Utomo Oct 28, 2014 at 11:33

Cara termudah adalah dengan minta bantuan helpdesk/AR di KPP untuk


mengecek kewajiban laporan SPT yg telat-telat. Untuk SPT Tahunan yg perlu
disiapkan adalah laporan keuangan( Laba rugi, neraca). Nanti kwajiban lapor
menyesuaikan dengan jenis usaha yg aktif dari perusahaan pak Radian
Balas

deka Nov 7, 2014 at 20:56

Pak mohon beri penjelasan. Saya usaha apotik omset thn 2013 1,2m, saya
tidak ada pembukuan laba/rugi brp pajak yg harus saya bayar. ?
Balas

Dwi Utomo Nov 10, 2014 at 14:37

Selamat siang rekan Deka


Usaha apotik ini menggunakan NPWP pribadi atau badan? Tetapi
bisa disimpulkan kalau rekan setor 1% atas omset, disini artinya
atas penjualan kotor apotik tersebut.

Balas

16.

endah nurmasari Oct 9, 2014 at 12:42

Pak, saya mau tanya


Saya bekerja di perusahaan yg bergerak di bidang jasa konsultan hukum, melihat dari
kriteria yg sehubungan dgn pekerjaan bebas saya pikir untuk pengacara tidak termasuk
wajib pajak yg dikenakan PPh final 1% tsb.
tapi kantor saya ini berbentuk badan usaha, dan ada rencana untuk menjual barang juga.
yg saya tanyakan adlh, apakah kami termasuk wajib pajak yg memenuhi kriteria yg wajib
dikenakan 44 46?
Balas

Dwi Utomo Oct 9, 2014 at 19:18

Selamat malam bu Endah


Jika dilihat dari sudut pandang karyawannya/lawyer yg bekerja di perusahaan
maka bisa jadi dikategorikan pekerja bebas apalagi jika anatara karyawan dengan
perusahaan bukan sebagai karyawan tetap namun tenaga ahli panggilan.
Sedangkan dari sisi lain, perusahaan adalah badan hukum sehingga omset yg
didapat perusahaan bisa dikategorikan objek PPh final 1%. Mungkin analogi
mirip dengan dokter panggilan di klinik, dokter tersebut dipotong PPh 21
sedangkan atas jasa kesehatan klinik setor PPh final 1%
Balas

ray Oct 20, 2014 at 19:37

selamat sore, saya mau menanyakan untuk penerapan pp 46 ini, apakah


sudah sampai di daerah tangerang selatan? terima kasih
Balas

Dwi Utomo Nov 10, 2014 at 18:42

Selamat malam pak ray


PP 46 berlaku nasional pak, Wajib Pajak di seluruh Indonesia jika
kriterianya memenuhi maka wajib menerapkan aturan tersebut.
Balas

17.

Fajar Oct 7, 2014 at 16:24

Selamat siang pa dwi,


pa saya ingin bertanya jika kasus seperti ini :
PT A sudah membayar dan melaporkan pph final 1% sampai Masa Agustus 2014, setelah
dikoreksi ternyata setiap bulan dari bulan Juni 2014 ada omset yg belum disetorkan 1%
nya.
1. Bagaimana prosedur pembayaran kekurangannya?
2. Apakah terkena sanksi administrasi ?
Mohon bantuannya pa.
Terima Kasih
Balas

Dwi Utomo Oct 8, 2014 at 17:33

Selamat sore pak Fajar


Saya asumsikan untuk yang setoran Jan-Aug sudah tepat waktu, hanya saja masih
ada omset yg belum disetorkan atas 1%-nya, maka

Segera lakukan setoran PPh final 1% atas kekurangannya.


Misalkan dari Juni-Aug ada kekurangan ya buat SSP sebanyak 3
x untuk 3 bulan dan diisi seperti biasa hanya saja nominalnya
cukup selisih kurangnya saja, misal Juni sudah setor 200.000
atas omset 20.000.000 ternyata seharusnya omsetnya adalah
23.000.000 maka setor lagi 3.000 atas selisih PPh 1% yg belum
tersetor.

Dari aturan pajak terkena sanksi, sanksi nanti akan diterbitkan


dalam bentuk Surat Tagihan Pajak/STP, jika STP sudah pak Fajar
terima maka bisa dibayar atas sanksi tersebut

Balas

2.

David Oct 3, 2014 at 13:18

Selamat Siang Pak Dwi,


Saya ingin bertanya, jika perusahaan yang melakukan training public dan tidak dikenakan
PPn ke customer, apakah perusahaan kami tetap harus bayar PPh Final 1% ?
Terima Kasih.
Balas

Dwi Utomo Oct 3, 2014 at 19:03

Selamat malam pak David


Untuk PPN tidak kena karena training public bisa dikategorikan jasa pendidikan
namun untuk PPh 1% masih kena.
Balas

3.

dita Oct 2, 2014 at 18:05

Sore Pak Dwi,


sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas postingan di blog bapak karena sangat
membantu saya
Pak, saya ingin menanyakan terkait PP 46,
Saya bekerja di Perusahaan baru bergerak dalam bidang Jasa Konsultan, setelah sebulan
berdiri kami belum memiliki peredaran usaha, sehingga saya pada bulan pertama
melaporkan SSP nihil untuk angsuran PPh pasal 25 karena masih rugi dan tidak ada
Penghasilan Usaha. Nah saya ingin menanyakan, sebenernya perusahaan tempat saya
bekerja ini apakah wajib lapor SSP nihil untuk angsuran PPH pasal 25/29 Badan atau PPh
final 1% ya pak? saya masih bingung untuk hal ini pak karena perusahaan baru dan
belum ada peredaran bruto

terima kasih pak, mohon pencerahannya


Balas

Dwi Utomo Oct 2, 2014 at 20:47

Selamat malam bu Dita


Saya lebih cenderung ke PPh 25 dulu hingga setelah setahun beroperasi baru
kemudian dievaluasi apakah omsetnya masih < atau > 4.8M. Bisa ibu baca
penegasannya di SE-32/PJ/2014
Balas

4.

Danar Sugiantoro Oct 1, 2014 at 17:05

Sore Pak,
Untuk perusahaan dibawah 4,8 M setahun menggunakan tarif pph final 1 %, sehingga
tidak wajib bayar PPh 25.
Kalau Omzet nya 0, belum beroperasi, PPh 25nya bagaimana pak ?
Balas

Dwi Utomo Oct 1, 2014 at 17:47

Selamat sore pak Danar Untuk perusahaan baru yg belum beroperasi maka lapor
SSP PPh 25 nihil, kemudian setelah setahun beroperasi barulah bisa disimpulkan
apakah masih lanjut PPh 25 atau berganti ke PP 46. Bisa dibaca di SE-32/PJ/2014
Balas

5.

lina Sep 24, 2014 at 17:48

Pak mohon pencerahannya atas situasi berikut ini:


Apabila suatu perusahaan SKT 24 Juli 2013 dan memperoleh SPPKP 28-08-13 diketahui

memperoleh omset atau pendapatan mulai mei 2014..Untuk perhitungan PPH nya apakah
mengikuti PP 46 atau tidak. ? Bisa tolong diilustrasikan pak?
Balas

Dwi Utomo Oct 3, 2014 at 19:15

Untuk WP badan maka dihitung setahun sejak masa operasi (SMO). Disini SMO
dimulai dari bulan Mei 2014-April 2015, jika dalam kurun satu tahun tsb
omsetnya <4.8M maka terhitung sejak Januari-Desember 2016 wajib setor PP 46,
nah antara Mei-Desember 2015 tetap lanjut menggunakan PPh 25.
Balas

6.

fadeladel Sep 23, 2014 at 16:44

Selamat sore P Dwi Utomo


saya minta solusi dari bapak,saya bekerja di suatu perusahaan yang bergerak di bidang
supplier BBM dan baru berjalan selama 2 tahun. Omzet kami ditahun 2014 belum
mencukupi 4,8 Milyar.
Apakah perusahaan kami tetap dikenakan pasal pph 4 ayat 2 ?
Terima kasih atas perhatiannya.
salam
M.fadel
Balas

Dwi Utomo Oct 3, 2014 at 19:21

Selamat malam pak Fadel


Supplier disini bukan sebagau agen resmi/SPBU Pertamina kan? jika hanya
menyalurkan dari BBM di agen ke konsumen atau penjual kecil lainnya maka
setor pajak final 1%. Wajib PP 46 jika omset tahun 2013 <4.8M
Balas

7.

erwin Sep 8, 2014 at 15:36

pak sy menyewa sebuah toko bulanan, dan baru berjalan 8 bulan barang dagangan saya
itu barang titipan smua ,apakah saya sudh wajib bayar pajak 1% .trima kasih mohon
bimbingannya
Balas

Dwi Utomo Sep 17, 2014 at 17:24

Titipan itu cara kerjanya seperti konsinyasikah pak? Jika iya maka wajib 1% atas
komisi ataau fee titipannya
Balas

8.

nia puspitasari Sep 2, 2014 at 14:07

Pak, Saya bekerja di perusahaan jasa konsultan perencana.setiap ada proyek dari
pemerintah, perusahaan sudah dikenakan pph final (4%). apakah kami dikenakan PP 46
(pph final 1%) juga?
Balas

Dwi Utomo Sep 4, 2014 at 14:30

Selamat sore bu Nia


untuk jasa konstruksi (perencana, pelaksana, pengawas) dikecualikan dari
pengenaan PPh final 1%, jadi sudah benar dipotong 4% tidak perlu lagi setor 1%
Balas

9.

Danar Sugiantoro Aug 26, 2014 at 19:26

resend

Dear Pak Dwi,


Mulai Tahun 2014 kami masih menggunakan PP 46 sebesar 1 % dari Omzet untuk PPh
Finalnya,
Mulai Agustus 2014 ini omzet sudah 5 M.
Apakah sampai akhir tahun kami tetap menggunakan tarif 1 % atas Omzetnya.(Mohon
peraturannya yang menyatakan itu)
Bagaimana nanti untuk SPT Badannya. apakah ada pertanyaan bila omzetnya lebih dari
4,8 M ditahun 2014.
Thanks,
Danar Sugiantoro
Balas

10.

Danar Sugiantoro Aug 26, 2014 at 19:22

Dear Pak Dwi,


Mulai Tahun 2014 kami masih menggunakan PP 46 sebesar 1 % dari Omzet untuk PPh
Finalnya,
Mulai Agustus 2014 ini omzet sudah % M.
Apakah sampai akhir tahun kami tetap menggunakan tarif 1 % atas Omzetnya.(Mohon
peraturannya yang menyatakan itu)
Bagaimana nanti untuk SPT Badannya. apakah ada pertanyaan bila omzetnya lebih dari
4,8 M ditahun 2014.
Thanks,
Danar Sugiantoro
Balas

11.

Heri Aug 11, 2014 at 15:51

Yth. P Dwi Utomo

Dh,
Mohon pencerahannya Pak
Apakah perusahaan yang sudah kena pph 1% final (PP 46) sudah tidak ada kewajiban
untuk pph lainnya misanya PPh 23.
Kami perusahaan transportasi, mempunyai vendor (transporter) juga, sebut saja A.
Sebelumnya A kami potong PPh23 atas jasa sewanya, setelah th 2014 A kena PP 46. Nah,
apakah setelah th 2014 ini, si A sudah tidak ada kewajiban untuk PPh 23 ya Pak? dan
bagaimana cara pelaporan pajak kami untuk vendor si A ini. (Maaf, nyubi Pak :D)
Terima kasih pencerahannya
Salam
Balas

Dwi Utomo Aug 19, 2014 at 17:26

Yth juga pak Heri


Untuk vendor yang sudah menerapkan PP 46 sudah memberikan legalisir SKB
PPh 23 ke perusahaan bapak, maka tidak wajib lagi dipotong PPh 23. Sehingga
hanya muncul tagihan atas jasa sewa dan PPN saja.
Balas

Heri Aug 22, 2014 at 21:37

Yth Pak Dwi Utomo,


Untuk SKB itu berlaku per tanggal atau per tahun ya Pak? SKB yang
diberikan ke kami oleh vendor A itu untuk masa berlaku 5 September s.d
31 Desember 2013. Sedangkan, transaksi 2013 terjadi di luar periode masa
berlaku SKB, transaksi terjadi antara April s.d Juni 2013.
Sementara untuk tahun 2014 SKB belum terbit dan infonya masih dalam
proses, tetapi A tetap bersikukuh kalau bebas pajak.
Mohon pencerahaannya,
Terima kasih
Balas

Hesti Aug 6, 2014 at 18:45

slamat sore Pak..mau tanya klo perusahaan Jasa Outsorching keamanan kena PP 46 ga?
mohon penjelasannya.trimakasih
Balas

Hesti Aug 6, 2014 at 18:43

sore Pak..
Mau tanya, klo perusahaan Jasa outsorching keamanan kena PP 46 apakah kena PP 46,
mohon penjelasannya.trimakasih
Balas

Sangaji Jun 19, 2014 at 13:27

Salam Pak,
Mau tanya, kalo tahun 2012 omset saya kurang dari 4,8 M maka terhitung Juli 2013 kan
saya harus mulai bayar PPh 1%, tapi di akhir tahun 2013 omset saya setahun sudah lebih
dari 4,8 M, bagaimana perlakuan pajaknya, apakah bisa dijadikan kredit pajak?
Balas

Irfan Hartono Jun 19, 2014 at 15:14

Pengenaan PPh didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun
dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan yang tidak
melebihi Rp4,8 Miliar. Misalkan, tahun 2012 Omzet Rp4 miliar, maka di tahun
2013 s.d sebelum berlaku PP 46, akan dikenakan PPh Umum . Lalu mulai Juli s.d.
Des 2013 akan dikenakan PPh final 1% meskipun total omzet tahun berjalan
misalnya Rp5 miliar. Jika omzet 2013 Rp5 miliar maka tahun 2014 dikenai
dengan Tarif Umum Ketentuan UU PPh. Kwembali seperti peraturan sebelum
adanya PPh 1% ini.

Balas

eajel Jun 3, 2014 at 00:10

pak mau tanya..dan pencerahan


saya ga ngerti sm sekali masalah PPH pak..saya mulai usaha tahun 2009 dan TDP
ssaya berupa perusahaan perorangan (PO)yg bergerak dibidang toko kelontongan sdh
terbit ditahun 2009, tp jujur sebagai org awan sy ga tau masalah PPH, saya tau nya jualan
dan jualan..baru akhir2 ini sy dengar masalah PPH itu, ditahun 2014.saya mau
mealapor ke kantor pajak saya takut pak. apakah saya klo saya melapor dan
membayyar tunggakan selama tahun 2009 ga apa-apa pak..?ini yg jadi dilema hari2
sayakalopun saya didenda akan saya bayar karena ketidak tauhan saya..dan
bagaimana perhitungannya pak? mohon percerahan.tapi usaha saya mulai bener
mengahsilkan ditahun 2012 pak.karena ditahun 2009 sampai 2012 permodalan ssaya
banyak hutang di Bankkadang nihil untuk bayar utang saja..mohon pencerahannya
pak.trimakasih.
Balas

Dwi Utomo Jun 3, 2014 at 04:25

Selamat pagi rekan Eajel

Tentu saja boleh pak lapor saat ini, nanti akan dibantu AR untuk
menghitung pajak yang telah lalu. Agar hasil perhitungan
pajaknya akurat dan tidak membebani usaha, maka sampaikan
catatan usaha penghasilan tiap tahunnya dengan biaya-biaya
sedetil mungkin.

Sanksi pasti ada, namun jika dirasa akan membebani usaha


maka bisa diajukan pengurangan/penghapusan sanksi. Salah
satu syaratnya adalah bapak bisa memberikan argumen dan
didukung bukti kuat untuk jadi pertimbangan pengurangan
sanksi

Balas

eajel Jun 4, 2014 at 00:31

Selamat malam pak.kalo saya melapor sekarangapa kira2 saya ga


kena pidana pak. oleh ketidak tauan saya..kalaupun di denda akan
saya usahakan membayar biarpun hutang2 sama org untuk
membayarnya..masalah ini benar2 membebani pikiran saya.ssaya ga
tau hitungan untung labayg saya tau jualan aja pak.bingung saat ini
saya.tapi temen2 saya yg berjualan seakan ko ga ada yg perduli seakan
dengan masalah PPH..,tapi sehabis ini saya akan jadi wajib pajak yg
rutin pak biarpun usaha semakin sulit.mohon pak
pencerahannya.terima kasih selamat malam pak
Balas

Dwi Utomo Jun 4, 2014 at 13:14

Sebelumnya saya sampaikan terimakasih atas niatan baiknya pak.


Pidana dalam pajak contohnya adalah jika bapak bukan PKP tapi
menerbitkan faktur maka bisa dipidanakan.
Untuk kasus ini, berpikir positif aja pak. Sudah pernah ke KPP
untuk ngobrol dengan ARnya pak eajel belum? Jika bapak gak tahu
sama sekali nanti akan dibimbing, kemudian jika dikenakan sanksi
pun akan diberi penjelasan bagian mana yg melanggar ketentuan.
Tapi sanksi pun bisa diajukan keringanan. Untuk teman2 usaha yg
belum tersentuh pajak, bapak bisa sampiakan infonya ke KPP agar
ditindaklanjuti. Saran saya silahkan pak eajel ke KPP terdekat
untuk bantu hitungkan pajaknya, insyaAlloh akan mudah
berikutnya.
Balas

eajel Jun 4, 2014 at 13:49

selamat siang pak.terima kasih ya pak sebelumnya.atas


bimbingan dan informasinya..,sedikit lagi pak.PKP itu
apa pak dan AR itu apa jugasy kurang paham..
Balas

Dwi Utomo Jun 4, 2014 at 14:48

PKP itu status tambahan yg bisa diberikan pada WP


agar saat dia jual barang/jasa bisa memungut PPNnya.
AR/Account representative, petugas dari KPP yg
ditugaskan untuk membimbing dan mengawasi
kepatuhan pajak dari WP. AR itu mirip konsultan
pajak tp gratis dan ada di KPP. Tiap WP pasti punya
AR
Balas

ira May 22, 2014 at 15:04

Siang pak, saya mau bertanya.


Kondisi saya :
Perusahaan saya tahun 2012 omzet di bawah 4,8 M tapi tahun 2013 omzetnya di atas 4,8
M.
Selama ini saya bayar spt pasal 25 untuk tahun 2013, ternyata karena tahun 2012 omzet
di bawah 4,8 M kena yang 1%.
Untuk 2013 karena ada kompensasi kerugian, saya cuma bayar sedikit dibandingkan yang
1%.
Pertanyaan saya :
1. Apakah ada prosedur ke kpp agar saya tetap bisa perhitungan spt pasal 25 saja?
2. Kalau tidak bisa, berarti tahun ini saya bayar yang 1% dan tahun depan kompensasi
kerugian saya baru dihitung ya?
3. Lalu karena jumlah yang sisa 1% cukup besar, bisakan dicicil selama 2014 ini? gimana
prosedurnya ke kpp?
Bolehkan jawabannya selain ke website ini, juga ke email saya? thank you sebelumnya.
Balas

Dwi Utomo May 23, 2014 at 09:14

Selamat pagi bu Ira

Untuk tahun pajak 2014, ibu Ira memang setor PPh 25, jika yang
ibu maksud tahun 2013 masa juli-des ingin tetap PPh 25 maka
tidak bisa bu karena omset pada tahun 2012 pada
kenyataannya memang <4.8M

Tahun ini artinya jul-de 2013 bayar 1%, sedangkan sejak januari
2014 kembali angsur PPh 25, dan bisa melakukan kompensasi
kerugian

Nyicil bisa, namun kena sanksi 2% atas PP 46 kurang bayar,


lebih baik ibu hubungi AR-nya untuk solusi lain

Baik saya kirim salinannya

Balas

2.

Dhanang May 20, 2014 at 11:40

Kalo misal omset kami Rp. 100 juta, tapi karena melakukan ekspansi usaha (penambahan
stok) dan promo gencar, pengeluaran total mencapai Rp. 99,5 juta.. Apakah masih wajib
membayar pajak? Karena jika membayar pajak, hasilnya malah menjadi rugi.
Rp.500rb (Laba sebelum pajak) Rp.1 juta (pajak 1% dari omset) = minus Rp.500 rb
Mohon pencerahannya..
Balas

Dwi Utomo May 20, 2014 at 13:46

Apa ini usaha baru atau sudah berjalan lama pak? Untuk usaha baru yg berdiri
setelah juli 2013, omset pada bulan pertama disetahunkan dulu untuk tahu wajib
PP 46 atau tidak. Jika memang wajib PP 46, maka kemungkinan rugi usaha pada
suatu bulan tertentu bisa terjadi
Balas

3.

Shinta N May 13, 2014 at 18:08

Begini Pa. Dwi, saya ditugaskan atasan saya untuk menghandle akunting & pajak 3
perusahaan A, B & C.
Masing-masing memiliki omset yg berbeda-beda. Jadi apa untuk pelaporan PPh nya saya
tinggal mengalikan 1% dari masing-masing omzet per bulannya saja (tanpa mengurangi
dengan PPh 21 atau PPh 23 yang sudah dibayarkan perusahaan ?).
Untuk PPh Final ini hanya perlu setor saja ya, nanti di SSP akan tercetak NTPN yang
sudah ngelink otomatis ke KPP (tanpa kita harus lapor), begitu ya pa ??
Kalo untuk pelaporan pajak periode sebelumnya yang sudah dilaporkan Nihil
bagaimana ??
Apa saya tinggal lanjutkan saja penghitungan, penyetoran & pelaporan PPH Final ini
dibulan berjalan ??
Terima kasih.
Balas

Dwi Utomo May 13, 2014 at 18:49

Malam bu Shinta

Ya bener, kalikan 1% tersebut denganomset bulanan, tanpa


dikurangi biaya-biaya termasuk segala jenis pajak disini

Jika sudah tercetak NTPN, artinya data setoran tsb sudah masuk
di data KPP, jadi nggak perlu lagi lapor

Jika periode sebelumnya nihil, maka tidak perlu setor dan lapor

Jik dari januri ibu sudah setor 1% atas omset, maka lanjutkan
hingga desember 2014 seperti biasa

Semoga jawaban sesuai dgn yg kondisi ibu maksud


Balas

4.

Shinta N May 13, 2014 at 13:07

Pa, saya mau tanya : saya bekerja di perusahaan Jasa Konsultansi dan Agen pembuatan
HKI (Hak Kekayaan Intelektual) seperti Merek Dagang, Patent, Hak Cipta dll. Dalam
perusahaan ini ada 3 (tiga) nama perusahaan yg mempunyai omzet sebagai berikut :

Omzet A Tahun 2013 : Rp. 250.000.000 ,Omzet B Tahun 2013 : Rp. 3.600.000.000 ,Omzet C Tahun 2013 : Rp. 1.800.000.000 ,Bagaimana cara penghitungan PPh Finalnya untuk kewajiban setor di tahun 2014 ??
Apakah kewajiban setor dilakukan perbulan dengan penghitungan Omzet tahun lalu x 1%
: 12 bln ??
apakah di akhir tahun akan muncul kurang (lebih) bayar seperti penghitungan PPh pasal
25 ??
terima kasih.
Balas

Dwi Utomo May 13, 2014 at 17:52

Sore bu Shinta
Saya bingung apa hubungannya antara perusahaan tempat ibu bekerja dengan 3
perusahaan (A, B & C).
Tapi gini, jika sudah diketahui bahwa tahun 2013 <4.8M maka 1% tersebut adalah
atas omset bulanan di tahun 2014 sejak januari, misalkan:
Omset Januari 2014 100jt, maka pajak 1%-nya 1jt
Omset Februari 2014 nihil/idle, maka pajak 1%-nya 0 juga alias gak perlu setor
dan nggak perlu lapor
begitu seterusnya
Untuk di akhir tahun/SPT Tahunan nggak akan ada lebih bayar/kurang karena
sudah final atas setoran tsb.
Balas

5.

Irene Apr 29, 2014 at 10:23

Salam kenal Pak Dwi,


Saya ingin menanyakan peraturan PP46.
Saya pemilik Agen Pendidikan ke Luar Negri.
Baru Buka Usaha tahun 2013, namun di dalam pembukuan tahunan kami, kami
mengalami kerugian 95.000.000. Dengan pendapatan kursus bahasa sebesar 39.000.000,apakah saya tetap membayar pajak 1% dari Omzet saya?

Mengingat membayar operasional tiap bulan adalah 15.000.000, maka udah sangat rugi.
Apakah dengan kondisi rugi ttp hrs bayar pajak Final ini?
Mohon petunjuk pak Dwi.
Terima Kasih
Salam sukses selalu,
Balas

Dwi Utomo May 2, 2014 at 21:27

Salam kenal bu Irene


Saya masih bingung membedakan omset agen dengan kursus bahasa. Apakah
usaha ini baru berdiri atau sudah berdiri sebelum 2013?
Apa sebagai agen pedidikan ibumendapatkan komisi dari pihak luar?
Pada dasarnya 1% memang atas pendapatan usaha, dengan mngenyampingkan
munculnya biaya, karena sifat PPh-nya sendiri yang final,sehingga biaya
dianggap sudah selesai terhitung ketika disetor final
Balas

6.

Elvie Apr 19, 2014 at 12:52

Dear Pak Dwi Utomo,


Mengenai PP46 ini, untuk bidang usaha peternakan ayam petelur. Dalam hal ini yang
dijual adalah telur dan ayam tua. Omset 1% ini nilai omsetnya diambil darimana ya Pak?
Apakah diambil dari total penjualan telur kita selama sebulan. Cth : Dijual 3000 butir x
Rp. 600 / butir : Rp. 1.800.000,- Apakah 1,8jt ini yg dimaksud dgn omset kt dan kita byr
1% nya?
Sedangkan penghasilan kita sebenarnya bukanlan 1,8jt. Krn biaya pemeliharaan ayam
(vaksin, pakan, dll) jg telah kita keluarkan.
Mohon penjelasannya mengenai nilai untuk omset yg kita ambil.
Trims,
Elvie
Balas

Dwi Utomo Apr 21, 2014 at 09:35

Dear bu Elvie
Pada PP 46 ini mengenyampngkan adanya biaya dan PTKP bu. Sehingga 1% x
1.800.000 dan jika ada penjualan ayam tua ya berarti omset gabungan keduanya
kemudian dikalikan 1%. Pada saat penyampaian SPT Tahunan nanti tidak perlu
menghitung lagi pajak tahunan karena 1% yg disetor tsb sifatnya sudah final.
Balas

7.

rahadian Apr 11, 2014 at 17:26

omset 2012 <4,8m tpi di 2013 ternyata >4,8m


jadi buat spt tahunan 2013 bagaimana pak?
omset dibagi 2 atau disatukan aja?
Balas

Dwi Utomo Apr 12, 2014 at 10:49

Omsetnya dibagi 2 pak, karena tahun pajak 2013 menerapkan PP 46 karena tahun
sebelumnya < 4.8M
Balas

8.

suheimi Apr 11, 2014 at 15:26

Tanya pak,
Perusahaan saya adalah MLM (Multi Level Marketing), aktif bulan Jan 2014.
Apakah 1% dari omzet perusahaan ? atau dikurangi dulu bonus Member, baru kali 1% ?
Apakah tetap bayar PPH member ? Kalau bayar lagi bukankah berarti bayar 2 kali ?
Terima kasih, info nya sangat membantu.
Balas

Dwi Utomo Apr 12, 2014 at 10:54

Ini agak sulit karena saya belum paham alur bisnisnya pak. MLM adalah
pekerjaan bebas yg dikecualikan dari PP 46, artinya yg dikecualikan adalah
perorangan yg mendapat komisi dari perusahaan induk MLM, jadi ya dipotong
PPh 21 bagi member. Untuk perusahaan pemberi pekerjaan selama kurang dari
4,8M tetap PP 46, yg dikalikan 1% adalah omset penjualan kotor.
Balas

suheimi Apr 14, 2014 at 13:48

Terimua kasih Pak,


Mohon maaf saya jelaskan sedikit:
Member MLM adalah Mitra Usaha Mandiri (bahasa Inggrisnya adalah
independent distributor). Kata Mitra Usaha Mandiri perlu ditekankan
disini. Dari kata tsb sepertinya dapat dikategorikan sebagai kerja sama.
Semua perhitungan bagi untung dikerjakan oleh perusahaan pusat. Disisi
member ada yg namanya Stockist dan Distribution Center, yaitu: tempat
para member lain membeli produk selain di kantor pusat. Stockist bisa
punya ruko sendiri, karyawan sendiri dan mengelola stok sendiri, tetapi
tidak membayar bonus member (kantor pusat yg bayar). Member bisa
berupa perorangan, perusahaan berbadan hukum, atau yayasan. Stockist
bisa mempunyai legalitas sendiri, lepas dari perusahaan. Yang merupakan
bagian dari perusahaan adalah cabang, dan biasanya cabang hanya ada
beberapa saja yang tujuannya adalah mempercepat distribusi & efisiensi.
Member, Stockist dan Distribution Center masing2 mendapatkan
Royalty (bonus) dari hasil penjualan mereka.
Di perusahaan saya hampir 90% penjualan berasal dari stockist dan
Distribution Center (di MLM lain porsinya mungkin berbeda).
Menurut saya:
Jika PP 46 dikenakan di omzet perusahaan MLM, sedangkan di dalam
omzet ini terdapat Bonus/Royalty member/Stockist/Distribution Center,
dan kemudian Bonus ini dikenakan kembali PPh 21, maka terjadi 2x
pengenaan pajak.

Dan ada 2 cara untuk menghindari hal ini:


1. PP 46 dikenakan di perusahaan MLM, PPh 21 tidak dipungut,
member/stockist/DistributionCenter dikenakan PP 46.
2. PP 46 dikenakan sesudah omzet dikurangi bonus. PPh 21 bonus
member/stockist/Distribution Center tetap dipungut.
Usul saya, kantor pajak mengambil no. 1, karena PPh 21 bonus member
sulit di kontrol oleh kantor pajak, dan member/stockist/DistributionCenter
adalah Mitra Usaha Mandiri yg mempunyai legalitas sendiri.
Terima kasih atas info nya, maaf bila ada kata yg salah.
Balas

Dwi Utomo Apr 15, 2014 at 16:36

Terimaksih lagi atas tambahan ilmunya pak, sebagian besar


pertanyaan sering tidak bisa saya jawab karena minimnya
pengetahuan tentang proses bisnis WP.

Pada opsi ini bisa saja PPh 21 tidak dipungut namun


member harus menyerahkan legalisir SKB PPh 21
ke induk MLM sehingga dinyatakan PPh 21 bebas
dari pungutan, namun bagi induk MLM harus bisa
menyaring member mana saja yang sudah punya
SKB atau belum.

Pada opsi kedua, itu dimungkinkan. untuk PPh 21


bonus bisa dibuatkan bukti potong sehingga
penerima bonus bisa melampirkannya pada SPT
tahunannya

Artinya bisa milih mana aja tergantung tingkat kepraktisannya.


Balas

Yuni Mar 25, 2014 at 19:33

Dear All Numpang Sharring aja yahhhh..


Sebenarnya PP 46 Th 2013 ini tidak mendukung atau mempermudah para Wajib Pajak.
karena dari usaha bisnis dagang consumer goods biasanya kita hanya dapat margin antara

3% s/d 8% karena semakin kompetitifnya dunia bisnis saat ini. dengan berlakunya PP 46
ini malah tambah memberatkan dan tidak berpihak kepada para wajib pajak
contoh Seorang Wajib Pajak baru memiliki usaha sebagai pedagang eceran bahan
makanan di Jakarta. Penjualan dalam satu bulan diperkirakan sebesar Rp.15.000.000,00.
Ia kawin dan mempunyai 2 (dua) orang anak. Jumlah peredaran setahun = 12 X Rp.
15.000.000,- = Rp. 180.000.000,-. Persentase penghasilan menurut norma Kode 62320 =
25%
Penghasilan neto setahun = 25% X Rp. 180.000.000,- = Rp. 45.000.000,Penghasilan Kena Pajak = penghasilan neto dikurangi Penghasilan Tida kKena Pajak =
Rp. 45.000.000,- Rp. 30.375.000,- = Rp. 14.625.000,Pajak Penghasilan yang terutang = 5% X Rp. 14.625.000,00 = Rp. 731.250,Tetapi apabila kita menggunakan PP 46 Tahun 2013 ini maka perhitungannya Rp.
180.000.000 X 1% = Rp. 1.800.000,Dan Contoh untuk Badan Usaha yang memiliki omset 3 Milyar dengan profit Rp.
175.000.000 apabila di hitunga pph pasal 29 dengan tarif pasal 17 dan memanfaatkan
fasilitas pasal 31 E UU PPh No. 36 Tahun 2008 maka pph terhutangnya sebesar Rp.
175.000.000 X 50% X 25% = Rp. 21.875.000 akan tetapi apabila perhitungannya
menggunakan PP 46 Th 2013 maka PPh yang terhutangnya Rp. 3.000.000.000,- X 1 % =
Rp. 30.000.000
Seperti yang kita ketahui penerbitan pp 46 th 2013 ini dimaksudkan lebih sederhana
dalam perhitungan pajaknya terutama bagi usaha UMKM. Ditinjau dari konsep keadilan
dalam pemajakan (equity principle), pengenaan PPh Final tidak sesuai dengan keadilan
karena tidak mencerminkan kemampuan membayar (ability to pay). Pemajakan yang adil
adalah bahwa semakin besar penghasilan maka semakin besar pula pajak yang harus
dibayar. Ini disebut dengan keadilan vertikal atau vertical equity (Musgrave & Musgrave,
1976). untuk perusahaan yang dalam masa rugi apakah tetap harus membayar pajak ???
Di mana peran serta pemerintah dalam mengembangkan UMKM kita ???
Dengan mengenakan PPh Final berdasarkan tarif 1 persen, UMKM yang berbentuk badan
usaha tidak diuntungkan dan tidak dirugikan apabila persentase Penghasilan Kena Pajak
terhadap peredaran bruto dapat mencapai 8 persen. Hal tersebut dapat dirumuskan
dengan: 1 persen x peredaran bruto sebulan = 12,5 persen x 8 persen x peredaran bruto
sebulan. Tarif 12,5 persen adalah merupakan tarif pasal 31 E dari UU PPh.
Apabila UMKM dalam bentuk badan usaha mampu meraih persentase penghasilan kena
pajak di atas 8 persen, maka UMKM dalam bentuk badan usaha akan diuntungkan karena
membayar PPh lebih kecil dari ketentuan sebelumnya. Demikian sebaliknya akan
membayar PPh lebih besar apabila persentase penghasilan kena pajak kurang dari 8
persen terhadap peredaran bruto, bahkan akan tetap membayar PPh Final meskipun
dalam keadaan merugi. Persentase minimum atas penghasilan kena pajak yang harus
dicapai oleh UMKM perorangan akan lebih besar dari 8 persen agar tidak dirugikan

dengan berlakunya pengenaan PPh Final 1 persen dari peredaran bruto, sebab dengan
berlakunya PP 46 Tahun 2013 Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) tidak lagi menjadi
faktor pengurang dalam menghitung kewajiban PPh UMKM orang pribadi.
Sederhana Tetapi Mundur dari Sistim Self-Assessment yaitu kepatuhan membayar pajak
secara sukarela (voluntary compliance).
Balas

Dwi Utomo Mar 27, 2014 at 10:19

1.

Dear Bu Yuni
Terima kasih sebelumnya saya sampaikan secara personal atas opini (bahkan ada
yg fakta) yang runtut ini. Jangan-jangan bu Yuni ini seorang konsultan pajak ya ;).
Saya menerima banyak pendapat serupa baik lewat email, FB, dan komentar di
blog, semuanya saya muat dan semuanya mengeluhkan, tapi gapapa namanya
demokrasi harusnya gitu.
Dari dasar hitungan sebagai simulasi saya setuju dengan bu Yuni, namun ini
secara personal karena dari DJP masih belum merevisi atau mencabut aturan ini.
Artikel serupa pernah ada di ortax dengan hasil hitungan yang mirip dengan bu
Yuni. Pada titik tertentu PP 46 menguntungkan, tetapi bisa merugikan jika profit
dibawah standar tsb.
Sebagai orang pajak, saya harus melaksanakan aturan ini dan menghimbau WP
lain, tetapi sebagai wajib pajak, saya secara pribadi juga menolak walaupun
akhirnya manut juga.
Saya barusan lihat di web MK, masih belum ada yg mengajukan judicial review
atas aturan ini, artinya aturan ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya
masih berlaku.
Cheers
Balas

Diana Mar 22, 2014 at 12:36

Dear Pak Dwi,


Mohon tanya. Saya sebagai pegawai kantoran (sudah terima bukti potong) punya usaha
sampingan jual selang & atap PVC, per Januari 2013. Usaha sampingan tsb omzetnya

kurleb 1.5M/tahun.
Pertanyaan saya:
1. Apakah saya masih bisa bayar untuk tahun 2013, diugabungkan dengan laporan akhir
maret ini, walau tidak ada SPT Masa?
2. Kalau no 1. bisa, untuk melaporkan dalam PP46 tsb,data apa saja yang harus saya
siapkan?
3. Input di SPT nya, menggunakan form 1770 atau 1770 S? dan penghasilan dari
sampingan ini masuk di mana ya?
Terimakasih banyak bantuannya, Pak Dwi.
Balas

Dwi Utomo Mar 22, 2014 at 15:06

1.

Dear bu Diana

Selama SPT Tahunannya belum dilaporkan, maka masih bisa


setor yg 1%

Setelah disetor ibu bisa bikin rekapan penjualan kotor PVC


tersebut per bulannya

Karena ibu seorang karyawati, silhkan gunakan form 1770S dan


rekapan bruto dan pajak 1% tadi bisa diisikan di 1770S-II bag. A
no . 14

Balas

2.

setiawan Mar 22, 2014 at 00:41

selamat malam,
saya ingin menanyakan mengenai PPH final 1%
saya mantan pegawai swasta dan punya npwp ( tahun 2012 lapor spt nihil krn
penganguran ) , saat ini saya berjualan makanan di mobil pribadi yang selalu berpindah
tempat ( baru mulai feb 2013 ), dan omsetnya kurang dari 4,8 M .saya kena pp 46 yg 1%
final tidak ? lalu saya lapor nya pakai norma ?
mohon pencerahan nya
terima kasih

Balas

Dwi Utomo Mar 22, 2014 at 15:12

1.

Selamat sore pak Setiawan


Berdasarkan info yg bapak tulis saya simpulkan usaha pak Setiawan juga berlaku
PP 46 juga. Khusus untuk yg penjualan jan-jun bisa dihitung dengan norma,
sedangkan yg juli-des tidak perlu dihitung lagi karena sudah disetor dengan pajak
final 1%. Silahkan baca artikel ini untuk rujukan sederhana.
Balas

setiawan Mar 23, 2014 at 18:08

terima kasih penjelasan nya pak dwi.. kalau spt saya 2012 pakai 1770S
sedangkan sekarang pakai 1770 ya pak dwi..?
pelunasan yg 1% itu kan saya blm bayar bisa sekaligus aja ya pak jun
sampai dec 2013 . cara bayar nya pakai ssp ?
Balas

Dwi Utomo Mar 23, 2014 at 21:39

Dibayar sekaligus bukan berarti isi 1 SSP untuk 6 bulan tapi tetap
diisi per SSP. Cara setornya bisa pakai SSP atau ATM atau billing
system
Balas

yudi Mar 15, 2014 at 19:55

halo pak, saya pegawai di toko persewaan komik kecil, di toko saya tidak potong pajak,
jadi saya gak ada bukti potong
saya mau isi spt 1770 ss, tetapi kata petugas pajak tidak bisa karena tidak punya bukti
potong
jadi disuruh untuk 1770, yang mau saya tanyakan pak

1: apakah hitungannya tetap gaji 1 tahun ptkp lalu dikali 5% seperti pph pasal 21
karyawan tapi pakai form 1770
2: apakah langsung dari gaji dikali 1% pph final
3: apakah saya pakai norma 00000 tentang pekerjaan bebas profesi lainnya kena 50%
terima kasih
Balas

Dwi Utomo Mar 17, 2014 at 16:54

1.

Sore pak Yudi, disebut pegawai umumnya karena dia bekerja pada
seseorang/perusahaan, pak yudi sendiri pemilik usaha atau karyawan murni? Dan
memang bener untuk SPT tahunan karyawan harus punya bukti potong dan itu
dibuatkan oleh pemberi kerja.

Rumusnya iya sama pak, di bupot adalah akumulasi dari 12


bulan tsb

kalau status pegawai tetap, maka ada biaya jabatan pak

Norma berlaku untuk pekerjaan bebas profesi, dan


persentasenya bervariasi sesuai jenis pekerjaan, untuk
karyawan tidak perlu norma

Balas

2.

ucieadinda Mar 12, 2014 at 17:46

pak, kantor saya selalu buat faktur pajak dengan kode 030 apa itu juga harus bayar 1% .
omset per tahun kurang dr 4,8M, terima kasih pak
Balas

1.

Dwi Utomo Mar 13, 2014 at 12:51

FP itu hubungannya dengan PPN, sedangkan 1% terkait PPh, jadi keduanya


aturan tersendiri. Karena batasan PKP saat ini 4.8M juga, maka ibu bisa ajukan
pencabutan PKP sehingga kewajiban yg tersisa cukup setor PPh final 1% saja.
Balas

3.

Landra Mar 10, 2014 at 21:04

Pak, bagaimana dengan calo jasa perantara, termasuk dlm pp 46 atau PPh Pasal 23 atau
norma ya pak? tahun sebelumnya sy sebagai karyawan.?
Balas

Dwi Utomo Mar 12, 2014 at 16:57

1.

Yang dikecualikan di PP 46 itu adalah perantara, sayangnya tidak jelas apakah


semua jenis perantara dikecualikan. Silahkan ibu hubungi AR saja karena lebih
tahu proses bisnis yang lebih rinci terkait usaha sebagai perantara. Saya pribadi
cenderung ke norma.
Balas

4.

YULIA Mar 4, 2014 at 14:52

pak,saya mau tanya usaha di kantor saya baru mulai berjalan usahanya februari 2014
dengan omzet di bawah 4,8 milyar /tahun ato 400juta /bulan.
apakah harus menggunakan pph final 1% atau pph 25?
mohon di bantu pak,terima kasih.
Balas

5.

priyatna Feb 20, 2014 at 10:03

Mao tanya pak, kalo aku guru les dgn penghasilan 4.500.000 apakah tetap kena pp460?
Balas

Dwi Utomo Feb 20, 2014 at 10:53

1.

Guru lesnya apa bekerja pada suatu bimbel/lembaga? Digaji oleh lembaga? Jika
mengajar atas nama pribadi dan menerima honor atas les maka iya termasuk PP
46
Balas

priyatna Feb 21, 2014 at 10:19

les dr rumah ke rumah, dan tidak tetap. Bkn guru les adalah jasa pengajar.
Jd dikecualikan. Kalo pake pp46 aku byr berapa ? Kalo pake pph 25 kan
cuma 12500 perbulan.
Balas

valent Mar 12, 2014 at 16:22

mohon pencerahannya pak dwi,


untuk Penghasilan sebagai pemilik bimbel ( atas nama pribadi bukan
yayasan) merupakan objek PP 46?
Balas

Dwi Utomo Mar 13, 2014 at 12:54

Pengajar dikecualikan pada PP 46, tapi jika pak Valent sebagai


pemilik memperkerjakan beberapa orang sebagai tenaga pengajar
maka kena PP 46
Balas

Yohan Mar 14, 2014 at 02:46

Boleh minta contoh perhitungan pajak untuk guru les (dr


rumah ke rumah)
Dengan penghasilan tidak tetap tiap bulannya
Misalnya :
jan 3jt
feb 4jt
mar 5jt
apr 4jt
mei 3jt
jun 1jt
jul 1jt
aug 3jt
sep 4jt
okt 5jt
nov 5jt
des 1jt
Terima kasih banyak sebelumnya
Balas

Priadi Jan 30, 2014 at 18:04

Salam kenal pak,


Terimakasih sebelumnya pak, bahasan2nya sangat memberi pencerahan pd saya yang
awam pajak..
Berikut saya ada pertanyaan: kaitannya dengan kriteria WP yang dimaksud dalam PP 46
tsb
Jika ada WP OP yang bekerja di lebih dari 1 perusahaan (sebagai Direktur Utama,
Komisaris), menjadi distributor MLM, dan mendapatkan deviden, apakah termasuk yang
wajib mengikuti ketentuan PP 46 ?
Thx, Frans
Balas

Dwi Utomo Jan 31, 2014 at 11:16

Salam kenal pak Frans


PP 46 hanya mengatur pajak penghasilan atas usaha, sementara penghasilan atas
pekerjaan (karyawan, direktur, komisaris) sudah dikenakan PPh 21 sehingga tidak
dikenakan tarif 1% lagi. Sedangkan untuk distributor MLM dikecualikan dari
pengenaan PP 46 juga. Deviden biasanya sudah dikenakan PPh final. Secara kasar
saya tidak melihat ada potensi PP 46 atas 3 sumber penghasilan diatas.
Balas

Priadi Feb 3, 2014 at 11:47

Pagi pak,
Sepakat pak.. Tapi untuk Desember kemarin (WP OP yang sama),
pengajuan Pbk kami yang seharusnya Kode MAP-Kode Setor 411125-100
tertulis 411121-100 ditolak oleh KPP mengacu pada PP 46 pasal 2, pasal 3
ayat (1) & SE-42/PJ/2013 sehingga seharusnya menurut KPP menjadi
411128-420 Bagaimana menurut pendapat bapak?
Terimakasih, Salam # Frans #
Balas

iva_gjt Jan 24, 2014 at 16:18

siang pak, mohon dibantu pak solusinya, saya agak terlambat dpt informasi ttg PP no 46,
dan baru menyadari kl omzet 2012 kami kurang dari 4,8 M. Sedangkan kami sdh
terlanjur bayar pph 25 badan dgn perhitungan yg lama pak (Jan Des 2013), pertanyaan
kami adalah :
1.Bagaimana tahap2 pembetulan dr masing2 bulan yg telah kami bayar pph 25 nya.
2.Info yg kami dpt pph 25 yg terlanjur dibayar bs dipindahbukukan dengan mengajukan
surat ke kpp,, nah isi suratnya nti utk point dipindah bukukan di sini maksudnya
dipindahbukukan ke mana pak?
Kami jg mempunyai bukti potong PPh 23 dr rekanan kami. untuk perlakuan bukti potong
tsb bagaimana pak? apa masih bisa dikreditkan dlm SPT Tahunan Badan, ato ada
prosedur/peraturan lain pak ?
Utk tarip 1% itu dihitung dr omzet bruto perbulan, ato harus disetahunkan dulu pak (yg
DPP ato PPN pak) ?

Selisih dr perhitungan pph 25 yg lama dengan tarip 1% dr omzet, itu nanti bagaimana
sistem dan proses pembayaran dan pelaporannya pak
Mungkin itu dulu pak, mohon dengan sangat bantuan penjelasannya krn trs terang ini
masih baru bagi kami dan kami msh agak bingung pak, jd maaf jg kl pertanyaannya
banyak.
Sebelumnya trimakasih banyak pak, jangan kapok ya pak
Balas

Dwi Utomo Jan 28, 2014 at 09:44

Siang bu Iva

Dengan asumsi bahwa perusahaan bu Iva belum setor 1% maka


bisa diajukan Pbk ke PPh final 1%

Di-Pbk artinya dari jenis kode pajak PPh 25 ke jenis pajak PPh
Final 1%

Bukti potong PPh 23 nantinya menjadi kredit pajak bu

Tarif 1% dihitung atas omset per bulannya ya bu

Jika selisih itu karena PPh 25-nya yg lebih besar maka, atas
selisih lebih tsb bisa di-Pbk ke jenis pajak lainnya

InsyaAlloh nggak kapok bu

Balas

2.

Yessica Novia Chandra Jan 20, 2014 at 16:36

Siang, Pak.
Sebenarnya saya masih bingung dengan peraturan baru ini.
Jika Omzet toko saya tidak melebihi 4.8 M maka saya membayar PPh final 1%, lalu
bagaimana dengan PPn saya, pak? Apakah masih perlu dilakukan pembayaran?
Kondisinya begini. Saya mempunyai toko yg berbentuk PT bergerak di penjualan kain.
Omzet saya dalam setahun tidak melebihi 4.8M. Saya mendapat saran dari orang lain
bahwa jika keadaannya sudah begini maka saya tidak perlu membayar PPn lagi, tapi

membayar PPh saja. Apakah ini benar, Pak? Mohon petunjuk dari Bapak. Terima Kasih
sebelumnya
Balas

Dwi Utomo Jan 28, 2014 at 11:57

Siang b. Novi
Saat ini dengan terbitnya PMK 197/PMK.03/2013 yg berlaku sejak 1 jan 2014,
memang memberikan pilihan bagi WP PKP yg omsetnya <4.8M untuk memilih
apakah status PKP-nya dicabut atau tetap jalan. Jika memilih untuk dicabut maka
kewajiban setor dan lapor PPN-nya otomatis hilang
Balas

3.

wynda Jan 15, 2014 at 11:36

Pagi pak Dwi, untuk petani sawit jika lahannya hanya sedikit dan omset di bawah 4.8M,
apakah terkena PP 46 ini ?
Balas

Dwi Utomo May 2, 2014 at 21:57

Iya rekan Wynda


Balas

4.

mirzaadr Jan 10, 2014 at 16:42

pph final 1% ini ada hubungannya dengan ppn apa ga ya?


apakah hanya menyangkut ke pph tahunan?
Balas

Irfan Hartono Jan 11, 2014 at 13:12

tidak terkait dengan PPN Pak.


Balas

mirzaadr Jan 16, 2014 at 13:29

klo ada situasi begini:


situasi1:
Penjualan saya 8M (orang pribadi) tapi saya bagi menjadi 2 yaitu 4m ke
toko A dan 4M ke toko B, maka tiap bulan saya bayar ke negara 80juta klo
merujuk ke pph final 1%
situasi ke 2:
Penjualan saya 8M DPP+PPN (PKP) dengan margin keuntungan yg
diisyratkan dari supplier 10% maka saya jual ke cust 7.2m dan ppn
keluaran 720juta, dan hpp saya jika keuntungan yg diisyaratkan 10% maka
6.5M ppn masukan saya 650juta
bisa dsimpulkan saya bayar utk bualan tersebut 720juta-650juta=70juta
trus yg saya tanyakan lebih baik pkp dengan bayar ppn atau orang pribadi
merujuk ke pph final 1%?
Balas

Agus Surya Apr 25, 2014 at 16:12

PPh dan PPN beda pak. Pada situasi1 bpk bercerita ttg PPh
sedangkan situasi2 ttg PPN. Sepanjang bapak belum dicabut PKP
nya, kewajiban PPN tetap jalan. Dikenakan atas penjualan (omset)
sblm PPN Keluaran.
Sedangkan PPh Final 1% lebih berfungsi pengganti PPh25.
Kebetulan pula dasar penarifannya dikaitkan dengan omset jadi
sering salah kaprah dengan PPN.

Balas

Dwi Utomo May 2, 2014 at 21:55

Terima kasih pak Agus, jawabannya sangat membantu


Balas

agus Jan 8, 2014 at 13:06

pak dwi..saya mw tanya tentang bagaimana bentuk laporan keuangan laba rugi koperasi
terkaitan penerapan PPh final 1% ? SHU setelah pajak = SHU sebelum pajak dikurangi
pajakapakah pajak yang dimaksud ini pajak PPh final 1 % ?
Balas

fachry Jan 2, 2014 at 21:53

setelah kami membayar tarif 1%dari omset ternyata laporan keuangan kami mengalami
rugi bagaimana perhitungan tarif pajak tahunan badan dan bagaimana omset yg sudah
kami bayar 1% apa bisa d kembalikan kalau tidak bisa berarti kita tidak perlu bikin
laporan keuangan dalam laporan tahunan pajak karana ga ada fungsinya jadi seolah 2 rugi
atau untung tidak ada pegaruh untuk dilaporkan , mohon jawabannya ?
Balas

Irfan (co-admin) Jan 2, 2014 at 22:30

Selamat malam Pak Fachry, ijinkan saya mewakili Pak Dwi yang sedang kurang
enak badan untuk menjawab pertanyaan Pak fachry. Untuk perhitungan SPT
tahunan 2013 ini ada dua jenis penghasilan. yaitu atas pengasilan dari omzet dari
januari s.d. juni, adalah bukan final. sedangkan untuk penghasilan dari omzet juli
s.d. desember adalah bersifat final. silakan dihitung penghasilan di semseter
pertama, jika memang rugi dan ada kelebihan bayar maka bisa dilakukan restitusi.
catatan: kelebihan bayar di sini hanyalah dari pembayaran PPh non final saja

seperti PPh 25, PPh 22 dan PPh 23. Sayangnya untuk PPh final 1% memang tidak
mengenal untung dan rugi.
Balas

Adi Dec 31, 2013 at 13:51

Pagi saya ..
Sya Adi,Saya sedan mendirikan Perusahaan di bidang Jasa Tours & Travel,saya sangat
tidak paham dengan masalah pajak mohon pencerahannya.Perusahaan saya berbentuk
PT.efektif 2014.mohon di berikan penjelasan: Pajak apa saja yang harus saya bayar nanti
setelah perusaan itu ber jalan. dan berapa % ke wajiban pajak yang harus di
bayarkan,mulai dari pajak bulanan sampai pajak tahunan.
atas bantuannya saya ucapkan terimakasih.
Adi
Balas

Irfan Hartono Jan 3, 2014 at 20:08

salam, pak adi. jika bapak sedang mengurus pendirian perusahaan, maka pasti
bapak juga mengurus NPWP ke kantor pajak juga kan?
jangan sungkan untuk minta konsultasi kepada petugas pajak di sana, pak.
konsultasi yang bersifat khusus seperti ini akan lebih memudahkan bapak untuk
mengerti apa saja kewajiban perusahaan bapak.
namun secara umum, pajak yang nantinya akan menjadi kewajiban perusahaan
antara lain adalah PPh dan PPN.
untuk PPh, bapak bisa membaca artikel pada link dibawah ini, apakah bapak
memenuhi kriteria sebagai wajib pajak yang dikenai PPh final 1% atau tidak.
http://amsyong.com/2013/07/sosialisasi-pp-no-46-tahun-2013/
http://amsyong.com/2013/08/pajak-1-saatnya-anda-tahu-pp-46-tahun-2013-latarbelakang-1/
http://amsyong.com/2013/08/pajak-1-saatnya-anda-tahu-pp-46-tahun-2013apakah-saya-wajib-kena-2/
http://amsyong.com/2013/08/pajak-1-saatnya-anda-tahu-pp-46-tahun-2013-tatacara-setor-3/
http://amsyong.com/2013/08/pajak-1-saatnya-anda-tahu-pp-46-tahun-2013-tanya-

jawab-4/
jika ternyata tidak memenuhi, bolehlah kita bahas di kemudian hari. hehehe
untuk PPN, maka selain mendaftarkan untuk mendapat NPWP, bapak juga harus
mendaftar untuk dikukuhkan sebagai PKP atau Pengusaha Kena Pajak.
hal ini erat kaitannya dengan penerbitan faktur pajak. apalagi bapak nanti akan
bermitra dengan perusahaan lain seperti maskapai penerbangan dan lain-lain.
biasanya mereka akan meminta status mitra mereka sudah dikukuhkan sebagai
PKP.
besarnya PPN adalah 10%, menjadi beban bagi pengguna jasa perusahaan Pak
Adi. Pak adi diminta membantu negara untuk memungutkan PPN dari mereka.
kadang juga tidak perlu memungut, namun disetorkan sendiri oleh konsumen.
yang seperti itu contohnya adalah jika perusahaan pak adi menjual jasa penjualan
tiket dari perusahan maskapai penerbangan BUMN.
secara garis besarnya seperti itu pak, namun saya tetap menyarankan bapak untuk
konsultasi dengan petugas pajak di sana. agar bapak bisa menjelaskan secara
detail usaha bapak, lalu petugas pajak juga akan menjelaskan sesuai kebutuhan
perusahaan Pak Adi.
demikian.
Balas

aryani nurbawa Dec 21, 2013 at 03:47

Pak, saya Aryani dari papua mau tanya. pph psl 4 peerhitungannya bagaimana dengan
pasal 22 jasa konstruksi. Misal saya di bulan nopember ada omzet 300.000.0000 yang
sudah dipotong pasal 22 sebesar 2%. Apakah saya juga setor 1% dari 300.000.000? Terus
perhitungan spt tahunannya bagaimana? Terimakasih.
Balas

Farida Dec 19, 2013 at 16:12

Siang pak,
CV t4 saya kerja baru membuat NPWP tahun lalu Mulai Nov dengan omzet 7.200.000.
Omzet didapat dari proyek-proyek yang dikerjakan. Adapun proyek ada yang dari luar
dan dalam negeri dan omzet nya tergantung proyek yang dikerjakan.
Pada bulan jan-Jul, CV memiliki omzet,dan melapor tapi tidak membayar pajak (NIHIL)

dengan form pasal 25.


Bulan Ags-Nov belum melapor.
Yang saya tanyakan:
1. Perhitungan wajib pajak untuk bulan jan-jun gimana ya pak?
2. Pajak dibedakan seperti apa untuk proyek dalam dan luar negeri(memakai dolar)?
3.Bagaimana cara menghitung pajak per bulan ags-nov?apakah terkena denda?
Balas

Dwi Utomo Dec 19, 2013 at 16:47

Selamat sore bu, dengan ibu ida ya


Omset 7,2jt tsb apakah omset pada SPT tahunan 2012 kemarin atau bulan apa?
Saat ini CV ikut PP 46 atau tidak bu?
1.Untuk pajak jan-jun masih ikut angsuran PPh 25, kalau hasil hitungan dari SPT
badan 2012 nilai angsurannya 0 berarti udah bener yg CV lakukan (lapor SSP PPh
25 nihil)
2.Untuk penghasilan dari luar negeri biasanya dikenakan tarif P3B, pastikan dulu
apakah sudah dipotong pajak di negara asal atau belum. Untuk omset dalam
negeri dihitung bisa dengan PPh 25 atau PP 46
2.Nah itu tadi apakah saat ini ikut PP 46 atau tidak, pastinya jika omset dalam
negeri tahaun 2012 masih dibawah 4,8M maka tahun ini setor 1% diluar
penghasilan luar negeri.
Balas

Farida Dec 20, 2013 at 16:49

terimakasih pak,
tahun 2012, angsurannya nihil, dengan SPT akhir tahun 37k.
menurut dinas pajak, pajak pasal 25 yang diangsur nihil selama jan-jun
utk 2013, untuk juli dst diganti pp no 46.
apakah itu artinya jan-jun, cv tidak terbebani pajak, dan mulai juli, cv
mulai dikenai pajak dengan perhitungan 1% omzet perbulan?.

bagaimana dengan perhitungan setahunnya?


terimaksih sebelumnya,,
Balas

Dwi Utomo Dec 20, 2013 at 18:04

Sore bu Ida.
Untuk jan-jun ada pajak, tapi karena angsurannya nihil di SPT
maka ya laporkan nihil saja. Tetapi nanti untuk omset jan-jun (jika
ada) dihitung lagi pajaknya. Yg omset jul-des karena sudah
disetorkan 1% dan final maka tidak perlu dicari lagi. Ilustrasinya
ada di sini.
Balas

Gunawan Dec 18, 2013 at 23:45

Pak Dwi, jika omset setahun diatas 600 juta dan dibawah 4,8milyard, apakah saya harus
menjadi PKP? Saat ini status saya masih non PKP. Langganan saya semua home industri,
jadi tidak memerlukan PPN. Sebab saya pernah membaca bahwa jika omset diatas 600
juta, WP diharuskan menjadi PKP.
Terima kasih atas infonya.
Balas

Gunawan Dec 18, 2013 at 23:44

Pak Dwi, jika omset setahun diatas 600 juta dan dibawah 4,8milyard, apakah saya harus
menjadi PKP? Saat ini status saya masih non PKP. Langganan saya semua home industri,
jadi tidak memerlukan PPN. Sebab saya pernah membaca bahwa jika omset diatas 600
juta, WP diharuskan menjadi PKP.
Terima kasih atas infonya.
Balas

fitri Dec 6, 2013 at 18:34

Selamat sore Pak,


saya mau tanya saya bekerja di sebuah Yayasan Perguruan Tinggi apakah untuk
Yayasan juga berlaku PP 46 apabila pendapatan kami dalam 1 tahun < 4,8 M?
Balas

Dwi Utomo Dec 8, 2013 at 01:08

Selamat malam bu Fitri


Maaf baru sempat balas
Peraturan ini berlaku jika dalam yayasan ada bidang usaha komsersial, sementara
jika hanya semata-mata sosial maka tidak kena. Tetapi kewajiban lapor SPT tetap
berlaku.
Balas

dessy h Nov 30, 2013 at 16:23

maaf saya mau bertanya..perusahaan kami omset msh dibwh 4,8M..dan baru tau hari ini
kalo kami diminta membayar pph secara final bkn psl.25 seperti biasanya (janoktober2013)..yang kami bingung bagaimana dengan pph 23 yg telah dipotong dan
dilaporkan oleh klien??bagaimana kamimenghitung pph finalnya???misal omset bulan
oktober 230.000.000, ps 25 yg telah disetor tiap blnnya 266.715 dan pph 23 yg telah
dipotong dibln oktober 4.600.000..brp pph final yang harus kami setor???karena tiap bln
pph 23 kami yg telah dipotong dan laporkan 2% dari nilai invoice..terimakasih..
Balas

Dwi Utomo Dec 2, 2013 at 10:37

Selamat (senin) pagi bu Dessy


Mohon maaf telat balas
Untuk PPh 23 yang sudah terpotong nanti akan dijadikan kredit pajak pada SPT

Tahunan. Sedangkan sejak juli dst, usaha ibu tetap setor 1%-nya dari omset
bulanan. Dari contoh oktober berati 1% yg disetor 2.300.000
Balas

Ades (L) Apr 16, 2014 at 23:45

Selamat malam Pak Dwi,


Misal sampai dengan Desember 2014 nanti perusahaan saya masih
beromzet di bawah 4,8 milyar.
Dimana setiap bulan saya tertib bayar PPh Final 1% dari Omzet bulanan
sesuai PP No. 46, dan setiap bulan pula saya mendapatkan Bukti Potong
PPh 23 dari Klient kami atas jasa penyewaan kendaraan.
Berarti nanti pada saat Laporan Tahunan, Bukti Potong PPh 23 tersebut
dapat dikreditkan atau dipindahbukukan untuk pengurang PPh Final Masa
Desember 2014 yaa Pak.
Yang menjadi pertanyaan saya :
1. Bagimana jika PPh Final Masa Desember 2014 tersebut lebih kecil dari
Total Bukti Potong yang saya terima selama tahun takwim 2014.
2. Jika PPh Final lebih besar dari Total Bukti Potong PPh 23 selama tahun
takwim 2014 sudah pastinya saya hanya membayar kekurangannya saja
yaa Pak Dwi tapi tentunya semua setelah melalui proses Pemindahbukuan.
Mohon pencerahannya Pak untuk persiapan nanti.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya.
Salam Pajak.
Balas

Dwi Utomo Apr 17, 2014 at 11:14

Selamat siang pak Ades


Bupot PPh 23 nantinya jadi kredit pak, kecuali pak Ades sudah
punya SKB PPh 23 maka klien tidak perlu potong PPh 23 lagi.

Karena PPh 23 tidak bisa di-Pbk maka tidak bisa


dikompensasikan ke PPh final 4 ayat (2)

Kembali lagi ke poin 1, jadi yang bisa


diperbandingkan dengan pajak 1% adalah PPh 22
atau PPh 25 yg terlanjur angsur pak

Balas

Ades (L) Apr 18, 2014 at 13:11

Terima kasih Banyak Pak Dwi atas pencerahan dan


penjelasannya yang sangat cukup jelas sekali.
Semoga kami dan rekan-rekan menjadi WNI yang tertib
pajak.
Dan semoga sukses buat semuaamiin..
Balas

Dwi Utomo Apr 21, 2014 at 10:05

Terim kasih pak Ades, tertib bayar pajak dan selalu


kritis dengan penggunaannya
Balas

enyma Nov 24, 2013 at 14:34

pak, mau tanya jika usaha grosiran kan % nya sedikit, omset besar tapi laba % kecil.
misalnya laba 5% dari omset, apakah tetap 1% yang harus di setor ? terima kasih
Balas

Dwi Utomo Nov 24, 2013 at 14:37

Iya bu. Tetap 1% tarifnya. Flat bagi OP ataupun badan.


Balas

ibnu Nov 21, 2013 at 00:31

jika petani dan peternak itu yang kurang dari 4,8 m kena 1 persen ato gimana mas?
Balas

Dwi Utomo Nov 21, 2013 at 11:21

Iya termasuk juga mas Ibnu. Ya dari hasil panen atau penjualan ayam potong.
Balas

suwanto Nov 18, 2013 at 11:55

Beri contoh 1 orang PNS tentang PP 46 2013


dan Badan Koperasi Simpan Pinjam
Balas

Dwi Utomo Nov 18, 2013 at 13:46

Siang pak
Maksudnya contoh untuk kegiatan apa ini pak?
Jika hanya bekerja sebagai PNS saja, maka sudah dipotong PPh 21 oleh instansi
pak.
Untuk koperasi simpin, tarif 1% dikalikan atas pendapatan bunga simpanan
Balas

manda Nov 16, 2013 at 00:35

Malam pak, maaf saya awam sekali dengan perpajakan. Saya ingin sedikit merepotkan
nih. Setelah baca dan tanya ke AR ada yg masih saya bingung untuk bayar pajak. Kasus
saya berbentuk PT bertransaksi dengan pt kawasan berikat. Otomatis saya tidak bayar

ppn kan pak. Untuk pph, baru ada transaksi dengan omset
Juli : 16.000.000
Agustus : nihil
September : 31.000.000
Oktober : 44.000.000
Perhitungan pajak pph dikalikan 1% saja pak?
Apa tidak memperhitungkan beban yg dikeluarkan?
Apa saja kewajiban saya pak
Maaf pak mohon dibantu, karna AR saya kurang bersahabat hihihihihi
Terimakasih banyak
Balas

Dwi Utomo Nov 16, 2013 at 11:42

Selamat siang rekan Manda


1.Ya benar, PPh 1% kalikan dengan omset per bulan, kecuali yang bulan agustus
tidak perlu setor karena nihil omsetnya 2.Beban yang dikeluarkan tidak
diperhitungkan pada pajak 1% ini, tetapi tetap dirincikan pada laporan laba rugi di
SPT Tahunan nanti 3.Kewajiban badan atau perorangan? Jika badan lapor SPT
Masa PPN, SPT Masa PPh 21 dan lain yang terkait.
4.Minta aja ditukar dengan AR lain rekan, bisa aja kok asal disampaikan ke yang
berwenang (atasan AR tsb)
Semoga bisa membantu
Balas

manda Nov 16, 2013 at 12:25

wah trimakasih pak sangat membantu


Balas

Dwi Utomo Nov 18, 2013 at 08:39

Sama-sama
Senang bisa membantu
Balas

acok Nov 14, 2013 at 13:04

Siang pak..!!
saya pernah konsultasi ke AR dan AR masih kebingungan menjawan pertanyaan2 saya
tentang PPH 1% dan SPT tahunan tahun berikutnya ? begini pertanyaan saya mohon
kiranya bapak bisa memberi pencerahan :
Acuan pengenaan PPh 1% tahun (2012) omset 4,8 milyar lbh 4.8m peraturan
tetap mengacu tarif yang lama = cukup jelas
efektif PPh final psl 4 ayat 2 (juli) perproject 1%tidak termasuk PPn= ckp jelas
perusahaan kami adalah perusahaan jasa (periklanan) yang pendapatan tidak
menentu, artinya kadang bulan agustus 2milyar, 400jt, 900jt , tidak lbh
4,8M dan hrs setor 1%, tetapi ternyata dibulan desember dpt pekerjaan
8milyar sedangkan perusahaan sudah setor 1% dibulan agustus..untuk kasus
seperti ini apa yang harus dilakukan??
untuk SPT tahunan perhitungan PPh omset 1 tahun dikurangi HPP dan biaya2
umum dan adm ketemu tafsiran PPhnya setelah itu dikenakan tarif
progressif atau taruf tunggal disesuaikan tafsirannya, setelah itu dikurang
anggusaran PPh 25 dan kredit pajak pph23/22dengan adanya PPh final 1% ini yang
tidak bisa diperhitungkan karena bersifat final bagaimana dgn PPh 1% yg sudah disetor
dan perhitungan SPT tahunan tersebut?
mohon penjelasan untuk kasus tersebut diatas..
terimakasih atas perhatiannya
berikutnya bisa nihil
Balas

Selamat siang juga pak Acok


Maaf telat responnya.

Dwi Utomo Nov 16, 2013 at 11:37

1.% atas omset per bulan, misal dalam 1 bulan ada 2 project ya jumlahkan dulu
omset keduanya kemudian kalikan 1%. Untuk yg desember 8M, ya kalikan juga
dengan 1% untuk setoran PP 46-nya. Jika dalam tahun ini ternyata omsetnya
melebihi 4,8M, maka tahun depan kembali menerapkan angsuran PPh 25.
2.Untuk perhitungan SPT dalam hal ini SPT badan, maka laba semester 1 dikali
tarif PPh pasal 17, kemudian dikurangi dengan kredit pajak, maka itulah yang
dilporkan pada SPT Tahunan. Untuk omset juli-desember dan pajak 1% yang
terutang tetap dilaporkan pada SPT Tahunan
Referensi hitungan
Referensi pelaporan
Balas

MOCHAMAD SYAFRUDIN Apr 15, 2014 at 03:35

disini saya bingung pa kan di bulan desember itu omzetnya > 4,8 M jadi
tidak perlu pake PP 46 yang 1% tapi pake perhitungan lama kan aturan di
PP 46 th 2013 jelas yang kena pph 1% adalah apabila pedapatan Brutonya
<= 4,8 M
Balas

Dwi Utomo Apr 15, 2014 at 08:12

Untuk tahu tahun pajak 2013 wajib gunakan PP 46 atau tidak


adalah dengan melihat jumlah omset pada tahun pajak 2012
apakah sudah melebihi atau belum. Pada contoh tsb diasumsikan
tahun pajak 2013 menggunakan PP 46, sehingga sampai dengan
bulan desember 2013 sekalipun omset sudah melebihi 4.8M tetap
menggunakan PP 46, barulah pada tahun pajak 2014 kembali lagi
ke angsuran PPh 25
Balas

eli Nov 13, 2013 at 13:17

siang Pak,
saya mau nanya, kalo untuk perusahaan baru bagaimana pemberlakuan pp 46 tahun 2013
ini, perusahaan berdiri bulan mei 2013, terdaftar sebagai PKP bulan Juni 2013, omsetnya
sbb:
Mei : 10.000.000
Juni : nihil
juli : 32.000.000
agustus : nihil
september : 220.000.000
perhitungan pph final 1% nya bagaimana pak? batas waktu untuk setor dan lapornya
bgmana juga? mohon pencerahannya, terimakasih.
Balas

Dwi Utomo Nov 13, 2013 at 15:32

Sore bu Eli
Karena terdaftarnya di tahun ini sebelum PP 46 diterapkan, maka penghasilan dari
sejak berdiri hingga bulan sebelum PP 46 diterapkan harus disetahunkan. Jadinya
omset mei s.d x 12/2 = 10.000.000 x 12/2 = 60jt. Kondisi usaha ibu dikenakan PP
46.
Hitungannya? Karena mulai berlaku bulan juli, maka
Juli = 32.000.000 x 1% = Rp.320.000
Agustus = 0 x 1% = Rp.0
September = 220.000.000 x 1% = 2.200.000
Bulan juli & agustus ibu setor senilai diatas
tentang setor bisa dibaca disini
tentang lapor bisa dibaca disini
Balas

Lina Nov 9, 2013 at 12:36

Pak, yang saya ketahui untuk perusahaan baru yang beroperasi kurang dari 1 tahun pada
tahun 2013 (operasional nya mulai mei 2013) maka masih menggunakan PPH pasal 25
walaupun omsetnya tidak melebihi 4.8M. Mohon pencerahannya. Info ini saya dapatkan

dari AR saya.
Terima kasih
Balas

Dwi Utomo Nov 9, 2013 at 20:32

Malam Bu Lina Semoga hanya miskomunikasi saja karena aturannya seragam


Saya kutipkan dari PMK-107/PMK.11/2013 pasal 3 ayat (3), (4) & (5) dengan
ilustrasinya.
(3) Dalam hal peredaran bruto dari usaha pada Tahun Pajak terakhir sebelum
Tahun Pajak yang bersangkutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
meliputi jangka waktu 12 (dua belas) bulan, pengenaan Pajak Penghasilan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada jumlah peredaran bruto
Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak bersangkutan yang disetahunkan.
contoh: PT berdiri Agustus 2012 dan omset usaha hingga desember 2012 400jt,
maka jika disetahunkan 12/5 x 400jt = 960jt
(4) Dalam hal Wajib Pajak baru terdaftar pada tahun pajak 2013 sebelum
Peraturan Menteri ini berlaku pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana
dimaksud dalamt Pasal 2 ayat (1) didasarkan pada jumlah peredaran bruto dari
bulan saat Wajib Pajak terdaftar sampai dengan bulan sebelum berlakunya
Peraturan Menteri ini yang disetahunkan. Contoh: PT berdiri januari 2013, baru
terima mulai bulan mei 2013 dan omset dari mei-juni 2013 adalah 500jt, maka
jika disetahunkan 12/2 x 500jt = 3M
(5) Dalam hal Wajib Pajak baru terdaftar sejak berlakunya Peraturan Menteri ini,
pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)
didasarkan pada jumlah peredaran bruto pada bulan pertama diperolehnya
penghasilan dari usaha yang disetahunkan Contoh: PT berdiri agustus 2013 dan
pada bulan agustus sudah mendapat omset 200jt, maka disetahunkan 12/1 x 200jt
= 2,4M

Karena 3 contoh semua omsetnya dibawah 4,8 M maka wajib PP 46


Balas

Gerald Oct 30, 2013 at 15:53

Selamat Siang Pak, saya ingin bertanya. misalkan kita wajib pajak yang punya usaha dan
dikenai PPh final serta tidak dipungut/ dipotong oleh pihak lain. Nah,kalau kita punya
transaksi diluar usaha kita tersebut kira2 termasuk dikenai PPh final gak pak?dan tidak
dipotong/dipungut oleh pihak lain lagi gak? Terima Kasih pak
Balas

Dwi Utomo Oct 30, 2013 at 16:43

Sore pak Gerald


Penghasilan diluar usaha itu maksudnya apa ya pak?
Penghasilan sebagai karyawan, penghasilan atas pekerjaan bebas, penghasilan
dari konstruksi itu semua memang dikecualikan dari pengenaan PP 46.
Balas

Gerald Oct 30, 2013 at 17:49

kalau misalkan begini pak, saya punya usaha atau perusahaan yang
bergerak di bidang konsultan pak (otomastis kena pph 23 atas usaha saya),
kalau saya punya usaha selain sebagai konsultan maksudya pak tapi masih
tetap bernaung di perusahaan saya. Terima kasih sebelumnya palk Dwi
Balas

Dwi Utomo Oct 30, 2013 at 22:49

Selama usaha lain tersebut bukan termasuk yang dikecualikan dari


PP 46, berarti ya tetep kena pak. Nanti omset per bulannya
gabungkan dulu dan kalikan 1%
Balas

rahayu Oct 10, 2013 at 20:40

pak saya mau nanya, jika rumah sakit di kenakan pajak final 1 %, apakah omzet dari
penjualan obat masuk dalam perhitungannya, padahal obat sudah dikenakan ppn?
terimakasih sebelumnya.
Balas

Dwi Utomo Oct 10, 2013 at 20:58

PP 46 hanya mengatur tentang PPh saja bu, tidak mempengaruhi PPN. Aturan
pengenaan PPN untuk obat masih berlaku seperti biasa.
Begitu bu Ayu
Balas

Ade Oct 9, 2013 at 13:00

Pak, sy pengusaha UKM baru (eceran) di ITC dgn norma 30% (termasuk WPOP).
Sesuai anjuran AO Pajak, tiap bln setor SSP pph 25 (omzet rata2 hanya 6 jt/ bln) di
kantor pos, dan kaget krn baru saja tahu klo ada aturan PP 46 ini (1%).
Pertanyaan:
1) apakah sy harus berhenti setor pph 25 (Feb-Sep13) berganti ke pp 46 (bulan Okt13
ini) ?
2) Formulirnya sama spt SSP atau ada formulir baru ? Trus, di awal tahun 2014 harus
tetap pelaporan SPT tahunan yah ?
3) Klo isi SPT tahunan rumusannya berubah lagi, sy bingung itung SPT-nya lagi..
4) Klo bisa, bikin donk artikel isi SPT tahunan 2014 dgn contoh perhitungan kasus
umum spt sy, krn banyak temen2 jua gak tahu caranya isi SPT dgn perubahan baru ini.
Arti pph final aja kagak ngerti kuatir salah isi
Maaf banyak tanya, sy bingung & awam banget ama pajak.. Thx.
Balas

Dwi Utomo Oct 9, 2013 at 13:24

Sebelum menjawab, saya bingung dengan istilah AO, mungkin AR/Account


Representative
1. Untuk masa Jan-Jun 2013 tetap setor PPh 25. Sementara untuk yang bulan JuliSeptember 2013 dilakukan pemindahbukuan ke kode yang seharusnya (411128420) tata cara Pbk lihat bisa baca disini
2. Untuk saat ini (juli-des 2013) hanya wajib setor saja pak tidak perlu lapor, nanti
wajib lapornya per januari 2014 bisa baca disini
3. Rumusnya nggak banyak berubah, hanya kali ini dipisahkan menjadi 2 bagian.
Saya buat artikelnya disini
4. Untuk pengisian ke SPT Tahunan pasti akan saya buatkan menjelang tutup
tahun nanti, saya pribadi masih was-was apakah akan ada perubahan format SPT
Tahunan atau tidak.
Silahkan tanya pak, daripada sesat dijalan
Balas

Ades (L) Apr 16, 2014 at 23:52

Pak Dwi.untuk tahun 2014 apakah saya tetap harus Lapor PPh 25 atau
tidak ?, karena saya jadi bingung dengna adanya PPh Final tersebut jika
masih harus lapor PPh Pasal 25
Balas

Dwi Utomo Apr 17, 2014 at 11:16

Tidak wajib lagi angsur PPh 25 pak, sudah ada ketentuan yang
mengaturnya
Balas

Ades (L) Apr 18, 2014 at 13:15

Terima kasih banyak Pak Dwi atas pencerahan dan bimbingannya.


Semoga sukses terus buat Pak Dwiamiin
Balas

sri Oct 8, 2013 at 19:19

Bagaimana dgn jasa perantara,seperti biro jasa pengurusan surat atau dokument. apakah
perjitung pp 46? atau tetap pph 25?
Balas

Dwi Utomo Oct 8, 2013 at 20:24

Ibu Sri, usaha ini statusnya orang pribadi atau perusahaan?


Jika perorangan maka tetap PPh 25, karena masuk di pekerjaan bebas
Jika badan hukum terhitung PP 46
Balas

Dwi Utomo Oct 8, 2013 at 13:39

Tetap menggunakan norma bu. Di PER-31/PJ/2012 dijelaskan pada lampirannya,


penghasilan yang dikenakan pajak adalah Bruto x 50% untuk kondisi bukan pegawai dan
tidak selalu menerima penghasilan secara berkesinambungan
Balas

Lili Oct 8, 2013 at 11:23

Selamat pagi, Pak Dwi.


Terima kasih atas jawabannya yang sangat membantu. Jadi, untuk agen property seperti
saya, perhitungannya tetap memakai norma ya? Dan apakah benar, jika kantor saya
melakukan pemotongan pajak setiap bulan, tetapi nilai normanya 50 %? Kalau melihat
tabel norma, saya lihat nilainya 40 %. Saya selalu meminta bukti potong pajak sehingga

saya bisa melakukan laporan SPT dengan bukti potong itu. Dan apakah saya masih
dikenakan pemotongan pajak yang lain lagi? Thanks.
Balas

Lili Oct 8, 2013 at 01:24

Selamat malam, Pak Dwi Utomo & salam kenal.


Pak, saya seorang agent property free lance & memiliki NPWP. Pertanyaannya, apakah
untuk profesi saya ini terkena pajak final 1%? Dan apakah saya tetap melaporkan pajak
penghasilan saya (PPh 21) memakai norma perhitungan untuk agen properti (norma 182
dengan nilai 40 %)?
Mohon bantuannya karena saya sangat awam tentang pajak.
Thanks.
Balas

Dwi Utomo Oct 8, 2013 at 05:27

Selamat pagi ibu Lili ya


Agen property yg freelance tidak dikenai Pajak Final 1%. Kenapa? Karena itu
termasuk kategori pekerjaan bebas, sekalipun agen property statusnya sebagai
karyawan di perusahaan juga tidak dikenai Pajak final 1% karena bukan
pengusaha. Jadi kategori wajib pajak final 1% adalah pengusaha, lokasi usahanya
bukan di ruang publik, bangunan permanen dan omset <4,8M
Semoga bisa membantu
Balas

Hifa Oct 4, 2013 at 17:07

bagaimana cara menghitung omset perusahaan ? apakah menggunakan laporang


keuangan atau apa? mohon bantuaannya sy masih pemula untuk usaha dan membyar
pajak.
Balas

Dwi Utomo Oct 4, 2013 at 18:37

Ini ibu Hifa ya? Maaf kalau salah


Laporan keuangan tetap dibuat seperti biasanya, sepertiLaba rugi, neraca dan
penyusutan. Hanya saja nanti laba yang dikalikan tarif pajak adalah laba untuk
periode Januari-Juni saja. Selengkapnya bisa baca disini
Balas

M.IQBAL Sep 28, 2013 at 16:50

Pak dwi mohon pencerahannya, bgm pak cara perhitungan angsuran pph pasal 25 badan
tahun 2014, dimana tahun 2013 ini kami sdh dikenakan pph final 1 persen, misalkan
omzet jan sd juni 2013 3M dan omzet juli sd des 2013 5M, mohon dibantu pak cara
perhitungannya.tks
Balas

Dwi Utomo Sep 28, 2013 at 19:47

Hari kerja besok ya pak, insyaAlloh saya postingkan perhitungannya


Balas

Dwi Utomo Sep 30, 2013 at 10:53

Sesuai janji saya pak, bisa dibaca cara menghitung pajak tahunan PPh 2013 disini
Balas

M.IQBAL Sep 28, 2013 at 12:11

Saya jg sdh mengurus SKB dan sy jg sdh baca per 32/pj/2013 yg mensyaratkan legalisasi
fotocopy skb dimana salah satu persy legalisasi hrs melampirkan ssp yg telah dibayar,

bgmn pak jika skb lsg sy lampirkan ke bendaharawan pemerintah tanpa harus dilegalisasi
apakah pihak bendaharawan akan tetap memotong pph ps 22 atau tidak?
Balas

Dwi Utomo Sep 28, 2013 at 12:40

Pada dasarnya SKB terbit untuk rekanan bukan bendahara oleh karena itu SKB
perlu diberi legalisir. Menurut opini saya pribadi sekedar ditunjukkan saja maka
bendahara sudah paham, tetapi untuk keperluan arsip/administrasi dinas memang
sebaiknya tetap yang fotokopi legalisir, jadi SKB asli tetap bapak pegang sendiri
Balas

M.IQBAL Sep 28, 2013 at 12:02

Tks atas jawabannya, misalkan bln sept 2013 omset 5M, okt 2013 nihil, nop2013 3M,
des2013 2M, bgmn pak perhitungan pphnya jika dijumlah sd des mencapai 10M apakah
tetap 1 persen dibayar tiap bulannya? Bgmn dgn bln okt yg tdk ada transaksi?
Balas

Dwi Utomo Sep 28, 2013 at 12:42

Sep 1% x 5M
Okt 1% x 0 = nihil/ tidak perlu setor
Nop 1% x 3M
Des 1% x 2M
Yang bulan nihil itu tidak perlu setor pak
Balas

Dwi Utomo Sep 28, 2013 at 12:44

Sep 1% x 5M
Okt 1% x 0 = nihil/ tidak perlu setor
Nop 1% x 3M
Des 1% x 2M
Yang bulan nihil itu tidak perlu setor pak
Balas

M.IQBAL Sep 28, 2013 at 00:29

Pak Dwi mau tanya pph final 1 persen ini diberlakukan bagi badan usaha yg omsetnya
dibawah 4,8M, apakah itu utk omset tahun berjalan juli-des 2013 ataukah utk omset
tahun lalu (spt th 2012)? Bgm jika misalkan pda tahun berjalan ini ada omset yg nilainya
diatas 4,8 misalkan 5M apakah wajib 1 persen atau normal sprt biasa?
Balas

Dwi Utomo Sep 28, 2013 at 06:29

Pagi pak
Jika omset setahun kemarin (omset tahun 2012) < 4,8M maka tahun ini wajib
pajak 1%. Tarifnya tsb dikalikan dengan omset per bulan tahun ini.
Seandainya tahun ini (2013), ternyata mengnjak bulan oktober omset badan sudah
melebihi 5M, maka hingga masa desember 2013 masih menggunakan tarif 1%,
barulah kemudian terhitung januari 2014 menggunakan tarif PPh lama
Balas

BUDIANTO Sep 23, 2013 at 18:35

itu masuk ke spt apa yak pak 4 ayat 2 atau di psl 25?
Balas

Dwi Utomo Sep 23, 2013 at 18:46

Pajak 1% dilapor menggunakan SPT PPh 4 ayat (2). Wajib lapor terhitung per
masa Januari 2014 pak. Saat ini setor juga dianggap sudah lapor.
Balas

Priyo KJ Sep 20, 2013 at 12:42

T: Tarif 1% itu dikalikan dengan omset yang mana pak?


J: 1 dikalikan dengan omset/peredaran bruto bulan berjalan,
contoh:Tahun 2012 omset bapak Rp400.000.000 dan otomatis wajib PPh Final 1% sejak
di tahun 2013, dan ternyata di bulan Juli 2013 omset bapak sebesar Rp. 50.000.000 maka
untuk yang disetorkan di SSP Masa Juli 2013 adalah Rp50.000.000 x 1% =Rp.50.000
(lima puluh ribu)
__________
Saya salah hitung gak ya?
50.000.000 dikali 1% bukannya 500.000 ya?
Balas

Dwi Utomo Sep 20, 2013 at 12:51

Betul kang Priyo!


Saya salah ketik kang, harusnya 500.000
Dengan ini saya update di postingan.
Maturnuwun koreksinya
Balas

yuni Sep 19, 2013 at 17:50

Pak,cara dasar menghitung pph final 1% itu bagaimana?


Berdasarkan dari omset dibawah 4,8M tahun 2012 atau omset bulan berjalan di tahun
2013?
Balas

Dwi Utomo Sep 19, 2013 at 18:43

Salam kenal bu Yuni


Omset tahun 2012 hanya untuk mengecek apakah ibu tahun ini wajib
menggunakan tarif 1% atau masih tarif biasa
Dan seandainya bu Yuni memang wajib PP 46, maka tarif 1% tersebut dikalikan
dengan omset bulan berjalan tahun ini
Balas

Adi Sep 17, 2013 at 15:09

Kalau SPBU itu masuk dalam PP 46 ini ga pak ya..???


Balas

Adi Sep 17, 2013 at 15:10

sama toko emas..


Balas

Dwi Utomo Sep 17, 2013 at 16:44

Selama kurang dari 4,8 M omset tahun lalu berarti wajib PP 46 pak.
Balas

Dwi Utomo Sep 17, 2013 at 16:48

Selama jualannya hanya:


-Premium
-Solar
-Premix/Super TT
-Gas/LPG
-Minyak Tanah
-Pelumas dari Pertamina
Bisa dipastikan final semua dan tidak wajib PP 46. Kecuali jualan LPG 12kg,
jualan oli merk top one/merk asing, atau jualan bensin dari malaysia, bisa wajib
PP 46, tergantung omsetnya masih dibawah atau sudah tembus 4,8 M diluar
produk resmi pertamina yg saya rinci diatas
Balas

Adi Sep 19, 2013 at 13:54

Terima kasih pak..tp masih ada pertanyaan..


dalam pengisian SPT Tahunan nanti untuk bulan januari s/d juni kan masih
pakai norma, jadi diisi PTKP nya dalam SPT Tahunan..misalnya angsuran
setiap bulan dari januari sd juni 134.000 (perhitungan dari spt tahunan
2012), pph trutang tahun 2012 = 1.608.000 (asumsi norma 20% dan omzet
perbulan 20.000.000 status TK/0). apakah SPT Tahunan tidak akan selalu
lebih bayar mengingat omzet yang diperhitungkan dengan norma adalah
omzet jan-jun dan PTKP di SPT adalah PTKP setahun..??
Balas

Dwi Utomo Sep 19, 2013 at 14:32

Dulu saya pernah sependapat dengan pak Adi. Ini bocoran dikit
dari yang saya dengar tetapi masih belum disahkan secara hukum
jadi sekedar gambaran aja sambil nunggu peraturan yang sah terbit.
.
Untuk SPT Tahunan 2013 baik OP dan Badan, nantinya
penghasilan kena pajak januari-juni disetahunkan, artinya dikali 2.
Misalkan dari soal diatas

table sudah dihapus, lihat komentar di bawah untuk revisi


hitungan
Untuk saat ini hitungan diatas belum bisa jadi patokan baku untuk
mengisi SPT Tahunan PPh 2013, karena masih menunggu petunjuk
teknis dari dampak pemberlakuan PP 46, sementara hanya untuk
gambaran saja
Balas

Adi Sep 19, 2013 at 15:15

Walaupun disetahunkan pak sesuai dengan petunjuk


penghitungan pph terutang atas peghasilan yang
disetahunkan,menurut saya perhitungannya spt berikut :
Penghasilan Netto (Norma) 48.000.000
PTKP 24.300.000
Penghasilan Kena Pajak 23.700.000
PPh Terutang 1 Tahun 1.185.000
PPh Terutang ( 6 Bulan ) 592.500 Jan-Jun (6/12)
Kredit Pajak 804.000
Lebih Bayar (211.500)
Kita tidak bisa memperhitungakan omzet jul des karena
sudah dikenakan PPh Final.
Kalau memang harus LB ga pa2 pak ya..
Balas

Dwi Utomo Sep 19, 2013 at 15:55

Saya baru ingat, gak bagi PPh terutang menjadi 1/2 tahun
dan salah ngalikan tarif PPh, ini hitungan revisinya pak
Adi
Akun
Angsuran PPh 25/bulan

Rupiah
134.000

Ke

Angsuran Jan-Jun 2013

804.000

134.0006

Omset rata-rata/bulan

20.000.000

Omset Jan-Jun 2013

120.000.000

20.000.000

Omset disetahunkan 2013

240.000.000

120.000.00

Norma

20%

Penghasilan Neto

48.000.000

PTKP TK/0 2013

24.300.000

Penghasilan Kena Pajak

23.700.000

48.000.000

PPh Terutang setahun

1.185.000

23.700.000

PPh terutang 6 bulan

592.500

1.185.000/

Kredit PPh 25

804.000

Pajak Tahunan Lebih Bayar

-211.500

240.000.00
(-)

(-)

Dan memang lebih bayar jadinya, boleh diminta


kembali/restitusi tapi nanti harus diperiksa dulu atau jika
ikhlas naikkan aja hitungan penghasilannya biar jadi
kurang bayar
Di tabel ini, omset disetahunkan ini tidak memandang
omset riil jul-des, kebetulan aja sama omset per bulannya.
Balas

Adi Sep 19, 2013 at 17:01

betul-betul..knp jd LB karena omzetnya sama dengan 2012


sedangkan PTKP naik..
pertanyaan selanjutnya yg masih membingungkan sy pak..

592.500-80

1. apakah sy perlu memakai formulir pph pasal 4 (2) atau


hanya bawa SSP saja untuk melaporkan ke KPP..??
2. bagaimana jika dalam bulan itu tidak ada omzet..apa
yang harus dilaporkan ke KPP..?
3. apakah tidak dikenakan denda jika tidak melaporkan ke
KPP karena tidak adanya omzet dalam bulan itu..?
Balas

Dwi Utomo Sep 19, 2013 at 18:35

Saya jawab pak


1. Lapor pakai SPT PPh Final 4 ayat (2) dilampiri
lembar ke-3 SSP
2. SPT PPh Final 4 ayat (2) NIHIL (tanpa SSP
pastinya)
3. Denda tidak lapor 100.000 per masa pak.
Jika masih bingung, cara setor, cara lapor
Balas

kiki Sep 14, 2013 at 15:13

selamat siang saya ingin menanyakan mengenai pengenaan pph final 1% untuk rumah
sakit, terutama untuk rawat inapnya.
terimakasih
Balas

Dwi Utomo Sep 14, 2013 at 17:52

Selamat sore, disini rumah sakit swasta atau pemerintah? Jika swasta, maka
perlakuan PPh-nya mirip badan hukum seperti PT atau CV. Tinggal dicek tahun
lalu omsetnya nembus 4,8 M atau tidak. Jika <4,8M maka wajib PPh final 1%
Insyaaloh begitu rekan

Balas

Fen Sep 13, 2013 at 15:50

Siang Pak/ Bu, saya mau tanya, kalo tenaga teknisi komputer ( perbaiki komputer ke
kantor- kantor ato ke rumah- rumah pribadi) penghitungan pajak penghasilannya
mengikuti PPh Ps.4 ayat (2) final ato masih mengikuti Peraturan UU (PPh Ps.25),
sehubungan dengan dikeluarkannya PP No.46/2013. Terima Kasih Sebelumnya
Balas

Dwi Utomo Sep 13, 2013 at 16:41

Selamat siang juga Mr. Fen (semoga benar) disini dengan Pak Dwi Utomo
Yang dikecualikan dari PP 46 adalah pekerjaan bebas. Di UU, pekerjaan bebas
adalah pekerjaan yang dilakukan oleh orang pribadi yang mempunyai keahlian
khusus sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu
hubungan kerja.
Jadi, misalkan bapak mempunyai sertifikat keahlian teknis komputer dan
menempuh jalur pendidikan khusus untuk menjadi teknisi maka bapak masih
menggunakan aturan umum (PPh 25)
Tetapi jika keahlian reparasi komputer didapat karena belajar otodidak atau
dibimbing teman maka usaha bapak wajib PP 46 atau wajib setor PPh Final
1%
Balas

Dwi Utomo Sep 4, 2013 at 13:24

Pak stefanus, saya belum tahu maksud pembukan yang Anda tanyakan? apakah
maksudnya pembukuan atau pemindahbukuan? Tetapi akan saya jawab saja.
1. Jika yang dimaksud kewajiban pembukuan, berarti jika usaha Anda adalah dalam
bentuk wajib pajak badan maka sekalipun wajib setor 1% juga wajib menyelenggarakan
pembukuan seperti biasanya, karena PPh Final 1%/pajak UKM tidak mempengaruhi
kewajiban pembukuan

2. Jika yang Anda maksud pemindahbukuan, maka boleh dilakukan pemindahbukuan atas
pajak yang dibayar sejak masa juli 2013 (misal karena sudah terlanjur sudah angsur PPh
25 bulanan) dengan syarat jumlah yang dpindahbukukan sama dengan hasil 1% x omset
bulan juli. Jika kurang maka setor lagi.
Balas

stefanus Sep 4, 2013 at 12:57

apakah dengan PP 46 tahun 2013 kami dapat melakukan pembukan saja daripada PPh
final 1%
terima kasih
Balas

Sebagai pemahaman awal, berikut ini adalah 8 hal yang perlu diketahui mengenai
Pengenaan PPh bersifat final dengan tarif 1 persen sesuai dengan PP No.46 Tahun 2013.

1. Siapa Yang Dikenakan PPh Final Sesuai PP ini?


Pada dasarnya, semua wajib pajakbaik perorangan maupun badan (kecuali yang berbentuk
Badan Usaha Tetap/BUTdengan peredaran bruto yang memenuhi kriteria di bawah ini
dikenakan PPh Final sesuai PP 46:
Wajaib pajak Non-BUT yang menerima penghasilan dari usaha, tidak termasuk
penghasilan dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas, dengan peredaran bruto tidak
rnelebihi Rp 4.8 miliar dalam 1 tahun fiskal.
Apa itu peredaran bruto? Dalam bahasa dagang umum sering disebut omzet, sedangkan
dalam akuntansi disebut pendapatan (revenue) saja.

2. Bagaimana Caranya Menentukan Peredaran Bruto?


Sudah disebutkan di atas bahwa WP yang dikenakan PPh Final sesuai dengan PP 46/2013 ini
adalah Pendapatan bruto tidak melebihi 4.8 miliar.
Pertanyaannya: bagaimana caranya menentukan besarnya peredaran bruto yang akan
dijadikan dasar perhitungan?
Menurut PP ini, pendapatan yang dihitung sebagai dasar untuk menentukan 4.8 miliar adalah
semua pendapatan termasuk pendapatan perusahaan cabang (bila ada), namun TIDAK
TERMASUK pendapatan yang telah dikenakan PPh final dan pendapatan yang berupa jasa
sehubungan dengan pekerjaan bebas.
Misalnya:
(a) Data pendapatan (revenue) PT. JAK pada tahun fiskal 2012 nampak sebagai berikut:
Penjualan = Rp 4,778,000,000
Pendapatan Bunga Jasa Giro = Rp 25,000,000
Total = Rp 4,803,000,000
Simpulan: Dilihat dari totalnya, pendapatan PT. JAK sudah di atas 4.8 miliar. Namun karena
yang 25 juta berupa pendapatan jasa giro dan telah dikenakan PPh final oleh pihak bank, maka
peredaran bruto yang diperhitungkan hanya Rp 4,778,000,000, sehingga masuk kriteria wajib
pajak yang dikenakan PPh Final dengan tarif 1 persen, sesuai dengan PP 46/2013 ini.
(b) Tahun fiskal 2012, data pendapatan PT. ABC yang berkantor pusat di Tangerang
memiliki data pendapatan sebagai berikut:
Penjualan di Kantor Pusat = Rp 2,800,000,000
Penjualan di Cabang Daan Mogot = Rp 1,200,000,000
Penjualan di Cabang Pal Merah = Rp 1,795,000,000
Total = Rp 5,795,000,000
Simpulan: Total pendapatan PT ABC termasuk cabang melebihi 4.8 miliar, sehingga TIDAK
memenuhi kriteria wajib pajak yang dikenakan PPh Final dengan tarif 1 persen.
(c). Tahun fiskal 2012, data pendapatan Tuan Hartono Budhi, pemilik Minimarket UD
Kencana dan Toko Bangunan UD Makmur, adalah sbb:
Penjualan Minimarket UD. Kencana = Rp 2,100,000,000
Penjualan Toko Bangunan Minimarket = Rp 2,650,000,000

Pendapatan dari Pekerjaan Bebas = Rp 250,000,000


Total = Rp 5,000,000,000
Simpulan: Total pendapatan Tuan Hartono Budhi memang melebihi 4.8 miliar dalam satu tahun
fiskal. Namun karena pendapatan dari pekerjaan bebas tidak dihitung, jadinya belum melewati
Rp 4.8 miliar, sehingga memenuhi kriteria untuk dikenakan PPh Final dengan tarif 1 persen.
Lebih jauh mengenai Jasa Sehubungan Dengan Pekerjaan Bebas, PP 46/2013 ini juga
merinci jasa pekerjaan apa saja yang tergolong sehubungan dengan pekeraan bebas dan
jasa apa yang tidak.
Yang disebut dengan jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas dalam hal ini adalah jasa
yang dihasilkan oleh seorang:

Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara,
akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris.

Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang


sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan
Zperagawati, pemain drama, dan penari.

Olahragawan.

Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator.

Pengarang, peneliti, dan penerjemah.

Agen iklan.

Pengawas atau pengelola proyek.

Perantara (makelar/calo).

Petugas penjaja barang dagangan.

Agen asuransi.

Distributor perusahaan pemasaran berjenjang (multilevel marketing) atau


penjualan langsung (direct selling) dan kegiatan sejenis lainnya.

Pendapatan jasa di atas TIDAK DIPERHITUNGKAN dalam menentukan apakah peredaran


bruto WP melebihi atau tidak melebihi 4.8 miliar.
Sedangkan pendapatan yang diperhitungkan dalam menentukan peredaran bruto tidak
melebihi 4.8 miliar adalah penadapatan yang berupa:

Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja seperti gaji, honorarium,


penghasilan dari praktek dokter, notaris, aktuaris, akuntan, pengacara, dan
lain sebagainya.

Penghasilan dari usaha dan kegiatan.

Penghasilan dari modal, yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak,
seperti bunga, dividen, royalti, sewa, dan keuntungan penjualan harta atau
hak yang tidak dipergunakan untuk usaha.

Penghasilan lain-lain, seperti pembebasan utang dan hadiah.

Menurut AR yang sempat penulis ajak berbincang, untuk menentukan apakah WP memenuhi
atau tidak memenuhi kriteria peredaran bruto tidak melebihi 4.8 miliar yang dipersyarakatkan
oleh PP 46/2013 ini, pihak Ditjen Pajak (DJP) perlu melakukan evaluasi terhadap peredaran
bruto WP terlebih dahulu.
Masalah yang membuat penentuan peredaran bruto ini akan menjadi sedikit rumit adalah
PP 46 ini diberlakukan di tengah-tengah tahun fiskal (1 Juli 2013), sementara batasan peredaran
bruto tidak melebihi 4.8 miliar yang digunakan adalah total peredaran selama satu tahun fiskal
(alias 12 bulan). Belum lagi kalau WP terdaftar sebagai wajib pajak di tengah-tengah tahun
fiskal.
Nah, bagaimana caranya menentukan peredaran bruto tidak melebihi 4.8 miliar?
Dalam evaluasi, peredaran bruto yang digunakan adalah sebagai berikut:
(a) Dalam hal tahun fiskal terakhir sebelum tahun fisakal berlakunya PP ini meliputi
kurang dari jangka waktu 12 (dua belas) bulan, maka yang digunakan adalah: Jumlah
peredaran bruto tahun fiskal terakhir sebelum tahun fiskal berlakunya PP ini, lalu disetahunkan
(lihat contoh di bawah). Misalnya:
PT. Untung Abadi rnenggunakan tahun kalender sebagai Tahun Pajak. Terdaftar sebagai Wajib
Pajak sejak bulan Agustus 2013. Peredaran bruto selama bulan Agustus 2013 sampai dengan
Desember 2013 adalah Rp 150,000,000. Peredaran bruto tahun 2013 yang disetahunkan adalah:
Rp 150,000,000 x 12/5 = Rp 360,000,000
Simpulan: Karena peredaran bruto disetahunkan di tahun 2013 tidak melebihi Rp
4,800,000,000, rnaka penghasilan yang diperoleh di tahun 2014 dikenai pajak yang bersifat final
sesuai ketentuan dalarn PP ini.

(b) Dalam hal WP terdaftar pada tahun fiskal yang sama dengan diberlakukannya PP ini
namun terjadi pada bulan sebelumnya, maka yang digunakan adalah: Jumlah peredaran bruto
dari bulan saat WP terdaftar sampai dengan bulan sebelum berlakunya PP ini, lalu disetahunkan.
Misalnya:
PT. Emas Permata terdaftar 3 (tiga) bulan sebelum berlakunya PP ini pada tahun fiskal yang
sama dengan tahun berlakunya PP ini. Jumlah peredaran bruto selama 3 (tiga) bulan tersebut
adalah Rp 150,000,000. Peredaran bruto selama 3 bulan yang disetahunkan adalah:
Rp 150,000,000 x 12/3 = Rp 600,000,000
Simpulan: Karena peredaran bruto disetahunkan untuk 3 bulan tersebut tidak melebihi Rp
4,800,000,000, maka penghasilan yang diperoleh mulai pada bulan berlakunya PP ini sampai
dengan akhir tahun fiskal bersangkutan, dikenai PPh bersifat final sesuai ketentuan dalam PP ini.
(c) Dalam hal WP baru terdaftar sejak berlakunya PP ini, maka yang digunakan adalah:
Jumlah peredaran bruto pada bulan pertama diperolehnya penghasilan dari usaha, lalu
disetahunkan. Misalnya:
PT. Maju Selalu terdaftar sebagai WP baru pada bulan November 2014. Pada bulan November
2014 tersebut, memperoleh peredaran bruto sebesar Rp 15,000,000. Penghasilan bruto bulan
November 2014 disetahunkan adalah:
12/1 x Rp 15,000,000 = Rp 180,000,000
Karena penghasilan bulan November 2014 (bulan pertama mulai terdaftar sebagai Wajib Pajak)
yang disetahunkan tidak melebihi Rp 4,800,000,000, maka penghasilan yang diperoleh di tahun
2014 dikenai PPh bersifat final sesuai dengan PP ini.

3. Siapa Yang Tidak Dikenakan PPh Final Sesuai PP ini?


WP orang pribadi (WPO) yang tidak dikenakan PPh Final sesuai dengan PP ini adalah
mereka yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan atau jasa yang dalam usahanya:

Menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang, baik


yang menetap maupun tidak menetap; dan

Menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum yang


tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan.

Misalnya: Pedagang makanan keliling, pedagang asongan, warung tenda di trotoar, dan
sejenisnya.
Terhadap Wajib Pajak tersebut atas penghasilannya tidak dikenai PPh Final sesui ketentuan
dalam PP ini, melainkan dikenakan pajak sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Pajak
Penghasilan sebagaimana biasanya.
Sedangkan WP Badan yang tidak dikenakan PPh Final sesuai dengan ketentuan PP ini
adalah:

WP Badan yang belum beroperasi secara komersial; atau

WP Badan yang dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara
komersial memperoleh peredaran bruto melebihi Rp 4.8 miliar.

WP yang masuk kriteria ini TIDAK DIKENAKAN PPh Final sesuai dengan ketentuan dalam PP
ini, melainkan dikenakan PPh sesuai dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan sebagaimana
biasanya.

4. Berapa Besarnya Tarif PPh Final Yang Dikenakan?


Besarnya tarif PPH Final adalah 1% (satu persen).

5. Bagaimana Caranya Meghitung PPh Final Sesuai PP 46 ini?


Dasar Pengenaan Pajak (DPP) yang digunakan, sesuai dengan PP 46/2013 ini, adalah jumlah
peredaran bruto setiap bulan. Sedangkan besarnya PPh final dihitung dengan cara mengalikan
DPP dengan 1 persen.
Misalnya:
Menggunakan contoh (a) sebelumnya, dimana PT. JAK telah diketahui memiliki peredaran bruto
Rp 4,778,000,000 (artinya belum melebihi 4.8 miliar setahun). Jika pendapatan PT JAK di bulan
Juli 2013 sebesar Rp 315,000,000, sementara ada pendapatan jasa giro sebesar Rp 5,000,000 di
dalamnya, maka:

PPh Final = DPP x Tarif


PPh Final = (Rp 315,0000,000 Rp 5,000,000) x 1%
PPh Final = Rp 310,000,000 x 1%
PPh Final = Rp 3,100,000
Apa yang terjadi jika pada suatu bulan ternyata pendapatan WP telah melebihi 4.8 miliar?
Misalnya: Berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh pihak DJP pada tahun 2013, peredaran
bruto PT. XYZ belum mencapai 4.8 miliar, sehingga mulai Januari 2014 dikenakan PPh Final
tarif 1 persen. Nah, apa yang terjadi jika total pendapatan kumulatif PT. XYZ di bulan Juni 2014
ternyata telah melebihi 4.8 miliar?
Menurut PP 46/2013 ini, PT. XYZ tetap dikenakan PPh Final tarif 1 persen hingga tahun fiskal
2014 berakhir. Baru akan dikenakan PPh sesuai dengan UU PPh di tahun fiskal berikutnya, yakni
2015.

6. Bagaimana Dengan Pajak Yang Terutang dan Dibayar di Luar


Negeri?
Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri yang diterima
atau diperoleh WP tetap DAPAT DIKREDITKAN terhadap PPh yang terutang berdasarkan
ketentuan Undang-Undang PPh dan peraturan pelaksanaannya.

7. Apakah Bisa Melakukan Kompensasi Kerugian?


WP yang dikenai PPh Final berdasarkan PP ini dan menyelenggarakan pembukuan, dapat
melakukan kompensasi kerugian (Lost Carry Forward) dengan penghasilan yang TIDAK
DIKENAKAN PPh Final, dengan ketentuan sebagai berikut:

Kompensasi kerugian dilakukan mulai tahun fiskal berikutnya berturut-turut


sampai dengan 5 (lima) tahun fiskal. Misalnya: Jika PT. JAK mengalami
kerugian pada tahun fiskal 2010, maka kerugian tersebut dapat
dikompensasikan dengan penghasilan pada tahun fiskal 2011 sampai dengan
2015.

Tahun fiskal dikenakannya PPh final berdasarkan PP ini tetap diperhitungkan


sebagai bagian dari jangka waktu sebagaimana dimaksud di atas. Misalnya:
Jika PT. JAK pada tahun fisal 2014 dikenai PPh Final berdasarkan ketentuan PP
ini, maka jangka waktu kompensasi kerugian tetap dihitung sampai dengan
tahun fiskal 2015.

Kerugian pada suatu tahun fiskal dikenakannya PPh final berdasarkan PP ini
tidak dapat dikompensasikan pada tahun fiskal berikutnya. Misalnya: Jika PT.
JAK pada tahun fiskal 2014 dikenai PPh Final berdasarkan PP ini dan
mengalami kerugian berdasarkan pembukuan, maka atas kerugian tersebut
tidak dapat dikompensasikan dengan tahun fiskal berikutnya.

8. Bagaimana Penghitungan, Penyetoran, dan Pelaporannya?


Dalam PP ini belum diatur secara rinci. Katanya, akan diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan. Sayangnya, penulis belum menemukan peraturan tersebut sampai saat artikel
ini dipublikasikan.
Begitu tersedia, JAK sudah pasti akan publikasikan di sini. Peraturan Pemerintah No 46 Tahun
2013 ini sangat penting untuk diketahui oleh WP, orang accounting, terlebih-lebih konsultan
pajak, mengingat jumlah WP jenis UKM (berpenghasilan tidak melebihi 4.8 miliar) terhitung
mayoritas di negeri kita.
Jika sampai dengan tanggal 15 Agustus belum ada sosialisai maupun petunjuk penghitungan,
pembayaran dan pelaporan, JAK berharap pemerintah (DJP dalam hal ini) mau sedikit lebih
bijak dengan menunda pemberlakuan PP 46/2013 ini. Bagaimanapun juga, sejak rencana
pemberlakuan peraturan ini sudah banyak memperoleh penolakan, khususnya dari UKM, karena
dianggap memberatkan. Jangan sampai sudah berat masih harus ditindih dengan penerapan
aturan yang belum cukup jelas. Semoga.
Persiapkan Lampiran Pendukung SPT Badan (Wajib Laporan Keuangan)

Prinsip dasar mengerjakan SPT adalah dengan memindahkan angka dari lampiran SPT Badan ke
Induk SPT Badan. Sementara lampiran SPT bisa diisi dengan mengambil angka dari dokumen
usaha WP yaitu laporan keuangan.
Adapun dokumen yang dibutuhkan untuk mengisi SPT Tahunan PPh Badan:
1. Laporan Laba Rugi 2013 setahun
2. Laporan laba rugi 6 bulan, [highlight] minimal salah satunya [/highlight] (janjun 2013 dan juli-des 2013)
3. Neraca
4. Transkrip Laporan Keuangan
5. Daftar penyusutan

Hingga saat in belum (jka saya nggak keliru) belum ada ketentuan yang mengharuskan laporan
laba rugi semester 1 seperti pada poin 2 diatas, hemat saya sih lampirkan juga.
Hitunglah Pajak Tahunan Kurang Bayar

Untuk artikel ini saya ulas hitungan bagi PT. Anti Amsyong yang menerapkan PP 46, screenshoot
diatas saya ambil dari artikel sebelumnya yang membahas cara menghitung pajak tahunan 2013.
hal yang harus diperhatikan adalah, dari cerita diatas, pada tahun 2013 omset PT. Anti Amsyong
sudah tembus 4,8M sehingga di tahun 2014 perusahaan tersebut angsur kembali PPh 25 dari
januari-desember 2014. lakukan hal serupa.

Sebelum membuat SPT saya sarankan anda download dulu file excel sebagai panduannya
[button type=bd_button btn_middle url=http://amsyong.com/wpcontent/uploads/2013/11/1771-revisi-PT.-AA-2013.xlsx target=
button_color_fon=#FFB307 button_text_color=#FFFFFF ]Unduh File Excel[/button]
Identifikasi Formulir SPT Mana Yang Tepat

Pilih Formulir SPT PPh Badan 1771


isilah Pada Bagian Omset Yang Dikenakan PPh Final 1%

Untuk omset final jul-des 2013 diisi pada form 177I-IV bagian A No. 14 PENGHASILAN
USAHA WP YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU

Pindahkan Isi Laba-Rugi 2013 ke 1771-I

Pada contoh kasus tidak ada koreksi fiskal, sehingga laba tahun 2013 dikurangkan dengan laba
semester 2 maka ketemulah penghasilan Neto yang bisa langsung dipindahkan ke halaman induk
SPT

Hitunglah Dengan Tarif PPh Umum Untuk Penghasilan Fiskal 2013

Hasil akhir kurang bayar Rp.50.400.000 sesuai dengan hitungan pada artikel sebelumnya

Karena Omset 2013 > 4,8M Maka Hitunglah Angsuran PPh 25 Untuk Tahun
Pajak 2014 di form 1771 (2)

1. mas dwi.. saya mau nanya mengenai SPT Tahunan Badan 2014 terkait PP 46. apabila
income perusahaan dibawah 4,8M pertahunan dan terkena pph final 1 persen. bagaimana
cara pengisian lamp 1771 induk, 1771 i,ii,ii,iv nya? apakah dikosongkan saja dan hanya
mengisi lamp 1771 iv bagian A kolom 14? terimka kasih banyak mas dwi atas
bantuannya.
Balas

2.

NIng Dec 10, 2014 at 00:49


PA DWI,
TERIMAKSIH BANYAK YA ARTIKELNYA,
TANYA : SAYA LANGGANAN ARTICLE PA DWI, SETIAP PA DWI POSTING, KOK
GAK PERNAH ADA YA ? HEHE..
TERUS MENULIS LAGI., SANGAT BAGUS ISINYA
Balas

3.

Farida Nov 28, 2014 at 13:17


Begini pak,, saya dapet suratpermintaan kelengkapan
untuk form 1771-III, misalkan tidak ada yang dipotong,, apakah tetap dilaporkan?
untuk form 1771-V , yang meliputi :
bag A: DAFTAR PEMEGANG SAHAM / PEMILIK MODAL DAN JUMLAH
DIVIDEN YANG DIBAGIKAN.
bag B :DAFTAR SUSUNAN PENGURUS DAN KOMISARIS
Misalkan perusahaan kami itu CV,, kan berarti tidak mengenal deviden tetapi prive,,
apakah bag A wajib diisi juga, atau hanya bag B saja (DAFTAR SUSUNAN
PENGURUS DAN KOMISARIS)
untuk form 1771-VI : DAFTAR UTANG DARI PEMEGANG SAHAM DAN/ATAU
PERUSAHAAN AFILIASI,, maksudnya gimana nggih pak?
terimakasih
Balas

4.

selvy apriani Nov 21, 2014 at 14:22


selamat siang,maaf saya hendak bertanya bagaimana caranya untuk mengisi SPT
Tahunan Badan yang nihil ya..?
Terima kasih sebelumnya atas jawabannya
Balas

Dwi Utomo Nov 21, 2014 at 14:47

Selamat sore bu Selvy


Usahanya apa ini bu? nihil karena belum beroperasi secara komersil atau nihil
karena yayasan nirlaba? Pastiny laporan keuangan seperti laba rugi, neraca dan
daftar penyusutan harus dibuat terlebih dahulu.
Balas

dian Nov 30, 2014 at 20:07


selamat malam pak
saya di suruh bayar denda dan bunga pajak tahun 2007 dan 2008.,.dan

surat tersebut di berikan tahun 2014 ini.,apakah saya bisa mengajukan


banding?
terima kasih
Balas

Dwi Utomo Dec 1, 2014 at 13:33

Selamat sore pak/bu Dian


Suratnya tersebut apakah berupa STP atau SKPKB? Untuk
SKPKB bisa diajukan keberatan dalam jangka waktu 3 bulan sejak
SKPKB disampaikan. Untuk STP bisa diajukan pengurangan,
pembetulan atau pembatalan. Untuk tahu prosedur mana yang bisa
dipakai silahkan konsultasikan dengan AR-nya, karena AR
biasanya tahu juga kronologinya.
Balas

5.

shella Oct 8, 2014 at 11:03


pak dwi terima kasih ya
artikel2nya sangat membantu
Balas

Dwi Utomo Oct 8, 2014 at 17:15

Terima kasih atas apresiasinya bu Shella


Balas

6.

Joe Sep 12, 2014 at 11:43


Bagaimana kalau saya di bulan juli-desember 2013 masih di potong pph pasal 23 oleh
vendor,padahal waktu itu sudah berlaku aturan tersebut karena pemberitahuan telat untk
pemotongan 1% pph final dari omset.
nah sekarang baru di beri surat edaran, karena sudah terlanjur, saya harus tetap membayar
pph final 1% dr bulan juli-desember.
bagaimana saya harus memperlakukan pph 23 yg sudah di potong ini ? kalau saya

masukan beban pada tahun tersebut apa boleh?


apa beban2 harus sama jumlahnya dengan SPT tahunan yang telah di laporkan?
trimakasih.
Balas

Dwi Utomo Sep 15, 2014 at 11:08

Selamat siang pak Joe


Jika waktu itu pak Joe sudah ngajukan SKB PPh 23 dan sudah punya legalisirnya
dan legalisirnya juga sudah diberikan ke rekanan tapi rekanannya tetap motong
PPh 23, maka atas pemotongan PPh 23 setelah tgl legalisir tsb bisa diminta
kembali. Namun jika waktu itu pak Joe belum punya legalisirnya maka si rekanan
tetap motong dan akhirnya PPh 23 tsb harus jadi kredit pajak karena tidak bisa
dibiayakan.
Untuk beban harus sama ini yang saya kurang paham pak, karena posisi
beban/biaya kan di laba rugi, kalau neraca memang normalnya balance
Balas

7.

Noer ik Jun 4, 2014 at 14:03


Selamat siang Pa,
Jika sampai dengan Des 2013, omset <4,8M. Untuk pajak terutang januari-juni 2013
berapa tarifnya? apakah masih berlaku tarif 50%x5%xPKP ?
Balas

Dwi Utomo Jun 4, 2014 at 14:53

Selamat siang bu Noer


Yg benar 50% x 25% x penghasilan kena pajak. Salah ketik aja itu kayaknya
Balas

Noer ik Jun 5, 2014 at 16:19


Owh iya Pa, salah ketik, thx.

Balas

8.

Referensi Tambahan Pengisian SPT Tahunan OP/Badan PP 46 | Amsyong !! May


1, 2014 at 07:06
[] saya contohnya sudah lebih kompleks dari artikel versi saya sendiri baik yang Orang
Pribadi ataupun Badan, tapi pada akhirnya materi ini akan bermanfaat bagi Anda-anda
semua, dan jangan khawatir panduannya []
Balas

9.

Aan Sulistyo Apr 27, 2014 at 15:30


Assalamualaikum Pak Dwi Utomo, mau nanya nih. misalnya selama 6 bulan sejak juli
desember 2013 tidak ada omset, apakah kita juga harus menyertakan laba rugi 6 bulan
itu? kan sudah pasti tidak ada laba pak? mohon pencerahannya, terimakasih.
Wassalamualaikum
Balas

Dwi Utomo May 2, 2014 at 21:36

Waalaikumsalam pak Aan


Laba rugi yang wajib disertakan adalah laba rugi setahun pak, hanya saja untuk
mempermudah hitungan pajak tahunan kalau bisa dipisah saja laba ruginya.
Balas

sartono May 26, 2014 at 12:42

pak tolong kasih contoh untuk laporan rugi laba januari-juni, julidesember pemasukan : januari-juni=.., juli-desember=..
pengeluaran januari-juni=.
karna masih bingung untuk buat laporan rugi laba seperti ini.
terima kasih atas artikel dan bantuan laporan rugi labanya.
Balas

Dwi Utomo May 27, 2014 at 07:19

Pak Tono bisa download pada lampiran artikel disini dan disini
pak, semoga membantu
Balas

10.

anita nofarina Apr 25, 2014 at 21:15


slmt malam ak.mohon bantuannya, usaha saya berupa CV,Dengan omzet baru 149 jt di
tahun 2013, dengan laba netto sebesar 17 jt koma sekian
mohon petunjuk, DALAM SPT TAHUNAN apakah saya dikenakan pajak yang 25% atau
1%.dan utk informasi, setiap pekerjaan yang kami lakukan sudah dipotong PPh PS
22.. Bagaimana pak?apakan setoran pph ps 22 nya bisa dikreditkan atau gimana? mohon
bantuannya dengan amat sangat..trmks kalo bisa jawabannya d ikirimkan ke email
sy njih pakmaturnuwun
Balas

Dwi Utomo May 2, 2014 at 21:44

Kecenderungannya adalah PP 46 atau pajak 1% bu. Untuk PPh 22 dengan dinas


bisa diajukan Pbk namun PPh 22 impor atau PPh 23 nantinya menjadi kredit
pajak.
Balas

11.

Andar Apr 22, 2014 at 11:52


Pagi Pak! Saya ernah punya pekerjaan kontarak maintenance pekerjaan mulai Mei2013
tapi penagihan bulan juli apakah tidak perlu membuat laba rugi Jan-juni karna
penagihannya masuk Juli Thks
Balas

Dwi Utomo May 2, 2014 at 22:10

Malam pak Andar


Jika pembukuan menggunakan sistem akrual, maka atas pekerjaan Mei sudah
terhitung omset masuk, walau berupa piutang. Laba rugi setahun tetap dibuat pak,
dan saya condong masuknya ke semester 1.
Balas

12.

andy Apr 19, 2014 at 06:41


bagaimana perhitungan PPH final 1% untuk pengadaan barang dinas.
misal nilai proyek 200 juta (termasuk PPN & PPH 22 karena blm SKB) untuk pph final
1% dari nilai 200 juta atau nilai stelah dipotong PPN & PPH 22? atau selisih antara
pembelian dan penjualan barang?
Balas

Dwi Utomo Apr 21, 2014 at 09:39

Siang pak Andy


1% tsb atas nilai kontrak diluar PPN, jadi misal SPK nilainya 200jt maka 200jt x
1%. Dinas tetap memungut PPN hanya saja PPh 22 tidak boleh dipungut selama
punya legalisir SKB, jika terlanjur dipungut pak ANdy tetap punya kewajiban
setor 1% juga. Jadi diurus segera SKB-nya pak
Balas

andy Apr 21, 2014 at 19:23

terima kasih untuk penjelasan terkait perhitungan PPH Final 1%.


selanjutnya apakah PPH 22 yg sudah terlanjur dipungut bisa untuk nutupi
PPH final yg 1% pak.?? apakah itu yg dinamakan dengan PBK /
Pemindahbukuan?? karena menurut informasi untuk mengajukan SKB
itu sesudah laporan SPT tahunannya
Balas

13.

M. Ichsan Wahyudi Apr 18, 2014 at 11:52

Selamat Pagi Pak Dwi, Pak saya waktu membuat SPT Tahunan atas wajib pajak yg kena
PP 46, cara pengisian ?perhitungannya mengikuti info dari Bpk, bahwa SPT
diperhitungkan hanya jan sd juni dan juli sd des sudah kena final 1%. Tetapi menurut info
dari KPP perhitungannya di setahunkan, baru juli sd des nilainya dikoreksi. Mohon
masukan dan sarannya Pak. Pak untuk buku petunjuk pengisian SPT terkait WP yg kena
1% ada tidak dari DJP ya Pak? jika ada mohon untuk dishare. Dan satu lagi pertanyaan
saya untuk WP yg kena 1% pertahun 2014 apakah wajib menyampaikan SPT? meskipun
SSPnya sudah ada validasi NTPN. Apakah SPTnya digabungkan dengan SPT Final atas
sewa bangunan, dan final lainnya ataukah ada SPTnya terpisah.
Mohon petunjuknya Pak.
Terima kasih
Muchamad Ichsan Wahyudi (Yudi)
Balas

Dwi Utomo Apr 21, 2014 at 10:03

Siang pak yudi


Terimakasih atas masukannya, pada awal kali artikel ini diposting saya memang
hanya mengisikan angka semester 1 saja pada SPTTahunan, seiring waktu
berjalan akhirnya ada penegas pada SE-42 bahwa semua disetahunkan kemudian
dikoreksi fiskal, artikel yg ada saat ini adalah hasil dari beberapa kali revisi dan
sekarang sudah seragam yaitu semua angka setahun kemudian dikoreksi fiskal.
Untuk SSP yang sudah dicetakkan NTPN artinya tidak wajib lapor, jika ingin
dilaporkan maka ada kolom paling bawah pada SPT masa PPh 4 ayat (2) yang
bisa diisi dengan deskripsi PP 46. Kalau mau aman, tidak perlu dilapor tapi
simpan baik-baik SSP-nya dan juga bukti cetakan NTPN karena itu jadi dasar
setoran
Balas

14.

amii Apr 15, 2014 at 00:03


Sebelumnya saya sgt berterima kasih atas ilmu yg bapak sampaikan sgt membantu saya
dlm menghitung dan mengisi form spt tahunan badan.kalau bisa pak di lengkapi
pengisian neraca. Saya masih bingung untuk bagian pasiva laba ditahan angka mana yg
dimasukkan, apakah 480juta atau yg sudah dikurang dgn pph final. Terimaksih pak,
mohon bantuannya.
Balas

Dwi Utomo Apr 15, 2014 at 08:16

Terima kasih atas apresiasinya rekan Ami. Iya saya coba susun kemudian, saya
sendiri masih ada bagian yg bingung juga di neraca makanya saya tidak saya buat
khawatir banyak yg salah.
Balas

AHMAD Apr 15, 2014 at 12:31

bila ada perusahaan yang menjalankan usaha di bidang pengadaan barang


dan jasa konstruksi, omset untuk pengadaan dibawah 4,8 tapi setelah
digabung dengan jasa konstruksi omsetnya melebihi 4,8, apakah masuk
kategori pp 46 atau tidak?.mohon pencerahan dari pak dwi
Balas

15.

Template SPT Tahunan PPh Badan PP 46 UKM | Amsyong !! Apr 10, 2014 at
11:25
[] dan ini adalah artikel ketiga tentang pembuatan SPT Badan PP 46, dua cara lainnya
bisa dibaca disini dan disini. Oya karena pembuatnya bukan saya, silahkan jika ada yg
menemui kendala teknis untuk []
Balas

16.

Putri Apr 8, 2014 at 13:44


Pak dwi,,
Kalau perusahaan membeli sebuah gedung baru, dan membayar uangmuka gedungnya
dengan di cicil selama 12 bulan, setelah tahun berikutnya, perusahaan baru mendapat
kwitansi dan faktur pajak atas pembayaran uang muka selama 12 bulan tsb. lalu
bagaimana saya harus memposting uang muka selama 12 bulan tsb yang sudah di
bayarkan di laporan keuangann tahunannya? karena saya baru mendapat kwitansi dan
faktur pajak atas pembayaran tsb di tahun berikutnya..
trims
Balas

Dwi Utomo Apr 8, 2014 at 16:47

Waduh yang ini saya bingung juga jawabnya, besok ya bu.


Balas

17.

Putri Apr 8, 2014 at 12:36


Pak Dwi,
Saya mau tanya mengenai dokumen PIBK, kami ada impor dari luar negeri, dan kami
mendapatkan dokumen PIBK dari Agen pengiriman yang kami sewa, disana kami di
minta untuk membayar duty & taxes berupa, Bea masuk, PPN Impor, dan PPH 22
Impor,dan kami mendapatkan SSPCP dan PIBK-nya, lalu yang mau saya tanyakan,
apakah saya bisa kreditkan PPH pasal 22-nya pada akhir tahun hanya dengan bukti
SSPCP tsb? dan bagaimana mengisi di lampiran III SPT badannya? karena kami tidak
mendapatkan bukti potong/pungut dari agen tsb.
dan PPN impor yang sudah saya kreditkan di e-SPT 1111, bagaimana memindahkan ke
pembukuannya? apakah itu masuk dalam buku pembelian atau bagaimana?
Mohon ilmunya pak, karena saya masih belajar,,,trims
Balas

Dwi Utomo Apr 8, 2014 at 16:43

Wih ini susah juga karena saya belum pernah nangani impor. Setahu saya PPN
impor dan PPh 22 impor disetor dengan SSP ke bank yg ditunjuk. Sementara pada
lampiran III memang harusnya diisi dengan rincian bukti potong, karena jika tidak
ada rinciannya bisa saja nanti dianggap PPh 22 impor fiktif, walaupun itu jadi hak
adjustmentnya pemeriksa. PPh 22 impor bisa jadi kredit pajak.
Untuk yg PPN impor yg ditanyakan jurnal akuntansinya atau apanya kok
dipindahbukukan juga?
Balas

Putri Apr 8, 2014 at 20:00


jadi yang pph 22 impor itu saya disuruh bayar sama agen pengirimannya,
tapi mereka yang membayarkannya ke bank. jadi kami terima SSPCP dan

PIBK.
jadi apakah bisa dikreditkan pak jika hanya dengan bukti SSPCP-nya?
maaf pak,yang saya tanya jurnal nya pak,,
terima kasih atas jawaban sebelumnya pak dwi,,
Balas

Dwi Utomo Apr 9, 2014 at 11:32

Nilai SSPCP bisa dikreditkan karena setara dengan SSP, hanya saja
pencatatan pada SPT Tahunan utu membutuhkan bukti pungut PPh
22 impor.
Jurnalnya ini saya belum bisa menjawabnya bu. Untuk informasi
lebih jelas bisa ke KPP terdaftar atau kring pajak 500200, karena
saya tidak begitu paham alur dari impor dan pajak terkait.
Maaf ya
Balas

18.

Ajimi Apr 7, 2014 at 15:02


Salam kenal pak dwi Saya mau nanya, pph final 1persen perhitungannya dari 1% x
DPP atau 1% x (DPP + Ppn)?. Dan pertanyaan kedua, omzet perusahaan untuk pengisian
spt tahunan badan perhitungannya hanya dari total DPP atau total DPP + PPN? Terima
kasih atas jawaban pak dwi.. Wassalam
Balas

Dwi Utomo Apr 8, 2014 at 15:17

Salam kenal rekan Ajimi


Kedua pertanyaan saya jawab sekaligus, keduanya dikalikan dengan DPP saja
tanpa PPN.
Wassalam
Balas

Ajimi Apr 8, 2014 at 15:27

Terima kasih atas jawabannya pak dwi Blog seperti ini sangat
membantu bagi pemula seperti saya untuk mempelajari perpajakan..
Terima kasih pak dwi..
Balas

AHMAD Apr 12, 2014 at 14:20

PAK MAU TANYA NIHAPAKAH PAJAK YANG DIPOTONG OLEH


BENDAHARAWAN PEMOTONG PAJAK, DIMASUKAN DI
NERACA? KALO MASUK DI BAGIAN MANA, SOALNYA SAYA
PERNAH LIHAT SPT PERUSAHAAN ORANG LAIN, PPH FINAL
DAN PPH 22/23 DI POS AKTIVA LANCAR BENAR GAK TUH
MOHON PENCERAHANNYA
Balas

19.

raffa Apr 5, 2014 at 14:17


siang pak
maaf pak saya mau tanya untuk pembayaran pph ps 4 ayat 2 omzet 1% itu
perhitungannya 1% dari dpp atau 1% dari dpp+ppn.kalo ternyata perhitungan yang benar
1% dari dpp tp kita bayarnya 1% dari dpp+ppn apa yang harus kita lakukan pak.
terima kasih
Balas

Dwi Utomo Apr 5, 2014 at 15:03

Sore pak Raffa


Berarti ada kelebihan ya pak, misalkan tersetor 1.100, maka yg 100 bisa
dipindahbukukan ke pajak lainnya atau PP 46 masa berikutnya.
Balas

20.

Angela Apr 3, 2014 at 13:36


Pak Dwi,saya lihat perhitungan yg exel,1771-1 no 4, rp.280juta.Bukan kan omzet bruto
July-Des yang harus kita tulis disini ? masih bingung nich
Balas

Dwi Utomo Apr 3, 2014 at 14:55

Bukan bu tapi laba/penghasilan atas penghasilan bruto yg dikenakan PPh final.


Jika diisi omset bakal menggelembung besar.
Balas

21.

nomadenwoman Apr 2, 2014 at 17:04


Dear Pak Dwi,
Saya PKP pada bulan Juli 2013. Akan tetapi pajak masih nihil sampai oktober 2013. Baru
ada pembayaran pada bulan November 2013.
Saya bergerak di usaha fabrikasi. Dimana pekerjaan saya dibayar dua bulan setelah
pekerjaan selesai. Jadi untuk laba rugi 2013 saya minus. Karena pembelian barang ada,
sedangkan pemasukan belum ada. Bagaimana dengan laporan pajaknya?
Terima Kasih
Balas

Dwi Utomo Apr 3, 2014 at 13:51

Dear ibu Putri ya


Yg PKP ini OP atau Badan Usahanya?

Untuk PPN kemungkinan terjadi lebih bayar pada SPT Masa Desember
2013, opsinya bisa diajukan restitusi atau kompensasi.

Untuk pajak tahunan, harus dipastikan dulu usaha ini ikut PP 46 atau
nggak, selebihnya perkiraan awal saya juga lebih bayar, mengingat biaya
> pendapatan

Silahkan tanya lagi, silahkan jelaskan detilnya, karena infonya minim saya
terimanya
Balas

2.

viani Apr 1, 2014 at 23:14


Malam Pak Dwi,
Pak ada yg mau saya tanyakan dalam pengisian SPT tahunan badan 2013.
Utk di form 1771 kan kita hanya masukkan penghasilan neto fiskal (selama bulan jan-jun
2013) nah utk kredit pajak nya apakah kita masukkan hanya selama jan-jun saja atau
selama jan-des?
karena apabila kita masukkan selama jan-des tidak akan sinkron dengan penghasilan neto
fiskalnya pak? lalu apabila kita sudah mendapatkan angka di form 1771 no. 14.g apakah
pph pasal 25 tersebut harus kita setor kan jg krn kita kan sudah setor yg 1% dari omzet
apabila omzet dibawah 4.8M?
Mohon bantuannya pak. jawaban saya tunggu by email ke email saya,.
Terima kasih.
Balas

Dwi Utomo Apr 3, 2014 at 14:37

Siang Bu Viani
Kredit pajaknya tetap yg muncul di jan-des, kecuali ada yg sudah/sedang di-Pbk
maka dikeluarkan dari perhitungan pajak tahunan. Jika pajak tahunan yg harus
sudah dibayar ketemu, ya harus disetorkan juga untuk lampiran SPT Tahunan,
sekalipun pada tahun ini ikut PP 46.
Balas

AHMAD Apr 3, 2014 at 19:23


saya masih bingung cara menginput kredit pajak ke dalam SPT tahunan
pak mohon pencerahannya:
Jumlah PPh terutang dalam form 1771 No. 6: 2.204.113
kredit pajak dalam negeri selama jan des : 12.090.500 (PPh 22/23)

apakah yang input dalam form 1771 No.8 : 12.090.500


ataukan sisanya setelah diperhitungkan pph final 1% :6.333.240 yaitu
sebesar 5.757.080,untuk diketahui pula selama periode jan des tidak membayar pph final
1% tetapi 1,5% dan 2% dan kami akan berencana melakukan pbk dari pph
22/23 ke pph final 1%.
nilai pph final 1% sebesar 6.333.240 diperoleh dari omset jul des di kali
1%. sekali lagi mohon pencerahannya..
Balas

Dwi Utomo Apr 4, 2014 at 15:57

Saya coba bantu pak


Jumlah PPh terutang nilainya tetap segitu, kemudian yg bisa di Pbk
adalah PPh 22 yg dipungut bendahara. Untuk PPh 23 terpaksa
harus jadi kredit pajak. Jadi bapak bisa ajukan Pbk dari PPh 22 ke
paak 1%. Kemudian nilai yg di Pbk tsb keluarkan dari kredit pajak,
jadi kredit pajak yg ditulis di 1771 no. 8 adalah nilai setelah
dikurangi dengan Pbk PPh 22.
Balas

AHMAD Apr 5, 2014 at 10:52

berarti saya pbk dulu baru lapor spt ya pak,


boleh nanya lagi gak?
perusahaan berdiri tahun 2012 spt tahunan 2012 Nihil dan
apakah tahun 2013 masuk kategori pp 46 ?
Balas

Dwi Utomo Apr 5, 2014 at 13:58

Jika saat berdiri hingga saat ini nihil terus karena


nggak beroperasi secara komersial maka nggak
wajib PP 46 pak.
Balas

AHMAD Apr 6, 2014 at 16:17

tapi omset tahun 2013 melebihi 4,8 M


gimana pak..masuk PP46 gak untuk
perhitungan SPT TAHUNAN 2013nya
karena yang dibayar pph 22 dan 23 untuk
tahun 2013, kalo memang masuk pp 46 nanti
kami akan melakukan pemidahbukuan
Balas

Dwi Utomo Apr 7, 2014 at

08:11

Khusus tahun pajak 2013 masih


masuk PP 46 termasuk hitungan
pajak tahunannya. Nanti untuk
hitungan pajak 2014 barulah
menggunakan kredit pajak full dan
angsuran PPh 25.
Balas

AHMAD Apr 7, 2014


at 10:11
teriama kasih banyak pak
pencerahannya.semoga
bapak sukses selalu
Balas

Altim Mar 31, 2014 at 17:13

Selamat Sore Pak Dwi (semoga langsung di jawab sore ini.. heheh)
Pak, mau nanya.. Ada perusahaan sudah bayar pph 25 selama 1 tahun, trus di potong pph
23 selama satu tahun juga. PPh Final sudah di bayar juga juli sd des. Saat ini mau buat spt
tahunan, untuk kredit pajak diakui yang bulan jan sd juni, demikian juga pph 25.

Kemudian yang kredit pajak Juli sd Des tidak di akui, bisakah di PBK ke PPh Final
setelah lapor SPT? Nanti nilai PBK nya dimasukkan ke bagian mana di SPT tahunan
pembetulan?
Terima kasih
Balas

Dwi Utomo Apr 1, 2014 at 15:32

Selamat sore pak Altim


Jika bapak berencana Pbk setelah lapor SPT Tahunan, itu dimungkinkan, asalkan
pada perhitungan SPT Tahunan tidak mengikutsertakan setoran yg akan di Pbk.
Hasil Pbk sendiri tidak perlu diinput ke SPT Tahunan.
Balas

ALTIM Apr 2, 2014 at 14:49

Berarti tidak ada pembetulan SPT tahunan setelah keluar PBK ya? Saya
pikir SPT dibetulkan dibagian PPh final.. Kalau hasil PBK tidak
dimasukkan lagi jadi untuk apa ya pak harus dipendahbukukan?
Balas

Dwi Utomo Apr 3, 2014 at 13:58

Siang pak
Pendapat pak Altim ada benarnya namun itu dari sisi WP, dari sisi
KPP tetap harus dilakukan Pbk karena data setoran yg ada di KPP
tetap tercatat sebagai PPh 25/masa pajak yg salah, sehingga dengan
Pbk itulah data setoran akan dirubah menjadi benar di sistem
database KPP.
Balas

ALTIM Apr 3, 2014 at 14:58

Pak Dwi, mau nanya lagi.. Jadi setelah hasil PBK keluar tidak ada
pembetulan SPT ya Pak?
Trus mau nanya masalah transkrip, Beban atau manfaat pajak di
transkrip di isi apa ya Pak Dwi?
Terimakasih pak..
Balas

Dwi Utomo Apr 3, 2014 at 16:48

Selama yg diajukan Pbk sudah dikeluarkan dari SPT ya


nggak usah dibetulin lagi.
Transkripnya judulnya apa pak? Saya nyari-nyari tapi
belum ketemu
Balas

Altim Apr 4, 2014 at 21:29

Pak Dwi.. Saya tidak sertakan kredit pajak Juli sd


Des.. tapi rencananya PPh yang dipotong di Juli sd
Des mau PBK setelah lapor.. Dalam kasus ini
apakah saya masih pembetulan SPT?
Untuk beban(manfaat)PPh di elemen laporan rugi
laba itu di isi apa ya pak?
Terimakasih Pak Dwi
Balas

Dwi Utomo Apr 5, 2014 at 14:31


Tidak perlu pembetulan pak, karena setelah
Pbk tidak ada pengaruh hitungan di SPT.
tapi pastikan Pbk diproses dan sudah terbit
bukti Pbk-nya.

Beban (manfaat) PPh ini saya masih belum


paham pak. Hari kerja akan saya coba cari
infonya.
Balas

ALTIM Apr 5, 2014 at 14:43

Terima kasih pak atas informasinya.


Balas

emah Apr 5, 2014 at

16:30

sore, ikut nimbrung ^^


pak altim
untuk beban(manfaat)pph di
transkip di isi nilai dari PPH
kurang/lebih bayar di spt pph
wp badan
semoga membantu
Balas

Dwi Utomo
Apr 7, 2014 at 08:59
Terima kasih rekan
Emah atas
kontribusinya

ALTIM Apr
12, 2014 at 14:43
Pak Dwi, mau nanya
lagi.. kalau Koperasi

karyawan termasuk ke
pp 46 gak Pak?
Omzetnya pake yang
mana ya pak? apakah
penjualan juga masuk
DPP nya?

Dwi Utomo
Apr 14, 2014 at 11:50
Kalau kopkar tersebut
modelnya toserba
maka 1% dari
penjualan kotor, jika
simpin maka 1% atas
pendapatan bunganya.

hendra Mar 20, 2014 at 17:21

Pusing bagai Mana cara Mengisi Pajak Tahunan


Balas

Dwi Utomo Mar 22, 2014 at 15:51

Bisa ke KPP/KP2KP terdekat pak, ada petugas yang siap membimbing disana dan
gratis pastinya
Balas

Ades Mar 23, 2014 at 00:21


Pak Dwimohon pencerahannya perihal pengertian Omzet/Peredaran
Bruto terkait dengan adanya PP No. 46 dengan tarif 1% dari OMZET.
Bentuk badan usaha saya adalah CV yg bergerak dalam bidang
perdagangan perangkat komputer. Permasalahannya begini : Saat
Pembelian 1 Unit Komputer jurnal akuntansinya begini :

Dr. HP Pembelian..5,000,000.Dr. PPn.500,000.Cr. Cash.5,500,000.Dalam usaha tentunya yang dicarikan LABA. Dari transaksi pembelian
tersebut diketahui : HP Pembelian = 5,000,000.- Kemudian dijual dengan
harga Rp. 6,000,000.- belum termasuk PPn. Saat penjualan barang, jurnal
akuntansinya begini :
Dr. Cash6,600,000.Cr. HP Pembelian..5,000,000.Cr. Laba Penjualan1,000,000.Cr. PPn.600,000.DPP untuk PPh Final 1% dari transaksi penjualan di atas apakah dari HP
Pembelian + Laba Penjualan atau dari Laba Penjualan saja. Saat ini saya
dapat masukan bahwa yang namanya omzet adalan HP Penjualan padahal
dalam komponen HP Penjualan terdapat HP Pembelian dan Laba
Penjualan. Jika benar PPh Final 1% itu dari HP Penjualan menurut saya
kurang logis dan kurang etis artinya negara ini mengenakan pajak final
bukan saja kepada penghasilan tetapi dikenakan juga kepada modal usaha.
Gambarannya begini HP Penjualan = HP Pembelian + Laba Usaha HP
Penjualan = 5,000,000 + 1,000,000.- PPh Final 1 = 1% x 5,000,000 =
50,000.- PPh Final 2 = 1% x 1,000,000 = 10,000.- Jika perhitungan sperti
di atas berarti modal usaha saya untuk repeat order perangkat komputer
menjadi 5,000,000 50,000 = 4,950,000.- artinya modal saya makin
menurun. Atas hal ini mohon pencerahannya dari Pak Dwi. Terima kasih
sebelum dan sesudahnya.
Balas

Dwi Utomo Mar 23, 2014 at 21:33

Berdasarkan PP 46, yg dikenakan 1% adalah atas omset kotor/DPP


PPN. Artinya dari kasus diatas 1% tersebut adalah 60.000. Dengan
demikian repeat order menjadi 5.000.000-60.000=4.940.000.
Sayangnya bunyi peraturannya menginginkan 1% atas DPP/omset
bukan dari laba. Ya untungnya perlakuan ini bersifat final sehingga
tidak perlu lagi mengitung untuk mencari pajak tahunannya nanti.
Terima kasih atas opininya rekan Ades, banyak yg berpikir sama
atas penerapan PP 46 ini.
Balas

Ades Mar 23, 2014 at 22:06

Terima kasih Pak Dwi atas pencerahannya.


Namun yang saya masukan itu hanya pemisalan dengan
nominal kecil saja, sedangkan kan yang aktualnya dalam
bisnis saya yaitu dagang barang terdapat transaksi
penjualan dimana HP Pembelian bisa mencapai Rp.
150,000,000. belum termasuk PPn. Setiap bulan bisa
mencapai Rp. 150,000,000.-.
Berarti saya harus membayar Pajak Final untuk periode
bulan Juli s/d Desember 2013 adalah sbb :
PPh Final dari HP Pembelian = 6 x (1% x Rp. 150,000,000)
= Rp. 9,000,000.PPh Final dari Laba penjualan = 6 x (1% x Rp. 10,000,000)
= Rp. 600,000.Total PPh Final terutan sebesar Rp. 9,600,000.Yaa artinya selama 6 bulan tersebut saya telah nombokin
sebesar Rp. 9,000,000.Sehingga alternatif untuk menambal Modal Usaha saya :
1. Dari kocek/saku sendiri
2. Mengambil dari keuntungan penjualan yang ada
ckckckckckckckck.????????????????????
Ya mau bagimana lagi jika seperti ini ?????
Balas

Dwi Utomo Mar 27, 2014 at 10:33

Ini ada komen serupa pak disini.


Saya mah nurutin aja pak, karena aturanbelum
direvisi atau dicabut. Semoga suara rakyat ini makin
senada dan banyak hingg dipertimbangkan ulang
untuk revisi
Balas

AHMAD Mar 25, 2014 at 10:01

bagaimana bentuk spt tahunan badan bila ada pemotongan pembayaran


pajak pph oleh bendaharawan pemerintah, selama juni des tetap
membayar 1,5% bukan pph final 1% mohon pencerahannya
Balas

Dwi Utomo Mar 25, 2014 at 15:11

Sore pak Ahmad


Jika kondisinya seperti itu ya nantinya pemotongan PPh 22 tsb jadi
kredit pajak pada SPT Tahunan jadinya lebih bayar, karena jika
petugas penerima SPT teliti pasti mereka akan (tetep) nyuruh
bapak bayar dulu yg 1% walaupun sudah dipotong 1.5% atau kalo
gak dianjurkan Pbk dari PPh 22 ke PP 46
Balas

AHMAD Mar 25, 2014 at 16:17

tapi pada kasus diatas perusahaannya tidak mendapat surat


rekomendasi dari pajak, apakah penerapan PP 46 berlaku
langsung untuk yang beromset di bawah 4,8 ataukah
berlaku untuk yang beromset 4,8 tapi mendapat
rekomendasi dari KPPmohon pencerahannya
Balas

Dwi Utomo Mar 27, 2014 at 10:31

PP 46 langsung berlaku bagi usaha yg tahun


sebelumnya <4.8M. Karena tidak ada SKB PPH
itulah makanya dipungut PPh 22 pak.
Balas

AHMAD Mar 27, 2014 at 11:06

untuk yang dipungut pph 22 sampai dengan


bulan desember 2013, apakah dalam
perhitungan SPT badan diperhitungkan juga
pph final 1%nya dan di lakukan Pbk dari
pph 22 ke PPh Final 1% sedangkan sisanya
di restitusi atau kompensasi? kalo pengajuan
PBK bisa gak setelah di lakukan setelah
pelaporan SPT Tahunan?
Balas

Dwi Utomo Mar 27, 2014 at

11:10

Jika pak Ahmad belum mengajukan


Pbk, maka PPh 22 tsb semuanya jadi
kredit pajak. Kecuali bapak lapor
SPT seadanya dulu tanpa
mengkreditkan PPh 22, kemudian
ajukan Pbk dan jika bukti Pbk sudah
terbit maka lakukan pembetulan SPT
Tahunan
Balas

AHMAD Mar 29, 2014 at

08:25

saya bingung postingnya ke form spt


tahunannya datanya laporan
keuanganya kira2 spt ini:
LAPORAN RUGI LABA
PER 31 DESEMBER 2013
PT ABC
PEREDARAN USAHA
Rp8.451.193.500

HPP Rp7.496.900.000
LABA BRUTTO Rp954.293.500
BIAYA BIAYA USAHA :
Gaji Pegawai
Rp28.000.000,00
Biaya Administrasi Rp7.800.000,00
Biaya Telepon Rp6.200.000,00
Biaya Listrik Rp4.800.000,00
Rekening Air Rp3.100.000,00
Transportasi Rp8.700.000,00
Penyusutan Inventaris
Rp3.000.000,00
Biaya kebersihan Rp2.780.000,00
Biaya Lainnya Rp3.100.000,00
Total Biaya Rp 67.480.000
Laba sebelum pajak Rp 886.813.500
Jakarta, 1 April 2013
PT. ABC
xxxxxxxx
Direktur

Ket tambahan: perusahaan di atas


pada tahun 2012 nihil,(artinya tahun
2013 termasuk kategori pp 46) pph
pasal 22 dan 23 yang dipotong oleh
pemungut tahun ini sebesar Rp
158.255.109 , angsuran pasal 25
nihil, pembayaran pph 22 dan 23
bulan juli des 2013, mohon
bantuanya cara posting ke spt
tahunan 1771, 1771 I dan 1771 IV
.balas di email saja ya pak..mohon
bantuannya
Balas

Dwi Utomo Mar 29, 2014 at

14:17

Jika pak Ahmad berencana


melakukan Pbk, maka dalam SPT

Tahunan PPh 22 tsb jangan


dikreditkan dulu. Karena jika
diperhitungkan sebagai kredit pajak,
maka Pbk tidak bisa diproses. Itu aja
syartnya agar Pbkk bisa diajukan
setelah lapor.
Balas

AHMAD Mar 29,


2014 at 16:31
gimana nih bentuk spt
tahunannya? yang tanpa
kredit pajak pph 22
Balas

tati Mar 20, 2014 at 13:37

siang Pak Dwi perkenalkan saya tati dari Lombok NTB, saya mau tanya gimana cara
membuat spt tahunan yg 2 th tdk ada transaksi (tdk berjalan )sementara pemilik
perusahaan menginginkan PKPnya di cabut.mohon penjelasannya pak dan mohon kirim
contoh laporannya terima kasih sebelumnya
Balas

Dwi Utomo Mar 24, 2014 at 10:58

Selamat siang bu Tati


Yang ibu perlu siapkan adalah membuat neraca untuk 2 tahun pajak tersebut,
sementara untuk SPT Tahunannya tidak perlu diisi angka rupiah (karena gak ada
penghasilan toh). Mudahkokbu, nanti bisa minta bimbingan petugas di KPP.
Cheers
Balas

Lisa Mar 27, 2014 at 13:58

Pak Dwi,
Utk SPT Tahunan perusahaan belum beroperasi jadi form mana saja yang
perlu diisi ya?
Hanya 1771 induk saja dengan lampiran Neraca?
terima kasih
Balas

Dwi Utomo Mar 29, 2014 at 14:57

Iya bu Lisa benar, dengan daftar penyusutan jika ada harta yg


disusutkan
Balas

OTNAY Mar 17, 2014 at 17:42

Pak Dwi .
Menurut saya contoh pengisian SPT Badan yang bapak berikan ngaco / salah besar.
Coba lihat 1771 induk :
penghasilan neto fiskal 200.000.000,PPh terutang 62.400.000,- (saya lihat menghitungnya dari penghasilan netto fiskal
setahun sebesar 480.000.000,- ).
Lihat 1771 IV : Penghasilan WP yg memiliki peredaran bruto ttt 30.000.000,Sehingga th 2013 PT Amsyong bayar PPh 62.400.000,- + 30.000.000,- = 92.400.000,Nah kacau bukan ?????
Menurut saya PPH terutangnya dihitung dari penghasilan netto fiskal 200.000.000,- saja.
Hayo gimana Pak Dwi ????
Balas

Dwi Utomo Mar 19, 2014 at 15:43

Yak memang saya yang salah mas Otnay, udah saya benerin baik di file excel dan
artikel diatas. Makasih kontribusinya mas Otnay, sangat mengoreksi
Balas

YULIANA Mar 17, 2014 at 15:19

Pak, mau nanya kalo ada usaha jasa digital printing yang berbentuk PT dan ada NPWP
sejak Okt 2013, peredaran bruto tidak sampai 4,8 M, namun sampe skrg tiap bulannya
blm setor PPH Final. Dan skrg misal bulan Maret ini mau dibenahi, yg mau saya
tanyakan:
1. Utk spt tahunan pph badan 2013 utk laporan keuangan periode Okt-Des tetap dibuat
dan dilampirkan tapi bagaimana dengan pengisian 1771IV utk pph final di no 14, apakah
diisi peredaran bruto selama itu langsung dipotong 1% ?
2. Trs utk SSP final dari Okt-Des 2013 kan rencana baru dibuat Mar 2014, apa ada sanksi
keterlambatan? dan utk Jan-Mar 2014 mekanisme pelaporan sspnya bagaimana? dan utk
spt masanya yg dilaporkan tiap bulan apa tinggal menyerahkan ssp yang sudah divalidasi
ntpnnya saja?
Tlg infonya. Thx.
Balas

Dwi Utomo Mar 17, 2014 at 16:04

Sore ibu Yuli

laporan keungaan yg dibutuhkan tetap setahun, tapi ibu juga butuh


perkiraan penghasilan selama semester 2 dan laba usaha sms 2. Kemudian
pada 1771-IV itu kan untuk final, jadi yg diisi disitu adalah peredaran
usaha selama jul-des dan nilainya dikalikan 1%

Untuk keterlambatan setoran 1% jul-des 2013 tidak dikenakansanksi, jadi


silahkan setor sebelum SPT badannya dilaporkan. Jika ibu setor dan sudah
dapat resi/BPN yg isinya nomor NTPN itu artinya ibu tidak wajib lapor
SPT lagi. Kecuali tidak dapat NTPN maka wajib lapor paling lambat
tanaggal 20 bulan berikutnya

Balas

YULIANA Mar 17, 2014 at 16:19

Kalo utk pelaporan SSP masa Jan dan Feb 2014 jika blm dilaporkan apa
juga tidak dikenai sanksi?
Berarti kalo PT tersebut baru beroperasi bulan Okt 2013, lap keuangannya
tetap Okt-Des , kalo peredaran brutonya selama 3 bulan itu dibawah 4,8 M
berarti ntar PPH tahunannya nihil ya, krn kan sdh setor pph final dari
peredaran bruto. Benar begitu?
Balas

ian Mar 15, 2014 at 11:41

lalu bagaimana perlakuannya ke wp badan yang terkait pp 46 tapi tidak mencapai 4,8M
pak?
Balas

Dwi Utomo Mar 17, 2014 at 16:56

maka laba/penghasilan neto fiskal kalikan saja dengan tarif 12,5% kemudian
kurangkan angsuran/kredit pajak.
Balas

Update & Revisi Cara Mengisi SPT Tahunan PPh Badan PP 46 |


Amsyong !! Mar 14, 2014 at 14:49

[] Buat SPT Tahunan Badan []


Balas

Yth Pak Dwi,

PajakMania Mar 13, 2014 at 16:49

Saya tidak setuju atas tulisan bapak yang tidak mengisi omset Juli-Desember 2013 di
form 1771-I. Menurut saya, form 1771-I tetap harus diisi dengan penghasilan setahun
(tidak 6 bulan), namun semua penghasilan dan biaya di Juli-Desember 2013 terkait PP 46
ini dikoreksi fiskal sepenuhnya.
Penghasilan > dikoreksi negatif 100% (pada form 1771-I no 4 Penghasilan yang
dikenakan PPh Final dan Yang Tidak Termasuk Objek Pajak)
Biaya > dikoreksi positif 100% (pada form 1771-I no 4 Penyesuaian Fiskal Positif)
asumsi tidak ada koreksi fiskal lain
Sehingga penghasilan neto fiskal sehubungan dengan PP 46 (Juli-Desember 2013)
menjadi nol. Dan yang tersisa adalah penghasilan yang kena tarif pasal 17, yang akan
masuk/pindah ke form induk.
Tentunya bapak mengetahui bahwasanya biaya sehubungan dengan penghasilan yang
bersifat final juga tidak boleh dibiayakan, bukan?
Demikian pendapat saya pak. Atas perhatiannya saya mengucapkan terima kasih.
Sukses selalu untuk bapak dan tim. Blog ini sungguh sangat bermanfaat.
PS: Anyway, saya setuju bahwa laporan keuangan 6 bulan perlu dibuat agar dapat
mengklasifikasikan jenis penghasilan. Ini sungguh mencerahkan.
Balas

Dwi Utomo Mar 19, 2014 at 15:46

Saya jadi lupa bales ini. Makasih admin PajakMania atas masukan dan
koreksinya, iya sudah saya update dan sesuai pemahaman bersama.
Cheers
Balas

Ades Mar 12, 2014 at 02:41

Selamat malam Pak Dwi.


Saya mohon dijelaskan mengenai rekon fiskal dan jurnal apa yang harus saya lakukan

atas transaksi di bawah ini karena saya masih kebingunan dalam membuat laporan nya.
Jenis Badan Usaha yaitu CV.
NIBT Jan s/d Jun 2013 adalah Laba sebesar Rp. 100,000.Pada Pos Biaya ada Gaji Yang Dibayarkan Kepada Anggota Persekutuan sebesar Rp.
9,000,000.- (6 x Rp. 1,500,000.-).
Mohon bantuan dan pencerahannya untuk perhitungan PPh Badan dan lainnya terkait
penjelasan di atas.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya.
Balas

Dwi Utomo Mar 12, 2014 at 15:46

Sore rekan Ades


Biaya tersebut karena sebagai komponen koreksi positif maka akan menambah
laba 100rb tsb. sehingga neto fiskal menjadi 9.100.000.
Untuk jurnalnya saya tidak bisa menjawab bu, mungkin seperti jurnal koreksi
dibalik dengan lawan akun koreksi positif fiskal.
Balas

Ades Mar 12, 2014 at 02:35

Selamat malam Pak Dwi.


Saya diminta saudara untuk membantu mengerjakan Laporan Keuangan dan SPT
Tahunan untuk PPh Badan, tetapi untuk tahun 2013 saya bingung membuat laporannya.
Yang menjadi pertanyaan saya untuk Laporan Pajak Tahun 2013 :
1. Laporan Keuangan yang dipergunakan untuk mengisi Lampiran 8A-2 apakah
menggunakan Laporan Keuangan per 31 Juni 2013 atau tetap menggunakan Laporan
Keuangan per 31 Desember 2013 ?
2. Sama juga dengan Formulir 1771 I juga menggunakan Laporan Keuangan yang sampai
kapan Pak.
3. Pak boleh minta contoh untuk pelaporan SPT Tahunan 2013 untuk Badan dan PPh
Final terkait PP.46
Teriam kasih sebelum dan sesudahnya atas info dan pencerahan yang akan Bapak
berikan.
Balas

Dwi Utomo Mar 12, 2014 at 15:56

Laporan keuangan yg dibutuhkan dan dilampirkan tetap yang setahun penuh, tapi
rekan Ades juga harus tahu penghasilan mana aja yg dikenakan pajak final. Dalam
bulan akan saya update untuk cara pengisiannya khusus SPT Badan
Balas

Farida Mar 11, 2014 at 17:27

selamat sore pak,,


Didapatkan form 1771 tahunan, isian pph kurang dibayar (pph ps 29) kolom 11 adalah
5juta.
Padahal selama ini, pajak yang diangsur jan-jun adalah pph ps 25.
Perbedaannya apa?
Kemudian untuk kurang pajak 5 juta masuk pph pasal berapa? kemudian nulis di SSPnya
kode akun pajak berapa?
Terimakasih
Balas

Farida Mar 11, 2014 at 18:15

menambahkan pak, jan-jun yang dilaporkan pph pasal 25, tapi semua nihil, karena
tahun 2012 tidak memiliki laba. Mohon bantuannya pak
Balas

Dwi Utomo Mar 12, 2014 at 16:13

Sore bu Ida, karena tahun 2012 belum terbit PP 46 dan tidak ada nilai
angsuran PPh 25, maka yg disetor ya senilai 5jt, dengan isian di SSP
411126-200
Balas

acok Mar 10, 2014 at 11:48

pagi pak dwi,


apakabr,? smoga sehat slalu amin.
pak dwi mohon penjelasannya untuk pengisian lampiran dielemen spt tahunan pajak
konpensasi kerugian dengan data begini pak?
tahun 2009 laba 350 jt
tahun 2010 laba 137 jt
tahun 2011 laba 150 jt
tahun 2012 laba 275 jt
tahun 2013 rugi 345 jt
pertanyaanya adalah :
1. untuk laba tahun 2010 laba tahun 2009 ditambah laba berjalan 2010 dapat hasil atau
ditulis laba setiap tahunnya
2. dngn kondisi data diatas bagaimana laba tahun berjalannya (2014)
mohon bantuannya
terima kasih
salam
acok
Balas

Dwi Utomo Mar 12, 2014 at 10:30

Salam pak Acok, ini pertanyaanya gak keliru kan. Saya lihat rugi hanya muncul di
tahun 2013, untuk pendistribusian rugi 2013 maksimal hingga 2017. Karena
tahun-tahun sebelum 2013 semua untung maka tidak ada kompensasi kerugian.
Balas

acok Mar 12, 2014 at 13:04


betul pak dwi begitu pertanyaan saya..selama 5 tahun terakhir laba dan
baru tahun ini rugi..terima kasih atas pencerahannya

Balas

acok Mar 12, 2014 at 13:26

jadi untuk form lampiran khusus tidak perlu di isikan pak??


terima kasih
Balas

Dwi Utomo Mar 12, 2014 at 15:15

Untuk tahun yg masih laba tidak perlu dilampirkan, jika sudah


ngalami rugi yg berkrlanjutan baru dilampirkan
Balas

Santy Mar 6, 2014 at 17:38

Dear Pak Dwi,


Terkait Pengisian SPT Tahunan Badan, informasi yang saya dapatkan dari kring pajak
adalah pada 1771-1 lampiran 1 penghasilan neto komersial dalam negeri atau tepatnya
angka 1, 2 dan 3 di isi penghasilan masa jan-des dan bukan masa jan-jun saja spt contoh
yang pak dwi buatkan diatas.
Sementara angka 4 (penghasilan yang dikenakan pph final dan yang tidak termasuk objek
pajak) merupakan akumulasi Laba bersih Jul-Des.
Nah setelah coba saya input. hasil penghasilan neto fiskal tidak sesuai dengan
penghasilan neto fiskal di laporan laba rugi periode jan-juni saya.
Mohon pencerahannya, apakah benar cara pengisiannya seperti yang di contohkan oleh
pak dwi di atas karena lebih logis juga menurut saya. dimana yang di input di lampiran 1
hanya utk periode jan-jun
atau memang ada ketentuan dari peraturan perpajakan bahwa SPT Tahunan 1771 pada
lampiran 1 yang di masukkan adalah peredaran usaha, hpp dan biaya periode 1 tahun.
Saya tunggu pencerahannya segera pak dwi.

Salam
Balas

Dwi Utomo Mar 13, 2014 at 16:33

Tunggu besok ya
Balas

yo Mar 1, 2014 at 20:33

Pak Utomo,

Jika ada koreksi fiskal seperti PPH21 dan PPH 22, apakah hanya Jan-Jun juga?
Mohon penjelasannya.
Trims Pak
Balas

Dwi Utomo Mar 3, 2014 at 15:10

Selamat sore rekan Yo


Jika atas PPh 21/22/23 tsb tidak dilakukan Pbk maka atas yg terpungut/potong
juga memperhitungkan yg terjadi di bulan juli-des. Alias semua kredit pajak
sepanjang tahun bisa dikreditkan/koreksi
Balas

kuniaman Mar 1, 2014 at 17:59

sore pak dwi.. saya mau nanya kalau perusahaan baru berjalan satu tahun, apakah pph 25
bisa di cicil pada tahun depan, atau bagaimana ya pak, mohon bantuannya
Balas

Dwi Utomo Mar 3, 2014 at 15:16

Sore pak Kuniaman.


Fungsi dari angsuran PPh 25 adalah untuk memperingan pajak tahunan WP. jadi
jika dicicil tahun ini artinya untuk mengurangi pajak tahunan yg pada tahun depan
akan dibayar. Dan nggak mungkin kebalik, bayar tahunan baru nyicil. kalau
memang merasa berat dengan angsuran PPh 25 tsb, bisa ajukan keringanan ke
KPP terdaftar.
Balas

Khusnul Feb 27, 2014 at 17:53

sore pak dwi.


sya mau tanya pak. perusahaan yang saya tangani berdiri hampir 1 th, cuman sebagai
pembanding dan blum ada pekerjaan. namun sudah keluar biaya gaji tiap bulannya.
apakah saya lapor nihil atau saya tetep mebuat laba rugi walaupun rugi ? mohon bantuan
untuk mengisi SPT tahunan nihil dan kalo ada minta yang bentuk excelnya biar mudah,,
terimakasih,,
Balas

Dwi Utomo Feb 28, 2014 at 14:44

Ini mau lapor apa maksudnya ya? saya coba jawab aja rekan Khusnul
Untuk SPT PPh 21 tetap lapor tentunya bisa nihil atau KB tergantung ada yang
dipotong atau tidak
Untuk SPT Tahunan juga lapor, bisa dibilang rugi jika memang tidak ada
pendapatan.
Untuk SPT Tahunan nihil, mudah saja bu, buat saja minimal neraca keuangan,
jika ada pengeluaran gaji berarti bikin laba rugi juga. SPT-nya sendiri tinggal diisi
0 semua di bagian induk SPT
Balas

hamdi Feb 27, 2014 at 16:55

selamat siang pak dwi, saya mau melaporkan pajak pph tahunan apakah perlu di buat rugi
laba, neraca, sama aktiva tetap per 6 bln.
mohon penjelasannya.terima kasih
Balas

Dwi Utomo Feb 28, 2014 at 15:14

Hingga saat ini saya belum mendapatkan aturan tentang perlunya laporan
keuangan 6 bulan. yang pasti lapkeu setahun perlu dilampirkan, jika mau nambahi
yg 6 bulan akan diperkenankan.
Balas

Edwin Feb 21, 2014 at 15:41

Selamat siang Bapak Dwi,


Saya mau menayakan untuk pengisian SPT Tahunan 2013 saya, saya memiliki omZet
dibawah 4,8M dalam tahun ini dan saya belum melakukan pembayaran untuk pph final
1%, saya harus melakukan langkah seperti apa ya pak? krn saya melihat contoh yang ada
itu omzet dalam 1 tahun mencapai 5M. apa perlakuannya sama? apa saya harus
membayar pph final 1% nya terlebih dahulu?
Mohon pencerahaanya ya pak.
Terima kasih
Edwin
Balas

Dwi Utomo Feb 22, 2014 at 15:40

Sore pak Edwin


Secara umum langkahnya

Setorlah PPh 25 jan-jun (jika belum)

Setorlah PPh final 1% untuk jul-des

Kemudian bisa lihat di perhitungan SPT tahunan yg saya contohkan

Saya jawab secara umum soalnya saya juga nggak tahu progess pembayaran
usaha bapak sudah sejauh apa
Balas

2.

Dhandi Feb 19, 2014 at 18:32

Pak Dwi yang terhormat,


Langsung saja ke pertanyaan,
mengenai biaya penyusutan dan amortisasi yang di input ke lampiran khusus 1A apakah
hanya biaya penyusutan selama 6 bulan (Januari Juni) atau setahun penuh? Karena bila
input lampiran khusus biaya penyusutan dan amortisasi via ESPT, biaya penyusutan akan
terhitung secara otomotis 1 tahun, apakah harus diinput manual untuk 6 bulan.?
Lalu ketika input lampiran 2 (Perincian HPP, Biaya usaha lainnya, dan Biaya dari luar
usaha), juga hanya di isi dengan biaya selama 6 bulan (Januari Juni) atau setahun
penuh?
Terima Kasih
Balas

3.

tedy m noor Feb 18, 2014 at 19:03

Selamat sore Pak Dwi..


Saya mau tanya, kalo perusahaan baru beroperasi meski sudah mulai ada penjualan tapi
masih merugi maka apakah perusahaan tersebut tetap dikenakan PP 46 1% dari
penjualannya atau bagaimana? Terima kasih
Balas

Dwi Utomo Mar 19, 2014 at 15:49

Iya tetap diterapkan PP 46 pak.


Balas

4.

M. Ichsan Wahyudi Feb 15, 2014 at 22:21

Dear all,
Mohon pendapatnya, untuk pelaporan SPT Tahunan OP/BDN yang terkena PPh Final
1%.
a. Apakah pembuatan SPTnya jan sd jun saja? dasar aturannya ada tidak? supaya untuk
pegangan kami jika suatu saat diperiksa oleh fiskus.
b. Menurut info dari rekan ada yg menanyakan ke AR, menurutnya SPT Tauhunannya
tetap dibuat sd Desember dan nilai PPh Final 1% yg sudah disetor diinput sbg koreksi
fiskal. Bila hal ini benar atau diperbolehkan atas nilai tersebut untuk form SPT Tahunan
OP/BDN di input diform lampiran dan kolom mana?
c. Sebenarnya Pengenaan PPh Final 1%, khususnya untuk WP BDN, apabila si WP baru
beroperasi di Tahun 2013 ( sebelum PP 46 diundangkan, pada saat diundangkan, dan
setelah PP 46 diundangkan ) apakah atas WP tersebut sudah dikenakan PP 46, ataukah
belum. Dikarenakan menurut pemahaman saya antara PP 46, Permenkeu 107, SE-42. Ada
perbedaan pemahaman antara PP 46 & PMK 107 vs SE-42.
Mohon petunjuknya.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya atas perhatian dan petunjuknya.
M. Ichsan Wahyudi
Balas

Dwi Utomo Feb 17, 2014 at 00:31

Ikut nyumbang pikiran pak tanpa ada tendensi kontra dengan sesama AR

Teknis atas perhitungan jan-jun ada pada SE-42/PJ/2013 huruf F.11

Yang saya tahu sesuai dengan poin 1 di atas pak

Sudah dirinci pada PP 46 pasal 10, dengan cara melihat hasil


penyeahunannya apakah sudah melebihi atau belum, yg beda adalah
jumlah bulan yg dipakai untuk menyetahunkan

Itu yg bisa saya sampaikan pak Ichsan, terima kasih


Balas

M. Ichsan Wahyudi Mar 2, 2014 at 00:24

Terima kasih pendapatnya Pak Dwi, mau tanya nih Pak untuk pengisian
SPT Tahunan Th pajak2013 bila :
a. usaha orang pribadi atas nama Yudi Sansan beroperasi secara
komersialnya bulan Oktober 2013, dan nilai peredaran usahanya tidak
melebihi 4,8M gimana SPT Tahunan 2013. dan bulan okt sd des Yudi
Sansan sudah membyr PPh Final 1%.
b. sedang untuk usaha badan misal PT. Ichsan Sejahtera yg mulai
beroperasi Okt 2013 dan peredaran usaha tdk melebihi 4,8M dan sudah
menyetorkan PPh Final 1%.
c. Pak, misal saya sbg jasa pembuat SPT tetapi klien kami tdk mau
memenuhi pembayaran PPh Final1% karena asumsinya usahanya masih
rugi ( SPT Masa PPN masih LB ) apakah saya membuat SPTnya tetap
memperhitungkan nilai PPh Final 1% atau tidak?
Mohon masukan dan petunjuknya Pak.
Terima kasih
Yudi
Balas

Dwi Utomo Mar 3, 2014 at 14:42

Siang pak Yudi

Berarti SPT PPh OP nihil

SPT Tahunan PPh Badan juga nihil, tapi tetep bikin laporan
keuangan juga

Karena pajak 1% itu sifatnya final, maka tidak perlu


diperhitungkan di laba rugi, karena bukan biaya

Itu yang bisa saya sampaikan pak yudi


Balas

Emmy Feb 6, 2014 at 13:15

selamat siang pak dwi.


Saya mau nanya lg nie pak,ttg pengisian SPT Tahunan 2013.Jenis usaha saya dagang,dan
menggunakan norma perhitungan 25%
,jumlah penghasilan netto Januari- Juni saya lebih kecil dr PTKP,sedangkan Juli-

Desember saya sudah memakai PP 46 Final


Jd itu gmn ya pak,apakah kredit PPh pasal 25 (Januari-Juni) yang telah di bayarkan tetap
di isi di kolom kredit pajak???? bila penghasilan netto<PTKP,mohon infonya pak,terima
kasih
Balas

1.

Dwi Utomo Feb 6, 2014 at 13:40


Siang bu Emmy Sebenarnya jika pada aturan PPh 25, jika Neto < PTKP maka
SPT-nya nihil. Jika ibu masukkan kredit pajak (angsuran PPh 25 jan-jun) di SPT,
maka jadinya lebih bayar sebesar kredit pajak tsb. Pada aturan baru (Per-198) jika
SPT Tahunan PPh OP kelebih pajaknya tapi masih dibawah 10jt bisa direstitusi
tanpa melalui pemeriksaan tetapi dengan penelitian, silahkan saja masukkan di
bagian kredit pajak, jika ingin uangnya dikembalikan bu.
Balas

mat Feb 5, 2014 at 14:55

Selamat siang pak Dwi. Saya mohon bantuan penjelasan tentang perhitungan SPT tahun
2013 jika hasil neto kita lebih kecil dari jumlah PTKP untuk K3. Sebelumnya terima
kasih pak. P
Balas

1.

Dwi Utomo Feb 5, 2014 at 16:08


Jika penghasilan neto rekan mat < PTKP maka tidak ada pajak yg terutang alias
jadinya 0 atawa nihil.
Balas

mat Feb 6, 2014 at 00:27

Terima kasih pak Dwi.


Balas

Dwi Utomo Feb 6, 2014 at 12:45

Sama-sama pak
Balas

afni Feb 5, 2014 at 10:24

Saya mau tnyakan,jika perusahaan terdaftar sbgai wp di tgl 22-05-13 walaupun usaha sdh
berjalan di awal thn 2013apakah perhitungan spt bdn utk periode jan-jun hrs dihitung
atau cuma bulan mei dan juni saja? krn utk pph 1% nya cuma utk bln juli-agt13
Balas

1.

Dwi Utomo Feb 5, 2014 at 16:11


Iya tetap dihitung saudari Afni untuk periode hingga akhir juni 2013, karena disitu
terlihat apakah ada pajak tahunan yg terutang atau tidak
Balas

dinda Jan 28, 2014 at 21:46

Malam pak, saya mau tanya, memang untuk badan harus membuat laporan laba-rugi dan
neraca dllnya. Tapi kalau metode PP 46 tanpa melihat biaya dllnya pajak langsung
dipotong 1% dari omzet. Jadi untuk apa membuat laporan laba rugi?? kalau membuat
laporan laba rugi di bagian akhir kita akan menghitung jumlah pajak yg harus dibayar.
pasti nilainya akan berbeda dengan jumlah pajak yang dibayar sesuai dengan pp 46. Nah,
kalau begini bagaimana?? saya jadi bingung mohon pencerahannya,, tks.
Balas

1.

Dwi Utomo Jan 30, 2014 at 16:02


Sore mbak Dinda
fungsi dari lampiran laporan keuangan adalah untuk mengecek kewajaran dari
kondisi keuangan perusahaan, tentunya yg sudah dilapor final (1%) tidak perlu

dihitung kembali. Mungkin mbak Dinda pernah melihat pada perusahaan yang
murni jasa konstruksi, SPT mereka nihil tetapi tetap melampirkan laba-rugi yg
memperlihatkan laba mereka walaupun tidak dihitung pada akhirnya.
Balas

nunung Jan 28, 2014 at 19:36

sre pak Dwi,slm kenal dr saya,maaf pak sy mau tanya bgaimana klu perusahaan itu br
berdiri 1 tahun,tetapi baru berjalan sekitar 4 bulan terakhir (oktober-januari) hanya baru
beberapa transaksi saja,bagaimana cara membuat laporan pajak tahunannya,karena sy
blm faham,mohon penjelasannya,terimakasih pak.
Balas

1.

Dwi Utomo Jan 30, 2014 at 16:04


Sore bu Nunung
Saya tidak bisa memberikan penjelasan detail, pastinya atas transaksi oktober
desember bisa dibuatkan laporan laba rugi dan neraca. Jika usaha ibu ikut PP 46
dan selalu setor 1% setiap bulannya (okt-des) maka pajak tahunannya nihil, hanya
saja lampiran laporan keuangan tetap perlu.
Balas

arifin Jan 27, 2014 at 21:08

Selamat mlm Pak Dwi, Saya mau tanya mengenai pph badan terkait pp 46 th 2013.
Pertanyaan pertama
Kalau pph sudah terlanjur dibayarkan dgn perhitungan pph pasal 25 dari bulan
januari sampai november 2013, apakah utk bln juli sampai november
2013 perlu dilakukan pemindahbukuan ke dalam pph 1 % atau tidak?
Pertanyaan kedua
Mengenai biaya dalam laporan Laba/Rugi semester pertama (periode januari-juni 2013),
yang dicatat itu biaya dalam 1 tahun pajak atau hanya biaya dalam semester pertama
saja? (misalnya utk biaya gaji dan biaya penyusutan).
Terimakasih sebelumnya Pak
Balas

1.

Dwi Utomo Jan 28, 2014 at 08:26


Selamat pagi P. Arifin

Jika pada masa juli-nov belum menyetor PPh 1% maka yg PPh 25 tsb bisa
dipindahbukukan ke PPh 1%, kecuali udah setor 1% maka PPh 25 tsb jadi
kredit pajak di SPT Tahunan

Laporan keuangan semester 1 hanya memuat biaya untuk semester 1 saja


pak

Balas

2.

dila Jan 25, 2014 at 11:08

mohon pencerahannya pak.. apa benar neraca dan laporan keu untuk menghitung pajak
tahuan, unsur pajak nya seperti PPh 21, pph 23, PPN,dikluarkan semua?
Balas

1.

Dwi Utomo Jan 28, 2014 at 09:25


Iya benar bu Dila
Istilahnya koreksi fiskal yaitu mengeluarkan beban/biaya2 yg muncul terkait
pajak.
Balas

3.

Fidah Jan 20, 2014 at 13:28

Selamat Siang Pak,


Saya mau tanya, klo kantor konsultan yang bergerak di bidang riset bagaimana
perhitungan dan pengisian spt tahunan 2013 (berdasarkan peraturan baru)? atau apakah
formatnya masih tetap sama seperti spt tahunan 2012?
Klo ada contoh file nya, mohon dikirimkan lewat email. Tks, Fidah
Balas

1.

Dwi Utomo Jan 28, 2014 at 12:59


Siang bu Fidah
Ini riset pendidikan nirlaba atau bagaimana spesifik usahanya?
Tidak ada perubahan dalam format SPT Tahunan PPh Badan, jadi masih bisa
menggunakan file lama
Balas

4.

ida Jan 10, 2014 at 14:06

siang pak,
saya mau tanya, kalo perusahaan manufaktur gmn cara pengisian spt tahunan,, kalo ada
saya minta contoh pengisian dlm bentuk excelya. lewat email
Balas

1.

Irfan Hartono Jan 14, 2014 at 13:37


Salam, Bu Ida. Pengisian SPT Tahunannya sama saja kok dengan yang lain.
Mungkin pada laporan keuangannya saja yang berbeda. Sebagai gambaran,
silakan dilihat di SPT Tahunan PPh badan, bagian lampiran khusus transkrip
laporan keuangan perusahaan manufaktur.
Balas

5.

sodik Jan 10, 2014 at 12:53

bos kalau ssp pasal 4 ayat 2 di potong bendaharawan masuk kemana ya


Balas

1.

Irfan Hartono Jan 10, 2014 at 15:13


177-IV bagian A.
Balas

6.

putri Dec 27, 2013 at 15:56

Saya tadi sudah melihat cara membuat SPT Tahunan badan terkait pp46 versi Excel,,lalu
apakah lampirannya harus 8A-6? atau memang disana hanya sebagai contoh dari pak
dwi?
Karena memang sebelumnya kami memakai 8A-2 pak,,
Balas

7.

putri Dec 27, 2013 at 15:18

Trims pak atas jawabannya waktu itu,,


saya mau tanya lagi pak,,,
kalau sebuah perusahaan membeli salah satu gudang, tetapi pembayaran uang mukanya
di cicil perbulan selama 6 bulan, maka biaya uang muka gudang tersebut apakah menjadi
beban atau bagaimana untuk memasukkan ke dalam pembukuan untuk laporan
perpajakannya?
sebelumnya trima kasih pak,,
Balas

8.

Agus Zainal Dec 24, 2013 at 22:00

Pak Dwi yang baik, mohon pencerahannya mengenai pajak


gini pak, Perusahaan saya bergerak di bidang konstruksi dan baru berdiri setahun, dan
belum memiliki SPT Tahunan, laporan pajak bulanannya lengkap, selama ini perusahaan
saya sudah mengerjakan beberapa proyek pemerintah dan telah selesai, sedangkan
Potongan pajaknya (PPN&PPh) langsung di pungut oleh Bendahara dinas, yang ingin
saya tanyakan gimana cara membuat laporan laba-rugi, neraca dan SPT Tahunan, mohon
jawabannya Pak dwi, via email jg bisa pak, terima kasih atas bantuannya pak.
Balas

9.

vivi Dec 24, 2013 at 13:50

Selamat siang Pak Dwi,


Saya mau tanya, untuk badan yg omsetnya pada akhir Des 2013 ternyata >4,8M , maka
pada bulan Jan 2014 sd Maret 2014 nanti apakah pembyran pajaknya masih tetap kena
tarif final PPH 4(2) sebesar 1% atau langsung kena tarif PPH psl 25 berdsrkan laporan

Jan-Jun 2013 ? Karena SPT badan tahunan baru lapor di bln April 2014.
Terima kasih.
Balas

1.

Dwi Utomo Dec 24, 2013 at 14:02


Selamat siang bu Vivi.
Saya pending jawabannya karena masih menunggu aturan baru terbit. Saya juga
masih belum tahu pasti. Segera saya infokan nantinya.
Balas

vivi Jan 3, 2014 at 15:46

Ok pak, saya tunggu penjelasannya. makasih


Balas

yudhi Dec 14, 2013 at 10:21

salam kenal pak dwi..


saya mau tanya, nilai 60jt pd kolom 14d dproleh dr mana? trims..
Balas

1.

Dwi Utomo Dec 17, 2013 at 10:09


Salam kenal juga pak Yudhi
Itu hasil dari 480.000.000 x 12,5%
Balas

Syahrudin Dec 13, 2013 at 08:35

pagi pakk,,
saya orang yang sangat awam di bidang pajak,,maklum pndidikan baru lulus SMA,,tapi
sekarang disuruh ngurus pajak Badan,,
lembaga saya baru 4 bulan terhitung awal septmber,,
mohon bantuan untuk mengisi SPT tahunan dan kalo ada minta yang bentuk excelnya
biar mudah,,
terimakasih,,
Balas

1.

Dwi Utomo Dec 17, 2013 at 11:06


Siang pak Udin
Berikut link untuk
SPT PPh Badan
lampiran khusus
Transkrip
Petunjuk pengisian
Yang pasti siapkan dulu pak, laporan keuangan 2013 (laba rugi, neraca) karena isi
SPT dari laporan keuangan tsb.
Balas

putri Dec 12, 2013 at 12:00

saya baca artikel bpk yang ini, itu perhitungan untuk perusahaan yang ternyata akhir
tahun 2013 omsetnya >4,8 milyar,,nah bagaimana untuk perhitungan perusahaan yang
sampai akhir tahun 2013 omsetnya tetap < 4,8 milyar? dan bagaimana cara pembuatan
laporannya dengan sudah dibayarnya pph final 1%?
Balas

1.

Dwi Utomo Dec 12, 2013 at 16:07


Sore mbak
Masih sama caranya, hanya yg langkah terakhir (form 1771-hal 2) tidak perlu
diisi karena tidak ada angsuran di tahun depannya
Balas

fresh Dec 4, 2013 at 18:30

Sore Pak Dwi, salam kenal. sy baru banget belajar pajak. mohon infonya. dr uraian di
atas sy pahami, untuk laporan akhir tahun ke kantor pajak berarti kita bikin 2 laporan ya
pak. yg pertama utk jan-jun 2013, kemudian jul-des 2013 (terkait pp 46)
Terima kasih.
Balas

1.

Dwi Utomo Dec 4, 2013 at 19:12


Selamat malam pak Fre
Iya pak untuk menghitung pajak tahunannya harus dibuat juga laporan laba rugi
per 30 juni 2013, hanya saja yang masih belum tahu apakah laporan tengah tahun
tersebut harus dilampirkan juga di SPT Tahunan atau tidaknya. Masih menunggu
petunjuk lebih teknisnya lagi.
Balas

anton Dec 3, 2013 at 12:01

selamat siang pak dwi.


saya mau tanya apa sudah ada spt tahunan badan 2013 dalam bentuk excel.
kl sudah ada boleh saya memintanya pak dwi lewat email.
terima kasih pak dwi
Balas

1.

Dwi Utomo Dec 3, 2013 at 15:16


File sent via email
Jelang penyampaian SPT PPh tahunan pasti akan saya ulas juga pak.
Cheers
Balas

tommy Jan 15, 2014 at 22:17

Pak Utomo,
Contoh perhitungan untuk wajib pajak badan yang peredarannya diatas
4,8M bukannya perhitungannya pakai rumus:
4.8M / peredaran dikali laba = A
A laba = B
A x 12,5 %. = ..
B x 25 %. = ..+
PPh terutang =
Maaff kalau saya yang salah
Balas

Irfan Hartono Jan 16, 2014 at 16:43

terimkasih atas koreksinya, pak tommy. segera akan kami perbaiki


artikelnya.
Balas
Sejak bulan Januari 2014, terkait dengan pembuatan SPT Tahunan PPh, seringkali saya
mendapat pertanyaan mengenai cara pembuatan dan pengisian SPT Tahunan PPh bagi Wajib
Pajak yang memiliki omset tidak lebih dari Rp 4,8 milyar (atau yang biasa disebut WP Usaha
Kecil Menengah/WP-UKM). Pertanyaan itu muncul karena katanya ada perbedaan treatment
PPh terhadap omset bulan Januari-Juni 2013 dengan omset bulan Juli-Desember 2013.
Banyak yang bilang, bahwa untuk omset yang diperoleh mulai bulan Juli 2013 hingga
Desember 2013 menurut ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013, dikenakan
PPh Pasal 4 ayat (2) yang bersifat final sebesar 1% (satu persen). Sehingga terhadap omset
bulan Juli hingga Desember 2013 tersebut tidak perlu lagi dihitung PPh terutangnya di SPT
Tahunan PPh. Sementara untuk omset yang diperoleh bulan Januari-Juni 2013 masih
dikenakan PPh dengan tarif PPh umum sehingga harus dihitung kembali PPh yang
terutangnya dalam SPT Tahunan PPh WP-UKM yang bersangkutan. Tapi bagaimana
caranya...?
Dalam artikel ini saya akan coba menjelaskan bagaimana cara membuat SPT Tahunan PPh
untuk WP-UKM tersebut. Tapi yang akan saya jelaskan ini hanya berlaku untuk WP-UKM yang
menyelenggarakan pembukuan terutama untuk WP-UKM berbentuk badan. Sedangkan
untuk WP Orang Pribadi (WPOP), jika yang bersangkutan membuat atau menyelenggarakan
pembukuan, maka yang bersangkutan bisa membuat SPT Tahunan PPh dengan cara yang
sama seperti yang saya jelaskan dalam artikel ini.

Bedakan Omset dan Biaya Berdasarkan Bulan


Bagi WP UKM yang sudah terlanjur menyetorkan PPh Final Pasal 4 ayat (2) sebesar 1% atas
omset bulan Juli sampai dengan Desember 2013 (tidak melakukan penyetoran PPh Pasal
25), berarti WP-UKM harus membuat pembukuan/pencatatan mengenai omset dan biayanya
dalam dua kolom periode. Kolom pertama untuk periode Januari sampai dengan Juni 2013
dan kolom ke-2 untuk periode Juli sampai dengan Desember 2013, seperti gambar berikut
ini:

Uraian

Januari Juni
(Rp)

Juli
Desember
(Rp)

Penjualan (Pendapatan):
- Sales
- Sales Return
- Discount

2.300.000.000
,200.000.000,-

2.300.000.000,200.000.000,100.000.000,-

100.000.000,Penjualan (Pendapatan) Bersih

2.000.000.000
,-

2.000.000.000,-

Harga Pokok Penjualan:

1.150.000.000
,-

1.150.000.000,-

Laba Kotor

850.000.000,-

850.000.000,-

300.000.000,-

300.000.000,-

100.000.000,-

100.000.000,-

50.000.000,-

50.000.000,-

Total Biaya Usaha

450.000.000,-

450.000.000,-

Laba Usaha

450.000.000,-

450.000.000,-

60.000.000,-

60.000.000,-

10.000.000,-

10.000.000,-

500.000.000,-

500.000.000,-

Biaya Usaha:
- Marketing Expenses
- Administration Expenses
- Dst..

Pendapatan (Biaya) Luar Usaha:


- Other Income
- Other Expenses
Laba Bersih

Jangan lupa untuk menambahkan satu kolom lagi, yaitu kolom Jumlah Total di sebelah
kolom Juli-Desember untuk menjumlahkan total pendapatan dan biaya selama satu
tahun buku tersebut.
Koreksi Negatif dan Positif atas Omset dan Biaya Juli-Desember 2013
Angka-angka dalam kolom Jumlah Total itu nantinya harus dicantumkan dalam Formulir
1771-I (untuk WP Badan) pada bagian 1. Penghasilan Neto Komersial Dalam Negeri.
Karena bagian ini adalah bagian untuk melaporkan jumlah total peredaran bruto, biaya,
serta penghasilan neto komersial selama satu tahun buku.
Selanjutnya, terhadap omset dan biaya bulan Juli hingga Desember 2013 tadi dikoreksi
negatif maupun positif. Terhadap omset Juli dan Desember 2013 dilakukan koreksi negatif
(dikeluarkan dari penghasilan neto komersial) karena sudah dikenakan PPh Final 1%
sehingga tidak perlu dihitung lagi PPh yang terutang.

Koreksi negatif terhadap omset ini dilakukan pada bagian kolom atau nomor urut 4.
Penghasilan Yang Dikenakan PPh Final Dan Yang Tidak Termasuk Objek Pajak, yang
ada di Formulir 1771-I. Pada saat yang sama, WP juga harus mengisi Formulir 1771-IV,
pada Bagian A: PPh Final, dalam nomor urut 14. Kolom Jenis Penghasilan pada nomor
urut 14 tersebut masih kosong sehingga WP harus mencantumkan sendiri keterangan dalam
kolom Jenis Penghasilan tersebut dengan kalimat seperti: Penghasilan WP Yang
Memiliki Peredaran Bruto Tertentu Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun
2013.

Jumlah yang tercantum dalam Formulir 1771-I nomor urut 4 itu harus sama dengan jumlah
total Dasar Pengenaan Pajak yang ada dalam Formulir 1771-IV. Sebab pada dasarnya angka
yang tercantum dalam Formulir 1771-I nomor urut 4 itu adalah pindahan dari jumlah total
pada kolom Dasar Pengenaan Pajak yang ada pada Formulir 1771-IV.

Selain harus melakukan koreksi negatif terhadap omset bulan Juli-Desember 2013 tersebut,
WP-UKM juga harus melakukan koreksi positif terhadap biaya-biaya usaha bulan JuliDesember 2013. Sebab sesuai dengan ketentuan yang berlaku, biaya-biaya yang terkait
dengan penghasilan yang dikenakan PPh final tidak boleh diperhitungkan sebagai
pengurang penghasilan (alias bersifat non deductible expenses). Koreksi terhadap biaya
usaha ini dilakukan di Formulir 1771-I, khususnya pada nomor urut 5m. Penyesuaian
Fiskal Positif Lainnya.
Koreksi Negatif dan Positif atas Omset dan Biaya Januari-Juni 2013
Setelah dilakukan koreksi positif dan negatif atas seluruh omset dan biaya bulan JuliDesember 2013, berarti dalam Formulir 1771-I tersebut nantinya hanya tersisa omset dan
biaya untuk bulan Januari-Juni 2013 serta pendapatan dan biaya luar usaha. Dan terhadap
omset dan biaya serta penghasilan dan biaya lain-lain bulan Januari-Juni 2013 tersebut
dilakukan koreksi positif sesuai dengan ketentuan umum yang berlaku.

Koreksi negatif biasanya dilakukan terhadap penghasilan yang dikenakan PPh Final
selain PPh Final 1%, misalnya penghasilan sewa tanah/bangunan, bunga
deposito/giro, dlsb. Selain itu terhadap penghasilan yang menurut UU PPh tergolong
sebagai penghasilan yang bukan objek PPh (tidak dikenakan PPh) seperti sumbangan,
warisan, dividen yang memenuhi persyaratan Pasal 4 ayat (3) huruf f UU PPh, dlsb.

Koreksi positif biasanya dilakukan terhadap biaya-biaya usaha yang menurut


ketentuan Pasal 9 UU PPh maupun peraturan terkait lainnya, tidak boleh dikurangkan
dari penghasilan bruto (non deductible expenses).

Dari hasil setelah dilakukan koreksi positif dan negatif tersebut, nantinya akan diperoleh
Penghasilan Neto Fiskal. Dari penghasilan neto fiskal tersebut selanjutnya dikalikan dengan
tarif PPh Pasal 17 untuk mendapatkan jumlah PPh terutang. Selanjutnya, PPh terutang itu
dikurangi dengan kredit PPh (Pasal 22, PPh Pasal 23, maupun PPh Pasal 24) dan dikurangi
lagi dengan angsuran PPh Pasal 25 yang sudah dibayar dalam tahun 2013 sehingga
diperoleh jumlah PPh yang kurang atau lebih bayar [PPh Pasal 29 (KB) atau PPh Pasal 28A
(LB)].
Berlaku Mulai Tahun Pajak 2014
Bagi WP-UKM yang tidak menyetor PPh Final 1% untuk bulan Juli hingga Desember 2013,
maka pembuatan SPT Tahunan PPh-nya dilakukan sesuai dengan ketentuan umum. Mereka
tidak harus membuat pemisahan omset dan biaya seperti di atas dan tidak harus melakukan
koreksi negatif maupun positif terhadap omset maupun biaya bulan Juli-Desember 2013
sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2013. Lalu apakah
mereka akan dikenakan sanksi pajak karena tidak menyetor PPh Final 1% untuk bulan Juli
hingga Desember 2013..? Atau apakah mereka harus melakukan Pbk (pemindahbukuan)
terhadap SSP PPh Pasal 25 bulan Juli sampai dengan Desember 2013 menjadi SSP PPh Final
1%...?

Saat saya membaca dan mempelajari contoh case yang ada pada memori penjelasan Pasal
3 dan Pasal 10 Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2013, saya berpendapat bahwa untuk
WP-UKM yang terdaftar sebelum tahun 2013 pengenaan PPh Final 1% tersebut mulai
diberlakukan pada tahun 2014, bukan pada tahun 2013. Pemberlakuan PPh Final 1% mulai
2013, menurut contoh-contoh dalam kedua pasal tersebut, hanya berlaku bagi WP-UKM
yang terdaftar NPWP pada bulan yang sama dengan pemberlakuan Peraturan Pemerintah
tersebut atau terdaftar pada bulan-bulan setelah Peraturan Pemerintah tersebut berlaku.
Seperti tercantum dalam Pasal 11 Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2013, pengenaan PPh
Final 1% tersebut diberlakukan mulai 1 Juli 2013. Dengan merefer pada ketentuan dan
contoh Pasal 3 serta Pasal 10 Peraturan Pemerintah tersebut, maka:

Untuk WP-UKM yang terdaftar NPWP sebelum 1 Juli 2013, pengenaan PPh Final 1%
diberlakukan mulai 1 Januari 2014. Itu pun kalau omsetnya dalam tahun 2013 tidak
melebihi Rp 4,8 milyar. Untuk tahun 2013-nya sendiri, khususnya untuk omset bulan
Juli-Desember 2013, seharusnya tidak dikenakan PPh Final meskipun omset di tahun
2012 tidak melebihi Rp 4,8 milyar. Jadi menurut pendapat saya, tidak salah apabila
WP UKM tetap melakukan penyetoran PPh Pasal 25 seperti biasa untuk bulan Juli
hingga Desember 2013. Seharusnya mereka tidak dikenakan sanksi denda karena

tidak menyetor PPh Final dan tidak seharusnya pula diwajibkan melakukan Pbk
terhadap PPh Pasal 25-nya menjadi PPh Final 1%;

Sedangkan untuk WP-UKM yang terdaftar NPWP pada tanggal 1 Juli 2013, atau
sesudahnya, maka terhadap WP UKM dapat dikenakan PPh Final 1% apabila terhadap
omset bulanan yang disetahunkan jumlahnya belum melebihi Rp 4,8 milyar.