Anda di halaman 1dari 27

7

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoritis
1. Minat
Minat merupakan suatu aspek psikologis yang dapat mendorong
seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan. Minat timbul apabila seseorang
merasa bahwa pekerjaan tersebut berguna untuknya dan sesuai dengan keinginan
atau kebutuhannya. Menurut Walgito (2001) minat adalah merupakan suatu
keadaan, dimana seseorang mempunyai perhatian terhadap objek dan disertai
dengan keinginan untuk mengetahui dan mempelajari maupun pembuktian lebih
lanjut untuk berhubungan lebih aktif terhadap objek. Minat adalah kecenderungan
bertingkah laku karena tertarik oleh segolongan aktivitas tertentu. Rasa tertarik ini
menunjukkan adanya perhatian atau mendapatkan objek yang sesuai dengan
minatnya. Hal ini menunjukkan bahwa adanya indikator a) adanya kesediaan jiwa
untuk menerima sesuatu, b) adanya keinginan untuk berbuat, dan c) adanya
kecenderungan untuk menaklukkan dan bertindak.
Winkel (2006) berpendapat bahwa minat sebagai kecenderungan subjek
yang menetap, untuk merasa tertarik pada suatu bidang studi atau pokok bahasan
tertentu dan merasa senang mempelajari materi itu. motif yang menunjukkan arah
perhatian individu terhadap objek yang menarik dan menyenangkan. Semiawan
(2007) berpendapat bahwa minat adalah suatu keadaan mental yang menghasilkan
respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan
7

memberi kepuasan kepadanya. Sukardi (2008) berpendapat bahwa minat adalah


suatu kegemaran, atau kesenangan akan sesuatu.
Dalyono (2007) berpendapat bahwa minat yang besar terhadap sesuatu
merupakan modal yang besar artinya untuk mencapai/memperoleh benda atau
tujuan yang diminati. Apabila individu memperhatikan sesuatu objek yang
menyenangkan maka ia akan cenderung berusaha lebih aktif dengan objek
tersebut. Minat merupakan penggerak yang kuat untuk menimbulkan perhatian,
kejelasan serta menambah besar tanggapan yang diberikan terhadap suatu objek
dengan pengenalan, perhatian dan tanggapan tersebut anak akan merasakan suatu
kepuasan yang berupa keberhasilan yang diinginkannya sebelumnya.
Syah (2008) mendefinisikan bahwa minat (interest) berarti kecenderungan
dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Sejalan
dengan itu, Slameto (2010) mengatakan bahwa suatu rasa lebih suka dan rasa
keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada
dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan
sesuatu diluar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut semakin besar.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa minat adalah
ketertarikan dan kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan atau terlibat
terhadap suatu hal karena menyadari pentingnya sesuatu bernilainya hal tersebut.
Dengan demikian minat belajar dapat didefinisikan sebagai ketertarikan dan
kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan terlibat dalam aktivitas
belajar karena menyadari pentingnya atau bernilainya hal yang ia pelajari.

1.a. Jenis-Jenis Minat


Berdasarkan bentuk pengekspresian minat, Krites ( dalam Suhartini, 2001)
mengemukakan minat terbagi menjadi empat jenis, yaitu :
a. Expressed Interest, minat yang diekspresikan melalui verbal yang
menunjukkan apakah seseorang itu menyukai atau tidak menyukai suatu
objek atau aktivitas
b. Manifest Interest, minat yang disimpulkan dari keikutsertaan individu
pada suatu kegiatan tertentu
c. Tested Interest, minat yang disimpulkan dari tes pengetahuan atau
keterampilan dalam suatu kegiatan
d. Inventoried Interest,minat yang diungkapkan melalui inventori minat atau
daftar aktivitas dan kegiatan yang sama dengan pernyataan.
Menurut Surya (2007) terdapat tiga jenis minat yaitu:
a. Minat Volunter adalah minat yang timbul dari dalam diri siswa tanpa
adanya pengaruh dari luar
b. Minat Involunter adalah minat yang timbul dari dalam diri siswa dengan
adanya pengaruh situasi yang diciptakan oleh guru
c. Minat Nonvolunter adalah minat yang timbul dari dalam diri siswa secara
paksa atau dihapuskan.
Kemudian Krapp (dalam Suhartini, 2001) mengemukakan bahwa
berdasarkan asal pengembangannya minat dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu :
a.

Minat Personal, yaitu minat yang bersifat permanen dan relatif stabil yang
mengarah pada minat khusus mata pelajaran tertentu. Minat personal

10

merupakan suatu bentuk rasa senang ataupun tidak senang, tertarik tidak
tertarik terhadap mata pelajaran tertentu. Minat ini biasanya tumbuh dengan
sendirinya tanpa pengaruh yang besar dari rangsangan eksternal.
b.

Minat Situasional, yaitu minat yang bersifat tidak permanen dan relatif
berganti-ganti,tergantung rangsangan dari eksternal. Rangsangan tersebut
misalnya dapat berupa metode mengajar Guru, penggunaan sumber
belajar,dan media yang menarik , suasana kelas, serta dorongan keluarga. Jika
minat situasional dapat dipertahankan sehingga berkelanjutan secara jangka
panjang minat situasional akan berubah menjadi minat personal atau minat
psikologis siswa, semua ini tergantung pada dorongan atau rangsangan yang
ada.

c.

Minat Psikologikal yaitu minat yang erat kaitannya dengan adanya interaksi
antara minat personal dengan minat situasional yang terus menerus dan
berkesinambungan. Jika siswa memiliki pengetahuan yang cukup tentang
suatu mata pelajaran, dan memiliki kesempatan untuk mendalaminya dalam
aktivitas yang terstuktur dikelas atau pribadi (di luar kelas) serta mempunyai
penilaian yang tinggi atas mata pelajaran tersebut maka dapat dinyatakan
bahwa siswa memilikii minat psikologikal.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat diperoleh gambaran bahwa

minat yang ada pada seseorang sudah ada sejak lahir dan menjadi arah dalam
segala tindakannya serta timbul karena adnya perasaan suka pada obyek. Sehingga
segala kelakuan tindakan dan segala kegiatan yang tidak didasari minat yang kuat
cenderung akan memberikan hasil belajar yang kurang baik, sebab antara minat

11

dan kelakuan sangat erat hubungannya. Dengan demikian apabila siswa tidak
mempunyai minat belajar yang sungguh-sungguh maka kemungkinan kurang
optimal dalam mencapai prestasi yang baik, siswa yang berminat belajar dapat
dilihat dari usahanya yang sungguh-sungguh dalam belajar baik di lingkungan
sekolah maupun di rumah.
1.b. Manfaat Minat
Menurut Crow (dalam Gie, 2005) bahwa minat merupakan dasar dari tugas
hidup untuk mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan. Minat dalam studi atau
dalam kegiatan-kegiatan lainnya merupakan salah satu faktor yang penting agar
mencapai kesuksesan sejati dalam hasilnya.

Lebih lanjut Gie (2005)

mengemukakan bahwa pentingnya minat dalam kaitannya dengan studi adalah


sebagai berikut :
1.

Minat dapat melahirkan perhatian yang lebih terhadap sesuatu

2.

Minat dapat memudahkkan siswa yang berkonsentrasi dalam belajar

3.

Minat dapat mencegah adanya gangguan perhatian dari luar

4.

Minat dapat memperkuat melekatnya bahan pelajaran dalam ingatan

5.

Minat dapat memperkecil timbulnya rasa bosan dalam proses belajar.


Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa minat

merupakan dasar atau pondasi yang harus diciptakan. Hasil belajar akan menjadi
optimal jika adanya minat yang tinggi pada diri siswa, makin tinggi minat belajar
yang dimiliki siswa maka akan semakin bagus hasil belajar yang diperolehnya.
Jadi dengan minat yang tinggi dan kemampuan siswa untuk melaksanakannya

12

maka siswa akan senantiasa menentukan intensitas belajarnya. Sehubungan


dengan hal diatas maka minat memiliki peranan sebagai berikut :
1.

Mendorong manusia untuk bertindak sebagai penggerak yang melepaskan


energi agar dapat menggerakkan setiap kegitan yang akan dikerjakannya.

2.

Menentukan arah perbuatan yakni kearah tujuan yang ingin di capai, dengan
demikian minat memberikan arah dan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan
tujuan yang dicita-citakan.

3.

Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang


harus dikerjakan sesuai dengan apa yang di lakukan untuk mencapai tujuan
dan mampu untuk memilah-milah kegiatan yang bermanfaat dengan kegiatan
yang mendukung dalam pencapaian cita-cita tersebut.
Crow (dalam Loekmono, 2004) mengemukakan lima butir motif penting

yang dapat dijadikan alasanalasan untuk mendorong tumbuhnya minat belajar


dalam diri seseorang yakni:
1). Suatu hasrat keras untuk memperoleh nlai-nilai yang lebih baik dalam semua
mata pelajaran.
2). Suatu dorongan batin memuaskan rasa ingin tahu dalam satu bidang atau lain
bidang studi
3). Hasrat untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi
4). Hasrat untuk menerima pujian dari orang tua, guru dan teman-teman
5). Gambaran diri di masa mendatang untuk meraih sukses dalam bidang khusus
tertentu.

13

Selain itu menurut Rooijakkers (Slameto, 2010) bahwa menumbuhkan


minat-minat baru dapat pula dicapai dengan cara menghubungkan bahan
pengajaran dengan suatu berita sensasional yang sudah diketahui kebanyakan
siswa.
2. Belajar
Belajar merupakan kebutuhan manusia yang vital dalam usahanya untuk
mempertahankan

hidup

dan

mengembangkan

dirinya

dalam

kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tanpa belajar, manusia akan mengalami


kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan tuntutan hidup yang
senantiasa berubah. Secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan
tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Slameto (2003) mengatakan bahwa belajar ialah proses
usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku,
baik tingkah laku dalam berpikir, bersikap dan berbuat.
Winkell (2004) menyatakan bahwa: Perubahan akibat belajar itu akan
bertahan lama, bahkan sampai taraf tertentu tidak menghilang lagi. Kemampuan
yang telah diperoleh menjadi milik pribadi yang tidak akan dihapus begitu saja.
Dengan demikian, belajar selalu berkenaan dengan perubahan-perubahan pada diri
orang yang belajar, apakah itu mengarah ke arah yang baik ataupun yang kurang
baik aspek pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Misalnya dari tidak tahu
menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi terampilan dan lain-lain.
Perubahan tingkah laku yang dimaksud adalah perubahan kearah yang
positif, seperti yang dikatakan Witig (Syah, 2003 ) Belajar ialah perubahan yang

14

relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu
organisme sebagai pengalaman. Sardiman, (2001) Belajar itu senantiasa
merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian
kegiataan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan
sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik, kalau si subjek belajar itu mengalami
atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat dikemukakan bahwa belajar
merupakan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil latihan atau
pengalaman yang dapat seseorang yang mampu membangun suatu pola berfikir
yang berbeda-beda, tergantung pada setiap individu memakainya. Seseorang
dikatakan belajar bila dapat diasumsikan dalam diri orang tersebut terjadi proses
kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku positif dan aktif.
Disamping itu perubahan yang terjadi merupakan perubahan secara sadar dan
bersifat kontinu bukan sementara.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar
Minat bukan merupakan suatu hal yang didapat sejak lahir namun minat
merupakan suatu keseluruhan yang dapat berubah-ubah karena sejak kecil minat
anak itu selalu mengalami perubahan. Menurut crow and Crow (dalam kasijan,
2009) mengemukakan bahwa minat timbul sebagai akibat dari pengalaman. Halhal yang mendasari minat digolongkan dalam 3 bagian, yaitu :
a. Faktor motif sosial, yaitu faktor yang dapat membangkitkan minat untuk
melakukan aktifitas.

15

b. Faktor dorongan dari dalam, yaitu faktor yang berhubungan erat dengan
dorongan fisik, merangsang individu untuk mempertahankan dirinya dari
hal yang berhubungan dengan fisiknya.
c. Faktor emosional, yaitu faktor emosi perasaan yang erat hubungannya
dengan objek tertentu dan kemudian berhasil dengan sukses akan timbul
perasaan puas.
Oleh karena itu timbulnya minat didasari oleh dorongan sosial, dorongan
dari dalam atau fisik, dan dorongan emosional yang semuanya berkaitan erat dan
tidak dapat dipisahkan. Menurut kartono (2000) bahwa faktor penyebab yang
dapat mempengaruhi minat belajar digolongkan pada dua faktor yaitu faktor
internal dan faktor eksternal.

a. Faktor Internal
a. 1. Kesehatan jasmani maupun rohani
Dalyono (2004) mengemukakan bahwa kesehatan jasmani dan rohani
sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Bila seseorang selalu
sakit, sakit kepala, pilek, batuk dan sebagainya maka dapat menyebabkan siswa
tidak berminat belajar karena tidak bergairah. Demikian halnya jika kesehatan
rohani (jiwa) kurang baik misalnya mengalami gangguan pikiran, perasaan
kecewa, emosi karena konflik dengan pacar atau orang tua atau sebab lain maka
akan mengurangi semangat dan minat belajar.
Menurut Slameto (2003) mengemukakan bahwa proses belajar seseorang
akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu. Selain itu juga ia akan cepat
lelah, kurang bersemangat, ngantuk, jika badannya lemah, kurang darah atau ada

16

gangguan-gangguan/kelainan fungsi alat inderanya serta tubuhnya.Keadaan


jasmani dan rohani dilingkungan sosial anak juga mempengaruhi minat belajar
anak. Selanjutnya Slameto (2003) berpendapat bahwa cacat tubuh adalah sesuatu
yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh/badan.
Cacat itu berupa buta, setengah buta, tuli, setengah tuli, lumpuh dan lain-lain.
Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar, siswa yang cacat belajarnya
juga akan terganggu.
Kelelahan jasmani seperti kesehatan fisik seseorang yang menurun karena
kelelahan atau sakit, makan makanan yang kurang bergizi atau makan tidak
teratur sehingga menimbulkan rasa lapar yang tidak teratur sehingga mengganggu
konssentrasi belajar. Kelelahan rohani yaitu keletihan psikologis yang timbul
karena siswa mempelajari pelajaran yang sama dalam jangka waktu yang lama
sehingga menimbulkan hilangnya minat untuk mempelajarinya. Dengan demikian
keadaan jasmani dan rohani siswa mempengaruhi minat belajar anak tersebut.
a. 2. Bakat dan Intelegensi
Menurut Dalyono (2004) bahwa seseorang yang memiliki intelegensi baik
(IQnya tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya pun cenderung baik.
Sebaliknya orang yang intelegensinya rendah cenderung mengalami kesukaran
dalam belajar, lambat berpikir sehingga prestasi belajarnya pun rendah. Bakat
juga mempengaruhi dan menentukan keberhasilan belajar karena akan lebih
mudah dan cepat pandai apabila seseorang mempunyai bakat. Intelegensi atau
kecerdasan merupakan salah satu aspek penting, dan sangat menentukan berhasil
tidaknya studi seseorang. Kalau seorang siswa mempunyai tingkat kecerdasan

17

normal atau diatas normal maka secara potensial dapat mencapai prestasi yang
tinggi. Seseorang dengan tingkat intelegensi yang rendah akan menyebabkan
orang tersebut tidak dapat menerima pelajaran dengan baik sehingga akan
berpengaruh pada hasil belajar siswa.
Chaplin (dalam Slameto, 2003) merumuskan intelegensi sebagai berikut:(a)
The ability to meet and adapt to novel situations quickly and effectively (b) The
ability to utilize abstract concepts effectively (c) The ability to grasp relationships
and learn quickly
Jadi intelegensi itu adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu
kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan kedalam situasi yang baru
dengan cepat dan efektif, mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang abstrak
secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. Intelegensi
besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar.
Sedangkan bakat adalah potensi atau kemampuan kalau diberi kesempatan
untuk dikembangkan melalui belajar, akan menjadi kecakapan yang nyata.
Seseorang yang tidak berbakat akan sukar untuk mempelajari sesuatu secara
mendalam. Menurut Hilgard dalam Slameto (2003) bahwa Bakat atau aptitude
adalah : The capacity to learn. Dengan perkataan lain bakat adalah kemampuan
untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang
nyata sesudah belajar atau berlatih. Orang yang berbakat mengetik, misalnya akan
lebih cepat dapat mengetik dengan lancar dibandingkan dengan orang lain yang
kurang/tidak berbakat dibidang itu.

18

Dari uraian diatas jelaslah bahwa bakat itu mempengaruhi belajar. Jika
bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil
belajarnya lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih
giat lagi dalam belajarnya.

a. 3. Perhatian
Menurut Gazali dalam Slameto (2003) adalah keaktifan jiwa yang
dipertinggi, jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu objek (benda/hal) atau
sekumpulan objek. Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa
harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan
pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia
tidak suka belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, usahakanlah bahan
pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara mengusahakan pelajaran itu sesuai
dengan hobi atau bakatnya.
Nasution (2003) mengemukakan bahwa perhatian merupakan reaksi umum
dari organisme dan kesadaran yang menyebabkan bertambahnya aktifitas, daya
konsentrasi dan pembatasan kesadaran terhadap objek. Perhatian adalah
pemusatan diri pada suatu objek. Sebelum seseorang berminat terhadap sesuatu
yang diminatinya, terlebih dahulu ia akan melihat sesuatu yang menarik bagi
dirinya. Ahmadi (2003) berpendapat bahwa perhatian sangat dipengaruhi oleh
perasaan dan suasana hati seseorang yang ditentukan oleh kemauan. Sesuatu yang
dianggap luhur dan mulia serta indah akan memikat perhatian, termasuk hal-hal
yang mencekam. Sebaliknya hal-hal yang menjemukan dan membosankan dan
terus-menerus

berlangsung

secara

otomatis,

hal-hal

yang

sepele

akan

19

membuyarkan perhatian. Lebih lanjut Nasutiaon (2003) mengemukakan beberapa


faktor yang mempengaruhi perhatian :
a. Pembawaan
b. Keadaan jasmani dan rohani pada saat tertentu
c. Minat yang besar merupakan dasar yang kuat untuk memusatkan perhatian
d. Menjadikan keberhasilan masa lalu sebagai perangsang untuk mencapai
sukses dalam tugas yang sedang dilaksanakan
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa perhatian
merupakan reaksi dan kesadaran seseorang untuk melakukan aktifitas tertentu
berdasarkan minat, pembawaan dan rangsangan masa lalu yang bertujuan untuk
memperoleh kesuksesan dalam tugasnya.

a. 4. Cara belajar
Cara adalah kebiasaan atau tindakan yang dimiliki oleh orang yang
sifatnya relatif tetap, seragam dan otomatis (Terry dan Thomas,2001). Sedangkan
cara belajar diartikan sebagai suatu kecenderungan seseorang untuk bertindak
secara otomatis (Saiful, 2004). Menurut Dalyono (2004) bahwa cara belajar
seseorang

mempengaruhi

pencapaian

hasil

belajarnya.

Belajar

tanpa

memperhatikan teknik, faktor fisiologis, psikologis, dan ilmu kesehatan akan


mempengaruhi hasil yang kurang memuaskan. Ada seseorang yang sangat rajin
belajar, siang dan malam tanpa istirahat yang cukup, cara belajar seperti ini tidak
baik. Belajar harus ada istirahat untuk memberi kesempatan kepada mata, otak
serta organ tubuh yang lainnya untuk memperoleh tenaga kembali.

20

Selain itu teknik-teknik belajar perlu diperhatikan bagaimana caranya


membaca, mencatat, menggaris bawahi, membuat ringkasan dan sebagainya.
Selain itu perlu diperhatikan waktu belajar, tempat, fasilitas, penggunaan media
dan penyesuaian bahan pelajaran. Karena semua itu dapat mempengaruhi minat
belajar siswa untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Menurut Gie (1992) bahwa cara-cara belajar siswa diantaranya adalah :
a.

Mengikuti pelajaran di sekolah yang merupakan aktivitas belajar sehari-hari


yang menjadi tolak ukur standar kedisiplinan dalam mengikuti pelajaran atau
proses belajar mengajar. Keseriusan siswa dalam mengikuti aktivitas belajar
secara kontiniu akan membawa siswa ke arah kesuksesan dalam belajar,
sebab apabila aktivitas mengikuti pelajaran di sekolah siswa jarang masuk
maka siswa tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

b.

Berdiskusi bermanfaat untuk menumbuhkan kemampuan dalam memberikan


beberapa alternatif pemecahan masalah dengan memperbandingkan antara
pendapat teman satu kelompok dengan pendapat pribadi untuk mendapatkan
hasil yang terbaik.

c.

Mendalami pelajaran/mengulang pelajaran. Tingkat pemahaman seseorang


terhadap pelajaran yang diberikan tentu berbeda-beda, ada siswa yang hanya
satu atau dua kali mendengar dapat mengerti namun ada juga siswa yang
membutuhkan berkali-kali untuk memahami pelajaran, disinilah perlunya
aktivitas mengulang/mendalami pelajaran tersebut.

d.

Menggunakan waktu belajar baik yang dilaksanakan disekolah maupun di


rumah merupakan hal yang penting untuk dibiasakan. Penyusunan dan

21

pengaturan waktu belajar ditetapkan agar kegiatan di sekolah dan di rumah


dapat dikerjakan secara tepat dan kontiniu. Seorang siswa yang mempunyai
cara belajar yang efisien, memungkinkan untuk mencapai prestasi lebih tinggi
dari pada murid yang mempunyai cara belajar yang tidak efisien.
b.Faktor Eksternal
Menurut Deci (2004) bahwa faktor-faktor ekstrinsik yang mendasari
tingkah laku seseorang meliputi : lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan
lingkungan masyarakat.
b.1. Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga dapat mempengaruhi minat belajar seseorang. Sebab
keluarga merupakan salah satu penggerak bagi tercapainya keinginan individu
seperti : ekonomi keluarga yang memiliki peranan penting dalam melanjutkan
pendidikan. Keadaan ekonomi keluarga berhubungan erat dengan belajar anak.
Anak yang sedang belajar selain harus terpenuhi kebutuhan pokoknya, misal
makan, pakaian, perlindungan kesehatan dan lain-lain, juga membutuhkan fasilitas
belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis menulis, bukubuku dan lain-lain. Fasilitas belajar itu hanya terpenuhi jika keluarga mempunyai
cukup uang.
Jika anak hidup dalam keluarga yang miskin, kebutuhan pokok anak
kurang terpenuhi, akibatnya kesehatan anak terganggu, sehingga belajar anak juga
terganggu karena minat anak untuk belajar menurun atau hilang sama sekali.
Bahkan anak sampai bekerja untuk membantu ekonomi keluarganya sehingga ia
tidak dapat belajar karena .lelah, dan tidak menutup kemungkinan keadaan ini

22

menjadi cambuk baginya untuk belajar lebih giat dan akhirnya sukses. Selain itu
keharmonisan dalam keluarga juga dapat memberikan motivasi kepada individu
apabila dalam keluarga terdapat ketenangan serta komunikasi yang baik.
Menurut Roehlkepartain (2005) bahwa minat belajar anak dapat
dikembangkan oleh orangtua dengan cara memperlakukan anak dengan
mengarahkan dan mengefektifan diri sendiri. Orangtua secara aktif menjadi
contoh dengan membagi sebuah nilai terhadap belajar, model dan pengakuan serta
usaha-usaha dalam mengejar sebuah cita-cita yang telah dipilih. Keluarga juga
secara konsisten dapat memberikan harapan yang tulus sehingga anak dapat
belajar dengan efektif, serta mengkomunikasikan harapan-harapan positif kepada
anak, merupakan salah satu garis pedoman bagi pengembangan motivasi.
Menurut Dianti (2005) bahwa keadaan keluarga menentukan keberhasilan
belajar. Keluarga harmonis, penuh perhatian dan paham akan pentingnya
pendidikan merupakan motivator utama berprestasi. Namun keadaan keluarga
disharmonis membuat konsentrasi menjadi terganggu, pikirannya terpecah antara
tugas di sekolah dan suasana rumah yang tidak nyaman. Eliestiana (2004)
mengemukakan bahwa prestasi belajar siswa yang mendapat perhatian dari orang
tua lebih baik dibandingkan dengan prestasi siswa yang kurang mendapat
perhatian dari orang tua. Peranan orang tua dalam lingkungan keluarga merupakan
faktor penting dalam perkembangan pribadi dan menjamin kehidupan emosional
anak.

23

Menurut Sobur (2006) bahwa sikap positif orang tua berpengaruh besar
bagi kelancaran belajar anak. Sikap orang tua terhadap proses belajar anak cukup
besar pengaruhnya. Semangat belajar anak akan terpatahkan oleh sikap yang
kurang menguntungkan dari orang tuanya sendiri. Mary (2000) menjelaskan
bahwa dukungan dan bantuan orang tua erat hubungannya dengan hasil belajar
anak. Lingkungan keluarga yang tidak menguntungkan akan dapat menganggu
perkembangan mental anak. Gangguan tersebut dapat berupa kepedihan hati,
tekanan keluarga dan kesalahan dalam menangani anak. Kesulitan belajar ini akan
menganggu ingatan dan daya konsentrasinya dan dapat mempengaruhi kecepatan
belajar. Relasi antar anggota yang terpenting adalah relasi orang tua dengan
anaknya. Selain itu relasi anak dengan saudaranya atau dengan anggota keluarga
yang lain pun turut mempengaruhi belajar anak.
Lebih lanjut Sobur (2006) mengemukakan bahwa sikap positif yang diperlihatkan
orang tua terhadap anak dan proses belajar sangat penting dalam menunjang kemajuan
atau

keberhasilan pendidikan anak. Orang tua juga perlu meyakinkan anak bahwa

mereka mengharapkan anak untuk belajar dengan baik. Di samping itu pendapat orang
tua bahwa sekolah merupakan pengalaman yang menyenangkan akan berpengaruh dalam
merangsang semangat anak untuk belajar. Cara orang tua mendidik anaknya besar

pengaruhnya

terhadap

belajar

anaknya.

Orang

tua

yang

kurang/tidak

memperhatikan pendidikan anaknya misalnya mereka acuh tak acuh terhadap


belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali akan kepentingan-kepentingan
dan kebutuhan-kebutuhan anaknya dalam belajar tidak mengatur waktu
belajarnya, tidak menyediakan/melengkapi alat belajarnya, tidak memperhatikan
apakah anaknya belajar atau tidak, tidak mau tahu bagaimanakah kemajuan

24

belajar anaknya, kesulitan-kesulitan yang dialami dalam belajar dan lain-lain. Hal
ini akan mempengaruhi minat belajar anak menurun sehingga menyebabkan
kurang/tidak berhasil dalam belajarnya.
Mendidik anak dengan cara memanjakannya adalah cara mendidik yang tidak
baik. Jika anak tidak belajar karena alasan segan, atau malas apabila dibiarkan
akan berbuat seenaknya. Mendidik anak dengan cara memperlakukannya terlalu
keras, adalah cara yang kurang baik juga. Karena anak diliputi ketakutan dan
akhirnya akan membenci belajar.

b.2. Lingkungan Sekolah


Kondisi lingkungan sekolah merupakan hal yang sangat penting bagi
siswa, karena tempat atau ruangan belajar akan mempengaruhi minat atau
kemauannya. Jika lingkungan sekolah berada pada lingkungan yang kumuh, maka
akan menimbulkan rasa tidak nyaman. Hal ini akan menyebabkan seseorang
tergerak batinnya untuk meninggalkan tempat tersebut. Sebaliknya lingkungan
kampus yang baik akan menumbuhkan motivasi dalam diri individu untuk dapat
belajar dengan baik agar memiliki pengetahuan yang luas.
Menurut Dianti (2005) bahwa suasana tempat belajar yang tidak ideal
dapat menjadi penyebab kesulitan belajar. Jumlah siswa yang terlalu banyak
dalam satu kelas dapat mengganggu kenyamanan belajar karena perhatian guru
menjadi terpecah. Terkadang perhatian guru sering terkonsentrasi pada siswa yang
berprestasi dan aktif, sementara siswa yang kurang aktif menjadi kurang
terperhatikan. Menurut Gie (1998) bahwa sebuah syarat untuk dapat belajar

25

dengan sebaik-baiknya ialah tersedianya tempat belajar. Setiap siswa hendaknya


mengusahakan agar mempunyai suatu tempat belajar yang tertentu. Meja belajar
yang mendapat sorotan sinar matahari yang cukup, penerangan yang baik, meja
yang bersih dari benda-benda apapun yang tidak langsung diperlukan untuk
belajar akan menyebabkan pikiran siswapun terasa jernih dan suasana jiwanya
menjadi lapang.
Menurut Dianti (2005) bahwa lingkungan belajar mempengaruhi
kenyamanan pembelajar. Lingkungan yang asri dan bersih mempunyai kesan bagi
pembelajar. Lingkungan belajar yang kotor tentu berdampak pada kesehatan.
Sarana proses belajar mengajar yang lengkap tentu akan menambah motivasi
belajar pembelajar, sebaliknya sarana yang kurang dapat mengakibatkan
penyampaian

materi

pembelajaran

menjadi

kurang

baik.

Ten

(2005)

mengemukakan bahwa ruang belajar yang tidak memadai akan menimbulkan


kesulitan belajar.
Menurut Sobur (2006) bahwa tempat khusus untuk belajar bagi anak akan
memungkinkan anak untuk dapat belajar tanpa ada gangguan. Gie (1998)
mengemukakan bahwa sarana belajar yang terdiri dari peralatan tulis,
perlengkapan belajar dan akan membantu siswa dalam mengatasi kesulitan
belajar. Perpustakaan adalah sebagai gudang dari berbagai informasi dan ilmu
pengetahuan. Kehadiran perpustakaan ini banyak digunakan oleh siswa untuk
dapat menambah literatur buku-buku pendamping selain buku pelajaran yang ada.
Perpustakaan biasa digunakan pada waktu jam istirahat maupun peminjaman buku
yang dibawa ke rumah.

26

Lebih lanjut Kartono (2000) mengemukakan bahwa hubungan guru dengan


siswa, hubungan siswa dengan siswa yang kurang baik, tujuan pelajaran yang
ditetapkan ada diatas kemampuan murid, semuanya dapat mempengaruhi belajar
dan hasil belajar siswa. Oleh sebab itu guru dituntut untuk menguasai bahan
pelajaran yang akan diajarkan dan memiliki tingkah laku yang tepat dalam
mengajar. Kartono (2000) juga mengemukakan bahwa lingkungan sekolah sangat
mempengaruhi minat belajar anak yaitu sebagai berikut :
1.

Metode Mengajar yaitu suatu cara/jalan yang harus dilalaui didalam


mengajar. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi
belajar yang tidak baik pula. Metode mengajar yang kurang baik itu dapat
terjadi misalnya karena guru kurang persiapan dan kurang menguasai bahan
pelajaran sehingga guru tersebut menyajikannya tidak jelas atau sikap guru
terhadap siswa, sehingga siswa kurang senang terhadap pelajaran atau
gurunya, akibatnya siswa malas untuk belajar. Guru biasa mengajar dengan
ceramah saja, siswa menjadi bosan, mengantuk, pasif, dan hanya mencatat
saja. Agar siswa dapat belajar dengan baik. Maka metode mengajar harus
diusahakan yang setepat, seefisien dan seefektif mungkin.

2.

Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa.


Kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa
menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu. Jelaslah
bahan pelajaran itu mempengaruhi belajar siswa. Kurikulum yang kurang
baik berpengaruh tidak baik terhadap belajar. Kurikulum yang tidak baik itu
misalnya kurikulum yang terlalu padat, diatas kemampuan siswa, tidak sesuai

27

dengan bakat, minat dan perhatian siswa. Perlu diingat bahwa sistem
instruksional

sekarang

menghendaki

proses

belajar

mengajar

yang

mementingkan kebutuhan siswa. Guru perlu mendalami dengan baik, harus


mempunyai perencanaan yang mendetail, agar dapat melayani siswa belajar
secara individual.
3.

Relasi Guru dengan Siswa, didalam relasi (guru dengan siswa) yang baik,
siswa akan menyukai gurunya, juga akan menyukai mata pelajaran yang
diberikan yang diberikannya sehingga siswa berusaha mempelajari sebaikbaiknya. Sebaliknya, jika siswa membenci gurunya. Ia segan memperhatikan
mata pelajaran yang diberikannya, akibatnya pelajarannya tidak maju. Guru
yang kurang berinteraksi dengan siswa secara akrab, menyebabkan proses
belajar mengajar itu kurang lancar, sebagai siswa segan berpartisipasi secara
aktif dalam belajar.

4.

Relasi Siswa dengan siswa, dimana siswa yang mempunyai sifat-sifat tingkah
laku yang kurang menyenangkan teman lain, mempunyai rasa rendah diri atau
sedang mengalami tekanan-tekanan batin akan diasingkan oleh kelompoknya.
Akibatnya makin parah masalahnya dan akan mengganggu belajarnya.
Sehingga ia akan menjadi malas untuk masuk sekolah karena mengalami
perlakuan yang kurang menyenangkan dari teman-temannya.

5.

Disiplin Sekolah yaitu mencakup kedisiplinan guru dalam mengajar dan


melaksanakan tata tertib, kedisiplinan pegawai/karyawan dalam pekerjaan
administrasi dan kebersihan/keteraturan kelas, gedung sekolah halaman dan
lain-lain. Kedisiplinan Kepala Sekolah dalam mengelola seluruh staf beserta

28

siswa-siswinya, dan kedisiplinan tim BP dalam pelayanannya kepada siswa.


Seluruh staf sekolah yang mengikuti tata tertib dan bekerja dengan disiplin
membuat siswa menjadi disiplin pula, selain itu juga memberi pengaruh yang
penting terhadap belajarnya. Dengan demikian agar siswa belajar lebih maju,
siswa harus disiplin didalam belajar baik disekolah, dari rumah dan di
perpustakaan.
6.

Alat Pelajaran erat hubungannya dengan cara belajar siswa, karena alat
pelajaran yang dipakai oleh guru pada waktu mengajar, dipakai pula oleh
siswa untuk menerima bahan yang diajarkan. Alat pelajaran yang lengkap dan
tepat akan memudahkan guru dalam menyampaikan materi pelajaran terhadap
siswa, sehingga siswa akan berminat utuk belajar sehingga siswa akan lebih
giat belajar.

7.

Waktu Sekolah ialah terjadinya proses belajar mengajar disekolah, waktu itu
dapat pagi hari, siang hari, sore atau malam hari. Waktu sekolah juga
mempengaruhi minat belajar siswa. Jika siswa masuk sore hari, dimana siswa
harus

beristirahat,

tetapi

terpaksa

masuk

sekolah,

hingga

mereka

mendengarkan sambil mengantuk dan sebagainya. Sehingga siswa sukar


berkonsentrasi dan berpikir. Hal ini apabila dibiarkan begitu saja maka akan
mengalami kesulitan belajar. Sebaliknya siswa yang belajar di pagi hari,
pikiran masih segar, jasmani dan kondisi yang baik.
8.

Standar Pelajaran Diatas Ukuran, apabila guru dalam memberikan pelajaran


di atas ukuran standar, akibatnya siswa akan kesulitan dalam mempelajari

29

mata pelajarannya. Sehingga guru dalam memberikan materi pelajaran harus


sesuai dengan kemampuan siswa.
9.

Keadaan Gedung dengan jumlah siswa yang banyak serta variasi


karakteristik, agar mereka dapat belajar dengan baik maka keadaan gedung
harus memadai.

b.3. Lingkungan Masyarakat


Lingkungan sosial masyarakat yang baik akan menguntungkan bagi
perkembangan mental anak yang sedang belajar. Namun lingkungan yang tidak
menguntungkan yang dapat mengganggu perkembangan mental anak. Misalnya
anak yang dibesarkan di tengah lingkungan premanisme, maka mental anak
menjadi keras, brutal dan berbuat semena-mena.
Menurut Dianti (2005) bahwa pembelajar yang hidup dalam lingkungan
yang rusak, besar kemungkinan akan tumbuh mentalitas rusak pula. Penyakit
sosial yang tumbuh jelas sangat mempengaruhi moralitas seseorang. Menurut
Mary (2000) bahwa pengaruh lingkungan dapat mempengaruhi minat belajar
anak. Menurut tim pengembangan MKDK IKIP Semarang (1990) bahwa
banyaknya kegiatan di masyarakat juga mempengaruhi minat belajar anak.
Apabila anak terlalu banyak mengikuti kegiatan di masyarakat akan membuat
anak kesulitan membagi waktu untuk belajar, apabila berteman dengan anak yang
tidak pernah belajar karena senang bermain atau jalan-jalan maka anak ikut
terpengaruh. Hal senada juga diungkapkan oleh Kartono (2000) bahwa pengaruh
dari masyarakat yang dapat mempengaruhi minat belajar anak, terutama anakanak yang sebayanya. Apabila anak-anak yang sebaya disekitarnya merupakan

30

anak-anak yang rajin belajar, maka anak akan terangsang untuk mengikuti jejak
mereka, sebaliknya bila anak-anak disekitarnya merupakan kumpulan anak-anak
nakal maka ia akan melakukan kegiatan yang tidak ada manfaatnya sehingga
sering mengalahkan belajarnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Dalyono (2004) bahwa keadaan
masyarakat juga menentukan prestasi belajar. Bila disekitar tempat tinggal
keadaan masyarakatnya terdiri dari orang-orang yang berpendidikan terutama
anak-anaknya rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik hal ini akan
mendorong anak lebih giat belajar. Tetapi sebaliknya apabila tinggal dilingkungan
anak-anak yang nakal, tidak bersekolah dan pengangguran, hal ini akan
mengurangi semangat belajar bahkan keinginan untuk belajar atau minat belajar
hilang sama sekali.
4. Mata Pelajaran Memilih Bahan Baku Busana
Mata pelajaran memilih bahan baku busana merupakan salah satu mata
pelajaran yang dipelajari siswa di kelas X SMK/sederajat dengan alokasi waktu 2x
45 menit dalam seminggu.Dalam Silabus program studi tata busana terdapat tiga
standar kompetensi yang harus dipelajari yaitu mengidentifikasi jenis bahan utama
dan bahan pelapis, mengidentifikasi pemilihan bahan tekstil, menentukan bahan
pelengkap. Menurut Ernie (2000) bahwa tekstil berasal dari bahasa latin TEXER
yang berarti menenun atau kain tenun, dan serat tekstil terbagi atas dua jenis serat
yaitu serat alami dan serat buatan. Setiap serat tekstil memiliki sifat, karakteristik
dan kekuatan yang berbeda-beda. Dengan demikian memilih bahan baku busana

31

memiliki peranan penting agar individu dapat memilih bahan yang lebih pantas
untuk digunakan pada kesempatan dan pada cuaca tertentu (Ernie, 2000).
Menurut Hutapea (2006) pengertian bahan tekstil adalah : Pengetahuan
bahan baku dari kain tekstil misalnya : mengenai asalnya, bentuknya, sifatnya dan
kwalitasnya. Maksud mempelajari pengetahuan bahan tekstil ialah agar konsumen
tidak keliru memilih kain yang diperlukan karena banyak dijumpai kain tekstil
dengan kualitas berbeda.
Serat-serat tekstil itulah nantinya akan dibuat menjadi benang yang
akhirnya dibuat menjadi kain. Perubahan merubah serat menjadi benang disebut
memintal, dan pekerjaan merubah benang menjadi kain disebut menenun. Setelah
ditenun masih banyak lagi pekerjaan lain yang harus dilakukan terhadap kain
tersebut untuk diperbaiki kualitasnya dan memperindah bentuknya, misalnya
dikelantang, dicelup dan lain sebagainya yang disebut penyempurnaan.
Setelah menyelesaikan mata pelajaran memilih bahan baku busana siswa
diharapkan memiliki pengetahuan tentang jenis-jenis serat tekstil, cara pembuatan
tekstil dan cara pemeliharaan tekstil untuk dapat melakukan pemilihan bahan
tekstil yang akan digunakan untuk busana.
B. Kerangka Berpikir

Minat belajar adalah kecenderungan bertingkah laku

yang menunjukan

seseorang untuk memusatkan perhatiannya pada kegiatan belajar dan untuk


mempelajari sesuatu untuk mencapai tujuan belajar. Dalam proses belajar minat
mempengaruhi aktivitas belajar karena dengan adanya minat siswa akan belajar

32

sungguh-sungguh sehingga siswa tidak cepat bosan atau lelah dan akan cepat
menghafal sehingga kesulitan yang ada terasa lebih mudah.
Dari pernyataan diatas maka minat belajar mempunyai peranan yang sangat
penting dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu baik guru maupun pihak
sekolah serta pihak keluarga dan masyarakat perlu membangkitkan minat belajar
anak agar mencapai prestasi yang lebih baik.
Minat belajar yang diekspresikan, yaitu seseorang dapat mengungkapkan
minat

atau

pilihannya

dengan

kata

tertentu.

Minat

belajar

yang

diwujudkan/manifestasikan yaitu seseorang mengekspresikan minat bukan


melalui kata-kata tetapi melalui perbuatan serta berperan aktif dalam suatu
aktifitas tertentu. Seperti yang diungkapkan kartono (2000) tinggi atau rendahnya
minat belajar seseorang tentunya dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu faktor
internal dan eksternal. Faktor internal diantaranya adalah kesehatan, bakat dan
intelegensi, perhatian serta cara belajar. Jika kesehatan seseorang terganggu, maka
kemampuan untuk menerima pelajaran tentunya tidak dapat maksimal. Bakat dan
intelegensi yang rendah membuat siswa tidak bersemangat untuk mengikuti
pelajaran. Lebih lanjut jika siswa tidak memberikan perhatian yang maksimal
maka siswa tersebut tidak akan maksimal dalam menerima pelajaran, begitu juga
dengan cara belajar yang salah sehingga siswa tidak dapat menerima pelajaran
dengan cepat.
Jika ditelusuri dari faktor eksternal, faktor keluarga sangat menentukan
minat belajar anak. Demikian juga halnya dengan faktor lingkungan sekolah yang
selalu menyediakan fasilitas-fasilitas pendukung belajar, maka siswa akan lebih

33

mudah mendapatkan informasi yang belum diketahui. Selain itu lingkungan


masyarakat juga mempengaruhi minat belajar siswa. Jika teman sebaya yang ada
lingkungannya bukan dari kalangan yang berpendidikan maka anak akan
mengikuti arus perkembangan masyarakat tersebut..
C. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan kerangka teoritis dan kerangka berfikir maka penulis
merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut : Faktor faktor apa sajakah
yang mempengaruhi kurangnya minat belajar siswa kelas X pada mata pelajaran
memilih bahan baku busana di SMK Negeri 1 Stabat TA. 2011/2012.