Anda di halaman 1dari 4

DATA PENGAMATAN

1. Binary Counter
Count
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Q0 (V)
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1

Q1 (V)
0
0
0
0
1
1
1
1
0
0
0
0
1
1
1
1
0

Q2 (V)
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0

Q3 (V)
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0

2. Ring Counter

Counter
1
2
3
4

S1
1
0
0
0

S2
0
1
0
0

S3
0
0
1
0

S4
0
0
0
1

S2

S3

S4

3. Johnson Counter
Counter

S1

1
2
3
4
5
6
7
8

0
0
0
1
1
1
1
0

0
0
1
1
1
1
0
0

0
1
1
1
1
0
0
0

1
1
1
1
0
0
0
0

G.
TUGAS AKHIR
1. Jelaskan perbedaan output dari binary counter dengan ring counter.
Jawab : Pada binary counter rangkaian akan menghitung seperti urutan hitungan biner, hal ini
dapat dilihat dari output berupa LED. Sedangkan ring Counter outputnya berlogika 1 (LED nyala )
secara bergantian dan begitu seterusnya, tidak ada LED yang menyala secara bersamaan.
2. Bagaimana Johnson counter berbeda dengan ring counter.
Jawab : Ring counter memiliki karakteristik bahwa hanya satu flip-flop yang
memiliki kondisi set (Q=1) pada waktu tertentu. Sedangkan pada Johnson counter
output Q berlogika high selama 4 periode clock. Kemudian flip-flop berikutnya
berlogika high pada periode kedua clock dan juga berlogika high selama 4 periode
clock dan begiru seterusnya.
3. Sebutkan kelebihan dari masing masing counter yang digunakan dalam percobaan.
Jawab : Kelebihan ring counter adalah dapat digunakan sebagai pencacah dekade
dengan keluaran dasan (desimal), tanpa memerlukan dekoder lain. Kelebihan Binary
counter adalah dapat menghasilkan 16 modulo.
4. Sebutkan kekurangan dari masing masing counter yang digunakan dalam
percobaan.
Jawab : Kelemahan dari ring counter adalah pada ring counter dengan menggunakan
4 buah flip-flop hanya dapat menghasilkan 4 modulo begitu pula dengan Johnson
counter yang dapat menghasilkan 8 modulo sedangkan pada binary counter dapat
menghasilkan 16 modulo.

ANALISIS

Percobaan pertama adalah rangkaian binary counter dengan empat buah JK


flip-flop. Pada binary counter, clock flip-flop kedua, ketiga dst berasal dari output Q
flip-flop sebelumnya. Output resetnya terhubung ke saklar sama halnya dengan input
J dan K. Ketika kedua saklar tertutup artinya reset, input J dan input K terhubung ke
ground. Kondisi pada saat ini adalah semua output flip-flop berlogika 0. Kemudian
saklar S2 dibuka artinya reset disuplai tegangan sebesar 5 V. Ternyata output yang
dihasilkan tidak berubah karena input J dan K masih berlogika 0. Sesuai dengan table
kebenaran JK flip-flop ketika kedua input J dan K berlogika 0 maka outputnya tidak
berubah.
Ketika kedua saklar dibuka, maka outputnya mulai melakukan pencacahan
dimulai dari semua flip-flop berlogika 0 kemudian flip-flop FF0 berlogika 1
sedangkan flip-flop lainnya berlogika 0 dst. Pada hitungan 16 semua output kembali
ke logika 0. Oleh karena itu rangkaian ini menghasilkan output dengan 16 keadaan
yang berbeda. Pada rangkaian ini output Q flip-flop pertama dijadikan sebagai input
clock flip-flop kedua. Karena frekuensi Q output adalah setengah dari frekuensi input
clock maka frekuensi clock untuk flip-flop kedua adalah setengah dari frekuensi
clock pertama. Oleh karena itu frekuensi output Q flip-flop pertama adalah setengah
frekuensi clock, frekuensi output Q flip-flop kedua adalah serperempat frekuensi
input clock, dst. Maka dapat dibuat timing diagram yang menggambarka outputoutput pada 16 keadaan tersebut. Praktikan tidak melakukan percobaan ketika clock

input dihubungkan ke Q .
Percobaan yang kedua adalah ring counter dengan empat buah JK flip-flop.
Perbadaannya dengan binary counter adalah pada rangkaian in input clock setiap flipflop dihubungkan ke clock yang sama. Sedangkan output Q dihubungkan ke input J
flip-flop berikutnya dan output

dihubungkan ke input K pada flip-flop

berikutnya. Sehingga rangkaian berbentuk ring. Sedangkan preset dihubungkan ke


saklar bersama dengan reset dari flip-flop lain. Cacahan pertama adalah FF0 high
sedangkan output flip-flop lainnya low. Cacahan berikutnya FF1 yang berlogika high

sedangkan output flip-flop lainnya berlogika 0, dst. Sehingga pada ring counter hanya
ada satu output high pada waktu tertentu. Oleh karena itu angkaian ini memiliki 4
keadaan output yang berbeda.
Dari rangkaian ring counter, pada output FF3 hubungan Q diubah dengan

Q
. Kemudian tegangan pada reset FF0 dipindahkan ke preset FF0, dan reset FF0
dihubungkan ke saklar S1. Ketika saklar S1 open, maka output yang dihasilkan
adalah output Johnson counter. Pada Johnson counter outputnya mulai menyala
secara bergiliran seperti pada ring counter bedanya adalah pada Johnson counter,
output menyala selama 4 periode clock, sedangkan pada ring counter output menyala
hanya 1 periode clock. Oleh karena itu pada Johnson counter memungkinkan output
flip-flop memungkinkan menyala lebih dari satu flip-flop. Pada Johnson counter
terdapat 8 variasi keadaan output yang berbeda.
KESIMPULAN
Pada Binary counter frekuensi output Q1 dari frekuensi clock,

frekuensi output Q2 dari frekuensi clock dst.


Pada ring counter hanya ada satu ouput yang berlogika high pada waktu

tertentu.
Johnson counter memiliki nomor modulo dua kali lipat dari ring
counter.

REFERENSI
http://rangkaianelektronika.biz/rangkaian-counter.htm,
Elektronika 2

Modul

Praktikum