Anda di halaman 1dari 15

PAKET PENYULUHAN

HIV

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT (PKRS)


INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD DR. SAIFUL ANWAR
MALANG
2015

SATUAN ACARA PENYULUHAN

HIV

Di susun oleh
PSIK UB 2011 GELOMBANG I

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015

HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN KEGIATAN PENYULUHAN
HIV

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Emergency


Di IGD RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:
PSIK UB GELOMBANG I

Telah diperiksa kelengkapannya pada:


Hari

Tanggal

Perseptor Akademik

Perseptor Klinik

(...............................)

(...............................)

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Pokok bahasan

: HIV

Sasaran

: Pasien, keluarga pasien, dan pengunjung

Tempat

: Ruang Tunggu IGD RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Hari/ Tanggal

: Selasa, 8 Desember 2015

Waktu

: 30 menit

Penyuluh

: PSIK UB 2011 Gelombang I

1. LATAR BELAKANG
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan sekelompok virus yang dikenal
sebagai retrovirus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Acquired
Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) didefinisikan sebagai suatu kumpulan gejala
penyakit

yang

disebabkan

oleh

infeksi Human Immunodeficiency Virus. (William

dan Wilkins, 2006). Infeksi HIV dan AIDS telah menjadi masalah paling serius dalam
kesehatan masyarakat. Ini diketahui bahwa 42 juta orang telah terinfeksi HIV dan 27 juta
orang

telah

mati

dikarenakan

oleh

AIDS

selama

20

tahun

terakhir.

Ini

diperkirakan bahwa angka kematian karena AIDS akan mencapai 100 juta orang dalam
jangka 25 tahun kedepan jika penaggulangan tidak menggunakan metode yang
effective. (Neriman -2012) Perkembangan epidemic HIV dan AIDS di dunia telah
menyebab HIV dan AIDS menjadi masalah global dan semakin nyata menjadi masalah
kesehatan

masyarakat

di

Indonesia.

Kini

Indonesia

menjadi

negara

dengan

pertumbuhan HIV/AIDS tercepat di Asia Tengara di saat negara lain sudah


mengalami penurunan.

Seperti

Thailand

yang

pada

awalanya

adalah

salah

satu Negara dengan angka HIV tertinggi di ASIAN tapi dengan program yang effective
selama 20 tahun teakhir

mereka berhasil menekan laju pertumbuhan infeksi HIV.

(SEARO-WHO,2012).
Di berbagai Negara dan masyarakat, stigma sehubungan dengan HIV dan
menghasilkan

diskriminasi

sangat

membahayakan

seperti

sebuah

penyakit

sendiri: ditelantarkan oleh pasangannya dan atau oleh keluarganya, penghujatan


social/lingkungan
penolakan/pengucilan
kesehatan,

(ostracism),
dari

kekurangan

konsekfensi ini atau

kehilangan

sekolah

perhatian

ketakutan

pekerjaaan

(explusion),

di

tolak

dan

kekayaan,

dalam

pelayanan

dan dukungan, dan kekerasan. Konsekfensi-

kepada

mereka

(ODHA), mengartikan

bahwa

akan menghambat, mengurangi kemungkinan untuk datang dan melakukan test HIV,
takut pembocoran status HIV mereka kepada orang lain, menghambat untuk
mengadopsi prilaku pencegahan HIV atu menhambat untuk mendapatkan akses

pelayanan kesehatan, perawatan dan dukungan. Jika mereka lakukan, mereka


bisa akan kehilangan segala galanya. Dalam Survey pada para penasun Di Indonesia
bahwa 40

penyebab

dari mereka

Stigma. (UNAIDS, 2007).


Stigma terhadap penderita

menghindari

menyebabkan

test HIV

pencegahan

dan

adalah karena
penanganan

penyakit akibat human immunodeficiency virus di Indonesia sulit dilakukan. Imbasnya,


pertumbuhan
cepat

jumlah

orang

dibandingkan

yang

dengan

hidup

dengan

negara

lain.

HIV

di Indonesia tergolong

Stigma

membuat

orang

mendiskriminasi mereka yang hidup dengan HIV-AIDS (ODHA) dan tak mau tahu
tentang HIV, ungkap Prabowo (2011) dari Organisasi Kesehatan Dunia saat dihubungi di
Jakarta.
Hukuman sosial atau stigma oleh masyarakat terhadap pengidap AIDS dilakukan
dalam

berbagai

cara,

antara

lain

tindakan-tindakan

pengasingan, penolakan,

diskriminasi, dan penghindaran atas orang yang diduga terinfeksi HIV. Secara tidak
langsung, masyarakat telah menghakimi pengidap HIV sehingga mereka terbuang
dari komunitasnya. Sehingga, karena kekerasan atau ketakutan atas kekerasan, telah
mencegah banyak orang untuk melakukan tes HIV dan berusaha untuk tidak
memperoleh perawatan agar penyakitnya tidak diketahui orang lain. Akibatnya sudah
dapat ditebak, ODHA akan semakin kronis hingga berujung kematian. Bahkan tidak
terelakkan

penyebaran

HIV

yang semakin meluas di berbagai belahan dunia. Hal

tersebut menunjukan stigma negatif tentang ODHA di tengah masyarakat masih sangat
kuat. Orang yang terkena HIV/AIDS dianggap pasti disebabkan oleh perilaku yang dekat
dengan narkoba, seks bebas, amoral, dan sebagainya. Lalu ada pula di antara mereka
yang takut tertular bila harus menangani pasien ODHA, kendati tahu bahwa HIV/AIDS itu
hanya menular lewat hubungan seks, darah yang tercemar, dan sebagainyal.
Perawat adalah tenaga profesional kesehatan yang memiliki peran dan fungsi
tersendiri

di

dalam

memberikan

pelayanan

kesehatan

kepada

masayarakat.

Perawat memiliki tanggung jawab untuk memberikan pelayaanan profesional, pelayanan


tersebut di area pekerjaan atau tanggung jawab profesi pekerjaan yang di jalaninya.
Perawat sebagai bagian dari masyarkat memilik tanggung jawab moral dalam masalahmasalah kesehatan untuk selalu memberikan edukasi atau informasi yang akurat. Pada
sebagian masyarkat menempatakan poisisi perawat sebagai nara sumber kesehatan
atau tempat konfirmasi atas informasi-informasi kesehatan yang mereka terima melalui
berbagai media.

2. TUJUAN
a. Tujuan Umum

Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan orangtua atau keluarga pasien dapat


mengetahui dan memahami tentang HIV.
b. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan diharapkan peserta penyuluhan
dapat mengetahui tentang:
1) Pengertian HIV
2) Penyebab HIV
3) Tanda dan Gejala HIV
4) Cara Penularan HIV
5) Cara Pencegahan Penularan HIV
3. SUB POKOK BAHASAN
a. Pengertian HIV
b. Penyebab HIV
c. Tanda dan Gejala HIV
d. Cara Penularan HIV
e. Cara Pencegahan Penularan HIV
4. METODE
Metode yang digunakan dalam penyuluhan:
a. Ceramah
b. Diskusi dan tanya jawab
5. MEDIA PENYULUHAN
Media yang digunakan dalam penyuluhan:

a. Leaflet
b. PPT
7. KEGIATAN PENYULUHAN
Tahap

Kegiatan perawat

Kegiatan klien

Kegiatan
Pembukaan

Salam pembuka

Mendengarkan

( 5 menit)

Memperkenalkan

Memperhatikan

diri

Menjawab

Menjelaskan
maksud dan tujuan
penyuluhan

pertanyaan

Metode

Media

Ceramah

Tanya
jawab

Menggali
pengetahuan
peserta tentang
materi yang akan

disampaikan
1. Menjelaskan

Penyajian

Memperhatikan dan

Ceramah

Tanya

dan diskusi

tentang:

mendengarkan

( 15 menit)

Pengertian HIV

keterangan penyaji

jawab

Penyebab HIV

Tanda dan gejala

Peserta menjawab

Tanya jawab

HIV

Cara penularan
HIV

Cara
pencegahan
penularan HIV

2. Memberikan
kesempatan pada
peserta untuk
bertanya dan diskusi

Penutup
(10 menit)

tentang materi
Menggali

pengetahuan

pertanyaan,

peserta setelah

memperhatikan dan

mendapatkan

menjawab salam

penyuluhan

Menyimpulkan
kembali materi yang
telah disampaikan

Memberi salam
penutup

8. KRITERIA EVALUASI
a. Proses

Jumlah peserta penyuluhan minimal 5 orang

Media penyuluhan sudah siap

Ppt
leaflet

Waktu penyuluhan berjalan sesuai rencana yaitu 30 menit

Persiapan penyuluhan dilakukan beberapa hari sebelum penyuluhan

Pembicara menguasai materi penyuluhan

Tidak ada peserta yang meninggalkan ruangan saat penyuluhan berlangsung

Peserta antusias dan aktif saat kegiatan penyuluhan

b. Hasil

Peserta memahami materi penyuluhan yang telah disampaikan yaitu tentang


HIV.

Setelah kegiatan penyuluhan diharapkan ada perubahan perilaku dari peserta


sesuai dengan materi penyuluhan misalnya, peserta tidak menjauhi penderita
HIV dan dapat merubah perilaku kesehatan dengan mengikuti cara pencegahan
HIV.

9. MATERI PENYULUHAN (terlampir)

MATERI PENYULUHAN
1. DEFINISI HIV

HIV (Human Immunodeficiency Virus)

adalah sejenis virus yang

melemahkan

sistem kekebalan tubuh atau perlindungan tubuh manusia. Virus inilah yang
menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) (Brooks, 2010).

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang menyerang sistem
kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu
jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih
tersebut terutama limfosit yang memiliki CD4 sebagai sebuah marker atau penanda
yang berada di permukaan sel limfosit. Karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh
manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang
seharusnya berperan dalam mengatasi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada
orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500.
Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang
yang terinfeksi HIV) nilai CD4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada
beberapa kasus bisa sampai nol) (KPA, 2013).

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yang berarti
kumpulan gejala atau sindroma akibat menurunnya kekebalan tubuh yang
disebabkan

infeksi virus HIV.

Tubuh manusia mempunyai kekebalan untuk

melindungi diri dari serangan luar seperti kuman, virus, dan penyakit. AIDS
melemahkan atau merusak sistem pertahanan tubuh ini, sehingga akhirnya
berdatanganlah berbagai jenis penyakit lain (Yatim, 2010).

2. PENYEBAB HIV
Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency virus
(HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV2 dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk
memudahkan keduanya disebut HIV.
Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
a. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada
gejala.
b. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness.

c. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada.
d. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam hari,
BB menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut.
e. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali
ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system
tubuh, dan manifestasi neurologist.

3. TANDA DAN GEJALA HIV


Menurut KPA (2013) gejala klinis terdiri dari 2 gejala yaitu gejala mayor (umum terjadi)
dan gejala minor (tidak umum terjadi) :
Gejala mayor:
a. Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
b. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
c. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
d. Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
e. Demensia/ HIV ensefalopati
Gejala minor:
a. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
b. Dermatitis generalisata
c. Adanya herpes zoster multisegmental dan herpes zoster berulang
d. Kandidias orofaringeal
e. Herpes simpleks kronis progresif
f. Limfadenopati generalisata
g. Retinitis virus Sitomegalo
Menurut Mayo Foundation for Medical Education and Research (MFMER) (2008), gejala
klinis dari HIV/AIDS dibagi atas beberapa fase.
a. Fase awal
Pada awal infeksi, mungkin tidak akan ditemukan gejala dan tanda-tanda infeksi.
Tapi kadang-kadang ditemukan gejala mirip flu seperti demam, sakit kepala, sakit
tenggorokan, ruam dan pembengkakan kelenjar getah bening. Walaupun tidak
mempunyai gejala infeksi, penderita HIV/AIDS dapat menularkan virus kepada
orang lain.
b. Fase lanjut
Penderita akan tetap bebas dari gejala infeksi selama 8 atau 9 tahun atau lebih.
Tetapi seiring dengan perkembangan virus dan penghancuran sel imun tubuh,
penderita HIV/AIDS akan mulai memperlihatkan gejala yang kronis seperti
pembesaran kelenjar getah bening (sering merupakan gejala yang khas), diare,
berat badan menurun, demam, batuk dan pernafasan pendek.

c. Fase akhir
Selama fase akhir dari HIV, yang terjadi sekitar 10 tahun atau lebih setelah
terinfeksi, gejala yang lebih berat mulai timbul dan infeksi tersebut akan berakhir
pada penyakit yang disebut AIDS.
Menurut Barakbah et al (2007) hampir semua orang yang terinfeksi HIV, jika tidak
diterapi, akan berkembang menimbulkan gejala-gejala yang berkaitan dengan HIV atau
AIDS.
1. Gejala Konstitusi
Kelompok ini sering disebut dengan AIDS

related complex.

Penderita

mengalami paling sedikit dua gejala klinis yang menetap selama 3 bulan atau lebih.
Gejala tersebut berupa:
a. Demam terus menerus lebih dari 37C.
b. Kehilangan berat badan 10% atau lebih.
c. Radang kelenjar getah bening yang meliputi 2 atau lebih kelenjar getah bening di
luar daerah inguinal.
d. Diare yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
e. Berkeringat banyak pada malam hari yang terjadi secara terus menerus.
2. Gejala Neurologi
Stadium ini memberikan gejala neurologi yang beranekaragam seperti
kelemahan otot, kesulitan berbicara, gangguan keseimbangan, disorientasi,
halusinasi, mudah lupa, psikosis dan dapat sampai koma (gejala radang otak).
3. Gejala Infeksi
Infeksi oportunistik merupakan kondisi dimana daya tahan penderita sudah
sangat lemah sehingga tidak ada kemampuan melawan infeksi, misalnya:
a. Pneumocystic carinii pneumonia (PCP)
PCP merupakan infeksi oportunistik yang sering ditemukan pada penderita AIDS
(80%). Disebabkan parasit sejenis protozoa yang pada keadaan tanpa infeksi
HIV tidak menimbulkan sakit berat. Pada penderita AIDS, protozoa ini
berkembang

pesat

sampai

menyerang

paru-paru

yang

mengakibatkan

pneumonia. Gejala yang ditimbulkannya adalah batuk kering, demam dan sesak
nafas. Pada pemeriksaan ditemukan ronkhi kering. Diagnosis ditegakkan dengan
ditemukannya P.carinii pada bronkoskopi yang disertai biopsi transbronkial dan
lavase bronkoalveolar (Murtiastutik, 2008).
b. Tuberkulosis

Infeksi

Mycobacterium tuberkulosis

pada penderita AIDS sering mengalami

penyebaran luas sampai keluar dari paru-paru. Penyakit ini sangat resisten
terhadap obat anti tuberkulosis yang biasa. Gambaran klinis TBC pada penderita
AIDS tidak khas seperti pada penderita TBC pada umumnya. Hal ini disebabkan
karena tubuh sudah tidak mampu bereaksi terhadap kuman. Diagnosis
ditegakkan berdasarkan hasil kultur(Murtiasatutik, 2008).
c. Toksoplasmosis
Penyebab ensefalitis lokal pada penderita AIDS adalah reaktivasi Toxoplasma
gondii, yang sebelumnya merupakan infeksi laten. Gejala dapat berupa sakit
kepala dan panas, sampai kejang dan koma. Jarang ditemukan toksoplasmosis
di luar otak.
d. Infeksi Mukokutan.
Herpeks simpleks, herpes zoster dan kandidiasis oris merupakan penyakit paling
sering ditemukan. Infeksi mukokutan yang timbul satu jenis atau beberapa jenis
secara bersama. Sifat kelainan mukokutan ini persisten dan respons terhadap
pengobatan

lambat

sehingga

sering

menimbulkan

kesulitan

dalam

penatalaksanaannya (Murtiastutik,2008).
e. Gejala Tumor
Tumor yang paling sering menyertai penderita AIDS adalam Sarkoma Kaposi dan
limfoma maligna non-Hodgkin (Murtiastutik,2008).

4. CARA PENULARAN HIV


HIV ditransmisikan dalam cairan tubuh yang mengandung HIV dan/atau sel T CD4+
yang terinfeksi. Cairan tubuh ini termasuk darah, cairan semen, sekresi vagina, cairan
amnion, dan ASI. Transmisi HIV melalui tiga rute mayor, yaitu (Arif, 2000):
a. Kontak seksual
Kontak seksual merupakan penyebab tersering transmisi HIV, baik antara pasangan
heteroseksual maupun antara pasangan homoseksual. Hubungan seksual, dengan
risiko penularan 0,1-1% tiap hubungan seksual
b. Transmisi dari ibu ke bayi
Transmisi dari ibu ke bayi merupakan mayoritas penyebab kasus AIDS pada anak.

Selama kehamilan
Saat persalinan, risiko penularan 50%
Melalui air susu ibu(ASI)14%

c. Transfuse darah dan produk darah yang terinfeksi HIV

Transfusi darah yang mengandung HIV, risiko penularan 90-98%


Tertusuk jarum yang mengandung HIV, risiko penularan 0,03%
Terpapar mukosa yang mengandung HIV,risiko penularan 0,0051%

HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang berpotensial
mengandung HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu (KPA,
2013)
Penularan HIV dapat terjadi melalui berbagai cara, yaitu : kontak seksual, kontak
dengan darah atau sekret yang infeksius, ibu ke

anak selama masa kehamilan,

persalinan dan pemberian ASI (Zein, 2008).


a. Seksual
Penularan melalui hubungan heteroseksual adalah yang paling dominan dari semua
cara penularan. Penularan melalui hubungan seksual dapat terjadi selama
senggama laki-laki dengan perempuan atau laki-laki dengan laki-laki. Senggama
berarti kontak seksual dengan penetrasi vaginal, anal (anus), oral (mulut) antara dua
individu. Resiko tertinggi adalah penetrasi vaginal atau anal yang tak terlindung dari
individu yang terinfeksi HIV.
b. Melalui transfusi darah atau produk darah yang sudah tercemar dengan virus HIV
c. Melalui jarum suntik atau alat kesehatan lain yang ditusukkan atau tertusuk ke dalam
tubuh yang terkontaminasi dengan virus HIV, seperti jarum tato atau pada pengguna
narkotik suntik secara bergantian. Bisa juga terjadi ketika melakukan prosedur
tindakan medik ataupun terjadi sebagai kecelakaan kerja (tidak sengaja) bagi
petugas kesehatan.
d. Melalui silet atau pisau, pencukur jenggot secara bergantian hendaknya dihindarkan
karena dapat menularkan virus HIV kecuali benda-benda tersebut disterilkan
sepenuhnya sebelum digunakan.
e. Melalui transplantasi organ pengidap HIV
f.

Penularan dari ibu ke anak : Kebanyakan infeksi HIV pada anak didapat dari ibunya
saat ia dikandung, dilahirkan dan sesudah lahir melalui ASI.

g. Penularan HIV melalui pekerjaan: Pekerja kesehatan dan petugas laboratorium.


Menurut WHO (1996), terdapat beberapa cara dimana HIV tidak dapat ditularkan
antara lain:
a. Kontak fisik
Orang yang berada dalam satu rumah dengan penderita HIV/AIDS, bernapas
dengan udara yang sama, bekerja maupun berada dalam suatu ruangan dengan

pasien tidak akan tertular. Bersalaman, berpelukan maupun mencium pipi, tangan
dan kening penderita HIV/AIDS tidak akan menyebabkan seseorang tertular.
b. Memakai milik penderita
Menggunakan tempat duduk toilet, handuk, peralatan makan maupun peralatan kerja
penderita HIV/AIDS tidak akan menular
c. Digigit nyamuk maupun serangga dan binatang lainnya.

5. CARA PENCEGAHAN PENULARAN HIV


a. Pencegahan

penularan

melalui

hubungan

seksual.

Pastikan

untuk

tidak

berhubungan seks dengan orang yang terinveksi virus HIV. Berganti-ganti pasangan
seksual sangat beresiko tinggi mudah tertular virus HIV.
b. Pencegahan penularan melalui transfusi darah. Pastikan bahwa darah yang akan di
transfusi steril dari kontaminasi virus HIV.
c. Pencegahan penularan melalui kehamilan. Ibu yang terinveksi HIV sebaiknya tidak
hamil.
d. Pencegahan penularan melalui penyalah gunaan obat. Penyalah gunaan narkoba
dengan jarum suntik sangat mudah sekali menularkan virus HIV.
e. Pencegahan penularan melalui alat tidak steril. Setiap alat yang di gunakan untuk
orang banyak yang beresiko membawa virus HIV harus disterilkan terlebih dahulu
dengan menggunakan lisol, detol, atau alkohol.
f.

Pencegahan penularan melalui pola hidup sehat. Orang-orang yang memiliki


kebiasaan seks bebas, bertato, pemakaian narkoba dengan jarum termasuk mereka
yang beresiko tinggi terkena AIDS. Untuk itu perlu mengubah kebiasaan untuk hidup
lebih sehat dan aman.

g. Pencegahan penularan melalui pernikahan. Pernikahan dengan orang-orang yang


memiliki riwayat pekerjaan atau kebiasaan hidup beresiko tinggi tertular HIV
sebaiknya dilakukan tes HIV AIDS.

DAFTAR PUSTAKA
Jayawardena Suriya, MD. Cerebral Toxoplasmosis in Adult Patients with HIV Infection
Availabel
from
URL
:
http://www.turner-white.com/memberfile.php?
PubCode=hp_jul08 _toxoplasmosis.pdf. Diakses pada tanggal 1 Desembe 2015
Pukul 20.00 WIB.
George Sara Mathew, MD. Cerebral Toxoplasmosis in an HIV Positive Patient: A Case
Report and Review of Pathogenesis and Laboratory Diagnosis. Availabel from URL :
http://www.bahrainmedicalbulletin.com/june_2009/Toxoplasmosis.pdf. Diakses pada
tanggal 1 Desembe 2015 Pukul 19.20 WIB.
Patric Davey. Infeksi HIV dan AIDS. At a Glance Medicine. Jakarta: EMS. 2006.
Aru W. Sudoyo, dkk. HIV/AIDS di Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi
IV. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2006.
Sylvia

Price
dan
Lorraine
Wilson.
Human
Immunodeficiency
(HIV)/AcquiredImmunodeficiencySindrome). Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Volume 1.Edisi 6. Jakarta: EGC,2006.

Profesor.dr.H. Jusf Misbach, dkk. HIV-AIDS Susunan Saraf Pusat. Neurologi. Jakarta :
Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia 2006.
Belman Anita L,Maletic-Savatic Mirjana. Human Immunodeficiency Virus and Acquired
Immunodeficiency Syndrome. In Textbook Clinical Neurology. Goetz. 2008:955 -89.
Mansjoer, Arif . 2000 . Kapita Selekta Kedokteran . Jakarta : Media Sculapius.
Price , Sylvia A dan Lorraine M.Wilson . 2005 . Patofissiologis Konsep Klinis Proses
Proses Penyakit . Jakarta : EGC