Anda di halaman 1dari 7

a.

Analisa Pasien
1. Clicking pada sendi temporomadibular joint (TMJ) pasien sebelah kanan, hal ini
disebabkan kebiasaan pasien tidur dengal posisi miring dan kebiasaan menopang
dagu dan mengunyah satu sisi karena ada gigi yg hilang yaitu gigi 46.
2. Ulkus pada mukosa bukal sebelah kanan disebabkan trauma fisik karena gigitan.
3. Resesi gingiva pada gigi 31, 32, dan 33 disebabkan cara menyikat gigi dan
penggunaan sikat gigi yang salah.
4. Karies pasien kebanyakan pada daerah oklusal pada gigi 17, 16, 25, 26, 27, 28, 37,
38, 48, hal ini disebabkan pit dan fisur pasien yang dalam.
5. Karies pasien lebih banyak pada region posterior disebabkan kurang telitinya pasien
membersihkan daerah tersebut.
6. Karien pasien temasuk banyak, hal ini disebabkan kebiasaan pasien ngemil dan
makan-makanan yang kurang serat.
7. Malposisi pada gigi 35 dan 45 dimana posisi gigi miring kea rah lingual
b. Promotif
1. Edukasikan pasien tentang Cliking pada TMJ adalah Bunyi kliking muncul saat
rahang dibuka atau saat menutup. Hal ini biasanya menandakan adanya dislokasi pada
sendi. Jika hal ini tidak segera dirawat akan terasa nyeri dan akan berdampak pada
fungsi rongga mulut. Dimana akan terasa sakit saat membuka mulut dan mengunyah.
Kebiasaan menopang dagu, mengunyah satu sisi dan posisi tidur miring bisa
menyebabkan clicking karena posisi kepala, leher dan bahu yang tidak bagus, akan
memberi tekanan yang tidak ideal pada otot rahang dan sendi rahang.
2. Edukasikan pasien tentang Ulkus mulut / sariawan adalah istilah untuk munculnya
luka terbuka di dalam mulut disebabkan oleh bukaan/pecahan di selaput lendir atau
epitel pada bibir atau sekitar mulut. Pada pasien hal ini disebabkan karena pasien
mempunyai kebiasaan menggigit mukosa bukalnya sehingga bisa menyebabkan luka
pada daerah tersebut dan akan menyebabkan ulkus. Hal ini bisa menyebabkan rasa
perih pada daerah tersebut sehingga mengganggu kenyamanan pasien.
3. Edukasikan ke pasien tentang resesi gingiva adalah peristiwa terjadinya pergeseran
tepi gingiva ke arah apikal. Pada pasien resesi gingivanya diakibatkan karena
kesalahan dalam teknik meyikat gigi.
Metode menyikat gigi dari merah ke putih dengan gerakan memutar. Sikat gigi yang
terlalu keras dapat menyebabkan resesi gingiva. Pemilihan sikat gigi juga bisa
mempengaruhi terjadinya resesi gingiva, oleh sebab itu pilihlah sikat gigi yang
lembut agar tidak menyebabkan trauma.

4. Edukasi pasien tentang cara menyikat gigi yang baik dan benar. Sikat gigi minimal 2
kali sehari saat setelah sarapan dan sebelum tidur dengan pasta gigi berfluor. Diet
makanan berserat akan menjaga kebersihan gigi dan mulut pasien karena makanan
berserat mempunyai daya self cleansing yang baik.
5. Edukasikan pasien tentang malposisi. Malposisi adalah kelainan posisi gigi pada
lengkung rahang. Hal ini bisa menyebabkan sisia makanan terselip di daerah tersebut
dan susah dibersihkan.
c. Preventif
1. Sarankan kepada pasien untuk menghilangkan kebiasaan buruk yang dapat
menyebabkan clicking pada TMJ seperti menopang dagu. Posisi tidur miring
sebaiknya dikurangi atau bisa bergantian posisi miringny. Hilangkan kebiasaan
mengunyah pada satu sisi.
2. Rujuk pasien ke dokter gigi spesialis prosthodonsi untuk membuat gigi tiruan untuk
gigi 46 yang telah hilang.
3. Pasien dianjurkan menghilangkan kebiasaan menggigit mukosa mulut.
4. Anjurkan pasien lebih teliti dalam membersihkan mulut dengan penggunaan
disclosing solution dan dental floss.
5. Rujuk pasien ke dokter gigi untuk melakukan penambalan gigi yang sudah karies.
6. Pasien dianjurkan memperbaiki teknik menyikat gigi nya dan mengganti sikat giginya
dengan sikat gigi berbulu halus.
7. Anjurkan pasien menyikat gigi secara teratur, memperbaiki pola makan, dan
menghilangkan kebiasaan ngenil di sela waktu makan.
8. Rujuk pasien ke dokter gigi spesialis orthodonsi untuk memperbaikai posisi gigi
geliginya.

a. Analisa Pasien
1. Penilaian plak dengan PHP-M dengan skor 28 menunjukkan resiko pasien terkena
karies tinggi.
2. Penilaian plak dengan oleary dengan skor 23,21 % menunjukkan resiko pasien
terkena gingivitis tinggi.
3. Plak pasien kebanyakan pada daerah lingual dan interdental, hal ini mungkin
disebabkan ketidaktelitian pasien menyikat gigi pada daerah terssebut.
4. Pasien kurang mengkonsumsi makanan berserat sehingga plak pasien cukup banyak.
b. Promotif

1. Edukasikan pasien tentang mekanisme plak mdapat menyebabkan karies. Dimana


bakteri bakteri dalam plak yang melekat pada permukaan gigi akan memetabolisme
sisa makanan yang bersifat kariogenik terutama yang berasal dari jenis karbohidrat
hasil metabolisme oleh bakteri tersebut selain dapat menghasilkan asam. Asam yang
terbentuk dari hasil metabolisme ini selain dapat merusak gigi.
2. Edukasikan pasien tentang mekanisme plak dapat menyebabkan gingivitis. Dimana
terjadinya inflamasi pada gingival oleh bakteri di dalam plak disebabkan karena
bakteri tersebut menghasilkan enzim enzim yang mampu menghidrolisa komponen
interseluler dari epitel gingival dan jaringan ikat di bawahnya. Iritasi terjadi karena
toxin yang dihasilkan oleh bakteri dalam plak dan akan mengakibatkan degenerasi
dari epitel gingival dan inflamasi jaringan ikat dibawahnya.
3. Edukasikan pasien untuk menyikat gigi meinimal 2 kali sehari sehingga akumulasi
plak tidak terjadi. Menyikat gigi juga harus teliti, ajarkan cara penggunaan disclosing
solution untuk mengecek ketelitian dalam membersihkan gigi. Serta ajarkan pasien
tentang cara menggunakan dental floss untuk membersihkan bagian interproksimal.
Ajarkan penggunaan obat kumur untuk hasil yang lebih maksimal.
4. Edukasikan pasien tentang konsumsi makana berserat yang mempunyai aktivitas self
cleansing, sehingga baik untuk kesehatan gigi dan mulut.

c. Preventif
1. Sarankan pasien untuk menyikat gigi secara teratur minimal 2 kali sehari (setelah
sarapan dan sebelum tidur) dan teliti untuk menghindari akumulasi plak.
2. Pasien dianjurkan untuk memakai disclosing solution untuk mengecek ketelitian
dalam menyikat gigi.
3. Anjurkan pasien memakai dental floss untuk membersihkan daerah interproksimal.
4. Pasien disarankan makan makanan yang berserat yang mempunyai aktivitas self
cleansing dan mengurangi makan-makanan yang lunak.

a. Analisa Pasien
1. Debris dan kalkulus pasien pada gigi 35 dan 45 banyak, hal ini disebabkan malposisi
gigi yang miring kearah oklusal.
2. Debris pada gigi posterior yaitu pada gigi 17, 37, 35, 45, dan 47 disebabkan karena
pit dan fissure pasien yang dalam.
3. Kalkulus pasien kebanyakan pada region posterior yaitu pada gigi 17, 26, 35, 45, dan
47 dikarenakan karena ketidaktelitian pasien saat menyikat gigi pada regio tersebut
serta pemilihan sikat gigi yang salah sehingga bagian posterior tersebut tidak
terjangkau oleh sikat gigi sehingga akumulasi plak terjadi di bagian tersebut lama
kelamaan mengalami kalsifikasi dan membentuk kalkulus.
4. Pasien sering makan makanan yang lunak sehingga makanan sangat mudah untuk
menempel pada gigi.
b. Promotif
1. Edukasikan pasien tentang debris. Jelaskan pada pasien debris adalah material lunak
yang terdapat pada permukaan gigi yang terdiri dari biofilm, material alba, dan sisa
makanan. Debris makanan dengan cepat dilarutkan oleh enzim mikroorganisme dan
tersingkir dari rongga mulut dalam waktu 5 menit setelah makan, namun sebagian ada
yang tertinggal pada gigi dan mukosa salah satunya diakibatkan karena malposisi gigi
dan gigi yang mempunyai pit dan fissure yang dalam seperti dialami pasien. Sering
menjadi penyebab kerusakan gigi atau gingivitis karena jika tidak dibersihkan bisa
menjadi plak.

2. Edukasikan pasien tentang kalkulus. Jelaskan pada pasien kalkulus adalah material
keras dari garam inorganik yang terdiri dari kalsium karbonat dan posfat yang
bercampur debris, mikroorganisme, dan sel epitel yang telah terdeskuamasi. Debris
merupakan media yang baik untuk berkembangnya bakteri. Sehingga semakin lama
melekat, bakteri itu semakin banyak dan bertumpuk, dan dapat mendorong
terbentuknya plak dan terjadinya akumulasi plak. Bila plak ini dibiarkan maka akan
mengalami mineralisasi sehingga terbentuk kalkulus.
3. Edukasikan pasien menyikat gigi teratur minimal dua kali sehari setelah sarapan dan
sebelum tidur. Ajarkan pasien lebih teliti dalam membersihkan gigi dengan
penggunaan disclosing solution dan dental floss untuk daerah interproksimal.
Sarankan pasien memilih sikat gigi dengan ukuran yang sesuai rongga mulut agar
bisa menjangkau semua bagian dalam rongga mulut.
4. Edukasikan pada pasien diet yang baik untuk kesehatan gigi dan mulut misalnya
dengan konsumsi sayur dan buah yang mengandung banyak serat dimana makanan
berserat mempunyai aktivitas self cleansing yang baik.
c. Preventif
1. Sarankan pasien meyikat gigi secara teratur minimal 2 kali sehari setelah sarapan dan
sebelum tidur. Anjurkan pasien memakai disclosing solution untuk pengecekan
ketelitian dalam menyikat gigi dan dental floss untuk membersihkan bagian
interproksimal.
2. Rujuk pasien ke dokter gigi spesialis orthodonsi untuk melakukan perawatan
memperbaiki gigi-gigi yang malposisi.
3. Rujuk pasien ke dokter gigi untuk melakukan sealing untuk menutup pit dan fissure
yang dalam.
4. Anjurkan pasien membersihkan karang gigi 6 bulan sekali.

a. Analisa pasien
1. Gingivitis pasien terdapat pada gigi 17, 27, 35, 37, dan 45. Pada gigi ini juga
terdapat kalkulus, dari keadaan tersebut dapat diketahui bahwa gingivitis pada
gigi-gigi tersebut diakibatkan oleh adanya kalkulus.
2.
b. Promotif
1. Edukasikan kepada pasien tentang kalkulus. Jelaskan pada pasien kalkulus adalah
material keras dari garam inorganik yang terdiri dari kalsium karbonat dan posfat
yang bercampur debris, mikroorganisme, dan sel epitel yang telah terdeskuamasi.
Debris merupakan media yang baik untuk berkembangnya bakteri. Sehingga
semakin lama melekat, bakteri itu semakin banyak dan bertumpuk, dan dapat
mendorong terbentuknya plak dan terjadinya akumulasi plak. Bila plak ini
dibiarkan maka akan mengalami mineralisasi sehingga terbentuk kalkulus.
2. Edukasikan pasien tentang mekanisme kalkulus dalam menyebabkan gingivitis.
Dimana kalkulus merupakan suatu faktor iritasi yang terus-menerus terhadap
gingiva sehingga dapat menyebabkan peradangan pada gingiva. Kalkulus akan
mengiritasi gingiva mengakibatkan pembengkakan pada gingiva dan kegoyangan
pada gigi. Peradangan gingiva ini mengakibatkan terjadinya pendarahan bila
pasien menyikat gigi. Pengalaman membuktikan bahwa banyak pasien dengan
keluhan gingiva berdarah akan sembuh bila kalkulus dibersihkan.
3. Edukasikan pasien menyikat gigi yang teratur minimal 2 kali sehari setelah
sarapan dan sebelum tidur dan teliti dengan penggunaan disclosing solution untuk
cek ketelitian dan dental floss untuk daerah interproksimal agar tidak terjadi
penumpuka debris yang dapat terakumulasi menjadi plak dan terkalsifikasi
menjadi kalkulus.
c. Preventif

1. Anjurkan pasien menyikat gigi secara teratur dan teliti dengan penggunaan
disclosing untuk pengecekan ketelitian dan dental floss untuk membersihkan
bagian interdental.
2. Anjurkan pasien untuk melakukan scaling minimal 6 bulan sekali.