Anda di halaman 1dari 30

UVEITIS

Oleh :
Fidya Sapita

Traktus Uvealis
Traktus uvealis terdiri dari koroid, corpus
ciliare, dan iris.
Traktus uvealis anterior (Iris dan badan
siliar) paling baik diperiksa menggunakan
slitlamp, tetapi inspeksi kasar juga dapat
dilakukan dengan sebuah senter dan kaca
pembesar. Sedangkan pemeriksaan traktus
uvealis posterior (koroid) paling baik
menggunakan slitlamp disertai lensa indirek
atau dengan oftalmoskop direk ata indirek

Uvea merupakan lembaran yang tersusun oleh pembulupembuluh darah, serabut-serabut saraf, jaringan ikat, otot,
dan bagian depannya (iris) berlubang, yang disebut pupil

Iris
Iris berarti pelangi, warna iris berbeda-beda sesuai etnik (ras) manusia.
Warna iris menentukan warna mata. Pada iris terdapat dua macam otot
yang mengatur besarnya pupil, yaitu musculus dilatator pupillae (yang
melebarkan pupil) dan musculus sphincter pupillae (yang mengecilkan
pupil). Tepi pupil menyinggung lensa sehingga lensa bertindak sebagai
bantalan iris.
Badan siliar (korpus siliaris )
Bagian uvea yang terlatak diantara iris dan koroid. Batas belakangnya
adalah ora serata. Badan silier banyak mengandung pembuluh kapiler dan
vena dan badan silier adalah penghasil humor aquous
Koroid
Koroid merupakan bagian uvea yang paling luas dan terletak antara retina
dan sklera, terdiri atas anyaman pembuluh darah. Lapisan koroid dari luar
ke dalam berturut-turut suprakoroid, pembuluh darah koriokapiler, dan
membran Brunch. Pada pemeriksaan oftalmoskop tampak warna merah

Uveitis
Istilah uveitis menunjukkan suatu peradangan
pada iris (iritis, iridosiklitis), corpus ciliare (uveitis
intermediet, siklitis, uveitis perifer, atau pars
planitis), koroid (koroiditis). Namun, dalam
praktiknya, istilah ini turut mencakup peradangan
pada retina (retinitis), pembuluh retina (vaskulitis
retinal), dan nervus opticus intraokular (papilitis).
Uveitis juga terjadi sekunder akibat radang kornea
(keratitis), radang sklera (skleritis), atau keduanya
(sklerokeratitis). Uveitis biasanya terjadi pada usia
20-50 tahun dan berpengaruh 10-20% kasuk
sebutaan dinegara maju.

Klasifikasi
Berdasarkan Anatomis
- Uveitis anterior
- Uveitis intermediat
- Uveitis posterior
- Panuveitis
Berdasarkan Klinis
- Uveitis akut
- Uveitis Kronik
Berdasarkan patologi
- Non-granulomatous
- Granulomatous
Berdasarkan etiologinya
- Eksogen
- Endogen

Klasifikasi Patologi
Non-granulomatosa Granulomatosa
Onset

Akut

terse

Nyeri

Nyata

Tidak ada atau ringan

Fotofobia

Nyata

Ringan

Penglihatan kabur

Sedang

Nyata

Merah sirkumkorneal

Nyata

Ringan

Keratic precipitates

Putih halus

Kelabu besar

Pupil

Kecil dan tak teratur

Kecil dan tak teratur

Sinekia posterior

Kadang-kadang

Kadang-kadang

Noduli iris

Tidak ada

Kadang-kadang

Lokasi

Uvea anterior

Uvea anterior,
posterior atau difus

Perjalanan penyakit

Akut

Kronik

Kekambuhan

Sering

Kadang-kadang

Klasifikasi Etiologi
Endogen
adalah uveitis yang terjadi karena infeksi mikroorganisme atau
agen lain dari tubuh sendiri. Mikroorganisme berupa bakteri,
virus, jamur dan parasit. Contohnya : Toxoplasmosis,
Onchocerciacis, Sitomegalovirus, Sifilis.
Misalnya uveitis yang terjadi pada pasien dengan ekstraksi gigi
berlubang, bakteri yang ada masuk kedalam sirkulasi uvea. Selsel pembuluh darah disini berupa tight juntion, sehingga bakteri
sering terperangkap disini dan menjadi infeksi
Eksogen
Uveitis yang terjadi karena paparan dari luar. Misalnya infeksi
mikroorganisme dari luar dan trauma.

Uveitis Anterior

Uveitis anterior disebut iritis jika


inflamasi mengena bagian iris dan
iridosoklitis jika inflamasi mengenai
iris dan bagian anterior badan silier

Manifestasi klinis uveitis anterior


dapat berupa fotofobia, nyeri, mata
merah, penurunan tajam penglihatan
dan lakrimasi. Pada pemeriksaan
didapatkan injeksi perikorneal,
prespitat keratik, nodul iris, sel-sel
aquous, flare, sinekia posterior dan
sel-sel vitreus anterior

Prespitat keratik (KP) merupakan timbunan sel diatas endotel


kornea. Sifat dan distribusi letaknya memberikan informasi
kemungkinan jenis uveitis yang dialami. KP yang kecil khas
untuk herpes zoster dan sindrom uveitis Funch. KP sedang
terjadi hampir pada semua tipe uveitis anterior akut dan
kronis. KP besar biasanya tipe mutton fat dan memberikan
gambaran seperti berminyak. Prespitat keratik merupakan
gejala khas untuk uveitis jenis granulomatosa

Nodul iris merupakan gambaran inflamasi gambaran dari


inflamasi granulomatosa. Nodul Koeppe bentuknya kecil dan
terletak pada batas pupil dan iris. Nodul Busaca berukuran
besar dan terletak pada permukaan iris, jauh dari pupil.

Observed on slit-lamp
examination, keratitic
precipitates (white blood cells on
the endothelium) are a hallmark of
iritis. Small stellate keratic
precipitates with fine filaments in a
patient with Fuchs heterochromic
iridocyclitis is shown

Granulomatous iritis (shown)


presents with Busacca nodules
(brown arrows) on the iris surface
and mutton-fat keratic
precipitates (blue arrows) on
the posterior corneal surface.

Sel- sel aquous adalah sel-sel yang bermigrasi ke


cairan aquous. Merupakan tanda inflamasi yang aktif.
Berat ringannya inflamasi dapat dilihat dari jumlah sel.
Terlihatnya 5-10 sel diberi nilai +1; 11-20 sel bernilai
+2; 21-50 sel bernilai +3; dan apabila ada lebih dari
50 sel nilainya +4
Aqueous flare terjadi karena bocornya protein plasma
ke humor aqueous melalui pembuluh darah iris yang
rusak. Flare yang yang samar diberi nilai +1; flare
sedang yaitu dengan detil iris jelas terlihat bernilai +2,
flare yang jelas dengan detil iris kabur bernilai +3, dan
flare yang berat dengan eksudat fibrin berat +4

Sinekia posterior merupakan perlekatan


permukaan anterior lensa dengan iris. Hal ini
terjadi karena eksudat iris juga mengeluarkan
fibrin sehingga lengket

The patient's left eye, after resolution


of most of the posterior synechiae.

Uveitis Intermedia

Uveitis intermedia jika peradangan


mengenai bagian posterior badan silier
dan bagian perifer retina. Uveitis
intermedia disebut pars planitis. Gejala dapat
berupa floaters (benda apung) dan
penurunan penglihatan. Penurunan tajam
penglihatan disebabkan oleh edema makular
kistik kronik. Tandanya terdapat infiltrasi sel
ke vitreous (vitritis) dengan sedikit sel pada
ruang anterior dan tidakada lesi inflamasi
fokal pada fundus.

Uveitis Posterior

Uveitis posterior jika peradangan mengenai uvea


dibelakang vitrous.
Gejala berupa floaters dan penurunan tajam
penglihatan. Tanda-tanda kondisi antara lain, perubahan
vitreus, meliputi sel, flare, opasitas, dan yang tersering
adalah lepasnya bagian posterior vitreus. Koroiditis,
ditandai bercak keabu-abuan dengan garis demarkasi yang
jelas. Retinitis menyebabkan warna retina putih berawan.
Vaskulitis yaitu inflamasi pada pembuluh darah retina.
Pada koroiditis aktif dengan keterlibatan fovea atau
makula, penglihatan central bisa bisa hilang.

Pan Uveitis
Adalah uveitis anterior ,
intermedia dan posterior yang
terjadi secara bersamaan.

Multifocal choroiditis and panuveitis.


Multiple, discreet lesions appearing in
the early stage of the disease.

Multifocal choroiditis and


panuveitis. Fluorescein angiogram
demonstrating punctate
hyperfluorescence due to staining
of the lesions

Diffuse subretinal fibrosis syndrome.


This patient's right eye shows the
typical subretinal angulated scar
formation
Acute
retinal
pigment
epitheliiti
s.

Diffuse subretinal fibrosis syndrome.


Midphase of fluorescein angiogram
demonstrating progressive leakage

Uveitis terkait artritis


-Spondilitis Ankilosa
-Sindrom Reiter
-Artritis Kronik Juvenilis
-Artritis Poriatik

Uveitis pada enyakit


sistemik Non Infeksius
-Penyakit AdamantiadesBehcet
-Sindrom Vogt-KoyanagiHarada
-Oftalmia Simpatika

Penyulit Uvetis
-

Keratopati Pita
Katarak
Glaukoma
Hipotoni
Edema Makula Kistoid
Kekeruhan Vitreous dan Vitritis
Ablasi Retina
Neovaskularisasi Retina dan Koroid
Endoftalmitis

Penatalaksanaan
Terapi uveitis dapat dibagi menjadi 4
kelompok :
- Midriatikum
- Steroid
- Obat-obatan sitotoksik
- Siklosporin imunosupresan

Indikasi pemberian midriakum adalah untuk memberikan rasa nyaman dengan


mengurangi spasme m. ciliaris dan m. spincher pupillae yang terjadi pada uveitis
anterior akut. Midriatikum juga digunakan untuk mencegah sinekia posterio,
selain itu juga berfungsi untuk melepaskan sinekia yang telah terjadi.
Midriatikum topikal ( atropin, fenilefrin), injeksi subkonjungtiva midrikain
(adrenalin, atropin, dan prokaian).
Steroid diberikan hanya untuk uveitis anterior karena dengan cara ini obat tidak
dapat mencapai konsentrasi yang cukup untuk jaringan dibelakang lensa. Steroid
yang digunakan adalah yang kuat seperti dexamethasone, betamethasone,
prednisolon. Terapi sitemik pada uveitis dilakukan dengan pemberian prednison 5
mgatau tablet sakut enterik (2,5mg) untuk pasien dengan ulkus gastrik.
Pada uveitis posterior sering digunakan klorambusil, meskipun azatriopin dan
sklosporin juga bisa. Oftalmia simpatika merupakan indikasi penggunaan obatobatan sitotoksik. Pada uveitis intermedia digunakan azatioprin, klorambusil,
siklofosfamid. Unt=tuk uveitis yang resisten terhadap steroid atau obat-obatan
sitotoksik siklosporin bisa menjadi pilihan.

http://emedicine.medscape.com/arti
cle/1190935-overview
Suhardjo, 2007. Ilmu Kesehatan
Mata. Bagian Ilmu Penyakit Mata
Universitas Gadjah Mada