Anda di halaman 1dari 20

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN INFEKSI

Infeksi adalah proses invasif oleh mikroorganisme dan berpoliferasi di dalam


tubuh yang menyebabkan sakit (Potter & Perry, 2005).

Dalam Kamus Keperawatan disebutkan bahwa infeksi adalah invasi dan


multiplikasi mikroorganisme dalam jaringan tubuh, khususnya yang
menimbulkan cedera seluler setempat akibat metabolisme kompetitif, toksin,
replikasi intraseluler atau reaksi antigen-antibodi. Munculnya infeksi
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan dalam rantai infeksi.
Adanya patogen tidak berarti bahwa infeksi akan terjadi.

Menurut Utama 2006, Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan
atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik.
Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan
mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah
selesai dirawat disebut infeksi nosokomial. Secara umum, pasien yang masuk
rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang dari 72 jam
menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum pasien
masuk rumah sakit, dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 72 jam
pasien berada dirumah sakit baru disebut infeksi nosokomial.

Infeksi nosokomial ini dapat berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar
tubuh. Infeksi endogen disebabkan oleh mikroorganisme yang semula
memang sudah ada didalam tubuh dan berpindah ke tempat baru yang kita
sebut dengan self infection atau auto infection, sementara infeksi eksogen
(cross infection) disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari rumah
sakit dan dari satu pasien ke pasien lainnya. (Yudhityarasati, 2007).

2.2 TANDA-TANDA INFEKSI


a. Calor (panas).

Daerah peradangan pada kulit menjadi lebih panas dari sekelilingnya, sebab
terdapat lebih banyak darah yang disalurkan ke area terkena infeksi/ fenomena
panas lokal karena jaringan-jaringan tersebut sudah mempunyai suhu inti dan
hiperemia lokal tidak menimbulkan perubahan.
b. Dolor (rasa sakit)
Dolor dapat ditimbulkan oleh perubahan PH lokal atau konsentrasi lokal ionion tertentu dapat merangsang ujung saraf. pengeluaran zat kimia tertentu
seperti histamin atau zat kimia bioaktif lainnya dapat merangsang saraf nyeri,
selain itu pembengkakan jaringan yang meradang mengakibatkan peningkatan
tekanan lokal dan menimbulkan rasa sakit.
c. Rubor (Kemerahan)
Merupakan hal pertama yang terlihat didaerah yang mengalami peradangan.
Waktu reaksi peradangan mulai timbul maka arteriol yang mensuplai daerah
tersebut melebar, dengan demikian lebih banyak darah yang mengalir kedalam
mikro sirkulasi lokal. Kapiler-kapiler yang sebelumnya kosong atau sebagian
saja meregang, dengan cepat penuh terisi darah. Keadaan ini yang dinamakan
hiperemia atau kongesti.
d. Tumor (pembengkakan)
Pembengkakan ditimbulkan oleh karena pengiriman cairan dan sel-sel dari
sirkulasi darah kejaringan interstisial. Campuran cairan dan sel yang
tertimbun di daerah peradangan disebut eksudat.
e. Functiolaesa
Adanya perubahan fungsi secara superficial bagian yang bengkak dan sakit
disrtai sirkulasi dan lingkungan kimiawi lokal yang abnormal, sehingga organ
tersebut

terganggu

dalam

menjalankan

fungsinya

secara

normal.

(Yudhityarasati, 2007).

2.3 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INFEKSI LUKA OPERASI


Menurut Delay, 2005 faktor-faktor yang mempengaruhi infeksi luka operasi adalah :
A. Enviroment.
1. Lamanya waktu tunggu pre operasi di rumah sakit.

Menurut Haley dalam Iwan 2008 mengatakan bahwa bertambah


lama perawatan sebelum operasi akan meningkatkan resiko
terjadinya infeksi nosokomial dimana perawatan lebih dari 7 hari
pre operasi akan meningkatkan kejadian infeksi pasca bedah dan
kejadian tertinggi didapat pada lama perawatan 7 - 13 hari (dikutip
oleh Hadibrata, 1989 : 17). Hasil penelitian infection rate kira-kira
2 kali lebih besar setelah dirawat 2 minggu dan 3 kali lebih besar
setelah dirawat selama 3 minggu dibandingkan bila dirawat 1-3
hari sebelum operasi. Lamanya operasi mempengaruhi resiko
terkena infeksinosokomial, semakin lama waktu operasi makin
tinggi resiko terjadinya infeksi nosokomial.

Menurut Iwan 2008, lingkungan rumah sakit adalah reservoir


mikroorganisme dan merupakan salah satu sumber infeksi. Resiko
peningkatan infeksi terjadi pada waktu rawat yang panjang. Hasil
penelitian infection rate kira-kira 2 kali lebih besar setelah dirawat
2 minggu dan 3 kali lebih besar setelah dirawat 3 minggu
dibandingkan dirawat 1-3 hari sebelum operasi. Menurut Cruse
dan Foord terdapat hubungan antara lama hospitalisasi sebelum
operasi dengan insiden infeksi luka operasi. Angka infeksi
mencapai 1,2 % pada klien yang dirawat 1 hari, 2,1 % pada klien
yang dirawat 1 minggu, dan 3,4 % pada klien yang dirawat 2
minggu (Malangoni, 1997 : 142).

2. Teknik septik antiseptic.

Menurut Iwan 2008, transmisi penyakit melalui tangan dapat


diminimalisasi dengan menjaga higiene dari tangan. Selain itu,
penggunaan sarung tangan sangat dianjurkan bila akan melakukan
tindakan atau pemeriksaan pada pasien dengan penyakit-penyakit
infeksi. Hal yang perlu diingat adalah memakai sarung tangan
ketika melakukan tindakan dan mengambil atau menyentuh darah,
cairan tubuh, atau keringat, tinja, urin, membran mukosa dan
bahan yang kita anggap telah terkontaminasi, dan segera mencuci
tangan setelah melepas sarung tangan.

Baju khusus juga harus dipakai untuk melindungi kulit dan


pakaian selama kita melakukan suatu tindakan untuk mencegah
percikan darah, cairan tubuh, urin dan feses.

Menurut Rondhianto 2008, terdapat prinsip umum teknik aseptik ruang operasi
yaitu :
a). Prinsip asepsis ruangan
Antisepsis dan asepsis adalah suatu usaha agar dicapainya keadaan yang
memungkinkan terdapatnya kuman-kuman pathogen dapat dikurangi atau ditiadakan,
baik secara kimiawi, mekanis atau tindakan fisik. Termasuk dalam cakupan tindakan
antisepsis adalah selain alat-alat bedah, seluruh sarana kamar operasi, semua implan,
alat-alat yang dipakai personel operasi (sandal, celana, baju, masker, topi dan lainlainnya) dan juga cara membersihkan/melakukan desinfeksi kulit.

b). Prinsip asepsis personel


Teknik persiapan personel sebelum operasi meliputi 3 tahap, yaitu : Scrubbing
(cuci tangan steril), Gowning (teknik peggunaan gaun operasi), dan Gloving (teknik

pemakaian sarung tangan steril), hal ini diperlukan untuk menghindarkan bahaya
infeksi yang muncul akibat kontaminasi selama prosedur pembedahan (infeksi
nosokomial).
Di samping sebagai cara pencegahan terhadap infeksi nosokomial, teknikteknik tersebut juga digunakan untuk memberikan perlindungan bagi tenaga
kesehatan terhadap bahaya yang didapatkan akibat prosedur tindakan yang di
lakukan.

c). Prinsip asepsis pasien


Pasien yang akan menjalani pembedahan harus diasepsiskan. Maksudnya
adalah dengan melakukan berbagai macam prosedur yang digunakan untuk membuat
medan operasi steril. Prosedur-prosedur itu antara lain adalah kebersihan pasien,
desinfeksi lapangan operasi dan tindakan draping.

d). Prinsip asepsis instrumen


Instrumen bedah yang digunakan untuk pembedahan pasien harus benar-benar
berada dalam keadaan steril.

3. Ventilasi ruang operasi.

Untuk mencegah kontaminasi udara pada kamar operasi,


direkomendasikan ventilasi mekanik. System AC diatur 20-24 per
jam. Dengan desain yang benar dan kontrol yang baik dari
pergerakan staff maka kontaminasi udara dapat ditekan dibawah
100 cfu/m3 selama operasi jika ditemukan kebersihan udara.

B. Pasien
1. Umur.

Menurut Purwandari 2006, bayi mempunyai pertahanan yang


lemah terhadap infeksi, lahir mempunyai antibody dari ibu,
sedangkan sistem imunnya masih imatur. Dewasa awal sistem
imun telah memberikan pertahanan pada bakteri yang menginvasi.
Pada usia lanjut, karena fungsi dan organ tubuh mengalami
penurunan, system imun juga mengalami perubahan. Peningkatan
infeksi nosokomial juga sesuai dengan umur dimana pada usia 65
tahun kejadian infeksi tiga kali lebih sering daripada usia muda.

2. Nutrisi dan berat badan

Menurut Williams & Barbul, 2003 dalam Dealay 2005 bahwa ada
hubungan yang bermakna antara penyembuhan luka operasi
dengan status nutrisi.

Sedangkan

menurut

Rondhianto

2008,

Kebutuhan

nutrisi

ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan, lipat


kulit trisep, lingkar lengan atas, kadar protein darah (albumin dan
globulin) dan keseimbangan nitrogen. Kondisi gizi buruk dapat
mengakibatkan pasien mengalami berbagai komplikasi pasca
operasi dan mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat di
rumah sakit. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah infeksi
pasca operasi, dehisiensi, demam dan penyembuhan luka yang
lama. Pada kondisi yang serius pasien dapat mengalami sepsis
yang bisa mengakibatkan kematian.
3. Penyakit

Menurut Perry & Potter 2005, pada pasien dengan diabetes


mellitus

terjadi

hambatan

terhadap

sekresi

insulin

akan

mengakibatkan peningkatan gula darah, nutrisi tidak dapat masuk

ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi penurunan


protein-kalori tubuh yang berakibat rentan terhadap infeksi.

Menurut Nawasasi 2008, Pasien dengan operasi usus, jika ia juga


memiliki penyakit lain seperti TBC, DM , malnutrisi dan lain-lain
maka

penyakit-penyakit

berpengaruh

terhadap

tersebut
daya

tentu

tahan

saja

tubuh

amat
sehingga

sangat
akan

mengganggu proses penyembuhan luka operasi.

Iwan 2008, menyampaikan bahwa Faktor daya tahan tubuh yang


menurun dapat menimbulkan resiko terkena infeksi nosokomial.
Pasien dengan gangguan penurunan daya tahan: immunologik.
Usia muda dan usia tua berhubungan dengan penurunan resistensi
tubuh terhadap infeksi.

4. Obat-obat yang digunakan

Menurut Iwan 2008, di dalam tubuh manusia, selain ada bakteri


yang patogen oportunis, ada pula bakteri yang secara mutualistik
yang ikut membantu dalam proses fisiologis tubuh. Pengetahuan
tentang mekanisme ketahanan tubuh orang sehat yang dapat
mengendalikan jasad renik oportunis perlu diidentifikasi secara
tuntas. Dengan demikian bahaya infeksi dengan bakteri oportunis
pada penderita penyakit berat dapat diatasi tanpa harus
menggunakan antibiotika.

Menurut Iwan 2008, Pencegahan infeksi pasca bedah pada klien


dengan operasi bersih terkontaminasi, terkontaminasi, dan
beberapa

operasi

bersih

dengan

penggunaan

antimikroba

profilaksis diakui sebagai prinsip bedah. Pada pasien dengan


operasi terkontaminasi dan operasi kotor, profilaksis bukan satusatunya pertimbangan. Penggunaan antimikroba di kamar operasi,
bertujuan mengontrol penyebaran infeksi pada saat pembedahan.

Pada pasien dengan operasi bersih terkontaminasi, tujuan


profilaksis untuk mengurangi jumlah bakteri yang ada pada
jaringan mukosa yang mungkin muncul pada daerah operasi.

Tujuan terapi antibiotik profilaksis untuk mencegah perkembangan


infeksi

dengan

menghambat

mikroorganisme.

CDC

merekomendasikan parenteral antibiotik profilaksis seharusnya


dimulai dalam 2 jam sebelum operasi untuk menghasilkan efek
terapi selama operasi dan tidak diberikan lebih dari 48 jam. Pada
luka operasi bersih dan bersih terkontaminasi tidak diberikan dosis
tambahan post operasi karena dapat menimbulkan resistensi
bakteri terhadap antibiotik .Bernard dan Cole, Polk Lopez-Mayor
membuktikan keefektifan antibiotik profilaksis sebelum operasi
dalam

pencegahan

infeksi

post

operasi

efektif

bersih

terkontaminasi dan antibiotik yang diberikan setelah operasi tidak


mempunyai efek profilaksis (Bennet, J.V, Brachman, P, 1992 :
688). (Yudhityarasati, 2007).
2.4 PENCEGAHAN INFEKSI LUKA OPERASI
1. Pengertian Infeksi Luka Operasi.

Infeksi Luka Operasi (ILO) atau Infeksi Tempat Pembedahan (ITP)/


Surgical Site Infection (SSI) adalah infeksi pada luka operasi atau
organ/ruang yang terjadi dalam 30 hari paska operasi atau dalam kurun
1 tahun apabila terdapat implant. Sumber bakteri pada ILO dapat
berasal dari pasien, dokter dan tim, lingkungan, dan termasuk juga
instrumentasi (Hidayat NN, 2009).

2. Klasifikasi

Klasifikasi SSI menurut The National Nosocomial Surveillence


Infection (NNIS) terbagi menjadi dua jenis yaitu insisional dibagi

menjadi superficial incision SSI yang melibatkan kulit dan subkutan


dan yang melibatkan jaringan yang lebih dalam yaitu, deep incisional
SSI.

Lebih jauh, menurut NNSI, kriteria untuk menentukan jenis SSI


adalah sebagai berikut :
a) Superficial Incision SSI (ITP Superfisial)

Merupakan infeksi yang terjadi pada kurun waktu 30


hari

paska

operasi

dan infeksi

tersebut

hanya

melibatkan kulit dan jaringan subkutan pada tempat


insisi dengan setidaknya ditemukan salah satu tanda
sebagai berikut :
-

Terdapat cairan purulen.

Ditemukan kuman dari cairan atau tanda dari


jaringan superfisial.

Terdapat minimal satu dari tanda-tanda inflammasi

Dinyatakan oleh ahli bedah atau dokter yang


merawat.

b) Deep Insicional SSI ( ITP Dalam )

Merupakan infeksi yang terjadi dalam kurun waktu 30


hari paska operasi jika tidak menggunakan implan atau
dalam kurun waktu 1 tahun jika terdapat implan dan
infeksi tersebut memang tampak berhubungan dengan
operasi dan melibatkan jaringan yang lebih dalam
(contoh, jaringan otot atau fasia ) pada tempat insisi
dengan setidaknya terdapat salah satu tanda :
-

Keluar cairan purulen dari tempat insisi.

Dehidensi dari fasia atau dibebaskan oleh ahli


bedah karena ada tanda inflammasi.

Ditemukannya adanya abses pada reoperasi, PA


atau radiologis.

Dinyatakan infeksi oleh ahli bedah atau dokter yang


merawat

c) Organ/ Space SSI ( ITP organ dalam)

Merupakan infeksi yang terjadi dalam kurun waktu 30


hari paska operasi jika tidak menggunakan implan atau
dalam kurun waktu 1 tahun jika terdapat implan dan
infeksi tersebut memang tampak berhubungan dengan
operasi dan melibatkan suatu bagian anotomi tertentu
(contoh, organ atau ruang) pada tempat insisi yang
dibuka atau dimanipulasi pada saat operasi dengan
setidaknya terdapat salah satu tanda :

Keluar cairan purulen dari drain organ dalam.

Didapat isolasi bakteri dari organ dalam.

Ditemukan abses.

Dinyatakan infeksi oleh ahli bedah atau dokter.

Pencegahan ILO harus dilakukan, karena jika tidak,


akan mengakibakan semakin lamanya rawat inap,
peningkatan

biaya

pengobatan,

terdapat

resiko

kecacatan dan kematian, dan dapat mengakibatkan


tuntutan pasien. Pencegahan itu sendiri harus dilakukan
oleh pasien, dokter dan timnya, perawat kamar operasi,
perawat ruangan, dan oleh nosocomial infection control
team.

10

3. Prinsip pencegahan ILO adalah dengan :


1. Mengurangi resiko infeksi dari pasien.
2. Mencegah transmisi mikroorganisme dari petugas, lingkungan, instrument dan
pasien itu sendiri.
Kedua hal di atas dapat dilakukan pada tahap pra operatif, intra operatif,
ataupun paska operatif. Berdasarkan karakteristik pasien, resiko ILO dapat
diturunkan terutama pada operasi terencana dengan cara memperhatikan
karakteristik umur, adanya diabetes, kebiasaan merokok, obsesitas, adanya
infeksi pada bagian tubuh yang lain, adanya kolonisasi bakteri, penurunan
daya tahan tubuh, dan lamanya prosedur operasi.

2.5 MEMPERCEPAT PENYEMBUHAN LUKA

Luka bedah mengalami stres selama masa penyembuhan. Stres akibat


nutrisi yang tidak adekuat, gangguan sirkulasi, dan perubahan metabolisme
akan meningkatkan risiko lambatnya stres fisik. Regangan jahitan akibat
batuk, muntah, distensi, dan gerakan bagian tubuh dapat mengganggu lapisan
luka. Perawat harus melindungi luka dan mempercepat penyembuhan. Waktu
kritis penyembuhan luka adalah 24 sampai 72 jam setelah pembedahan. Jika
luka mengalami infeksi, biasanya infeksi terjadi 3 sampai 6 hari setelah
pembedahan. Luka bedah yang bersih biasanya tidak kuat menghadapi stres
normal selama 15 sampai 20 hari setelah pembedahan. Perawat menggunakan
teknik aseptik saat mengganti balutan dan merawat luka. Drain bedah harus
tetap paten sehingga akumulasi sekret dapat keluar dari dasar luka. Observasi
luka secara terus-menerus dapat mengidentifikasi adanya tanda dan gejala
awal terjadinya infeksi. Klien lansia terutama berisiko mengalami infeksi luka
pascaoperatif, sehingga perawat preoperatif menurunkan risiko ini dengan

11

cara memberi lingkungan yang aman dan asuhan keperawatan yang


komprehensif (Potter, 2006).

1. Pembersihan Luka
(AHCPR, 1994) Proses pembersihan luka terdiri dari memilih cairan yang
tepat untuk membersihkan luka dan menggunakan cara-cara mekanik yang tepat
untuk memasukkan cairan tersebut tanpa menimbulkan cedera pada jaringan luka.
Pertama-tama mencuci luka dengan air yang mengalir, membersihkan dengan sabun
yang lembut dan air, serta dapat memberikan antiseptik yang dibeli di luar apotik
(Potter, 2006).

2. Balutan
Menggunakan balutan yang tepat perlu disertai pemahaman tentang
penyembuhan luka. Apabila balutan tidak sesuai dengan karakteristik luka, maka
balutan tersebut dapat mengganggu penyembuhan Luka (Erwin-Toth dan Hocevar,
1995; Krasner, 1995; Motta, 1995). Balutan juga harus dapat menyerap dirainase
untuk mencegah terkumpulnya eksudat yang dapat meningkatkan pertumbuhan
bakteri dan maserasi di sekeliling kulit akibat eksudat luka (Potter, 2006).
a. Tujuan pembalutan.

1) Melindungi luka dari kontaminasi mikroorganisme.


2) Membantu hemostasis.
3) Mempercepat penyembuhan dengan cara menyerap drainase
dan untuk melakukan debredemen luka.
4) Menyangga atau mengencangkan tepi luka.
5) Melindungi klien agar tidak melihat keadaan luka (bila luka
terlihat tidak menyenangkan).
6) Meningkatkan isolasi suhu pada permukaan luka.

12

7) Mempertahankan kelembaban yang tinggi diantara luka dengan


balutan. (Potter, 2006).
b. Jenis-jenis balutan

Balutan terdiri dari berbagai jenis bahan dan cara


pemakaiannya (basah dan kering). Balutan harus dapat
digunakan dengan mudah, nyaman, dan terbuat dari
bahan yang mempercepat penyembuhan luka. Pedoman
klinik dari ACHPR (1994) dapat membantu memilih
jenis balutan yang sesuai dengan tujuan perawatan luka
(Potter, 2006).

Rekomendasi Balutan dari AHCPR 1994 :

Gunakan balutan yang dapat menjaga dasar luka


tepat lembab. Balutan basa-kering hanya boleh
digunakan

untuk

debridemen

dana

jangan

menggunakan balutan yang dilembabkan oleh salin


secara terus-menerus.
-

Gunakan penilaian klinik untuk memilih jenis


balutan luka lembab yang sesuai untuk ulkus.
Penelitian terhadap beberapa jenis balutan luka
lembab menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan
hasil akibat penyembuhan dekubitus.

Pilih balutan yang menjaga permukaan kulit yang


utuh (periulkus) di sekitarnya tetap kering sambil
menjaga dasar luka tetap lembab.

13

Pilih balutan yang dapat mengontrol eksudat tetapi


tidak menyebabkan desikasi dasar luka.

Saat memilih jenis balutan, pertimbangkan waktu


yang dimiliki oleh pemberian perawatan.

Hilangkan daerah luka yang mati dengan cara


mengisi seluruh rongga dengan bahan balutan.
Hindarkan pembalutan yang berlebihan.

Monitor balutan yang terdapat di dekat anus, karena


keutuhan balutan sulit dijaga.(Potter, 2006)

3. Kondisi Stabil
Jika kondisi klien stabil (misalnya setelah operasi atau tindakan)
perawat mengkaji luka untuk menentukan kemajuan penyembuhan
luka yang dialami oleh klien. Jika luka tertutup balutan dan dokter
belum

meminta

untuk

menggantinya,

perawat

tidak

boleh

menginspeksi luka secara langsung kecuali jika perawat mencurigai


adanya komplikasi serius pada luka. Pada situasi seperti itu perawat
hanya menginspeksi balutan dan semua drain eksternal. Jika dokter
memutuskan untuk mengganti balutan, dokter akan mengkaji luka
minimal 1 kali sehari. Saat sedang mengganti balutan, perawat
menghindarkan terbuang atau terangkatnya dari yang ada di
bawahnya. Karena penggantian balutan dapat menimbulkan nyeri,
pemberian analgesik 30 menit sebelum melakukan tindakan dapat
membantu mengurangi nyeri klien.
Penampakan luka :

Perawat mencatat apakah tepi luka telah menutup. Insisi bedah harus memiliki
tepi insisi yang bersih dan saling berdekatan. Sepanjang pinggir luak
seringkali terbentuk kerak yang berada dari eksudat. Luka tusuk biasanya

14

berupa luka kecil yang nelingakr dengan tepi luka menyatu ke arah tengah.
Jika terbuka, tetapi luka terpisah dan perawat harus menginspeksi kondisi
jaringan adiposa dan jaringan penyambung yang berada di bawah luka.
Perawat juga melihat adanya komplikasi seperti dehisens dan eviserasi. Tepi
luka bagian luar secara normal terlihat mengalami inflamasi pada hari ke-2
sampai hari ke-3, tetapi lama kelamanan inflamasi ini akan menghilang.
Dalam waktu 7-10 hari, luka dengan penyembuhan normal akan terisi sel
epitel dan bagian pinggirnya akan menutup. Apabila terjadi infeksi, tepi luka
akan terlihat bengkak dan meradang.

Perubahan warna kulit terjadi akibat memarnya jaringan intestisial atau


terbentuknya hematom. Pada awalnya darah yang berkumpul di antara lapisan
kulit akan terlihat berwarna kebiruan atau keunguan. Perlahan-lahan,
bersamaan dengan hancurnya bekuan darah pada kulit, akan mencul warna
coklat atau kuning. (Potter, 2006)

4. Sterilisasi

Kecepatan penyembuhan luka tergantung dari steril permukaan kulit


selama proses pembersihan luka sebelum pembalutan dan kecepatan
membunuh mikroorganisme pada pemberian teknik antiseptik. Saifuddin
(2005) selama sekurang-kurangnya 20 menit untuk instrumen tidak
terbungkus, 30 menit untuk instrumen terbungkus.

Dengan demikian berdasarkan uraian di atas betadine-alkohol yang paling


efektif, karena kecepatan membunuh bakteri membutuhkan waktu 10-20
menit untuk betadine, 10-15 menit untuk alkohol. Sedangkan betadinesavlon memerlukan waktu membunuh kuman 10-20 menit untuk betadine,
20-30 menit untuk savlon. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa betadinealkohol memerlukan waktu rentang membunuh bakteri 10-20 menit,
sedangkan betadine-savlon 10-30 menit sebelum pembalutan. Luka dalam

15

kondisi pembalutan sudah dinyatakan steril, karena sesuai dengan tujuan


pembalutan yaitu salah satunya melindungi luka dari kontaminasi
mikroorganisme.

2.5 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN LUKA


1. Usia
Anak dan dewasa penyembuhannya lebih cepat daripada orang tua. Orang tua
lebih sering terkena penyakit kronis, penurunan fungsi hati dapat mengganggu
sintesis dari faktor pembekuan darah (Yusuf , 2009).

2. Nutrisi

Penyembuhan luka secara normal memerlukan nutrisi yang tepat. Proses


fisiologi penyembuhan luka bergantung pada tersedianya protein, vitamin
(terutama vitamin A dan C) dan mineral renik zink dan tembaga. Kolagen
adalah protein yang terbentuk dari asam amino yang diperoleh fibroblas dari
protein yang dimakan. Vitamin C dibutuhkan untuk mensintasi kolagen.
Vitamin A dapat mengurangi efek negatif steroid pada penyembuhan luka.
Elemen renik zink diperlukan untuk pembentukan epitel, sintesis kolagen
(zink) dan menyatukan serat-serat kolagen (tembaga) (Potter, 2006).

Terapi nutrisi sangat penting untuk klien yang lemah akibat penyakit. Klien
yang telah menjalani operasi dan diberikan nutrisi yang baik masih tepat
membutuhkan sedikitnya 1500 Kkal/hari. Pemberian makan alternatif seperti
melalui enteral dan parenteral dilakukan pada klien yang tersedia mampu
mempertahankan asupan makanan secara normal (Potter, 2006).

16

3.

Infeksi
Infeksi luka menghambat penyembuhan. Bakteri sumber penyebab infeksi

(Yusuf , 2009).

4. Sirkulasi (hipovolemia) dan oksigenasi

Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Adanya


sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak (yang memiliki sedikit
pembuluh darah). Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan luka
lambat karena jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih mudah infeksi,
dan lama untuk sembuh. Aliran darah dapat terganggu pada orang dewasa
dan pada orang yang menderita gangguan pembuluh darah perifer,
hipertensi atau diabetes millitus. Oksigenasi jaringan menurun pada orang
yang menderita anemia atau gangguan pernapasan kronik pada perokok.
Kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan
menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka
(Yusuf , 2009).

5. Hematoma
Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka secara
bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jika terdapat
bekuan yang besar, hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh,
sehingga menghambat proses penyembuhan luka (Yusuf , 2009).

6. Iskemia
Iskemia merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah
pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat terjadi
akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor internal
yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri (Yusuf, 2009).

17

7.

Diabetes
Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula
darah, nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan
terjadi penurunan protein-kalori tubuh (Yusuf , 2009).

8. Keadaan luka
Keadaan khusus dari luka mempengaruhi kecepatan dan efektifitas
penyembuhan luka. Beberapa luka dapat gagal untuk menyatu.

9. Obat

Obat anti inflamasi (seperti steroid dan aspirin), heparin dan anti
neoplasmik mempengaruhi penyembuhan luka.

Penggunaan antibiotik yang lama dapat membuat seseorang rentan


terhadap infeksi luka.

Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap


cedera.

Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan

Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri


penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka
pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular.
(Yusuf , 2009).

18

2.6 KOMPLIKASI
A. Komplikasi dini
1. Infeksi

Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma, selama
pembedahan atau setelah pembedahan. Gejala dari infeksi sering
muncul dalam 2 7 hari setelah pembedahan. Gejalanya berupa
infeksi termasuk adanya purulent, peningkatan drainase, nyeri,
kemerahan dan bengkak di sekeliling luka, peningkatan suhu, dan
peningkatan jumlah sel darah putih.

2. Perdarahan

Perdarahan dapat menunjukkan suatu pelepasan jahitan, sulit


membeku pada garis jahitan, infeksi, atau erosi dari pembuluh
darah oleh benda asing (seperti drain). Hipovolemia mungkin tidak
cepat ada tanda. Sehingga balutan (dan luka di bawah balutan) jika
mungkin harus sering dilihat selama 48 jam pertama setelah
pembedahan dan tiap 8 jam setelah itu. Jika perdarahan berlebihan
terjadi, penambahan tekanan balutan luka steril mungkin
diperlukan. Pemberian cairan dan intervensi pembedahan mungkin
diperlukan.

3. Dehiscence dan Eviscerasi

Dehiscence dan eviscerasi adalah komplikasi operasi yang paling


serius. Dehiscence adalah terbukanya lapisan luka partial atau
total. Eviscerasi adalah keluarnya pembuluh melalui daerah irisan.
Sejumlah faktor meliputi, kegemukan, kurang nutrisi, ,multiple
trauma, gagal untuk menyatu, batuk yang berlebihan, muntah, dan
dehidrasi, mempertinggi resiko klien mengalami dehiscence luka.
Dehiscence luka dapat terjadi 4 5 hari setelah operasi sebelum

19

kolagen meluas di daerah luka. Ketika dehiscence dan eviscerasi


terjadi luka harus segera ditutup dengan balutan steril yang lebar,
kompres dengan normal saline. Klien disiapkan untuk segera
dilakukan perbaikan pada daerah luka.
B. Komplikasi Lanjut
Keloid dan jaringan parut hipertrofik timbul karena reaksi serat
kolagen yang berlebihan dalam proses penyembuhan luka. Serat
kolagen disini teranyam teratur. Keloid yang tumbuh berlebihan
melampaui batas luka, sebelumnya menimbulkan gatal dan cenderung
kambuh bila dilakukan intervensi bedah.
Parut hipertrofik hanya berupa parut luka yang menonjol, nodular, dan
kemerahan, yang menimbulkan rasa gatal dan kadang kadang nyeri.
Parut hipertrofik akan menyusut pada fase akhir penyembuhan luka
setelah sekitar satu tahun, sedangkan keloid tidak.
Keloid dapat ditemukan di seluruh permukaan tubuh. Tempat
predileksi merupakan kulit, toraks terutama di muka sternum,
pinggang, daerah rahang bawah, leher, wajah, telinga, dan dahi. Keloid
agak jarang dilihat di bagian sentral wajah pada mata, cuping hidung,
atau mulut.
Pengobatan keloid pada umumnya tidak memuaskan. Biasanya
dilakukan penyuntikan kortikosteroid intrakeloid, beban tekan, radiasi
ringan dan salep madekasol (2 kali sehari selama 3-6 bulan). Untuk
mencegah terjadinya keloid, sebaiknya pembedahan dilakukan secara
halus, diberikan beban tekan dan dihindari kemungkinan timbulnya
komplikasi pada proses penyembuhan luka. (Yusuf, 2009)

http://dr-suparyanto.blogspot.com/2011/03/konsep-infeksi-luka-operasi.html

20