Anda di halaman 1dari 5

Blastocystis hominis

Sejarah
Parasit ini pertama kali dilaporkan oleh Alexieff pada tahun 1911
kemudian oleh Brumpt pada tahun 1912 diduga parasite ini adalah sel ragi (yeast)
yang ditemukan dalam feses orang yang sakit maupun sehat. Pada tahun 1991,
Zierdt menyatakan bahwa organisme ini adalah suatu protozoa yang tergolong
Sporozoa, yang menyebabkan penyakit pada manusia.
Hospes dan Nama Penyakit
B.hominis ditemukan pada manusia, monyet, kera, babi, dan mungkin
pada marmot, kecoa, reptile, tikus, dan berbagai hewan lainnya. Parasite ini
menyebabkan blastokistosis.
Morfologi dan Daur Hidup
B.hominis mempunyai 4 bentuk : vakuolar, granular, amoeboid, dan
bentuk kista.
Bentuk vakuolar. Bentuk ini paling sering ditemukan dalam feses maupun
biakan. Di tengah ada struktur mirip vakuol yang tampak transparan dan refraktil
dengan mikroskop fase kontras. Vakuol disebut benda sentral, yang dikelilingi
oleh sitoplasma perifer yang mengandung nucleus, mitokondria dan badan golgi.
Inti berjumlah 1-4. Parasit diliputi oleh lapisan permukaan yang mudah dilihat
dengan tinta India.

Bentuk Granular. Sel berisi granula yang mudah dilihat dengan mikroskop fase
kontras. Stadium ini dibentuk dari stadium vakuolar. Fungsinya dalam daur hidup
parasite ini belum diketahui.
Bentuk Amoeboid. Stadium ini mempunyai bentuk yang tidak teratur dan banyak
ditemukan dalam feses maupun biakan, mirip leukosit. Aktivitas amoeboid sukar
dilihat.
Bentuk Kista. Bentuk kista polimorfik, tetapi kebanyakan tampak oval atau
sirkular, dengan atau tanpa lapisan membrane di sebelah luarnya, yang mudah
lepas bila kaca tutup ditekan atau bila sediaan mongering. Kista mengandung
mitokondria dan inti. Benda-benda halus dan kasar mungkin tampak di antara
lapisan membrane dan kista. Fungsinya tidak jelas, tetapi mungkin berperan pada
perkembangan stadium selanjutnya. Diameter kista ini 6,65 mikron.
B.hominis berkembangbiak secara aseksual. Ada 4 macam pembelahan :
belah pasang, plasmotomi, skizogoni, dan endodiogeni. Pada manusia biasanya
terjadi belah pasang. Bentuk amoeba berkembangbiak dengan plasmotomi, yaitu
terpotongnya satu atau lebih dari satu bagian (progeni) dari tonjolan-tonjolan sel.
Progeny mengandung satu nucleus atau lebih, tetapi tidak mempunyai benda
sentral. Benda sentral adalah organel, dimana terjadi skizogoni. Sel induk atau
skizon berisi progeny sampai sel pecah dan progeny menyebar ke sekitarnya.
Jumlah progeny bervariasi dari 1 sampai ratusan. Makin banyak jumlah
progeninya, makin kecil ukurannya. Endiodigeni lebih jarang dan menghasilkan 2
progeni yang besar di dalam benda sentral. Dibandingkan bentuk lainnya, bentuk
kista adalah bentuk yang paling tahan terhadap pengaruh lingkungan luar hospes

dan mungkin merupakan satu-satunya bentuk infektif. Cara infeksi melalui


makanan dan air minum yang terkontaminasi parasite.

Patologi dan Gejala Klinis


Gejala

gastrointestinal

ditemukan

pada

pasien

yang

menderita

imunosupresi sehingga B.hominis dinyatakan parasite oportunistik. Gejala infeksi


B.hominis adalah diare, flatulens, anoreksia, berat badan menurun, muntah,
nausea, dan konstipasi. Infeksi B.hominis juga dihubungkan dengan colitis
ulserosa, ileitis terminal dan enteritis, yang dapat disembuhkan dengan
metronidazole.
Infeksi B.hominis pernah dilaporkan pada anak berusia 4 tahun dengan
feses yang mengandung darah, yang kemudian menderita diare cair dengan
gumpalan darah dan demam. Kolonskopi menunjukan ulkus superfisial dengan

pseudomembran di seluruh kolon. Pada pemeriksaan feses ditemukan kista


B.hominis.
Pada pemeriksaan histologic bahan biopsy ditemukan peradangan dengan
sel radang dan sel eosinophil di sekum, kolon transversum, dan rectum. Pada
mukosa ulkus ditemukan B.hominis, berukuran 15-25 mikron, bentuknya bulat
atau oval dengan vakuol sentral yang bergranula dan satu nucleus, disertai
infiltrasi sel radang.
Diagnosis
Diagnosis infeksi B.hominis ditegakkan dengan ditemukannya B.hominis
dalam feses pemeriksaan langsung, pewarnaan trikorm, teknik Kinyoun acid fast
dan dapat dilakukan dengan konsentrasi dengan larutan formalin etil asetat.
Pemeriksaan feses dilakukan pada 3 sampel untuk memastikan penderita
terinfeksi atau tidak.
Pengobatan
Pengobatan dianjurkan bila hanya ditemukan B.hominis dalam feses
disertai gejala gastrointestinal. Obat pilihan adalah metronidazole dengan dosis
750 mg 3 X sehari selama 10 hari. Bila parasite masih ditemukan dalam feses,
pengobatan diulang setelah 1 minggu selama 10 hari. Obat lain adalah iodoquinol
dengan dosis 3 X 650 mg sehari selama 20 hari. Obat yang efektif adalah
furazolidon 4 X 100 mg sehari selama 7 hari. Pada pasien imunokompromais
dapat diberikan metronidazole dengan dosis 1 sampai 2 g per hari. Trimetroprimsulfametoksasol, paramomisin tidak diabsorpsi di usus sehingga dapat digunakan
sebagai obat alternative.

Epidemiologi
B.hominis ditemukan di daerah tropis dan subtropics. Parasite ini banyak
ditemukan pada tentara yang pulang dari medan perang dan juga pada orang yang
bepergian. Di Amerika, B.hominis ditemukan pada 7% dari 35 anggota korps
keamanan, di Zaire pada 2% dari 46 penderita diare menahun, di Nepal pada 33%
dari 328 penderita diare, di Karachi pada 50% dari sampel feses Aga Khan
University. Di Jakarta, B.hominis ditemukan pada 15 % atau 1019 dari 6818
sampel feses yang diperiksa di bagian parasitology FKUI dari September 1983
samapi dengan Februari 1990.