Anda di halaman 1dari 23

BAB I

STATUS PASIEN
I.1

IDENTITAS PASIEN

Nama

: Tn. C

Jenis Kelamin

: Laki - laki

Umur

: 50 tahun

Alamat

: Makassar

Pekerjaan

: Petani

No. RM

: 127666

Masuk Tanggal

: 15 Oktober 2015

1.2

SURVEI PRIMER

: Bebas

22 x /menit

80x/menit, reguler, isi dan pulsasi cukup

: GCS 15

I.3

SURVEI SEKUNDER

a.

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang dengan keluhan nyeri pada kaki kiri yang dirasakan sejak 2 bulan yang
lalu setelah terjatuh dari pematang sawah dengan posisi paha terbentur di tanah, saat
sesaat setelah kejadian pasien tidak segera di bawah ke rumah sakit, pasien lebih
memilih ditangani secara tradisional dengan di urut, dan sejak kejadian hingga
sekarang nyeri masih dirasakan pada kaki kiri, kaki kiri lebih pendek dari kaki kanan,
kaki kiri sulit di gerakkan, dan selama ini pasien hanya terbaring dirumah tampa fiksasi
pada kaki. Riwayat pingsan saat kejadian (-), muntah (-), sakit kepala (-).

b.

Riwayat Penyakit Dahulu


-

c.

Riwayat trauma sebelumnya disangkal


Riwayat operasi sebelumnya disangkal
Riwayat kelainan darah disangkal
Riwayat penyakit hipertensi disangkal
Riwayat penyakit kencing manis disangkal
Riwayat asma disangkal
Riwayat alergi obat disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat patah tulang dengan atau

tanpa trauma
d.
Riwayat Pribadi
Riwayat merokok disangkal
I.4

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum

: Pasien tampak lemah

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda Vital

:T

110

/70 mmHg, N 80 x/s, RR 22x/s, S 36,8oC (Axilla)

Status Generalis
Kepala

: Normocepal

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-) , Sklera ikterik (-/-),


RCL (+/+), RCTL (+/+)

Hidung

: Septum deviasi (-), sekret (-/-), mukosa hiperemis (-/-),


konka hipertrofi (-/-)

Mulut

: Sianosis (-), lidah kotor (-), gigi karies (-)

Tenggorok

: Faring hiperemis (-) tonsil T1-T1

Telinga

: Normotia, deformitas (-), serumen (-/-), sekret (-/-)

Leher

: Pembesaran KGB (-), struma (-), deviasi trakhea (-)

Thorax
Pulmo
Depan

Dextra

Sinistra

Inspeksi

Simetris ka = ki

Simetris ka = ki

Palpasi

Vokal fremitus ka = ki

Vokal fremitus ka = ki

Perkusi

Sonor seluruh lapang paru

Sonor seluruh lapang paru

Auskultasi Vesikuler, Ronki (-), Wheezing (-)


Belakang

Vesikuler, Ronki (-), Wheezing (-)

Inspeksi

Simetris statis dinamis

Simetris statis dinamis

Palpasi

Stem fremitus ka = ki

Stem fremitus ka = ki

Perkusi

Sonor seluruh lapang paru

Sonor seluruh lapang paru

Auskultasi Vesikuler, Ronki (-), Wheezing (-)


Cor
-

Inspeksi
Palpasi

Perkusi

Vesikuler, Ronki (-), Wheezing (-)

: Ictus cordis tidak terlihat


: Ictus cordis teraba ICS V 1-2 cm media linea
Midclavicula sinistra
: Batas atas : ICS II linea parasternal kiri
Batas kanan bawah : ICS V linea sternalis kanan
Batas pinggang jantung : ICS III linea parasternal kiri
Batas kiri bawah : ICS V 1-2 cm media linea
midclavicula sinistra

Auskultasi

: BJ I-II normal

Abdomen
-

Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
Perkusi

Ekstrimitas
-

Edema
Sianosis
Akral dingin
Gerak
Kekuatan
Tonus
Refleks fisiologis
Refleks patologis

: Contur abdomen (-), defans muscular (-)


: Peristaltik (+) kesan normal, bunyi tambahan (-)
: Nyeri tekan (-), hepatomegali (-), splenomegali (-)
: Pekak sisi (-), pekak alih (-), tympani (+)
superior

inferior

-/-/-/-

+/-/-/Terbatas/+
Sulit dinilai/5
N/N
+/+
-/-

+/+
5/5
N/N
+/+
-/-

Status Lokalis
Regio cruris sinistra

Look : Pemendekan (+), bengkak (+), deformitas (+) angulasi ke lateral, Kulit
utuh (tidak terdapat luka robek)

I.5

Feel : Terdapat nyeri tekan (+), pulsasi distal (+), sensibilitas (+)

Movement : Nyeri gerak aktif (+), nyeri gerak pasif (+), ROM sulit dinilai
DIAGNOSIS

Fraktur tertutup femur sinistra 1/3 tengah


I.6

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium tanggal 15 Oktober 2015
Darah rutin
Lekosit

Hasil
7,7

Satuan
10^3/ ul

Nilai normal
4.5 13

Eritrosit

4.51

10^6/ uL

3.8 5.2

Hb

14,0

g/ dL

12.8 16.8

Ht

44,3

35 47

MCV

98,2

fL

80 100

MCH

31,0

Pg

26 34

MCHC

31,6

g/dL

32 36

Trombosit

173

10^3/ ul

154 442

Ureum

23.0

mg/dL

10.0 50.0

Creatinin

0.47

mg/dL

0 1.0

Kalium

3.4

mmol/L

3.1 5.1

KIMIA KLINIK (Serum)

Natrium
139
mmol/L
135 145
Pemeriksaan Rontgen Regio Femur Sinistra AP Lateral Tanggal 21 Oktober 2015

Kesan : Fraktur

Os Femur sinistra 1/3

tengah
I.7

PENATALAKSANAAN
-

Menjelaskan kepada pasien dan keluarga, pasien mengalami patah tulang paha
disertai pemendekan salahsatu kaki, sebagai langkah awal dilakukan prosedur
penarikan otot dan kulit dan setelah itu dilakukan reparasi tulang paha yang

I.8

patah dengan prosedur pembedahan.


Pemasangan skeletal traksi dengan pada os tibia proksimal.
Terapi farmakologi post pemasangan skeletal traksi :
Cefadroxil tablet 500 mg 3x1
Ranitidin tablet 150 mg 2x1
Asam Mefenamat 500 mg 3x1
Follow Up post pemasangan skeletal traksi
Keadaan umum pasien
Vaskularisasi dan innervasi distal
Penambahan beban secara bertahap
Proses penyembuhan luka
Foto kontrol
Rencana Operatif Os Femur Sinistra
PROGNOSIS

Quo ad vitam
Quo ad sanam
Quo ad fungsionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
(FRAKTUR FEMUR)
II.1

PENDAHULUAN
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas struktur tulang, tulang rawan, baik yang

bersifat sebagian maupun total. Mungkin tidak lebih dari sebuah retakan atau lapisan
6

korteks yang pecah, lebih sering patahan bersfiat total dan fragmen tulang berpindah.
Jika kulit di atasnya tetap utuh maka disebut fraktur tertutup atau sederhana (close
fracture), jika kulit atau salah satu kavitas tubuh terpapar maka disebut fraktur terbuka
(open fracture) dimana mudah terkontaminasi dan dapat menimbulkan infeksi.1,2
Tulang bersifat relatif rapuh, namun memiliki kekuatan yang cukup dan
ketahanan untuk menahan stres yang cukup. Fraktur terjadi akibat trauma mekanik,
trauma yang berulang (stress) atau melemahnya tulang secara abnormal (fraktur
patologis).1
Fraktur femur adalah salah satu fraktur yang paling umum dihadapi oleh dokter
bedah ortopedi. Femur adalah tulang yang terbesar dan terkuat di tubuh, tulang femur
berartikulasi dengan sendi panggul proksimal dan pada bagian ujung distal membentuk
sendi dengan tibia. Karena tulang femur memiliki ukuran yang lebih besar memiliki
pasokan yang kaya akan pembuluh darah dan otot. Fraktur femur sering terjadi karena
trauma high-energy, penyebab umum adalah kecelakaan kendaraan, jatuh dari
ketinggian dan dapat juga disebabkan oleh luka tembak. 3 Batang femur dikelilingi oleh
otot-otot besar yang empuk sehingga memberikan keuntungan dan kerugian. Reduksi
dapat menjadi sulit karena kontraksi otot menggantikan fraktur. Namun, potensi
penyembuhan menjadi lebih baik karena vaskularisasi yang banyak.3
Fraktur femur insiden usia dan jenis kelamin pada laki-laki usia 15 -24 tahun
dan pada wanita 75 tahun atau lebih tua. fraktur batang femur yang paling sering
terjadi pada pria muda dikarenakan trauma high-energy dan pada wanita tua terjadi
karena low-energy.3

II.2

ANATOMI FEMUR
Tulang yang terdapat pada paha adalah tulang femur, yang merupakan tulang

terpanjang dalam tubuh manusia. Femur memiliki fitur karakteristik seperti berikut:4
-

Femoral Head berartikulasi dengan acetabulum dari tulang pinggul pada sendi
panggul. Memanjang dari femur dan berbentuk bulat, halus dan ditutupi dengan
kartilago artikular. Konfigurasi ini memberi gerakan pada berbagai arah.

Kepala femur ini mengarah ke medial, ke atas dan ke depan acetabulum. Fovea
-

adalah depresi pusat di kepala femur yang terpasang oleh ligamentum teres.4
Femoral Neck membentuk sudut 125 dengan diafisis femur.4
Femoral Shaft merupakan batang tulang femur. Pada ujung atasnya, terdapat
greater trochanter dan, pada posteromedial terdapat lesser trochanter.
Throcanteric line yang kasar pada anterior dan throcanteric crest halus pada
posterior membatasi pertemuan antara batang dan leher femur. Linea aspera
adalah puncak terlihat berjalan secara longitudinal di sepanjang permukaan
posterior femur dan berpecah di bagian bawah ke dalam supracondylar line.

Garis supracondylar medial berakhir pada adductor tubecle.4


Pada ujung bawah femur terdiri dari femoral condyle medial dan lateral.
Struktur ini merupakan permukaan artikular untuk artikulasi dengan tibia pada
sendi lutut. Lateral condyle lebih menonjol daripada medial. Hal ini untuk
mencegah perpindahan patella ke arah lateral. Kedua condyle ini dipisahkan
posterior oleh intercondylar notch yang dalam. Aspek anterior ujung femur
yang halus ini berartikulasi dengan permukaan posterior patela.4

Daerah femur dibagi menjadi tiga kompartemen, anterior, medial dan posterior:
-

Anterior: terdiri dari otot-otot yang berfungsi sebagai fleksor pinggul dan
ekstensor lutut seperti sartorius, iliacus, psoas, pectineus dan quadriceps
femoris. Arteri utama dalam kompartemen ini adalah femoral artery, dan saraf
yang ditemukan dalam kompartemen ini adalah femoral nerve.4

Medial: terdiri dari otot-otot yang berfungsi sebagai adduktor panggul seperti
otot gracilis, adductor longus, adductor brevis, adductor magnus dan otot
obturator eksternus. Arteri dalam kompartemen ini adalah deep femoral artery
sedangkan saraf yang ditemukan dalam kompartemen ini adalah obturator
nerve.4

Posterior: terdiri dari otot hamstring yang berfungsi untuk fleksi lutut dan
ekstensi

pinggul.

Mereka

termasuk:

biceps

femoris,

semitendinosus,

semimembranosus dan hamstring part of adductor magnus. Saraf yang


ditemukan dalam kompartemen ini adalah sciatic nerv.4

Pada tungkai atas, terdapat 3 kompartemen yang dibagi menjadi kompartemen anterior,
posterior dan medial.4
-

Anterior

: M. Quadriceps, Vastus Lateralis, Vastus Intermedius, Vastus

Medius, Rectus Femoris.


Posterior
: Biceps Femoris (long head dan short head), Semitendinosus,

Semimembranosus, Nervus Sciatik.


Medial : Adductor magnus, adductor longus, adductor brevis, gracilis, vena dan
arteri femoral

Otot-otot yang mempengaruhi deforming forces pada femoral shaf :4


-

Abduksi (gluteus medius dan minimus): Berinsersi di greater trochanter


(trochanter major) dan abduksi di proksimal femur, subtrochanter dan fraktur di

proksimal shaft.
Iliopsoas: Fleksi dan ekternal rotasi di fragment proksimal berdasarkan insersi

di lesser trochanter (trochanter minor).


Adduksi: Otot yang banyak mempengaruhi fraktur di shaft dan menghasilkan
axial yang kuat dan beban varus pada tulang dengan traksi pada fragment distal.
10

Gastrocnemius: Otot yang mempengaruhi fraktur distal shaft dan fraktur


supracondylar dengan fleksi pada fragment distal.

Gambar : Deforming Force pada femur.

II.3

KLASIFIKASI FRAKTUR FEMUR

Klasifikasi Winquist dan Hansen memperlihatkan pengamatan dari derajat


kerusakan pada jaringan lunak dan ketidak stabilan fraktur yang meningkat sesuai
dengan peningkatan derajat kominutasi. Pada tipe 0 Comminution. Pada tipe 1 hanya

11

ada fragmen kortikal kecil. Pada tipe 2 terdapat Butterfly Fragment yang lebih besar
tetapi masih ada setidaknya kontak kortikal kurang dari 50%. Pada tipe 3 Butterfly
Fragment mencakup lebih dari 50 persen dari luas tulang. Pada tipe 4 biasanya
terdapat fraktur segmental.2
II.4

ETIOLOGI
Fraktur cenderung terjadi pada laki-laki muda akibat high-energy trauma dan

pada wanita usia lanjut setelah jatuh saat berdiri. Mekanisme pada pasien muda
cenderung terjadi akibat kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh dari ketinggian dan
dapat juga disebabkan oleh luka tembak. Sebagian besar (75%) yang disebabkan
mekanisme high-energy force dengan mayoritas akibat kecelakaan lalu lintas.5
a.

Mekanisme Fraktur

Penyebab dari fraktur, bisa berupa:6


-

Trauma langsung
Trauma langsung (direct injury) biasanya karena high energy. Penyebab
utamanya terjadi adalah kecelakaan lalu lintas.

Trauma tidak langsung


Trauma tidak langsung (indirect injury) biasanya low energy, dengan gambaran
fraktur spiral atau obliq panjang, satu dari beberapa fragmen tulang yang
patah.

Penyebab dari fraktur femur bisa karena:6


-

High-energy trauma seperti kecelakaan lalu lintas, terjatuh dari ketinggian atau
tembakan senjata tajam adalah penyebab terbanyak menyebabkan fraktur pada

femur.
Low energy trauma menyebabkan fraktur badan femur pada kasus patologik
atau tulang yang mengalami osteoporosis.

Pola fraktur tergantung pada sifat dan tingkat kekerasan penyebab. Fraktur spiral
biasanya terjadi apabila jatuh dengan posisi kaki melekat erat pada dasar sambil
putaran yang diteruskan pada femur, fraktur transversal

dan oblik terjadi karena

trauma langsung dan trauma angulasi.6

12

Mechanism of injury. Beberapa pola fraktur mekanisme kausal: (a) pola spiral
(twisting); (b) pola obliq (kompresi); (c) triangular butterfly fragmen (bending) dan
(d) pola transversal (tension). Spiral dan beberapa (panjang) pola obliq biasanya karena
trauma low-energy; pola bending dan pola melintang disebabkan oleh trauma langsung
high-energy.
b.

Evaluasi Klinis
Fraktur femur merupakan fraktur yang biasanya diakibatkan oleh trauma high-

energy, maka harus dilakukan pemeriksaan secara keseluruhan. Biasanya pasien datang
dengan nyeri, adanya deformitas, pembengkakan, dan pemendekan tungkai yang
cedera.7
Pemeriksaan NVD juga harus dilakukan secara teliti karena biasanya fraktur
jenis ini disertai trauma neurovaskular . Selain itu dilakukan juga pemeriksaan pada
sendi Hip dan sendi lutut pada sisi yang cedera. Yang paling penting adalah awasi
tanda-tanda vital, karena fraktur femur dapat menyebabkan kehilangan darah sampai 3
liter.7
II.5

DIAGNOSIS

a.

Anamnesis
Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatik, fraktur), baik yang

hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan
anggota gerak. Anamnesis harus dilakukan dengan cermat karena fraktur tidak
selamanya terjadi di daerah trauma dan mungkin fraktur terjadi pada daerah lain.8

13

b.

Pemeriksaan fisis
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:8
-

Syok, anemia atau pendarahan.


Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau

organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen.


Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.
Pemeriksaan Lokal:

Inspeksi (Look) pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang


abnormal, angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal
yang penting adalah apakah kulit itu utuh, kalau kulit robek dan luka memiliki

hubungan dengan fraktur, cedera terbuka, keadaan vaskularisasi.


Palpasi (Feel) Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya
mengeluh sangat nyeri. Adanya cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat.
Kondisi yang perlu dicermati dalam melakukan palpasi :
Temperatur setempat yang meningkat.
Nyeri tekan, nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan
oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang.
Krepitasi, dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara
hati-hati.
Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi a.
radialis, a. dorsalis pedis, a. tibialis posterior sesuai dengan anggota
gerak yang terkena.
Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal
daerah trauma , temperatur kulit.
Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui
adanya perbedaan panjang tungkai.
Pergerakan (Movement). Krepitus dan gerakan abnormal dapat
ditemukan, tetapi lebih penting untuk menanyakan apakah pasien dapat
menggerakan sendi - sendi di bagian distal cedera. Pergerakan dengan
mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan pasif sendi
proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada pederita
dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga
uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga

14

dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh


darah dan saraf.
c.

Pemeriksaan Neurologis
Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan
motoris. Kelaianan saraf yang didapatkan harus dicatat dengan baik karena
dapat menimbulkan masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita serta
merupakan patokan untuk pengobatan selanjutnya.9

d.

Pemeriksaan Radiologis
Macam-macam

pemeriksaan

radiologi

yang

dapat

dilakukan

untuk menetapkan kelainan tulang dan sendi :9


-

Foto Polos
Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya fraktur.
Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan
keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan bidai yang bersifat
radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan
radiologis. Tujuan pemeriksaan radiologis :9
Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi
Untuk konfirmasi adanya fraktur
Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmenserta

pergerakannya
Untuk menentukan teknik pengobatan
Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak
Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler
Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang
Untuk melihat adanya benda asing, misalnya peluru.
Umumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis fraktur, tetapi

perlu ditanyakan apakah fraktur terbuka atau tertutup, tulang mana yang
terkena dan lokasinya. Apakah sendi juga mengalami fraktur serta bentuk
fraktur itu sendiri. Konfigurasi fraktur dapat menentukan prognosis serta waktu
penyembuhan fraktur.9
Beberapa yang harus diperhatikan pada pemeriksaan radiologi adalah :9

15

Foto x-ray yang harus dilakukan adalah foto AP dan lateral dari femur,
sendi hip dan lutut harus nampak pada foto tersebut. Ditambah dengan
foto pelvis proyeksi AP.
Penilaian foto x-ray harus dilakukan secara teliti untuk menilai pola dari
fraktur, kualitas tulang, ada atau tidakanya segmen tulang yang hilang,
pemendekan, dan jaringan di sekitarnya.
II.6

PROSES PENYEMBUHAN FRAKTUR PADA TULANG KORTIKAL


Proses penyembuhan fraktur berbeda-beda pada tulang kortikal (pada tulang

panjang), tulang kanselosa (pada metafisis tulang panjang dan tulang-tulang pendek)
dan pada tulang rawan persendian.10

Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri atas lima fase, yaitu :
-

Fase hematoma
Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil yang
melewati kanalikuli dalam sistem Haversian mengalami robekan pada daerah
fraktur dan akan membentuk hematoma diantara kedua sisi fraktur. Hematoma
yang besar diliputi oleh periosteum. Periosteum akan terdorong dan dapat
mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi sehingga dapat
terjadi ekstravasasi darah ke dalam jaringan lunak. Osteosit dengan lakunanya
yang terletak beberapa milimeter dari daerah fraktur akan kehilangan darah dan
mati, yang akan menimbulkan suatu daerah cincin avaskuler tulang yang mati

pada sisi-sisi fraktur segera setelah trauma.


Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal
Pada fase ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi
penyembuhan. Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel-sel osteogenik
yang berproliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada
daerah endosteum membentuk kalus interna sebagai aktifitas seluler dalam
kanalis medularis. Apabila terjadi robekan yang hebat pada periosteum, maka
penyembuhan sel berasal dari diferensiasi sel-sel mesenkimal yang tidak

16

berdiferensiasi ke dalam jaringan lunak. Pada tahap awal dari penyembuhan


fraktur ini terjadi pertambahan jumlah dari sel-sel osteogenik yang memberi
pertumbuhan yang cepat pada jaringan osteogenik yang sifatnya lebih cepat
dari tumor ganas. Pembentukan jaringan seluler tidak terbentuk dari organisasi
pembekuan hematoma suatu daerah fraktur. Setelah beberapa minggu, kalus
dari fraktur akan membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik.
Pada pemeriksaan radiologis kalus belum mengandung tulang sehingga
-

merupakan suatu daerah radiolusen.


Fase pembentukan kalus (fase union secara klinis)
Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen sel
dasar yang berasal dari osteoblas dan kemudian pada kondroblas membentuk
tulang rawan. Tempat osteoblas diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan
perlengketan polisakarida oleh garam-garam kalsium membentuk suatu tulang
yang imatur. Bentuk tulang ini disebut sebagai woven bone. Pada pemeriksaan
radiologi kalus atau woven bone sudah terlihat dan merupakan indikasi

radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur.


Fase konsolidasi (fase union secara radiologik)
Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan diubah
menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi

struktur lamelar dan kelebihan kalus akan diresorpsi secara bertahap.


Fase remodeling
Bilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru membentuk bagian yang
menyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis medularis. Pada
fase remodeling ini, perlahan-lahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan
tetap terjadi proses osteoblastik pada tulang dan kalus eksterna secara perlahanlahan menghilang. Kalus intermediat berubah menjadi tulang yang kompak dan
berisi sistem Haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami peronggaan
untuk membentuk ruang sumsum.

17

Gambar : Proses Penyembuhan Fraktur

II.7

PENANGANAN
Kasus fraktur biasanya terjadi akibat adanya trauma oleh karena itu sebelum

dilakukan pengobatan definitif suatu fraktur, maka perlu dilakukan penatalaksaan


sesuai dengan prinsip trauma, sebagai berikut:8
a.

Penilaian Awal (Primary Survey / Survei Awal)


Survei awal bertujuan untuk menilai dan memberikan pengobatan sesuai

dengan prioritas berdasarkan trauma yang dialami. Fungsi-fungsi vital penderita harus
dinilai secara tepat dan efisien. Penanganan penderita harus terdiri atas evaluasi awal
yang cepat serta resusitasi fungsi vital, penangan trauma dan identifikasi keadaan yang
dapat menyebabkan kematian.
A: Aiway (jalan napas), penilaian terhadap patensi jalan napas. Apabila terdapat
obstruksi jalan napas, maka harus segera dibebaskan. Apabila dicurigai kelaian
vertebra servikalis maka dilakukan pemasangan collar neck.
B: Breathing (pernapasan), perlu diperhatikan dan dilihat secara keseluruhan daerah
thorak untuk menilai ventilasi. Jalan napas yang bebas bukan berarti ventilasi cukup.
Bila ada gangguan atau instabilitas kardiovaskuler, respirasi, atau gangguan neurologis,
kita harus melakukan ventilasi dengan bantuan alat pernapasan berupa kantong yang
disambung dengan masker atau pipa endotrakeal.

18

C: Circulation (sirkulasi), sirkulasi adalah kontrol perdarahan meliputi 2 hal: a)


Volume darah dan output jantung; b) perdarahan baik perdarahan luar maupun
perdarahan dalam, perdarahan luar harus diatasi dengan balut tekan.
D: Disability (evaluasi neurologis), evaluasi neurologis secara cepat setelah satu survei
awal, dengan menilai tingkat kesadaran, besar dan reaksi pupil. Menggunakan metode
AVPU: A (alert / sadar), V (vokal / adanya respon terhadap stimuli vokal), P (painful,
danya respon terhadap rangsang nyeri), U (unresponsive/tidak ada respon sama sekali).
Hasilnya dapat diketahui GCS (glasgow coma scale).
E: Exposure (kontrol lingkungan), untuk melakukan pemeriksaan secara teliti pakaian
penderita perlu dilepas (pada pasien tidak sadarkan diri), selain itu perlu dihindari
terjadinya hipotermi.
Prinsip pengobatan fraktur secara umum (4R)8

b.
-

Recognition (diagnosis dan penilaian fraktur): mengetahui dan menilai keadaan


fraktur dengan anamnesis, pemeriksaan klinik, dan radiologis. Perlu
diperhatikan: lokasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan teknik yang sesuai
untuk pengobatan, komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah

pengobatan.
Reduction (reduksi fraktu apabila perlu). Restorasi fragmen fraktur dilakukan
untuk mendapatkan posisi yang dapat diterima. Posisi yang baik adalah
alignment yang sempurna dan posisi yang sempurna. Angulasi <5o pada tulang
panjang anggota gerak bawah dan lengan atas dan angulasi sampai 10 o pada
humerus dapat diterima. Terdapat kontak sekurang-kurangnya 50%, dan over
riding <0,5 inchi pada fraktur femur. Adanya rotasi tida dapat diterima

dimanapun lokasinya.
Retention, imobilisasi fraktur
Rehabilitation, mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin.
Dari semua penanganan kecelakaan, atasi syok merupakan langkah awal dan

fraktur dibidai sebelum dipindahkan. Bidai fraktur dengan metode Thomas-type splint
untuk mengurangi perdarahan dan rasa nyeri. Berikan anti biotik dan analgetik
intravena. Fraktur badan femur biasanya disebabkan karena energi trauma yang besar
dan pasien memiliki potensi tinggi mengalami emboli lemak, ARDS dan kegagalan

19

multi organ. Sehingga dibutuhkan persediaan darah untuk mencegah komplikasi yang
bisa terjadi.
c.

Terapi Non-operatif 8
Traksi kulit merupakan pengobatan sementara sebelum dilakukan terapi

operatif. Traksi dapat menurunkan dan mempertahankan fraktur agar tetap segaris,
kecuali fraktur pada 1/3 atas femur. Indikasi utama pemasangan traksi adalah (1) pada
anak-anak, (2) kontraindikasi obat anastesi, (3) kurangnya fasilitas dan dokter ahli
untuk melakukan internal fiksasi. Juga merupakan pilihan yang buruk untuk pasien
fraktur patologik. Pada anak-anak diberikan beban 2 kg dengan metode Russell dengan
pemasangan beban 2-4 minggu (tergantung usia anak).
Pada remaja atau dewasa membutuhkan traksi tulang dengan bantuan pin atau
K-wire yang digantung dibelakang tuberkulum tibialis. Traksi (8-10 kg untuk orang
dewasa) diaplikasikan di atas katrol di kaki tempat tidur.

20

Gambar Fraktur femur- Skin & Skeletal Traction


Terapi Operatif 8

d.

Operasi merupakan standar untuk stabilisasi yang paling baik untuk farktur
diafisis femur. Operasi sebaiknya dilakukan dalam 24 jam setelah trauma dengan
menggunakan plate dan screw.
-

Plate & Screw fiksasi


Metode yang mudah digunakan namun memiliki komplikasi yang
tinggi, termasuk kegagalan implan. indikasi utama untuk plate & screw
fixaation (1) patah tulang di kedua ujung poros femoralis, terutama mereka
dengan ekstensi ke supracondylar atau pertrochanteric daerah, (2) fraktur
batang femur pada anak, dan (3) fraktur dengan cedera vaskular yang
membutuhkan perbaikan (4) fraktur pada orang tua/ paraplegia

Intramedullary nailing
Merupakan metode yang paling banyak digunakan untuk fraktur badan femur.

Indikasi untuk pasien dengan: fraktur distal femur, fraktur acetabular ipsilateral, fraktur
neck femur ipsilateral, fraktur femur bilateral.

21

External Fixation
Indikasi utama: (1) pengobatan fraktur terbuka yang berat, (2) pasien dengan

multiple injuri dimana ada kebutuhan untuk mengurangi waktu operasi, (3) transportasi
tulang, (4) fraktur pada remaja.
II.8

Komplikasi 8
Komplikasi dari fraktur diafisis femur ada 2 jenis, yaitu komplikasi dini dan

komplikasi lanjut. Yang termasuk komplikasi dini adalah syok, emboli lemak, trauma
pembuluh darah besar, trauma saraf, tromboemboli, dan infeksi. Sedangkan yang
termasuk kompliksai lanjut adalah delayed union, non union, malunion, kaku sendi
otot, dan refraktur.
Non union adalah adalah fraktur yang tidak akan menyatu tanpa intervensi
dengan batasan waktu antara 6-8 bulan dan tidak didapatkan konsolidasi sehingga
terdapat pseudoartrosis (sendi palsu). Adanya jaringan atau segmen tulang yang hilang,
atau adanya interposisi jaringan yang menyebabkan non union tipe hipertrofi.
Sedangkan tipe atropi disebabkan oleh kurangnya vaskularisasi, kurangnya proses
hematom, infeksi, atau fraktur patologis. Gambaran klinisnya yaitu, tidak adan nyeri,
adanya false movement atau pseudoatrosis, dan adanya celah di antara kedua fragmen.
Penatalaksanaannya dapat berupa konservatif yaitu dengan rehabilitasi dan fisioterapi,
dan dapat dilakukan operatif berupa ORIF dan atau dengan bone graft.

22

DAFTAR PUSTAKA
1. Koval, Kenneth J., Egol, Kenneth A., Zuckerman, Joseph D. In: Handbook of
Fracture, 4th Edition. New York: Lippincott Williams & Wilkins. 2010
2. Helmi ZN. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. 2011.
3. Solomon L, et all. Apleys System of Orthopaedics and Fractures. Ninth
Edition. London : Hodder Arnold. 2010
4. Thompson, J. Netters Concise Orthopaedic Anatomy, 2nd Ed. Elsevier
Saunders, 2010. Hal: 251, 266-268.
5. Bucholz, Robert W.; Heckman, James D.; Court-Brown, Charles M.; Tornetta,
Paul. Rockwood And Green's Fractures In Adults, 7th Edition. 2010.
Biomechanics of Fractures and Fracture Fixation. Lippincott Williams &
Wilkins.
6. Salminen S. Femoral Shaft Fractures In Adults: Epidemiology, Fracture
Patterns, Nonunions, And Fatigue Fractures A Clinical Study. 2005.
7. Solomon L,.Warwic D., Selvadurai N. Apley And Solomon Concise System Of
Otrthopaedics Trauma 4th edition. 2014
8. Changes In The Management Of Femoral Shaft Fractures In Polytrauma
Patients: From Early Total Care To Damage Control Orthopedic. The Journal
Of Trauma October 2002
9. Miller MD., Thompson SR., Hart RA. Review Of Orthopaedics 6 th Edition.
Elsevier Saunders
10. Murray JR., Holmes EJ., Misra RR. AZ Of Musculoskeletal And Trauma
Radiology. 2009. Cambridge University Press

23

Anda mungkin juga menyukai