Anda di halaman 1dari 6

Nama : Mansur

NIM : I2K014004

REVIEW BUKU
Judul Buku
Pengarang
Penerbit
Tahun
Halaman

: Total Quality Manajemen in Education


(Manajemen Mutu Pendidikan)
: Edward Sallis
: IRCiSoD Yogyakarta
: Cet. XVI, Th. 2012
: 281 hal

A. PENDAHULUAN
Quality is at the top of most agendas, and improving quality is probably the
most important task facing any institution. In addition, quality is difficult to define or
measure. Begitulah Edward Sallis mengatakan pentingnya kualitas dalam sebuah
lembaga, sekaligus menunjukkan bagaimana sulitnya membuat definisi dan mengukur
sebuah kualitas.
Edward Salis menjelaskan latar belakang tentang konsep manajemen yang telah
dikembangkan sejak 50 tahun lalu dari berbagai aspek/praktek manajemen serta usaha
peningkatan dan pengembangan produktivitas. Total Quality Management (TQM)
memperkenalkan pengembangan proses produk dan pelayanan sebuah organisasi secara
sistematik dan bekesinambungan. Pendekatan tersebut ini berusaha untuk melibatkan
semua pihak terkait, dan memastikan bahwa pengalaman dan ide - ide mereka yang
memiliki sumbangan dalam pengembangan mutu. Pengelolaan model ini mengandaikan
adanya pihak pengelola institusi pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan
berdasarkan manajeman industri yang disesuaikan.
Konsep TQM ini menekankan konsisten terhadap perbaikan yang berkelanjutan
untuk mencapai kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Strategi yang dikembangkan dalam
pengguanaan manajemen mutu dalam pendidikan adalah institusi pendidikan
mempromosikan dirinya sebagai institusi jasa atau dengan kata lain menjadi industri
jasa. Yakni industri yang memberian pelayanan service jasa atau pelayanan yang
didinginkan oleh pelanggan tentu saja merupakan sesuatu yang bermutu dan
memberikan kepuasan kepada mereka. Pelanggan dibedakan menjadi dua pelanggan
dalam (internal customer) pelanggna luar (eksternal Customer) dalam dunia pendidikan
yang termasuk pelanggan dalam adalah pengelola institusi pendidikan itu sendiri,
1

misalnya: kepala sekolah, guru, staff, dan lembaga yang didalamnya. sedangkan yang
termasuk pelanggan luar masyarakat, pemerintah dan dunia industri.
Perguruan Tinggi (PT) khususnya dan Dunia pendidikan pada umumnya harus
menyambut baik dan menerapkan TQM dalam pendidikan sebagai bagian dari keinginan
pencapaian mutu baik oleh internal customer maupun external customer. Di mana mutu
sebagai subjek yang diacu dan dikontrol. Hal ini tentu dapat ditempuh dengan
menerapkan metode-metode pendekatan yang sesuai dalam TQM.
Faktor rekayasa dan faktor motivasi harus diperhatikan. Rekayasa dalam konteks
pendidikan dapat dipahami berkaitan dengan tindakan perencanaan secara terstruktur,
komprehensif dan akurat melalui kurikulum dan mata ajar yang dapat diperhatikan dari
kompetensi pencapaian. Di sinilah makna dan maksud faktor rekayasa. Motivasi, di
mana mutu menjadi subjek yang diacu sehingga yang terlibat dalam institusi
pendidikan paham bahwa mutu menjadi hal penting. Sehingga peserta didik dapat
berhasil baik dari segi hard skill maupun soft skill sesuai tujuan pendidikan.

B. INTISARI / KATA KUNCI


TQM adalah sebuah filosofi tentang perbaikan secara terus menerus, yang dapat
memberikan seperangkat alat praktis kepada setiap institusi pendidikan dalam
memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan pelanggannya, saat ini dan untuk masa
yang akan datang (Edward Sallis).
Tidak kalah pentingya adalah Benchmarking yang merupakan suatu kegiatan
untuk menetapkan standar dan target yang akan dicapai suatu periode tertentu, harus
mampu menjawab. Seberapa baik kondisi kita ?, harus menjadi seberapa baik ?, dan
bagaimana cara untuk mencapai yang baik tersebut ?
Dalam konsep TQM, TQM jangan dilihat sebagai beban. Dalam proses
penerapannya, TQM harus diperkenalkan terlebih dahulu. Sebab TQM adalah suatu
keinginan untuk selalu mencoba mengerjakan sgala sesuatu dengan selalu baik sejak
awal. TQM juga bukan untuk memeriksa kalau-kalau ada yang salah. Juga bukan
bagaimana mengerjakan agenda melainkan tentang agenda yang telah ditetapkan klien;
tidak juga tugs yang hanya dikerjakan oleh manajer senior yang selanjutnya memberikan
arahan kepada bawahannya.

Total (terpadu) menegaskan bahwa setiap orang yang berada di dalam organisasi
harus terlibat dalam upaya melakukan peningkatan terus-menerus. Kata manajemen
dalam TQM berlaku untuk setiap orang. Sebab setiap orang dalam organisasi dalam
level manapun dapat menjadi manejer bagi tanggungjawabnya masing-masing.
Filosofi dari TQM adalah pertama, perbaikan secara terus menerus dengan
metode pendekatan praktis tetapi strategis dalam menjalankan roda organisasi yang
memfokuskan diri pada kebutuhan pelanggan. Tujuannya adalah untuk mencari hasil
yang lebih baik. TQM bukan sekumpulan slogan namun merupakan suatu pendekatan
sistematis dan hati-hati untuk mencapai peningatan kualitas yang tepat dengan cara yang
konsisten dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Penekanannya adalah
perbaikan secara terus menerus dan seluruh komponen dalam organisasi terlibat.
Kedua, dan untuk mendeskripsikan alat-alat dan teknik-teknik, seperti
brainstorming dan analisa lapangan dengan tujuan membawa peningkatan mutu. Jadi,
TQM adalah sebuah pola pikir sekaligus aktivits berpikir praktis.
Kata kuncinya adalah pendekatan secara sistematis, konsisten, hati-hati, praktis.
TQM juga berkaitan dengan perubahan kultur dan ini tidak dapat dicapai dengan
cepat melainkan memerlukan waktu yang cukup lama, membutuhkan sikap dan metode,
sosialisasi kepada seluruh komponen organisasi sehingga seluruh komponen mau
melaksanakan pesan moral TQM.
Oleh karena itu, ada dua hal penting yang diperlukan staf untuk menghasilkan
mutu. Pertama, staf membutuhkan sebuah lingkungan yang cocok untuk bekerja. Baik
situasi, sistem maupun prosedur. Kedua, staf memerlukan lingkungan yang mendukung
dan menghargai kesuksesan dan prestasi yang mereka raih; memerlukan pemimpin yang
menghargai prestasi dan membimbing untuk meraih kesuksesan lebih besar.
Kunci sukses kultur TQM adalah mata rantai internal-eksternal yang aktif antara
pelanggan dan produsen. Jika ini berjalan baik maka akan ada implikasi hebat terhadap
organisasi. Hal ini dapat dilihat pada perbandingan struktur organisasi tradisional
dengan hirarki terbalik TQM. Struktur tradisional menekankan alur kuasa dan direksion.
Hirarki TQM menekankan pada pola hubungan yang berorientasi pada layanan dan
pentingnya pelanggan bagi organisasi.
Menjaga hubungan dengan pelanggan merupakan prinsip mutlak dalam TQM
sebab TQM hadir untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggannya. Organisasi
yang unggul baik negeri maupun swasta harus menekankan hubungn dengan
pelanggan. Sebab ini merupakan obsesi organisasi terhadap mutu.
3

Ketika TQM berada dalam dunia pendidikan maka filosofinya adalah pelajar
menjadi fokus utama. Sebab pelajar nantinya akan menjadi produk dan label bermutu
ada pada pelajar sebagai out put atau keluarannya. Bila mutu ada pada out put maka
pihak eksternal akan tahu bahwa institusi pendidikan bermutu.
Dengan menekankan pada pola hubungan maka tentu akan memberikan efek
positif kepada pelanggan. Dengan memperhatikan bagan TQM dalam pendidikan maka
TQM membalikan kebiasaan dalam struktur tradisional yang berjalan dari atas ke bawah
(direktif). Manejer senior memberi instruksi dan staf menjalankan. Ini jelas berbeda
dengan struktur TQM yang lebih menekankan hubungan. Ini berarti komunikasi menjadi
unsur penting dalam meraih kesusksesan dalam memberikan kepuasan kepada
pelanggan.

C. EVALUASI/ANALISIS
Evaluasi/analisis terhadap buku ini adalah bahwa metode pendekatan yang
efektif dalam mencapai mutuapabila mutu produksi terjaga maka akan menyebabkan
tingkat kepercayaan pelanggan terhadap produk meningkat. Untuk mencapainya, maka
harus menjaga standar mutunya sehingga dikemudian hari lahirlah apa yang disebut
quality control. Hal in juga yang harus dipikirkan oleh pelaku pendidikan bila
menginginkan mutu dan kepuasan pelanggan. Tidak ada cara lain kecuali mutu out put
harus terjaga. Bila mutu out put terjaga makan akan berdampak terhadap tingkat
kepercayaan pelanggan.
Secara umum, kualitas dalam institusi pendidikan dapat dilihat dari beberapa hal,
antara lain: guru yang baik dan kompeten, nilai moral yang tinggi, hasil ujian yang
memuaskan, dukungan dari orang tua, bisnis dan komunitas lokal, sumberdaya yang
melimpah, aplikasi teknologi mutakhir, kepemimpinan yang baik dan efektif, perhatian
terhadap pelajar dan anak didik, kurikulum yang memadai, atau kombinasi dari faktorfaktor tersebut. Namun benarkah kita benar-benar meyakini bahwa kualitas adalah
tentang indikator-indikator tersebut?
Fakta sekarang ini kualitas pendidikan ditentukan oleh kebijakan pemerintah
terpilih, yang telah dijanjikan selama masa-masa kampanye. Kasus di Indonesia sendiri,
kebijakan mengenai pendidikan akan berubah seiring dengan seringnya pergantian
pemimpin. Masing-masing pemimpin terpilih yang baru tidak ada yang bersedia
meneruskan kebijakan dari pemimpin lama yang telah terlaksana sebagian. Akibatnya,
4

institusi pendidikan di Indonesia sering sekali harus menyesuaikan diri dengan


kebijakan-kebijakan baru yang terus berubah. Contoh paling nyata adalah masalah
pergantian kurikulum, dari CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) hingga KTSP (Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan) dan sekarang menjadi Kurikulum 2013 (K13).
Melihat situasi politik semacam ini, TQM mungkin dapat menjadi solusi untuk
memastikan kualitas pendidikan di Indonesia. Mengapa? Karena TQM pada dasarnya
adalah gabungan dari filosofi dan metode. TQM dapat membantu institusi untuk
mengelola perubahan-perubahan yang terjadi dan menetapkan agenda mereka sendiri
untuk menyesuaikan diri dengan tekanan dari luar institusi atau organisasi mereka.
Meskipun demikian, TQM tidak akan dapat memberikan hasil yang instan, dan belum
tentu juga akan dapat memberikan hasil terbaik bagi institusi pendidikan. TQM
hendaknya dipandang sebagai seperangkat cara atau alat yang dapat diterapkan dalam
manajemen sebuah institusi pendidikan, termasuk di Indonesia. Dengan demikian,
institusi pendidikan akan dikelola dengan manajemen yang lebih baik, sehingga hasil
keluarannya (alumni) akan lebih berkualitas.
4. KESIMPULAN / REKOMENDASI
Manajemen mutu pendidikan merupakan aplikasi konsep manajemen mutu yang
disesuaikan dengan sifat dasar sekolah sebagai organisasi jasa kemanusiaan (pembinaan
potensi pelajar) melalui pengembangan pembelajaran berkualitas, agar melahirkan
lulusan yang sesuai dengan harapan orang tua, masyarakat dan pelanggan pendidikan
lainnya
Prinsip TQM berkaitan dengan struktur harus diperhatikan sehingga struktur
tidak membengkak dan pada akhirnya melahirkan birokrasi yang rumit. Pada akhirnya
berimbas pada layanan customer. Meniadakan yang tidak harus ada dan mengadakan
yang mutlak harus ada. Hal pokok yang perlu adalah pertama Perbaikan secara terus
menerus, kedua menentukan standar mutu, ketiga perubahan kultur, keempat perubahan
organisasi, kelima mempertahankan hubungan dengan pelanggan.
Untuk keberhasilan penerapan Manajemen Mutu Terpadu memang tidak mudah,
diperlukan komitmen dan kerjasama yang baik antara departemen terkait, antara
departemen pusat dengan departemen pendidikan di daerah serta institusi pendidikan
setempat sebagai pihak yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Oleh karena
itu, perlu adanya kejelasan secara sistemik dalam memberikan kewenangan antar
institusi terkait.
5

DAFTAR PUSTAKA

Arcaro, J. Quality in Education: An Implementation Handbook, CRC


Press, 1 Mei 1995 192 Halaman
Drs. Amin Widjaja Tunggal, Ak, 1993, MBA Manajemen Mutu Terpadu, Jakarta:
Rineka Cipta
Fandy Tjiptono dan Anastasia Dian, 2001, Total Quality Manajemen Yogyakarta: Andi
Offset
Fasli Jalal, Dedi Supriadi, Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah.
Jakarta, Depdiknas Bappenas , 2001, Adicita Karya Nusa
Sallis, Edward, Total Quality Management in Education (Manajemen Mutu Pendidikan),
IRCiSoD, 2012, Jogjakarta.
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, Bandung
Fokusmedia