Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN TUTORIAL

Infeksi Odontogen

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Tutorial


Blok Kuratif dan Rehabilitatif I
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember

Pembimbing :
Dr. Drg. Didin Erma Indahyani, M.Kes.
Disusun oleh:
Kelompok Tutorial IX

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2015

DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK

Tutor

: Dr. Drg. Didin Erma Indahyani, M.Kes.

Ketua
Scriber Meja
Scriber Papan

: Andika Sulistian
: Adnan Rasyid Rifai
: Fredi Akbar Muzeka

Anggota
1.
2.
3.
4.
5.
6.

(131610101054)
(131610101053)
(131610101083)

Ferdina Recky
Shuvia Zul Aida N.
Tira Aisah P.
Danarwati Budiningrum
Atika Suryadewi
Miftachul Husna

(131610101051)
(131610101069)
(131610101073)
(131610101074)
(131610101079)
(131610101084)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga
kami dapat menyelesaikan tugas laporan yang berjudul Infeksi Odontogen. Laporan ini
disusun untuk memenuhi hasil diskusi tutorial kelompok IX pada skenario ketiga.
Penulisan makalah ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena
itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada :
1. Dr. Drg. Didin Erma Indahyani, M.Kes. selaku tutor yang telah membimbing jalannya
diskusi tutorial kelompok IX Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember dan yang
telah memberi masukan yang membantu bagi pengembangan ilmu yang telah
didapatkan.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.
Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan
perbaikan di masa mendatang demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat
berguna bagi kita semua.

Jember, September 2015

Tim Penyusun

Step I
1. MRS :
Magnetic Resonantion Spectroskopi, ini merupakan pemeriksaan penunjang pada
cidera khususnya kepala seperti pemeriksaan MRI akan tetapi lebih sensitif terhadap cairan.

2. Fluktuasi :
Keadaan terdapat suatu cairan pada suatu rongga sehingga apabila ditekan dapat
berpindah atau bergerak pada batasan tertentu tetapi dapat kembali lagi seperti bentuk
semula.
3. Obat bintang tujuh :
Merupakan salah satu produk dagang obat yang berisikan obat analgesik atau obat
pereda rasa nyeri.
4. Infeksi Odontogen :
Infeksi yang disebabkan oleh jaringan gigi, gigi, ataupun jaringan periodontal.
5. Palpebra Inferior/superior :
Merupakan selapis tipis kulit yang berisikan syaraf yang memiliki bahasa awam
kelopak mata. Berfungsi sebagai pelindungan dari benda asing ataupun cahaya serta
lubrikasi.
6. GCS :
Glasgo Coma Skala adalah skala yang digunakan untuk menentukan tingkat
kesadaran
Seseorang. Yang diukur melalui kemampuan buka mata dari nilai 4-0, respon motorik 6-0,
dan verbal 5-0.
7. Bukalfold :
Lipatan batas dari mukosa bergerak dan mukosa tidak bergerak.
8. Sulkus nasolabial:
Alur dari sudut bibir atas hingga hidung.
Step II
1. Mekanisme gigi 24 hingga menyebabkan pembengkakan? Dan bagian mana yang
dapat terinfeksi dari gigi 24?
2. Kenapa obat obat bintang 7 tidak dapat bekerja? Dan apakah terdapat hubungan
dengan pembengkakan?
3. Bagaimana infeksi odontogen dapat menyebabkan penurunan kesadaran?
4. Apa kaitan gcs dengan tindakan drg? Dan kenapa drg menyarankan melakukan
pemeriksaan MRs?
5. Dari gejala klinis apa diagnosis sementara?
6. Perawatan apa yang akan dilakukan?
7. Apa yang mungkin terjadi setelah perawatan?
Step III
1. Dari gigi 24 yang terdapat agen infeksi menyebar melalui tulang alveolar melalui
peristeum. Lalu menyebar melalui jaringan ikat. Penyebaran dipengaruhi virulensi,
jumlah bakteri,dan daya tahan tubuh.
2. Karena kandungan obat bintang tujuh berisikan analgesik yang bukan merupakan obat
untuk menghentikan invasi dan melawan bakteri. Obat itu hanyalah mampu menurunkan

rasa nyeri. Hubungan obat analgesik tanpa obat antiboiotik dapat membuat bakteri mudah
masuk atau menginvasi karena daya tahan tubuh diperlemah dengan menghambat
proinflamator.
3. Melalui syaraf tepi infeksi odontogen dapat menyerang sistem syaraf pusat melalui
duktuk toratikus dan vena.
4.
a. Dengan adanya nilai GCS yang rendah atau tingkat kesadaran yang rendah(cidera
kepala berat) dari infeksi odontogen maka harus menunggu atau meningkatkan kesadaran
dari pasien.
b. karena adanya infeksidari gigi yang mayoritas terdapat cairan serta karena adanya
cidera kepala berat. Sehingga, drg memutuskan untuk melakukan pemeriksaan MRS
untuk mengetahui sampai bagian mana saja manifestasi dari infeksi tersebut. Serta
mengetahui penyebab pasti penurunan kesadaran.
5. Diagnosa sementara : selulitis orbital superior. Karena adanya kemerahan serta
melibatkan lebih dari sama dengan dua spasium.
6. Tidakan-tindakan yang dilakukan:
Terapi antibiotik
Peningkatan kesadaran atau terapi supportif
Evaluasi apabila dirasa tetap atau semakin memburuk dilakukan pemeriksaan
lanjutan dan dilakukan kultur bakteri.
7. Komplikasi perawatan:
Resistensi bakteri karena terlalu lama pemakaian obat
Bakterimia
Step IV
Sisa Akar gigi 24

Infeksi Odontogen

Perawatan
Medikasi

Drainase dan bedah

Ekstrasi

Step V

Mahasiswa mengetahui dan menjelaskan:


1.
2.
3.
4.
5.

Diagnosa serta diagnosa banding dari penyakit di skenario.


Prosedur drainase serta macam drainase sesuai standart oprasional.
Prosedur medikasi sesuai standar oprasional.
SOP perawatan Infeksi odontogen.
Komplikasi penyakit dan post perawatan.

Step VII
1) Diagnosa
Dilihat dari gejala klinis dan pemeriksaan klinis, dapat disimpulkan bahwa diagnosa dari
skenario adalah Thrombosis Sinus Cavernosus. Trombosis sinus cavernosus (CST) pertama
kali disebutkan oleh Bright (1831) sebagai komplikasi dari infeksi Epidural dan Subdural.
Sinus-sinus dural dikelompokan menjadi sinus-sinus sagital, lateral (sinus transfersal, sinus
zygmoid dan sinus petrosal), dan sinus-sinus cavernosus. Oleh karena kompleksitas dari
anatomi neurovaskular, CST merupakan salah satu penyebab dari infeksi intrakranial. Infeksi
sinus paranasal yang tidak mendapatkan perawatan dapat berkembang lebih lanjut menjadi
CST. Adapun penyebab CST yang lain adalah bakteriemi, trauma kranial, dan infeksi telinga
serta infeksi pada gigi rahang atas. Sehingga tingkat kematian pada penderita CST cukup
tinggi, namun sejalan dengan penemuan obat antibiotik yang memiliki spektrum luas dapat
menurunkan insiden kematian pada penderita CST.
Trombosis sinus cavernosus (TSC) adalah suatu trombosis (bekuan darah) yang
berada di dalam penbuluh darah pada sinus cavernosus. Trombosis sinus cavernosus pertama
kali ditemukan sebagai komplikasi dari infeksi epidural dan subdural.
Sinus cavernosus adalah suatu rongga anatomis di dalam cranium yang terletak di
posterior cavum orbita, lateral sella tursica, dan superior sinus sphenoidalis. Sinus cavernosus
berisi anyaman pembuluh darah vena (vena opthalmicus superior dan inferior) dan arteri
(arteri carotis interna), serta beberapa nervus, seperti : n. occulomotoris, n. trochlearis, n.
opthalmicus, n. maksilaris, dan n. abducens. Pembuluh darah yang berada di dalam sinus
cavernosus berfungsi untuk membawa darah ke otak sedangkan saraf-saraf cranial yang
terdapat di sinus cavernosus berfungsi untuk mengontrol pergerakan mata dan sensorik dari
muka bagian atas dan bagian tengah dari kepala dan wajah.

Trombosis sinus cavernosus umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri (umumnya


Streptococcus pneumoniae dan Stafilococcus aureus) yang menyebar dari daerah sekitarnya,
seperti: telinga, hidung, mata, dan gigi (rahang atas). Penyebab lain yang jarang ditemukan
adalah jamur (Aspergillus dan Rhizopus). TSC ini sangat jarang ditemukan. Kondisi ini dapat
menyebabkan sakit di sekitar mata, kehilangan penglihatan, mata menonjol, mata tidak dapat
digerakkan ke beberapa arah, dan mata sayu.

Infeksi yang terjadi di regio fasialis, seperti jerawat di area nostril, labii superior, atau
nasal dapat menyebabkan inflamasi di daerah tersebut. Kondisi ini disebut selulitis yang
dapat menyebar ke sinus cavernosus. Jika kondisi ini terjadi, darah di dalam sinus akan
menjadi darah yang terinfeksi. Hal ini dapat terjadi karena pembuluh darah vena yang
terdapat di TSC tidak mempunyai katub. Darah dapat mengalir ke regio-regio tertentu
tergantung dari perbedaan tekanan dalam pembuluh darah.
Anamnesa
Tanda-tanda awal dan gejala trombosis sinus cavernosus (TSC) mungkin tidak
spesifik. Seorang pasien yang mengeluh sakit kepala dan setiap temuan kelainan saraf kranial
harus berpotensi dievaluasi untuk TSC.
Pasien umumnya memiliki sinusitis atau infeksi di wajah bagian tengah (paling sering
sebuah furunkel) selama 5-10 hari.

Presentasi klinis biasanya akibat obstruksi vena serta gangguan pada saraf kranial yang
dekat sinus kavernosa.
Sakit kepala adalah gejala presentasi yang paling umum dan biasanya mendahului demam,
edema periorbital, dan tanda-tanda saraf kranial. Sakit kepala biasanya berat, meningkat
secara progresif, dan biasanya terlokalisasi pada daerah yang diinervasi oleh cabang oftalmik
dan maksilaris dari saraf kranial kelima.

Sebagai saluran infeksi posterior, pasien mengeluh sakit orbital dan kepenuhan disertai

dengan edema periorbital dan gangguan visual

Tanpa terapi yang efektif, tanda-tanda akan muncul pada mata kontralateral dengan

menyebarkannya melalui pembuluh darah yang berhubungan dengan sinus kavernosa


kontralateral. Pembengkakan mata dimulai sebagai proses unilateral dan menyebar ke mata
lainnya dalam waktu 24-48 jam melalui sinus intercavernous. Ini adalah patognomonik untuk
TSC
Bila berkembang cepat, pasien akan mengalami perubahan status mental termasuk
kebingungan, mengantuk, dan koma dari SSP akibat sepsis.
Gejala yang umumnya timbul dari thrombosis sinus cavernosus adalah :

demam (hipertermi),

sakit pada daerah sekitar dan belakang mata,

penurunan kesadaran,

takikardi,

kaku kuduk,

kejang,

susah menggerakkan mata,

paralisa wajah (kebas),

mata tampak sayu,

bengkak pada kelopak mata dan membran yang menutupi sklera,

mata tampak menonjol,

gangguan pendengaran, atau keluar cairan dari telinga,

keluar sekret berwarna kuning, hijau, atau merah (darah) dari sinus, dan

diplopia atau kehilangan penglihatan.

Untuk menegakkan diagnosa, dapat dilakukan beberapa tes seperti :

1. Tes pungsi lumbar, tes ini dilakukan dengan cara mengambil sampel cairan dari
medulla spinalis (untuk menunjukkan tanda-tanda infeksi).
2. CT Scan

3. MRI

4. Kultur bakteri dapat dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri penyebab. Sampel


dapat diambil dari darah, cairan atau pus dari tenggorokan atau hidung.
5. Dapat dilakukan angiography untuk menunjang diagnosa

DIAGNOSA BANDING (Sharma et al, 2008)


a.
b.
c.
d.
e.
f.

Cellulitis Orbita
Epidural and Subdural Infections
Epidural Hematoma
Glaucoma, Acute Angle-Closure
Orbital Infections
Sinusitis

g. Subarachnoid Hemorrhage
h. Subdural Hematoma
Selulitis Orbita
Unilateral

Trombosis sinus cavernosus


Bilateral

Refleks pupil normal

Refleks pupil menurun

Edema papil (-)

Edema papil (+)

Rasa sakit hebat

Rasa sakit tidak hebat

2) Drainase
Drainase adalah saluran yang dibuat pada jaringan lunak untuk mengeluarkan eksudat.
Syarat- Syarat Drainase
-Memilih daerah yang bebas berdasarkan pertimbangan estetik
-Harus dapat mengurangi tekanan
-Tidak mencederai banyak jaringan
-Tidak menyebabkan banyak perdarahan
-Didaerah yang mudah dan memanfaatkan gravitasi
-Harus dapat mengeluarkan pus
-Tidak menimbulkan rasa sakit
Macam-Macam Drainase
A. Insisi
Insisi pada abses memberikan drainase dan pengeluaran bakteri dari jaringan
dibawahnya.
1. Prinsip Insisi:
a

Insisi pada daerah yang sehat bila keadaan memungkinkan, insisi pada daerah yang
mengalami fluktuasi paling besar akan menyebabkan bekas luka yang sulit hilang.

b Daerah insisi pada daerah yang terlindungi, sehingga bekas sayatan tidak tampak.
c

Jika memungkinkan lakukan insisi pada daerah yang terendah dari abses.

d Bersihkan semua eksudat dalam rongga bases.


e

Stabilisasi posisi drain dengan jaringan lunak sekitarnya.

Gunakan drain ekstra oral.

g Jangan gunakan drain yang sama pada waktu yang lama.


h Bersihkan di sekitar luka dari darah dan debris.
Hal-hal lain yang harus diperhatikan pada tindakan insisi adalah
1) irigasi dengan normal saline pada daerah pembengkakan untuk menghilangkan
debris dan merubah lingkungan yang mendukung perkembangan bekteri
menjadi sebaliknya.

2) Dilakukan insisi yang cukup besar untuk memasukkan drain sehingga


pembukaannya

akan

bertahan

cukup

lama,

drain

dimasukkan

dan

dipertahankan dengan jahitan.


3) Dilakukan penggantian drain setiap hari sampai tidak ada lagi pengeluaran pus
4) Dilakukan perawatan pendukung dengan antibiotik dan analgesik
5) Perlu ditekankan penderita harus makan dan minum cukup
6) Penderita harus memantau adanya gejala penyebaran infeksi berupa demam,
meningkatnya rasa sakit dan trismus atau disfagia.
7) Faktor etiologi harus dihilangkan baik dengan cara kuretase, ekstirpasi pulpa
atau pencabutan
8) Apabila keadaan tidak membaik maka dilakukan peningkatan dosis antibiotik
atau sebaiknya dilakukan konsultasi ke ahli bedah mulut.
Prosedur
1. Siapkan perlengkapan sebagai berikut:
a. Apron
b. Sarung tangan
c. Masker wajah dengan pelindung
d. Povidone iodine atau chlorhexidine
e. Kasa steril
f. Lidocain 1% atau Lidocain + epinefrin atau Bupivacaine
g. Spuit 5-10 ml
h. Jarum
i. Pisau scalpel (nomor 11 atau 15) dengan gagangnya
j. Klem bengkok
k. Normal saline dengan bengkok sterill. Spuit besar tanpa jarum
m. Gunting
n. Plester
2. Persiapan
a. Minta persetujuan tindakan dokter kepada pasien atau keluarga dekatnya
b. Pastikan identitas pasien, tempat pembedahan
c. Cuci tangan dengan sabun antibakteri dan air
d. Pakai sarung tangan dan pelindung muka

e. Letakkan semua perlengkapan pada tempat yang mudah diraih, diatas meja
tindakan
f. Posisikan pasien sehingga daerah drainase terpapar penuh dan dapat dicapai
secara mudah dan kondisinya nyaman untuk pasien
g. Pastikan cahaya yang memadai agar abses mudah dilihat
h. Bersihkan daerah abses dengan chlorhexidine atau povidon iodine, dengan
gerakan melingkar, mulai pada puncak abses
i. Tutupi daerah disekitar abses untuk mencegah kontaminasi alat
j. Anestesi atas abses dengan memasukkan jarum dibawah dan sejajar dengan
permukaan kulit.
k. Suntikkan obat anestesi ke dalam jaringan intra dermal
l. Teruskan infiltrasi sampai anda sudah mencapai seluruh puncak dari abses
yang cukup besar untuk menganestesi daerah insisi.
3. Prosedur Insisi dan drainase abses
a. Pegang skalpel dengan jempol dan jari telunjuk untuk membuat jalan masuk
ke abses
b. Buat insisi secara langsung diatas pusat abses kulit
c. Insisi harus dilakukan sepanjang aksis panjang dari kumpulan cairan
d. Kendalikan skalpel secara berhati-hati selama insisi untuk mencegah
tusukan melalui dinding belakang
e. Perluas insisi untuk membuat lubang yang cukup lebar untuk drainase yang
memadai dan mencegah pembentuk abses yang berulang
f. Tekan isi abses
g. Masukkan klem bengkok sampai anda merasakan tahanan dari jaringan
sehat, kemudian buka klem untuk menghancurkan bagian dalam dari rongga
abses
h. Teruskan penghancuran lokulasi dalam gerakan memutar sampai seluruh
rongga abses sudah dieksplorasi
i. Bersihkan luka dengan normal saline, gunakan spuit tanpa jarum
j. Teruskan irigasi sampai cairan yang keluar dari abses jernih
k. Upayakan agar dinding abses tetap terpisah dan memungkinkan drainase
dari debris yang terinfeksi

4. Perawatan lanjutan
a. Untuk abses sederhana tidak perlu antibiotika.
b. Untuk selulitis yang luas dibawah abses gunakan antibiotika
c. Tutup luka abses dengan kasa steril
d. Keluarkan semua benda-benda dari abses dalam beberapa hari
e. Jadualkan kontrol 2atau 3 hari sesudah prosedur untuk mengeluarkan
bahan-bahan dari luka
f. Minta kepada pasien untuk kembali sebelum jadual bila ada tanda-tanda
perburukan, meliputi kemerahan, pembengkakan, atau adanya gejala sistemik
seperti demam
B. Punctie
a. Pengertian
Punctie (biasa diartikan tusukan) adalah prosedur medis dimana jarum digunakan
untuk membuat rongga yang bertujuan mengeluarkan darah , cairan atau jaringan dari
tubuh untuk pemeriksaan pada setiap kelainan pada sel atau jaringan. Punctie yang
merupakan praktek memasukkan jarum atau membuat sebuah lubang kecil di
jaringan, organ, untuk mengekstrak gas, cairan atau sampel. Pada tusukan, dapat
mencapai superficial.
Tindakan pungsi bertujuan bertujuan untuk menegakkan diagnosis sekaligus untuk
maksud terapi juga untuk mengurangi pus yang ada, sehingga pada saat insisi nanah
tidak terlalu banyak mengalir ke luar (menghindari terjadinya aspirasi)..
b. Kelebihan
Terapi pungsi mempunyai beberapa kelebihan,.yaitu :
1. Mudah dikerjakan.
2. Dikerjakan sekaligus untuk keperluan diagnosis dan terapi,sehingga trauma
jaringan lebih kecil.
3. Tidak menakutkan penderita.
4. Metode lebih mudah, aman dan murah. Pungsi hanya memerlukan alat
berupa alat suntik (semprit dan jarum no.18 G) dan spatula lidah, sedangkan
insisi memerlukan alat suntik untuk diagnosis, pisau lengkung, alat penghisap
atau kain kasa penghisap untuk mencegah terjadinya aspirasi.
c. Teknik Pungsi
Sebuah tusukan dilakukan dengan jarum atau trocar (kanul memotong atau
menusuk). Tempat masuk menusuk kulit. Instrumen yang digunakan harus

dinyatakan steril, setelah pemeriksaan klinis,pasien mungkin bisa dilakukan


sinar-X. Kulit didesinfeksi, dalam anestesi local/umum.
Sampel yang diambil kemudian akan diperiksa histologis (biopsi) atau
ditempatkan di laboratorium diagnostik.
Eksplorasi tusukan untuk mendirikan atau mengkonfirmasikan diagnosis.
Pada infeksi rongga mulut yang sering menggunakan cara pengobatan dengan punctie
adalah apabila diagnosanya adalah abses peritonsil.Dimana punctie dilakukan terlebih
dahulu sebelum dilakukan perawatan lanjutan berupa insisi drainase. Hal ini
dimaksudkan untuk mengurangi pus yang ada, sehingga pada saat insisi nanah tidak
terlalu banyak mengalir ke luar (menghindari terjadinya aspirasi).
C. Open Bur
Rongga patologis yang berisi pus ( abses ) bisa terjadi dalam daerah
periapikal, yang notabene adalah didalam tulang. Untuk mencapai luar tubuh, maka
abses ini harus menembus jaringan keras tulang, mencapai jaringan lunak. Jika
periosteum sudah tertembus oleh pus yang berasal dari dalam tulang tadi, maka
dengan bebasnya, proses infeksi ini akan menjalar menuju facial space terdekat,
karena telah mencapai area jaringan lunak.
Terapi menggunakan drainase dengan cara insisi jaringan lunak dimana pus tersebut
ada pada jaringan keras tersebut kemudian bur tulang hingga mencapai rongga berisi
pus tersebut, kemudian masukkan hemostat hingga kedalaman rongga pus tersebut.
Selanjutnya rubber drain setelah drainase.
D. Memakai Jarum Ekstirpasi
Drainase menggunakan jarum ekstirpasi pada abses periapikal
Gigi nekrosis dengan pembengkakan terlokalisasi atau abses alveolar akut atau
disebut juga abses periapikal / periradikuler akut adalah adanya suatu pengumpulan pus
yang terlokalisasi dalam tulang alveolar pada apeks akar gigi setelah gigi nekrosis.
Biasanya pembengkakan terjadi dengan cepat, pus akan keluar dari saluran akar ketika
kamar pulpa di buka.
Perawatan abses alveolar akut :
1. mula-mula dilakukan buka kamar pulpa
2. kemudian debridemen saluran akar yaitu pembersihan dan pembentukan saluran
akar secara sempurna bila waktu memungkinkan.

3. lakukan drainase dengan menggunakan jarum ekstirpasi untuk meredakan tekanan


dan nyeri serta membuang iritan yang sangat poten yaitu pus.
4. Pada gigi yang drainasenya mudah setelah pembukaan kamar pulpa, instrumentasi
harus dibatasi hanya di dalam sistem saluran akar. Pada pasien dengan abses
periapikal tetapi tidak dapat dilakukan drainase melalui saluran akar, maka
drainase dilakukan dengan menembus foramen apikal menggunakan file kecil
sampai no. 25.
5. Selama dan setelah pembersihan dan pembentukan saluran akar, lakukan irigasi
dengan natrium hipokhlorit sebanyak-banyaknya.
6. Saluran akar dikeringkan dengan poin kertas, kemudian diisi dengan pasta
kalsium hidroksida dan diberi pellet kapas lalu ditambal sementara (Grossman,
1988; Walton and Torabinejad, 2002).
Beberpa klinisi menyarankan, jika drainase melalui saluran akar tidak dapat
dihentikan, kavitas akses dapat dibiarkan terbuka untuk drainase lebih lanjut,
nasihatkan pasien berkumur dengan salin hangat selama tiga menit setiap jam. Bila
perlu beri resep analgetik dan antibiotik. Membiarkan gigi terbuka untuk drainase,
akan mengurangi kemungkinan rasa sakit dan pembengkakan yang berlanjut
(Grossman, 1988, Bence, 1990).
Penatalaksanaan kasus-kasus dengan pembengkakan paling baik ditangani dengan
drainase, saluran akar harus dibersihkan dengan baik. Jika drainase melalui saluran
akar tidak mencukupi, maka dilakukan insisi pada jaringan yang lunak dan
berfluktuasi. Saluran akar harus dibiarkan terbuka dan lakukan debridemen, kemudian
beri pasta kalsium hidroksida dan tutup tambalan sementara. Sebaiknya diberi resep
antibiotik dan analgetik (Grossman, 1988; Walton and Torabinejad, 2002).
E. Ekstraksi Gigi
Teknik Drainase Dengan Cara Pencabutan Gigi
Drainase menggunakan teknik ini digunakan pada kasus yang jika cairan
tersebut berada di sekitar apikal gigi misalnya abses periapikal. Cara-caranya adalah
seperti pada pencabutan gigi pada umumnya.
1. Gigi insisivus atas dicabut dengan menggunakan tang #150, dengan pinch grasp dan
tekanan lateral (fasial/lingual) serta rotasional. Tekanan lateral lebih ditingkatkan pada
arah fasial, sedangkan tekanan rotasional ke arah mesial.

2. Gigi insisivus bawah dicabut dari posisi kanan atau kiri belakang dengan
menggunakan tang #150 dan sling grasp. Tekanan permulaan adalah lateral dengan
penekanan ke arah fasial. Ketika mobilisasi pertama dirasakan, kombinasi dengan
tekanan rotasional sangat efektif.
3. Gigi kaninus atas sangat sukar dicabut karena memiliki akar yang panjang dan
tulang servikal yang menutupinya padat dan tebal. Gigi ini dicabut dengan cara pinch
grasp. Tang yang digunakan #150 dipegang dengan telapak tangan ke atas. Ada
alternative untuk gigi ini yaitu dengan menggunakan tang kaninus khusus, #1.
Tekanan pencabutan yang utama adalah ke lateral terutama fasial, karena gigi
terungkit ke arah tersebut. Tekanan rotasional digunakan untuk melengkapi tekanan
lateral, biasanya dilakukan jika sudah terjadi sedikit luksasi.
4. Gigi kaninus bawah dicabut dengan tang #151, yang dipegang dengan telapak
tangan ke bawah dan sling grasp. Tekanan yang diberikan adalah tekanan lateral
fasial, karena arah pengeluaran gigi adalah fasial. Tekanan rotasional bias juga
bermanfaat.
5. Gigi premolar atas dicabut dengan tang #150 dipegang dengan telapak ke atas dan
dengan pinch grasp. Premolar pertama dicabut dengan tekanan lateral; ke arah bukal
yang merupakan arah pengeluaran gigi. Gerakan rotasional dihindarkan karena gigi
premolar pertama atas ini memiliki dua akar. Aplikasi tekanan yang hati-hati pada gigi
ini untuk mengurangi terjadinya fraktur akar. Fraktur pada gigi ini bias diperkecil
dengan membatasi gerak ke arah palatal. Gigi premolar kedua biasanya mempunyai
akar yang tunggal dan dicabut yang sama dengan gigi kaninus atas. Tang #150
digunakan kembali dengan tekanan lateral, yaitu bukal serta lingual. Pada waktu
mengeluarkan gigi ke arah bukal, digunakan kombinasi tekanan rotasional dan
oklusal.
6. Gigi premolar bawah,cara pencabutannya sangat mirip dengan teknik pencabutan
gigi insisivus bawah. Tekanan yang terutama diperlukan adalah lateral/bukal, tetapi
pada akhirnya bias dikombinasi dengan tekanan rotasi. Pengeluaran gigi ini ke arah
bukal.
7. Gigi molar atas dicabut dengan menggunakan tang #150, #53 atau #210, dipegang
dengan telapak tangan ke atas dan pinch grasp. Tang #210 walaupun ideal untuk
pencabutan molar ketiga atas, dianggap universal dan dapat digunakan untuk molar
pertama dan kedua kanan dan kiri atas. Tekanan pencabutan utama adalah ke arah
bukal yaitu arah pengeluaran gigi.
8. Gigi molar bawah diicabut dengan menggunakan tang #151, #23, #222. Tang #17
bawah, mempunyai paruh yang lebih lebar, yang didesain untuk memegang bifurkasi

dan merupakan pilihan yang lebih baik asalkan mahkotanya cocok. Tekanan lateral
untuk permulaan pencabutan gigi molar adalah ke arah lingual. Tulang bukal yang
tebal menghalangi gerakan ke bukal dan pada awl pencabutan gerak ini hanya
mengimangi tekanan lingual yang lebih efektif. Gigi molarsering dikeluarkan ke arah
lingual.

Arti istilah
Pinch grasp adalah teknik menggunakan elevator atau tang yang efektif tergantung
pula pada retraksi pipi atau bibir dan stabilitas prosesus alveolaris. Pinch grasp terdiri
dari memegang prosesus alveolaris di antara ibu jari dan telunjuk dengan tangan yang
bebas.
Sling grasp mandibula memungkinkan retrraksi pipi/lidah, memberikan dukungan
pada mandibula.biasanya dukungan diperoleh dengan memegang mandibula di antara
ibu jari dan telunjuk dengan tangan yang bebas. Sehingga dengan ini TMJ terlindung
dari tekanan tang yang berlebihan.
Pemeliharan Pasca Operatif
Apabila riwayat menunjukkan adanya infeksi agresif yang terjadinya
mendadak (tiba-tiba) maka perlu dilakukan pengontrolan terhadap pasien yakni 24
jam setelah perawatan. Apabila infeksi nampak lebih jinak dengan durasi yang lebih
lama dan tidak disertai tanda yang membahayakan, maka kunjungan berikutnya bisa
ditunda sampai 48 jam. Perkembangan yang terjadi dipantau apakah keadaannya
membaik atau memburuk. Perubahan pembengkakan dicatat (ukuran, konsistensi,
fluktuasi) apakah tempat drainase masih memadai, dan dicatat pula bagaimana sifat
pernanahannya. Temperatur diukur atau diamati dan pasien dianjurkan untuk
memperhatikan gejala baru yang timbul. Apabila kontrol dan resolusi kondisi akut
telah berjalan baik, maka faktor-etiologi bisa dihilangkan yakni dengan kuretase,
ekstirpasi pulpa, operkulektomi, atau pencabutan. Apabila kondisinya tidak membaik
maka diperlukan perawatan yang bersifat segera. Apabila tidak dilakukan kultur,
tindakan yang dilakukan biasanya dengan meningkatkan dosis antibiotik dan bukan
merubah jenis antibiotiknya. Kadang-kadang perlu dipertimbangkan untuk dilakukan
rujukan yakni apabila menjumpai infeksi orofasial akut yang membahayakan
kehidupan.

3) Medikasi
Terapi antibiotic yang dilakukan secara luas mengakibatkan meningkatnya
jumlah pasien yang alergi dan resistensi beberapa organism terhadap obat. Dua hal
tersebut harus dipertimbangkan apabila akan melakukan terapi dengan antibiotik.
Selain itu sebaiknya didapatkan riwayat lengkap sebelumnya, karena respons negative
yang terjadi pada pengobatan sebelumnya bukan merupakan jaminan bahwa
pengobatan selanjutnya aman, yakni tidak terjadi laergi silang pada kelompok obat
tertentu yang akan diberikan. Pemberian antibiotic terutama secara oral bisa
mereduksi flora gastrointestinal yang terlibat dalam sintesis vitamin K. Apabila
seseorang mempunyai kelainan pembekuan darah yang disebabkan karena penyakit
hepar, atau terapi warfarin (Coumadin), maka terapi antibiotic dapat menyebabkan
tertundanya proses pembekuan darah atau terjadi perdarahan spontan. Belumnya
bukan merupakan jaminan bahwa pengobatan selanjutnya.
Penggunaan antibiotik
Apabila memungkinkan, sebaiknya pemilihan obat didasarkan pada hasil
smear/pewarnaan gram, kultur dan tes sensitivitas. Antibiotic yang dipilih diresepkan
dengan dosis yang adekuat dan jangka waktu yang memadai. Dosis subklinis tidak
efektif dan bisa mengakibatkan terjadinya resistensi pada bakteri pathogen tertentu.
Kombinasi antibiotic tertentu misalnya satu atau dua macam obat yang biasanya
digunakan di Rumah Sakit untuk infeksi-infeksi yang serius. Terapi antibiotic
kombinasi yang biasanya dilakukan adalah suatu antibiotic spectrum luas dengan obat
yang termasuk dalam kelompok aminoglikosid. Untuk merawat infeksi dengan baik
biasanya dilakukan dengan mengkombinasikan perawatan bedah, supportif, dan
antibiotik.
Penicillin
Penicillin adalah antibiotic yang paling sering digunakan. Baik yang alami
maupun semisintetis mempunyai aktivitas bakteriosidal spectrum luas, dan
bekerja dengan kalan mengganggu pembentukan dan keutuhan dinding sel bakteri.
Penicillin adalah obat utama untuk mengobati sebagian besar penyakit infeksi
orofasial dan untuk profilaksis pada pasien risiko tinggi terhadap infeksi, apabila
tidak ada riwayat alergi.
Erythromycin
Erythromycin adalah antibiotic yang penting karena bisa digunakan untuk orang
yang alergi terhadap penicillin. Erythromycin efektif terhadap bakteri gram positif
yang peka terhadapnya. Obat ini biasanya tidak efektif untuk bakteri gram

negative. Erythromycin menghambat sintesis protein pada bakteri, bisa bersifat


bakteriostatis terhadap bakteri tertentu dan bakteriosid terhadap bakteri yang lain.
Cephalosporin
Cephalosporin secara structural dan farmakologis mirip dengan penicillin, yang
bisa menjelaskan reaksi alergnik-silang antara kedua kelompok tersebut
(kemungkinannya 5-10%, tetapi bisa lebih rendah apabila diberikan secara oral).
Cephalexin, cephaloglycin, cefadroxil, cephradine bisa digunakan secara oral dan
bisa diabsorbsi dengan baik di dalam saluran gastrointestinal. Cephalosporin
bersifat

bakterisid

terhadap

sebagian

besar

jenis

Streptococcus

dan

Staphylococcus tetapi tidak efektif terhadap sebagian coccus gram negatif dan
batang yang sering terlibat dalam infeksi orofasial. Cephalosporin jangan
digunakan sebagai antibiotic utama tetapi sebaiknya digunakan sebagai cadangan
untuk kasus-kasus dimana tes sensitivitas menunjukkan bahwa obat tersebut
adalah yang paling efektif.
Lincosamide
Clindamycin yang merupakan suatu derivate dari lincomycin, bisa diabsorpsi
dengan cepat apabila diberikan secara oral, dan mencapai konsentrasi maksimum
dalam darah selama -1 jam. Secara umum kegunaannya sangat dibatasi yakni
pada orang yang menderita kelainan ginjal. Clindamycin bersifat bakterisid, yatu
dengan cara menghambat sintesis protein. Walaupun clindamycin efektif terhadap
sebagian bakteri gram positif, indikasinya terutama untuk perawatan infeksi yang
disebabkan oleh coccus gram positif anaerob dan batang gram negative.
Clindamycin dicadangkan untuk infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri
anaerob yang rentan terhadap obat ini, dan pada kasus dimana respon terhadap
penicillin kurang baik. Indikasi lainnya dalah pada pasien yang mengalami infeksi
yang parah dan alergi terhadap penicillin.
Metronidazole
Metronidazole adalah anti protozoa mulut (Trichomonas, Entamoeba) dan antibakteri. Cara kerja bakteriosidnya dengan jalan mengganggu sintesis DNA. Obat
ini bisa diabsorpsi dengan baik apabila diberikan secara oral, dan terserap dengan
baik pada kebanyakan cairan dan jaringan tubuh termasuk saliva dan cairan
serebrospinal. Metronidazole efektif untuk bakteri anaerob. Apabila digunakan
pada kasus campuran (anaerob dan aerob), maka perlu ditambahkan antibiotic

yang sesuai untuk infeksi aerob. Pada kondisi penyakit hepar yang parah, dosisnya
dikurangi. Efek samping yang paling sering terjadi adalah mual, disertai dengan
sakit kepala, anoreksia dan kadang-kadang muntah.
Tetracyclin
Tetracycline merupakan obat yang bersifat bakteriostatis yang bekerja dengan
jalan menghambat sintesis protein. Tetracycline tidak dianjurkan sebagai obat
utama untuk infeksi orofasial yang serius. Obat ini sebaiknya digunakan apabila
tes sensitivitas menunjukkan perlunya pemberian obat tersebut, atau obat lain
tidak ada, atau pasien alergi terhadap obat utama. Untuk membantu absorpsinya,
sebaiknya obat ini diminum 1-2 jam sebelum atau sesudah makan. Tetracycline
yang digunakan selama odontogenesis, yaitu pertengahan kedua masa kehamilan
sampai anak berumur 8 tahun, bisa mengakbatkan perubahan warna pada gigi
(kuning, abu-abu, coklat).
Obat-obatan topical biasanya sering diberikan dalam b entuk kombinasi dengan
yang lain supaya spektrumnya lebih luas misalnya Bacitracin, Neomycin,
Gramicidine, Polymyxin B atau kombinasi lainnya.
Trombosis sinus cavernosus tidak menular dan bukan penyakit keturunan. Tidak
ada predileksi ras dan jenis kelamin. Kondisi ini dapat terjadi pada semua usia.
Trombosis sinus cavernosus dapat mengancam jiwa pasien sehingga memerlukan
terapi segera. 2-3 dari 10 penderita dapat meninggal. Terapi yang dapat diberikan
adalah antibiotik dosis tinggi (antibiotik spectrum luas), diberikan secara intravena
selama 3-4 minggu. Kortikosteroid dapat diberikan untuk mengurangi gejala
inflamasi. Antikoagulan masih merupakan perdebatan untuk digunakan sebagai terapi
dari TSC, beberapa literatur menyatakan pemberian antikoagulan dapat mengurangi
resiko terjadinya septic emboli. Apabila kondisi penderita tidak bertambah baik,
dokter dapat melakukan drainase bedah pada sinus. Angka kematian dari trombosis
sinus cavernosus menurun seiring dengan banyaknya antibiotik dosis tinggi yang
ditemukan.
4) SOP Perawatan Infeksi Odontogen
a. anamnesa perlu diketahui riwayat penyakit mengenai onset, lamanya, kemungkinan
lokal infeksi primer, intensitas penyakit, adanya kambuh ulang dari infeksiserupa,
serta perawatan yang dialami, perlu juga ditanyakan kemungkinan adanya gejala
sistemik.

b. pemeriksaan klinik meliputi pemeriksaan ekstraoral dan intraoral berupa inspeksi,


palpasi, dan perkusi.
c. diagnosa diambil berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan klinik.
d. penatalaksaan kasus perawatan infeksi odontogenik meliputi :
1. perawatan medik. Berupa pemberian antibiotik yang adekuat dan tepatuntuk
meredakan infeksinya, analgesik dan antiperetik untuk rasa sakit,dan
demam.
2. perawatan

pembedahan.

drainasemerupakan

Evakuasi

tindakan

yang

pus

dengan

sangat

ampuh

cara

insisi

untuk

dan

tindakan

infeksiodontogenik.
3. perawatan gigi penyebab. Gigi penyebab perlu di ekstraksi, namun
adakontraversi mengenai waktu pencabutan. Ada sebagian ahli berpendapat
pencabutan di fase akut berpotensi menyebabkan infeksidan memperberat
keadaan pasien. Sedangkan, kelompok ahli lain berpendapat bahwa
pencabutan pada stadium akut justru akan terjadidrainase pus dan
menyebabkan penyembuhan dini.
4. perawatan suportif. Penderita dengan infeksi odontogen dapatmengalami
penurunan daya tahan tubuh karena rasa sakit dan pembengkakan. Rasa
sakit menyebabkan penderita tidak dapat beristirahat dengan cukup dan
kekurangan asupan nutrisi. Oleh karenaitu pasien di anjurkan untuk makanmakanan tinggi kalori dan tinggi protein.e. post operatif f. monitoring dan
controlsetelah penderita mendapatkan perawatan intensif bedah dan
antibiotik,lakukan evaluasi hasil perawatan dengan mengawasi keadaan
penderita,umumnya
perawatan, bilamana

penderita
terapi

diperiksa

berhasil

kembali

biasanya

setelah

penderita

dua

hari

mengalami

penurunan rasasakit dan pembengkakan yang signifikan. Bilamna hasil


perawatan tidak menunjukkan perbaikan, perlu diperhatikan kembali,
apakah drainasecukup memadai, apakah gigi sudah dapat diekstraksi,
apakah insisi yangsebelumnya tidak dapat dilakukan sudah dapat dilakukan.
5) Komplikasi Thrombosis Sinus Cavernosus
Komplikasi yang dapat terjadi adalah ;
- Meningitis
- Kebutaan
- Shock
- Sepsis
- Sepsis emboli
- Aneurisma mikotik.

Tetapi aneurisma mikotik jarang terjadi dan dapat diobati dengan antibiotik,
ligasi karotis, oklusi balon arteri karotis internal, atau GDC. Aneurisma mikotik
pada sinus cavernosa dapat hadir sebagai obtalmoblegia, diplopia, orbital
pembengkakan dan gangguan visua. Pemulihan visual dapat terjadi setelah
embolisasi

aneurisma

mikotik

karena

tromboflebitis

sinus

carvenosus

menunjukkan kemungkinan terapi yang berhasil tanpa komplikasi.

KESIMPULAN
Dari apa yang telah dibahas, maka dapat diambil kesimpulan, yaitu :
1.

Trombosis sinus cavernosus (TSC) adalah pembentukan bekuan darah di dalam sinus
cavernosus, dalam rongga di dasar otak yang mengalir darah terdeoksigenasi dari otak
kembali ke jantung. Penyebabnya biasanya dari penyebaran infeksi di hidung, sinus, telinga,
atau gigi. Trombosis sinus cavernosus pertama kali ditemukan sebagai komplikasi dari infeksi
epidural dan subdural.

2.

Trombosis sinus cavernosa (TSC) merupakan fenomena langka yang memerlukan


kecurigaan klinis dan pencitraan darurat untuk diagnosis yang tepat

3.

Pengobatan trombosis sinus kavernosus, bagaimanapun, adalah sama-sama menarik dan


saling berhubungan untuk kedua spesialis tersebut di atas dan bahkan sangat menguntungkan
bila mungkin yang terlibat yaitu perhatian ahli saraf, ahli bedah saraf dan (dari sudut pandang
prognosis) penyakit dalam dan ahli bedah umum.

4.

Andalan terapi untuk trombosis sinus kavernosus adalah pemberian antibiotik secara dini
dan agresif. Kortikosteroid dapat membantu untuk mengurangi peradangan dan edema dan
harus dipertimbangkan sebagai terapi tambahan.

DAFTAR PUSTAKA
Wijana, N, 1993, Ilmu Penyakit Mata 6th ed . Balai Penerbit FK Unika Atmajaya , Jakarta.
Sharma

R, Bessman E,

2011, Cavernous

Sinus

Thrombosis.

Diakses

dari: http://emedicine.medscape.com/article/791704-overview
Garrity,

J.

2008

. Cavernous

Sinus

Thrombosis.

Diakses

dari

:http://www.merckmanuals.com/professional/eye_disorders/orbital_diseases/cavernou
s_sinus_thrombosis.html?qt=&sc=&alt=#top
Pedersen, Gordon W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta :Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Birnbaum, warren. Dunne, Stephen.M. Diagnosis kelainan dalam mulut. Alih bahasa :
hartono ruslijanto. Jakarta. EGC. 2009. P.122-4