Anda di halaman 1dari 29

PNEUMOCYSTIS

PNEUMONIA
IRA DITYA TUNJUNGSARI
10711032
STASE PENYAKIT DALAM

PENDAHULUAN
Pneumocystis carinii pneumonia (PCP)
adalah infeksi oportunistik yang terjadi
pada pasien pasien immunosupresif
Penyakitnya sendiri menjadi semakin
dikenali secara luas seiring dengan
epidemik AIDS.
Karena onset dari penyakitnya cepat dan
menyerang pasien dengan
imunokompromis, prognosis dari penyakit
ini buruk bahkan bisa terjadi kegagalan
nafas yang menyebabkan mortalitas.

DEFINISI DAN ETIOLOGI


Pneumocystis carinii pneumonia (PCP)
merupakan infeksi yang disebabkan oleh
jamur Pneumocystis carinii, sekarang lebih
dikenal dengan nama Pneumocystis jiroveci
Organisme ini pertama kali ditemukan
Chagas (1909).
Pada tahun 1942, Meer dan Brug pertama
kali menyatakan bahwa organisme ini
merupakan salah satu jenis parasit patogen
pada manusia
Baru pada tahun 1952 Vanek bekerjasama
dengan Otto Jiroveci menggambarkan siklus
paru dan patologi dari penyakit ini

Nomenklatur dari Pneumocytis jiroveci

Kingdom
: Fungi
Subkingdom
: Dikarya
Phylum
: Ascomycota
Subphylum
: Taphrinomycotina
Class
: Pneumocystidomycetes
Order
: Pneumocystidales
Family
: Pneumocytidaceae
Genus
: Pneumocytis
Species
: Pneumocytis jiroveci

MORFOLOGI
Bentuk pleomorfik dan uniseluler
berukuran 1-5 dan memperbanyak diri
secara mitosis
Berdinding tipis dengan ekspansi tubular
yang disebut sebagai folipodium
umumnya mempunyai 1 inti namun
terkadang dapat lebih dari 2 inti
Pada pewarnaan giemsa inti berwarna ungu
gelap dan sitoplasma biru terang

Trofozoit yang kecil (1-1,5) ditemukan di


dekat kista yang berdinding tebal,
berbentuk bulan sabit menyerupai
intracystic bodies
Trofozoit yang besar menempel pada
dinding alvelous dan mempunyai dinding
tipis yang sama dengan trofoit yang kecil
tetapi mempunyai filopodium dan
pseudopodium sehingga berbentuk
ameboid.

Stadium prakista
Merupakan bentuk intermediate antara
trofoid dan kista
Bentuk oval, ukuran 3-5 dan dindingnya
lebih tebal (berkisar antara 40-120
jumlah inti 1-8
Dengan mikroskop, bentuk ini sukar
dibedakan dari stadium lainnya

Stadium kista
Stadium ini merupakan bentuk diagnostik
untuk pneumosistosis, juga diduga sebagai
bentuk infektif pada manusia
bentuknya bulat dengan diameter 3,5-12
(kurang lebih 6 )
mengandung 8 sporozoit atau trofozoit yang
sedang berkembang (intracystic bodies)
yang berdiameter 1-1,5
Sporozoit tersebut dapat berbentuk seperti
buah peer, bulan sabit atau kadang terlihat
kista berdinding tipis dengan suatu massa
di tengah yang homogen atau bervakuol.

Kista dan trofozoit mudah diwarnai dengan


giemsa atau dengan cara gram
Pawarnaan dengan giemsa baik untuk
melihat bagian bagian dari parasit. Kapsul
berwarna ungu merah, sitoplasma ungu dan
inti ungu biru.
Kista yang tidak mengambil warna dianggap
sebagai kista yang berdegenerasi
Untuk menemukan kista, pewarnaan yang
paling cocok adalah gomori-silver

Epidemiologi
Selama dekade 1980-an di Amerika Serikat
diperkirakan 75% penderita Human
Immunodeficiency Virus (HIV) akan
menderita PCP selama hidupnya
Awal epidemik insidens PCP hampir 20
kasus per 100 penderita HIV dengan Cluster
of differentiation (CD)4 kurang dari
200sel/mm3
Profilaksis PCP yang dikenal pertama kali
tahun 1989 dan penggunaan kombinasi
terapi Anti Retroviral (ARV) tahun 1996
menurunkan insidens PCP

PCP merupakan infeksi oportunistik yang


serius penderita HIV walaupun dilaporkan
insidennya menurun
PCP meningkat dinegara dengan
pendapatan kapita yang rendah sampai
sedang
Sejumlah 38,6% dari 83 penderita HIV di
Uganda yang dirawat di RS dengan
penumonia dan pada pemeriksaan sputum
BTA negatif didiagnosis PCP dengan
pemeriksaan Bronchoalveolar lavage (BAL)

PATOGENESIS
Transmisi dari orang ke orang diduga
melalui infeksi droplet respiratori (tertelan
ludah) dan kontak langsung
Kebanyakan peneliti menganggap transmisi
terjadi dari orang ke orang melalui inhalasi
Juga dilaporkan transmisi dapat terjadi
secara in utero dari ibu ke janin yang
dikandungnya namun dengan trofosoit
sebagai bentuk infektifnya
Masa inkubasi ekstrinsik (prepaten period)
diperkirakan 20-30 hari dengan durasi
serangan selama 1-4 minggu

PATOGENESIS
merupakan patogen ekstra seluler
Paru merupakan tempat primer infeksi
biasanya melibatkan kedua bagian paru kiri
dan kanan
Pneumocystis jiroveci bisa juga terdapat
ekstrapulmonal yaitu di hati, limpa, kelenjar
getah bening dan sumsum tulang

masuk melalui inhalasi dan melekat pada sel


alveolar tipe I

Di paru, pertumbuhannya terbatas pada


permukaan surfaktan di atas epitel alveolar
berkembang biak di paru dan merangsang
pembentukan eksudat yang eosinofilik dan
berbuih yang mengisi ruang alveolar
mengandung histiosit, limfosit dan sel plasma
yang menyebabkan kerusakan ventilasi dalam
paru
menurunkan oksigenasi, interstisium menebal
dan kemudian fibrosis

Proliferasi

Blokade
alveoli
dan
bronchial

GAGAL
NAFAS

MANIFESTASI KLINIS
trias klasik
demam yang tidak terlalu tinggi
dispnoe terutama saat beraktifitas
batuk non produktif
Semakin lama dispnoe akan bertambah hebat
disertai takipnea sampai terjadinya sianosis
Pneumocytis pneumonia biasanya terjadi
pada CD4 kurang dari 200 sel/mm3 pada
pasien HIV

PX FISIK

hanya ditemukan takipnea


Takikardi
tidak didapatkan ronkhi pada auskultasi
Takipnea biasanya berat sehingga penderita
mengalami kesulitan berbicara
Sianosis akral, sentral dan membran mukosa
juga dapat ditemukan

PX PENUNJANG
Foto thoraks memperlihatkan infiltrat
bilateral yang dapat meningkat menjadi
homogen
Tanda yang jarang antara lain terdapat
nodul soliter atau multipel, infiltrat pada
lobus atas pada pasien dengan pengobatan
pentamidin, pneumatokel dan
pneumothoraks
Efusi pleura dan limfadenopati jarang
ditemukan
Jika pada foto thoraks tidak didapatkan
kelainan maka dianjurkan pemeriksaan high
resolution computed tomography (HRCT)

PX PENUNJANG
Pemeriksaan histopatologi memperlihatkan
gambaran eksudat eosinofil aseluler yang
mengisi alveoli
Pemeriksaan lain menggunakan sputum dan
BAL dengan hasil didapatkan 97% positif
pada 100 pasien HIV
Pemeriksaan laboratorium darah tidak khas,
kecuali peningkatan laktat dehidrogenase
(LDH) dan gradien oksigen alveolar-arterial
(AaDO2) dikaitkan dengan prognosis lebih
buruk

DIAGNOSIS
Pneumocystis sulit didiagnosis karena
gejala dan tanda yang tidak spesifik
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan
mikroskopis
Bahan pemeriksaan antara lain berasal dari
sputum, bronchoalveolar lavage (BAL), dan
jaringan paru
Induksi sputum menggunakan larutan
hypertonic saline menghasilkan diagnosis 50
sampai 90% dan merupakan prosedure
diagnosis utama
Jika pemeriksaan tersebut negatif,
pemeriksaan dengan BAL dapat dilakukan.

DIAGNOSIS
Pemeriksaan BAL memiliki sensitivitas lebih 90%.
Terdapat dua bentuk PCP
Bentuk tropik dapat dilihat dengan pewarnaan
modifikasi papaniculaou, wright-giemsa, atau
gram-weigert
Bentuk kista dilihat dengan pewarnaan gomori
methenamin silver, cresyl each violet, toulidin
blue O. Calcofluor water.
PCR untuk mendeteksi asam nukleat pneumocytis
memiliki sensitivitas serta spesifitas tinggi (88%
dan 85%) dari bahan yang diambil dari produksi
sputum BAL
Diagnosis definitif ditegakkan bila pada

Hasil BAL

DERAJAT PENYAKIT
Derajat
Berat

Kriteria
Sesak nafas pada waktu istirahat atau
PaO2 kurang dari 50 mmHg dalam suhu

Sedang

ruangan
Sesak nafas pada latihan ringan, PaO2,
antara

50-70

mmHg

pada

suhu

ruangan saat istirahat, AaDO2 lebih


dari 30 mmHg atau saturasi oksigen
Ringan

kurang 94%
Sesak nafas pada latihan sedang PaO2
lebih dari 70 mmHg dalam suhu kamar
saat istirahat

Diagnosis presumtif PCP


menurut CDC
Gamb foto
Keluhan sesak
nafas saat aktif
atau batuk tidak
produktif dalam
tiga bulan
terakhir

Tek O2 < 70
mmHg pd px agd
atau kapasitas
difusi rendah
(<80% prediksi)
atau AaDO2.

thoraks berupa
infiltrat
interstitial difus
bilateral atau
gamb penyakit
paru difus
bilateral
Tidak terbukti
pneumonia
bakterialis

TATALAKSANA
Jenis Obat

Dosis

Cara

Trimetropim

15-20 mg/kg

Peroral

75 -100 mg/kg setiap hari

sulfametoks

dalam 3 dosis

azol
Primakuin

30 mg setiap hari

Peroral

plus
Klindamisin

600 mg tiga kali sehari

Atovakuon

750 mg dua kali sehari

Peroral

Pentamidin

4mg/kg setiap hari

Intravena

600 mg setiap hari

Peroral

Rawat RS dg
bantuan
ventilator.

kotrimoksazol dosis
tinggi iv
(trimetropin 15
mg/kgBB/hari &
sulfametoksazol
75mg/kgBB/hari slm
21 hari).

Lini ketiga
klindamisin
(600mg iv tiap 8
jam) dengan
primakuin (15
mg/oral/hari).

pentamidin
intravena (3-4
mg/kgBB/hari
selama 21 hari)
Lini kedua

kortikosteroid
40mg 2x1 3-5
hari pertama, 40
mg 1x1 slm 6-10
hari, 20 mg/hari
sampai lengkap
21 hari

PCP
Berat

PCP Sedang
dianjurkan untuk
dirawat dirumah
sakit.

trimetropinsulfametoksazol
480mg dua
tablet tiga kali
sehari selama 21
hari

PCP Ringan
kotrimoksazol
peroral 480mg
dua tablet
sehari selama
21 hari

Respon baik

Cukup 14 hari
saja

THANKS

QUESTION?