Anda di halaman 1dari 4

Data Lembaga

Harimau Kuranji, suatu unit pasukan tempur yang tangguh


dibentuk pada masa perang kemerdekaan di kota Padang. Pada
awal proklamasi atau sekitar akhir Agustus 1945, sekelompok kecil
pemuda yang terlatih secara militer di zaman Jepang lewat
pendidikan Gyugun, semacam PETA di Jawa, mendirikan apa yang
disebut Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan menggunakan
markasnya di sebuah rumah di Kampung Jati. Kemudian setelah
markas mereka digeledah Sekutu awal Desember 1945, mereka
cepat-cepat memindahkan markas ke Kampung Kuranji, sekitar 8
km dari pusat kota. Sejak itu, kelompok ini, karena peranan yang
mereka mainkan sebagai petempur yang tangguh dan ditakuti
dalam menganggu kedudukan Sekutu di kota Padang, lebih dikenal
dengan julukan Harimau Kuranji.
Tokoh utama Harimau Kuranji ialah seorang pemuda berumur 21
tahun, yaitu Ahmad Husein, yang lebih dikenal namanya tahun
1950-an karena prakarsanya menentang rejim otoriter Jakarta
dengan mendirikan Dewan Banteng, kemudian PRRI (Pemerintah
Revolusioner Republik Indonesia) tahun 1958. Sejumlah bekas
Gyugun lainnya ikut bergabung dan menjadi tokoh terkemuka
dalam pasukan Harimau Kuranji seperti Jazid Abidin, Jusuf Ali
(Jusuf Black Cat), Anwar Badu, Dahlan J. Sutan Mangkuto dan
yang termuda dan menjadi komandannya ialah Ahmad Husein.
Mereka inilah yang menjadi anggota inti dan sekaligus pelatih dari
kompi itu. Jumlah anggota pasukannya mula-mula tak lebih dari
200 orang, tetapi kemudian bertambah besar, beberapa kompi,
kemudian bataliyon dan resimen sejalan dengan berlangsungnya
reorganisasi dalam tubuh militer Republik pada masa ini.
Modal pertama mereka hanyalah keberanian dengan dedikasi untuk
Indonesia merdeka. Mulanya mereka hanya memiliki beberapa
puncuk senjata yang dirampas dari tangan musuh: 4 pucuk senapan
mesin ringan, sekitar 30 karaben dari pelbagai macam model dan
beberapa puluh granat tangan, serta peluru seadanya. Senjata itu
pun diperoleh dengan tidak mudah dan seringkali harus dibayar
dengan nyawa. Selain dengan merampas senjata dari tangan Jepang
sebagaimana yang mereka lakukan dalam kasus penyerangan ke

Markas Jepang di Rimbo Kaluang (GOR Haji Agus Salim


sekarang), juga dalam aksi pencegatan Sekutu di kaki bukit
Seberang Padang pada bulan November 1945. Di sana empat orang
pasukan mereka gugur. Selanjutnya dalam dua kali aksi
perampasan senjata di Gadut, Indarung, anggota pasukan Harimau
Kuranji dapat mengumpulkan lebih banyak senjata lagi dan inilah
yang dimanfaatkan untuk latihan dan operasi selanjutnya.
Ketika Sekutu menduduki kota Padang sejak November 1945,
pasukan Kuranji terus menerus mengadakan taktik gerilya kota,
di samping tetap mengadakan latihan militer bagi lasykar. Hampir
setiap kampung hingar-bingar, sibuk mengadakan latihan barisberbaris. Di tengah melakukan latihan-latihan rutin di Kuranji atau
di desa tetangganya, mereka sekaligus harus menghadapi medan
latihan yang sebenarnya. Komandan mereka memerintahkan
melakukan gerilya kota dengan infiltrasi secara bergantian ke
pusat kota, mencari informasi, mengadakan sabotase, mengawasi
orang-orang atau kelompok yang merintangi perjuangan, dan bila
perlu langsung membereskan mereka yang dianggap kontraRepublik Indonesia. Karena aksi-aksi mereka ini pasukan Sekutu
sering dibuat repot dan dengan nada mengejek, mereka langsung
menuduh keterlibatan Harimu Kuranji di belakang setiap
tindakan sabotase dan penyerangan terhadap Sekutu. Kepala
Intelijen Sekutu kemudian membuat pengumuman di sebuah koran
lokal, siapa yang bisa menangkap komandan Harimau Kuranji
akan diberi hadiah. Harimau Kuranji juga menjadi ganjalan dan
sekaligus momok yang amat ditakuti Belanda dan kaki tangannya.
Mengingat sepak terjang dari pasukan Harimau Kuranji, maka
serdadu Belanda mengira bahwa komandan pasukan itu pasti
dipimpin oleh seorang tua yang berpotongan angker atau dukun
yang menakutkan. Oleh karena itu, mereka pernah menjanjikan
untuk memberikan hadiah yang besar kepada siapa saja yang
berhasil menangkapnya, hidup atau mati.
Bersamaan dengan reorganisasi militer dari BKR ke TKR (Tentara
Keamanan Rakyat) Harimau Kuranji berkembang menjadi unit
kompi tempur dalam TKR. Setelah TKR brobah menjadi TRI
(Tentara Rakyat Indonesia) pada 25 Januari 1946, kompi tersebut
berobah menjadi Batalyon I Harimau Kuranji, yang bertanggung
jawab atas keamanan dan pertempuran di Padang Area, suatu

istilah teritorial yang pada mulanya diberikan Sekutu untuk daerah


Padang dan sekitarnya. Komandan kompinya, Ahmad Husein naik
posisi menjadi komandan batalyon dengan pangkat Mayor. Ia
bertanggung jawab ke perwira atasannya di Devisi III Banteng
(kemudian berobah menjadi Divisi IX Banteng) Sumatera Barat
dan Riau, dalam hal ini, Kol. Ismael Lengah. Ketika TRI berobah
nama menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia) pada 3 Juni 1947,
yakni satu bulan sebelum agresi militer Belanda I, Batalyon
berobah lagi dari batalyon menjadi salah satu dari empat resimen
dalam Divisi IX Banteng di wilayah Sumatera Barat dan Riau.
Resimen III Harimau Kuranji terdiri dari empat batalyon yang
terdiri dari sekitar 3000 pasukan dan semua komandan batalyonnya
adalah bekas perwira Batalyon Harimau Kuranji. Batalyon I
dengan komandannya Mayor Anwar Badu bermarkas di Indarung;
Batalyon II dengan komandannya Kapten Arief Amin, bermarkas di
Lubuk Silasih; Batalyon III dengan komandannya Mayor Mustafa
Kamal bermarkas di Payakumbuh; Batalyon IV dengan
komandannya Mayor Sjoeib bermarkas di Pauh untuk wilayah
Padang luar kota.
Setelah agresi militer Belanda I dan II Resimen Harimau Kuranji
terpaksa mundur ke Solok, dan tetap bermarkas di kota itu sampai
akhir perang kemerdekaan. Namun lokasi kesatuan batalyon yang
berada di bawahnya terpencar di beberapa tempat, antara lain pos
terdepannya ialah di Indarung, Bukit Gompong, Ladangpadi dan
juga ada yang berbasis di Sawahlunto sampai ke Payakumbuh. Di
Sawahlunto terdapat markas Kepala Kesehatan Resimen
Haraimau Kuranji yang bertugas melayani pasien korban perang.
Sebagai sebuah nama, Harimau Kuranji sebetulnya tidaklah unik
karena pada masa perang kemerdekaan ada banyak pasukanpasukan tempur yang memberi nama angker terhadap unit
pasukan mereka seperti itu Kompi Bakapak, Kompi Barayun,
Kompi Badai, Kompi Baron, Kompi Bakipeh, Singa Pasar
Oesang (SPO), Singa Padang Luar Kota, dan lain-lain
sejenisnya. Namun yang lebih khas dari Harimau Kuranji ialah
bahwa nama itu identik dengan sejarah militer di Kota Padang.
Lagi pula, hanya Harimau Kuranji yang mampu berkembang
pesat dan yang lainnya tidak, dari hanya sebuah kompi menjadi
batalyon sampai menjadi lebih besar sebagai sebuah resimen yang

paling ditakuti Belanda di Sumatera Barat. Penting juga disebutkan


bahwa kesetiaan pasukan dengan kesatuan dan pimpinannya telah
melahirkan semacam espirit de corps yang khas, bahkan sampai
saat ini. Karena alasan ini pula, maka mantan kelompok pasukan
ini iktu membantu membangun sebuah makam taman pahlawan
sendiri, yaitu Taman Makam Pahlawan Kuranji (sekitar 8 km dari
pusat Kota Padang). Kebanyakan pasukan tempur yang terlibat
dengan kasus PRRI tahun 1950-an juga berasal dari kelompok ini
dan barangkali karena tokoh utamanya, Ahmad Husein, adalah
bekas komandan mereka juga. *** (Mestika Zed).
Amiruddin Jr., Sedjarah Sumber: :

Amiruddin, J.R., Perdjuangan Harimau Kurandji 1945-1950 di Sumatra


Tengah. Padang: tanpa penerbit, 1957.

Kahin, Audrey. Perjuangan Kemerdekaan Sumatra Barat dalam Revolusi


Nasional Indonesia 19451950. Terjemahan, Mestika Zed dkk. Jakarta:
Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Sumatra Barat dan eks Tentera
Pelajar Sumatra Tengah (CTP)/Pelajar Pejuang Kemerdekaan Indonesia, 1997.

Mestika Zed, dkk, Sejarah Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950 di Kota


Padang dan Sekitarnya. Padang: Citra Budaya, 2003.

Mestika Zed dkk. Sumatra Barat di Panggung Sejarah 1945-1995. Jakarta:


PT Pustaka Sinar Harapan, 1998.

Ahmad Husein Dkk., Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di


Minangkabau/Riau 1945-1950. Dua Jilid. Jakarta: Badan Pemurnian Sejarah
Indonesia Minangkabau, BPSIM, 1991.