Anda di halaman 1dari 19

MODUL IV

PENCARIAN DAN PENGURUTAN

4.1 Tujuan
Tujuan modul IV ini, adalah:
• Praktikan bisa membuat beberapa program pencarian berdasarkan metode
algoritma pencarian
• Praktikan bisa membuat beberapa program pengurutan berdasarkan metode
algoritma pengurutan
• Praktikan dapat membiasakan diri untuk membuat program secara terstruktur.
• Praktikan memahami algoritma beberapa metode pencarian dan pengurutan

4.2 Teori
4.2.1 Pencarian
Proses pencarian (searching) adalah menemukan nilai (data) tertentu di
dalam sekumpulan data yang bertipe sama (baik bertipe dasar atau bertipe
bentukan).

4.2.1.1 Metode Pencarian Beruntun (Sequential Search)


Metode pencarian beruntun adalah proses membandingkan setiap elemen
larik satu persatu secara beruntun, mulai dari elemen pertama, sampai elemen
yang dicari ditemukan atau seluruh elemen sudah diperiksa.
Perhatikan larik di bawah ini :
23 45 23 57 12
1 2 3 4 5

Misalkan nilai yang dicari : x = 57


Elemen yang dibandingkan : 23, 45, 23, 57 (ditemukan)
Indeks larik yang dikembalikan : IDX = 4

IV-1
IV-2

Misalkan nilai yang dicari : x = 67


Elemen yang dibandingkan : 23, 45, 23, 57, 12 (tidak ditemukan)
Indeks larik yang dikembalikan : IDX = -1
Terdapat 2 bersi algoritma pencarian beruntun, yaitu:
1. Pembandingan Elemen Dilakukan di Awal Pengulangan
a. Hasil pencarian: sebuah peubah Boolean yang menyatakan x ditemukan
(true) atau tidak ditemukan (false)
Contoh Algoritma 1:
Procedure SeqSearch(input L : Larikint, input N : integer, input X :
integer, output Ketemu : integer)
{mencari keberadaan nilai X di dalam larik l[1..N].}
{k.awal: X dan larik l[1..N] sudah terdefinisi nilainya}
{k.akhir: ketemu bernilai true, jika X ditemukan. Jika x tidak ditemukan,
ketemu bernilai false}

Deklarasi
K : integer {indeks larik}

Deskripsi
K←1
While (K < N) and L[K] ≠ X) do
K←K+1
Endwhile
{K = N or L[K] = X}
If L[K] = X then {X ditemukan}
Ketemu ← true
Else
Ketemu ← false
Endif
Algoritma Pencarian
{program untuk mencari nilai tertentu dengan sequential search}

Deklarasi
Const NMaks = 100 {jumlah maksimum elemen larik}
Type Larikint : array[1..NMaks] of integer

L : Larikint
X : integer {elemen yang dicari}
Found : Boolean {true jika X ditemukan, false jika X tidak}

Procedure Bacalarik(output L : Larikint, input N : integer)


{mengisi elemen larik L[1..N] dengan nilai yang dibaca dari piranti
IV-3

masukan}

Procedure SeqSearch(input L : Larikint, input N : integer, input X :


integer, output Ketemu : integer)
{mencari keberadaan nilai X di dalam larik L[1..N].}

Deskripsi
Read(N)
Bacalarik(L,N)
Read(X)
SeqSearch(L, N, X, Found)

If Found then
Write(X, ‘ditemukan’)
Else
Write(X, ‘tidak ditemukan’)
Endif

b. Hasil pencarian: indeks elemen larik yang berisi Nilai x.


Contoh Algoritma 2:
Procedure SeqSearch(input L: Larik, input N : integer, input X : integer,
output Idx : integer)
{mencari keberadaan nilai X di dalam larik L[1..N]}
{k.awal : nilai X dan elemen larik L[1..N] sudah terdefinisi}
{k.akhir : idx berisi larik L yang berisi nilai X. jika X tidak ditemukan,
maka idx diisi dengan nilai -1}

Deklarasi
K : integer {indeks larik}

Deskripsi
K←1
While (K<N) and (L[K] ≠ X) do
K←K+1
Endwhile
{K = N or L[K] = X}

if L[K] = X then {X ditemukan}


idx ← K
else
idx ← -1
endif
IV-4

2. Aksi Pembandingan dilakukan di dalam badan pengulangan (dengan


fungsi).
a. Hasil pencarian: sebuah peubah Boolean yang menyatakan x ditemukan
(true) atau tidak ditemukan (false)
Contoh Algoritma 3:
Function SeqSearch(input L : Larikint, input N : integer, input X :
integer)→boolean
{mengembalikan true jika X terdapat di dalam larik L, atau false jika X
tidak ditemukan}

Deklarasi
X : integer {indeks untuk pencarian}

Deskripsi
K←1
Ketemu ← false
While (K ≤ N) and (not Ketemu) do
If L[K] = X then
Ketemu ← true
Else
K ← K+1
Endif
Endwhile
{K > N or Ketemu}
return ketemu

b. Hasil pencarian: indeks elemen larik yang berisi bilai x.


Contoh Algoritma 4:
Function SeqSearch(input L : Larikint, input N : integer, input X :
integer) → integer
{mengembalikan indeks elemen larik L yang elemennya sama dengan X.
jika X tidak terdapat di dalam larik L, nilai -1 dikembalikan}

Deklarasi
K : integer {indeks untuk pencarian}
Ketemu : Boolean {true bila X ditemukan, false bila tidak}

Deskripsi
K←1
Ketemu ← false
While (K ≤ N) and (not ketemu) do
If L[K] = X then
IV-5

Ketemu ← true
Else
K←K+1
Endif
Endwhile
{K > N or Ketemu}
{simpulkan hasil pencarian}
if (L[K] = X) then {X ditemukan}
return K {indeks elemen L yang berisi X}
else
return -1 {X tidak ditemukan, indeks = -1}
endif

Secara umum metode pencarian beruntun berjalan lambat. Waktu pencarian


sebanding dengan jumlah elemen larik. Misalkan larik berukuran n elemen, maka
pada kasus di mana x tidak terdapat di dalam larik atau x ditemukan pada elemen
yang terakhir. Kita harus melakukan perbandingan dengan seluruh elemen larik,
yang berarti jumlah perbandingan yang terjadi sebanyak n kali.

4.2.1.2 Metode Pencarian Beruntun Pada Larik Terurut


Larik yang elemennya sudah terurut dapat meningkatkan kinerja algoritma
pencarian beruntun. Jika pada larik tidak terurut jumlah perbandingan elemen
larik maksimum n kali, maka pada larik terurut (dengan asumsi distribusi elemen-
elemen larik adalah seragam) hanya dibutuhkan rata-rata n/2 kali perbandingan.
Hal ini karena pada larik yang terurut kita dapat segera menyimpulkan bahwa x
tidak terdapat di dalam larik bila ditemukan, elemen larik yang lebih besar dari x.
Secara singkat, kita akan melakukan proses yang serupa dengan pencarian
berurutan. Kita mulai dengan pembandingan dengan elemen yang pertama. Jika
kita menganggap larik terurut naik (ascending), maka pencarian akan diteruskan
sepanjang data yang dicari masih lebih kecil dari nilai elemen pada larik. Jika
elemen larik sudah lebih besar, maka pencarian dihentikan karena pasti data yang
dicari tidak akan pernah ditemukan pada larik.
IV-6

Contoh Algoritma 5:
Procedure SeqSearch(input L : Larikint, input N : integer, input X : integer,
output IDX : integer)
{mencari keberadaan nilai X di dalam larik[1..N] yang elemen-elemen sudah
terurut menaik}
{k.awal : nilai X dan elemen larik L[1..N] sudah terdefinisi elemen-elemen
larik L sudah terurut menaik}
{k.akhir : IDX berisi indeks larik L yang berisi nilai X. jika X tidak ditemukan,
maka IDX diisi dengan nilai -1}
Deklarasi
K : integer {indeks larik}

Deskripsi
K←1
While (K < N) and (L[K] < X) do
K←1
Endwhile
(K = N or L[K] ≥ X)
If L[K] = X then {X ditemukan}
IDX ← K
Else
IDX ← -1
Endif

Penelitian para ahli menunjukkan bahwa metode ini berjalan dengan sangat efektif
dan efisien dibandingkan pencarian berurutan yang tidak terurut, jikaq data yang
dicari berada (relatif) pada bagian awal larik. Tetapi, karena kondisi berhenti yang
kita tentukan, metode ini kurang lebih berkinerja sama dengan pencarian
berurutan jika data yang dicari terletak di bagian akhir larik.

4.2.1.3 Pencarian Bagidua (Binary Search)


Terdapat metode pencarian pada data terurut yang paling efficient, yaitu
metode pencarian bagidua atau pencarian biner (binary search). Metode ini
digunakan untuk kebutuhan pencarian dengan waktu yang cepat. Prinsip
pencarian dengan membagi data atas dua bagian mengilhami metode ini. Data
yang disimpan di dalam larik harus sudah terurut.
Cara kerja metode pencarian biner dapat dijelaskan sebagai berikut: dimisalkan
kita memiliki larik terurut seperti di bawah ini:
IV-7

0 5 6 10 11 12 32 34 56 99
Misalkan, kita ingin mencari posisi dari nilai 56. Pertama kali, larik di atas dapat
kita bagi menjadi 2 sublarik sebagai berikut:
0 5 6 10 11 12 32 34 56 99
Sublarik 1 Sublarik 2
Kemudian, data (56) dibandingkan dengan elemen terakhir pada sublarik 1 (yang
bernilai 11). Jika data tersebut (56) lebih kecil dari elemen terakhir pada sublarik1
(11) maka data akan dicari di subvektor 1. Jika tidak, berarti data akan dicari di
sublarik 2 dan sublarik 1 tidak perlu dihiraukan lagi. Proses di atas diulangi lagi.
Sublarik 2 dibagi 2 lagi sehingga menghasilkan sublarik dibawah ini:
12 32 34 56 99
Sublarik 2.1 Sublarik 2.2
Kita bandingkan lagi data (56) dengan elemen terakhir sublarik 2.1 (34). Ternyata
data (56) lebih besar dari (34), maka pasti data yang dicari ada di sublarik 2.2.
terakhir, sublarik 2.2 dipecah lagi. Hasilnya adalah sebagai berikut:
56 99
Sublarik 2.2.1 Sublarik 2.2.2
Demikian dengan 4 iterasi kita sudah menemukan data yang kita cari.
Contoh Algoritma 6:
Procedure BinarySearch(input L : Larikint, input N : integer, input X : integer,
output Idx : integer)
{mencari X di dalam larik L[1..N] yang sudah terurut menaik dengan metode
pencarian bagidua, keluaran prosedur ini adalah indeks elemen larik yang
berisi X. idx diisi 0 jika X tidak ditemukan.}
{k.awal: larik L[1..N] sudah berisi data yang sudah terurut menaik, dan X
adalah nilai yang akan dicari}
{k.akhir: idx berisi indeks larik tempat X ditemukan, idx=0 jika X tidak
ditemukan}

Deklarasi
I, J : integer {indeks kiri dan indeks kanan}
K : integer {indeks elemen tengah}
Ketemu : Boolean {flag untuk menentukan apakah X ditemukan}

Deskripsi
I←1
J←N
Ketemu ← false
IV-8

While (not Ketemu) and (I ≤ J) do


K ← (I + J) div 2 {bagidua larik L pada posisi X}
If L[K] = X then
Ketemu ← true
Else If (L[K] < X) then {lakukan pencarian pada larik bagian kanan, set
indeks ujung kiri larik yang baru}
I←K+1
Else {lakukan pencarian pada larik bagian kiri, set indeks
ujung kanan larik yang baru}
I←J-1
Endif
Endwhile

4.2.2 Pengurutan
Pengurutan (sorting) adalah proses mengatur sekumpulan objek menurut
urutan atau susunan tertentu. Urutan objek tersebut dapat menaik (ascending) atau
menurun (descending). Bila N buah objek atau data disimpan di dalam larik L,
maka pengurutan menaik berarti menyusun elemen larik sedemikian sehingga:
L[1] ≤ L[2] ≤ L[3 ≤ … ≤ L[N]
Sedangkan pengurutan menurun berarti menyusun elemen larik sedemikian
sehingga:
L[1] ≥ L[2] ≥ L[3 ≥ … ≥ L[N]
Data yang diurut dapat berupa data bertipe dasar atau tipe terstruktur (record).
Jika data bertipe terstruktur, maka harus dispesifikasikan berdasarkan field apa
data tersebut diurutkan. Field yang dijadikan dasar pengurutan dikenal sebagai
field kunci.
Adanya kebutuhan terhadap proses pengurutan memunculkan bermacam-
macam metode pengurutan. Metode tersebut diantaranya adalah: 1) Metode
Pengurutan Gelembung (Bubble Sort), 2) Metode Pengurutan Pilih (Selection
Sort), 3) Metode Pengurutan Sisip (Insertion Sort), 4) Metode Pengurutan Shell
(Shell Sort), 5) Heap Sort, 6) Quick Sort, 7) Merge Sort, 8) Radix Sort dan 9)
Tree Sort. Pada modul ini, tidak semua metode pengurutan akan dibahas.
Tidak ada metode yang terbaik untuk pengurutan. Kebanyakan metode
pengurutan sederhana hanya bagus untuk volume data yang kecil tetapi lambat
untuk ukuran data yang besar. Metode pengurutan yang lebih cepat pun (seperti
IV-9

quick sort dan merge sort) memang bagus untuk mengurutkan data yang banyak,
tetapi tidak bagus untuk ukuran data yang sedikit karena memerlukan beban
tambahan (overhead) yang boros waktu dan memori.
Metode pengurutan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Metode pengurutan internal, yaitu metode pengurutan untuk data yang
disimpan di dalam memori computer. Umumnya struktur internal yang
dipakai untuk pengurutan internal adalah larik, sehingga pengurutan
internal disebut juga pengurutan larik.
b. Metode pengurutan eksternal, yaitu metode pengurutan untuk data
yang disimpan di dalam disk storage, disebut juga pengurutan arsip
(file), karena struktur eksternal yang dipakai adalah arsip.

4.2.2.1 Metode Pengurutan Gelembung (Bubble Sort)


Metode ini memiliki prinsip pengapungan. Apabila kita menginginkan
larik terurut menaik, maka elemen larik yang berharga paling kecil ‘diapungkan’,
artinya diangkat ke atas (atau ke ujung kiri larik) melalui proses pertukaran.
Proses pengapungan ini dilakukan sebanyak N-1 langkah dengan N adalah ukuran
larik. Pada akhir setiap langkah ke-I, larik L[1..N] akan terdiri atas dua bagian
yaitu bagian yang sudah terurut, yaitu L[1..I] dan bagian yang belum terurut
L[I+1..N]. Setelah langkah terakhir, diperoleh larik L[1..N] yang terurut menaik.
Dimisalkan larik L dengan N=10 sebagai berikut :
25 27 10 8 76 21
1 2 3 4 5 6

maka langkah-langkah pengurutannya adalah:


Semula 25 27 10 8 76 21
Iterasi 1 8 25 27 10 21 76
Iterasi 2 8 10 25 27 21 76
Iterasi 3 8 10 21 25 27 76
Iterasi 4 8 10 21 25 27 76
Iterasi 5 8 10 21 25 27 76 terurut
IV-10

Contoh Algoritma 1:
Procedure BubbleSort(input/output L : Larikint, input N : integer)
{mengurutkan larik L[1..N] sehingga terurut menaik dengan metode
pengurutan gelembung}
{k.awal : elemen larik L sudah terdefinisi nilai-nilainya}
{k.akhir : elemen larik L terurut menaik sedemikian sehingga L[1] ≤ L[2] ≤ .. ≤
L[N]}

Deklarasi
I : integer {pencacah untuk jumlah langkah}
K : integer {pencacah untuk pengapungan pada setiap langkah}

Procedure Tukar(input/output A : integer, input/output B : integer)


{mempertukarkan nilai A dan B}

Deskripsi
For I ← 1 to N – 1 do
For K ← N downto I + 1 do
If L[K] < L[K-1] then
{pertukarkan L[K] dengan L[K-1]}
tukar(L[K], L[K-1])
endif
endfor
endfor
Bagaimana dengan algoritma pilih maksimum terurut menurun?

Pengurutan gelembung merupakan metode pengurutan yang tidak efisien. Hal ini
disebabkan oleh banyaknya operasi pertukaran yang dilakukan pada setiap
langkah pengapungan. Untuk nukuran larik yang besar, pengurutan dengan
metode ini membutuhkan waktu yang lama. Karena alasan itu, maka metode ini
jarang digunakan dalam praktek. Namun, kelebihan metode ini adalah pada
kesederhanaannya dan mudah dipahami.

4.2.2.2 Metode Pengurutan Pilih (Selection Sort)


Metode ini memilih elemen maksimum/minimum dari larik, lalu
menempatkan elemen itu pada awal atau akhir larik (elemen terujung).
Selanjutnya elemen terujung tersebut ‘diisolasi’ dan tidak disertakan pada proses
selanjutnya. Proses yang sama diulang untuk elemen larik yang tersisa, yaitu
IV-11

memilih elemen maksimum/minimum berikutnya dan mempertukarkannya


dengan elemen terujung larik sisa.
Dua varian algoritma pengurutan pilih ditinjau dari pemilihan elemen
maksimum/minimum, yaitu:
a. Pengurutan Pilih Maksimum
Misalkan larik L dengan N=6 sebagai berikut:
29 27 10 8 76 21
1 2 3 4 5 6

maka langkah-langkah pengurutannya adalah:


Semula 29 27 10 8 76 21
Iterasi 1 29 27 10 8 21 76
Iterasi 2 21 27 10 8 29 76
Iterasi 3 21 8 10 27 29 76
Iterasi 4 10 8 21 27 29 76
Iterasi 5 8 10 21 27 29 76 terurut

Contoh Algoritma 2:
Procedure SelectionSort(input/output L : Larikint, input N : integer)
{mengurutkan elemen larik L[1..N] sehingga tersusun menaik dengan
metode pengurutan maksimum}
{k.awal : elemen larik L sudah terdefinisi harganya}
{k.akhir : elemen larik L terurut menaik sedemikian sehingga L[1] ≤ L[2] ≤
... ≤ L[N]}

Deklarasi
I : integer
J : integer {pencacah untuk mencari nilai maksimum}
Imaks : integer {indeks yang berisi nilai maksimum sementara}

Procedure tukar(input/output A : integer, input/output : B : integer)


{mempertukarkan nilai A dan B}

Deskripsi
For I ← N downto 2 do {jumlah pengulangan sebanyak N-1}
{cari elemen maksimum pada elemen L[1..I]}
Imaks ← I {elemen pertama diasumsikan sebagai
elemen maksimum sementara}
For J ← 2 to I do
If L[J] > L[Imaks] then
Imaks ← J
IV-12

Endif
Endfor
{pertukarkan L[Imaks] dengan L[I]}
Tukar(L[Imaks], L[I])
Endfor
Bagaimana dengan algoritma pilih maksimum terurut menurun?

b. Pengurutan Pilih Minimum


Pada algoritma pengurutan pilih minimum, basis pencarian adalah elemen
minimum (terkecil). Elemen minimum ditempatkan di awal larik (agar larik
terurut menaik) atau ditempatkan di akhir larik (agar larik terurut menurun).
Misalkan larik L dengan N=6 sebagai berikut:
29 27 10 8 76 21
1 2 3 4 5 6

maka langkah-langkah pengurutannya adalah:


Semula 29 27 10 8 76 21
Iterasi 1 8 27 10 29 76 21
Iterasi 2 8 10 27 29 76 21
Iterasi 3 8 10 21 29 76 27
Iterasi 4 8 10 21 27 76 29
Iterasi 5 8 10 21 27 29 76 terurut

Contoh Algoritma 3:
Procedure SelectionSort(input/output L : larikint, input N : integer)
{mengurutkan elemen larik L[1..N] sehingga tersusun menaik dengan
metode pengurutan pilih minimum}
{k.awal : elemen larik L sudah terdefinisi harganya}
{k.akhir : elemen larik L terurut menaik sedemikian sehingga L[1] ≤ L[2] ≤
... ≤ L[N]}

Deklarasi
I : integer
J : integer {pencacah untuk mencari nilai maksimum}
Imin : integer {indeks yang berisi nilai maksimum sementara}

Procedure Tukar(input/output A : integer, input/output : B : integer)


{mempertukarkan nilai A dan B}

Deskripsi
For I ← 1 to N-1 do
IV-13

{cari indeks dari elemen minimum di dalam larik L[I..N]}


Imin ← I
For J ← I+1 to N do
If L[J] > L[Imin] then
Imin ← J
Endif
Endfor
{pertukarkan L[Imin] dengan L[I]}
Tukar(L[Imin], L[I])
Endfor
Bagaimana dengan algoritma pilih maksimum terurut menurun?

Dibandingkan dengan metode pengurutan gelembung, metode pengurutan pilih


memiliki kinerja yang lebih baik. Alasannya, operasi pertukaran elemen hanya
dilakukan sekali saja dengan demikian lama pengurutannya berkurang.

4.2.2.3 Metode Pengurutan Sisip (Insertion Sort)


Algoritma pengurutan sisip untuk memperoleh elemen larik yang terurut
menaik adalah sebagai berikut
Misalkan larik L dengan N=6 sebagai berikut:
29 27 10 8 76 21
1 2 3 4 5 6

maka langkah-langkah pengurutannya adalah:


Semula 29 27 10 8 76 21
Iterasi 1 29 27 10 8 76 21
Iterasi 2 27 29 10 8 76 21
Iterasi 3 10 27 29 8 76 21
Iterasi 4 8 10 27 29 76 21
Iterasi 5 8 10 27 29 76 21
Iterasi 6 8 10 21 27 29 76 terurut

Contoh Algoritma 4:
Procedure InsertionSort(input/output L : Larikint, input N : integer)
{mengurutkan elemen larik L[1..N] sehingga tersusun menaik dengan metode
pengurutan sisip}
{k.awal : elemen-elemen larik L sudah terdefinisi nilainya}
{k.akhir : elemen larik L terurut menaik sedemikian sehingga L[1] ≤ L[2] ≤ ...
≤ L[N]}
IV-14

Deklarasi
I : integer
J : integer {pencacah untuk mencari nilai maksimum}
Y : integer {peubah boolean untuk menyatakan posisi penyisipan
ditemukan}
Ketemu : boolean

Deskripsi
{elemen L[1] dianggap sudah terurut}
For I ← 2 to N do {mulai dari langkah 2 sampai langkah N}
{sisipkan L[I] ke dalam bagian yang sudah terurut}
Y ← L[I]
{cari posisi yang tepat untuk Y di dalam L[1..I-1] sambil menggeser}
J←I–1
Ketemu ← false
While (J≥1) and (not Ketemu) do
If Y < L[J] then
L[J+1] ← L[J]
J←J–1
Else
Ketemu ← true
Endif
Endwhile
{J < 1 or Ketemu}
L[J+1] ← Y {sisipkan Y pada tempat yang sesuai}
Endfor
Bagaimana algoritma pengurutan sisip untuk pengurutan menurun??

Kelemahan metode pengurutan sisip terletak pada banyaknya operasi pergeseran


yang diperlukan dalam mencari posisi yang tepat untuk elemen larik. Untuk larik
dengan N yang besar, jumlah operasi pergeseran meningkat secara kuadratik,
sehingga pengurutan sisip kurang bagus untuk volume data yang besar.

4.2.2.4 Metode Pengurutan Shell (Shell Sort)


Metode shell sort pertama kali diperkenalkan oleh Donald L. Shell tahun
1959. Metode ini didasarkan pada penukaran sepasang elemen untuk mencapai
keadaan urut. Dalam hal ini jarak elemen yang akan dibandingkan (kemudian
ditukarkan) ditentukan (biasanya jarak ini ditentukan dengan cacah data = n
dibagi 2). Pada langkah pertama, elemen-elemen yang terpisahkan oleh jarak itu
dibandingkan dan jika perlu ditukarkan. Kemudian jarak dibagi 2 sehingga
IV-15

bernilai setengah jarak yang semula. Kemudian, pembandingan dan penukaran itu
dilanjutkan dengan jarak yang baru. Demikian selanjutnya hingga jarak sama
dengan 1.
Untuk memperjelas metode pengurutan shell adalah sebagai berikut:
Data sebelum diurutkan:
23 45 12 24 56 34 27 23 16
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Semula 23 45 12 24 56 34 27 23 16
Jarak = 4 23 45 12 24 56 34 27 23 16
23 45 12 24 56 34 27 23 16
23 34 12 24 56 45 27 23 16
23 34 12 24 56 34 27 23 16
23 34 12 23 56 34 27 24 16
23 34 12 23 16 45 27 24 56

Jarak=2 23 34 12 23 16 45 27 24 56
12 34 23 23 16 45 27 24 56
12 23 23 34 16 45 27 24 56
12 23 16 34 23 45 27 24 56
12 23 16 34 23 45 27 24 56
12 23 16 34 23 45 27 24 56
12 23 16 34 23 24 27 45 56
12 23 16 34 23 24 27 45 56

Jarak=1 12 23 16 34 23 24 27 45 56
12 23 16 34 23 24 27 45 56
12 16 23 34 23 24 27 45 56
12 16 23 34 23 24 27 45 56
12 16 23 23 34 24 27 45 56
12 16 23 23 34 34 27 45 56
12 16 23 23 23 27 34 45 56
12 16 23 23 23 27 34 45 56
12 16 23 23 23 27 34 45 56

Contoh Algoritma 5
Procedure ShellSort(input/output A : Larikint, input N : integer)
{mengurutkan elemen larik L[1..N] sehingga tersusun menaik dengan metode
pengurutan shell}
{k.awal: elemen-elemen larik L sudah terdefinisi nilainya}
{k.akhir: elemen-elemen larik L terurut menaik}
IV-16

Deklarasi
I : integer
J : integer
Jarak : integer

Deskripsi
Jarak ← N div 2
While jarak > 0 do
For I ← 1 to N – Jarak do
J ← I+Jarak
If A[I] > A[J] then
Tukar(A[I], A[J])
Endif
Jarak ← Jarak div 2
Endfor
Endwhile

4.2.2.5 Metode Merge Sort


Pada metode ini diterapkan pada dua buah larik yang digabungkan
kemudian kita ingin mengurutkannya. Larik masukan yang mempunyai N elemen
dianggap N buah larik yang masing-masing tersusun oleh 1 elemen. Untuk setiap
larik, kita lakukan penggabungan (merging) dengan larik di sebelahnya dengan
meletakan elemen yang lebih kecil di sebelah kiri kemudian penggabungan
diteruskan hingga mendapatkan kembali 1 larik yang utuh. Ilustrasi merge sort
adalah sebagai berikut:
Semula 10 5 12 0 32 56 34 6 11 99

Semula 5 10 0 12 32 56 6 34 11 99

Semula 0 5 10 12 6 32 34 56 11 99

Semula 0 5 6 10 12 32 34 56 11 99

Semula 0 5 6 10 11 12 32 34 56 99
IV-17

Contoh Algoritma 6:
Procedure Merge(input/output A, B : Larik, Output Awal,Tengah,Akhir :
integer)
Deklarasi
I, J, K, T : integer

Deskripsi
I ← Awal
K ← Awal
J ← Tengah + 1
Do
If A[I] < A[J] then {elemen sebelah kiri lebih kecil}
B[K] ← A[I]
I←I+1
Else
B[K] ← A[J] {elemen sebelah kanan lebih besar}
J←J+1
Endif
K←K+1
While ((I ≤ Tengah) or (J ≤ Akhir))
{memasukkan sisa elemen saat 2 larik tidak sama panjang}
if I > Tengah then {larik kiri lebih dulu habis}
for T ← J to Akhir
B[K+T-J] ← A[T]
Endfor
Else {elemen kanan habis lebih dulu}
For T ← I to Tengah
B[K+T-I] ← A[T]
Endfor
Endif
Procedure Iterasi(input/output A, B : Larik, Input N, Cacah : integer)

Deklarasi
I, T : integer

Deskripsi
I←1
While I < (N – 2*Cacah + 1) do
Merge(A, B, I, I+Cacah-1, N)
I ← I + 2*Cacah
Endwhile
If (I+Cacah-1) < N then {penggabungan ke sublarik}
Merge(A, B, I, I+Cacah-1, N)
Else
For T ← I to N do
B[T] ← A[T]
IV-18

Endfor
Endif
Algoritma Mergesort
{mengurutkan elemen larik sehingga tersusun menaik dengan metode
pengurutan merge}
{k.awal: elemen-elemen larik yang sudah terdefinisi nilainya}
{k.akhir: elemen-elemen larik terurut menaik}

Deklarasi
Cacah : integer
B : Larik

Deskripsi
Cacah ← 1
While Cacah < N do
Iterasi(A, B, N, Cacah)
Cacah ← Cacah * 2
Iterasi(B, A, N, Cacah)
Cacah ← Cacah * 2
Endwhile

4.3 Kasus
4.3.1 Kasus 1
Buatlah algoritma larik terstruktur data mahasiswa yang terdiri dari Nim,
Nama mahasiswa, Jenis Kelamin dan Kelas. Kemudian buatlah algoritma
pencarian larik terstruktur tersebut dengan menggunakan 2 metode pencarian
diatas. Buatlah programnya dan bandingkan iterasi dari kedua program tersebut!
4.3.2 Kasus 2
Buatlah algoritma dan program untuk mengurutkan data dengan
menggunakan salah satu metode pengurutan. Ada empat data yang harus
diurutkan:
• Nomor Induk, bertipe bilangan bulat
• Nama, bertipe string
• Alamat, bertipe string
• Golongan, bertipe char (dapat bernilai ’A’, ’B’...)
Prosedur pengurutan menerima satu parameter yaitu bilangan bulat yang dapat
bernilai 1,2 dan 3. Apabila bernilai 1, maka data diurutkan berdasarkan nomor
IV-19

induk. Apabila bernilai 2, maka data diurutkan berdasarkan nama. Yang terakhir,
apabila bernilai 3, maka data diurutkan menurut golongan.

4.4 Tugas – Tugas Pendahuluan


Tugas pendahuluan akan dikerjakan selama 30 menit di awal jam
praktikum dengan menggunakan software Self Assessment

4.5 Latihan Praktikum VIII dan IX


4.5.1 Latihan Praktikum VIII (Pertemuan Kedelapan)
Buatlah program berdasarkan contoh algoritma yang telah dibahas diatas.
4.5.2 Latihan Praktikum IX (Pertemuan Kesembilan)
Buatlah program berdasarkan contoh algoritma yang telah dibahas diatas.

Anda mungkin juga menyukai