Anda di halaman 1dari 2

Menurut Berini, et al (1999) selulitis dapat digolongkan menjadi:

1. Selulitis Sirkumskripta Serous Akut


Selulitis yang terbatas pada daerah tertentu yaitu satu atau dua spasia fasial,
yang tidak jelas batasnya. Infeksi bakteri mengandung serous, konsistensinya sangat
lunak dan spongius. Penamaannya berdasarkan ruang anatomi atau spasia yang
terlibat.
2. Selulitis Sirkumskripta Supurartif Akut
Prosesnya hampir sama dengan selulitis sirkumskripta serous akut, hanya
infeksi bakteri tersebut juga mengandung suppurasi yang purulen. Penamaan
berdasarkan spasia yang dikenainya. Jika terbentuk eksudat yang purulen,
mengindikasikan tubuh bertendensi membatasi penyebaran infeksi dan mekanisme
resistensi lokal tubuh dalam mengontrol infeksi. Peterson (2003) beranggapan bahwa
selulitis dan abses sulit dibedakan, karena pada beberapa pasien dengan indurasi
selulitis mempunyai daerah pembentukan abses.
a. Selulitis Difus Akut
Dibagi lagi menjadi beberapa kelas, yaitu:
1) Ludwigs Angina
2) Selulitis yang berasal dari inframylohyoid
3) Selulitis Senators Difus Peripharingeal
4) Selulitis Fasialis Difus
5) Fascitis Necrotizing dan gambaran atypical lainnya
Selulitis kronis adalah suatu proses infeksi yang berjalan lambat karena
terbatasnya virulensi bakteri yang berasal dari fokus gigi. Biasanya terjadi
pada pasien dengan selulitis sirkumskripta yang tidak mendapatkan perawatan
yang adekuat atau tanpa drainase.
3.Selulitis Difus yang Sering Dijumpai
Selulitis difus yang paling sering dijumpai adalah Angina Ludwigs . Angina
Ludwigs merupakan suatu selulitis difus yang mengenai spasia sublingual, submental
dan
submandibular bilateral, kadang-kadang sampai mengenai spasia pharingeal. Selulitis
dimulai
dari dasar mulut. Seringkali bilateral, tetapi bila hanya mengenai satu sisi/ unilateral
disebut
Pseudophlegmon.
trismus progressif, konsistensi kenyal kaku seperti papan, pembengkakan warna
kemerahan, leher kehilangan anatomi normalnya, seringkali disertai demam/kenaikkan
temperatur tubuh, sakit dan sulit menelan, kadang sampai sulit bicara dan bernafas serta
stridor.
Angina Ludwigs memerlukan penangganan sesegera mungkin, berupa rujukan untuk
mendapatkan perawatan rumah sakit, antibiotik intravenous dosis tinggi, biasanya untuk
terapi awal digunakan Ampisillin dikombinasikan dengan metronidazole, penggantian
cairan
melalui infus, drainase through and through, serta penangganan saluran nafas, seperti
endotracheal intubasi atau tracheostomi jika diperlukan.

b. Abses
Abses adalah daerah jaringan yang terbentuk dimana didalamnya terdapat nanah yang
terbentuk sebagai usaha untuk melawan aktivitas bakteri berbahaya yang menyebabkan
infeksi. Sistim imun mengirimkan sel darah putih untuk melawan bakteri. Sehingga
nanah
atau pus mengandung sel darah putih yang masih aktif atau sudah mati serta enzim. Abses
terbentuk jika tidak ada jalan keluar nanah atau pus. Sehingga nanah atau pus tadi
terperangkap dalam jaringan dan terus membesar.
Abses dapat terbentuk pada seluruh bagian di dalam tubuh. Khususnya di dalam
mulut, dapat terbentuk di gusi, gigi, atau akarnya. Bakteri dapat masuk dengan beberapa
jalan:
1. Melalui luka yang terbuka
2. Melalui lubang karies
3. Melalui poket atau gusi yang terbuka
Biasanya infeksi primer dari selulitis berasal dari gigi molar kedua dan ketiga bawah,
penyebab lainnya adalah sialodenitis kelenjar submandibula, fraktur mandibula compund,
laserasi mukosa lunak mulut, luka yang menusuk dasar mulut dan infeksi sekunder dari
keganasan oral.
Gejala klinis dari Angina Ludwigs (Pedlar, 2007), seperti oedema pada kedua sisi
dasar mulut, berjalan cepat menyebar ke leher hanya dalam beberapa jam, lidah
terangkat,