Anda di halaman 1dari 10

BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Fungsi Pembangkit Biasa
Fungsi pembangkit merupakan alat untuk menangani masalah-masalah
pemilihan penyusunan dengan pengulangan. Fungsi seperti ini diperlukan
untuk menyelesaikan masalah yang tidak memperhatikan urutan. Metode
fungsi pembangkit ini bermula dari karya De Mavre pada tahun 1720, yang
dikembangkan oleh Euler dalam tahun 1748 untuk memecahkan masalah
partisi, kemudian pada awal abad 19 secara intensif dipakai oleh Laplace
sehubungan dengan teori probabilitas.
Jika (an) = (a0, a1, a2, a3, ...) adalah suatu barisan bilangan real dengan deret
pangkat berhingga atau tak hingga, maka Fungsi Pembangkit biasa dapat
didefinisikan sebagai berikut:

P ( x) a n x n
n0

a o a1 x a 2 x 2 a3 x 3 ...

Contoh
1. Tuliskan fungsi pembangkit dari barisan (an) dibawah ini:
a) an = 9
b) an = n + 5
c) an = 3n
2. Tuliskan bentuk sederhana fungsi pembangkit biasa (a n) dari barisan
dibawah ini:
a) (an) = (0, 1, 0, 1, 0, 1,....)

0,0,

b) (an) =

1 1 1
, , ,...
2! 3! 4!

c) (an) = (0, 0, 0, 1, 1, 1, 1, ...)


1 1 1
, , ,...
d) (an) = 3! 4! 5!

3. Misal P(x) adalah fungsi pembangkit biasa dari (a n). Carilah barisan (an) dari
fungsi pembangkit biasa dibawah ini:
a)
b)

P ( x) 1
P( x )

1
1 x

2
3x 2 6 x 1
1 x

Jawab

a)

9x

n 0

b)

(n 5) x
n 0

c)

xn

n 0

a)

P( x ) a n x n
n0

0 1x 0 x 2 1x 3 0 x 4 1x 5 0 x 6

3
5
= x x x ...

1
2
= xx

P( x) a n x n 0 0 x 1 x 2 1 x 3 1 x 4 ...
2!
3!
4!
n 0
b)
1 2 1 3 1 4
x x x ...
3!
4!
= 2!

1 x

1 2 1 3 1 4

x x x ... x 1
2!
3!
4!

x
= e x 1

c)

P( x ) a n x n
n0

0 0 x 0 x 2 x 3 x 4 x 5 x 6 ...

3
4
5
6
= x x x x ...

2
3
4
5
6
2
= (1 x x x x x x ...) (1 x x )

1
(1 x x 2 )
= 1 x

P( x ) a n x n 1 1 x 1 x 2 ...
3! 4!
5!
n 0
d)

x3 1 1
1

x x 2 ...
3
5!

= x 3! 4!
1 1 3 1 4 1 5

x x x ...
3
4!
5!

= x 3!
1
1
1
1
1
1

1 x x 2 x 3 x 4 x 5 ... 1 x x 2
3
2!
3!
4!
5!
2!

=x
1 x
1
e 1 x x2
3
2!
= x

1 2e x x 2 2 x 2

x 3
2

2e x x 2 2 x 2
2x3
=

a)

P ( x) 1

1
1 x

2
3
=1 1 x x + x + . . .
2
3
= 2 x x + x + ...

(an) = (a0, a1, a2, a3, ...)


(an) = (2, 1, 1, 1, ...)

b)

P( x )

2
3x 2 6 x 1
1 x

1
2
2
3x 6 x 1
1 x

2 1 x x 2 + x 3 + . . . 3x 2 6 x 1
3 8x 5x 2 2 x3

(an) = (a0, a1, a2, a3, . . .)


(an) = (3, 8, 5, 2, . . .)
B. Konvolusi
Penjumlahan, pengurangan maupun perkalian dua fungsi pembangkit atau
lebih dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti halnya menjumlahkan,
mengurangkan ataupun mengalikan dua polinomial atau lebih.

Jika

a
n 0

xn

dan

b x
n 0

masing-masing konvergen ke A(x) dan B(x),

maka berlaku:

A( x) B ( x) (a n bn ) x n
n0

A( x) B ( x) (a n bn ) x n
n 0

n 0

n 0

A( x ).B( x) a n .bn x n

a
k 0

.bn k

Contoh:
1. Cari konvolusi dari pasang barisan berikut:
(1, 1, 1, 0, 0, . . .) dan (0, 1, 2, 3, . . .)
2. Misal

P( x )

1 x x 2 x3
1 x
adalah fungsi pembangkit biasa dari barisan (a n).

Tentukan (an) !
Jawab
1. Misal
(an) = (1, 1, 1, 0, 0, . . .)
a0 a1 a2 a3 a4 . . .
(bn) = (0, 1, 2, 3, . . .)
4

a0 a1 a2 a3 . . .
(cn) adalah konvolusi dari (an) dan (bn)
n

c n a k .bn k
k 0
0

c0 a k .b0k a 0 .b0 1.0 0


k 0
1

c1 a k .b1 k a 0 .b1 a1 .b0 1.1 1.0 1


k 0
2

c 2 a k .b2 k a 0 .b2 a1 .b1 a 2 .b0 1.2 1.1 1.0 3


k 0
3

c 3 a k .b3 k a 0 .b3 a1 .b2 a 2 .b1 a 3 .b0 1.3 1.2 1.1 0.0 6


k 0

.
.
.
dst
(cn) = (c0, c1, c2, c3, . . .)
(cn) = (0, 1, 3, 6, . . .)
1 x x 2 x3
P( x )
1 x
2.
=

1 x x

x3

1 1 x

2
3
Misal 1 x x x adalah fungsi pembangkit biasa dari barisan:

(an) = (1, 1, 1, 1, 0, 0, . . .)
a0 a1 a2 a3 a4 a5
1
Misal 1 x adalah fungsi pembangkit biasa dari barisan:

(bn) = (1, 1, 1, 1, 1, . . .)

a0 a1 a2 a3 a4
Misal (cn) konvolusi dari (an) dan (bn)
n

c n a k .bn k
k 0
0

c 0 a k .b0k a 0 .b0 1.1 1


k 0
1

c1 a k .b1k a 0 .b1 a1 .b0 1.1 1.1 2


k 0
2

c 2 a k .b2k a 0 .b2 a1 .b1 a 2 .b0 1.1 1.1 1.1 3


k 0
3

c3 a k .b3 k a 0 .b3 a1 .b2 a 2 .b1 a3 .b0 1.1 1.1 1.1 1.1 4


k 0
4

c4 ak .b4 k a0 .b4 a1.b3 a2 .b2 a3 .b1 a4 .b0


k 0

1 .1 1 .1 1 .1 1 .1 0 .1 4
.
.
.
dst
(cn) = (c0, c1, c2, c3, c4, . . .)
(cn) = (1, 2, 3, 4, 4, . . .)
3. Menghitung Koefisien pada Fungsi Pembangkit
Koefisien fungsi pembangkit dapat dihitung dengan mengembangkan
teknik-teknik aljabar. Teknik-teknik tersebut adalah dengan mereduksi fungsi
pembangkit yang diberikan menjadi fungsi pembangkit dengan tipe binomial
atau hasil kali dari fungsi pembangkit binomial. Berikut ini adalah identitas
polinom yang diberikan:
P(x)

an

C(n,k)

1 x n C n, k x k
k 0

1 C (n,1) x C (n,2) x 2 ... x n

1 ax

C n, k a x
k

C(n,k)ak

k 0

1 C (n,1)ax C ( n,2) a 2 x 2 ... a n x n

1 x C n, k x
r n

rk

C(n, k/r) if r | k otherwise

k 0

1 C (n,1) x r C (n,2) x 2 r ... x rn


n
1 x n 1
x k 1 x x 2 ... x n
1 x
k 0

1
x k 1 x x 2 ...
1 x k 0

1
a k x k 1 ax a 2 x 2 ...
1 ax k 0

x rk 1 x r x 2 r ...

r
1 x
k 0

1
k 1 x k 1 2 x 3x 2 ...

1 x 2
k 0

C n k 1, k x k
1 x n
k 0

1 if kn; 0 otherwise
1
ak
1 if r | k; 0 otherwise
k+1
C(n+k-1, k) = (n+k-1, n-1)

1 C n,1 x C n 1,2 x 2 ...

1
k

C n k 1, k 1 x k

n
1 x k 0

(-1)kC(n+k-1,k)
= (-1)kC(n+k-1,n-1)

1 C n,1 x C n 1,2 x 2 ...

C n k 1, k a k x k
1 ax n
k 0

C(n+k-1,k)ak
= C(n+k-1,n-1)ak

1 C n,1 ax C n 1,2 a 2 x 2 ...

ex
k 0

xk
x2 x3
1 x ...
k!
2! 3!

ln 1 x
k 1

1 k 1 x k

1/k!
(-1)k+1/k

x 2 x3 x 4
...
2
3 4

Contoh:

2
3
4
16
1. Cari koefisien x pada x + x + x + . . .

Jawab

+ x 3 + x 4 + . . . x 2 1 x x 2 ...

x10 1 x x 2 ...
x10

1
1 x 5

2
3
4
16
10 6
6
Karena x x x berarti mencari koefisien x pada x + x + x + . . . sama

1
5
dengan mencari koefisien pada 1 x yaitu

( 5+61
6 )

= 210

2
3
4
16
Jadi, koefisien x pada x + x + x + . . . adalah 210

D. Teorema yang Digunakan dalam Fungsi Pembangkit


a) Koefisien Binomial
Misalkan u adalah bilangan real dan k adalah bilangan bulat tak
negatif, maka koefisien binomial didefinisikan sebagai berikut:

u u 1 ... u k 1 ,k 0
u
k!
k

1,k 0

Contoh
1.

DAFTAR PUSTAKA
Kenneth H. Ronsen. 2012. Discrete Mathematics and Its Applications. New York:
McGraw-Hill
Susda

dan

Zulkarnain.

2007.

Matematika

Diskrit.

Pekanbaru:

Pusat

pengembangan Pendidikan UNRI


9

Zubaidah Amir. 2010. Matematika Diskrit. Pekanbaru: Zanafa Publishing

10