Anda di halaman 1dari 2

Lihat Emansipasi wanita yang muncul ketika kami mendengar nama dia ibu RA.

Kartini. Sosok pejuang perempuan terus-menerus berjuang untuk umat-Nya,


yaitu perempuan, yang ketika ia pertama era perempuan yang selalu dipandang
sebagai sebuah klan lemah yang pekerjaan hanya bekerja diapur dan mengurus
rumah tangga. Tetapi berkat wanita ia bisa menunjukkan bahwa mereka adalah
orang-orang yang layak untuk menentukan, memimpin dan revolisioner. Di sini
adalah Biografi singkat ia Raden Ajeng Kartini.

Sebut adalah seseorang dari kelas Jawa priyayi atau bangsawan, putri dari
Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia dilahirkan pada tahun
1879 di kota Rembang. Dia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istrinya.
Ibunya bernama Ma Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji
Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Ayah Kartini pada mulanya adalah sosok di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu
mengharuskan Duke Bupati beristerikan. Karena bangsawan tinggi itu tidak
Ngasirah MA, maka ayahnya telah menikah lagi dengan Raden Adjeng kedua ini
(Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah pernikahan, maka ayah
Kartini Bupati Jepara ditunjuk untuk menggantikan kedudukan ayah dari r.a..
Kedua ini, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak kelima 11 saudara dan saudara. Dari semua Suster
dibesarkan, dia adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario M.p.
IV, diangkat menjadi Bupati pada usia 25 tahun. Kartini saudara, Sosrokartono,
adalah satu cerdas dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun tua bersekolah
di ELS (Europese Lagere School). Di sini, antara lain, dia belajar bahasa Belanda.
Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa
dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, kemudian ia mulai belajar di rumah oleh
diri sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal
dari Belanda. Salah satu dari ini adalah Rosa Abendanon yang banyak
mendukungnya. Dari buku, Surat Kabar dan majalah di Eropa, dia adalah tertarik
dalam kemajuan perempuan Eropa berpikir. Timbul dari keinginan untuk
memajukan perempuan pribumi, karena dia melihat bahwa perempuan pribumi
berada pada status sosial yang rendah.

Dia membaca banyak Surat Kabar Semarang De Locomotief peduli Pieter


Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (dirilis buku toko langganan majalah
paket). Di antara ada adalah majalah budaya dan ilmu yang ada juga cukup
berat, Belanda wanita majalah De Hollandsche Lelie. Dia adalah kemudian
beberapa kali mengirimkan tulisannya dan diterbitkan di De Hollandsche Lelie.
Dari suratnya tampak Kartini membaca apa yang ada di saksama, sementara
membuat catatan. Kadang-kadang dia menyebutkan satu karangan atau
mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya bukanlah sekedar soal Emansipasi
perempuan, tetapi juga masalah sosial. Kartini melihat perjuangan wanita untuk
mendapatkan undang-undang kebebasan, otonomi dan kesetaraan sebagai
bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku-buku yang dibaca Kartini
sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan surat-surat cinta karya
Multatuli, yang pada November 1901 dia sudah dua kali. Kemudian De Stille
Kraacht (kesaktian) oleh Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden
bermutu tinggi, Augusta de Witt adalah biasa-biasa saja, roman-feminis karya
Beek Van de Jong Mrs Goekoop dan anti-perang novel karangan Berta Von
Suttner, Die Waffen Nieder (meletakkan senjata). Semua dari mereka berbahasa
Belanda.

Oleh orang tuanya, dia diberitahu untuk menikah Bupati Adipati Rembang,
K.R.M. Ario Singgih Ali Adhiningrat, yang sudah memiliki tiga istri. Dia menikah
pada tanggal 12 November 1903. Suaminya memahami keinginan Kartini dan
dia diberikan kebebasan dan mendirikan sekolah wanita di gerbang timur
kompleks, Rembang atau kantor di sebuah gedung yang sekarang digunakan
sebagai Pramuka. Anak pertama dan juga terakhirnya, RM Soesalit, Lahir pada
tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904,
Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Ia dimakamkan di desa Bulu Bulu,
Rembang.