Anda di halaman 1dari 6

Eksplorasi Panas Bumi 2015

Hidrotermal : larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai hasil differensiasi magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relative ringan, dan merupakan sumber terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan.

Alterasi adalah perubahan dalam mineralogi suatu batuan yang terjadi karena proses-proses fisika dan kimia, khususnya oleh aktivitas fluida hydrothermal.

Alterasi Hidrothermal : Suatu proses yang sangat kompleks yang melibatkan perubahan mineralogi, kimiawi, dan tekstur yang disebabkan oleh interaksi fluida panas dengan batuan yang dilaluinya, di bawah kondisi evolusi fisio-kimia. Proses alterasi merupakan suatu bentuk metasomatisme, yaitu pertukaran komponen kimiawi antara cairan-cairan dengan batuan dinding (Pirajno, 1992).

Eksplorasi Panas Bumi 2015 Hidrotermal : larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai hasil differensiasi magma.

Eksplorasi Panas Bumi 2015

Proses Alterasi

Alterasi dicirikan oleh pembentukan mineral-mineral sekunder yang mengandung hidroksil (biotit, serisit, khlorit, mineral lempung) disamping kuarsa dan juga karbonat. Fenomena Alterasi dapat disebabkan oleh:

Proses diagenesis pada sedimen

Metamorfosa

Proses “cooling” post magmatic/volkanik

Proses mineralisasi

Produk Alterasi tergantung pada :

Jenis reaksi alterasi Komposisi batuan samping (wall rock)

Temperatur dan tekanan Alterasi terjadi akibat reaksi fluida dengan “wall rocks” Reaksi dalam proses alterasi:

  • 1. Hydrolisis (keterlibatan H+)

  • 2. Hydration-dehydration (lepasnya molekul air dari fluid ke mineral dan sebaliknya)

  • 3. Alkali dan alkali tanah metasomatism (substitusi kation)

  • 4. Decarbonation (pembebasan CO2)

  • 5. Silicification (penambahan SiO2)

  • 6. Silication (penggantian oleh silikiat)

  • 7. Oksidasi dan reduksi Larutan hidrotermal terbentuk pada fase akhir siklus pembekuan magma. Interaksi antara larutan hidrotermal dengan batuan yang dilewati akan menyebabkan terubahnya mineral-mineral penyusun batuan samping dan membentuk mineral alterasi. Larutan hidrotermal tersebut akan terendapkan pada suatu tempat membentuk mineralisasi (Bateman, 1981).

Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi pengendapan mineral di dalam sistem hidrotermal terdiri dari empat macam (Barnes, 1979; Guilbert dan Park, 1986), yaitu:

(1) Perubahan temperatur (2) Perubahan tekanan (3) Reaksi kimia antara fluida hidrotermal dengan batuan yang dilewati (4) Percampuran antara dua larutan yang berbeda.

Eksplorasi Panas Bumi 2015

Temperatur dan pH fluida merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi mineralogi sistem hidrotermal. Tekanan langsung berhubungan dengan temperatur, dan konsentrasi unsur terekspresikan di dalam pH batuan hasil mineralisasi (Corbett dan Leach, 1996)

Sistem pembentukan mineralisasi di lingkaran Pasifik secara umum terdiri dari endapan mineral tipe porfiri, mesotermal sampai epitermal (Corbett dan Leach, 1996). Tipe porfiri terbentuk pada kedalaman lebih besar dari 1 km dan batuan induk berupa batuan intrusi. Sillitoe, 1993a (dalam Corbett dan Leach, 1996) mengemukakan bahwa endapan porfiri mempunyai diameter 1 sampai > 2 km dan bentuknya silinder.

Tipe mesotermal terbentuk pada temperatur dan tekanan menengah, dan bertemperatur > 300oC (Lindgren, 1922 dalam Corbett dan Leach, 1996). Kandungan sulfida bijih terdiri dari kalkopirit, spalerit, galena, tertahidrit, bornit, dan kalkosit. Mineral penyerta terdiri dari kuarsa, karbonat (kalsit, siderit, rodokrosit), dan pirit. Mineral alterasi terdiri dari serisit, kuarsa, kalsit, dolomit, pirit, ortoklas, dan lempung.

Tipe epitermal terbentuk di lingkungan dangkal dengan temperatur < 300 o C, dan fluida hidrotermal diinterpretasikan bersumber dari fluida meteorik. Endapan tipe ini merupakan kelanjutan dari sistem hidrotermal tipe porfiri, dan terbentuk pada busur magmatik bagian dalam di lingkungan gunungapi kalk-alkali atau batuan dasar sedimen (Heyba et al., 1985 dalam Corbett dan Leach, 1996). Sistem ini umumnya mempunyai variasi endapan sulfida rendah dan sulfida tinggi (gambar 4). Mineral bijih terdiri dari timonidsulfat, arsenidsulfat, emas dan perak, stibnite, argentit, cinabar, elektrum, emas murni, perak murni, selenid, dan mengandung sedikit galena, spalerit, dan galena. Mineral penyerta terdiri dari kuarsa, ametis, adularia, kalsit, rodokrosit, barit, flourit, dan hematit. Mineral alterasi terdiri dari klorit, serisit, alunit, zeolit, adularia, silika, pirit, dan kalsit.

Mineralisasi/alterasi endapan urat yang berasosiasi dengan endapan logam dasar dicirikan oleh zonasi pembentukan mineral dari temperatur tinggi sampai rendah. Urat/vein di daerah proksimal kaya kandungan tembaga dan rasio logam dibanding sulfur tinggi. Daerah ini dicirikan oleh hadirnya alterasi argillik sempurna di bagian dalam dan ke arah luar berubah menjadi alterasi serisitik. Daerah distal kaya kandungan timbal dan zeng, dan terdiri dari mineral sulfida dengan rasio logam dibanding

Eksplorasi Panas Bumi 2015

sulfur rendah. Alterasi yang berkembang di daerah ini berupa alterasi propilitik, semakin ke arah jauh dari urat tersusun oleh batuan tidak teralterasi (Panteleyev, 1994; Corbett, 2002).

Guilbertdan Park, 1986, mengemukakan model hubungan antara mineralisasi dan alterasi dalam sistem epitermal. Beberapa asosiasi mineral bijih maupun mineral skunder erat hubungannya dengan besar temperatur larutan hidrotermal pada waktu mineralisasi. Mineral bijih galena, sfalerit dan kalkopirit terbentuk pada horison logam dasar bagian bawah dengan temperatur ≥ 350 o C. Pada horison ini alterasi bertipe argilik sempurna dan terbentuk mineral alterasi temperatur tinggi seperti adularia, albit dan feldspar. Fluida hidrotermal di horison logam dasar (bagian tengah) bertemperatur antara 200 o - 400 o C. Mineral bijih terdiri dari argentit, elektrum, pirargirit dan proustit. Mineral ubahan terdiri dari serisit, adularia, ametis, sedikit mengandung albit. Horison bagian atas terbentuk pada temperatur < 200 o C. Mineral bijih terdiri dari emas di dalam pirit, Ag-garamsulfo dan pirit. Mineral ubahan berupa zeolit, kalsit, agat.

Berdasarkan pada kisaran temperatur dan pH, komposisi alterasi pada sistem emas-tembaga hidrotermal di lingkaran Pasifik dapat dikelompokan menjadi 6 tipe alterasi (Corbett dan Leach,

1996), yaitu:

1) Argilik sempurna (silika pH rendah, alunit, dan group mineral alunit-kaolinit. 2) Argilik tersusun oleh anggota kaolin (halosit, kaolin, dikit) dan illit (smektit, selang-seling illlit- smektit, illit) dan group mineral transisi (klorit-illit). 3) Philik tersusun oleh anggota kaolin (piropilit-andalusit) dan illit (serisit-mika putih) berasosiasi dengan mineral pada temperatur tinggi seperti serisit-mika-klorit. 4) Subpropilitik tersusun oleh klorit-zeolit yang terbentuk pada temperatur rendah dan propilitik tersusun oleh klorit-epidot-aktinolit terbentuk pada temperatur rendah. 5) Potasik tersusun oleh biotit-K-feldspar-aktinolit+klinopiroksen.

6) Skarn tersusun oleh mineral kalk-silikat

(Ca-garnet, klinopiroksen, tremolit).

Eksplorasi Panas Bumi 2015

Terdapat beberapa tipe alterasi secara hydrothermal, menurut Hochstein adalah sebagai berikut:

  • 1. Alterasi Langsung (Pengendapan)

Untuk dapat terbentuk secara langsung, maka batuan reservoir panasbumi harus memiliki celah, dimana dengan adanya celah ini fluida reservoir dapat mengalir. Saluran ini antara lain berupa joint, fracture, fault,vug pore dan fissure.

  • 2. Alterasi Replacement (Penggantian)

Kebanyakan batuan mengandung mineral utama yang tidak stabil. Mineral ini memiliki kecenderungan untuk digantikan dengan mineral yang lebih stabil pada kondisi yang baru. Tabel I-2.

  • 3. Alterasi Leaching (Pelepasan)

Terjadinya uap yang terasamkan secara oksidasi dari gas H2S, maka batuan yang memiliki mineral pengganti (attacks rock) akan menggantikan mineral primer tanpa mengganggu lubang yang telah ada. Alterasi ini dapat dikelompokkan berdasarkan mineral yang dihasilkan, yaitu:

  • a. Albitisasi

Alterasi yang dihasilkan dari perubahan mineral lain terutama K feldspar oleh larutan yang kaya Na.

  • b. Alunitisasi

Dijumpai pada batuan beku berbutir halus yang terdapat disekeliling vein epithermal, dihasilkan oleh aktivitas air yang bersifat sulfat.

  • c. Argilitisasi

Biasa ditemukan pada batuan samping dari vein dimana cairan pembentuk akan mengubah mineralfeldspar menjadi lempung.

  • d. Karbonitisasi :Dihasilkan oleh intrusi atau pembentukan mineral karbonat setempat.

  • e. Chloritisasi : Mineral sebelumnya, umumnya berupa mineral alluminous ferromagnesian silicate.

  • f. Epidotisasi : Perubahan mineral alluminous ferromagnesian silicate menjadi epidote terdapat pada chlorite.

  • g. Silisifikasi : Dihasilkan oleh introduksi silica dari larutan magmatic akhir.

  • h. Piritisasi : Suatu perubahan mineral ferromagnesian menjadi pirite.

Eksplorasi Panas Bumi 2015

Tabel I-2. Tipe Produk Pengganti Mineral Primer Karena Alterasi Hydrothermal

Original mineral

replacement products

volcanic glass

zeolite* (e.g. mordenite, laumontite, criscobalite, quartz. calcite. clays (e.g. montmoriloite)

Magnetite/ilminite/titanoomagnetite.

pyrite, leucoxene: spnene,pyrhotite, hematite

pyroxene/ampnibole/olivine/ biotite

chlorite, illite. quartz, pyirite, calcite, anhydrite

calcic plagioclase

calcite, albite, adularia, vairakite, quartz. anhydrite. chlorite. Illite, kaolin, monmorilonite. epidote

anorthoclase/sanidine/orthoclase

adularia