Anda di halaman 1dari 9

TINDAKAN PENCEGAHAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL SISWA

DI SMAN 5 MAKASSAR
Prevention of Sexually Transmitted Infections
Students at SMAN 5 Makassar
Nur Fadhilah, Rismayanti, Dian Sidik A.
Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
(nurfadhilahkasim@gmail.com, rismayanti707ti@gmail.com, dian_sidiq@yahoo.com,
085343749387)
ABSTRAK
Infeksi menular seksual merupakan salah satu dari sepuluh penyebab pertama penyakit yang
tidak menyenangkan pada dewasa muda laki-laki dan penyebab kedua terbesar pada dewasa muda
perempuan di negara berkembang. Tingginya kasus IMS khususnya pada kelompok usia remaja, salah
satu penyebabnya adalah akibat perilaku seks berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
faktor yang berhubungan dengan tindakan pencegahan infeksi menular seksual pada siswa di SMAN
5 Makassar. Jenis penelitian observational analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi adalah
siswa (i) SMAN 5 Makassar tercatat dan aktif pada tahun ajaran 2014/2015 sebanyak 1254 siswa.
Metode penarikan sampel yaitu proportional random sampling dengan besar sampel 294 responden.
Berdasarkan hasil uji chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan (p=0,049)
dengan tindakan pencegahan infeksi menular seksual, serta tidak ada hubungan antara sikap
(p=0,525), peran orang tua (p=0,834), dan peran PIK KRR (p=0,990) dengan tindakan pencegahan
infeksi menular seksual. Kesimpulan penelitian adalah ada hubungan antara pengetahuan dengan
tindakan pencegahan infeksi menular seksual pada siswa.
Kata kunci : Pengetahuan, sikap, IMS, siswa

ABSTRACT
Sexually transmitted infection is one of the first ten causes unpleasant disease in young and
adult males and the second leading cause in young and adults women in developing countries. risky
sexual behavior is one of the reason that make The High rates of IMS, especially in young people.
This study aims to determine the factors associated with sexually transmitted infection prevention of
students at SMAN 5 Makassar. The Type of this research is analytical observational with cross
sectional design. The reseach population are students of SMAN 5 Makassar that registered and
active in the academic year 2014/2015. The number of population is 1254 students. The Sampling
method of this research is proportional random sampling with a sample size of 294 respondents.
Based on the results of chi-square test showed that there is a relationship between knowledge
(p=0,049) with a sexually transmitted infection prevention , and there is no relationship between
attitude (p=0,525), the role of parents (p=0,834), and the role of PIK KRR (p=0,990) with sexually
transmitted infection prevention .the Conclusion of this research is there is a relationship between
knowledge and sexually transmitted infections prevention of the students.
Keywords: Knowledge, attitude, IMS, students

PENDAHULUAN
Kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat baik secara fisik, psikis maupun sosial yang
berkaitan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksi sebagai akibat pertumbuhan dan perkembangan
manusia sekaligus memantapkan moral dan etika serta membangun komitmen agar tidak terjadi
penyalahgunaan organ reproduksi. Infeksi Menular Seksual (IMS) disebut juga penyakit kelamin,
merupakan salah satu infeksi yang mudah ditularkan melalui hubungan seksual, dengan ciri khas
adanya penyebab dan kelainan yang terjadi terutama di daerah genital.1 Menurut World Health
Organization (WHO), IMS merupakan salah satu dari sepuluh penyebab pertama penyakit yang tidak
menyenangkan pada dewasa muda laki-laki dan penyebab kedua terbesar pada dewasa muda
perempuan di negara berkembang.2
Hasil dari Youth Risk Behavior Surveillance (YRBS) secara nasional di Amerika Serikat pada
tahun 2013 menunjukkan bahwa banyak siswa SMA yang terlibat dalam perilaku berisiko kesehatan.
Selama 30 hari sebelum survey, 34,9% pernah mabuk alkohol, dan 23,4% telah menggunakan ganja.
Banyak siswa SMA secara nasional terlibat dalam perilaku seksual berisiko yang berkontribusi
terhadap kehamilan yang tidak diinginkan dan IMS, termasuk infeksi Human Immunodeficiency Virus
(HIV). Hampir setengah (46,8%) dari siswa yang pernah melakukan hubungan seksual, 34,0% pernah
melakukan hubungan seksual selama 3 bulan sebelum survei (yaitu aktif secara seksual), dan 15,0%
telah melakukan hubungan seksual dengan empat orang atau lebih selama hidup mereka. Di antara
siswa yang sedang aktif secara seksual, 59,1% telah menggunakan kondom saat melakukan hubungan
seksual terakhir mereka.3
Hasil Survei Kesehatan Reproduksi Remaja tahun 2012 mengungkap beberapa perilaku
berpacaran remaja yang belum menikah, antara lain, sebanyak 29,5% remaja pria dan 6,2% remaja
wanita pernah meraba atau merangsang pasangannya, sebanyak 48,1 % remaja laki-laki dan 29,3%
remaja wanita pernah berciuman bibir, sebanyak 79,6% remaja pria dan 71,6% remaja wanita pernah
berpegangan tangan dengan pasangannya. Selain itu, diketahui, umur berpacaran untuk pertama kali
paling banyak adalah 15-17 tahun, yakni pada 45,3% remaja pria dan 47,0% remaja wanita. Dari
seluruh usia yang disurvei yakni 10-24 tahun, cuma 14,8% yang mengaku belum pernah pacaran sama
sekali.4
Faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan kesehatan reproduksi remaja adalah faktor
internal antara lain pengetahuan, sikap, kepribadian remaja itu sendiri dan faktor eksternal yaitu
lingkungan. Hasil penelitian Falentina, menunjukkan bahwa adanya hubungan secara signifikan
antara pengetahuan dan sikap remaja tentang penyakit menular seksual dengan upaya pencegahan
terhadap penyakit menular seksual.5 Peran orang tua juga dinilai memilki hubungan dalam tindakan
pencegahan infeksi menular seksual.6,7 Selain itu, pemberian informasi kesehatan reproduksi remaja
melalui Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK KRR) menjadi salah satu
faktor yang sangat berpengaruh dalam membentuk tindakan pencegahan penyakit menular seksual di
kalangan pelajar.

Berdasarkan latar belakang dan fenomena di atas, maka selanjutnya penulis tertarik untuk
meneliti permasalahan terkait tindakan pencegahan infeksi menular seksual. Sehingga tujuan
penelitian yaitu mengetahui faktor yang berhubungan dengan tindakan pencegahan infeksi menular
seksual pada siswa di SMAN 5 Makassar.

BAHAN DAN METODE


Jenis penelitian ini adalah observational analitik dengan desain cross sectional. Penelitian
dilakukan di SMAN 5 Makassar pada bulan Februari-Maret 2015. Populasi adalah siswa(i) yang
tercatat dan aktif pada tahun ajaran 2014/2015 sebanyak 1254 siswa. Metode penarikan sampel yaitu
proportional random sampling dengan besar sampel 294 responden. Pengumpulan data dilakukan
dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan
bivariat dengan uji chi square dan uji phi. Data yang telah dianalisis disajikan dalam bentuk tabel dan
narasi.

HASIL
Responden pada penelitian ini berumur antara 14-18 tahun. Sebagian besar responden
berjenis kelamin perempuan yaitu 189 responden (64,5%). Jumlah responden terbanyak berusia 16
tahun yaitu 96 responden (32,7%), sedangkan terendah adalah usia 18 tahun yaitu 10 responden
(3,4%) (Tabel 1).
Distribusi responden berdasarkan pengetahuan menunjukkan bahwa dari 294 responden,
sebagian besar yaitu 179 responden (60,9%) memiliki pengetahuan yang cukup. tentang pengertian
remaja, pengertian perilaku seksual dan seks pranikah, risiko akibat melakukan hubungan seksual,
pengertian, penularan, gejala, dampak dan pencegahan infeksi menular seksual. Namun persentasi
pengetahuan cukup dan kurang mengenai ciri utama pubertas pada perempuan dan laki-laki serta jenis
infeksi menular seksual hampir sama besar. Sehingga dapat diketahui bahwa pengetahuan responden
kurang pada ciri utama pubertas pada perempuan dan laki-laki serta jenis infeksi menular seksual
(Tabel 2).
Distribusi responden berdasarkan sikap menunjukkan bahwa dari 294 responden, sebagian
besar yaitu 170 responden (57,8%) memiliki sikap yang positif terhadap kesehatan reproduksi.
Sedangkan responden yang memiliki sikap negatif terhadap kesehatan reproduksi yaitu sebanyak 124
responden (42,2%) (Tabel 2).
Ditribusi responden berdasarkan peran orang tua menunjukkan bahwa dari 294 responden,
sebagian besar yaitu 160 responden (54,4%) memiliki peran orang tua yang cukup (Tabel 2). Dan
distribusi responden berdasarkan peran PIK KRR menunjukkan bahwa dari 294 responden, sebagian
besar yaitu 254 responden (86,4%) menganggap bahwa PIK KRR kurang berperan dalam pemberian
informasi mengenai kesehatan reproduksi maupun pelayanan konseling (Tabel 2).

Data menunjukkan dari 184 responden yang melakukan tindakan pencegahan infeksi menular
seksual, sebagian besar yaitu 67,0% (120 responden) memiliki pengetahuan yang cukup tentang
kesehatan reproduksi. Sedangkan responden yang melakukan tindakan pencegahan infeksi menular
seksual dan memiliki pengetahuan yang kurang mengenai kesehatan reproduksi remaja sebanyak
55,7% (64 responden). Hasil uji chi- square menunjukkan nilai p=0,049 maka dapat disimpulkan
bahwa ada hubungan antara pengetahuan responden dengan tindakan pencegahan infeksi menular
seksual siswa di SMAN 5 Makassar dengan kekuatan hubungan lemah (Tabel 3).
Berdasarkan hasil penelitian diketahui dari 184 responden yang melakukan tindakan
pencegahan infeksi menular seksual, sebagian besar yaitu 64,1% (109 responden) memiliki sikap
yang positif terhadap kesehatan reproduksi. Sedangkan persentasi responden yang melakukan
tindakan pencegahan infeksi menular seksual dan memiliki sikap positif terhadap kesehatan
reproduksi remaja sebanyak 60,5% (75 responden). Hasil uji chi- square menunjukkan p=0,525 maka
dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara sikap responden terhadap kesehatan reproduksi
dengan tindakan pencegahan infeksi menular seksual siswa di SMAN 5 Makassar (Tabel 3).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 184 responden yang melakukan tindakan
pencegahan infeksi menular seksual, sebagian besar yaitu 63,1% (101 responden) menilai orang tua
memiliki peran yang cukup terhadap tindakan pencegahan infeksi menular seksual. Sedangkan
persentasi responden yang melakukan tindakan pencegahan infeksi menular seksual dan menilai orang
tua memiliki peran yang kurang terhadap tindakan pencegahan infeksi menular seksual sebanyak
61,9% (83 responden). Hasil uji chi-square menunjukkan p=0,834 maka dapat disimpulkan bahwa
tidak ada hubungan antara peran orang tua dengan tindakan pencegahan infeksi menular seksual siswa
di SMAN 5 Makassar (Tabel 3).
Data menunjukkan bahwa dari 184 responden yang melakukan tindakan pencegahan infeksi
menular seksual, sebagian besar yaitu 62,6 % (159 responden) menilai PIK KRR memiliki peran yang
kurang terhadap tindakan pencegahan infeksi menular seksual. Sedangkan persentasi responden yang
melakukan tindakan pencegahan infeksi menular seksual dan menilai PIK KRR memiliki peran yang
cukup terhadap tindakan pencegahan infeksi menular seksual sebanyak 62,5% (25 responden). Hasil
uji chi-square yaitu dengan p=0,990 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara peran
PIK KRR dengan tindakan pencegahan infeksi menular seksual siswa di SMAN 5 Makassar (Tabel
3).

PEMBAHASAN
Hasil analisis empat variabel independen terhadap tindakan pencegahan infeksi menular
seksual menunjukkan hanya satu varibel yang berhubungan dengan tindakan pencegehan infeksi
menular seksual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan
tindakan pencegahan infeksi menular seksual di SMAN 5 Makassar. Umumnya responden memiliki
pengetahuan yang cukup tentang pengertian remaja, pengertian perilaku seskasul dan seks pranikah,

risiko akibat melakukan hubungan seksual, pengertian, penularan, gejala, dampak dan pencegahan
infeksi menular seksual. Namun persentasi pengetahuan cukup dan kurang mengenai ciri utama
pubertas pada perempuan dan laki-laki serta jenis infeksi menular seksual hampir sama besar.
Sehingga dapat diketahui bahwa pengetahuan responden kurang pada ciri utama pubertas pada
perempuan dan laki-laki serta jenis infeksi menular seksual. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan Felentina, Bakhoum, Zeeb yang menyatakan bahwa ada hubungan antara
pengetahuan dengan tindakan pencegahan infeksi menular seksual.5,8,9 Namun berbeda dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Pelealu yang tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan tindakan
pencegahan infeksi menular seksual.10
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara sikap terhadap kesehatan
reproduksi dengan tindakan pencegahan infeksi menular seksual. Umumnya responden setuju dengan
penyataan yang menyatakan seseorang hanya boleh melakukan hubungan seks jika telah resmi
menikah, menghindari atau tidak melakukan hubungan seksual adalah cara paling aman untuk
mencegah infeksi menular seksual, infeksi menular seksual jika tidak segera diobati dapat
menimbulkan kemandulan atau kematian, bertanya atau berkonsultasi dengan teman sebaya
merupakan tindakan yang tepat dalam mengatasi masalah kesehatan reproduksi, remaja merasa
tergolong dalam kelompok yang berisiko terkena infeksi menular seksual. Sebagian besar responden
memiliki sikap yang positif terhadap kesehatan reproduksi. Namun sikap positif tidak selalu diikuti
dengan tindakan yang positif. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Pelealu yang menyatakan tidak ada hubungan antara sikap dengan tindakan pencegahan infeksi
menular seksual.10 Penelitian lain menunjukkan hasil berbeda yang dilakukan oleh Falentina, Anne
yang menyatakan ada hubungan antara sikap dengan tindakan pencegahan infeksi menular seksual.5,11
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara peran orang tua dengan tindakan
pencegahan infeksi menular seksual. Umumnya orang tua selalu memperhatikan apa yang dilakukan
responden dalam rumah, orang tua juga memberi batasan waktu keluar rumah kepada responden,
orang tua juga selalu mempunyai waktu untuk berkumpul bersama dengan responden. Namun,
sebagian besar responden tidak selalu berkomunkasi dengan orang tua jika menghadapi masalah dan
orang tua kurang membantu memberikan solusi ketika responden menghadapi masalah. Responden
tidak pernah bertanya kepada orang tua terkait masalah kesehatan reproduksi, dan orang tua juga
kurang mengajarkan responden tentang kesehatan reproduksi mengenai akibat dari seks pra nikah,
infeksi menular seksual, dan cara pencegahannya. Selain itu, sebagian besar orang tua kurang
memperhatikan apa yang dilakukan responden di luar rumah. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan
peneltian Anne, Crosby, Wilson and Donenberg, serta Sulistini yang menyatakan bahwa ada
hubungan peran orang tua dengan tindakan pencegahan infeksi menular sesual.11,12,13,14
Hasil penelitian ini menjukkan tidak ada hubungan peran PIK KRR dengan tindakan
pencegahan infeksi menular seksual. sebagian besar responden tidak pernah mendapatkan informasi
terkait kesehatan reproduksi remaja dari PIK KRR dikarenakan pemberian informasi tersebut tidak

rutin dilakukan setiap minggu, juga disebabkan karena kurang memanfaatkan sarana dan prasarana
untuk menyampaikam informasi terkait kesehatan reproduksi. Hasil penelitian juga menunjukkan
bahwa sebagian besar responden tidak memanfaatkan pelayanan konseling terkait kesehatan
reproduksi. Hal ini dikarenakan karena kepengurusan PIK KRR di SMAN 5 Makassar tahun 2015
kurang aktif dalam menjalankan program kerjanya dan kurangnya kesadaran responden itu sendiri
untuk melakukan konseling terkait kesehatan reproduksi remaja. Hal ini tidak sejalan dengan
penelitian Sasmita yang menyatakan bahwa ada hubungan peran PIK KRR dengan tindakan
pencegahan infeksi menular sesual.15

KESIMPULAN DAN SARAN


Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan (p=0,049) dengan
tindakan pencegahan infeksi menular seksual, serta tidak ada hubungan antara sikap (p=0,525), peran
orang tua (p=0,834), dan peran PIK KRR (p=0,990) dengan tindakan pencegahan infeksi menular
seksual.
Saran kepada pengelola PIK KRR SMAN 5 Makassar agar penyebaran informasi di
lingkungan sekolah mengenai kesehatan reproduksi remaja yang patut dan benar harus lebih
diintensifkan lagi dan aktif menjalankan program-program kerja lainnya. Serta diharapkan pihak
sekolah dapat memberikan penyuluhan yang intensif melalui media tulisan berupa brosur/pamflet
tentang kesehatan reproduksi mengenai ciri utama pubertas laki-laki dan perempuan serta jenis-jenis
infeksi menular seksual.

DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes, R.I. Kurikulum dan Modul Pengelolaan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan
Reproduksi Remaja (PIK-KRR). Jakarta: Departemen Kesehetan Republik Indonesia; 2007.

2. WHO. Sexually Transmitted Infections. [diakses 17 Desember, 2014]. Available at


3.
4.
5.
6.
7.

8.

http://www.who.int/topics/sexually_transmitted_infections/en
CDC. Youth Risk Behavior Surveillance. United States: Centers for Disease Control and
Prevention. 2013; 63
BKKBN. Kondisi Remaja Mengkhawatirkan. [diakses 8 Desember 2014]. Available at
http://www.bkkbn.go.id/ViewBeritas.aspx?BeritasID=936
Falentina, F. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Seksual dengan Upaya Pencegahan Terhadap
Penyakit Menular Seksual. [Skripsi]. Semarang: Universitas Diponegoro; 2006.
Suyanto. Mencegah Perilaku Seks yang tidak Sehat pada Remaja Melalui Pendidikan Seks dari
Orang Tua; Kelompok Studi PMS di Indonesia [Skripsi]. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2009.
Capuzzi, D. and D. R. Gross. Yout at Risk; A Prevention Resource for Counselors, Teachers, and
Parents.
[Diakses
13
Mei,
2015].
Available
at
https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=s7iTBQAAQBAJ&oi=fnd&pg=PR3&dq=journa
l+prevention+of+risk+behavior+in+adolescents+%2B+knowledge&ots=OyfMNEHCDE&sig=rb
AxGx5x3YKxlb8Lu7O2z88koHU#v=onepage&q&f=false.
Bakhoum, A. Y., et al. Assessment of Knowledge, Attitude, and Practice of Risky Sexual
Behavior Leading to HIV and Sexually Transmitted Infections among Egyptian Substance
Abusers: A Cross-Sectional Study. Advances in Public Health. 2014; 2014: 1-8.

9. Zeeb, F. S., et al. Awareness and Knowledge of Sexually Transmitted Diseases Among Secondary
School Students in Two German Cities. Journal of Community Health. 2013; 38 (2): 293-300.
10. Pelealu, A. T., et al. Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap dengan Upaya Pencegahan
Penyakit Menular Seksual pada Siswa di SMA Negeri 1 Tombatu Kabupaten Minahasa Tenggara
[Skripsi]. Manado: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi; 2013
11. Anne, et al. ParentAdolescent Communication About Sexual Pressure, Maternal Norms About
Relationship Power, and STI/HIV Protective Behaviors of Minority Urban Girls. National
Institute of Health. 2008; 14 (1): 50-60.
12. Crosby, R. A., et al. Correlates of Using Dual Methods for Sexually Transmitted Diseases and
Pregnancy Prevention Among High-Risk African-American Female Teens. Journal of Adolescent
Health. 2001; 28 (5): 410-414.
13. Wilson, H. W. and G. Donenberg. Quality of parent communication about sex and its relationship
to risky sexual behavior among youth in psychiatric care: a pilot study. National Institute of
Health. 2004; 45(2): 387-395
14. Sulistiani, N. Peran Orang Tua Dalam Pencegahan Perilaku Seks Bebas Pada Remaja Di Desa
Gondang Kecamatan Karangejo Kabupaten Magetan [Skripsi]. Ponorogo: Universitas
Muhammadiyah; 2012
15. Sasmita, S. Hubungan Program Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja
Dengan Tindakan Pencegahan PMS Di SMA 5 Makassar [Skripsi]. Makassar: Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Hasanuddin; 2011

LAMPIRAN
Tabel 1.

Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Siswa SMAN 5 Makassar


Karakteristik Responden
N=294
Persen (%)
Jenis Kelamin
Laki-laki
105
35,7
Perempuan
189
64,3

Umur (Tahun)
14
15
16
17
18
Sumber : Data Primer, 2015

Tabel 2.

13
92
96
83
10

4,4
31,3
32,7
28,2
3,4

Distribusi Variabel Independen Faktor yang Berhubungan dengan Tindakan


Pencegahan Infeksi Menular Seksual Pada Siswa di SMAN 5 Makassar
Variabel
n = 294
Persen (%)
Pengetahuan
Cukup
179
60,9
Kurang
115
39,1
Sikap
Positif
170
57,8
Negatif
124
42,2
Peran Orang Tua
Cukup
160
54,4
Kurang
134
45,6
Peran PIK KRR
Cukup
40
13,6
Kurang
254
86,4
Sumber : Data Primer, 2015

Tabel 3.

Hubungan Variabel Independen dengan Tindakan Pencegahan Infeksi Menular


Seksual Pada Siswa di SMAN 5 Makassar
Tindakan Pecegahan
Infeksi Menular Seksual
Total
Variabel
Uji
Independen
Positif
Negatif
Statistik
n
%
n
%
n
%
Pengetahuan
Cukup
120
67,0
59
33,0
179
100
p=0,049
Kurang
64
55,7
51
44,3
115
100
=0, 115
Sikap
Positif
109
64,1
61
35,9
170
100
p=0,525
Negatif
75
60,5
49
39,5
124
100
Peran Orang Tua
Cukup
101
63,1
59
36,9
160
100
p=0,834
Kurang
83
61,9
51
38,1
134
100
Peran PIK KRR
Cukup
25
62,5
15
37,5
40
100
p=0,990
Kurang
159
62,6
95
37,4
254
100
Sumber : Data Primer, 2015

Anda mungkin juga menyukai