Anda di halaman 1dari 12

Obat penyakit parkinson

A. Pendahuluan
Penyakit parkinson (paralisis agitans) merupakan suatu sindrom
dengan gejala utama berupa trias gangguan neuromuskular : tremor,
rigiditas, akinesia (hipokinesia) disertai kelainan postur tubuh dan gaya
berjalan. Gerakan halus yang memerlukan koordinasi kerja otot skelet
sukar dilakukan pasien, misalnya menyuap makanan, mengancingkan baju
dan menulis. Akibat gejala ini pasien sangat bergantung dengan bantuan
orang lain dalam kegiatan hidupnya sehari-hari. Disamping gejala utama
tersebut, sering ditemukan gangguan sistem otonom berupa sialorea,
seborea, hiperhidrosis. 30% kasus juga menderita demensia.
Berdasarkan etiologinya dikenal 3 jenis penyakit parkinson yaitu
1. Parkinsonisme pasca ensephalitis
2. Parkinsonisme akibat obat
3. Parkinsonisme idiopatik
Berdasarkan gejala klinik Lonis Herzberg mengemukakan 5 tahap
penyakit:
Tahap 1: gejala begitu ringan sehingga pasien tidak merasa terganggu.
Tahap 2: gejala ringan dan mulai sedikit mengganggu
Tahap 3: gejala bertambah berat
Tahap 4: tidak mampu berdiri tegak, kepala, leher dan bahu jatuh
kedepan.
Tahap 5: memburuknya gejala terjadi terutama sewaktu kadar levodopa
menurun tetapi efek samping tidak memungkinkan penambahan obat.
Secara patofisiologik diketahui bahwa pada penyakit parkinson
terjadi gangguan keseimbangan neuro-humoral di ganglia basal,
khususnya traktus nigrostriatum yang bersifat dopaminergik dalam sistem
ekstrapiramidal. Traktus tersebut yang mengatur fungsi gerakan halus
yang dimana harus adanya keseimbangan antara komponen kolinergik
dan dopaminergik. Gangguan keseimbangan tersebut ke arah kolinergik
akan menimbulkan sindrom parkinsonisme. Disproporsi fungsional antara
kedua komponen tersebut dapat meningkatkan fungsi komponen
kolinergik, yang tidak dapat diimbangi oleh komponen dopaminergik yang
rendah.
Tabel 2.1 klasifikasi obat penyakit parkinson
Obat
dopaminergi
k sentral

Obat antikolinergik
sentral

Obat Dopaminoantikolinergik

a. Prekursor
a.Senyawa antikolinergik
a. Amantadin
DA:
sentral: triheksifenidil, b. Antidepresan
trisiklik :
levodopa
biperiden, sikrimin,
b. Agonis DA:
imipramin dan
prosiklidin, benztropin
bromokripti
amitriptilin
mesilat dan karamifen

Penghambat
MAO-B

n,
b.Senyawa antihistamin:
difenhidramin,
apomorfin,
klorfenoksamin,
ropinirol,
orfenadrin, dan
pramiprakso
fenindamin
l
c. Derivat fenotiazin:
etopropazin,
prometasin, dan
dietazin
B. Obat dopaminergik sentral
1. Levodopa

Farmakokinetik
Levodopa cepat diabsorbsi secara aktif terutama dari usus
halus. Kecepatan absorpsi sangat tergantung dari kecepatan
pengosongan lambung. Yang mencapai sirkulasi darah relatif
sedikit karena (1) levodopa cepat mengalami pemecahan dalam
lambung; (2) dirusak oleh flora usus dalam dinding usus bagian
distal; (3) lambatnya absorpsi dibagian distal duodenum.
Absorpsi juga dihambat oleh makanan tinggi protein akibat
kompetisi asam amino dengan levodopa dalam absorpsi maupun
transpor ke otak. Levodopa dapat mencapai sirkulasi kira-kira
22-30% dosis oral; sedangkan 60% atau lebih mengalami
biotransformasi didalam saluran cerna dan hati.
Biotransformasi levodopa menghasilkan berbagai
metabolit(gbr 2.1) yang akan dengan cepat diekskresi melalui
urin.
Gambar 2.1 Biotransformasi levodopa
COMT

levodop
a

DC
melanin

3-0
metildopa

Dopamin

DBH
MAO
AD
Norepinefri
n

3metoksitirami

COMT
DOPAC (3,4Dehidroksifenil
asetat)

DC = dekarboksilase
AD = aldehid dehidrogenase

MAO
AD

HVA (3-Metoksi-4hidroksifenil
asetat

Mekanisme kerja
Mekanismenya berdasarkan replesi kekurangan DA korpus
striatum. Telah di buktikan bahwa defisiensi DA sejalan dengan3
gejala utama parkonsinisme dan konversi levodopa menjadi
dopamin, terjadi pada manusia. Pengubahan levodopa menjadi
DA membutuhkan adanya dekarboksilase asam L-amino
aromatik. Pada sebagian besar pasien parkinson, aktivitas enzim
ini menurun, tetapi agaknya mencukupi untuk mengubah
levodopa menjadi dopamin.
Efek terapi
Kira-kira 75% pasien parkinsonisme berkurang gejalanya
sebanyak 50%. Hasil pengobatan orang-orang tertentu
menakjubkan terutama pada awal terapi. Bolrh dikatakan semua
gejala dan tanda membaik, kecuali demensia dan instabilitas
postural.
Perbaikan terjadi pada gejala bradikinesia dan rigiditas,
tremor sedikit diperbaiki atau malah memburuk karena
berkurangnya rigiditas dan bradikinesia. Kebanyakan pasien
membaik alam perasaannya
Efek samping
Efek samping levodopa terutama disebabkan terbentuknya
dopamin diberbagai organ perifer. Sebagian besar efek
sampingnya adalah: intensitas dan tipe efek samping berbeda
tergantung tahap pengobatan, besarnya dosis dan bersifat
reversibel.
o Sistem cerna
Sampai 80% pasien mengalami mual, muntah, dan
tidak nafsu makan terutama bila dosis awal terlalu
tinggi. Gangguan ini agaknya berdasarkan efek sentral
akibat perangsangan CTZ (chemoreceptor tringger
zone) oleh DA. Gangguan ini dapat dihindari bila dosis
awal rendah dandinaikkan berangsung-angsur.
o Diskinesia dan gerakan spontan abnormal
Gerakan spontan abnormal terjadi pada 50% pasien
dalam 2-4 bulan pengobatan. Gerakan ini diduga
berdasarkan supersensitivitas reseptor dopaminergik
pascasinaps dan bentuknya bervariasi.
o Perpendekan masa kerja levodopa
Yaitu gejala parkinson yang timgul sebelum pasien
menelan dosis berikutnya.
o Fenomena pasang surut
Ialah fluktuasi efek obat dalam waktu singkat,
beberapa jam membaik lalu memburuk mendadak atau
sebagian otot tubuh memperlihatkan perbaikan,
lainnya tidak; terjadinya tidak berhubungan dengan
waktu minum obat.
o Pembekuan gerakan

Secara mendadak pasien yang sedang berjalan tidak


bisa melangkah atau langkahnya pendek-pendek
sekali.
o Psikis
Gejala ini timbul pada 5-10%, yaitu adanya depresi
bahkan sampai percobaan bunuh diri.
o Sistem kardiovaskular
Adanya takikardia dan aritmia. Dan juga karena efek
dopamin perifer akan menyebabkan hipotensi
ortostatik.
o Efek metabolik dan endokrin
Neuron tuberoinfundibular hipotalamus terutama terdiri
dari neuron dopaminergik. Dopamin akan menhambat
sekresi prolaktin.
o Efek terhadap sistem lain
Pada ginjal, levodopa jelas meningkatkan alirah plasma
ginjal, laju filtrasi glomerulus dan ekskresi Na+, dan K+
Interaksi obat (penghambat dekarboksilase)
Pemberian Penghambat dekarboksilase perifer (yang tidak
melintasi sawar darah-otak) bersama levodopa menghambat
biotranformasi levodopa menjadi DA di perifer. Terapi kombinasi
ini terutama bermanfaat terhadap hipokinesia, tetapi kurang
terhadap rigiditas. Terhadap gejala tremor sedikit sekali
pengaruhnya dan baru terlihat setelah terapi berjalan cukup
lama.
Penggunaan klinik
Sebaiknya levodopa diberikan per oral dengan makanan untuk
mengurangi iritasi. Terapi dimulai dengan dosis kecil, dinaikan
secara bertahap, tetapi sebaiknya tidak melebihi 8 g/hari.
Tabel 2-2. Pedoman dosis levodopa untuk pasien berobat jalan
Masa
pengobatan

Dosis

Minggu
Minggu
Minggu
Minggu
Minggu
Minggu
Minggu
Minggu

125 mg
125 mg
250 mg
500 mg
500 mg
500 mg
1g
1g

ke-1
ke-2
ke-3
ke-4
ke-5
ke-6
ke-7
ke-8

Frekuensi pemberian

2 sehari
4 sehari
4 sehari
3 sehari
4 sehari
5 sehari
3 sehari
3 sehari + 500 mg dimalam
hari
Selanjutnya bila diperlukan dosis harian dapat ditambah 500 mg
setiap minggu

2. Agonis dopamin
2.1.
Bromokriptin
Merupakan prototip kelompok ergolin yaitu alkaloid ergot yang
bersifat dopaminergik yang dikelompokkan sebagai ergolin. Dalam
kelompok ini termasuk lesurit dan pergolid.

Mekanisme kerja
Merangsang reseptor dopaminergik. Obat ini lebih besar
afinitasnya terhadap reseptor D2 dan merupakan antagonis
reseptor D1. Organ yang dipengaruhi ialah yang memiliki
reseptor dopamin. Yaitu SSP, kardiovaskular, poros hipotalamushipofise, dan saluran cerna. Bromokriptin menyebabkan kadar
HVA dalam CSS menurun, yang memberikan kesan bahwa obat
ini menghambat pembebasan DA dari ujung saraf di otak. Terapi
kombinasi levodopa bromokriptin pada penyakit parkinson dapat
mengurangi dosis levodopa sambil tetap mempertahankan atau
bahkan dapat meningkatkan efek terapinya.
Farmakokinetik
Hanya 30% bromokriptin yang di berikan per oral diabsorpsi .
obat ini mengalami metabolisme lintas awal secara extensif
sehingga sedikit sekali fraksi dosis yang sampai di tempat kerja .
Indikasi dan dosis
Indikasi utama bromokriptin ialah sebagai tambahan levodopa
pada pasien yang tidak memberikan respons memuaskan
terhadap levodopa ; dan untuk mengatasi fluktuasi respons
levodopa dikontraindikasikan .
Bromokriptin juga diindikasikan untuk terapi hiperprolaktinemia
pada berbagai situasi klinis yaitu laktasi , infertilitas dan
galaktore-amenore . juga diberikan pada tumor hipofisis . untuk
mengatasi hiperprolaktinemia dosisnya 1,25-2,5 mg; umumnya
pasien berespons baik dengan dosis total 5-7,5 mg/hari .
Efek samping
Efek samping bromokriptin memperlihatkan variasi individu yang
nyata . efek samping yang jarang-jarang terjadi ialah
:eritromelalgia , kemerahan , nyeri , panas dan edema di tungkai
bawah . umunya terjadi bila dosis per hari lebih dari 50 mg .
hipotensi simtomatik dan levido retikularis kulit juga lebih sering
terjadi dibanding dengan levodopa ; Diskinesia lebih jarang
terjadi . Semua efek samping ini berkurang dan bersifat
reversibel dengan pengurangan atau penurunan dosis .
2.2 Agonis dopaminergik lainnya
Pergolid mesilat
Sama efektif dengan bromokriptin untuk mengatasi
parkinsonisme dan hiperprolaktinemia . Obat yang merupakan
turunan ergolin yang poten ini merangsang reseptor D 2 dan D1 .
Lisurid
Sama dengan bromokriptin merupakan agonis D 2 dan antagonis
D1. Lisurid juga merangsang 5 HT yang diduga mendasari
halusinasi dan efek samping lainnya . Sifatnya yang larut air
cocok untuk pemberian sebagai infus .
Apomorfin

Merupakan agonis dopamin . afinitasnya tinggi terhadap


reseptor D4 ; sedang untuk reseptor D2,D3,D5 dan a1D, a2B dan a2C ;
rendah untuk reseptor D1. Apomorfin diindikasikan untuk terapi
fenomena off pada terapi levodopa /karbidopa . jangan
memberikan antiemetik antagonis dopamin , misalnya
ondansetron karena dolaporkan terjadinya hilang kesadaran dan
hipotensi . Dosis apomorfin diawali dengan 2 mg dititrasi sampai
6 mg ; pasien dapat membutuhkan lebih dari 3 kali sehari .
Ropinirol
Merupakan agonis murni D2 , dopamin non-ergot . Ropinirol
diindikasikan pada penyakit Parkinson awal atau lanjut . Dengan
penundaan pemberian levodopa , diharapkan efek samping
diskinesia berkurang . Suatu studi selama 5 tahun mendapatkan
bahwa insidens diskinesia 20% pada kelompok ropinirol dan 45%
pada kelompok levodopa . Efek samping yang dilaporkan , yang
merupakan penyebab penghentian terapi , ialah mual (3%) dan
halusinasi (4%) . Dosis awal 3 kali 0,25 mg/hari, ditingkatkan
perlahan-lahan sesuai kebutuhan sampai maksimal 24 mg/hari .
Pramipreksol
Agonis dopamin non-ergot . Obat ini memperlihatkan afinitas
khusus pada reseptor D3 . Pramipreksol efektif sebagai
monoterapi pada penyakit Parkinson ringan . obat ini diduga
bersifat neuroprotektif berdasarkan daya menyingkirkan
hidrogen peroksida dan meningkatkan aktifitas neurotropik pada
sel dopaminergik in vitro . Obat ini cepat diabsorpsi ,puncak
plasma tercapai dalam 2 jam. Ekskresi terutama dalam bentuk
utuh . Dosis antara 0,5-1,5 mg , tiga kali sehari .
2.3 Perangsang SSP
Pada terapi penyakit Parkinson , perangsang SSP bekerja
memperlancar transmisi DA . Defisiensi DA tidak diperbaiki . Efek anti
Parkinson hanya lemah dan umunya perlu dikombinasikan dengan
antikolinergik . Untuk tujuan ini dekstroamfetamin diberikan 2 kali 5
mg sehari ; metamfetamin 2,5 mg sehari ; atau metilfenidat , 2 kali 5
mg sehari .
3. Antikolinergik
Antikolinergik merupakan obat alternatif levodopa dalam
pengobatan parkinsonisme . Prototip kelompok ini ialah triheksifenidil .
Termasuk dalam kelompok ini adalah : biperiden , proksilidin ,
benztropin , dan antihistamin dengan efek antikolinergik difenhidramin
dan etopropazin .
Mekanisme kerja
Dasar kerja obat ini adalah mengurangi aktivitas kolinergik
yang berlebihan di gangllan basal . Efek antikolinergik perifernya
relatif lemah dibandingkan dengan atropin . Atropin dan alkaloid
beladon lainnya merupakan obat pertama yang dimanfaatkan

pada penyakit Parkinson ,tetapi bukan pilihan karena efek


perifernya terlalu mengganggu .
3.1Triheksifenidil, senyawa kongenergiknya dan benztropin
Farmakodinamik
Obat-obat ini terutama berefek sentral . Dibandingkan
dengan potensi atropin ,triheksifenidil memperlihatkan
potensi antispasmodik setengahnya , efek midriatik
sepertiganya , efek terhadap kelenjar ludah vagus
sepersepuluhya . seperti atropin ,triheksifenidil dosis besar
menyebabkan perangsangan otak .
Benztropin tersedia sebagai benztropin mesilat , yaitu
suatu metansulfonat dari eter tropinbenzohidril . Eter ini
terdiri atas gugus basa tropin dan gugus antihistamin
(difenhidramin) . efek sedasi gugus difenhidramin
bermanfaat bagi mereka yang justru mengalami dan
perangsangan akibat penggunaan obat lain; khususnya
pada pasien yang berusia lanjut . sebaliknya bagian basa
tropinnya menimbulkan perangsangan .

Farmakokinetik
Tidak banyak data farmakokinetik yang diketahui
mengenai obat-obat ini . hal ini dapat dimengerti sebab saat
obat ditemukan , farmakokinetika belum berkembang .
sekarang obat ini kurang diperhatikan setelah ada levodopa
dan bromokriptin .
Kadar puncak triheksifenidil ,proksilidin dan biperiden
tercapai setelah 1-2 jam . Masa paruh eliminasi terminal
antara 10 dan 12 jam . Jadi sebenarnya pemberian 2 kali
sehari mencukupi , tidak tiga kali sehari sebagaimana
dilakukan saat ini .
Efek samping
Antiparkinson kelompok antikolinergik menimbulkan
efek samping sentral dan perifer . Efek samping sentral
dapat berupa gangguan neurologik yaitu : ataksia ,
disartria , hipertermia ,gangguan mental : pikiran kacau ,
amnesia , delusi , halusinasi , somnolen dan koma . efek
samping perifer berupa atropin .
Gejala insomnia dan gelisah oleh antikolinergik sentral
dapat diatasi dengan dosis kecil hipnotik , sedatif , atau
dengan difenhidramin . Gangguan daya ingat sering terjadi
akibat pemberian antikolinergik pada pasien yang berumur
lebih dari 70 tahun dan pada pasien dengan demensia . efek
samping ini sangat membatas penggunaan antikolinergik
sentral . Pada kelompok pasien ini lebih aman diberikan
anthistamin .
Efek samping benztropin umumnya ringan , jarang
memerlukan penghentian terapi : sesekali dosis perlu

diturunkan umpamanya , bila timbul kelemahan otot


tertentu .
Efek terapi
Obat antikolinergik khususnya bermanfaat terhadap
parkinsonisme akibat obat . Misalnya oleh neuroleptik ,
termasuk juga antiemetik turunan fenotiazin , yang
menimbulkan gangguan ekstrapiramidal akibat
blokadereseptor DA di otak .
Triheksifenidil juga memperbaiki gejala beser ludah
(sialorrhoea) dan suasana perasaan (mood) . Selain pada
penyakit parkinson , triheksifenidil dapat pula digunakan
pada sindrom atetokoriatik , tortikolis spastik dan spasme
fasialis ; demikian juga turunannya . Obat-obat ini digunakan
sebagai pengganti triheksifenidil bila terjadi toleransi .
Triheksifenidil terutama berpengaruh baik terhadap tremor ,
tetapi bradikinesia/akinesia dan rigiditas juga membaik .
Efektivitas benztropin bertahan lebih lama dari antikolinergik
lain .

3.2 Senyawa antihistamin


Beberapa antihistamin dapat dimanfaatkan efek
antikolinergiknya untuk terapi penyakit Parkinson , yaitu
difenhidramin , fenindamin , orfenadrin , klorfenoksamin .
keempat senyawa ini memiliki sifat farmakologik yang mirip
satu dengan yang lainnya .
Difenhidramin 50 mg ,3-4 kali sehari diberikan bersama
levodopa , untuk mengatasi efek ansietas dan insomnia
akibat levodopa . Walaupun menimbulkan perasaan kantuk ,
obat kelompok ini dapat memperbaiki suasana perasaan
karena efek psikotropiknya menghasilkan euforia . Efek
antikolinergik perifer lemah , sehingga beser ludah janya
sedikit dipengaruhi.
Tabel 12-3. Obat antikolinergik sentral
Triheksifenidil

Biperiden HCl atau


laktat
Prosiklidin

2 mg, 2-3 sehari. Rentang dosis 10-20


mg/hari tergantung respons dan
keterterimaan.
0,5-2 mg, 2-4 kali sehari

Triheksifenidil
tablet 2 mg, 5 mg.
Biperiden tablet 2
mg.
Tablet 5 mg

5 mg, 2-3 kali sehari.


Rentang dosis 20-30 mg/hari
Benztropin mesilat - 0,5-1 mg/hari diberikan malam hari.
- Tablet 0,5; 1 dan 2
Rentang dosis 4-6 mg/hari.
mg
- Oral: dewasa 25 mg 3 kali sehari; anak 5 - Kapsul 25 mg
- Injeksi 10 mg/mL
mg/kg/hari dalam 4 dosis
- IM: dewasa 10-50 mg; anak= dosis oral
maksimum 400 mg/hari

3.3Turunan Fenotiazin
Merupakan kelompok obat yang peling sering
menyebabkan gangguan ekstrapiramidal. Tetapi beberapa
diantarnya justru berefek antiparkinson yaitu etopropazin,
prometazon dan dietazin.
Rigiditas dan tremor dikurangi oleh obat ini, sedangkan
terhadap gejala lain efektivirasnya lebih kecil. Efek
samping kantuk, pusing dan gejala kolonergik dapat
terjadi. Dietazin dapat menyebabkan depresi sumsum
tulang dengan manifestasi granulositopenia atau
agranulositosis yang mungkin berbahaya.
Untuk obat antiparkinson pemberian etopropazin
dimulai dengan 10 mg, 4 kali sehati. Dosis ditambah
berangsur-angsur, biasanya tidak melebihi 200 mg sehari.
4. Obat dopamino-antikolinergik
4.1Amantadin
Merupakan antivirus yang digunakan terhadap
influenza Asia. Secara kebetulan penggunaan amantadin
pada seorang penyakit influenza yang juga menderita
parkinson memperlihatkan perbaikan gejala neurologik.
Amantadin diduga meningkatkan aktivitas
dopaminergik serta menghambat aktivitas kolinergik di
korpus striatum. Efektivitasnya sebagai antiparkinson lebih
rendah daripada levodopa tetapi respons lebih cepat (2-5
hari) dan efek samping lebih rendah. Efektivitasnya tidak
dipengaruhi umur, jenis kelamin, dan pengobatan terdahulu.
Efektivitasnya paling nyata pada pasien yang kurang baik
responsnya terhadap levodopa. Pemberian amantadin dan
levodopa bersama-sama bersifat sinergis.
Pada terapi dengan amantadin tunggal, efektivitasnya
tidak bertahan dan hasil pengobatab menurun setelah 3-6
bulan.
Pemberian amantadin dimulai dengan 100 mg sehari.
Jika pasien cukup toleran setelah 1 minggu dosis dapat
ditambah 2 kali 100 mg sehari dan kemudian menjadi 3 kali
100 mg sehari. Tetapi menurut Schwab dkk dosis lebih dari
200 mg sehari tidak memperlihatkan kenaikan manfaat terapi
yang berarti.
Efek samping
Amantadin menyerupai gejala intoksikasi
atropin. Gejala yang dapat timbul adalah: disorientasi,
depresi, gelisah, insomnia, pusing, gangguan saluran
pencernaan, mulut kering dan dermatitis. 5% pasien
menderita gangguan proses berpikir, bingung,
lightheadedness, halusinasi dan ansietas. Gejala ini
terjadi pada awal terapi. Bersifat ringan dan bersifat
reversibel dan kadang-kadang menghilang walaupun
pengobatan diteruskan. Aktivitas yang membutuhkan

kewaspadaan mental sebaiknya dihindarkan sampai


kelompok gejala jelas tidak ada. Livedo retikularis
umum terjadi 1 bulan setelah pengobatan dengan
amantadin, tetapi tidak memerlukan penghentiap
terapi. Terjadinya livedo retikularis diduga merupakan
respons fisiologik, akibat deplesi katekolamin dari
depot ujung saraf perifer. Pada beberapa pasien, livedo
retikularis disertai dengan edema pergelangan kaki.
Amantadin harus digunakan dengan hati-hati
pada pasien epilepsi, ulkus peptik, atau pengobatan
dengan perangsang SSP, misalnya amfetamin.
Kombinasi amantadin dengan levodopa hanya
dianjurkan bagi mereka yang tidak dapat mentoleransi
levodopa dalam dosis optimal.
4.2Antidepresi Trisiklik
Imipramin atau amitriptilin yang digunakan tersendiri efek
antiparkinsonnya kecil sekali, tetapi bila dikombinasi dengan
antikolinergik dapat sangat bermanfaat. Dengan kombinasi
ini, selain meningkatkan perbaikan rigiditas dan akinesia,
gejala depresi juga diperbaiki. Untuk terapi penyakit
Parkinson, imipramin atau amitriptilin dapat diberikan 10-25
mg, 4 sehari; pemberian ini dapat diteruskan dengan aman
untuk waktu yang lama.
5. Penghambat enzim pemecah dopamin
5.1Penghambat Monoamin Oksidase-B (MAO-B)
Selegilin
Selegilin merupakan penghambat MAO-B yang relatif
spesifik. Saat ini dikenal dua bentuk oenghambat MAO-B, tipe
A yang terutama berhubungan dengan deaminasi oksidatif
norepinefrin dan serotonin; tipe B yang memperlihatkan
aktivitas tertutama pada dopamin.
Penghambat MAO-A menyebabkan hipertensi bila
terdapat tiramin yang masuk dari makanan, demikian juga
bila dikombinasikan dengan levodopa. Selegilin dapat
diberikan secara aman dalam kombinasi dengan levodopa.
Selektivitas ini hanya berlaku untuk dosis 10 mg/hari.

Mekanisme kerja
Selegilin menghambat deaminasi dopamin sehingga
kadar dopamin diujung saraf dopaminergiknya lebih
tinggi. Selain itu ada hipotesis yang mengatakan
bahwa selegilin mungkin mencegah pembentukan
neurotoksin endogen yang membutuhkan aktivasi oleh
MAO-B. Secara eksperimental pada hewan, selegilin
mencegah parkinsonisme akibat MPTP. Mekanisme ini
diduga berdasarkan pengaruh metabolitnya yaitu Ndes-metil selegilin, L-metamfetamin dan L-amfetamin.

Isomer ini 3-10 kali kurang poten dari bentuk D.


Metamfetamin dan amfetamin menghambat ambilan
dopamin dan meningkatkan pelepasan dopamin.
Efek terapi
Pada pasien parkinson lanjut penambahan
selegilin pada levodopa meringankan fenomena
wearing of. Fenomena pasang-surut dan pembekuan
gerakan tidak jelas dipengaruhi. Penambahan selegilin
memungkinkannpengurangan dosis levodopa 10-30%.
Dengan demikian efek samping levodopa berkurang.
Pemberian selegilin tunggal pada awal penyakit
agaknya menghambat progresivitas penyakit Parkinson
sehingga menunda keperluan pengobatan dengan
levodopa.
Efek samping
Penggunaan selegilin belum tentu luas, tetapi
data sampai saat ini menyimpulkan bahwa selegilin
dengan dosis 10 mg/hari terterima dengan baik. Efek
samping berat tidak dilaporkan terjadi, efek samping
kardiovaskular jelas kurang dari penghambat MAO-A.
Hipotensi, mual, kebingungan dan psikosis
pernah dilaporkan.

5.2Penghambat katekoloksimetil transferase


Entakapon dan tolkapon merupakan inhibitor COMT
yang bersifat reversibel. Penambahan obat-obat ini pada
karbidopa memperpanjang masa kerja karbidopa. Obat ini
terutama berguna bila masa kerja karbidopa semakin
memendek setelah pengobatan jangka panjang. Karena obat
ini meningkatkan kadar levodopa di otak pada awal
pengobatan, dosis karbidopa sebaiknya diturunkan kira-kira
sepertiganya. Efek samping levodopa dapat meningkat
setelah pemberian obat golongan ini. Tolkapon dilaporkan
lebih sering menimbulkan diare daripada entakapon. Tes
fungsi hati perlu dilaporkan setiap 2 minggu dalam 1 tahun
setelah pemberian tolkapon; tidak ada pemberian entakapon.
Dosis tolkapon, 100 mg 3 kali sehari. Dosis entakapon
200 mg diberikan bersama levodopa/karbidopa sampai
maksimum 5 kali sehari.
6. Pemilihan obat parkinson
Ditinjau dari segi manfaat para ahli sepakat bahwa kombinasi
levodopa dengan
karbidopa merupakan obat penyakit parkinson yang paling efektif.
Pemberian levodopa/karbidopa perlu dititrasi sedemikian rupa utuk
menghindari efek samping insomnia, mual dan anoreksia. Biasanya
efek terapi dicapai dengan pemberian 3-4 kali sehari. Masalah dapat
timbul 2-5 tahun setelah pengobatan dimulai.

Selain selegilin, masih ada 3 jenis obat yang dapat diberikan


sebelum atau bersama levodopa/karbidopa yaitu: dopamin antagonis,
amantadin dan antikolinergik. Tidak ada pegangan kuat mana
diantaranya yang terpilih untuk digunakan terlebih dahulu.
Efek samping obat antikolinergik yang sangat membatasi
penggunaannya sebagai obat penyakit Parkinson yaitu, prostatisme,
glaukoma dan memburuknya pasien dengan demensia. Efek samping
tersebut juga dapat terjadi dengan amantadin. Berdasarkan kenyataan
diatas maka pilihan jatuh pada bromokriptin atau lisurid. Kebanyakan
pasien mengalami perbaikan gejala walaupun tidak sebaik yang
dicapai dengan levodopa/karbidopa. Diskinesia jarang terjadi,
demikian juga fenomena pasang-surut dan fenomena perpendekan
masa kerja. Bila agonis dopamin tidak memuaskan, amantadin atau
antikolinergik dosis rendah dapat dicoba.
Setelah pengobatan jangka panjang dengan levodopa/karbidopa,
timbul efek samping yang sebagian berkaitan erat dengan kadar
levodopa dalam darah. Diskinesia terjadi bila kadar dopamin di otak
meningkat, sedang akinesia dan rigiditas terjadi bila kadar rendah.
Pemberian sediaan lepas lambat dapat mengurangi/mengatasi
fluktuasi dopamin di tempat kerja. Ada 2 peringatan yang perlu
diketahui bila menggunakan sediaan lepas lambat. Pertama karena
absorpsi lambat, pasien kadang-kadang memerlukan tambahan
sediaan biasa pada dosis pagi haari. Kedua karena terjadinya
akumulasi obat, maka dosis terakhir mungkin perlu dikurangi untuk
mencegah diskinesia akibat kelebihan dopamin di otak.