Anda di halaman 1dari 2

Kisah Burung Garuda

Dewi Winata dan Dewi Kadru adalah puteri Dhaksa, dan keduanya beserta saudarisaudarinya menjadi isteri dari Bhagawan Kasyapa. Dewi Kadru melahirkan ribuan
telur dan telah menetas semuanya menjadi ular, yang diantaranya adalah Naga
Taksaka dan Basuki. Dewi Winata cemburu, karena dua telornya belum menetas
juga, maka satu telurnya dipecah, dan keluar burung Arun yang masih setengah
jadi, tanpa punya bagian perut ke bawah. Sang Dewi pun dikutuk Sang Putra bahwa
Sang Ibu akan menjadi budak.
Pada suatu hari, Dewi Winata terlibat pertaruhan dengan Dewi Kadru mengenai
warna ekor kuda Uchaisrawa yang akan keluar dari samudera. Dewi Winata
bertaruh bahwa kuda tersebut ekornya berwarna putih. Para ular memberi tahu
Dewi Kadru, Sang Ibu bahwa dia akan kalah, karena memang ekor kuda tersebut
berwarna putih. Dewi Kadru meminta anak-anaknya menutupi ekor kuda agar
ekornya nampak berwarna hitam. Ular yang menolak dikutuk akan mati sebagai
persembahan. Mereka yang menolak amat sedih dan bertapa mohon keselamatan
dari Yang Maha Kuasa. Akhirnya kedua dewi tersebut melihat bahwa ekor kuda
berwarna hitam dan Dewi Winata menjadi budak Dewi Kadru untuk memelihara
ular-ular putranya.
Telor Winata akhirnya menetas menjadi Garuda. Garuda paham bahwa dirinya harus
berterima kasih kepada ibunya yang telah menyebabkan dirinya lahir di dunia.
Dalam diri Garuda sudah ada benih kasih. Dia mencari ibunya dan akhirnya
mengetahui bahwa ibunya menjadi budak perawat para ular. Garuda berusaha
sekuat tenaga membebaskan, akan tetapi para ular sangat lincah. Garuda bertanya
dengan pengganti apa, dia dapat membebaskan ibunya dari perbudakan. Para ular
meminta tirta amerta, air yang membuat a-merta, tidak mati. Garuda berupaya
sungguh-sungguh untuk mendapatkan air tersebut. Segala halangan dan rintangan
dilewatinya.
Dewa Wisnu melihat kesungguhan dalam diri Garuda. Seorang Guru telah melihat
adanya benih kasih dalam diri muridnya. Dia paham bahwa benih tersebut
berpotensi mekar menjadi lembaga dan muridnya dapat mencapai keadaan bhakti.
Salah satu syarat untuk meningkatkan kesadaran adalah berani dan yakin, fearless
and no doubt terhadap Kebenaran. Garuda dalam berupaya menyelamatkan ibunya
telah melepaskan pertimbangan-pertimbangan. Seorang murid yang datang ke
Ashram dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, seperti mendapatkan ilmu,
atau dia masih berpikir akan dikucilkan keluarga dan masyarakat belum pantas
menjadi murid. Dia belum berserah diri. Dia masih menggunakan belahan otak kiri
yang penuh pertimbangan. Dia boleh bilang no-mind, tetapi belum
melaksanakannya. Seorang Mira Bhai, bahkan meninggalkan istana suaminya demi
cinta Ilahi.
Bahkan seorang Prahlada, yang amat sangat bijak pun , saat meminta Wisnu untuk
mengampuni Hiranyakasipu Sang Ayah, dia masih mempunyai keterikatan. Pada
saat itu dia belum menjadi bhakta. Seorang Ibrahim yang dimuliakan alam pun diuji
keterikatannya terhadap sang putera sebelum menjadi bhakta. Seorang yang
menyatakan diri sebagai bhakta dari seorang Guru tertentu, perlu introspeksi, yang

memberi gelar itu siapa? Apakah Gurunya sendiri? Kalau hanya memberi gelar pada
diri sendiri itu termasuk ego. Kalau memproklamirkan diri sebagai hamba, perlu
introspeksi, yang memberi sebutan itu siapa? Kalau yang memberi itu diri sendiri,
bukankah itu bentuk ego yang halus? Dan selama ada ego, maka diri belum selaras
dengan alam. Bukankah matahari menghidupi kehidupan, air membasahi
kehidupan, tanah menyangga kehidupan dan mereka tidak mempunyai ego selain
hanya bersifat melayani?
Wisnu melihat benih kasih itu dalam Garuda ketika mencari tirta amerta. Wisnu
bermaksud memberikan tirta amerta untuk diminum Garuda, tetapi Garuda
menolak. Terima Kasih Gusti, tirta amerta ini untuk membebaskan ibu saya dari
perbudakan. Saya percaya kebijakanmu, saya yakin tidak ragu, bila memang tetap
mau memberi anugerah, berikanlah anugerah lainnya, Gusti. Wisnu amat berkenan
dengan etika Garuda dan meminta Garuda menjadi kendaraan Wisnu. Garuda tidak
hanya mendapatkan hidup abadi, tetapi dia bisa setiap saat mendampingi Yang
Maha Memelihara, sebuah keadaan penuh berkah bagi seorang bhakta.
Selanjutnya, Garuda mohon pamit untuk menyelesaikan tugas keduniawiannya,
membebaskan perbudakan ibunya. Kita-kita ini selalu menunda panggilan Ilahi.
Guru adalah Duta Ilahi, yang mengingatkan kita adanya benih kasih di dalam diri.
Lepaskan ego. Dan Tuhan ada dimana-mana, dalam diri pun ada Dia, selama ego
terlampaui. Kita-kita ini terikat kesenangan dunia dan tak mau cabut dari
kesenangan panca indera. Krishna yang bahagia selamanya, Ananda Krishna!
Mohon bimbinglah kami, agar kami cepat selesai dalam melaksanakan tugas
keduniawian, demikian ungkapan Arjuna sesaat sebelum melakukan tugasnya
berperang melawan para Korawa di medan Kurukshetra. Masing-masing kita pun
juga mempunyai tugas menjalankan dharma mengalahkan adharma di medan
Kurukshetra dunia.
Di tengah perjalanan Dewa Indera menghentikan Garuda dan berpesan kepadanya,
agar memberikan tirta amerta kepada para ular setelah mereka membebaskan
Dewi Winata, dan setelah mereka mandi membersihkan diri dari kesalahan yang
telah dilakukan mereka. Para ular, mematuhi permintaan Garuda, membebaskan
Dewi Winata, dan mandi mensucikan diri. Para ular lupa kesalahan mereka yang
karena takut dikutuk ibunya, mereka pernah mengikuti Dewi Kadru sang Ibu untuk
berbuat tidak benar. Ketika mereka sedang mandi ,tirta amerta direbut para Dewa,
dan para ular tetap akan tetap mati walau dia dapat berganti kulit, meremajakan
diri. Hukum sebab-akibat berjalan sangat rapi.

Nama : I Wayan Ariantha Sentanu


Kelas : X.2
No.
:6