Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH KELOMPOK

HUKUM PERPAJAKAN

PENGGELAPAN PAJAK (Tax Evasion)


(Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah Hukum Perpajakan)

Disusun Oleh :
1.
2.
3.
4.

PRIMA JUANITA NURSOFYAN


AMALIA SETIAWATI
DIAN
BAMBANG WAHYUDI

PROGRAM STUDI HUKUM


FAKULTAS ILMU HUKUM
UNIVERSITAS PAMULANG
TANGERANG SELATAN
2015

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat
dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah tentang Penggelapan
Pajak. Makalah yang telah dibuat ini diharapkan dapat menambah pengetahuan
dalam memahami masalah hukum Perpajakan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna karena, masih
banyak kekurangan. Namun, Penulis berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak.
Dalam proses pembuatan makalah ini penulis banyak mendapat bimbingan
dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menucapkan terima kasih
kepada :
1.

Kedua orang tua yang telah memeberi dukungan materi maupun


spiritual.

2.

Dosen pengasuh yang telah memberi arahan dan bimbingan kepada


penulis dalam penyelesaian makalah ini.

3.

Kepada semua pihak yang telah memeberikan bantuan sehingga


penulis mampu menyelesaikan makalah ini.

Tiada gading yang tak retak, begitupula dengan makalah ini. Semoga amal
dan kebaikan yang telah membantu penyelesaian makalah ini diterima Allah
SWT.Amin.
Pamulang, 01 Mei 2015

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar....................................................................................................... i
Daftar Isi................................................................................................................ ii
BAB I

PENDAHULUAN................................................................................ 1

1.1.

Latar Belakang...................................................................................... 1

1.2.

Rumusan Masalah................................................................................. 3

1.3.

Maksud dan Tujuan............................................................................... 3

1.4.

Metode Pengumpulan Data................................................................... 3

1.5.

Sistematika Penulisan........................................................................... 4
BAB II

PEMBAHASAN........................................................................................... 5

2.1.

Pajak............................................................................................................. 5

2.2.............. Pengertian Tindak pidana Penggelapan................................................ 5


2.3............... Jenis-jenis Tindak Pidana Penggelapan................................................6
2.4...............Unsur-unsur Tindak Pidana Penggelapan..............................................7
2.5...............Pngertian Penggelapan Pajak...............................................................10
2.6...............Indikator Penggelapan Pajak...............................................................10

2.7..............Penyebab Penggelapan Pajak..............................................................11


BAB III

PENUTUP...................................................................................................13
3.1. Kesimpulan........................................................................................ 13

Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Semakin maju perkembangan zaman seiringan dengan itu juga kejahatan banyak

bermunculan di negeri pertiwi ini dengan berbagai metode. Salah satu diantaranya adalah
tindak pidana penggelapan (verduistering) sebagaimana yang diatur dalam Bab XXIV Pasal
372 sampai dengan pasal 377 KUHP. Menurut Laminating, tindak pidana sebagaimana
tersebut sebagai penyalahgunaan kepercayaan. Sebab, inti dari tindak pidana yang diatur
dalam Bab XXIV tersebut adalah penyalahgunaan hak. Atau penyalahgunaan
kepercayaan.
Tindak pidana penggelapan sering terjadi di berbagai kalangan, mulai dari kalangan
rendah hingga kalangan tinggi yang notabennya berpendidikan dan mengertia hukum atas
tindakan tersebut, namun kejahatan ini tetap saja terjadi tidak hanya oleh masyarakat kecil
bahkan seorang yang yang terpandang yang seharusnya menjadi panutan pun ikut terjerumus
Penggelapan Pajak terjadi sebelum SKP dikeluarkan. Hal ini merupakan
pelanggaran

terhadap

undang-undang

dengan

maksud

melepaskan

diri

dari

pajak/mengurangi dasar penetapan pajak dengan cara menyembunyikan sebagian dari


penghasilannya. Wajib pajak di setiap negara terdiri dari wajib pajak besar (berasal dari
multinational corporation yang terdiri dari perusahaan-perusahaan penting nasional) dan
wajib pajak kecil (berasal dari profesional bebas yang terdiri dari dokter yang
membuka praktek sendiri, pengacara yang bekerja sendiri, dll).
Penggelapan pajak (tax evasion) adalah tindak pidana karena merupakan
rekayasa subyek (pelaku) dan obyek (transaksi) pajak untuk memperoleh penghematan
pajak secara melawan hukum (unlawfully), dan penggelapan pajak boleh dikatakan
merupakan virus yang melekat (inherent) pada setiap sistem pajak yang berlaku di
hampir setiap yurisdiksi. 1 Penggelapan pajak mempunyai risiko terdekteksi yang
inherent pula, serta mengundang sanksi pidana badan dan denda. Tidak tertutup
kemungkinan bahwa untuk meminimalkan risiko terdeteksi biasanya para pelaku
1 Susno Duaji, Selayang Pandang dan Kejahatan Asal, (Bandung: Books Trade
Center, 2009), hal. 14

penggelapan pajak akan berusaha menyembunyikan atau mengaburkan asal-usul "hasil


kejahatan" (proceeds of crime) dengan melakukan tindak kejahatan
lanjutannya yaitu praktik pencucian uang, agar dapat memaksimalkan utilitas
ekspektasi pendapatan dari penggelapan pajak tersebut. 2 Oleh sebab itulah tindak
kejahatan di bidang perpajakan termasuk salah satu tindak pidana asal (predicate
crime) dari tindak pidana pencucian uang.
Dalam kaitannya bahwa tindak pidana perpajakan sebagai kejahatan asal dari
pencucian uang tentunya sangat berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian
nasional, oleh karenanya penempatan tindak pidana perpajakan sebagai kejahatan asal
dari pencucian uang dengan modus pelaku menyembunyikan, mengalihkan harta
kekayaan hasil kejahatan perpajakan dapat dikategorikan sebagai tindak pidana di
bidang ekonomi (economic crimes). Hal ini tentunya memberikan gambaran bahwa
terdapat hubungan langsung antara gejala kriminalitas dengan kegiatan dan
pertumbuhan ekonomi. 3 Selain itu mempertimbangkan pula adanya fenomena bahwa
kejahatan pencucian uang bukan permasalahan nasional semata tetapi berdimensi
regional maupun internasional (transnasional), sehingga sangat penting untuk
ditempatkan pada suatu sentral pengaturan.4 Hampir semua kejahatan ekonomi
dilakukan dengan motivasi mendapatkan keuntungan, sehinga salah satu cara untuk
membuat pelaku jera atau mengurangi tindak pidana yaitu dengan memburu hasil
kejahatan agar pelaku tidak dapat menikmatinya dan akhirnya diharapkan motivasi
untuk melakukan kejahatan juga sirna: this was ineffective and thus asset
forfeiture was viewed as the key to combating such crime. If the criminal is
prevented from enjoying the fruits of his

2 Ibid
3 Guiding principle for crime Prevention and criminal Justice Context of Develoment and a New
economic order, yang diadopsi oleh Sevnt Crime Congres, milan, 1985.

4 United Nations Convention Against Transnational Organized Crime, (Palermo, 2000)


khususnya pada Article 3.1.(a) disebutkan bahwa pencucian uang termasuk kejahatan yang lintas
batas negara (selain pencucian uang kejahatan lain yang termasuk kriteria ini adalah
participation in an organized criminal group, corruption and obstruction of justice) dengan ciricirinya yang disebut dalam Article 3.2

labor than these motivations for committing a crime that also


disappears). 5

Dampak negatif tindak pidana perpajakan terhadap perekonomian nasional


didasarkan pertimbangan bahwa pada dasarnya perpajakan merupakan satu metode

transfer sumber daya ekonomis masyarakat (privat) kepada negara (public). Pajak
dapat dipungut dari aliran arus sumber daya ekonomis (flow of resources), dalam
bentuk penerimaan penghasilan dan pengeluarannya) dan persediaan sumber daya
ekonomis (stock of resources, dalam bentuk kekayaan) yang kesemuanya ada tiga
belas titik pengenaan, dipungut dari orang pribadi, badan hukum dan subyek lainnya,
serta dipungut langsung kepada si pembayar pajak (tax payer) dan tidak langsung
melalui pihak lain (with holding agent) sebagai pemungut pajak.

1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah dipaparkan pada bagian
sebelumnya, penulis mengajukan beberapa masalah sebagai berikut:
1.

Apa yang dimaksud dengan Penggelan Pajak?

2.

Apapenyebab terjadinya openggelapan pajak?

3.

apa saja unusr-unsur pasal tindak pidana penggelapan pajak?

1.3 Maksud dan Tujuan


Maksud dan tujuan dari penyusunan penulisan tugas ini adalah:
1. Mengembangkan kreativitas dan wawasan penulis.
2. Memberikan uraian tentang analisa penggelapan pajak.
3. Menelaah lebih lanjut mengenai hukum penggelapan pajak.
1.4.

Metode Pengumpulan Data

5 Andrew Haynes, Money Laundering and Changes in International Banking


Regulations, J.Intl Banking Law, (1993), hal 454

Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penyusunan tugas ini, penulis
menggunakan metode sebagai berikut :
a.

Metode Studi Pustaka


Metode yang dilakukan dengan membaca buku-buku serta referensi-referensi yang
berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam tugas ini. Penulis membaca beberapa buku
yang berkaitan dengan penggelapan pajak.
b.

Metode Browsing Internet, yaitu metode yang dilakukan dengan mencari referensi-

referensi yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam tugas ini di internet.
1.5.

Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pembaca dalam mempelajari dan mengetahui isi makalah ini,

berikut ini akan dijabarkan sistematika penulisan makalah ini, yaitu :


BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini, penulis menguraikan tentang latar belakang penulisan, rumusan masalah,
ruang lingkup, maksud dan tujuan, metode pengumpulan data, serta sistematika penulisan.
BAB II PEMBAHASAN
Bab ini merupakan bab utama makalah yang berisi tentang penggelapan pajak
BAB III PENUTUP
Dalam bab ini, penulis menguraikan tentang kesimpulan dan saran.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Pajak
Pajak adalah beban bagi perusahaan, sehingga wajar jika tidak satupun perusahaan
(wajib pajak) yang dengan senang hati dan suka rela membayar pajak. Karena pajak
adalah iuran yang sifatnya dipaksakan, maka negara juga tidak membutuhkan
kerelaan wajib pajak. Yang dibutuhkan oleh negara adalah ketaatan. Suka tidak
suka, rela tidak rela, yang penting bagi negara adalah perusahaan tersebut telah
membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Lain halnya dengan
sumbangan, infak maupun zakat, kesadaran dan kerelaan pembayar diperlukan dalam
hal ini.
Mengingat pajak adalah beban yang akan mengurangi laba bersih perusahaan- maka
perusahaan akan berupaya semaksimal mungkin agar dapat membayar pajak sekecil
mungkin dan berupaya untuk menghindari pajak. Namun demikian penghindaran
pajak harus dilakukan dengan cara-cara yang legal agar tidak merugikan perusahaan
di kemudian hari.

2.2.

Pengertian tindak Pidana penggelapan


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Penggelapan diartikan sebagai
proses, cara dan perbuatan menggelapkan (penyelewengan) yang menggunakan
barang secara tidak sah.
Menurut R. Soesilo (1968.258), penggelapan adalah kejahatan yang hampir
sama dengan pencurian dalam pasal 362. Bedanya ialah pada pencurian barang yang
dimiliki itu belum berada di tangan pencuri dan masih harus diambilnya sedangkan
pada penggelapan waktu dimilikinya barang itu sudah ada di tangan si pembuat tidak
dengan jalan kejahatan.

Menurut Lamintang, tindak pidana penggelapan adalah penyalahgunaan hak


atau penyalahgunaan kepercayaan oleh seorang yang mana kepercayaan tersebut
diperolehnya tanpa adanya unsur melawan hukum.6
Pengertian yuridis mengenai penggelapan diatur pada Bab XXIV (buku II) KUHP,
terdiri dari 5 pasal (372 s/d 376). Salah satunya yakni Pasal 372 KUHP, merupakan
tindak pidana penggelapan dalam bentuk pokok yang rumusannya berbunyi: "Barang
siapa dengan sengaja menguasai secara melawan hukum sesuatu benda yang
seharusnya atau sebagian merupakan kepunyaan orang lain yang berada padanya
bukan karena kejahatan, karena bersalah melakukan penggelapan, dipidana dengan
pidana penjara selama-lamanya 4 (empat) tahun atau dengan pidana denda setinggitingginya 900 (sembilan ratus) rupiah."7
Jadi, penggelapan dalam tindak pidana tersebut dapat diartikan sebagai suatu
perbuatan yang menyimpang/menyeleweng, menyalahgunakan kepercayaan orang
lain dan awal barang itu berada ditangan bukan merupakan perbuatan yang melawan
hukum, bukan dari hasil kejahatan.
2.3.

Jenis Jenis tindak Pidana Penggelapan


Berikut jenis-jenis tindak pidana penggelapan arkan Bab XXIV pasal 372 sampai
dengan 377 KUHP.
1) Penggelapan biasa
Yang dinamakan penggelapan biasa adalah penggelapan yang diatur dalam
Pasal 372 KUHP: Barangsiapa dengan sengaja dan melawan hukum
mengaku sebagai milik sendiri (zich toeegenen) barang sesuatu yang
seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam
kekuasaannya bukan karena kejahatan, diancam karena penggelapan dengan
pidana penjara paling lama empat tahun.

6 http://blogspot.com/2012/02/pengertian-dan-jenis-jenis-tindak.html. diakses pada tanggal 01 mei


2015
7 http://blogspot.com//pengertian-yuridis-tindak-pidana-pengelapan-dalam-bentuk-pokok.html.
Diakses pada tanggal 1 mei 2015
6

2) Penggelapan ringan
Penggelapan ringan adalah penggelapan yang apabila yang digelapkan bukan
ternak dan harganya tidak lebih dari Rp.25. Diatur dalam Pasal 373 KUHP.
3) Penggelapan dengan pemberatan
Penggelapan dengan pemberatan yakni penggelapan yang dilakukan oleh
orang yang memegang barang itu berhubungan dengan pekerjaannya atau
jabatannya atau karena ia mendapat upah (Pasal 374 KUHP).
4) Penggelapam dalam lingkungan keluarga
Penggelapan dalam lingkungan keluarga yakni penggelapan yang dilakukan
dilakukan oleh orang yang karena terpaksa diberi barang untuk disimpan, atau
oleh wali, pengampu, pengurus atau pelaksana surat wasiat, pengurus lembaga
sosial atau yayasan, terhadap barang sesuatu yang dikuasainya. (Pasal 375
KUHP).8

2.4.

Unsur-unsur Tindak Pidana penggelapan


Penggelapan terdapat unsur-unsur Objektif

meliputi perbuatan memiliki, sesuatu

benda, yang sebagian atau seluruhnya milik orang lain, yang berada dalam
kekuasaannya bukan karena kejahatan, dan unsur-unsur Subjektif meliputi
penggelapan dengan sengaja dan penggelapan melawan hukum. Pasal-Pasal
penggelapan antara lain :
1) pasal 372 KUHP Penggelapan Biasa
a. Dengan Sengaja memiliki.
b. Memiliki suatu barang.
c. barang yang dimiliki seluruhnya atau sebagian termasuk milik orang
lain.
d. mengakui memiliki secara melawan hukum.
e. barang yang ada dalam kekuasaan bukan karena kejahatan.
Hukuman : Hukuman penjara selama-lamanya 4 tahun
2) pasal 373 KUHP Penggelapan Ringan
8 Prof. Moeljatno, S.H., Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2011),
Cet. 29, hal.132
7

a. dengan sengaja memiliki.


b. memiliki suatu bukan ternak.
c. barang yang dimiliki seluruhnya atau sebagian termasuk milik orang
lain.
d. mengakui memiliki secara melawan hokum.
e. barang yang ada dalam kekuasaan bukan karena kejahatan.
f. harganya tidak lebih dari Rp. 25,Hukuman : Hukuman penjara selama-lamanya 3 bulan
3) Pasal 374 dan KUHP Penggelapan dengan Pemberatan
a. dengan sengaja memiliki.
b. memiliki suatu barang.
c. barang yang dimiliki seluruhnya atau sebagian termasuk milik orang
lain.
d. mengakui memiliki secara melawan hukum.
e. barang yang ada dalam kekuasaan bukan karena kejahatan.
f. berhubung dengan pekerjaan atau jabatan.
Hukuman : Hukuman penjara selama-lamanya 5 tahun.
4) Pasal 375 KUHP Penggelapan oleh Wali dan Lain-lain
a. dengan sengaja memiliki.
b. memiliki suatu barang.
c. barang yang dimiliki seluruhnya atau sebagian termasuk milik orang
lain.
d. Barang yang ada dalam kekuasaan bukan karena kejahatan.
e. Terpaksa disuruh menyimpan barang
f. Dilakukan oleh wali, atau pengurus atau pelaksana surat wasiat, atau
pengurus lembaga sosial atau yayasan.
Hukuman : Hukuman penjara selama-lamanya 6 tahun.
Penggelapan yang ada pada pasal 375 ini adalah beradanya benda objek
Penggelapan di dalam kekuasaan pelaku disebabkan karena: Terpaksa disuruh
menyimpan barang itu, ini biasanya disebabkan karena terjadi kebakaran, banjir dan
sebagainya. Kedudukan sebagai seorang wali (voogd); Wali yang dimaksudkan di sini
adalah wali bagi anak-anak yang belum dewasa. Kedudukan sebagai pengampu
8

(curator); Pengampu yang dimaksudkan adalah seseorang yang ditunjuk oleh hakim
untuk menjadi wali bagi seseorang yang sudah dewasa, akan tetapi orang tersebut
dianggap tidak dapat berbuat hukum dan tidak dapat menguasai atau mengatur harta
bendanya disebabkan karena ia sakit jiwa atau yang lainnya.
Kedudukan

sebagai

seorang

kuasa

(bewindvoerder);

Seorang

kuasa

berdasarkan BW adalah orang yang ditunjuk oleh hakim dan diberi kuasa untuk
mengurus harta benda seseorang yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya tanpa
menunjuk seorang wakil pun untuk mengurus harta bendanya itu. Kedudukan sebagai
pelaksana surat wasiat; Yang dimaksud adalah seseorang yang ditunjuk oleh pewaris
di dalam surat wasiatnya untuk melaksanakan apa yang di kehendaki oleh pewaris
terhadap harta kekayaannya. Kedudukan sebagai pengurus lembaga sosial atau
yayasan.
5) pasal 376 KUHP Penggelapan dalam Keluarga
a. Dengan sengaja memiliki.
b. Memiliki suatu barang.
c. Barang yang dimiliki seluruhnya atau sebagian termasuk milik orang
lain.
d. Mengakui memiliki secara melawan hukum.
e. Barang yang ada dalam kekuasaan bukan karena kejahatan.
f.

Penggelapan dilakukan suami (isteri) yang tidak atau sudah diceraikan


atau sanak atau keluarga orang itu karena kawin.

Hukuman : Hanya dapat dilakukan penuntutan, kalau ada pengaduan dari


orang yang dikenakan kejahatan itu
Tindak pidana penggelapan dalam keluarga disebut juga delik aduan relatif
dimana adanya aduan merupakan syarat untuk melakukan penuntutan terhadap orang
yang oleh pengadu disebutkan namanya di dalam pengaduan. Dasar hukum delik ini
diatur dalam pasal 376 yang merupakan rumusan dari tindak pidana pencurian dalam
kelurga sebagaimana telah diatur dalam pembahasan tentang pidana pencurian, yang
pada dasarnya pada ayat pertama bahwa keadaan tidak bercerai meja dan tempat tidur
dan keadaan tidak bercerai harta kekayaan merupakan dasar peniadaan penuntutan
terhadap suami atau istri yang bertindak sebagai pelaku atau yang membantu
melakukan tindak pidana penggelapan terhadap harta kekayaan istri dan suami
9

mereka. Pada ayat yang kedua, hal yang menjadikan penggelapan sebagai delik aduan
adalah keadaan di mana suami dan istri telah pisah atau telah bercerai harta kekayaan.
Alasannya, sama halnya dengan pencurian dalam keluarga yang dilakukan oleh
suami atau istri terhadap harta kekayaan suami mereka, yaitu bahwa kemungkinan
harta tersebut adalah harta bersama yang didapat ketika hidup bersama atau yang lebih
dikenal dengan harta gono-gini yang mengakibatkan sulitnya membedakan apakah itu
harta suami atau harta istri.
Oleh karena itu, perceraian harta kekayaan adalah yang menjadikan tindak
pidana penggelapan dalam keluarga sebagai delik aduan.9 Tindak pidana Penggelapan
dalam lingkungan keluarga dapat diadili jika kejahatan tersebut diadukan oleh
keluarga yang bersengketa.
2.5.

Pengertian Penggelapan Pajak


Pengertian Tax Evasion menurut Defiandry Taslim (2007), yaitu :
Tax evasion (penggelapan pajak) yaitu usaha-usaha untuk memperkecil
jumlah pajak yang terutang atau menggeser beban pajak yang terutang dengan
melanggar ketentuan-ketentuan pajak yang berlaku. Tax evasion merupakan
pelanggaran dalam bidang perpajakan sehingga tidak boleh diDlakukan, karena
pelaku tax evasion dapat dikenakan sanksi administratif maupun sanksi pidana.
Pengertian Tax Evasion menurut Lyons Susan M dalam Erly Suandy (2008:7), yaitu:
Tax Evasion is the reduction of tax by ilegal means. The distincion, however,
is not always easy. Some example of tax avoidance scheme include locatting
assets in offshore jurisdiction, delaying repatriation of profit earn in low-tax
foreign jurisdiction, ensuring that gains are capital rather than income so the
gains are not subject to tax (or a subject at a lower rate), spreading of income to
other tax payers with lower marginal tax rates and taking advantages of tax
incentives.
Pengertian Tax Evasion menurut Siti Kurnia Rahayu (2010:147), yaitu :
Penggelapan Pajak (tax evasion) merupakan usaha aktif Wajib Pajak dalam
hal mengurangi, menghapuskan, manipulasi ilegal terhadap utang pajak atau

9 Abdoel. http://blogspot.com/2009/01/kejahatan-terhadap-harta-kekayaan.html. diakses hari jumat


tanggal 01 mei 2015.
10

meloloskan diri untuk tidak membayar pajak sebagaimana yang telah terutang
menurut aturan perundang-undangan.
2.6.

Indiktor Penggelapan Pajak


1) Tidak menyampaikan SPT.
2) Menyampaikan SPT dengan tidak benar.
3) Tidak mendaftarkan diri atau menyalahgunakan NPWP atau Pengukuhan PKP.
4) Tidak menyetorkan pajak yang telah dipungut atau dipotong.

2.7.

Penyebab Penggelapan Pajak


Menurut Siti Kurnia Rahayu (2010:149) yang menyebabkan terjadinya tax evasion
yaitu :
1) Kondisi Lingkungan
Lingkungan sosial masyarakat menjadi hal yang tak terpisahkan dari
manusia sebagai makhluk sosial, manusia akan selalu saling bergantung
satu sama lain. Hampir tidak ditemukan manusia di dunia ini yang
hidupnya hanya bergantung pada diri sendiri tanpa memperdulikan
keberadaan orang lain, begitu juga dalam dunia perpajakan, manusia akan
melihat lingkungan sekitar yang seharusnya mematuhi aturan perpajakan.
Mereka saling mengamati terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan. Jika
kondisi lingkungannya baik (taat aturan), masing-masing individu akan
termotivasi untuk mematuhi peraturan perpajakan dengan membayar pajak
sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sebaliknya jika lingkungan sekitar
kerap melanggar peraturan. Masyarakat menjadi saling meniru untuk tidak
mematuhi peraturan karena dengan membayar pajak, mereka merasa rugi
telah membayarnya sementara yang lain tidak.
2) Pelayanan Fiskus yang mengecewakan.
Pelayanan aparat pemungut pajak terhadap masyarakat cukup
menentukan dalam pengambilan keputusan wajib pajak untuk membayar
pajak. Hal tersebut disebabkan oleh perasaan wajib pajak yang merasa
dirinya telah memberikan kontribusi pada negara dengan membayar pajak.
Jika pelayanan yang diberikan telah memuaskan wajib pajak, mereka
tentunya merasa telah diapresiasi oleh fiskus. Mereka menganggap bahwa
kontribusinya telah dihargai meskipun hanya sekedar dengan pelayanan
yang

ramah

saja.

Tapi jika yang dilakukan tidak menunjukkan


11

penghormatan atas usaha wajib pajak, masyarakat merasa malas untuk


membayar pajak kembali.
3) Tingginya tarif pajak
Pemberlakuan tarif pajak mempengaruhi wajib pajak dalam hal
pembayaran pajak. Pembebanan pajak yang rendah membuat masyarakat
tidak terlalu keberatan untuk memenuhi kewajibannya. Meskipun masih
ingin berkelit dari pajak, mereka tidak akan terlalu membangkang
terhadap aturan perpajakan karena harta yang berkurang hanyalah
sebagian kecilnya. Dengan pembebanan tarif yang tinggi, masyarakat
semakin

serius

berusaha

untuk terlepas dari jeratan pajak yang

menghantuinya. Wajib pajak ingin mengamankan hartanya sebanyak


mungkin dengan berbagai cara karena mereka tengah berusaha untuk
mencukupi berbagai kebutuhan hidupnya. Masyarakat tidak ingin apa
yang telah diperoleh dengan kerja keras harus hilang begitu saja hanya
karena pajak yang tinggi.
4) Sistem administrasi perpajakan yang buruk.
Penerapan sistem administrasi pajak mempunyai peranan penting dalam proses
pemungutan pajak suatu negara. Dengan sistem administrasi yang bagus, pengelolaan
perpajakan akan berjalan lancar dan tidak akan terlalu banyak menemui hambatan yang
berarti. Sistem yang baik akan menciptakan manajemen pajak yang profesional, prosedur
berlangsung sistematis dan tidak semrawut. Ini membuat masyarakat menjadi terbantu
karena pengelolaan pajak yang tidak membingungkan dan transparan. Seandainya sistem
yang diterapkan berjalan jauh dari harapan, mayarakat menjadi berkeinginan untuk
menghindari pajak. Mereka bertanya-tanya apakah pajak yang telah dibayarnya akan
dikelola dengan baik atau tidak. Setelah timbul pemikiran yang menyangsikan kinerja
fiskus seperti itu, kemungkinan besar banyak wajib pajak yang benar-benar `lari` dari
kewajiban membayar pajak

12

BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Penggelapan diartikan sebagai proses,
cara dan perbuatan menggelapkan (penyelewengan) yang menggunakan barang secara tidak
sah.
Jenis-jenis tindak pidana penggelapan berdasarkan Bab XXIV Pasal 372 sampai dengan
377 KUHP, diantaranya Penggelapan biasa, Penggelapan Ringan, Penggelapan dengan
Pemberatan, dan Penggelapan dalam Lingkungan Keluarga.
Dalam Pasal Penggelapan terdapat unsur-unsur Objektif meliputi perbuatan memiliki,
sesuatu benda , yang sebagian atau seluruhnya milik orang lain, yang berada dalam
kekuasaannya bukan karena kejahatan, dan unsur-unsur Subjektif meliputi penggelapan
dengan sengaja dan penggelapan melawan hukum.
Tax evasion (penggelapan pajak) yaitu usaha-usaha untuk memperkecil jumlah
pajak yang terutang atau menggeser beban pajak yang terutang dengan melanggar
ketentuan-ketentuan pajak yang berlaku. Tax evasion merupakan pelanggaran dalam
bidang perpajakan sehingga tidak boleh diDlakukan, karena pelaku tax evasion dapat
dikenakan sanksi administratif maupun sanksi pidana.

13

DAFTAR PUSTAKA

Susno Duaji, Selayang Pandang dan Kejahatan Asal, (Bandung: Books Trade Center,
2009), hal. 14
Guiding principle for crime Prevention and criminal Justice Context of Develoment and a
New economic order, yang diadopsi oleh Sevnt Crime Congres, milan, 1985.
United Nations Convention Against Transnational Organized Crime, (Palermo,
2000) khususnya pada Article 3.1.(a) disebutkan bahwa pencucian uang
termasuk kejahatan yang lintas batas negara (selain pencucian uang
kejahatan lain yang termasuk kriteria ini adalah participation in an
organized criminal group, corruption and obstruction of justice)
dengan ciri-cirinya yang disebut dalam Article 3.2
Andrew Haynes, Money Laundering and Changes in International Banking Regulations,
J.Intl Banking Law, (1993), hal 454
http://blogspot.com/2012/02/pengertian-dan-jenis-jenis-tindak.html. diakses pada hari jumat
tanggal 01 mei 2015
http://blogspot.com//pengertian-yuridis-tindak-pidana-pengelapan-dalam-bentuk-pokok.html .

Diakses pada tanggal 1 mei 2015


Prof. Moeljatno, S.H., Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,
2011), Cet. 29, hal.132
Abdoel. http://blogspot.com/2009/01/kejahatan-terhadap-harta-kekayaan.html. diakses hari
jumat tanggal 01 mei 2015.

14