Anda di halaman 1dari 14

A.

Definisi dan Komponen Lingkungan


1. Definisi Lingkungan
Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya
alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah
maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan
bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.
Lingkungan, di Indonesia sering juga disebut "lingkungan hidup". Misalnya dalam
Undang-Undang no. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, definisi
Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk
hidup, termasuk manusia, dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan
dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. ( http://id.wikipedia.org/wiki/Lingkungan)
Lingkungan adalah sistem kompleks yang dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
perkembangan makhluk hidup dan merupakan ruang tiga dimensi, dimana makhluk hidupnya
sendiri merupakan salah satu bagiannya.
Lingkungan bersifat dinamis berubah setiap saat. Perubahan yang terjadi dari faktor
lingkungan akan mempengaruhi makhluk hidup dan respon makhluk hidup terhadap faktor
tersebut yang akan berbeda-beda menurut skala ruang dan waktu, serta kondisi makhluk hidup.
Faktor-faktor lingkungan mempengaruhi suatu organisme secara sendiri-sendiri atau
kombinasi dari berbagai faktor. Pengaruhnya dapat menentukan kehadiran atau keberadaan dan
proses kehidupan makhluk hidup.
Terdapat berbagai prinsip yang mendasari hubungan makhluk hidup dengan
lingkungannya, seperti makhluk hidup tidak dapat hidup pada lingkungan yang hampa udara;
segala sesuatu yang dapat mempengaruhi makhluk hidup akan membentuk lingkungan atau
faktor lingkungan yang terdiri dari faktor lingkungan abiotik dan lingkungan biotik. Setiap jenis,
individu, kelompok atau umur makhluk hidup dipengaruhi atau membutuhkan faktor lingkungan
yang berbeda-beda.
Komponen-komponen lingkungan terdiri dari faktor-faktor lingkungan fisiko-kimiawi
dan biologi, seperti energi, tanah, gas-gas atmosfir, tumbuhan hijau, manusia atau dekomposer.

Dari analisis faktor-faktor lingkungan berdasarkan aspek factor lingkungan yang penting,
terdapat macam-macam factor lingkungan, seperti faktor iklim, geografis dan edafis (lingkungan
abiotik) dan faktor tumbuhan, hewan, dekomposer, dan manusia sebagai lingkungan biotik.
Berkaitan

dengan

sifat-sifat

toleransi

dan

adaptasi

makhluk

hidup

terhadap

lingkungannya, terdapat beragam jenis, sifat, keanekaragaman, kelimpahan, dan pola sebaran
makhluk hidup.

2. Komponen Lingkungan
Lingkungan merupakan bagian yang kompleks dari berbagai faktor yang saling
berinterakasi satu sama lainnya. Tidak saja antara biotik dan abiaotik tetapi juga antara biotik itu
sendiri dan antara abiotik dengan abiotik. Dengan demikian secara operasional adalah sulit untuk
memisahkan satu faktor terhadap lainnya tanpa mempengaruhi kondisi secara keseluruhan.
Meskipun demikian untuk memahami struktur dan berfungsinya faktor lingkungan ini, secara
abstrak kita dapat bagi faktor lingkungan ini ke dalam komponen komponennya. Berbagai cara
di lakukan oleh pakar ekologi dalam pembagian komponen lingkungan ini, salah satunya adalah:
a.

Faktor Iklim, meliputi parameter iklim utama seperti cahaya, suhu,, ketersediaan air dan angin.

b. Faktor tanah, merupakan karakteristika dari tanah seperti nutrisi tanah, reaksi tanah, kadar air
tanah, dan kondisi fisika tanah.
c.

Faktor topografi, yaitu meliputi pengaruh dari terrain seperti sudut kemiringan, aspek
kemiringan dan kketinggian tempat dari muka laut.

d.

Faktor biotik, merupakan gambaran semua interaksi dari organisme hidup seperti kompetisi,
peneduhan dan lain lain.
Cara lain untuk menggambarkan pembagian komponen lingkungan ini seperti yang
diungkapkan oleh Billinga (1965), ia membaginya dalam dua komponen utama yaitu komponen
fisik atau abiotik dengan komponen hidup atau biotik, yang masing masing komponen
dijabarkan dalam berbagai faktio faktornya. Untuk memahami pembagian dari Billinga ini kita
lihat tabel di bawah ini:

Faktor fisik/abiotik

Faktor hidup/biotik

Energi

Tumbuhan hijau

Radiasi

Tumbuhan tidak hijau

Suhu dan aliran

Pengurai

Panas

Parasit

Air

Symbion

Atmosfera dan angin

Hewan

Api

Manusia

Gravitasi
Topografi
Geologi
Tanah

B. Lingkungan sebagai Faktor Pembatas


Proses kehidupan dan kegiatan makhluk hidup termasuk tumbuh tumbuhan pada
dasarnya akan dipengaruhi dan mempengaruhi faktor-faktor lingkungan, seperti cahaya, suhu
atau nutrien dalam jumlah minimum dan maksimum.

1. Justus von Liebig


Justus von Liebig (1840) adalah seorang pionir yang mempelajari faktor faktor
lingkungan dan menjelaskan bahwa pertumbuhan dari tanaman tergantung pada sejumlah
bahan makanan yang berada dalam kuantitas terbatas atau sedikit sekali. Penemuannya
kemudian lebih dikenal sebagai "hukum minimum Liebig".
Hukum minimum hanya berperan dalam air untuk materi kimia yang diperlukan untuk
pertumbuhan dan reproduksi. Liebig tidak mempertimbangkan peranan faktor lainnya, baru
kemudian penelitian lainnya mengembangkan pernyataannya yang menyangkut faktor suhu dan
cahaya. Sebagai hasil penelitiannya mereka menambahkan dua pernyataan yaitu:

a) Hukum ini berlaku hanya dalam kondisi keseimbangan yang dinamis atau stesdy-state. Apabila
masukan dan keluaran energi dan materi dari yang diperlukan akan berubah terus dan hukum
minimum tidak berlaku.
b)

Hukum minimum harus memperhitungkan juga adanya interaksi di antara faktor faktor
lingkungan. Konsentrasi yang tinnggi atau ketersediaan yang melimpah dari suatu substansi
mungkin akann mempengaruhi laju pemakaian dari substansi lain dalam jumlah yang minimum.
Sering juga terjadi organisme hidup memanfaatkan unsur kimia tambahan yang mirip dengan
yang diperlukan yang ternyata tidak ada di habitatnya. Contoh yang baik adalah tidak adanya
kalsium di suatu habitat tetapi stronsium melimpah, beberapa moluska mampu memanfaatkan
stronsium ini untuk membentuk cangkangnya.
Dalam ekologi tumbuhan faktor lingkungan sebagai faktor ekologi dapat dianalisis
menurut bermacam-macam faktor. Satu atau lebih dari faktor-faktor tersebut dikatakan penting
jika dapat mempengaruhi atau dibutuhkan, bila terdapat pada taraf minimum, maksimum atau
optimum menurut batas-batas toleransinya.
Sifat toleransi dan penyesuaian diri yang diperlihatkan oleh tumbuh-tumbuhan atau
bagian dari anggota tubuhnya terhadap sesuatu perubahan kondisi atau keadaan dari faktor-faktor
lingkungan tertentu dinamakan adaptasi, yang dapat diperoleh secara heriditer (dikontrol secara
genetis) atau oleh induksi sesuatu factor lingkungan dan habitatnya.
Tumbuhan untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik membutuhkan sejumlah nutrien
tertentu (misalnya unsur-unsur nitrat dan fosfat) dalam jumlah minimum. Jika hal tersebut tidak
terpenuhi maka pertumbuhan dan perkembangannya akan terganggu. Dalam hal ini unsur-unsur
tersebut sebagai faktor ekologi berperan sebagai faktor pembatas.
Faktor-faktor lingkungan sebagai faktor pembatas ternyata tidak saja berperan sebagai
faktor pembatas minimum, tetapi terdapat pula faktor pembatas maksimum. Bagi tumbuhan
tertentu misalnya factor lingkungan seperti suhu udara atau kadar garam (salinitas) yang terlalu
rendah/sedikit atau terlalu tinggi/banyak dapat mempengaruhi berbagai proses fisiologinya.
Faktor-faktor lingkungan tersebut dinyatakan penting jika dalam keadaan minimum, maksimum
atau optimum sangat berpengaruh terhadap proses kehidupan tumbuh-tumbuhan menurut batasbatas toleransi tumbuhannya.

2. V.E. Shelford
Faktor-faktor lingkungan penting yang berperan sebagai sifat toleransi faktor pembatas
minimum dan faktor pembatas maksimum yang pertama kali dinyatakan oleh V.E. Shelford
(1913), kemudian dikenal sebagai "hukum toleransi Shelford". Shelford menyebutkan bahwa
tumbuhan dapat mempunyai kisaran toleransi terhadap faktor-faktor lingkungan yang sempit
(steno) untuk satu faktor lingkungan dan luas (eury) untuk faktor lingkungan yang lain. Suatu
jenis tumbuhan yang mempunyai toleransi yang luas sebagai faktor pembatas cenderung
mempunyai sebaran jenis yang luas. Masa reproduksi merupakan masa yang kritis untuk
tumbuhan jika faktor lingkungan dan habitatnya dalam keadaan minimum.
Dalam ekologi pernyataan taraf relatif terhadap faktor-faktor lingkungan dinyatakan
dengan awalan steno (sempit) atau eury (luas) pada kata yang menjadi faktor lingkungan
tersebut. Misalnya toleransi yang sempit terhadap suhu udara disebut stenotermal atau toleransi
yang luas terhadap kadar pH tanah, disebut euryionik.
Toleransi Sempit

Toleransi Luas

Faktor Lingkungan

Stenotermal

Iritermal

Suhu

Stenenohidrik

Irihidrik

Air

Stenohalin

Irihalin

Sallinitas

Stenofagik

Irifagik

Makanan

Stenoedafik

Iriedafik

Tanah

Stenoesius

Iriesius

Seleksi habitat

Shelford menyatakan bahwa jenis jenis dengan kisaran toleransi yang luas untuk
berbagai faktor lingkungan akan menyebar secara luas.
Ia juga menambahkan bahwa dalam fase reproduksi dari daur hidupnya faktor faktor
lingkungan lebih membatasinya. Biji, telur dan embrio mempunyai irisan yang sempit jika
dibandingkan dengan fase dewasanya.
Hasil dari shelford telah memberikan doronngan dalam kajian berbagai ekologi toleransi.
Berbagai percobaan dilakukan di laboratorium untuk mendapatkan atau menentukan kisaran

toleransi dari individu suatu jenis terhadap pencemar air yang akan sedikit memberikan
gambaran dalam penyebarannya.
Shelford sendiri memberikan penjelasan dalam hukumnya bahwa reaksi suatu organisme
terhadap faktor lingkungan tertentu mempunyai hubungan yang erat dengan kondisi lingkkungan
lainnya, misalnya apabila Nitrat dalam tanah terbatas jumlahnya, maka resistansi rumput
terhadap kekeringan menurun. Dengan demikian kajian laboratorium (kondisi buatan) dari sustu
jenis terhadap satu faktor lingkungan akan memberikan gambran yang tidak utuh.
Shelford juga melihat kenyataan bahwa sering organisme hidup, tumbuhan dan atau
hewan, hidup berada pada kondisi tempat yang tidak optimum. Karena berada pada kondisi yang
tidak optimum ini akibat kompetisi dengan jenis lainnya, sehingga berada pada keadaan yanng
lebih efektif dalam hidupnya. Misalnya berbagai tumbuhan di padang pasir sesunggguhnya akan
tumbuh lebih baik di tempat yang lembab, tetapi mereka memilih padang pasir karena adanya
keuntungan ekologi yang lebih. Demikian juga dengan anggrak sebenarnya kondisi optimumnya
berada pada keadaan penyinaran yang langsung, tetapi mereka hidup di bawah naungan karena
faktor kelembaban sangat menguntungkan.
Pengaruh faktor-faktor lingkungan dan kisarannya untuk suatu tumbuh-tumbuhan
berbeda-beda, karena satu jenis tumbuhan mempunyai kisaran toleransi yang berbeda-beda
menurut habitat dan waktu yang berlainan. Tetapi pada dasarnya secara alami kehidupannya
dibatasi oleh: jumlah dan variabilitas unsur-unsur faktor lingkungan tertentu (seperti nutrien dan
faktor fisik, misalnya suhu udara) sebagai kebutuhan minimum, dan batas toleransi tumbuhan
terhadap faktor atau sejumlah faktor lingkungan tersebut.
Pengertian tentang faktor lingkungan sebagai faktor pembatas kemudian dikenal sebagai
Hukum faktor pembatas, yang dikemukakan oleh F.F Blackman, yang menyatakan: jika semua
proses kebutuhan tumbuhan tergantung pada sejumlah faktor yang berbeda-beda, maka laju
kecepatan suatu proses pada suatu waktu akan ditentukan oleh faktor yang pembatas pada suatu
saat.
Seorang ahli ekologi Jerman Friedrich (1927), menyatakan bahwa hubungan antara
komunitas dan lingkungannya bersifat holocoenotik. Ini berarti bahwa tidak ada dinding pemiah
antara lingkungan dengan organisme atau komunitas biologis yang ada. Ekosistem beraksi sebagi
keseluruhan, sulit untuk memisahkan satu faktor atau satu organisme di dalam tanpa

mengganggu komponen ekosistem lain. Malahan setiap organisme merupakan lingkungan dari
organisme lain. Kebutuhan dari sustu populasi akan berubah dengan adanya faktor waktu atau
masa atau seleksi alam di dalam siklus kehidupan suatu organisme. (Prof. Dr. Zoerain Djamal Irwan,, M.Si: 1996.
Prinsip Prinsip Ekologi)

C. Konsep Faktor Pembatas


Meskipun hukum shelford ini pada dasarnya benar, tetapi sekarang para pakar ekologi
berpendirian bahwa pendapat ini terlalu kaku. Akan lebih bermanfaat apabila mennghubungkan
konsep minimum dengan konsep toleransi ini untuk mendapatkan gambaran yang umum tentang
konsep faktor pembatas. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa kehadiran dan keberhasilan
dari organisme hidup tergantung pada kondisi kondisi yang tidak sederhana.
Organisme hidup di alam di kontrol tidak hanya oleh suplai materi yang minimum
diperlukannyatetapi juga oleh faktor faktor lainnya yang keadaannya kritis. Faktor apapun
yang kuran atau melebihi batas toleransi mungkin akan merupakan pembatas dalam penyebaran
jenis.
Memang sulit menentukan di alam faktor faktor pembatas ini, karena masalah yang erat
kaitannya dengan pemisahan pengaruh setiap komponen lingkungan secara terpisah di
habitatnya. Nilai lebih dari penggabungan konsep faktor pembatas adalah dalam memberikan
pola atau arahan dalam kajian hubungan hubungan yang kompleks dari faktor lingkungan ini.
Para pakar ekologi sekarang menyadari bahwa terlalu banyak perhatian ditujukan pada
kajian kajian toleransi dan faktor faktor pembatas itu sendiri. Kajian hendaknya di arahkan
untuk mempelajari bagaimana tumbuhan dan hewan berkembang untuk mennguasai habitat
tertentu dan menghasilkan kisaran toleransi terhadap faktor faktor lingkungan yang sesuai
untuk bisa mempertahankan diri.
Kajian kajian ekologi toleransi yang didasarkan pada pemikiran Liebig dan Shelford
pada umumya tidak menjawab pertanyaan ekologi mendasar, bagaimana jenis jenis teradaptasi
terhadap beberapa faktor yang membatasinya. Pandangan ekologi yang lebih berkembang adalah
memikirkan perkembangan jenis untuk mencapai suatu kehidupan dengan memperhatiakan
kisaran toleransi dalam pola hidupnya. Pendekatan ini menekankan pentingnya evolusi yang
membawa pengertian yang lebih baik hubungan antara individu suatu jenis dengan habitatnya.

D. Hubungan di antara Faktor Faktor Lingkungan


Telah dipahami bahwa dalam kajian ekosistem adalah sangat penting untuk menganalisis
bagaimana faktor faktor lingkungan beroperasi atau berfungsi. Dalam kenyataannya dipahami
bahwa faktor faktor lingkungan saling berinteraksi satu sama lainnya, sehingga sangat sulit
memisahkan pengaruh secara individual dari faktor lingkungan tersebut.
Dalam kajian ekosistem sangat penting untuk menganalisis bagaimana factor-faktor
lingkungan berofrasi dan berfungsi, dalam kenyataannya bahwa factor-faktor lingkungan saling
berintraksisatu sama lainnya. Sehingga sangat sulit unuk di pisahkan antara pengaruh secara
individual dari factor lingkungan tersebut, meskipun demikian karakteristikamendasar dari
ekosistem apapun akan di tentukan atau di atur oleh komponen abiotiknya, pengaruh dari
variable ini akan di modifikasi oleh tumbuhan dan hewan misalnya pohon akan menjadi
pelindung untuk tumbuhan atau mahluk hidup yang ada di bawah naungannya.
Faktor abiotik merupakan penentu secara mendasar terhadap ekosistem sedangkan
kontrolfaktor abiotik setidaknya tetap menjadi penting dalam mempengaruhi penyebaran dan
fungsi individu dari jenis mahluk hidup. Semua factor lingkunagan berfariasi secara ruang dan
waktu organisme hidup bereaksi terhadap fariasi lingkungan seehingga hubungan yang nyata
antara lingkungan dan organisme akan membentuk komunitas dan ekosistem tertentu baik
berdasarkan ruang maupun waktu.

E. Hubungan Lingkungan dengan Organisme


Lingkungan merupakan ruang tiga dimensi, di mana organisme merupakan salah satu
bagiannya. Lingkungan bersifat dinamis dalam arti berubah ubah setiap saat. Perubahan dan
perbedaan yang terjadi baik secara mutlak maupun ssecara relatif dari faktor faktor lingkungan
terhadap tumbuh tumbuhan akan berbeda beda menurut waktu, tempat dan keadaan
tumbuhan itu sendiri.
Kehidupan sebetulnya adalah proses

pertukaran energi antara orgganisme dan

lingkungan. Melalui tumbuhan hijau energi sinar matahari diikat dan diubah menjadi energi
kimia dalam bentuk senyawa gula. Sifat dan susunan tumbuhan sangat dipengaruhi oleh keadaan

lingkungannya. Setiap bentuk dari organisme atau bagiannya yang memungkinkan organisme itu
hidup pada keadaan lingkungan tertentu disebut adaptasi.
Adaptasi dimungkinkan oleh faktor faktor keturunan atau gen. Gen itu menentukan
sifat potensial individu organisme. Organisme ini akan berkembang atau tidak tergantung dari
faktor faktor lingkungan yang sesuai. Masing masing gen memerlukan keadaan lingkungan
tertentu untuk dapat bekerja. Makin beraneka ragam keadaan lingkungan makin beraneka ragam
sifat makhluk hidup. Mutasi menambah keanekaragaman dan daya penyesuaian diri terhadap
lingkungan. Adaptasi dan seleksi menyebabkan timbilnya evolusi yang melahirkan beribu ribu
jenis makhluk hidup di dunia.
Jadi antar organisme dan lingkungan terjalin hubungan yang erat dan bersifat timbal
balik. Tanpa lingkunagn organisme tidak mungkin ada, sebaliknya lingkungan tanpa organisme,
tidak berarti apa apa. Di samping itu ada persyaratan dalam mengatur kehidupan organisme
yaitu:
1. Lingkungan itu harus dapat mencukupi kebutuhan minimum dari kehidupan.
2. Lingkungan itu tidak dapat mempengaruhi hal yang bertentangan dengan kehidupan organisme.

F. Hubungan Masyarakat, Tumbuhan dengan Lingkungan


Faktor-faktor lingkungan sebagai faktor ekologi sangat beragam, secara sendiri sendiri
atau dalam bentuk kombinasi, saling bercampur dan mempengaruhi satu sama lain yang
mempunyai peranan penting bagi kehidupan masyarakat tumbuhan dan makhluk hidup lainnya.
Hubungan antara faktor-faktor lingkungan dengan masyarakat tumbuhan akan
menentukan keberadaan, kesuburan atau kegagalan masyarakat tumbuhan untuk tumbuh dan
berkembang. Ciri-ciri habitat dan lingkungannya kadang-kadang dapat menentukan Untuk
memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! adanya
variasi dan diferensiasi masyarakat tumbuhannya dalam bentuk tipe-tipe vegetasinya.
Hubungan tersebut di atas, pada umumnya terjadi antara masyarakat tumbuh-tumbuhan
dengan habitat dan lingkungannya (lingkungan abiotik), antara tumbuhan dengan tumbuhan,
antara tumbuhan dengan biota lain, dan antara tumbuhan dengan manusia (lingkungan biotik).

Hubungan masyarakat tumbuhan dengan lingkungan abiotik terbentuk antara tumbuhtumbuhan dengan tanah/lahan sebagai substrat atau habitat, fisiografi dan topografi tanah
(konfigurasi permukaan bumi), dan lingkungan iklim (cahaya matahari, suhu, curah hujan dan
kelembaban, dan udara atmosfir).
Hubungan tumbuhan dengan tanah sebagai substrat atau habitat berhubungan erat dengan
jenis (struktur dan tekstur tanah), sifat fisik, kimia dan biotik tanah, kandungan air tanah, nutrien
dan bahan-bahan organik, serta bahan anorganik sebagai hasil proses dekomposisi biota tanah.
Dikenal berbagai sifat adaptasi dan toleransi tumbuhan berkaitan dengan struktur dan sifat kimia
tanah, yaitu tipe vegetasi kalsifita, oksilofita, psammofita, halofita, dan lain lain.
Konfigurasi permukaan bumi sangat mempengaruhi ketinggian, kemiringan, dan
deodinamika lahan sebagai habitat, yang akan berpengaruh terhadap iklim (cahaya/matahari,
suhu, curah hujan, dan kelembaban udara); yang secara langsung atau tidak langsung
berhubungan erat dengan masyarakat tumbuhan dalam kaitannya dengan kehadiran, distribusi,
jenis-jenis tumbuhan, dan berbagai proses biologi tumbuhan.
Hubungan iklim dengan tumbuhan sangat erat. Iklim berpengaruh terhadap berbagai
proses fisiologi (fotosintesis, respirasi, dan transpirasi), pertumbuhan dan reproduksi
(pembungaan, pembentukan buah, dan biji) dan sebagainya. Hubungan tumbuhan dengan faktor
lingkungan iklim merupakan hubungan yang tidak terpisahkan dan bersifat menyeluruh
(holocoenotik).
Kebutuhan tumbuh-tumbuhan akan cahaya matahari berkaitan pula dengan energi dan
suhu udara yang ditimbulkannya. Terdapat 4 kelompok vegetasi yang dipengaruhi oleh suhu
lingkungan di habitatnya, yaitu kelompok vegetasi atau tumbuhan megatermal (tumbuhan
menyukai habitat bersuhu panas sepanjang tahun, misalnya tumbuhan daerah tropis), mesotermal
(tumbuhan yang menyukai lingkungan yang tidak bersuhu terlalu panas atau terlalu dingin),
mikrotermal (tumbuhan yang menyukai habitat bersuhu rendah atau dingin, misalnya tumbuhan
dataran tinggi atau habitat subtropis) dan hekistotermal yaitu tumbuhan yang terdapat di daerah
kutub atau alpin.
Dalam kaitan dengan lamanya penyinaran (fotoperiodisitas) terdapat 3 kelompok vegetasi
yang mempunyai respon terhadap proses pembungaan. Yaitu kelompok tumbuhan berhari pendek
(fotoperiodisitas) (fotoperiodisitas kurang dari 12 jam/hari), misalnya ubi jalar: tumbuhan berhari

panjang (periodisitas lebih dari 12 jam/hari), misalnya kentang; dan tumbuhan netral, yaitu
tumbuhan yang pembungaannya tidak dipengaruhi lamanya penyinaran, tumbuhan berbunga
sepanjang tahun, misalnya ubi kayu atau tembakau.
Air sebagai komponen lingkungan abiotik merupakan faktor ekologi yang penting selain
cahaya, suhu dan kelembaban udara, merupakan hasil proses presipitasi uap air yang sebagian
besar jatuh ke permukaan bumi dalam bentuk curah hujan. Ketersediaan air per tahun sangat
menentukan keberadaan, sebaran dan berbagai proses biologi masyarakat tumbuhan dan
makhluk hidup lainnya.
Terdapat jenis-jenis tumbuhan yang telah beradaptasi dengan ketersediaan air dan curah
hujan di habitatnya, yaitu tumbuhan hidrofita, tumbuhan yang hidup pada habitat perairan atau
akuatik, misalnya eceng gondok (Eichhornia crassipes); tumbuhan xerofita, tumbuhan yang
hidup di habitat beriklim kering, misalnya pohon pinus (Pinus merkusii); dan tumbuhan
mesofita, yaitu tumbuhan yang hidup di habitat yang ketersediaan airnya tidak berlebihan atau
kekurangan, misalnya pohon asam (Tamarindus indica).
Hubungan tumbuh-tumbuhan dengan udara atmosfir pada umumnya berkaitan dengan
gas CO2, O2, dan angin. Tumbuh-tumbuhan berperanan penting dalam siklus karbon yang
berhubungan dengan ketersediaan CO2 dan O2 dalam proses fotosintesis dan respirasi makhluk
hidup. Gerakan udara sebagai angin mempunyai peranan ekologis dapat menguntungkan maupun
merugikan, misalnya terhadap penyebaran serbuk sari, spora atau biji-bijian. Sebaliknya jika
kecepatan angin terlalu besar dapat menyebabkan penurunan berbagai proses metabolisme,
tumbuhan menjadi layu atau mati.
Hubungan masyarakat tumbuhan dengan makhluk hidup lainnya terjadi dalam bentuk
hubungan antara tumbuh-tumbuhan dengan tumbuhan lainnya, antara tumbuh-tumbuhan dengan
hewan, tumbuhan dengan mikrobiota (parasit dan biota pengurai) dan antara tumbuhan dengan
manusia
Hubungan tumbuh-tumbuhan dengan makhluk hidup lain pada dasarnya merupakan
hubungan di mana tumbuh-tumbuhan dimanfaatkan sebagai makanan atau sumber energi
(hubungan herbivori, parasitik, dan saprofitik), sebagai substrat atau habitat dan hubungan
ketergantungan (hubungan epifit, tumbuhan pencekik, atau liana)

Hubungan tumbuhan dengan tumbuhan terdapat dalam bentuk kompetisi akan berbagai
kebutuhannya seperti substrat tempat tumbuh atau ruang.

G. Pengaruh Lingkungan
Faktor faktor lingkungan akan mempengaruhi fungsi fisiologis tanaman. Respons
tanaman sebagai akibat faktor lingkungan akan terlihat pada penampilan tanaman. Hal ini dapat
terlihat langsung pada vegetasi hutan bakau yang tumbuh di pantai berlumpur. Bakau
mempunyai akar napas. Begitu pula tumbuhan yang tumbuh pada ekosistem rawa, mempunyai
akar papan. Ini semua ada maksudnya, dan terkandung makna bahwa tumbuhan itu juga
menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Begitu pula biasanya vegetasi yang tumbuh di sekitar ekosistem tersebut juga spesifik
atau tertentu. Karena hanya tumbuhan yang sesuai dan cocok saja yang dapat hidup
berdampingan. Tumbuhan pun mempunyai sifat menolak terhadap tumbuhan yang tidak
disukainya, yaitu dengan mengeluarkan semacam zat kimia yang dapat bersifat racun bagi jenis
tertentu yangg disebut allel. Pengaruh jenis tumbuhan terhadap jenis tertentu, di mana jenis
tumbuhan tersebut mempunyai sifat allelopait.
Pengaruh tanaman sesama tanaman itu dapat dipelajari hubungan interaksi yang dapat
saling menguntungkan sepereti tanaman pelindung. Ada yang satu untung yang lain tidak, ada
yang tidak memberikan pengaruh apa apa.. .(Prof. Dr. Zoerain Djamal Irwan,, M.Si: 1996. Prinsip Prinsip Ekologi )

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya
alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah
maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan
bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.
Berbagai cara di lakukan oleh pakar ekologi dalam pembagian komponen lingkungan ini,
salah satunya adalah:
a.

Faktor Iklim, meliputi parameter iklim utama seperti cahaya, suhu,, ketersediaan air dan angin.

b. Faktor tanah, merupakan karakteristika dari tanah seperti nutrisi tanah, reaksi tanah, kadar air
tanah, dan kondisi fisika tanah.
c.

Faktor topografi, yaitu meliputi pengaruh dari terrain seperti sudut kemiringan, aspek
kemiringan dan kketinggian tempat dari muka laut.

d.

Faktor biotik, merupakan gambaran semua interaksi dari organisme hidup seperti kompetisi,
peneduhan dan lain lain.
Proses kehidupan dan kegiatan makhluk hidup termasuk tumbuh tumbuhan pada
dasarnya akan dipengaruhi dan mempengaruhi faktor-faktor lingkungan, seperti cahaya, suhu
atau nutrien dalam jumlah minimum dan maksimum..
Akan lebih bermanfaat apabila mennghubungkan konsep minimum dengan konsep
toleransi ini untuk mendapatkan gambaran yang umum tentang konsep faktor pembatas. Hal ini
didasarkan pada kenyataan bahwa kehadiran dan keberhasilan dari organisme hidup tergantung
pada kondisi kondisi yang tidak sederhana.
Faktor faktor lingkungan akan mempengaruhi fungsi fisiologis tanaman. Respons
tanaman sebagai akibat faktor lingkungan akan terlihat pada penampilan tanaman. Hal ini dapat
terlihat langsung pada vegetasi hutan bakau yang tumbuh di pantai berlumpur. Bakau
mempunyai akar napas. Begitu pula tumbuhan yang tumbuh pada ekosistem rawa, mempunyai

akar papan. Ini semua ada maksudnya, dan terkandung makna bahwa tumbuhan itu juga
menyesuaikan diri dengan lingkungannya