Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

FOTOGRAMETRI DASAR (GKP 0203)


ACARA I
PENGAMATAN STEREOSKOPIS

Disusun Oleh :
Nama

: Laila Rosalina

NIM

: 13/348107/GE/07577

Program Studi : Kartografi dan Penginderaan Jauh


Hari, Tanggal : Jumat, 19 September 2014
Waktu

: 09.00-11.00 WIB

Asisten

: 1. Srie Lestari
2. Kusuma Wardani Laksitaningrum

LABORATORIUM PENGINDERAAN JAUH


FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

Judul Acara
Praktikum

PENGAMATAN STEREOSKOPIS

Nama
NIM
Kelompok
Praktikum
Asisten

Laila Rosalina
13/348107/GE/07577
Jumat, 09.00-11.00

Komponen
Penilaian
A : Pretest
B : Kegiatan
Praktikum
C : Laporan
Praktikum
D : Tugas

Nilai Total
Laporan :

1. Srie Lestari
2. Kusuma Wardani Laksitaningrum
Laporan dikumpulkan pada
A:
B:
C:

Tanggal :
Praktikan
(Laila Rosalina)

D:

Jam :
Asisten
(.........................
....)

MEDIA PEMBELAJARAN
1.
2.
3.
4.
5.

Stereogram
Alat Tulis
Kertas
Stereoskop Lensa/Saku
Mistar/Penggaris
Nilai

LANGKAH KERJA
Pengamatan Stereografis Tanpa Alat
1. Mengambil stereogram dengan kode yang telah ditentukan
2. Menghitung jarak antar obyek pada stereogram
3. Mengamati stereogram dengan pengamatan stereoskopis parallel
dengan mata telanjang
4. Menuliskan urutan obyek yang nampak tinggi dan rendah pada
kolom tabel 1
Pengamatan Stereografis Dengan Alat
1. Mengambil alat stereografis lensa
2. Mengamati stereogram dengan alat stereografis lensa
3. Mengoreksi kesalahan mata dalam melihat presepsi kedalaman
Pengamatan Lingkaran Mengambang

1. Mengambil kertas berisi banyak titik


2. Mengamati titik mana saja yang mengambang
3. Menandai titik yang mengambang dengan membuat lingkaran yang
mengelilingi titik tersebut.
Pengamatan Pengukuran Basis Mata
1. Mintalah teman untuk mengukurkan jarak fokus mata kanan dan kiri
2. Isikan pada tabel 3, dan ulangi sebanyak 3 kali
3. Merata-rata hasil pengukuran basis mata
Pengukuran Basis Alat
1.
2.
3.
4.
5.

Membuat tanda (X) pada garis yang sudah ada di buku praktikum
Mengamati garis menggunakan alat stereoskop lensa
Membuat tanda (X) lainnya yang nampak pada lensa
Mengukur jarak antara dua tanda (X) tersebut
Melakukannya sebanyak tiga kali dan merata-ratakan hasilnya
Nila
i

HASIL PEMBELAJARAN
1. Tabel 1 : Pengamatan Stereogram Model Obyek Dalam Lingkaran
(terlampir)
2. Tabel 2 : Pengamatan Lingkaran Mengambang (float circle) Tes
Moessner (terlampir)
3. Tabel 3 : Pengukuran Basis Mata (terlampir)
4. Tabel 4 : Pengukuran Basis Alat (terlampir)
5. Stereogram Buatan Sendiri (terlampir)
Nila
i

PEMBAHASAN
Fotogrametri dapat didefinisikan sebagai seni, ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam memperoleh informasi mengenai obyek fisik dan
lingkungan melalui proses perekaman, perhitungan dan interpretasi foto
dan pola yang terekam oleh adanya radiasi gelombang elektromagnetik
(Wolf, 1974). Fotogrametri merupakan ilmu yang wajib dipelajari bagi
orang-orang yang akan bekerja dalam ranah penginderaan jauh.
Fotogrametri berasal dari tiga kata yaitu Foto : cahaya, Gramma :
tulisan/gambar, Metric : pengukuran. Fotogrametri telah berkembang jauh
lebih dahulu sebelum fotografi berkembang, namun proses aktual dari
fotogrametri tidak dapat terlihat sebelum proses fotografi ada. Fotografi

merupakan sarana utama pada fotogrametri sebagai cara perekaman data


lapangan. Fotografi sendiri terbagi menjadi dua dalam ranah ilmu
fotogrametri, yaitu : aerial photograph, and terrestrial photograph (Wolf,
1974). Penginderaan Jauh memerlukan fotogrametri dan fotografi,
Penginderaan Jauh sendiri merupakan ilmu dan seni untuk memperoleh
informasi tentang obyek, daerah atau gejala yang dikaji tanpa bersentuhan
langsung dengan obyek tersebut (Lilesand dan Kiefer, 1979). Sehingga dari
definisi diatas dapat disimpulkan bahwa fotorametri merupakan ilmu untuk
mengamati hasil dari fotografi demi kepentingan pengamatan
penginderaan jauh.
Pengamatan hasil foto udara merupakan proses terpenting dalam
fotogrametri. Pengamatan foto udara sendiri dapat dibagi kedalam
beberapa tipe pengamatan, yaitu : pengamatan monoskopis, pengamatan
stereoskopis, pengamatan pseudoskopis, pengamatan monokuler, dan
pengamatan binokuler Pengamatan monoskopis merupakan pengamatan
yang dilakukan dengan cara mengamati obyek secara monokuler
(pandangan satu mata). Pengamatan monoskopis ini tidak dapat
menimbulkan kesan tiga dimensional. Pengamatan stereoskopis
merupakan pengamatan yang dilakukan menggunakan kedua mata
(binokuler). Pengamatan stereoskopis ini dapat menimbulkan kesan tiga
dimensi pada mata. Pengamatan stereoskopis pada pasangan citra
penginderaan jauh yang bertampalan akan menghasilkan kesan tiga
dimensional bagi jenis citra tertentu, citra yang dipilih adalah citra foto
udara yang dapat digunakan untuk pengukuran beda tinggi. Pengamatan
pseudoskopis merupakan pengamatan terbalik dari pengamatan
stereoskopis. Apabila pada stereoskopis nampak memiliki skala vertikal
tinggi, maka pada pengamatan pseudoskopis akan nampak kesan sangat
dalam / menjorok ke dalam.
Pengamatan stereoskopis dibantu dengan stereogram. Stereogram ini
merupakan alat yang didesain khusus agar menimbulkan kesan tiga
dimensional. Stereogram merupakan gambar acak atau random dengan
tekstur berulang sehingga akan menimbulkan kesan tiga dimensional saat
melihatnya. Tidak semua pemula mampu melihat kesan kedalaman melalui
stereogram, menimbulkan kesan tiga dimensional melalui pengamatan
stereoskopis dengan stereogram memerlukan latihan yang cukup lama.
Kelemahan dari pengamatan stereografis adalah harus adanya obyek yang
bertampalan pada foto udara, dan hanya bisa dilakukan pada jenis foto
udara tertentu saja, selain itu, mata menjadi cepat lelah dan sulit
memfokuskan pandangan pada obyek yang jauh. Kelebihan dari
pengamatan stereoskopis adalah munculnya kesan tiga dimensional
sehingga dapat dilakukan pengukuran perbedaan ketinggian darinya.
Pengamatan pseudoskopis merupakan pengamatan terbalik dari
pengamatan stereoskopis. Ketika pengamatan pseudoskopis ini dilakukan

dengan alat pseudoscope alat pseudoscope ini merupakan alat berlensa


binokuler yang akan menampilkan kesan kedalaman. Prinsip kerja alat ini
sama dengan stereoskop, yaitu menggunakan ilmu mengenai kemampuan
stereoskopis manusia. Pengamatan pseudoskopis ini menghasilkan gambar
yang terbalik dari kenyataannya. Apabila gambar seharusnya terlihat
mengalami perbesaran vertikal, maka pada kasus pengamatan pseudoskop
ini gambar akan nampak membentuk lubang yang amat dalam.
Pseudoscope diatur sedemikian rupa sehingga seolah menggunakan
prinsip prisma yaitu pengelihatan yang tertukar antara mata kanan dan
kiri. Sehingga, mata kanan melihat ke arah kiri dan mata kiri melihat ke
arah kanan dan bertemu di satu titik yang mengakibatkan munculnya efek
kedalaman. Kelemahan dari pengamatan pseudoskopis adalah tidak dapat
melihat kenyataan dari obyek dan tidak dapat memperkirakan ketinggian
obyek yang seharusnya nampak tinggi. Kelebihan dari pengamatan secara
pseudoskopis ini adalah dengan pengamatan ini pengamat dapat melihat
sumberdaya alam yang terdapat pada daerah palung maupun dataran
amat rendah dengan teliti dan mudah.
Pengamatan monoskopis adalah pengamatan mata normal manusia,
dengan arah pandangan lurus ke obyek, tanpa menimbulkan kesan tiga
dimensional (seolah-olah pengamatan dengan satu mata). Kelebihan
pengamatan monoskopis adalah mata tidak cepat lelah, mudah dilakukan
dan tidak memerlukan alat bantu. Sementara kelemahan dari pengamatan
monoskopis adalah tidak mampunya menimbulkan kesan tiga dimensional,
dan membutuhkan konsentrasi tinggi, serta obyek nampak berbeda antara
mata satu dengan yang lain sehingga tidak dapat dilakukan pengukuran
daripadanya.
Pengamatan binokular adalah pengamatan yang dilakukan dimana
kedua mata digunakan secara bersamaan. Kata binokular berasal dari dua
bahasa latin bini : ganda, dan oculus : mata (wikipedia.org, 2014).
Pengelihatan binokular ini terjadi karena penyatuan pengelihatan atau fusi
binokular, di mana hanya satu gambar yang terlihat meskipun setiap mata
yang memiliki citra obyek tersendiri. Kelebihan dari pengelihatan binokuler
adalah memberikan ruang pandang yang luas, memberikan ringkasan
binokular sehingga kemampuan untuk mendeteksi obyek yang samar
meningkat, dapat memberikan stereopsis di mana paralaks yang
disediakan oleh berbagai posisi kedua bola mata memberikan presepsi
kedalaman yang tepat. Sementara kelemahan dari pandangan binokular
adalah tidak dapat dilakukannya pengukuran ketinggian pada foto udara
yang dilihat dengan cara binokular.
Pengamatan monokular
merupakan pengamatan yang
pada mikroskop monokuler,
mengamati obyek. Kelebihan

(sama dengan pengamatan monoskopis)


dilakukan dengan satu lensa, contohnya saja
hanya terdapat satu lensa okuler untuk
dari pengamatan ini adalah obyek nampak

detail, namun agak susah mengatur fokusnya.


Pengamatan foto udara dengan cara-cara diatas sangat dipengaruhi
oleh paralaks atau sudut paralaks. Paralaks merupakan kesalahan
kedudukan yang nyata dari suatu obyek dari kerangka referensi yang
disebabkan oleh perubahan posisi observasi (Wolf, 1974). Sudut paralaks
dapat diartikan sebagai derajat besarnya pergeseran posisi titik
pengamatan yang terjadi dari titik awal.
Pengamatan yang dilakukan tanpa alat menghasilkan pengamatan
yang sulit menimbulkan kesan tiga dimensional. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa masih terdapat distorsi antara pengamatan dengan
mata telanjang jika dibandingkan pengamatan dengan alat (stereoskop
lensa). Pengamatan dengan mata telanjang menunjukkan bahwa mata
manusia telah diatur sedemikian rupa sehingga hanya mampu
menimbulkan kesan tiga dimensional pada jarak tertentu dengan
konsentrasi yang tinggi. Tidak mudahnya pengamatan stereoskopis yang
dilakukan dengan mata manusia adalah karena mata manusia memiliki
pandangan lensa binokular, yang mampu menunjukkan kedalaman obyek
secara nyata tanpa adanya perbesaran vertikal (VE). Bahkan tak jarang
pengamatan dengan mata telanjang (tanpa alat) ini salah dan
menunjukkan kesan yang ditimbulkan oleh pengamatan pseudoskopis. Hal
ini disebabkan oleh basis mata manusia yang berbeda-beda antar
individunya.
Pengamatan dengan alat sangat mudah dilakukan dan mudah
mendapatkan kesan tiga dimensional. Pengaturan fokus alat (basis alat)
harus disesuaikan dengan basis mata manusia (pengamat) agar
menimbulkan kesan tiga dimensional yang sesuai. Pengamatan
menggunakan alat ini sangat dianjurkan untuk pengamat yang tidak dapat
menimbulkan kesan tiga dimensional pada pengamatannya. Berdasarkan
hasil pengamatan menggunakan alat ini, tampak bahwa terdapat kesan
tiga dimensional yang amat jelas, dan mudah dibedakan antara obyek
yang mengalami perbesaran vertikal maupun obyek yang menjorok ke
dalam.

Nila
i

KESIMPULAN
1. Basis mata tiap individu berbeda-beda
2. Kelemahan kemampuan melihat (fokus) mata menyebabkan
kesulitan pengamatan stereoskopis meskipun telah dibantu dengan

alat.
3. Jarak objek yang terdekat pada stereogram menjadikan objek terlihat
paling timbul dibanding objek lain.
4. Jika terdapat 2 objek yang mempunyai jarak terdekat, maka objek
yang mempunyai warna yang lebih gelap akan terlihat labih timbul.
5. Melalui pengamatan stereoskopis dapat dilakukan pengukuran dan
analisis melalui perbesaran vertikalnya.
Nila
i

DAFTAR PUSTAKA
Wolf, Paul R. 1974. Elements of Photogrametry. Kogakusha : McGrawHill
Sutanto. (1986). Pengindraan Jauh Jilid I. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press
Lilesand, T. M. and R.W. Kiefer. 1979. Remote Sensing and Image
Interpretation. New York : John Wiley and Sons.
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Paralaks. diakses tanggal : 25 September
2014. Pukul 19:00
http://id.m.wikipedia.org/wiki/pengelihatan_binokular. diakses tanggal 25
September 2014. Pukul 19.15
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Pseudoscope. diakses tanggal 25 September
2014. Pukul 19.20

Nila
i

Lampiran 1

Objek

Jarak antar
objek
diamati
tanpa alat
(mm)

Jarak antar
objek
diamati
dengan alat
(mm)

Urutan dari
atas (tanpa
alat)

Urutan dari
atas (dengan
stereoskop)

55

55

59

61

50

57

61

62

62

Lampiran 2
Blok

Baris

Pertam

Stereogram
I (tanpa
alat)
A5

a
Kedua
Ketiga
Keemp

C2
D6

B7
C2
D6

at
Kelima
Pertam

E4
A1

E4
A1

a
Kedua
Ketiga
Keemp

B8
C3
D4

B8
C3
D4

E6

E6

at
Kelima
Pertam

a
Kedua
Ketiga
Keemp
at
Kelima
Pertam

Stereogram
II (tanpa
alat)

Stereogram
I (dengan
alat)
A5

Stereogram
II (dengan
alat)

D2
E6

a
Kedua
Ketiga
Keemp

at
Kelima
Jumlah Benar
Persentase
Lampiran 3
Tabel Pengukuran Basis Mata
Pengukuran 1

Pengukuran 2

Pengukuran 3

6,3 mm

6,2 mm

6 mm

Rerata basis
mata
43,66 mm

Lampiran 4
Pengukuran Basis Alat
Gambar 9 Garis Pengukuran Basis Alat Stereoskop Lensa

Tabel 4 Pengukuran Basis Alat Stereoskop Lensa


Pengukuran I

Pengukuran II

58 mm

53 mm

Pengukuran
III
55 mm

Rerata basis
alat
55,3 mm

Lampiran 5
Stereogram buatan sendiri pada template di bawah ini