Anda di halaman 1dari 5

SISTEM RUJUKAN

Menurut SK Menteri Kesehatan RI No. 32 tahun 1972 sistem rujukan adalah sustu system penyelenggaraan
pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit
atau masalah kesehatan secara vertical dalam arti dari unit yang berkemampuan kurang kepada unit yang lebih
mampu atau secara horizontal dalam arti antara unit-unit yang setingkat kemampuannya.
System rujukan operasional dalah suatu tatanan, dimana berbagai komponen dalam jaringan pelayanan
kesehatan reproduksi dapat berinteraksi dua arah timbal balik, antara bidan di desa, dengan para dokter spesialis
di RS Kabupaten, untuk mencapai rasionalisasi penggunaan sumber daya kesehatan, dalam upaya
penyelamatan ibu dan bayi baru lahir, melalui penanganan ibu dengan resiko tinggi dan gawat darurat obstertri,
secara professional, efisiensi, efektif, rasional, dan relevan. Dalam system rujukan, sarana/prasarana alat yang
bertekhnologi canggih, dipusatkan pada satu tempat, yaitu RS Kabupaten/ RS Provinsi.

TUJUAN RUJUKAN
1.

Tujuan Utama Rujukan

Mampu menyelamatkan ibu dan bayi baru lahir, melalui program rujukan terencana dalam satu wilayah
kabupaten, kotamadya, atau provinsi.
1.

Tujuan Spesifik Rujukan


1.

Mampu menjembatani pelayanan kesehatan dasar diwilayah kesehatan dengan akses rujukan.

2.

Mampu menyamakan strategi/ langkah antar petugas kesehatan.

3.

Mampu mengenal secara dini golongan resiko tinggi dan kegawat daruratan obstetric didaerah
pedesaan, melakukan komunikasi dan edukasi (KIE) dan rujukan terencana secara relevan,
efektif, efisien, dan rasional.

4.

Mampu mencegah rujukan terlambat.

5.

Mampu melakukan advokasi kepada Pimpian Wilayah serta melakukan sosialisasi dan
mobilisasi masyarakat dalam koordinasi Gerakan Sayang ibu.

MANFAAT RUJUKAN
Beberapa manfaat juga akan diperoleh jika ditinjau dari unsure pembentuk pelayanan kesehatan yaitu sebagai
berikut :
1.

Dari sudut pandang pemerintah sebagai penentu kebijakan (Police Maker) :


1.

Membantu penghematan dana, karena tidak perlu menyediakan berbagai macam peralatan
kedokteran pada setiap pelayanan kesehatan.

2.

Memperjelas system pelayanan kesehatan, akrena terdapat hubungan kerja antara berbagai
sarana kesehatan yang tersedia.

3.

Memudahkan administrasi pada setiap aspek perencanaan.

4.

Dari sudut masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan (Health Consumer) :


1.

Meringankan biaya pengobatan, karena dapat dihindari pemeriksaan yang sama


secara berulang- ulang.

2.

Mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan, karena telah diketahui


dengan jelas fungsi dan wewenang setiap sarana kesehatan.

3.

Dari sudut kalangan kesehatan sebagai penyedia pelayanan kesehatan (Health


Provider) :
1.

Memperjelas jenjang karier tenaga kesehatan dengan berbagai akibat positif


lainnya seperti semangat kerja, ketekunan, dan dedikasi.

2.

Membantu peningkatan ketrampilan dan pengetahuan yakni melalui


kerjasama yang terjalin.

3.

Memudahkan atau meringankan beban tugas, karena setiap sarana


kesehatan mempunyai tugas dan kewajiban tertentu.

JENIS RUJUKAN
1.

Rujukan kesehatan

Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan. Dengan
demikian rujukan kesehatan pada dasarnya berlaku untuk pelayanan kesehatan masyarakat (public health
service). Adapun rujukan kesehatan ini dibedakan atas ti ga macam yakni rujukan tekhnologi, sarana, dan
operasional.
1.

Rujukan medik

Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya penyembuhan penyakit serta pemulihan kesehatan. Dengan
demikian rujukan medik pada dasarnya berlaku untuk pelayanan kedokteran (Medical Service). Sama halnya
dengan rujukan kesehatan. Maka rujukan ini dibedakan dengan tiga macam yaitu :
1.

Rujukan penderita

Konsultai penderita untuk keperluan diagnosis, pengobatan, tindakan operatif dan lain- lain yang disebut transfer
of patien.
1.

Pengetahuan

Mendatangkan atau mengirimkan tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk meningkatkan mutu pelayanan
pengobatan setempat disebut transfer of knowlwdge/ personel.

1.

Bahan- bahan pemeriksaan

Pengiriman bahan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap disebut transfer of spesimen.

PELAKSANAAN SISTEM RUJUKAN


Dalam membina perlu ditentukan dengan beberapa hal yaitu :
1.

Regionalisasi

Regionalisasi adalah pembagian wilayah pelaksanaan system rujukan. Pembagian wilaayh ini didasarkan atas
pembagian wilayah secara administrative. Tetapi didasarkan atas lokasi atau mudahnya system rujukan itu
dicapai. Hal ini untuk menjaga agar pusat system rujukan mendapat arus penderita secara merata.
1.

Penyaringan (screning) oleh tiap tingkat unit kesehatan

Tiap tingkat unit kesehatan diharapkan melakukan penyaringan terhadap penderita yang akan disalurkan dalam
system rujukan penderita yang dapat dilayani oleh unit kesehatan tersebut. Tidak perlu dikirim oleh unit
kesehatan yang lebih mampu.
1.

Kemampuan unit kesehatan dan petugas

Kemampuan unit kesehatan tergantung pada macam tugas dan peralatannya. Walaupun demikian, diharapkan
mereka dapat melakukan ketrampilan tertentu.
Untuk melaksanakan rujukan perlu dilakukan langkah- langkah sebagi berikut :
1.

Bila ditemukan kasus yang tidak dapat ditangani sesuai dengan kewenangan bidan, maka pasien
tersebut segera dikirim ke unit pelayanan kesehatan yang memiliki kemampuan mengatasi masalah
tersebut.

2.

Penentuan tempat rujukan ditetapkan atas pertimbangan jarak (mudah dijangkau), tersedianya fasilitas
dan tenaga yang dapat memenuhi kebutuhan untuk menangani masalah pasien. Tempat rujukan tidak
dibatasi oleh wilayah administrasi dan kesediaan penderita.

3.

Pasien dan keluarga diberi informasi tentang masalah yang dihadapi, alasan, dan manfaat perlunya
dilakukan rujukan.

4.

Pasien perlu dipersiapkan sebelum dirujuk. Keadaan umum pasien diperbaiki, cegah agar tidak terjadi
segala sesuatu yang memperberat penderitaan dan masalahnya. Pasien diberi infus, obat- obatan atau
tindakan pencegahan bila diperlukan. Ingat prinsip BAKSOKUDA.

5.

Dokumen pasien dipersiapkan dan berisikan informasi lengkap tentang masalah kesehatan penderita.

6.

Dalam keadaan darurat pasien sebaiknya didampingi bidan dalam menuju tempat rujukan.

7.

Pasien yang telah dapat diatasi ditempat rujukan sebaiknya dikirim kembali kebidan pengiriman untuk
tindak lanjut. Bidan melakukan tindakan sesuai dengan saran yang diberikan oleh rumah sakit, bila
diperlukan.

FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PELAKSANAAN RUJUKAN


1.

Berfungsinya mekanisme rujukan dari tingkat masyarakat dan puskesmas hingga rumah sakit tempat
rujukan.

2.

Adanya komunikasi dua arah antara yang merujuk dengan tempat rujukan.

3.

Tersedianya tenaga kesehatan yang mampu, terampil, dan siaga selama 24 jam.

4.

Tersedianya obat-obatan dan alat kesehatan sesuai kebutuhan ditempat yang merujuk dan tempat
rujukan.

5.

Tersedianya sarana angkutan selama 24 jam.

6.

Bagi keluarga yang tidak mampu tersedia dukungan dana atau transportasi, perawatan dan pengobatan
di rumah sakit.

7.

Tersedianya dana intensif bagi petugas kesehatan yang siaga selama 24 jam.

TANGGUNG JAWAB PETUGAS DALAM PELAKSANAAN SISTEM RUJUKAN


1.

Persiapan rujukan yang memadai

2.

Penanganan/ penjelasan kepada orang tua atau keluarga mengenai penyakit yang ditemukan atau
diduga.

3.

Ijin rujukan atau tindakan lain yang dilakukan

4.

Pemberian identifikasi, data (riwayat kehamilan, kelahiran, penyakit) yang ada yang sudah dilakukan
dan yang mungkin diperlukan. Hasil laboratorium, foto rontegen, contoh darah ibu.

5.

Stabilisasi keadaan vital janin/ bayi baru lahir selama perjalanan ke tempat tujuan.

6.

Bagi petugas yang menerima rujukan berupa penanganan kasus rujukan.

7.

Pembinaan dan ketrampilan teknis petugas puskesmas oleh dokter spesialis kebidanan dan anak dalam
penanganan kasus rujukan neonatus sakit, minimal sekali setiap 3 bulan.

8.

Penerapan prosedur tetap, pelayanan esensial dan tatalaksana penyakit.

KENDALA ATAU MASALAH DALAM RUJUKAN

Yang paling banyak menimbulkan masalah rujukan adalah transportai terutama fasilitas yang harus ada sewaktu
pasien dibawa, disamping alat transportasi. Disamping itu adalah masalah geografi jalan- jalan yang harus
ditempuh sering merupakan penghambat, sehingga tak jarang walaupun telah diberikan penerangan tentang
rujukan tersebut kepada orang tua atau keluarga tetapi akhirnya mereka keberatan membawa pasien tersebut ke
rumah sakit yang lebih mampu, ditambah lagi ditempat rujukan terbayang kepada mereka berapa lagi biaya yang
harus dikeluarkan untuk perawatan nanti.