Anda di halaman 1dari 118

ASKEP KOMUNITAS HYPERTENSI

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Konsep Keluarga


1.

Definisi keluarga menurut Wahid Iqbal Mubarak dkk ( 2006 ).


Pengetian keluarga menurut beberapa ahli yaitu :

Menurut Duval, keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan
perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan memperthankan
budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan
social dari tiap anggota.

Menurut WHO ( 1969 ), keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling
berhubungan melalui pertalian darah, adopsi atau perkawinan.

Menurut Bergess ( 1962 ), keluarga adalah ;

1)

Terdiri dari sekelompok orang yang mempunyai ikatan perkawinan, keturunan /


hubungan sedarah atau hasil adopsi.

2)

Anggota tinggal bersama dalam satu rumah.

3)

Anggota berinteraksi dan berkomunikasi dalam peran social.

4)

Mempunyai kebiasaan / kebudayaan yang berasal dari masyarakat tetapi


mempunyai keunikan tersendiri.

Menurut Helvie ( 1981 ) keluarga adalah sekompok manusia yang tinggal dalam
satu rumah tangga dalam kedekatan yang konsisten dan hubungan yang erat.

Menurut Salvicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya ( 1989 ) keluarga adalah dua
atau lebih dari dua individu yang bergabung karena hubungan darah, hubungan
perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga,
berinteraksi satu sama lain, dan didalam perangnya masing-masing menciptakan
serta mempertahankan budaya.

Menurut Departemen Kesehatan R.I ( 1998 ) keluarga adalah unit terkecil dari
suatu masyarakat yang terdiri dari

kepala keluarga dan beberapa orang yang

berkumpul dan tinggal disuatu atap dalam keadaan saling bergantungan.


Dari pengertian tersebut diatas menunjukkan keluarga maka dapat disimpulkan
bahwa karakteristik keluarga adalah :
a

Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan
atau adopsi.

Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika berpisah mereka tetap
memperhatikan satu sama lain.

Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing masing mempunyai
peran social suami, istri, anak, kakak dan adik.

Mempunyai tujuan yaitu : menciptakan dan mempertahankan budaya dan


meningkatkan perkembangan fisik, psikologis dan social anggota.

2.

Struktur keluarga

a.

Struktur keluarga ada bermacam macam di antaranya adalah :

1)

Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara dan sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.

2)

Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.

3)

Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
istri.

4)

Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
suami.

5)

Keluarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan
keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya
hubungan dengan suami atau istri

b.

Struktur peran.
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi
sosial yang diberikan. Yang dimaksud dengan posisi atau status adalah posisi
individu dalam masyarakat, misalnya status sebagai istri / suami atau anak.
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat
kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu.
Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pada perilaku dari
keluarga, kelompok dan masyarakat.

Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai


berikut :
1)

Peranan ayah
Ayah sebagai suami dari isteri dan anak anaknya, berperan sebagai pencari
nafkah, pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga,
sebagai

anggota

dari

kelompok

sosialnya

serta

anggota

masyarakat

dari

lingkungannya.
2)

Peranan Ibu
Sebagai isteri dan ibu dari anak anaknya. Ibu merupakan peranan untuk
mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak - anaknya,
pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai
anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga sebagai pencari nafkah
tambahan dalam keluarganya.

3)

Peranan anak
Anak

anak

melaksanakan

peranan

psiko-sosial

sesuai

dengan

tingkat

perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual (Nasrul Effendy, 1998 ).
c.

Struktur kekuatan keluarga


Kekuatan adalah kemampuan, baik kemampuan potensial maupun

aktual dari seorang individu untuk mengontrol, mempengaruhi dan mengubah


tingkah laku seseorang. Tipe struktur kekuatan yaitu legitimate pawer authority,
refent power, effectif power.
d.

Nilai nilai keluarga


Nilai merupakan suatu system, sikap dan kepercayaan yang secara
sadar atau tidak mempersatukan anggota keluarga dalam suatu budaya. Nilai
keluarga

juga

merupakan

suatu

pedoman

perilaku

dan

pedoman

bagi

ide,

dan

perkembangan norma dan peraturan norma.


Nilai

keluarga

adalah

sebagai

suatu

sistem

sikap

kepercayaan tentang nilai suatu keseluruhan atau konsep yang secara sadar
maupun tidak sadar, mengikat bersama sama seluruh anggota keluarga dalam
suatu budaya lazim. ( Marilyn M. Friedman, 1998, hal 325 ).
3.
a

Tipe / bentuk keluarga


Keluarga inti (nuclear family ), adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan
anak anak

Keluarga besar (Extanded Family), adalah keluarga inti ditambah dengan sanak
saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan saudara, sepupu, paman, bibi dan
sebagainya.

Keluarga berantai (serial family), adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria
yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan suatu keluarga inti.

Keluarga duda / janda (single family), keluarga yang terjadi karena perceraian atau
kematian.

Keluarga berkomposisi (composite), adalah keluarga yang perkawinannya


berpoligami dan hidup secara bersama.

Keluarga kabitas (cahabitation), adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan
tetapi membentuk suatu keluarga. (Nasrul Effendy, 1998, hal 33 - 34 ).

4.

Fungsi keluarga

Fungsi efektif
Berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan
melaksanakan fungsi efektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari suatu
anggota

keluarga.

Komponen

yang

perlu

dipenuhi

oleh

keluarga

dalam

melaksanakan fungsi efektif adalah :


1)

Saling mengasuh cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling mendukung


antara anggota keluarga.

2)

Saling menghargai.

3)

Ikatan dan identifikasi.

Fungsi sosialisasi
Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu,
yang menghasilkan sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosial. Sosialisasi
ini dimulai sejak lahir. Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar
bersosialisasi, dimana anggota keluarga belajar disiplin, belajar tentang norma
norma budaya dan perilaku melalui hubungan dan interaksi dalam keluarga.

Fungsi perawatan kesehatan

Keluarga

juga

befungsi

untuk

melaksanakan

praktik

asuhan

kesehatan yaitu mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau merawat


anggota keluarga yang sakit. Kemampuan dalam memberikan asuhan kesehatan
mempengaruhi status kesehatan keluarga.
Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dinilai dari
tugas kesehatan keluarga yaitu :
1)

Mengenal masalah kesehatan.

2)

Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat

3)

Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit

4)

Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat.

5)

Mempertahankan

hubungan

dengan

menggunakan

fasilitas

kesehatan

masyarakat.
d

Fungsi reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan
menambah sumber daya manusia. Dengan adanya program keluarga
berencana maka fungsi ini sedikit terkontrol

Fungsi ekonomi

1)

Merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga,


seperti kebutuhan akan makanan, pakaian dan tempat berlindung ( ekonomi ).

2)

Pengaturan pengunaan, penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan


keluarga.

3)

Menabung untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan keluarga dimasa yang akan


datang, misalnya pendidikan anak - anak, jaminan hari tua dan sebagainya.

Fungsi pendidikan

1)

Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, keterampilan dan memberi


prilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.

2)

Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam


memenuhi peranannya dalam sebagai orang dewasa.

3)

Mendidik anak sesuai dengan tingkat tingkat perkembangannya.


Dari berbagai fungsi diatas ada tiga fungsi pokok keluarga terhadap

anggota

keluargannya, adalah :
a

Asih, adalah memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepada
anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai
dengan usia kebutuhannya.

Asuh, adalah menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar


kesehatnya selalu terpelihara, sehingga diharapkan menjadikan mereka anak
anak yang sehat baik fisik, mental, sosial dan spritual.

Asah, adalah memenuhi kebutuhan anak , sehingga siap menjadi manusia dewasa
yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.

5.

Tahap tahap perkembangan keluarga


Tahap tahap kehidupan keluarga menurut Duvall adalah sebagai berikut :

Tahap pembentukan keluarga


Tahap ini dimulai dari pernikahan, yang dilanjutkan dalam membentuk rumah
tangga.

Tahap menjelang kelahiran anak.


Tugas keluarga yang utama untuk mendapatkan keturunan sebagai
generasi

penerus,

melahirkan

anak

merupakan

kebanggaan

bagi

keluarga

merupakan saat yang sangat yang dinantikan.


c

Tahap menghadapi bayi.


Dalam hal ini keluarga mengasuh, mendidik dan mendirikan kasih sayang kepada
anak, karena pada tahap ini bayi kehidupannya sangat tergantung kepada orang
tuannya. Dan kondisinya masih sangat lama.

Tahap menghadapi anak pra sekolah.


Pada tahap ini anak sudah mulai mengenal kehidupan sosialnya, sudah mulai
bergaul dengan teman sebaya, tetapi sangat rawan dalam masalah kesehatan,
karena, tidak mengetahui mana yang kotor dan mana yang bersih. Dalam fase ini
anak sangat sensitive terhadap pengaruh lingkungan dan tugas keluarga adalah

mulai menanamkan norma norma kehidupan, norma norma agama, norma


norma sosial budaya dan sebagainya.
e

Tahap menghadapi anak sekolah


Dalam tahap ini tugas keluarga adalah bagaimana mendidik anak, mengajari anak
untuk mempersiapkan masa depannya, membiasakan anak belajar secara teratur,
mengontrol tugas tugas sekolah anak, dan meningkatkan pengetahuan umum
anak

Tahap menghadapi anak remaja


Tahap ini adalah tahap yang paling rawan, karena dalam tahap ini anak akan
mencari identitas diri dalam membentuk kepribadiannya, oleh karena itu suri
tauladan dari kedua orang tua sangat diperlukan. Komunikasi dan saling pengertian
antara kedua orang tua dengan anak perlu dipelihara dan dikembangkan.

Tahap melepaskan anak ke masyarakat


Setelah melalui tahap remaja dan anak telah dapat menyelesaikan pendidikannya,
maka tahap selanjutnya adalah melepaskan anak ke masyarakat dalam memulai
kehidupannya yang sesungguhnya dalam tahap ini anak akan memulai kehidupan
berumah tangga.

Tahap berdua kembali

Setelah anak besar dan menempuh kehidupan keluarga sendiri sendiri, tinggallah
suami istri berdua saja. Dalam tahap ini keluarga akan merasa sepi, dan bila tidak
dapat menerima kenyataan akan dapat menimbulkan depresi dan stress.
i

Tahap masa tua.


Tahap ini masuk kedalam tahap lanjut usia, dan kedua orang tua mempersiapkan
diri untuk meninggalkan dunia yang fana ini (Nasrul Effendy, 1998 )

B.

Tinjauan Umum Tentang Konsep asuhan Keperawatan Keluarga

1.

Defenisi.
Keperawatan kesehatan keluarga adalah tingkat perawatan kesehatan
masyarakat yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau
kesatuan yang dirawat, dengan sehat sebagai tujuan melalui perawatan sebagai
sarana / penyalur, (Salvicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya, 1978).

2.

Tujuan perawatan kesehatan keluarga

Tujuan umum.
Untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam memelihara kesehatan
keluarga mereka sehingga dapat meningkatkan status kesehatan.

Tujuan khusus.

1)

Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengidentifikasi masalah kesehatan


yang dihadapi oleh keluarga.

2)

Meningkatkan kemampuan keluarga dalam menanggulangi masalah kesehatan


dasar dalam keluarga.

3)

Meningaktkan kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat


dalam mengatasi masalah kesehatan para anggotannya.

4)

Meningkatkan kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan


terhadap anggota keluarga yang sakit dan dalam mengatasi masalah kesehatan
anggota keluarganya.

5)

Meningakatkan produktifitas keluarga dalam meningkatkan mutu hidupnya.

3.

Peranan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga


Dalam memberikan asuhan perawatan kesehatan keluarga,ada beberapa
peranan yang dapat dilakukan oleh perawat antara lain adalah :

Pemberian asuhan perawatan dan kebutuhan kesehatan keluarga.

Pengenal / pengamat masalah dan kebutuhan kesehatan keluarga.

Coordinator pelayanan kesehatan dan keperawatan kesehatan keluarga.

Fasilitator, menjadikan pelayanan kesehatan itu mudah dijangkau dan perawat


dengan mudah dapat menampung permasalahan yang dihadapi keluarga dan
membantu mencarikan jalan pemecahannya.

Pendidikan kesehatan, peran dapat berperan sebagai pendidik untuk merubah


perilaku keluarga dari perilaku tidak sehat menjadi perilaku sehat.

Penyuluhan dan konsultan, perawat dapat berperan dalam memberikan petunjuk


tentang asuhan keperawatan dasar terhadap keluarga.

4.

Hambatan hambatan yang sering dihadapi dalam memecahkan masalah


kesehatan keluarga.
Hambatan yang paling besar dihadapi perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan kesehatan keluarga adalah :

Hambatan dari keluarga :


1)

Keadaan ekonomi keluarga yang rendah..

2)

Keterbatasan sumber sumber daya keluarga (keuangan, sarana, dan prasarana).

3)

Kebiasaan kebiasaan yang melekat.

Hambatan dari perawat.

1)

Sarana dan prasarana yang tidak menunjang dan mencukupi seperti : transportasi.

2)

Kondisi alam (geografis yang sulit).

3)

Kesulitan dalam berkomunikasi (bahasa).

4)

Keterbatasan pengetahuan perawat tentang kultur keluarga

5.

Prinsip prinsip perawatan keluarga

Ada beberapa prinsip penting yang

perlu diperhatikan dalam

memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, adalah :


a

Keluarga sebagai unit atau satu kesatuan dalam pelayanan kesehatan

Dalam memberikan asuhan perawatan kesehatan keluarga, sehat sebagai tujuan


utama.

Asuhan keperawatan yang diberikan sebagai sarana dalam mencapai peningkatan


kesehatan keluarga.

Dalam memberikan asuhan perawatan kesehatan keluarga, perawat melibatkan


peran serta aktif seluruh keluarga dalam merumuskan maslah dan kebutuhan
keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya.

Lebih mengutamakan kegiatan kegiatan yang bersifat promotif dan preventif


dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.

Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, memamfaatkan


sumber daya keluarga semaksimal mungkin untuk kepentingan kesehatan keluarga.

g
h

Sasaran asuhan perawatan kesehatan keluarga adalah secara keseluruhan.


Pendekatan

yang

dipergunakan

dalam

memberikan

asuhan

keperawatan

kesehatan keluarga adalah pendekatan pemecahan masalah dengan menggunakan


proses perawatan.
i

Kegiatan utama dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga


adalah penyuluhan kesehatan dan asuhan perawatan kesehatan dasar / perawatan
dirumah.

Diutamakan terhadap keluarga yang termasuk resiko tinggi.

6.

Langkah langkah dalam perawatan kesehatan keluarga.


Dalam melaksanakan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, ada
beberapa langka yang harus dilakukan oleh perawat, sebagai berikut :

Membina hubungan kerja sama yang baik dengan keluarga dengan cara :
1)

2)

Mengadakan kontak dengan keluarga.


Menyampaikan maksud dan tujuan serta minat untuk membantu keluarga dalam

mengatasi masalah kesehatan mereka.


3)

Menyatakan kesediaan untuk membantu memenuhi

kebutuhan

- kebutuhan

kesehatan yang dirasakan keluarga.


4)

Membina komunikasi dua arah dengan keluarga

Melaksanakan pengkajian untuk menentukan adanya masalah kesehatan keluarga.

Menganalisa data keluarga untuk menentukan masalah masalah kesehatan dan


perawatan keluarga.

Menggolongkan masalah kesehatan keluarga, berdasarkan sifat masalah


kesehatan keluarga :
1)

Ancaman kesehatan

2)

Keadaan sakit atau kurang sehat.

3)

Situasi krisis.

Menentukan sifat dan luasnya masalah dan kesanggupan keluarga untuk


melaksanakan tugas tugas keluarga dalam bidang kesehatan

Menentukan / menyusun asuhan keperawatan kesehatan dan perawatan keluarga,


dengan mempertimbangkan :

1)

Sifat masalah

2)

Kemungkinan masalah untuk diubah

3)

Potensi menghindari masalah

4)

Persepsi keluarga terhadap masalah.

Menyusun rencana asuhan keperawatan kesehatan dan perawatan keluarga sesuai


dengan urutan prioritas :

1)

Menentukan tujuan yang realistis

2)

Merencanakan pendekatan dan tindakan

3)

Menyusun standar dan kriteria evaluasi.


Melaksanakan asuhan keperawatan kesehatan keluarga sesuai dengan rencana

yang disusun.
i

Melaksanakan evaluasi keberhasilan tindakan keperawatan yang dilakukan.

Meninjau kembali masalah keperawatan dan kesehatan yang belum dapat teratasi
dan merumuskan kembali rencana asuhan keperawatan yang baru.

7.

Proses keperawatan kesehatan keluarga


Proses keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan
menuju pada pencapaian tujuan keluarga. Proses keperawatan keluarga merupakan
suatu proses pemecahan masalah yang sistematis yang digunakan ketika bekerja
pada keluarga sebagai suatu system.
Tahap tahap dalam proses keperawatan saling bergantungan sama
lainnya dan bersifat dinamis, dan disusun secara sistematis untuk mengambarkan
perkembangan diri tahap yang satu ke tahap yang lain, dengan tahap tahap
sebagai berikut :

Pengkajian ( assessment ).
Adalah sekumpulan tindakan yang digunakan oleh perawat untuk
mengukur keadaan klien ( keluarga ) dengan memakai norma norma kesehatan
keluarga

maupun

sosial,

yang

merupakan

system

yang

terintegrasi

dan

kesanggupan keluarga untuk mengatasinya, dasar pemikiran dari pengkajian adalah


suatu perbandingan, suatu ukuran atau suatu penilaian mengenai keadaan keluarga
dengan menggunakan norma norma yang diambil dari kepercayaan, nilai nilai,
prinsip prinsip, aturan aturan, harapan harapan, teori teori, konsep konsep
yang berkaitan dengan permasalahan,
Yang termasuk dalam tahap ini adalah :
a)
b)
c)
d)
e)

Pengumpulan data
Analisa data
Perumusan masalah
Prioritas masalah
Menegakkan diagnosa keperawatan.

1)

Pengumpulan data

Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara :


1.

Wawancara
aspek

fisik,

yang berkaitan dengan hal hal yang perlu diketahui, baik

mental,

sosial

budaya,

ekonomi,

kebiasaan,

lingkungan

dan

sebagainnya.
2.

Pengamatan

: pengamatan terhadap hal hal yang tidak perlu ditanyakan,

karena sudah dianggap cukup melalui pengamatan saja, diantaranya yang


berkaitan dengan lingkungan fisik, misalnya ventilasi, penerangan, kebersihan dan
sebagainya.
3.

Studi dokumentasi :

studi berkaitan dengan perkembangan kesehatan anak,

diantaranya melalui Kartu Menuju Sehat ( KMS ), kartu keluarga dan catatan
catatan kesehatan lainnya.
4.

Pemeriksaan fisik :

dilakukan terhadap anggota keluarga yang mempunyai

masalah kesehatan dan keperawatan berkaitan dengan keadaan fisik misalnya :


kehamilan, kelainan organ tubuh dan tanda tanda penyakit.
Data data yang perlu dikumpulkan meliputi hal hal sebagai berikut

a). Identitas keluarga.


b).

Riwayat kesehatan keluarga baik yang sedang dialami maupun yang sudah
dialami.

c). Anggota keluarga.

d). Jarak antara lokasi dengan fasilitas kesehatan masyarakat yang ada.
e). Keadaan keluarga meliputi :
(1) Biologis
(2) Psikologis.
(3) Social.
(4) Kultural.
(5) Spiritual.
(6) Linkungan.
(7) Dan data penunjan lainnya.
2)

Analisa data
Didalam menganalisa data ada 3 norma yang perlu diperhatikan dalam
melihat perkembangan kesehatan keluarga yaitu :

a). Keadaan kesehatan keluarga yang normal dari setiap anggota keluarga, meliputi :
(1) Keadaan kesehatan fisik, mental, sosial anggota keluarga dan sebagainya.
(2) Keadaan pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarga.
(3) Keadaan gizi anggota keluarga.
(4) Status imunisasi anggota keluarga
(5) Kehamilan dan keluarga berencana

b). Keadaan rumah dan sanitasi lingkungan, meliputi :


(1)

Rumah, meliputi ventilasi, penerangan, kebersihan, konstruksi, luas rumah


dibandingkan dengan jumlah anggota keluarga dan sebagainya.

(2) Sumber air minum.


(3) Jamban keluarga
(4) Tempat pembuanga air limbah
(5) Pemamfaatan pekarangan yang ada dan sebagainya
c). Karakteristik keluarga :
(1) Sifat sifat keluarga
(2) Dinamika dalam keluarga
(3) Komunikasi dalam keluarga
(4) Interaksi antar anggota keluarga
(5) Kesanggupan anggota keluarga dalam membawa perkembangan anggota keluarga
(6) Kebiasaan dan nilai nilai yang berlaku dalam keluarga

3)

Perumusan masalah

Diambil sesuai dengan penganalisa praktek lapangan yang didasarkan


kepada analisa konsep, prinsip, teori dan standar yang dapat dijadikan acuan dalam
menganalisa sebelum mengembil keputusan.
Dalam menyusun masalah kesehatan dan keperawatan keluarga, seorang
perawat selalu mengacu kepada tipologi masalah kesehatan dan keperawatan serta
berbagai alasan dan ketidakmampuan keluarga dalam melaksanakan tugas tugas
keluarga dalam bidang kesehatan.
4)

Tipologi masalah kesehatan dan keperawatan.

a).

Ancaman kesehatan :

adalah keadaan keadaan yang dapat memungkinkan

terjadinya penyakit, kecelakaan dan kegagalan dalam mencapai potensi kesehatan.


Yang termasuk ancaman kesehatan, adalah :
(1) Penyakit keturunan, seperti asma bronkiale, diabetes mellitus dan sebagainya.
(2)

Keluarga / anggota keluarga yang menderita penyakit menular, seperti TBC,


gonore, hepatitis dan sebagainya.

(3) Jumlah anggota keluarga terlalu besar dan tidak sesuai dengan kemampuan dan
sumber daya keluarga, seperti anak terlalu banyak sedangkan penghasilan keluarga
kecil.
(4)

Risiko terjadi kecelakaan dalam keluarga, misalnya benda tajam diletakkan


disembarangan, tangan rumah terlalu curam.

(5) Kekurangan atau kelebihan gisi dari masing masing anggota keluarga.
(6) Keadaan keadaan yang dapat menimbulkan stress, antara lain:

(a) Hubungan keluarga yang tidak harmonis


(b) Hubungan orang tua dan anak tegang
(c) Orang tua yang tidak dewasa
(7) Sanitasi lingkungan buruk, diantaranya :
(a) Ventilasi dan penerangan rumah kurang baik
(b) Tempat pembuangan sampah yang kurang memenuhi syarat.
(c) Tempat pembuangan tinja mencemari sumber air minum
(d) Sekolah / tempat pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat.
(e) Kebisingan
(f) Polusi udara
(8) Kebiasaan kebiasaan yang merugikan kesehatan :
(a) Merokok
(b) Minum minuman keras
(c) Tidak memakai alas kaki
(d) Makan obat tanpa resep
(e) Kebiasaan makan daging mentah
(f) Hygiene personal kurang
(9) Riwayat persalinan sulit

(10)

Memainkan peranan yang tidak sesuai, misalnya anak wanita memainkan peranan
ibu karena meninggal, anak laki laki memainkan peranan ayah

(11)
b).

Imunisasi tidak lengkap


Kurang tidak sehat :

adalah kegagalan dalam memantapkan kesehatan. Yang

termasuk didalamnya adalah :


(1) Keadaan sakit. Apakah sesudah atau sebelum diagnosa.
(2) Kegagalan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang tidak sesuai dengan
pertumbuhan normal.
c). Situasi krisis : adalah saat saat yang banyak menuntut individu atau keluarga
dalam menyesuaikan diri termasuk juga dalam hal sumber daya keluarga. Yang
termasuk dalam situasi krisis adalah :
(1) Perkawinan
(2) Kehamilan
(3) Persalinan
(4) Masa nifas
(5) Menjadi orang tua
(6) Penambahan anggota keluarga, misalnya bayi baru lahir
(7) Abortus
(8) Anak masuk sekolah
(9) Anak remaja

(10)

Kehilangan pekerjaan

(11)

Kematian anggota keluarga

(12)

Pindah rumah

5)

Ketidakmampuan keluarga dalam melaksanakan tugas tugas kesehatan dan


keperawatan

a). Ketidakmampuan mengenal masalah kesehatan keluarga berhubungan dengan :


(1) Kurang pengetahuan ketidaktahuan fakta
(2) Rasa takut akibat masalah yang diketahui
(3) Sikap dan falsafah hidup
b). Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang
tepat berhubungan dengan :
(1) Tidak memahami mengenai sifat, berat dan luasnya masalah
(2) Masalah kesehatan begitu tidak menonjol
(3) Keluarga tidak sanggup memecahkan masalah karena kurang pengetahuan, dan
kurangnya sumber daya keluarga
(4) Tidak sanggup memilih tindakan diantara beberapa pilihan
(5) Ketidakcocokan pendapat dari anggota anggota keluarga
(6) Tidak tahu tentang fasilitas kesehatan yang ada
(7) Takut dari akibat tindakan

(8) Sikap negatif terhadap masalah kesehatan


(9) Fasilitas kesehatan tidak terjangkau
(10)

Kurang percaya terhadap petugas dan lembaga kesehatan

(11)

Kesalahan informasi terhadap tindakan yang diharapkan

c). Ketidakmampuan merawat anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan :


(1) Tidak mengetahui keadaan penyakit, misalnya : sifat, penyebab, penyebaran,
perjalanan penyakit gejala dan perawatanya serta pertumbuhan dan perkembangan
anak.
(2) Tidak mengetahui tentang perkembangan perawatan yang dibutuhkan
(3) Kurang tidak ada fasilitas yang diperlukan untuk perawatan
(4) Tidak seimbang sumber sumber yang ada dalam keluarga, misalnya : keuangan,
anggota keluarga yang bertanggung jawab, fasilitas fisik untuk perawatan.
(5) Sikap negatif terhadap yang sakit
(6) Konflik individu dalam keluarga
(7) Sikap dan pandangan hidup
(8) Perilaku yang mementingkan diri sendiri
d).

Ketidakmampuan memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi


kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga, berhubungan dengan

(1) Sumber sumber keluarga tidak cukup, diantaranya keuangan, tanggung jawab /
wewenang, keadaan fisik rumah yang tidak memenuhi syarat

(2) Kurang dapat melihat keuntungan dan mamfaat pemeliharaan lingkungan rumah
(3) Ketidaktahuan pentingnya sanitasi lingkungan konflik personal dalam keluarga
(4) Konflik personal dalam keluarga
(5) Ketidaktahuan tentang usaha pencegahan penyakit
(6) Sikap dan pandangan hidup
(7) Ketidakkompakan keluarga, karena sifat mementingkan diri sendiri, tidak ada
kesepakatan, acuh terhadap anggota keluarga yang mempunyai masalah.
e).

Ketidakmampuan

menggunakan

sumber

dimasyarakat

guna

kesehatan, berhubungan dengan :


(1) Tidak tahu bahwa fasilitas kesehatan itu ada
(2) Tidak memahami keuntungan yang diperoleh
(3) Kurang percaya terhadap, petugas kesehatan dan lembaga kesehatan.
(4) Pengalaman yang kurang baik dari petugas kesehatan
(5) Rasa takut pada akibat dari tindakan
(6) Tidak terjangkau fasilitas yang diperlukan
(7) Rasa asing dan tidak ada dukung dari masyarakat
(8) Sikap dan falsafah hidup.
b

Diagnosa keperawatan pada tingkat keluarga.

memelihara

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan tentang paktor paktor


yang mempertahankan resnpons / tangapan yang tidak sehat dan menghalangi
perubahan yang diharapkan (Nasrul Effendy, 1998, hal 51).
Setelah diketahui masalah kesehatan dan keperawatan keluarga
langkah selanjutnya adalah menegakkan diagnosa keperawatan keluarga. Dalam
menetapkan diagnosa keperawatan keluarga dapat ditetapkan berdasarkan faktor
risiko dan faktor potensial terjadinya penyakit atau masalah masalah kesehatan
keluarga,

serta

mempertimbangkan

kemampuan

keluarga

dalam

mengatasi

masalah kesehatannya seperti yang telah diterangkan di atas.


c

Prioritas masalah
Hal hal yang perlu diperhatikan dalam prioritas masalah adalah sebagai berikut :

1). Tidak mungkin masalah masalah kesehatan dan keperawatan yang ditemukan
dalam keluarga dapat diatasi sekaligus
2). Perlu mempertimbangkan masalah masalah yang dapat mengancam kehidupan
keluarga, seperti masalah penyakit.
3).

Perlu mempertimbangkan respons dan perhatian keluarga terhadap asuhan


keperawatan yang akan diberikan.

4). Keterlibatan keluarga dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi.


5).

Sumber daya keluaga yang dapat menunjang pemecahan masalah kesehatan /


keperawatan keluarga.

6). Pengetahuan dan kebudayaan keluarga.

Kriteria prioritas masalah


Dalam menyusun prioritas masalah kesehatan dan keperawatan
keluarga harus berdasarkan kepada beberapa kriteria, sebagai berikut :

1). Sifat masalah dikelompokkan menjadi :


a). Ancaman kesehatan
b). Keadaan sakit atau kurang sehat
c). Situasi krisis
2).

Kemungkinan masalah dapat diubah, adalah kemungkinan keberhasilan untuk


mengurangi

masalah

atau

mencegah

masalah

bila

dilakukan

intervensi

keperawatan dan kesehatan.


3).

Potensi masalah untuk dicegah, adalah sifat dan beratnya masalah yang akan
timbul dan dapat dikurangi atau dicegah melalui tindakan keperawatan dan
kesehatan.

4). Masalah yang menonjol, adalah cara keluarga melihat dan menilai, masalah dalam
hal bertanya dan mendesaknya untuk diatasi melalui intervensi keperawatan dan
kesehatan

Tabel 1
Skala prioritas
No

Kriteria

Nilai

Bobot

1.

Sifat masalah
skala :

2.

Ancaman kesehatan

Tidak / kurang sehat

Krisis

Kemungkinan masalah untuk


diubah Skala :
Dengan mudah

Hanya sebagian

Tidak dapat
3

Potensi masalah untuk dicegah


Skala :

4.

Tinggi

Cukup

Rendah

Menonjolnya masalah
Skala :
Masalah berat harus ditangani
Masalah

yang

tidak

perlu

segera ditangani

Masalah tidak dirasakan

1
0

Skoring :
1)

Tentukan skor untuk setiap kriteria

2)

Skor dibagi dengan angka tertinggi dan dikalikan dengan bobot

3)

Jumlah skor untuk semua kriteria

4)

skor yang tertinggi adalah 5 dan sama untuk semua bobot


Hal hal yang perlu diperhatikan dalam prioritas masalah adalah sebagai berikut :

a)

Tidak mungkin masalah masalah kesehatan dan keperawatan yang ditemukan


dalam keluarga dapat diatasi sekaligus

b)

Perlu mempertimbangkan masalah masalah yang dapat mengancam kehidupan


keluarga, seperti masalah penyakit.

c)

Perlu mempertimbangkan respons dan perhatian keluarga terhadap asuhan


keperawatan yang akan diberikan.

d)
e)

Keterlibatan keluarga dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi.


Sumber daya keluarga yang dapat menunjang pemecahan masalah kesehatan /
keperawatan keluarga.

f)

Pengetahuan dan kebudayaan keluarga.

Perencanaan (planning)
Rencana keperawatan Keluarga adalah sekumpulan tindakan perawat untuk
dilaksanakan, dalam memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang telah
di identifikasi.
Ciri ciri perawatan keluarga :

1).

Berpusat pada tindakan tindakan yang dapat memecahkan atau meringankan


masalah yang sedang dihadapi

2). Merupakan hasil dari suatu proses yang sistematis dan telah dipelajari dan pikiran
yang logis.
3). Rencana perawatan keluarga berhubungan dengan masa yang akan datang
4). Berkaitan dengan masalah kesehatan dan masalah keperawatan yang diidentifikasi
5). Rencana perawatan merupakan cara untuk mencapai tujuan

6). Merupakan suatu proses yang berlangsung secara terus menerus.


Kualitas rencana perawatan :
Kualitas rencana perawatan sangat tergantung kepada :
1). Penentuan masalah kesehatan dan keperawatan yang jelas dan didasarkan kepada
analisa yang menyeluruh tentang masalah situasi keluarga.
2). Rencana yang realistis, artinya dapat dilaksanakan dan dapat menghasilkan apa
yang diharapkan
3). Sesuai dengan tujuan dan falsafah keperawatan
4). Rencana keperawatan dibuat bersama keluarga dalam :
a). Menentukan masalah dan kebutuhan perawatan keluarga
b). Menentukan prioritas masalah
c). Memiliki tindakan yang tepat
d). Pelaksanaan tindakan
e). Penilaian hasil tindakan
5). Dibuat secara tertulis
c

Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan keperawatan terhadap keluarga, didasarkan kepada
rencana keperawatan yang telah disusun. Kegagalan dalam pelaksanaan tindakan
keperawatan dan kesehatan dalam memecahkan masalah kesehatan keluarga
disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah :

1). Kurang pengetahuan dalam bidang kesehatan


2). Informasi yang telah diperoleh keluarga tidak menyeluruh
3). Tidak mau menghadapi situasi
4). Mempertahankan suatu pola tingkah laku karena kebiasaan yang melekat.
5). Adat istiadat yang berlaku
6). Kegagalan dalam mengaitkan tindakan dengan sasaran
7). Kurang percaya terhadap tindakan yang diusulkan
Faktor lain yang bersumber dari perawat, adalah :
1). Menggunakan pada pendekatan yang tetap (kaku, kurang luas)
2). Kurang memberikan penghargaan, perhatian terhadap faktor faktor sosial budaya
3). Perawat kurang ahli dalam mengambil tindakan
Hal hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan
terhadap keluarga :
1). Sumber daya keluarga (keuangan)
2). Tingkat pendidikan keluarga
3). Adat istiadat yang berlaku
4). Respons dan penerimaan keluarga
5). Sarana dan prasarana yang ada pada keluarga
d

Penilaian

Penilaian / evaluasi adalah tahap yang menentukan tujuan tercapai. Evaluasi


selalu berkaitan dengan tujuan. Apabila dalam penilaian tujun tidak tercapai maka
perlu dicari penyebabnya hal dapat terjadi karena beberapa faktor :
1). Tujuan tidak realistis
2). Tindakan keperawatan yang tidak tepat
3). Ada faktor lingkungan yang tidak dapat diatasi
Dimensi dalam penilaian
1). Keberhasilan dari tindakan keperawatan yang dikaitkan dengan pencapaian tujuan
2). Ketepatgunaan yang dikaitkan dengan biaya apakah dalam bentuk uang, waktu,
tenaga dan bahan alat yang diperlukan
3).

Kecocokan, dikaitkan dengan kesanggupan tindakan yang dilakukan untuk


memecahkan masalah dengan baik sesuai dengan pertimbangan profesional

4).

Kecukupan, menyinggung kelengkapan dari tindakan apakah semua tindakan


dilaksanakan untuk mencapai hasil yang diinginkan
Kriteria dan standar
Kriteria adalah gambaran tentang faktor faktor tidak tetap yang didapat
memberi petunjuk bahwa tujuan telah tercapai. Standar menunjukkan tingkat
pelaksanaan yang diinginkan untuk membandingkan pelaksanaan yang sebenarnya.
Standar akan memberi tahukan apakah tingkat pelaksanaan yang dapat diterima
atau keadaan yang bagaimana agar dapat mengatakan bahwa tindakan yang
dilakukan berhasil atau tujuan dicapai, yaitu :

1). Klien mengerti dan memahami tentang penjelasan yang diberi mengenai colitik
Ulseratif.
2). Melaksanakan pengobatan yang dianjurkan.
3). Menhindari dan mencegah kemungkinan timbulnya penyebab penyakit.
Pengukuran hasil penilaian
Hasil asuhan keperawatan dapat diukur dari 3 dimensi :
1). Keadaan fisik , misalnya peningkatan berat badan anak
2). Psikolgis dan sifat anak, misalnya ,berkembangnya sikap positif keluarga terhadap
perawat dalam memberikan asuhan di rumah
3). Pengetahuan dan perubahan prilaku, keluarga melaksanakan petunjuk petunjuk
yang berkaitan dengan perawatan payudarah sewaktu menyusui bayi
Alasan pentingnya penilaian
1). Menghentikan tindakan / kegiatan yang tidak berguna
2). Untuk menambah ketepatgunaan tindakan keperawatan
3). Sebagai bukti hasil dari tindakan keperawatan
4). Untuk pengembangan dan penyempurnaan dan praktek keperawatan.
Metode penilaian
1).

Observasi langsung, mengamati secara langsung perubahan yang terjadi dalam


keluarga. Dari membuang sampah sembarangan dengan membuang sampah
ketempat sampah yang dibuat.

2).

Wawancara, mewawancarai keluarga yang kerkaitan dengan perubahan sikap,


apakah telah menjalankan anjuran yang diberikan perawat.

3).

Memeriksa laporan, dapat dilihat dari rencana asuhan keperawatan yang dibuat
dan tindakan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana.
(Nasrul Effendy,).

C. Tinjauan Umum Tentang Konsep Kesehatan Lingkungan.


1.

Pengertian dan ruang lingkup kesehatan lingkungan.


Kesehatan lingkungan adalah penerapan prinsip kesehatan dan perubahan
serta penyusunan sifat sifat fisik, kimia dan biologis dari lingkungan untuk
kepentingan kesehatan dan kesejahteraan, sedangkan masalah kesehatan adalah
suatu masalah yang sangat kompleks yang saling berkaitan dengan masalah
masalah lain diluar kesehatan itu sendiri. Ada dan factor yang mempengaruhi
kesehatan masyarakat yaitu : keturunan, lingkungan, perilaku dan pelayanan
kesehatan lain.
Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau keadaan
lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya
kesehatan optimum pula. Ruang lingkup kesehatan lingkungan tersebut antara lain
mencakup : perumahan, pembuangan kotoran manusia

(tinja), penyediaan air

bersih, pembuangan sampah, pembuangan air limbah rumah, hewan ternak


(kandang) dan sebagainya.
2.

Perumahan

Rumah adalah salah satu persyaratakan pokok manusia.


a

Factor factor yang perlu diperhatikan dalam membuat rumah adalah :


1)

Factor lingkungan

Baik lingkungan fisik, biologis, maupun lingkungan social.


2)

Tingkat kemampuan ekonomi masyarakat.


Rumah dibangun berdasarkan kemampuan keuangan penghuninya, perlu

dipahami

bahwa

mendirikan

rumah

buka

pada

soal

itu

saja,

namun

pemeliharaannya juga.
3)

Tekhnologi yang dimiliki oleh masyarakat.


Pada dewasa ini teknologi perumahan sudah begitu mewah dan sudah

bergitu modern akan tetapi sangat mahal. Pada rakyat pedesaan bagaimanapun
sederhananya, sudah mempunyai tehknologi sendiri dan turun menurun.
4)

Kebijakan (peraturan peraturan) pemerintah yang menyangkut tataguna tanah.


Untuk

hal ini, bagi perumahan masyarakat pedesaan belum merupakan

problem namun di kota sudah menjadi masalah besar.


Syarat syarat rumah yang sehat :
a). Bahan bangunan.
(1) Lantai

: ubin atau semen adalah baik tapi tidak cocok untuk kondisi

ekonomi pedesaan. Syarat yang penting disini adalah tidak berdebu (kemarau) dan
tidak basah (musim hujan).

(2) Dinding : tembok adalah baik, namun disamping mahal, tembok sebenarnya
kurang cocok untuk daerah tropis, lebih lebih ventilasinya tidak cukup. Dinding
rumah di daerah tropis khususnya dipedesaan, lebih baik dinding atau papan.
Sebab meskipun jendela tidak cukup, maka lubang lubang pada dinding atau
papan, tersebut dapat merupakan ventilasi dan dapat menambah penerangan
alamiah atau yang penting ventilasi harus ada sehingga sirkulasi udara dan
penerangan alamiah (sinar matahari) bebas masuk.
(3) Atap genteng seng atau asbes dan juga menggunakan atap daun rumbai. Yang
berguna untuk melindungi dari hujan atau terik matahari.
b). Ventilasi.
Fungsi utama menjaga agar aliran udara didalam rumah tetap segar dan
juga berfungsi untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri bakteri terutama
bakteri pathogen.
Ada 2 macam ventilasi yaitu ventilasi alamiah (jendela, pintu, lubang angina
pada dinding) dan ventilasi buatan ( kipas angina, mesin penguap udara).
c). Cahaya
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup. Cahaya dapat
dibedakan atas 2 yaitu : cahaya alamiah yakni matahari, dapat membunuh bakteri
bakteri pathogen (misalnya bakteri TBC). Cahaya buatan yaitu menggunakan lampu
minyak tanah, listrik dan sebagainya.
d). Luas bangunan rumah.

Harus cukup untuk penghuninya disesuaikan dengan jumlah penghuninya.


Luas bangunan optimum 2,3 3 m2 untuk tiap orang.
e). Fasilitas fasilitas didalam rumah sakit.
Tersedia air bersih yang cukup, pembuangan tinja, pembuangan air limbah,
pembuangan sampah. Fasilitas dapur, ruang berkumpul keluarga. Disamping itu
perlu ada fasilitas lain misalnya gudang, kandang ternak.
3.

Penyediaan air bersih.


Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lainuntuk minum,
masak, mandi, mencuci, yang sangat penting adalah kebutuhan untuk minum.

Syarat syarat air minum yang sehat.

1)

Syarat fisik : bening tidak berasa, suhu dibwah suhu udara diwarnainya sehingga
dalam kehidupan sehari hari cara mengenal air yang memenuhi persyaratan fisik
ini tidak sukar.

2)

Syarat bakteriologis : harus bebas dari segala bakteri, utamanya bakteri pathogen
cara pemeriksaannya melalui sampel 100 cc diperiksa, apabila terdapat bakteri > 4
bakteri E. Coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.

3)

Syarat kimia : harus megandung zat zat tertentu didalam jumlah yang tertentu
pula zat zat tersebut antara lain :
Tabel 2
Jenis Jenis Zat Kimia Kandungan Air

b.

Jenis bahan

Kadar yang dibenarkan

Flour ( F )

1 1,5

Chlor ( Cl )

250

Arsen ( As )

0.03

Tembaga ( cu )

1,0

Besi ( Fe )

0,3

Zat organic

10

Ph ( keasaman )

6,5 9,0

CO2

Sumber sumber air minum.

1). Air hujan : tidak mengandung kalsium, oleh karena itu agar dapat disesuaikan air
minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium.
2). Air sungai dan danau : air pemukaan, olehnya itu air ini sudah terkontaminasi
sehingga perlu diolah dulu untuk jadi air minum.
3). Mata air : bila belum tercemari dapat diminum langsung, tetapi untuk menjaga
segala kemungkinan ada baiknya sebelum dimasak sebelum diminum.
4). Air sumur dalam : berasal dari lapisan air ke 2 didalam tanah ( 15 meter dari
permukaan tanah). Air ini cukup sehat untuk dijadikan air minum langsung.

4.

Pembuangan kotoran manusia.

Untuk mencegah / mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan, maka


pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik untuk disuatu tempat
tertentu atau jmaban yang sehat adalah tidak mengotori permukaan tanah
disekitarnya, tidak dapat dijangkau oleh serangga (lalat, kacoa), tidak menimbulkan
bau,

mudah

digunakan,

sederhana

desainya,

murah,

dapat

diterima

oleh

pemakainnya.

Agar persyaratan diatas, dipenuhi maka perlu diperhatikan :


a.

Jamban tersebut tertutup terlindungi dari panas / hujan, serangga, terlindungi dari
pandangan orang.

b.
c.

Jamban sebaiknya mempunyai lantai yang kuat (tempat berpijat yang kuat).
Bangunan jamban sedapat mungkin ditempatkan pada lokasi yang tidak
menganggu pandangan, tidak menimbulkan bau.

d.

Tersedia alat pembersi seperti air atau kertas pembersih.

e.

Terletak didaerah yang rendah, jarak 20 meter dari sumber air.

5.

Sampah dan pengolahannya.


Sampah adalah sesuatu bahan atau berada padat yang sudah tidak dipakai
lagi oleh manusia :

a.

Sumber sumber sampah.

Sampah

yang

berasal

dari

pemukiman,

tempat

tempat

umum,

perkantoran, pembersih jalan, industri, pertanian / perkebunan, pertambangan dan


yang berasal dari peternakan dan perikanan.
b.

Jenis jenis sampah.

1). Sampah padat.


2). An organic (yang tidak dapat membusuk) ; sisa sisa makanan, daun daunan,
buah buahan dsb ).

3). Sampah cair (air limbah).


4). Sampah dalam bentuk gas asap kendaraan asap pabrik, dsb.
c.

Pengelolaan sampah.
Cara pengelolaan sampah sebagai berikut :
1). Pengumpulan dan pengangkutan sampah.
2). Pemusnahan dan pengelolaan sampah.

a). Ditanam
b). Dibakar
c). Dijadikan pupuk.
6.

Air limbah dan pengelolaanya.

Air limbah / air buangan adalah sisa air dibuang yang berasal dari rumah
tangga industri atau tempat tempat umum dan pada umumnya mengandung
bahan bahan atau zat zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia serta
menganggu lingkungan hidup.
Klasifikasi air limbah :
a.

Air limbah dari rumah tangga (domestic waster water).


Berasal dari pemukiman penduduk yang pada umumnya air limbah ini terdiri
dari ekstrela (tinja dan air seni), air bebas cucian, dapur, kamar mandi yang terdiri
dari bahan bahan organ.

b.

Air limbah industri.(industri waster water).


Berasal dari berbagai jenis industri akibat proses proses dimana zat - zat
yang terkandung didalamnya bervariasi seperti : nitrogen, sulfia, amoniak, lemak,
garam garam, zat pewarna, mineral, logam berat, zat pelarut, dsb.

c.

Air limbah kotapraja (municipal waster water).


Yaitu air buangan yang berasal dari daerah : perkantoran, perdagangan,
hotel, restoran, dsb. Zat zat yang terkandung didalamnya sama dengan air limbah
rumah tangga. Pemukiman penduduk yang pada umumnya air limbah ini terdiri dari
ekstreta (tinja dan air seni), air bekas cucian dapur, kamar mandi yang terdiri dari
bahan bahan organic.
Karakteristik air limbah :

1)

Karakteristik fisik : sebagain besar terdiri dari air, sebagian kecil dari bahan
bahan padat dan suspensi.

2)

Karakteristik kimiawi : biasanya mengandung zat zat kimia anorganik yang


berasal dari air bersih serta bermacam macam zat organic berasal dari
penguraian tinja, urine, sampah sampah lainnya.

3)

Karakteristik bakteriologis.
Air limbah yang tidak diolah akan menyebabkan berbagai gangguan
kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup, antara lain :

a).

Menjadi transmisi / media penyebaran berbagai penyakit, seperti kolera, typus


abdominalis disentri basiler.

b). Menjadi media berkembangbiakanya nyamuk atau tempat hidup larva.


c). Menjadi tempat berkembangbiakan nymauk atau tempat hidup larva nyamuk.
d). Menimbulkan bau yang tidak enak serta pandangan yang tidak sedap
Pengelolaan air buangan :
a).

Pengelolaan awal

(preliminary) adalah pengeloaan yang dilakukan untuk

mencegah komplikasi pengelolaan selanjutnya dan untuk menghilangkan dan untuk


mengurangi kegiatan pemeliharaan peralatan.
b).

Pengelolaan primer atau pengelolaan untuk menghilangkan semua benda


terapung dan sebagian besar benda beruspensi.

c).

Pengelolaan sekunder ialah pengelolaan biologis seperti pengolahan dengan


Lumpur aktif, kolam oksidasi. Tricking filter, lagooa statage dan aerosi, land
spreading, dan sebagiannya.

D. Tinjauan Umum Tentang Konsep Dasar Penyakit Hipertensi


1. Tinjauan Hipertensi
a

Pengertian
Hipertensi adalah suatu gangguan pada sistem peredaran darah yang sering
terdapat pada usia setengah umur atau lebih tua. Menurut WHO, batas tekanan
darah yang masih dianggap normal adalah 140/90 mmHg dan tekanan darah sama
atau di atas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi.
Sedangkan batasan hipertensi dengan memperhatikan perbedaan usia dan jenis
kelamin oleh Kaplan dalam buku Ilmu Penyakit Dalam, oleh Soeparman, Sarwono
Waspadji, hal. 205 diajukan sebagai berikut :

1.)

Pria usia < 45 tahun dikatakan hipertensi apabila tekanan darah pada waktu
berbaring di atas atau sama dengan 130/90 mmHg.

2.) Pria usia > 45 tahun dikatakan hipertensi apabila tekanan darahnya di atas 145/95
mmHg.

3.) Pada wanita tekanan darah di atas atau sama dengan 160/95 mmHg dinyatakan
hipertensi.
Pada tahun 1984, The Joint National Committee on Detection, Evaluation and
Treatment of High Blood Pressure, dalam buku Ilmu Penyakit Dalam, oleh
Soeparman, Sarwono Waspadji, hal. 206 membagi hipertensi berdasarkan tekanan
diastolik sebagai berikut :

1.) Tekanan diastolik kurang dari 85 mmHg adalah normal.


2.) Hipertensi ringan bila tekanan diastole 90 140 mmHg.
3.) Hipertensi sedang bila tekanan diastole 105 114 mmHg.
4.) Hipertensi berat bila tekanan diastole lebih dari 114 mmHg.
Pasien-pasien

dengan

tekanan

darah

yang

kadang-kadang

naik

dinamakan

hipertensi labil.
Klasifikasi tekanan darah tinggi menurut WHO :
Kategori

Sistolik

Diastolik

Normal

140 mmHg

90 mmHg

Bordeline/Perbatasan

140 159 mmHg

90 94 mmHg

Hipertensi defenitif

160 mmHg

95 mmHg

Hipertensi ringan

160 179 mmHg

95 140 mmHg

Penyebab/Etiologi
Berdasarkan penyebab hipertensi, dibagi menjadi dua golongan yaitu :

1)

Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya,


disebut juga hipertensi idiopatik. Ini merupakan tipe paling umum dan termasuk 35
95 % dari individu dengan penyakit ini. (Soeparman, Waspadji Sarwono, 1990 :
207 208).
Ada beberapa faktor resiko yang mempengaruhi sebagai berikut :

a). Usia
Paling tinggi kejadian pada usia > 40 tahun
b). Jenis kelamin
Lebih banyak terjadi pada laki-laki.
c). Keturunan
75 % pasien hipertensi mempunyai riwayat keluarga hipertensi.
d). Obesitas/kegemukan
Sirkulasi

volume

darah

penderita

obesitas

dengan

hipertensi

lebih

tinggi

dibandingkan dengan penderita yang mempunyai berat badan normal.


e). Perokok
Resiko pada manusia dihubungkan mekanisme terjadinya hipertensi pada perokok
belum diketahui secara pasti, namun hubungan antara rokok dengan peningkatan
kardiovaskuler telah banyak dibuktikan.
f).

Peminum alkohol

Peminum alkohol berat akan cenderung hipertensi, walaupun mekanisme timbulnya


hipertensi secara pasti belum diketahui.
g). Komsumsi garam
Garam merupakan hal yang sangat sentral dalam penyebab hipertensi. Ditemukan
pada golongan suku bangsa dengan asupan garam yang minimal. Pengaruh asupan
garam terhadap timbulnya hipertensi terjadi melalui peningkatan volume plasma
dan curah jantung.
h). Stres
Diduga melalui aktivasi saraf simpatik yang dapat meningkatkan tekanan darah
secara intermitten. Apabila stres menjadi berkepanjangan dapat berakibat tekanan
darah menetap tinggi.
2)

Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder adalah keadaan terjadinya tekanan darah tinggi akibat
penyakit tertentu seperti :

a).

Hipertensi renal ialah hipertensi yang penyebabnya adalah kelainan parenkim


ginjal.
Dalam buku Ilmu Penyakit Dalam, oleh Soeparman, Sarwono Waspadji, hal. 236, M.
Ziegler dan G.J. Mart menuliskan semua penyakit ginjal yang dapat menimbulkan
hipertensi seperti di bawah ini :

(1) Penyakit ginjal bilateral


Glomerulo nefritis akut dan kronik.

Nefritis interstisial akut dan kronik.


Pielonefritis glomerulosklerosis.
(2) Penyakit ginjal unilateral
Aneurisma arteri renalis.
Infark ginjal.
Fistel arteriovenosus.
Trombosis vena renalis.
Tuberkulosis ginjal.
Bendungan urine karena berbagai sebab.
(3) Hipertensi karena gagal ginjal
(4) Hipertensi sesudah cangkok ginjal
b). Hipertensi renovaskuler
Adalah hipertensi yang disebabkan oleh obstruksi satu atau lebih cabang arteri
renalis utama atau cabangnya yang dapat sembuh dengan operasi rekonstruksi
vaskuler atau nefrektomi.
c

Patofisiologi
Kerja jantung terutama ditentukan oleh besarnya curah jantung dan tahanan
perifer. Curah jantung pada pasien hipertensi umumnya normal. Kelainan terutama
pada peningkatan tahanan perifer. Peningkatan tahanan perifer ini disebabkan

karena penyempitan pembuluh darah akibat ketegangan otot polos pada pembuluh
darah tersebut.
Meningkatnya tekanan darah semakin menegangkan dinding pembuluh
darah sehingga menyebabkan dinding pembuluh darah semakin tebal dan ronggan
pembuluh

darah

semakin

sempit

yang

meningkatkan

tahanan

terhadap

mengalirnya darah.
Perubahan struktur inilah yang dianggap sebagai salah satu faktor utama
sukarnya tekanan darah dikendalikan dengan obat-obatan anti hipertensi pada
kasus-kasus tertentu. Kerja jantung pada penderita hipertensi akan bertambah
berat karena naiknya tahanan perifer yang lama kelamaan akan menyebabkan
terjadinya hipertropi ventrikel kiri. Dengan adanya hipertropi dan hiperplasia
ventrikel kiri maka sirkulasi darah dalam otot jantung tidak mencukupi lagi sehingga
terjadi anoksia (kekurangan oksigen).
Hal ini dapat diperberat oleh adanya sklerosis koroner dan jika hal ini
berlangsung lama akan terjadi decompensasi cordis di samping ini juga akan
menyebabkan gagal jantung. Pusat vasomotor di batang otak yang akibat
terjadinya vasokontriksi arteri otak sistemik yang akan meningkatkan tekanan
darah.
d

Gejala klinik
Gejala hipertensi tidak selalu ada hubungannya dengan berat ringannya
hipertensi. Secara dini dari penyakit hipertensi ringan pasien sakit kepala karena
vasokontriksi atau epitaksis dari perdarahan kapiler basial. Pada hipertensi ringan
ada kelompok pasien yang sama sekali tidak memberikan keluhan-keluhan. Sedang

pada sekelompok yang lain sudah memberikan gejala-gejala yang sangat terasa
mengganggu. Demikian pula hipertensi yang sedang dan berat, ada pasien yang
tidak mengeluh apa-apa dan ada pasien yang sudah memberikan keluhan yang
begitu berat sehingga tidak dapat bekerja dengan baik karena sangat terganggu.
Pada umumnya pasien hipertensi memberikan keluhan-keluhan sebagai
berikut : pusing, sakit kepala, vertigo, sukar tidur, mata berkunang-kunang, kaku
kuduk, mual dan muntah, epitaksis, telinga berdengung.
e

Diagnosis
Diagnosis hipertensi tidak dapat ditegakkan dalam satu kali pengukuran,
hanya dapat ditetapkan setelah dua kali atau lebih pengukuran pada kunjungan
yang berbeda, kecuali terdapat kenaikan yang tinggi atau gejala-gejala klinis. Oleh
karena itu, setiap pasien hipertensi harus diperiksa secara keseluruhan yang
meliputi riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium.
1)

Riwayat penyakit
Pada pasien hipertensi perlu ditonjolkan lamanya menderita, riwayat dan

gejala penyakit yang berkaitan dengan penyakit jantung koroner, gagal jantung dan
lain-lain. Apakah ada riwayat penyakit dalam keluarga, gejala-gejala yang berkaitan
dengan penyebab hipertensi, perubahan aktivitas/kebiasaan seperti merokok,
komsumsi makanan (khususnya makanan yang banyak mengandung garam, lemak,
dan protein), riwayat komsumsi obat-obat bebas, hasil dan efek samping terapi
hipertensi sebelumnya bila ada, dan faktor psikososial lingkungan (keluarga,
pekerjaan, dan sebagainya).
2)

Pemeriksaan fisik

Dalam pemeriksaan fisik perlu dilakukan pengukuran tekanan darah dua kali
atau lebih dengan jarak dua menit, kemudian diperiksa ulang dalam hal ini juga
dilakukan pengukuran berat badan untuk membandingkan antara berat badan dan
tinggi pasien. Karena obesitas dan hipertensi mempunyai prognosa yang kurang
baik. Kemudian dilakukan

pemeriksaan funduskopi untuk mengetahui adanya

retinopati hipertensif.
3)

Pemeriksaan laboratorium

a). Pemeriksaan darah rutin yang diperlukan adalah hematokrit, ureum, dan kreatinin
untuk menilai fungsi ginjal.
b). Elektrolit untuk melihat kemungkinan adanya kelainan hormonal aldosteron.
c).

Pemeriksaan urinalis (protein dalam urine) untuk melihat adanya kelainan pada
ginjal.

4)

Pemeriksaan radiologi yaitu untuk melihat adanya pembesaran jantung kiri pada
hipertensi yang kronis dan tanda-tanda bendungan pembuluh darah pada stadium
payah jantung hipertensi.
5)

Pemeriksaan echokardiografi
Echokardiografi merupakan salah satu pemeriksaan penunjang yang akurat

untuk memantau terjadinya hipertropi ventrikel. Hemodinamik kardiovaskuler dan


tanda-tanda iskemia miokard yang menyertai penyakit jantun hipertensi pada
stadium lanjut.

Apabila pemeriksaan tersebut di atas tidak cukup untuk membuktikan


etiologi penyakit atau ada kecurigaan terhadap suatu penyakit yang menyebabkan
hipertensi maka dilakukan pemeriksaan khusus seperti :
a.)

Pielografi intravena dapat membantu menilai keadaan ginjal, dapat dilihat dari
fungsi ekskresi ginjal dan ureter serta bentuk dan besarnya ginjal.

b.) Arteriografi renal dilakukan bila ada dugaan stenosis arteri renalis.
c.) Pemeriksaan kadar renin plasma untuk mengevaluasi pasien untuk stenosis arteri
renalis juga dipakai untuk menentukan pola pengobatan
f

Pengobatan dan perawatan


1) Pengobatan
Pengobatan selain ditujukan pada tekanan darah juga pada komplikasikomplikasi yang terjadi yaitu dengan :

a). Menurunkan tekanan darah menjadi normal.


b). Mengobati payah jantung karena hipertensi.
c). Mengurangi kejadian kardiovaskuler.
d). Menurunkan faktor resiko penyakit kardiovaskuler semaksimal mungkin
Beberapa macam obat yang sering digunakan dalam pengobatan hipertensi
sehari-hari adalah :
a.)

Diuretik menurunkan tekanan darah dengan menghabiskan natrium tubuh dan


mengurangi volume darah serta mekanisme-mekanisme lainnya.

(1) Diuretik tiazid cocok untuk penderita hipertensi ringan dan sedang.
(2) Loap diuretik : furosenamid (Lasix).
(3) Obat penahan kalium (Potassium sparing)
Agents : spinorolactone : ameloride, triamteren.
b.) Obat-obat penghambat simpatik (adrenergik)
(1.) Clonidin bekerja sentral.
(2.) Penghalang simpatik ganglion : trimetaphon : pentolinium, pempidine.
(3.) Obat-obat penghalang transmisi neuro efektor guanethedine, debriso-guine
reserpine.
(4.) Yang bekerja sentral dan menghalang simpatik metildopa.
(5.) Obat penghalang reseptor adrenergik
Penghalang alpha adrenoreseptor : phrolamine.
Penghalang beta adrenoreseptor : non cardioselektif
Kombinasi penghalang alpa dan beta adrenergik.
Reseptor : labetolol.
c.) Vasodilator langsung
Hidralisin bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos dan
akan mengakibatkan penurunan resistensi vaskular.

Sodium nitropusid vasodilator kuat yang diberikan secara

parenteral yang

digunakan pada
hipertensi gawat dan kegagalan jantung yang berat.
2)

Perawatan

Istirahat, monitor tekanan darah, hentikan merokok, jika merokok kurangi berat
badan (olah raga) pembatasan minum-minuman beralkohol
3.

Modifikasi gaya hidup


Beberapa penelitian menunjukkan

1.
2.
3.
4.
5.

bahwa

penatalaksanaan

nonfarmakologis

meliputi:
Teknik mengurangi stress
Penurunan BB
Pembatasan alcohol
Olahraga latihan
Relaksasi merupakan intervevsi wajib yang harus dilakukan pada saat terapi
antihipertensi.

Komplikasi
Komplikasi yang disebabkan oleh peningkatan tekanan darah menyebabkan
kelainan-kelainan pada organ-organ seperti jantung, otak,
pembuluh darah, ginjal dan mata
1)

Komplikasi pada jantung

Penyakit jantung yang timbul akibat penyakit hipertensi adalah penyakit jantung
koroner dan penyakit jantung hipertensi yang juga dapat menyebabkan terjadinya
patah jantung ischemik yang pada banyak negara merupakan sebab kematian
utama.

2)

Komplikasi pada otak dapat berupa pendarahan otak (stroke) enselopati dan
intracranial hemorhagis. Enselopati hipertensi biasanya ditandai oleh sakit kepala
hebat, bingung, lamban dan gangguan penglihatan. Gejala-gejala ini umumnya
tambah berat dalam waktu 12 48 jam dan dapat timbul kejang-kejang. Kesadaran

3)

menurun serta dapat menyebabkan kebutaan.


Komplikasi pada pembuluh darah dapat berupa :

a). Radang pembuluh nadi yang menutup jalannya aliran darah.


b).

Adanya

penumpukan

aliran

darah

dalam

pembuluh

darah

yang

dapat

mengembangkan vena.
c). Robeken pembuluh darah akibat tekanan yang meningkat.
d). Regang pembuluh nadi akibat penumpukan darah.
4)

Komplikasi pada ginjal dapat berupa

a). Glomerulus
b). Gangguan fungsi ginjal
5)

Komplikasi pada mata dapat diketahui dengan pemeriksaan funduskopi dengan


melihat kelainan fundus/retina berupa :

a). Oklusi vena retina (OVEC) gambaran fundusnya yaitu vena berkelok-kelok, odem
retina, dan odem macula, pendarahan di sekitar papil saraf optik, ketajaman
penglihatan sangat buruk.
b). Oklusi vena retina cabang-cabang yang sering tersumbat adalah cabang temporal
atas sehingga akibatnya langsung mengenai macula dan menimbulkan tajam
penglihatan yang buruk.

Prognosa
Pada umumnya prognosa pada pasien hipertensi tergantung dari penyakit
primernya, berat ringannya penyakit hipertensi itu sendiri, serta komplikasi yang
timbul dan cepatnya tindakan atau pengobatan.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prognosa hipertensi yaitu :

1)

Etiologi hipertensi yang ditemukan secara dini dan sebabnya dapat dikoreksi tentu
mempunyai prognosa yang baik misalnya akibat kelainan ginjal dan kelainan

hormon, neurologi dan lain-lain.


2)
Ada tidaknya komplikasi dari organ tubuh, makin banyak komplikasi yang
3)

ditemukan pada organ tubuh makan prognosa makin jelek.


Ada
tidaknya
resiko
payah
jantung,
ischemik,

4)

hipercolesteronemia, merokok juga sangat menentukan prognosis.


Tinggi rendahnya tekanan darah, makin tinggi tekanan darah maka mempunyai
prognosa yang jelek juga.

diabetes

millitus,

ASKEP KOMUNITAS HIPERTENSI BERAT

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.
1.

Latar Belakang
Berdasarkan kurikulum Akademi Perawatan Depkes RI tahun 1997 dan

kalender akademis tentang Program Perkuliahan Mahasiswa Tk-II AKPER RS. Dustira
TA.2001/2002.
2.

Dalam UU Pokok Kesehatan tanggal 15 Oktober 1960 Bab I telah

menyatakan bahwa tiap warga negara berhak memperoleh derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya dan perlu diikut sertakan dalam usaha-usaha pemerintah.
3.

Sesuai GBHN 1993 yang dijabarkan dalam bentuk pemerintahan di bidang

kesehatan yang tadinya bersifat orientasi berubah menjadi pendekatan secara


keseluruhan pada keluarga maupun masyarakat.

1.2.
1.

Tujuan Penulisan

Tujuan Umum
Setelah

menyelesaikan

PKK,

mahasiswa

mampu

melaksanakan

pembinaan

kesehatan keluarga yang mempunyai masalah yang lazim terjadi dalam komuniti.
2.
a.

Tujuan Khusus
Menerapkan konsep dan prinsip epidemiologi biostatistik dan kesehatan
lingkungan dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada individu, keluarga,
kelompok khususnya dan masyarakat pada umumnya.

b.

Menerapkan asuhan keperawatan dengan menerapkan proses keperawatan


kepada individu, keluarga, kelompok khususnya dan masyarakat pada umumnya
sebagai berikut :

Melakukan pengkajian data keperawatan atau kesehatan kepada individu,


keluarga, kelompok khususnya dan masyarakat pada umunya.

Merumuskan masalah atau diagnosa keperawatan, membuat perencanaan dan


pemecahannya melalui lokmin dengan masyarakat.

Melaksanakan tindakan keperawatan kepada individu, kelompok khususnya


keluarga dan masyarakat pada umunya.

Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan dan membuat catatan perkembangan


asuhan keperawatan.

1.3.

Ruang Lingkup

1.

Pengertian puskesmas, usaha kegiatan pokok puskesmas dan tujuan

puskesmas.
2.

Pelaksana kegiatan pokok Puskesmas Padasuka.

3.

Pengolahan data, pembinaan wilayah di RW 18 Kelurahan Padasuka.

4.

Lokmin hasil pendataan RW 18 Kelurahan Padasuka.

1.4.

Rumusan Masalah
Dalam makalah atau laporan ini, kami menguraikan tentang :

1.
2.
3.

Bagaimana usaha-usaha kegiatan pokok puskesmas dilaksanakan.


Sejauhmana kegiatan usaha pokok puskesmas ini dapat dilaksanakan.
Bagaimana karakteristik atau keadaan wilayah binaan RW.18 Kelurahan

Padasuka.
4.

Masalah-masalah apa yang terdapat di wilayah binaan.

1.5.
1.

Cara Memperoleh Data

Observasi
Melakukan pengamanan secara langsung baik di puskesmas maupun di wilayah
binaan.

2.

Wawancara

Melakukan wawancara dengan Kepala Puskesmas Padasuka beserta staf dan


masyarakat binaan RW.18 Kelurahan Padasuka.
3.

Literatur
Mencari sumber-sumber informasi dari buku-buku perpustakaan.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1.

Sejarah Puskesmas

Di Indonesia puskesmas merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan


tingkat pertama. Sebelumnya BKIA, BP dan P4 yang dimana sarana tersebut
berjalan sendiri-sendiri.
Puskesmas pada tahun 1968 dibedakan menjadi 4 macam, yaitu :
1.

Puskesmas masyarakat desa.

2.

Puskesmas masyarakat kecamatan.

3.

Puskesmas masyarakat kewedanaan.

4.

Puskesmas masyarakat kabupaten.

Pada rakernas puskesmas tahun 1969, puskesmas dibagi menjadi 3


tingkatan, yaitu :
1.

Puskesmas type A, dipimpin oleh dokter penuh.

2.

Puskesmas type B, dipimpin oleh dokter tidak penuh.

3.

Puskesmas type C, dipimpin oleh paramedis.

Pada rakernas puskesmas tahun 1970, puskesmas hanya ada satu macam
yaitu puskesmas kecamatan. Karena berkembangnya jumlah penduduk Indonesia,
maka didirikan puskesmas dengan jumlah yang memadai yang terdiri dari
puskesmas pembina dan puskesmas pembantu.
2.2.

Pengertian Puskesmas

Menurut Dr. Azrul Azwar, MPH (1980) adalah sebagai berikut :

Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi fungsional yang langsung


memberikan pelayanan secara menyeluruh kepada masyarakat dalam suatu
wilayah kerja tertentu dalam bentuk usaha-usaha kesehatan pokok.

Menurut DEPKES RI (1981), pengertian puskesmas adalah :

Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan yang langsung


memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada
masyarakat di wilayah tertentu dalam usaha-usaha kesehatan pokok.

Sedangkan menurut DEPKES RI (1987) adalah sebagai berikut :

1.
Puskesmas adalah sebagai pusat pembangunan kesehatan yang berfungsi
mengembangkan dan membina kesehatan masyarakat serta menyelenggarakan
pelayanan kesehatan terdepan dan terdekat dengan masyarakat dalam bentuk
kegiatan pokok yang menyeluruh dan terpadu di wilayah kerjanya.
2.

Puskesmas adalah unit organisasi fungsional yang secara profesional melakukan


upaya pelayanan kesehatan pokok yang menggunakan peran serta masyarakat
secara aktif untuk dapat memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu
kepada masyarakat di wilayah kerjanya.

Menurut DEPKES (1991) puskesmas adalah sebagai berikut :

Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang


merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat dan juga membina peran
serta masyarakat disamping memberikan pelayanan kepada masyarakat secara
menyeluruh dan terpadu di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.

2.3.

Fungsi Puskesmas
Ada 3 fungsi pokok puskesmas, yaitu :

1.
2.

Sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.


Membina

peran

serta

masyarakat

di

wilayah

kerjanya

dalam

rangka

meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat.


3.

memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada


masyarakat di wilayah kerjanya.

2.4.

Kegiatan Pokok Puskesmas


Kegiatan-kegiatan pokok puskesmas yang diselenggarakan oleh puskesmas

sejak berdirinya semakin berkembang mulai 7, 12, 13 dan sekarang meningkat


menjadi 20 usaha pokok kesehatan, yaitu :
1.

Upaya kesehatan ibu dan anak

2.

Upaya KB

3.

Upaya peningkatan gizi

4.

Upaya kesehatan lingkungan

5.

Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular

6.

Upaya pengobatan termasuk pelayanan darurat karena kecelakaan

7.

Upaya penyuluhan kesehatan

8.

Upaya kesehatan sekolah

9.

Upaya kesehatan olah raga

10.

Upaya perawatan kesehatan masyarakat

11.

Upaya kesehatan kerja

12.

Upaya kesehatan gigi dan mulut

13.

Upaya kesehatan jiwa

14.

Upaya kesehatan mata

15.

Upaya kesehatan laboratorium sederhana

16.

Upaya pencatatan dan pelaporan dalam rangka sistem informasi kesehatan

17.

Upaya kesehatan usia lanjut

18.

Upaya pembinaan pengobatan tradisional

19.

Upaya kesehatan remaja

20.

Dana sehat

BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN POKOK
PUSKESMAS PADASUKA

3.1.

Struktur

Organisasi

Padasuka
KEPALA PUSKESMAS
Drg. Yuliani
NIP. 140 149 134

TATA USAHA

Puskesmas

BEND. UUDP

BEND. PENERIMA

LOGISTIK
EUIS T.
ENNY

EUIS

UNIT I
III

UNIT IV

UNIT V
KIA : Hj. IIN

BASMALEM

PHN

: SRI

PKM : EEN R.

UNIT II

UNIT

UNIT VI
P2M
BP : Dr. POPPY

UNIT VII
: SRI

KESGI

FARMASI : RUSDI

KB
: Hj. ELA
BP : TETY
GIZI : KASMILAH

KESLING : TETY

LAB.

: ENNY

NAKER : RUSDI

USILA

: EEN R.

UKS

JIWA
KES. MATA :

3.2.

Susunan Organisasi Pelaksana Praktek Lapangan

KEPALA PUSKESMAS
BAMBANG SUPRIANTO

WAKIL KETUA

DEWI EKA P.

: TETY

SEKRETARIS I

BENDAHARA I
TRI W.

SEKRETARIS I

REIVIE

BENDAHARA I
FITRI

WIDANINGSIH

SEKSI PERALATAN

SEKSI HUMAS

SEKSI DEKORASI
ERNA

AJAT S.

MAMAT
SUTANTO
DEDEN N.
SUHARTOMMY

SELLY D.

3.3.

Kegiatan Mahasiswa di Puskesmas

Hari Senin, 20 Mei 2002


1.

Jam 09.00 wib :


- Orientasi lapangan
- Pengarahan dari pembimbing lapangan (Ibu Tety)
- Membentu kegiatan puskesmas

Hari Selasa, 21 Mei 2002


1.

Jam 07.30 11.00 wib :


- Memulai melaksanakan tugas sesuai dengan rencana dan

pembagiannya
a.

Ruang pendaftaran
Nama mahasiswa : - Suhartommy
- Fitri m.
Kegiatan

: - Mencatat resep obat yang telah diberikan kepada

pasien ke dalam buku resep obat


- Mendata kunjungan pasien ke Puskesmas Padasuka dan
tercatat 42 orang dengan berbagai kunjungan antara lain umum 20 orang, KS 6
orang dan Askes 16 orang.
Pembimbing ruangan : Ibu Enny

b.

Ruang BP (Balai Pengobatan)

Nama mahasiswa : - Sutanto


- Reivleyanti
- Selidarwati
Kegiatan

: - Mengobservasi TTV
- Anamnesa
- Memberi resep kepada pasien

Alat-alat yang digunakan :

1. Tensimeter
2. Stetoskop
3. Kertas (kecil)
4. Bulpen
5. Timbangan BB

Jumlah pasien : 25 orang ( dewasa 15 orang dan anak-anak 10 orang)


Penyakit yang sering : TB paru + Hipertensi + Flu + Batuk
Pembimbing ruangan : Ibu Eeen dan Ibu Tety

c.

Ruang gigi
Nama mahasiswa : - Widaningsih
- Dede Nuryadi
Kegiatan

: - Memanggil pasien
- Melihat prasat dari pembimbing

- Membantu mengganti air kumur dan mencuci alat-alat


yang telah digunakan
Jumlah pasien : 9 orang
Pembimbing ruangan : Ibu Basmalem

d.

Ruang KIA (KB dan posyandu)


Nama mahasiswa : - Mamat Rahmat
- Erna Susi
Kegiatan

: - Memanggil pasien
- Melihat prasat dari pembimbing

Jumlah pasien : 2 orang (suntik KB)


Pembimbing ruangan : Bidan Hj. Iin H. dan Bidan Hj. Elas

e.

Ruang obat
Nama mahasiswa : - Dewi Eka
- Ajat Sudrajat
- Tri Windarti

Kegiatan

: - Memberi obat sesuai dengan resep yang diberikan

kepada setiap pasien yang mendapat resep


Obat yang tersedia :

- Paracetamol, Antalgin, Vit B1, B6, B Complek


- Vitamin C
- Sodium Bicarbonat
- Antasida
- Dexametason
- CTM
- Chlorampenicol, dll.

Alat-alat yang digunakan :

1. Obat
2. Plastik
3. Gerusan
4. Kertas (pembungkus obat)
5. Kertas (kecil)
6. Bulpen
7. Hecter

Pembimbing ruangan : Bapak Rusdi dan Ibu Ade


2.

Jam 11.00 11.30 wib :


- Melakukan kesehatan lingkungan seluruh ruangan di

puskesmas secara bersama-sama

22 Mei 2002
1.

Jam 07.30 11.30 wib :


- Berkunjung ke rumah Bapak UU (Ketua RW.18), bersama

dengan pembimbing puskesmas (Ibu Tety)


- Meninjau derah-daerah disekitar RW.18 mulai dari RT.01
s.d. RT.09

, 23 Mei 2002
1.

Jam 07.30 11.30 wib :


- Melakukan

pengumpulan

data

ke

tiap-tiap

rumah

pengumpulan

data

ke

tiap-tiap

rumah

penduduk, dimulai dari RT.09.

t, 24 Mei 2002
1.

Jam 08.30 18.00 wib :


- Melakukan

penduduk, dilanjutkan ke RT.08.

2.

Jam 14.00 18.00 wib :


- Melanjutkan pendataan ke RT.07 dan RT.08 yang terlewat.

, 25 Mei 2002
1.

Jam 08.00 12.00 wib :

- Melakukan pengumpulan data ke RT.06 dan dilanjutkan


ke RT.05.

3.4.

Kegaiatan Pokok Puskesmas Padasuka


Dalam program kesehatan nasional, usaha pokok kesehatan masyarakat

meliputi 20 usaha. Dewasa ini usaha pokok kesehatan yang dilaksanakan di


puskesmas meliputi :
1.

KIA dan KB
Penanggungjawab

: Bd. Hj. Iin

Dibantu oleh petugas medis

: Bd. Hj. Elas

Pelaksanaan usaha kegiatan pokok ini dilaksanakan pada hari :


Senin
Kegiatan :

: Imunisasi Bayi
-

Pemberian imunisasi BCG, DPT, Polio, Hepatitis,

Campak
- Mengisi KMS
- Menimbang berat badan bayi
Rabu

: Pelayanan KB

Kamis

: Periksa hamil
Kegiatan :
-

- Mengukur TTV dan atropometri


Melaksanakan pemeriksaan leopad

memberikan imunisasi TT pada ibu hamil yang

belum mendapatkannya
2.

Upaya Pengobatan
Penanggungjawab : Dr. Poppy
Pelaksanaan kegiatan pokok dilaksanakan oleh Ibu Tety dan Ibu Sri yang
dilaksanakan setiap hari dengan kegiatan :
a.

Menerima pasien yang mempunyai keluhan/penyakit

b.

Mengukur tanda-tanda vital

c.

Anamnesa dan pemeriksaan

d.

Pemberian resep
3.

Usaha Kesehatan Gigi dan Mulut

Penanggungjawab : Dr. Tety


Pelaksanaannya dilaksanakan setiap hari dibantu oleh petugas medis Ibu
Basmalem, meliputi :
a.

Pengobatan abses gigi

b.

Pencabutan gigi pada anak dan dewasa

c.

Penambalan gigi

d.

Pembuangan karang gigi

e.

Konsultasi
4.

Kegiatan Pokok

Penanggungjawab : Bapak Rusdi

Pelaksanaannya dilaksanakan oleh Ibu Ade, kegiatan dilaksanakan setiap hari,


meliputi :

a.

Penerimaan resep obat

b.

Meracik obat

c.

Memberikan obat ke pasien serta memberikan informasi tentang fungsi dan


cara kerja obat serta cara aturan pakai
5.

Upaya Kesehatan Lingkungan

Penanggungjawab : Ibu Tety


Kegiatan meliputi :
a.
Keluarga sehat yaitu lingkungan sehat, prilaku sehat, pelayanan
kesehatan yang baik, keturunan
b.
6.

Lingkungan yang tidak sehat mengakibatkan terjadinya penyakit


Upaya Perbaikan Gizi

Penanggungjawab : Ibu Kasmilah


Kegiatannya meliputi :
a.

Mengenali penderita kekurangan gizi dan mengobatinya

b.
Memberikan PMT yang mengandung protein dan kalori yang cukup pada
anak balita dan ibu menyusui
c.

Memberikan Vitamin A pada anak balita


7.

Upaya Kesehatan Sekolah


Penanggungjawab : Dr. Tety
Kegiatannya meliputi :

a.

Membina sarana keteladanan sekolah

b.

Membina kebersihan perseorangan peserta didik

c.

Menjaring kesehatan peserta didik kelas 1

d.

Pemeriksaan kesehatan setahun sekali untuk kelas 2 dan 6

e.

Imunisasi peserta didik kelas 1 dan 6

f.

Pengawasan terhadap keadaan air

g.

Pengobatan ringan dan pertolongan pertama

h.

Rujukan medis

i.

Penanganan kasus anemia gizi

j.

Pembinaan teknis dan pengawasan sekolah

k.

Pencatatan dan pelaporan


8.

Laboratorium Kesehatan
Penanggungjawab : Ibu Enny

1.

Di ruang laboratorium

a.

Penerimaan pasien

b.

Pengambilan spesiemen

c.

Penanganan spesiemen

d.

Pelaksanaan pemeriksaan

e.

Penanganan sisa spesiemen

f.

Pencatatan hasil pemeriksaan

g.

Pengecekan hasil pemeriksaan

h.

Penyampaian hasil pemeriksaan

2.

Di ruang klinik dilakukan oleh perawat atau bidan, meliputi :

a.

Persiapan pasien

b.

Pengambilan spesiemen

c.

Menyerahkan spesiemen untuk diperiksa

9.

Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular


Penanggungjawab : Ibu Sri

a.

Mengumpulkan dan menganalisa data penyakit

b.

Melaporkan kasus penyakit menular

c.

Menyelidiki di lapangan kebenaran tentang laporan kasus yang masuk

d.

Tindakan permulaan untuk menahan penularan penyakit

e.

Menyembuhkan penderita hingga ia tidak lagi menjadi sumber infeksi

f.

Pemberian imunisasi

g.

Pemberantasan vektor

h.

Pendidikan kesehatan kepada masyarakat


10.
a.

Upaya Kesehatan Mata


Pencegahan kesehatan dasar yang terpadu dengan kegiatan pokoknya

b.
Upaya kesehatan mata : anamnesa, pemeriksaan virus dan mata luar,
pengobatan dan pemberian kacamata
11.
a.

Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat


Asuhan keperawatan kepada individu di puskesmas maupun di rumah

b.
Asuhan keperawatan yang diarahkan kepada keluarga sebagai unit
terkecil dari masyarakat
c.

Pelayanan keperawatan masyarakat

d.
Pelayanan keperawatan kepada kelompok khusus, diantaranya : Ibu
hamil, bateki, balita, usila, dll.
12.

Upaya Peningkatan Kesehatan Kerja

a.

Identifikasi masalah, meliputi :

1)

Pemeriksaan kesehatan awal dan berkala

2)

Pemeriksaan kasus terhadap pekerja yang berobat ke puskesmas

3)

Peninjauan tempat kerja untuk menentukan bahaya akibat kerja

b.

Kegiatan peningkatan kesehatan tenaga kerja malalui peningkatan gizi,


lingkungan dan kesejahteraan

c.

Pencegahan kecelakaan akibat kerja

d.

Pengobatan kasus penyakit akibat kerja

e.

Pemulihan kesehatan bagi pekerja yang sakit

f.

Rujukan medik dan kesehatan terhadap pekerja yang sakit


13.

Upaya Kesehatan Olah Raga

a.

Pemeriksaan kesehatan berkala

b.

Penentuan tekanan latihan

c.

Pengobatan dengan latihan dan rehabilitasi

d.

Pelatihan dan pelaksanaan senam aerobik olah kader masyarakat


14.

Upaya Penyuluhan Kesehatan Masyarakat

a.
Penyuluhan kesehatan masyarakat maerupakan bagian yang tak
terpisahkan dari tiap program puskesmas
b.

Di tingkat puskesmas tidak ada petugas penyuluhan tersendiri


15.

Upaya Pembinaan Peran Serta Masyarakat

a.
Penggalangan dukungan penentu kesehatan, pimpinan wilayah, lintas
sektoral dan berbagai organisasi kesehatan
b.

Persiapan petugas kesehatan melalui latihan, orientasi atau sarahsehan

c.

Pelaksanaan kesehatan oleh dan untuk masyarakat melalui kader yang telah
dilatih

d.

Persiapan masyarakat

e.

Pengembangan dan pelestarian kegiatan oleh masyarakat


16.

Upaya Pencatatan dan Pelaporan

a.

Dilakukan oleh semua puskesmas

b.

Pencatatn dan pelaporan meliputi :

1)

Data umum dan demografi wilayah kerja puskesmas

2)

Data ketenagaan di puskesmas

3)

Data sarana yang dimiliki puskesmas

4)

Data kegiatan puskesmas yang dilakukan baik di dalam dan di luar gedung
puskesmas

17.

Dana Sehat

BAB IV
PENGOLAHAN DATA
DATA WILAYAH RW XVIII KAMPUNG CISANGKAN HILIR
KELURAHAN PADASUKA KECAMATAN CIMAHI TENGAH

4.1.

Data Demograf

A.

Luas wilayah
Luas wilayah RW XVIII Kp. Cisangkan Hilir Kel. Padasuka adalah + 30.000

km2, yang terdiri dari :


: + 23.000 km2

Pemukiman

Sawah

Jalan/gang

: + 2.500 km2

Selokan

: + 1.500 km2

Tanah kosong

B.

Batas wilayah

: + 2.000 km2

: + 1.000 km2

Batas wilayah RW XVIII Kp. Cisangkan Hilir Kel. Padasuka adalah :


-

Sebelah Utara

: RW XVII

Sebelah Selatan

Sebelah Timur

: Kelurahan Setimanah

Sebelah Barat

: RW IV

C.

Keadaan tanah

: RW VIII dan RW XIX

Keadaan tanah di wilayah RW XVIII Kp. Cisangkan Hilir Kel. Padasuka


adalah subur
4.2.

Data Demograf

A.

Jumlah penduduk
1.

Jumlah KK

: 418 KK

2.

Jumlah penduduk

: 1.764 orang

3.

Laki-laki

: 905 orang

4.

Perempuan

: 859 orang

B.

Distribusi penduduk menurut usia :

C.

Distribusi pekerjaan kepala keluarga

Grafik Pekerjaan Kepala Keluarga


D.

Distribusi pendidikan kepala keluarga

Grafik Pendidikan Kepala Keluarga

Analisa Data
Melihat data di atas, dapat dianalisa bahwa kelompok usia di RW XVIII
yang menonjol 49,7% adalah umur antar 15 45 tahun. Ini menunjukkan bahwa
kelompok usia yang terbesar di RW XVIII adalah usia prodiktif.
Dari data KK dapat dianalisa pendidikan KK 43,3% SD dan 26,3% SMA.
Dengan pekerjaan KK yang terbanyak adalah wiraswasta/dagang, namun
demikian masih ada yang tidak bekerja sebanyak 1,2%.

A.

GIZI
TABEL A.1
FREKUENSI MAKAN

TABEL A.2
FREKUENSI KONSUMSI PROTEIN HEWANI

TABEL A.3
FREKUENSI KONSUMSI SAYURAN

TABEL A.4
FREKUENSI KONSUMSI BUAH-BUAHAN

TABEL A.5
JENIS PROTEIN HEWANI YANG DIMAKAN

TABEL A.6
MAKANAN TAMBAHAN

TABEL A.7
PANTANGAN MAKANAN DALAM KELUARGA

TABEL A.8
KEBIASAAN MENGOLAH MAKANAN

Analisa Data
Dari data gizi di atas dapat dianalisa bahwa masyarakat RW XVIII sudah
mengerti tentang pentingnya konsumsi makanan yang mengandung protein,
saturan dan buah-buahan. Begitu juga dengan pemberian makanan tambahan,
namun masih ada sebanyak 29,4% yang tidak pernah memberikan makanan
tambahan.
pemenuhan

Sebaiknya
gizi.

makanan

Untuk

tambahan

kebiasaan

diberikan

mengolah

makanan

untuk

melengkapi

sebanyak

44,3%

dilaksanakan dengan cara diiris, dicuci dan dimasak dan 2,6% langsung dimasak.
Supaya nilai gizi yang terkandung dalam makanan tidak rusak dan berkurang
sebaiknya kebiasaan mengolah makanan adalah dicuci, diiris dan dimasak.

B.

KEBERSIHAN DIRI KELUARGA

TABEL B.1
POLA MANDI

TABEL B.2
CUCI TANGAN SEBELUM MAKAN

TABEL B.3
KEBERSIHAN KUKU

TABEL B.4
PENGGUNAAN ALAS KAKI

Analisa Data
Dalam hal kebersihan diri, keluarga dari masyarakat RW XVIII sudah baik.

C.

REPRODUKSI
TABEL C.1
JUMLAH IBU HAMIL

TABEL C.2
PEMERIKSAAN KEHAMILAN

TABEL C.3
TEMPAT PEMERIKSAAN KEHAMILAN

TABEL C.4
FREKUENSI PEMERIKSAAN KEHAMILAN

TABEL C.5
KESULITAN DALAM KEHAMILAN

TABEL C.6
SELERA MAKAN HAMIL

TABEL C.7
KELUHAN SAAT KEHAMILAN

TABEL C.8
IMUNISASI IBU HAMIL

Analisa Data
Jumlah ibu hamil di RW XVIII adalah 13 orang. Seluruh ibu hamil
memeriksakannya di bidan. Sebanyak 3 orang ibu hamil memeriksakan
kehamilannya tidak teratur, hal ini dapat mengakibatkan tidak terpantaunya
kesehatan ibu dan janin oleh karena itu setiap ibu hamil harus memeriksakan
secara teratur.
Untuk imunisasi ibu hamil masih ada 2 orang yang baru 1 kali
mendapatkan imunisasi yang seharusnya ibu tersebut harus mendapatkan 2

imunisasi. Imunisasi bagi ibu hamil sangat penting untuk mencegah timbulnya
penyakit tetanus pada bayi yang akan dilahirkan.

2.

Ibu Bersalin

TABEL C.9
TEMPAT PERTOLONGAN BERSALIN
(1 TAHUN TERAKHIR)

TABEL C.10
KESULITAN WAKTU BERSALIN
(1 TAHUN TERAKHIR)

Analisa Data
Jumlah ibu bersalin 1 tahun terakhir ini ada 27 orang dengan pengawasan
oleh bidan sebanyak 22 orang (81,5%)

3.

Ibu Nifas

TABEL C.11
PENGAWASAN NIFAS
(1 TAHUN TERAKHIR)

Analisa Data
Sebanyak 4 orang ibu nifas dilakukan oleh dukun/paraji, agar pengawasan
baik dukun/paraji yang dapat mengawasi adalah dukun terlatih.

4.

KB
TABEL C.12
JUMLAH PUS

TABEL C.13
PROGRAM KELUARGA BERENCANA

TABEL C.14
AKASAN TIDAK KB

TABEL C.15

ALAT KONTRASEPSI

TABEL C.16
PELAYANAN KB

Analisa Data
Jumlah PUS di RW XVIII adalah 311 PUS yang tidak mengikuti KB sebanyak
67 PUS. 18 PUS tidak mengikuti KB dengan alasan ragu-ragu dengan demikian
bagi PUS yang masih ragu-ragu perlu mendapatkan penyuluhan mengenai KB
agar mantap dalam menggunakan salah satu alat kontrasepsi.
Alat kontrasepsi yang digunakan seluruhnya adalah metode kontrasepsi
efektif terpilih yaitu IUD, pil, suntik, MOW/MOP. Pelayanan KB sebanyak 84,4%
dilakukan di bidan, hal ini menunjukkan bahwa PUS yang menggunakan alat
kontrasepsi sudah mengerti bahwa KB suatu kebutuhan.

D.

Perawatan Bayi dan Balita

1.

Bayi
TABEL D.1
JUMLAH BAYI

TABEL D.2
IMUNISASI BAYI

TABEL D.3
TEMPAT PEMERIKSAAN BAYI

TABEL D.4
WAKTU PEMERIKSAAN BAYI

TABEL D.5
MINUM/MAKANAN BAYI
(0-1 TAHUN)

Analisa Data
Jumlah bayi di RW XVIII adalah 30 orang dengan rincian imunisasi terlihat
dalam tabel D.2. Mengenai pemeriksaan bayi masyarakat RW XVIII 76,7%
memeriksakan bayinya ke bidan dan 20,1% memeriksakan bayinya ke posyandu.
Dengan demikian masyarakat RW XVIII belum dapat memanfaatkan posyandu
semaksimal mungkin.

2.

Balita

TABEL D.6
JUMLAH BALITA

TABEL D.7
IMUNISASI BALITA

TABEL D.8
TEMPAT PEMERIKSAAN BALITA

TABEL D.9
WAKTU PEMERIKSAAN BALITA

TABEL D.10
PEMBERIAN MINUM SUSU

TABEL D.11
UMUR WAKTU DISAPIH

TABEL D.12
PANTANGAN MAKAN ANAK

Analisa Data
Jumlah balita di RW XVIII adalah 154 orang, sebanyak 73 orang balita
(47,4%) balita diperiksa bila sakit saja. Sebaiknya balita meskipun tidak sakit
perlu

mendapat

pemeriksaan

untuk

memantau

pertumbuhan

dan

perkembangan ini perlu dengan cara membawa balita ke posyandu. Umur waktu
disapih sebanyak 77 balita (50%) 2 3 tahun, umur yang baik untuk disapih
adalah 2 tahun.

E.

POLA PERAWATAN KELUARGA

TABEL E.1
PERTOLONGAN BILA ANGGOTA KELUARGA SAKIT

TABEL E.2
YANG MERAWAT DI RUMAH

TABEL E.3

PENYAKIT YANG SERING DIDERITA

Analisa Data
Dari data di atas, di RW XVIII penyakit yang diderita oleh masyarakat
adalah ISPA sebanyak 31 orang (51,7%), hal ini dapat disebabkan oleh
lingkungan kurang bersih dan keadaan rumah yang tidak memenuhi syarat yaitu
kurang ventilasi.

F.

KESEHATAN LANSIA

TABEL F.1
ANGGOTA KELUARGA LANSIA

Analisa Data
Jumlah lansia sebanyak 76 orang di RW.XVIII, di lingkungan masyarakat
belum

terbentuk

posyandu,

diharapkan

agar

posyandu

terbentuk

memantau kesehatan lansia.


G.

DATA PSIKOSOSIAL

TABEL G.1
ORANG YANG PENTING DALAM KELUARGA

untuk

TABEL G.2
YANG SERING BERTINDAK BILA ADA YANG SAKIT

TABEL G.3
POLA REKREASI

TABEL G.4
PENDIDIKAN KESEHATAN

TABEL G.5
TEMPAT MENDENGARKAN PENYULUHAN

TABEL G.6
ORANG YANG PENTING DALAM KELUARGA

Analisa Data
Warga RW XVIIIsebanyak 116 keluarga mendapat pendidikan kesehatan
dari petugas kesehatan serta 132 keluarga menerima terhadap penyuluhan
kesehatan dengan demikian warga RW XVIII sudah mengerti tentang penyuluhan
kesehatan.

H.

KESEHATAN LINGKUNGAN

TABEL H.1
PEMBAGIAN RUANGAN

TABEL H.2
RUMAH YANG DITEMPATI

TABEL H.3
LANTAI RUMAH

TABEL H.4
VENTILASI RUMAH

TABEL H.5
PENERANGAN WAKTU SIANG

TABEL H.6
PEMBUANGAN SAMPAH

TABEL H.7
BINATANG PELIHARAAN DI RUMAH

TABEL H.8
PENEMPATAN KANDANG TERNAK

TABEL H.9
PEMBUANGAN KOTORAN

TABEL H.10
SUMBER AIR MINUM

TABEL H.11
JARAK SUMBER AIR MINUM DENGAN PEMBUANGAN KOTORAN

TABEL H.12
PEMBUANGAN AIR LIMBAH

Analisa Data
Sebanyak 49 rumah tidak ada pembagian ruangan (bersatu) dan rumah
yang ditempati sebanyak 82 rumah adalah kontrakan. Masih ada sebanyak 4
rumah berlantaikan tanah dengan ventilasi yang kurang sebanyak 63 rumah dan
tidak ada ventilasi sebanyak 26 rumah. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi
terhadap kesehatan karena dengan lantai tanah dan ventilasi yang kurang dapat
menyebabkan gangguan pernafasan.
Penempatan kandang ternak sebanyak 17 rumah yang menempel di
rumah, hal ini dapat menyebabkan polusi karena bau yang tidak sedap dan juga
dapat mengganggu pernafasan.
Jarak sumber air dengan pembuangan kotoran sebanyak 139 (52,8%)
berjarak 10 M. Pembuangan air limbah disaranakan pembuangan terbuka
sebanyak 108 rumah. Hal ini

dapat menyebabkan tercemarnya sumber air

minum yang dapat mengakibatkan gangguan sistem pencernaan.

I.

DANA SEHAT

TABEL I.1
KELUARGA YANG MENJADI ANGGOTA DANA SEHAT

(JPKM, ASKES, JAMSOSTEK)

TABEL I.2
KELUARGA YANG MENDAPAT DANA BANTUAN KESEHATAN
(JPSBK)

Analisa Data
Warga RW XVIII sebanyak 304 KK tidak mempunyai dana sehat,
sedangkan

yang

mempunyai

JPSBK

sebanyak

14

KK.

Dengan

demikian

diharapkan agar setiap anggota keluarga memiliki dana sehat, sehingga dapat
membantu dalam pelayanan kesehatan.

J.

SUMBER INFORMASI KESEHATAN

TABEL J.1
SUMBER INFORMASI KESEHATAN KELUARGA

TABEL J.2
SUMBER INFORMASI YANG PALING COCOK UNTUK
MEMBERIKAN INFORMASI KESEHATAN

Analisa Data
Dari data di atas dapat dianalisa bahwa menurut masyarakat RW XVIII,
sumber informasi yang palin cocok untuk memberikan informasi kesehatan
adalah petugas kesehatan.

K.

PERTOLONGAN PERTAMA BILA ANGGOTA KELUARGA SAKIT

TABEL K.1
KELUARGA MENYEDIAKAN OBAT PANAS, DIARE DIRUMAH

TABEL K.2
KELUARGA MENGETAHUI TINDAKAN YANG PERLU DILAKUKAN BILA
ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI PANAS, DIARE, LUKA

Analisa Data
Sebanyak 292 keluarga selalu menyediakan contoh

obat panas/diare

dirumah untuk memberikan pertolongan pertama bila ada anggota keluarga


yang sakit. Sebanyak 63 KK tidak mengetahui tindakan yang perlu dilakukan bila
anggota keluarga mengalami panas, diare dan luka. Dengan demikian diperlukan
penyuluhan tentang pertolongan pertama bila ada anggota keluarga yang sakit.

BAB V
TANYA JAWAB LOKAKARYA MINI

5.1. Pertanyaan
1.

Bagaimana caranya jika jarak sumber air kurang dari 10 meter dengan
pembuangan kotoran ?
(Pertanyaan Bapak Jajang)

2.

Sebutkan macam-macam makanan tambahan ?


(Pertanyaan Ibu Enung)

5.2. Jawaban
1.

Dengan cara membuat sumur yang dasarnya ditembok dengan kedalaman +


10 meter dan pinggir dari sumur ditembok juga.

2.

Macam-macam makanan tambahan, yaitu :


- Bubur kacang hijau
- Bubur lemu
- Agar-agar
- Snack

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1.

Kesimpulan

Dengan

berakhirnya kegiatan di Puskesmas Padasuka dan masyarakat

RW.XVIII Kelurahan Padasuka, maka kelompok kami menarik kesimpulan sebagai


berikut :
1.

Rata-rata tingkat pendidikan masyarakat RW.XVIII Kelurahan Padasuka adalah


SD (Sekolah Dasar)

2.

Rata-rata pemeriksaan kehamilan masyarakat RW.XVIII Kelurahan Padasuka


adalah di bidan dengan kebanyakan menggunakan alat kontrasepsi suntik.

3.

Ventilasi udara masalah kesehatan lingkungan

a.

Ventilasi udara yang kurang tidak memenuhi syarat kesehatan.

b.

Kurangnya sarana MCK yang tidak memenuhi syarat kesehatan.

c.

Bentuk jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan.

d.

Jarak kandang yang tidak memenuhi syarat.

e.

Pembuangan air limbah yang belum sepenuhnya memenuhi syarat


kesehatan.

f.

Jarak sumber air dengan jamban yang kurang dari 10 meter dan belum
memenuhi syarat kesehatan.

6.2. Saran

Untuk pihak puskesmas agar dapat menindaklanjuti masalah kesehatan


lingkungan dan juga agar puskesmas dapat lebih meningkatkan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Effendi. Nasrul, 1998, Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat, Jakarta


, EGC.

2.

M.K. Khumaidi, Gizi Mayyarakat, PT. BPK, Gunung Mulia, Jakarta, 1994.

3.

Moehji. Sjalmen, Ilmu Gizi, Bhtatara Karya Aksara, Jakarta, 1987.

4.

World Health Organization (WHO), Kader Kesehatan Mayarakat, Alih Bahasa Dr.
Adi Heru S., Msc., EGC, 1987.

5.

FKPP SPK Se-Jawa Barat, Bandung.