Anda di halaman 1dari 6

BAB IV

PEMBAHASAN
4.1 Tujuan Percobaan
1. Mengetahui perubahan tekanan darah pada kelompok tikus hipertensi tanpa pemberian
obat X
2. Mengetahui perubahan tekanan darah pada kelompok tikus hipertensi setelah pemberian
obat X
4.2 Pembahasan Percobaan
Pengukuran tekanan darah dilakukan dengan memperhatikan tekanan sistolik dan
diastolik.

Sistolik merupakan angka yang menunjukkan tekanan saat jantung berdetak, yaitu saat
jantung memompa darah ke dalam pembuluh nadi (saat jantung mengkerut).

Diastolik merupakan angka yang menunjukkan tekanan saat jantung mengembang dan
menyedot darah kembali.
Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah meningkat

secara kronis. Hal ini ditunjukkan dengan ada nya peningkatan tekanan sistolik, tekanan
diastolik dan tekanan darah rata-rata. Curah jantung merupakan jumlah/volume darah yang
dipompa pada setiap denyut jantung. Beberapa zat, misalnya garam dapur (NaCl) dapat
mengikat air sehingga volume darah total meningkat. Sebagai efeknya, tekanan atas dinding
arteri meningkat dan jantung harus memompa lebih keras untuk menyalurkan volume-darah
yang bertambah, sehingga tekanan darah akan naik.
Mekanisme Terjadinya Hipertensi
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari
angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis
penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi
di hati. Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi
angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi
angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan
darah melalui dua aksi utama.
Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus.
ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur
osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang

diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya.
Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik
cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat, yang pada akhirnya akan
meningkatkan tekanan darah. Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks
adrenal.
Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal.
Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl
(garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan
diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada
gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
Kondisi tubuh dengan jumlah garam yang berlebih yang dapat disebabkan karena
asupan diet tinggi garam (NaCl) ataupun karena obat-obatan atau gangguan mekanisme
reabsorbsi Na pada sistem ginjal menjadi beberapa faktor penyebab terjadinya hipertensi.
Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya peningkatan cardiak output. Penumpukan garam
dalam tubuh akan meningkatkan volume cairan eksta sel secara tidak langsung karena karena
osmolaritas cairan tubuh akan meningkat dan merangsang pusat haus. Hal ini akan dapat
meningkatkan volume cairan ekstra seluler.
Kenaikan osmolaritas cairan ekstra seluler juga dapat merangsang mekanisme sekresi
kelenjar hipotalamus hipofisa posterior untuk mensekresi lebih banyak hormon antidiuretik.
Hormon ini dapat menyebabkan ginjal mengabsorpsi kembali air dalam jumlah besar dari
cairan tubulus ginjal. Tingginya asupan garam khususnya natrium, juga diperkirakan
berhubungan dengan peningkatan sirkulasi hormon natriuretik yang menghambat transport
natrium intraseluler sehingga dapat menyebabkan peningkatan reaktivitas vaskular dan
peningkatan tekanan darah. (Porth & Matfin, 2009; Guyton, 1997; Sasee & Carter, 2005).
Tekanan darah dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu curah jantung dan resistensi
perifer. Curah jantung merupakan hasil kali antara frekuensi jantung dengan isi sekuncup
jantung. Isi sekuncup jantung merupakan jumlah yang dipompa dari ventrikel kiri dalam
setiap kerja jantung. Dengan adanya peningkatan NaCl dalam darah dapat menarik cairan
lebih banyak, yang selanjutnya dapat menyebabkan kerja jantung semakin berat dan
menyebabkan efek hipertensi. (Priyanto & Batubara, 2010)
Pemilihan model hewan coba sangat penting dalan suatu pengujian aktivitas obat,
karena dapat membantu dalam memahami pathogenesis dan mempelajari pengobatan atau

pencegahan suatu penyakit. Termasuk dalam hal ini adalah pengembangan model hewan coba
untuk memperoleh informasi etiopatogenesis hipertensi. Penggunaan model hewan coba
disini juga dapat dimanfaatkan untuk skrining farmakologi dari obat potensial untuk
antihipertensi. Pada percobaan uji antihipertensi digunakan tikus putih (Rattus norvegicus)
sebagai hewan uji.
Percobaan ini dimulai dengan uji pendahuluan yang bertujuan untuk optimasi
konsentrasi NaCl yang menimbulkan hipertensi. Tikus uji diberi perlakuan dengan
menginduksi larutan NaCl menggunakan sonde oral dan hal ini dilakukan tiap hari selama 14
hari sehingga menyebabkan tikus menjadi hipertensi. Setelah itu tikus uji yang sudah
diinduksi NaCl tersebut dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok kontrol hipertensi dan
kelompok perlakuan hipertensi. Kelompok kontrol hipertensi diberi perlakuan tanpa
pemberian obat X dan kelompok perlakuan hipertensi diberi perlakuan dengan pemberian
obat X.
Setelah itu dilakukan pengukuran tekanan darah dengan alat pengukuran darah tidak
langsung (non-invasive blood pressure) CODA. Metode pengukuran tekanan darah non
invasif dilakukan dengan menggunakan manset ekor yang dipasang pada ekor tikus uji. Alat
pengukur tekanan darah non invasif CODA menggunakan prinsip pengukuran tipe volume
recording. Pada tipe ini dapat diperoleh hasil pengukuran enam parameter tekanan darah
secara simultan yakni tekanan darah sistol, diastol, tekanan darah rata-rata, kecepatan denyut
jantung, volume darah ekor dan aliran darah ekor.
Parameter tekanan darah yang nantinya akan dianalisis yakni tekanan darah sistol,
tekanan darah diastol, dan tekanan darah rata-rata. Hal yang harus diperhatikan dalam
pengukuran tekanan darah menggunakan alat ini adalah panjang manset yang sesuai yang
dapat mempengaruhi keakuratan pengukuran. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah suhu
tubuh tikus yang sangat menentukan konsistensi dan akurasi pengukuran tekanan darah, tikus
uji harus tenang selama pengukuran tekanan darah serta pengaturan suhu ruang yang tidak
kurang dari suhu 26C. Hasil pengukuran nantinya akan terbaca pada layar monitor.
Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perubahan tekanan darah
pada tikus uji yang diberi perlakuan tanpa dan setelah pemberian obat X. Tapi pada
kenyataannya, hasil praktikum yang diinginkan tidak tercapai. Hal ini disebabkan adanya
beberapa faktor yang mempengaruhi hasil praktikum tersebut antara lain:
1. Sesudah pemberian induksi larutan NaCl, tikus uji harus harus dibiarkan terlebih dahulu
sehingga NaCl dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah pada tikus (hipertensi).

2. Ada kendala dalam operasional alat yaitu sistem pada software tidak dapat mendeteksi
aliran darah pada tikus dan pada layar monitor selalu menunjukkan fail (Fail yang
artinya adanya kegagalan data dan data tidak bisa dibaca).
3. Seharusnya pengambilan data ideal untuk percobaan hipertensi pada pagi hari sampai
siang hari, sedangkan praktikum dilakukan pada sore hari. Hal ini dikarenakan tikus
merupakan hewan nokturnal, dimana pada siang hari tikus akan tidur dan aktif pada
malam hari
4. Kondisi tikus yang stress sangat mempengaruhi pembacaan grafik dari alat tersebut,
sehingga tikus perlu dilakukan penanganan terlebih dahulu. Dimana dengan lamanya
pemeriksaan dengan alat CODA membuat tikus menjadi bertambah stress ynag ditandai
dengan seringnya tikus mengeluarkan BAB dan BAK. Maka dilakukan penanganan
pada percobaan kemarin dengan cara memijat ekor tikus dengan air hangat mengunakan
tangan secara perlahan, sehingga tikus menjadi lebih rileks.
5. Setelah proses pemijatan, data pada software dapat dibaca (pada tikus kontrol), akan
tetapi pada tikus perlakuan, software pada komputer tidak bisa dibaca (fail tail) meskipun
sudah dilakukan pemijatan.
6. Kemungkinan yang bisa terjadi kenapa software bisa tidak terbaca adalah karena alat
yang tidak di dipergunakan cukup lama (sekitar 1 bulan) yang menyebabkan alat perlu di
kalibrasi ulang.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Pemberian induksi NaCl pada tikus uji secara teoritik dapat dilakukan untuk
menimbulkan terjadinya hipertensi.
2. Peningkatan konsentrasi intraselular natrium pada akhirnya akan meningkatkan tekanan
darah dimana konsentrasi yang tinggi dalam darah menyebabkan jumlah volume darah
meningkat sehingga kerja jantung bertambah berat, kompensasinya, jantung akan
berkontraksi lebih berat dan cepat. Hal ini menimbulkan terjadinya hipertensi.
3. Pada percobaan yang dilakukan pada kelompok tikus hipertensi yang diberikan
perlakuan tanpa dan setelah pemberian obat X, hasil percobaannya tidak sesuai
dengan teori. Pada teori tentang hipertensi dinyatakan bahwa adanya peningkatan
tekanan sistolik, tekanan diastolik dan tekanan darah rata-rata dapat disebabkan oleh
pemberian cairan NaCl secara oral pada tikus. Dan untuk mengetahui adanya
peningkatan tekanan sistolik, tekanan diastolik dan tekanan darah rata-rata maka
dilakukan pengukuran tekanan darah dengan alat pengukuran darah tidak langsung
(non-invasive blood pressure) CODA.
Hal ini disebabkan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi hasil praktikum tersebut
antara lain:
Sesudah pemberian induksi larutan NaCl, tikus uji harus harus dibiarkan terlebih
dahulu sehingga NaCl dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah pada tikus

(hipertensi).
Ada kendala dalam operasional alat yaitu sistem pada software tidak dapat mendeteksi
aliran darah pada tikus dan pada layar monitor selalu menunjukkan fail (Fail yang

artinya adanya kegagalan data dan data tidak bisa dibaca).


Seharusnya pengambilan data ideal untuk percobaan hipertensi pada pagi hari sampai
siang hari. Hal ini dikarenakan tikus merupakan hewan nokturnal, dimana pada siang

hari tikus akan tidur dan aktif pada malam hari


Kondisi tikus yang stress sangat mempengaruhi pembacaan grafik dari alat tersebut,
sehingga tikus perlu dilakukan penanganan terlebih dahulu. Penanganan yang
dilakukan pada percobaan kemarin dengan cara memijat ekor tikus dengan air hangat

mengunakan tangan secara perlahan, sehingga tikus menjadi lebih rileks.


Setelah proses pemijatan, data pada software dapat dibaca (pada tikus kontrol), akan
tetapi pada tikus perlakuan, software pada komputer tidak bisa dibaca (fail tail)

meskipun sudah dilakukan pemijatan.


Kemungkinan yang bisa terjadi kenapa software bisa tidak terbaca adalah karena alat
yang tidak di dipergunakan cukup lama (sekitar 1 bulan) yang menyebabkan alat perlu
dikalibrasi ulang.

Daftar pustaka
Guyton, A.C dan Hall, J. (1997). Buku ajar fisiologi Kedokteran (Setiawan I, Tengadi
K.A dan Santoso A. Penerjemah). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 277296
Saseen, J.J & Carter, B.L. (2005). Hypertension. Dalam Pharmacotherapy : A
Pathophysiologic Approach. Sixth edition. United States:McGraw-Hill, 185-217
Porth, C.M & Matfin, G. (2008). Pathophysiology: Concept of Altered Health States.
Eight edition. China: Lippincott. William&Wilkins, 505-529, 761-783
Priyanto & Batubara, L. (2010). Farmakologi Dasar untuk mahasisswa Farmasi dan
Keperawatan. Edisi II. Depok: Leskonfi