Anda di halaman 1dari 8

Aspek hukum

HUKUM PIDANA YANG BERKAITAN DENGAN PROFESI DOKTER


PBL 1: Kejahatan terhadap tubuh dan jiwa manusia
Pasal 89 KUHP
Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan
menggunakan kekerasan.
Pasal 90 KUHP
Luka berat berarti:
Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberikan harapan akan
sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut;
Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau
pekerjaan pencarian;
Kehilangan salah satu pancaindera;
Mendapat cacat berat;
Menderita sakit lumpuh;
Tertanggungnya daya piker selama empat minggu lebih;
Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.
Pasal 170
Barangsiapa terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan
kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana paling
lama lima tahun enam bulan.
Yang bersalah diancam:
Dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun, jika dengan sengaja
menghancurkan barang atau jika kekerasan yang digunakan
mengakibatkan luka-luka.
Dengan pidana penjara paling lama 9 tahun, kija kekerasan
mengakibatkan luka berat.
Dengan pidana penjara paling lama 12 tahun, jika kekerasan
mengakibatkan maut.
Pasal 89 tidak berlaku bagi pasal ini.
Pasal 338 KUHP
Barang sesiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam
karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas
tahun.
Pasal 339 KUHP
Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh sesuatu perbuatan
pidana, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau
mempermudah pelaksanaanya, atau untuk melepaskan diri sendiri
mahupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan,
ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara

melawan hokum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup ataau


selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.
Pasal 340 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu
merampas nwaya orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan
recana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup
atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh lima tahun.
Pasal 351 KUHP
Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun
delapan bulan atau pidana denda paling banyak 4500 rupiah.
Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam
dengan pidana penjara paling lama 5 tahun.
Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama
tujuh tahun.
Dengan penganiayaan disamakan dengan merusak kesehatan.
Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
HR 25 Juni 1894
Menganiaya adalah dengan sengaja menimbulkan sakit atau luka.
Kesengajaan ini harus dituduhkan dalam surat tuduhan.
HR 21 Oktober 1935
Kesengajaan harus ditujukan untuk menimbulkan luka pada badan atau
terhadap kesehatan. Dalam hal ini dalam surat tuduhan cukup dengan
menyatakan ada penganiayaan. Ini bukan saja merupakan suatu
kwalifikasi akan tetapi juga suatu pengertian yang nyata.
HR 8 April 1929
Adalah cukup terdapat satu hubungan sebab akibat antara penganiyaan
dan adanya luka-luka berat. Tidaklah menjadi persoalan bahawa dalam
keadaan normal akibatnya tindakan demikian.
Pasal 352 KUHP
Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang
tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan
jabatan atau pencarian, diancam, sebagai penganiyaan ringan, dengan
pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak
empat ribu lima ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang
yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya atau
menjadi bawahannya.
Percobaan melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
Pasal 353 KUHP
Penganiayaan dengan rencana terlebih dahulu, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat tahun.
Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan
pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Jika perbuatan mengakibatkan kematian, dia dikenakan pidana penjara
paling lama sembilan tahun.
Pasal 354 KUHP
Barang sesiapa dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam, kerana
melakukan penganiyaan berat, dengan pidana penjara paling lama
delapan tahun.

Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana


penjara paling lama sepuluh tahun.
Pasal 355 KUHP
Penganiayaan berat dilakukan dengan rencana terlebih dahulu, diancam
dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
Jika perbuatan mengakibatkan kematian, yang bersalah dikenakan pidana
paling lama lima belas tahun.
Pasal 356 KUHP
Pidana yang ditentukan dalam pasal 351,353,354 dan 355 dapat
ditambah dengan sepertiga:
1: bagi yang melakukan kejahatan itu terhadap ibunya, bapaknya,
menurut undang-undang, isterinya atau anak-anaknya;
2: jika kejahatan dilakukan terhadap seorang pejabat seketika atau kerena
menjalankan tugasnya yang sah;
3: jika kajahatan dilakukan dengan memberikan bahan yang berbahaya
bagi nyawa atau kesehatan untuk dimakan atau diminum.

PBL 2:
Dalam KUHP, pembunuhan anak sendiri tercantum di dalam bab
kejahatan terhadap nyawa orang.
Pasal 341
Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat
anak dilahirkan atau tidak lama kemudian , dengan sengaja merampas
nyawa anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri, dengan pidana
penjara paling lama 7 tahun.
Pasal 342
Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut
akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan
atau tidak lama kemudian merampas nyawa anak, diancan karena
melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana
penjara paling lama 9 tahun.
Pasal 343
Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang bagi
orang lain yang turut serta melakukan sebagai pembunuhan atau
pembunuhan dengan rencana.
Dari undang- undang ini, kita dapat melihat 3 faktor penting :
1. Ibu : Hanya ibu kandung yang dapat dihukum karena melakukan
pembunuhan anak sendiri tanpa mengira telah menikag atau tidak.

Sedangkan pada orang lain yang melakukan atau turut membunuh anak
tersebut dihukum karena pembunuhan atau pembunuhan berencana
dengan hukuman yang lebih berat yaitu penjara 15 tahun (ps.338:tanpa
rencana) atau 20 tahun, seumur hidup/hukuman mati (ps.339 dan 340:
dengan rencana)
2. Waktu : Dalam undang-undang tidak disebutkan batasan waktu yang
tepat hanya dinyatakan pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian.
Sehingga boleh dianggap saat belum timbul kasih saying seorang ibu dan
anaknya.
3. Psikis : Ibu membunuh anaknya karena dorongan rasa takot akan
diketahui orang telah melahirkan anak itu, biasanya, anak yang dibunuh
dari hubungan yang tidak sah atau karena kejahatan lelaki.
Bila ditemukan mayat bayi di tempat yang tidak semestinya, misalnya
tempat sampah, got, sungai dan sebagainya, maka bayi tersebut mungkin
korban pembunuhan anak sendiri (ps.341,342), pembunuhan (ps.338,
339, 340, 343), lahir mati kemudian dibuang (ps.181), atau bayi yang
diterlantarkan sampai mati (ps.308).
Pasal 181
Barang siapa mengubur, menyembunyikan, membawa lari atau
menghilangkan mayat dengan maksud menyembunyikan kematian atau
kelahirannya, diancam dengan pidana penjara selama 9 bulan atau pidana
denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Pasal 308
Jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran
anaknya, tidak lama sesudah melahirkan, menempatkan anaknya untuk
ditemukan atau meninggalkannya dengan maksud untuk melepaskan diri
dari padanya, maka maksimum pidana tersebut pasal 305 dan 306
dikurangi separuh.
Pasal 305
Barang siapa menempatkan anak yang umurnya belum tujuh tahun untuk
ditemukan atau meninggalkan anak itu dengan maksud untuk
melepaskan diri darinya, diancam dengan pidana dipenjara paling lama 5
tahun 6 bulan.
Pasal 306
(1) Jika salah satu perbuatan berdasarkan pasal 304 dan 305 itu
mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana
penjara paling lama 7 tahun 6 bulan.
(2) Jika mengakibatkan kematian, pidana penjara paling lama 9 tahun

VISUM ET REPERTUM

TUJUAN BELAJAR
Setelah mempelajari keterampilan medik tentang Visum et Repertum ini
mahasiswa diharapkan:
1. Memahami pengertian Visum et Repertum, bagian-bagian Visum et
Repertum, syarat-syarat dan tata cara pembuatan Visum et Repertum
baik pada korban hidup maupun meninggal.
2. Mampu membuat Visum et Repertum secara lege artis.

PENDAHULUAN
Pembuktian merupakan tahap paling menentukan dalam proses
persidangan pidana mengingat pada tahap pembuktian tersebut akan
ditentukan terbukti tidaknya seorang terdakwa melakukan perbuatan
pidana sebagaimana yang didakwakan penuntut umum.
Oleh karena pembuktian merupakan bagian dari proses peradilan pidana,
maka tata cara pembuktian tersebut terikat pada Hukum Acara Pidana
yang berlaku yaitu Undang-Undang nomor 8 tahun 1981.
Dalam pasal 183 Undang-Undang nomor 8 tahun 1981 dinyatakan:
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila

dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh


keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa
terdakwalah yang melakukannya.
Dari bunyi pasal 183 Undang-Undang nomor 8 tahun 1981 kiranya dapat
dipahami bahwa pemidanaan baru boleh dijatuhkan oleh hakim apabila:
1. Terdapat sedikitnya dua alat bukti yang sah
2. Dua alat bukti tersebut menimbulkan keyakinan hakim tentang telah
terjadinya perbuatan pidana
3. Dan perbuatan pidana tersebut dilakukan oleh terdakwa
Alat bukti yang sah menurut pasal 184 ayat 1, Undang-Undang nomor 8
tahun 1981 adalah:
1.
2.
3.
4.

Keterangan saksi
Keterangan ahli
Surat
Keterangan terdakwa

PENGERTIAN
Definisi Visum et Repertum
Visum et Repertum adalah keterangan yang dibuat dokter atas
permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis
terhadap manusia, hidup maupun mati, ataupun bagian/diduga bagian
tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah untuk
kepentingan peradilan.
Penegak hukum mengartikan Visum et Repertum sebagai laporan tertulis
yang dibuat dokter berdasarkan sumpah atas permintaan yang berwajib
untuk kepentingan peradilan tentang segala hal yang dilihat dan
ditemukan menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya.
Perbedaan Visum et Repertum dengan Catatan Medis
Catatan medis adalah catatan tentang seluruh hasil pemeriksaan medis
beserta tindakan pengobatan atau perawatan yang dilakukan oleh dokter.
Catatan medis disimpan oleh dokter atau institusi dan bersifat rahasia,
tidak boleh dibuka kecuali dengan izin dari pasien atau atas kesepakatan

sebelumnya misalnya untuk keperluan asuransi. Catatan medis ini


berkaitan dengan rahasia kedokteran dengan sanksi hukum seperti yang
terdapat dalam pasal 322 KUHP.
Sedangkan Visum et Repertum dibuat berdasarkan Undang-Undang yaitu
pasal 120, 179 dan 133 KUHAP dan dokter dilindungi dari ancaman
membuka rahasia jabatan meskipun Visum et Repertum dibuat dan
dibuka tanpa izin pasien, asalkan ada permintaan dari penyidik dan
digunakan untuk kepentingan peradilan.
Jenis Visum et Repertum
Ada beberapa jenis Visum et Repertum, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Visum
Visum
Visum
Visum

et
et
et
et

Repertum
Repertum
Repertum
Repertum

Perlukaan atau Keracunan


Kejahatan Susila
Jenazah
Psikiatrik

Tiga jenis visum yang pertama adalah Visum et Repertum mengenai


tubuh atau raga manusia yang berstatus sebagai korban, sedangkan jenis
keempat adalah mengenai mental atau jiwa tersangka atau terdakwa atau
saksi lain dari suatu tindak pidana. Visum et Repertum perlukaan,
kejahatan susila dan keracunan serta Visum et Repertum psikiatri adalah
visum untuk manusia yang masih hidup sedangkan Visum et Repertum
jenazah adalah untuk korban yang sudah meninggal. Keempat jenis visum
tersebut dapat dibuat oleh dokter yang mampu, namun sebaiknya untuk
Visum et Repertum psikiatri dibuat oleh dokter spesialis psikiatri yang
bekerja di rumah sakit jiwa atau rumah sakit umum.
Format Visum et Repertum
Meskipun tidak ada keseragaman format, namun pada umumnya Visum et
Repertum memuat hal-hal sebagai berikut:
Visum et Repertum terbagi dalam 5 bagian:
1. Pembukaan:
* Kata Pro Justisia artinya untuk peradilan
* Tidak dikenakan materai
* Kerahasiaan

2. Pendahuluan: berisi landasan operasional ialah obyektif administrasi:


* Identitas penyidik (peminta Visum et Repertum, minimal berpangkat
Pembantu Letnan Dua)
* Identitas korban yang diperiksa, kasus dan barang bukti
* Identitas TKP dan saat/sifat peristiwa
* Identitas pemeriksa (Tim Kedokteran Forensik)
* Identitas saat/waktu dan tempat pemeriksaan
3. Pelaporan/inti isi:
* Dasarnya obyektif medis (tanpa disertai pendapat pemeriksa)
* Semua pemeriksaan medis segala sesuatu/setiap bentuk kelainan yang
terlihat dan diketahui langsung ditulis apa adanya (A-Z)
4. Kesimpulan: landasannya subyektif medis (memuat pendapat
pemeriksa sesuai dengan pengetahuannya) dan hasil pemeriksaan medis
(poin 3)
* Ilmu kedokteran forensik
* Tanggung jawab medis
5. Penutup: landasannya Undang-Undang/Peraturan yaitu UU no. 8 tahun
1981 dan LN no. 350 tahun 1937 serta Sumpah Jabatan/Dokter yang berisi
kesungguhan dan kejujuran tentang apa yang diuraikan pemeriksa dalam
Visum et Repertum tersebut.
Dalam operasional penyidikan, dapat dilaporkan berbagai penemuan
dalam pemeriksaan barang bukti/kasus, diungkapkan dalam:
* Visum et Repertum sementara, atau
* Visum et Repertum sambungan/lanjutan, atau
* Surat keterangan medis