Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persoalan hukum

sangat

kompleks,

karena

itu

pendekatannya bisa dari multy disiplin ilmu baik sosiologi,


filsafat, sejarah, agama, psikologi, antropologi, politik dan lainlain. Ketika kita berbicara Hukum Agraria (hukum pertanahan) ini
tidak bisa dilepaskan dari aspek sejarah, filsafat. Ketika kita
berbicara hukum tentang Pemilihan Umum, pendekatan politik
sangat kental. Dalam perkembangan hukum Pemerintahan di
Daerah pendekatan politik sangat mempengaruhi demikian juga
ketika kita berbicara hukum Perbankan dan sebagainya.
Pendekatan hukum melalui multy disiplin tersebut telah
melahirkan berbagai disiplin hukum di samping Philosophy of
law dan science of law, juga seperti teori hukum ( legal
theory/theory of law), sejarah hukum (history of law), sosiologie
of law, Anthropology of law, Comparative of law , phychology of
law dan sekarang Politic of law.
Hukum merupakan entitas yang sangat kompleks, meliputi
kenyataan kemasyarakatan yang majemuk, mempunyai banyak
aspek, dimensi dan fase. Hukum terbentuk dalam proses
interaksi berbagai aspek kemasyarakatan (politik, ekonomi,
sosial, budaya, teknologi, keagamaan dan sebagainya).
Jika hukum hanya dipelajari sebagai pasal-pasal dan
dilepas dari kajian norma dan segi yang mempengaruhinya
dapat menyebabkan kita frustasi dan kecewa berkepanjangan.
Ketika kekuasaan mempengaruhi keputusan hukum (hakim),
ketika DPR (parlemen) mengotak-atik pasal-pasal RUU menurut
kepentingan partai mereka (bukan untuk rakyat) ketika itu

hukum sudah menghambakan dirinya untuk politik. Maka dalam


makalah ini akan dijelaskan beberapa pembahasan tentang
politik hukum nasional yang terdapat di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan politik hukum Nasional?
2. Apa saja yang menjadi sendi-sendi hukum Nasional?
3. Bagaimana kebijakan pembangunan hukum Nasional?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian politik hukum Nasional.
2. Mengetahui sendi-sendi hukum Nasional.
3. Mengetahui kebijakan pembangunan hukum Nasional.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Politik Hukum Nasional
Setiap masyarakat yang terartur memiliki tujuan yang
perlu untuk dicapai, dan politik merupakan bidang dalam
masyarakat yang berhubungan dengan tujuan masyarakat
tersebut.

Struktur

politik

menaruh

perhatian

pada

pengorganisasian kegiatan kolektif untuk mencapai tujuantujuan yang secara kolektif menonjol. Memiliki tujuan, didahului
oleh proses pemilihan tujuan diantara berbagai tujuan yang
mungkin. Dengan demikian, dalam politik juga merupakan
aktifitas yang memilih suatu tujuan sosial tertentu.
Dalam hukum, kita juga akan dihadapkan pada persoalan
yang serupa, yaitu dengan keharusan untuk menentukan suatu
pilihan mengenai tujuan maupun cara-cara yang hendak dipakai
untuk mencapai tujuan tersebut. Pada saat dibicarakan hukum
sebagai fenomena sosial, persoalan-persoalan tersebut juga
sedikit anyak telah disinggung. Hukum bukanlah suatu lembaga
yang sama sekali otonom, melainkan pada kedudukan yang kaitmengait

dengan

masyarakat.

sektor-sektor

lain

dalam

kehidupan

Salah satu segi dari keadaan yang demikian itu

adalah bahwa hukum harus senantiasa melakukan penyesuaian


terhadap tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh masyarakatnya.
Dengan demikian, hukum mempunyai dinamika. Politik hukum
merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya
dinamika yang demikian itu, karena ia diarahkan kepada iore
constituendo, hukum yang harus berlaku.1

1 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, cet. Ke-7 (Bandung, PT. Citra Aditya
Bakti, 2012), hal. 297-398

Istilah politik hukum merupakan suatu kombinasi antara


istilah politik dan hukum. Dimana dari kedua istilah tersebut
memiliki kajian tersendiri di dalam rumpun pengembangan
disiplin termasuk dalam kajian ilmu politik atau termasuk kajian
ilmu hukum. Para ahli hukum sepakat bahwa kajian yang
dikembangkan dalam disiplin ilmu hukum merupakan bagian
dari disiplin ilmu hukum khususnya hukum tata negara. Hal itu
sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Sri Soemantri M,
yang mengatakan bahwa politik hukum sebagai bagian dari
kajian hukum tata negara.
Secara konseptual, kinerja disiplin politik hukum tidak
berhenti pada tataran teoritis saja, tetapi sesuai dengan sifatnya
yang praktis fungsional, disiplin hukum ini dimanfaatkan untuk
membentuk peraturan perundang-undangan yang notabene
menjadi wewenang dari segi khusus disiplin ilmu hukum yang
dibentuknya. Bentuk khusus dalam kajian itu adalah hukum tata
negara. Ada beberapa pandangan yang telah diungkapkan oleh
para ahli hukum berkenaan dengan pengertian politik hukum
diantaranya, menurut Padmo Wahdjono mendefinisikan politik
hukum adalah sebagai kebijakan dasar yang menentukan arah,
bentuk, maupun isi dari hukum yang akan dibentuk.2
Politik

Hukum

diartikan

sebagai

kebijakan

dasar

penyelenggara negara dalam bidang hukum yang akan, sedang,


telah berlaku, yang bersumber dari nilai-nilai yang berlaku di
masyarakat untuk mencapai tujuan Negara yang dicita-citakan.
Adapun kata nasional sendiri diartikan sebagai wilayah
berlakunya politik hukum itu. Dalam hal ini yang dimaksud
2 Prof Dr. H. Faried Ali SH. Hukum Tata pemerintahan (Yogyakarta:
Academika, 2003), hlm. 73

adalah wilayah yang tercakup dalam kekuasaan Negara Republik


Indonesia. Dari pengertian tersebut, yang dimaksud dengan
politik hukum nasional adalah kebijakan dasar penyelenggara
(Republik Indonesia) dalam bidang hukum akan, sedang dan
berlaku di masyarakat untuk mencapai tujuan negara (Republik
Indonesia) yang dicita-citakan. Dari pengertian tersebut ada lima
agenda yang ditekankan dalam politik hukum nasional, yaitu:
1. Masalah kebijakan dasar yang meliputi konsep dan letak,
2. Penyelenggara negara pembentuk kebijakan dasar terssebut,
3. Materi hukum yang meliputi hukum akan, sedang dan telah
berlaku,
4. Proses pembentukan hukum,
5. Tujuan politik hukum nasional.3
B. Sendi-Sendi Hukum Nasional
Apa yang sudah dijelaskan diatas, berkenaan dengan
pengertian politik hukum di Indonesia menjadi modal dasar
untuk lebih lanjut memahami tentang materi sendi-sendi hukum
yang sudah menjadi kebijakan politik yang membentuk sistem
hukum. Dimana sistem hukum yang dimaksud satu kesatuan
komponen-komponen
hukum,

yang

yang

menjadi

masing-masing

sendi-sendi

komponen

didalam

tersebut

saling

berhubungan satu sama lain dengan begitu hukum merupakan


sebagai sebuah sistem, yang berarti didalamnya terdiri atas
komponen-komponen yang saling bekerja sedemikian rupa
sehingga

membentuk

suatu

pola

dengan

ciri

tersendiri.

Komponen-komponen yang dimaksud didalam sistem hukum


yang dikatakan sebagai sendi-sendi hukum nasional. Yang tidak

3 Imam Syaukani, Dasar-dasar Politik Hukum, (Jakarta: PT RajaGrafindo


Persada, 2006), hlm. 58

dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Adapun sendi-sendi


hukum nasional Indonesia, yakni:
a. Ide kedaulatan rakyat
Bahwa yang berdaulat di negara demokrasi adalah rakyat. Ini
menjadi gagasan pokok dari demokrasi yang tercermin pada
pasal 1 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi kedaulatan
ditangan rakyat dan dilakukan menurut ketentuan UUD.
b. Negara berdasarkan atas hukum
Negara demokrasi juga negara hukum. Negara hukum
Indonesia menganut hukum dalam arti meterial (luas) untuk
mencapai tujuan nasional. Ini tercermin pada pasal 1 ayat (3)
UUD 1945 yang berbunyi Negara Indonesia adalah Negara
Hukum .
c. Berbentuk Republik
Negara
dibentuk

untuk

memperjuangkan

realisasi

kepentingan umum (Republik). Negara Indonesia berbentuk


republik yang memperjuangkan kepentingan umum. Hal ini
tercermin pada pasal 4 ayat (1) UUD 1945.
d. Pemerintah berdasarkan konstitusi
Penyelengaraan pemerintahan menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan dan berlandaskan konstitusi atau UUD
yang demokratis. Ini tercermin pada pasal 4 ayat (1) UUD
1945.
e. Pemerintahan yang bertanggungjawab
Pemerintah selaku penyelenggara negara bertanggungjawab
atas segala tindakannya. Berdasarkan demokrasi pancasila,
pemerintah kebawah/bertanggungjawab kepada rakyat dan
keatas bertanggung jawab kepada tuhan yang maha Esa.
f. Sistem Perwakilan
Pada dasarnya, pemerintah menjalankan amanat rakyat untuk
menyelenggarakan pemerintahan.
g. Sistem Pemerintahan Presidensial
Presiden adalah penyelenggara negara tertinggi. Presiden
adalah kepala negara sekaligus keoala pemerintahan.

C. Kebijakan Pembangunan Hukum Nasional


Dalam kebijakan pembangunan hukum Nasiaonal, perlu
kiranya terlebih dahulu memperoleh pemahaman menyeluruh
tentang politik pembangunan hukum nasioanal, sebelumnya
perlu dibahas pula tentang strategi pembangunan hukum,
sehingga apa yang menjadi realitas atas pembangunan hukum
(politik hukum) nasional tidak hanya dilihat sebagai fenomena
ketatanegaraan dan dan model perpolikan yang dianut, tetapi
juga

harus

pembangunan

dicermati
lainnya.

pada

pola-pola

Diantaranya

pilihan

terdapat

dua

konsep
strategi

pembangunan hukum, diantaranya:


1. Strategi Pembangunan Hukum yang ortodoks;
Strategi Pembangunan Hukum yang ortodoks yaitu segala
usaha yang dilakukan oleh kelompok-kelompok sosial dalam
masyarakat yang berkenaan dengan bagaimana hukum itu
dibentuk, dikonseptualisasikan, diterapkan, dan dilembagakan
dalam suatu proses politik.
Strategi pembangunan hukum ortodoks memiliki ciri-ciri
adanya peran yang sangat dominan dari lembaga-lembaga
negara (pemerintah dan parlemen) dalam menentukan arah
pembangunan hukum dalam suatu negara. Dengan demikian,
maka baik tradisi hukum yang kontinental (civil law), maupun
tradisi hukum yang sosialis (socialist law) dapat dikatakan
sebagai penganut strategi pembangunan hukum yang ortodoks.
Karena dalam tradisi hukum tersebut peran lembaga-lembaga
negara sangat dominan dan monopolis dalam menentukan arah
pembangunan hukum.
2. Strategi Pembangunan Hukum yang responsive;
Strategi Pembangunan Hukum yang responsive yaitu
usaha pembangunan hukum yang peran besarnya dilakukan
oleh lembaga peradilan dan partisipasi luas oleh kelompok-

kelompok sosial dan individu-individu dalam masyarakat. Dalam


strategi pembangunan ini berarti bahwa peranan lembagalembaga

negara

(pemerintah

dan

parlement)

dalam

menentukan arah pembangunan hukum menjadi lebih relatif


karena adanya tekanan yang ditimbulkan oleh partisipasi yang
luas

dari masyarakat

memungkinkan

dan

lembaga

kedudukan yang relatif bebas

peradilan

menjadi

lebih

kreatif.

Keadaan demikian memungkinkan menghasilkan produk politik


yang lebih bersifat responsive terhadap tuntutan-tuntutan dari
berbagai kelompok sosial masyarakat. Dengan demikian, maka
tradisi hukum adat (common law) dapat dikatakan menganut
strategi pembangunan hukum responsive.
Dari pembagian model strategi pembangunan hukum
nasional tersebut, menurut M. Solly Lubis menegaskan terhadap
landasan sosial dan landasan konstitusional bagi strategi
pembangunan hukum nasional ialah Pancasila dan UUD 1945
yang sudah diamandemen oleh MPR. Dengan demikian, yang
menjadi fokus perhatian dalam penataan rambu-rambu strategi
bagi manajemen pembangunan hukum nasional, ialah sejauh
mana

kebijakan

politik

hukum

(legal

policy)

yang

akan

dikembangkan tetap konsisten dengan value system yang


terdapat dalam pancasilan dan UUD 1945, serta sejauh mana
tujuan-tujuan nasional dalam pembukaan UUD 1945 dapat
direalisasikan melalui penerapan hukum yang akan datang
sebagai model strategi pembangunan hukum yang dipilihnya.
Setelah adanya amandemen UUD 1945 yang didalamnya
memberikan

konstruksi

baru

pada

sistem

ketatanegaraan

indonesia, dan hal tersebut berimplikasi pada penyusunan


program

pembangunan

hukum,

dan

pembangunan

pada

umumnya, yang selama ini ditetapkan dalam GBHN (Garis-garis

Besar Haluan Negara) oleh MPR.4 GBHN adalah haluan negara


tentang

penyelenggaraan

negara

dalam

garis-garis

besar

sebagai pernyataan kehendak rakyat secara menyeluruh dan


terpadu. GBHN ditetapkan oleh MPR untuk jangka waktu 5
tahun. Dengan adanya Amandemen UUD 1945 dimana terjadi
perubahan peran MPR dan presiden, GBHN tidak berlaku lagi.
Sebagai gantinya, UU no. 25/2004 mengatur tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional, yang menyatakan bahwa
penjabaran dari tujuan dibentuknya Republik Indonesia seperti
dimuat dalam Pembukaan UUD 1945, dituangkan dalam bentuk
RPJP (Rencana Pembangunan Jangka Panjang). Skala waktu RPJP
adalah 20 tahun, yang kemudian dijabarkan dalam RPJM
(Rencana Pembangunan Jangka Menengah), yaitu perencanaan
dengan skala waktu 5 tahun, yang memuat visi, misi dan
program

pembangunan

dari

presiden

terpilih,

dengan

berpedoman pada RPJP. Di tingkat daerah, Pemda harus


menyusun sendiri RPJP dan RPJM Daerah, dengan merujuk
kepada RPJP Nasional.5
Dalam ketentuan yang baru berdasarkan amandemen
UUD 1945, MPR masih berwenang mengubah dan menetapkan
UUD 1945, namun ia tidak berwenang dalam menetapkan GBHN
serta memilih dan menetapkan presiden dan wakil presiden,
karena pemilihan presiden dan wakil presiden dilakukan secara
langsung oleh rakyat.
Berdasarkan perubahan UUD 1945, maka implikasi bagi
pembangunan nasional tertuang dalam UU. No. 25 Tahun 2004
4 Mokhammad Najih, Pengantar Hukum Indonesia, cet.3 (Malang: Setara
Press, 2013),hal. 83-85
5 Laboratorium Pancasila IKIP Malang, Pendidikan Pancasila di Perguruan
Tinggi, (Malang: Laboratorium Pancasila IKIP Malang, 1989), hal. 157

tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Propenas)


yang

dihasilkan

perumusan

oleh

garis

DPR

besar

bersama

rencana

pemerintah

pembangunan

tentang
nasional,

diantaranya adalah:6
a. Rencana untuk jangka waktu 20 tahun, atau jangka waktu
panjang.
b. Rencana pembangunan 5 tahun, atau jangka menengah.
c. Rencana pembangunan tahunan.
Menyikapi
atas
rencana
pembangunan
nasional,
khususnya

dalam

bidang

hukum,

minimal

ada

tiga

permasalahan yang perlu dirumuskan sebagai hasil penelitian


Komisi Hukum Nasional (KHN) tentang Implikasi Amandemen
Konstitusi terhadap Perencanaan Pembangunan Hukum, yaitu:
1. Pihak atau lembaga manakah yang memberikan konstribusi
bagi perencanaan pembangunan hukum nasional pasca
amandemen

UUD

1945

(Presiden

terpilih

dan

partai

pendukungnya atau birokrasi pemerintahan yang selama ini


mendominasi program pembangunan hukum).
2. Jika terdapat banyak pihak yang berkonstribusi, apakah
dilakukan
tersebut?,

antar rencana
paradigma

program pembangunan hukum

atau

grand

design

apakah

yang

menghubungkan antar rencana tersebut, sehingga terbangun


suatu rancangan pembangunan hukum yang koheran?
3. Apakah paradigma tersebut mengakomodasi perkembangan
tuntutan reformasi ataukah masih digunakan paradigma
lama?
Tidak dalam konteks pembahasan untuk menyajikan
ketiga

permasalahan

menyangkut

implikasi

sebagaimana
dari

hasil

hasil

penelitian

amandemen

UUD

KHN
1945

terhadap rencana pembangunan hukum pada khususnya dan


6 ibid

10

pada umumnya pembangunan sosial, politik, ekonomi, dan


lainnya. Hanya saja perlu diungkapkan disini sebagai kebijakan
politik hukum negara dalam pembangunan hukum nasional ialah
untuk

memaparkan

ruang

lingkup

pembangunan

hukum

nasional yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka


Menengah (RPJM) yang ada pada ketentuan UU. No.25 tahun
2004. RPJM dapat ditarik kedalam suatu program-program
umum kebijakan hukum sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Perencanaan dan pembentukan hukum,


Penelitian dan pengembangan hukum nasional,
Pembinaaan peradilan,
Penerapan dan penegakan hukum,
Pelayanan dan bantuan hukum,
Penyuluhan hukum,
Pendidikan dan pelatihan hukum,
Pengawasan hukum,
Pembinaan dan pemenuhan sarana dan prasarana hukum.
Diantara sembilan poin dari program tersebut terdapat

hubungan interdependent dan integral satu sama lainnya.


Sehingga dalam pelaksanaan kebijakan hukum satu dengan
yang lainnya tidak dapat dilihat secara parsial dan sektoral,
melainkan harus dilihat secara komprehensif, karena semuanya
tersistem

sebagai

suatu

paket

pembangunan

nasional,

khususnya dalam bidang hukum, bahkan dalam beberapa hal


tidak terlalu tajam batas lahan kegiatannya.
Kemudian jika kita kaitkan dengan struktur lembagalembaga negara yang akan melaksanakan dan merumuskan
tentang kebijakan politik hukum didalam sistem ketatanegaraan
Indonesia melalui rekonstruksi lembaga-lembaga negara yang
menjalankan kekuasaan eksekuttif, legislatif, dan yudikatif
adalah di maksudkan untuk menciptakan lembaga-lembaga

11

negara yang demokratis, kuat, dan mandiri dalam mekanisme


check and balances.
Sesuai dengan ketentuan UUD 1945 pasca amandemen
pada sisi kekuasaan eksekutif, UUD 1945 memperkuat karakter
sistem pemerintahan presidensial dengan menetapkan Presiden
dan Wakil Presiden dipilih secara langsung oleh rakyat. Dalam
kaitannya dengan pembangunan hukum nasional, presiden
mempunyai kekuasaan sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat
(1) UUD 1945 mengenai kewenangan mengajukan RUU, Pasal 20
mengenai kewenangan membahas RUU, Pasal 20 mengenai
kewenanangan

membahas

RUU,

Pasal

22

mengenai

kewenangan mengeluarkan PERPU.


Pada posisi kekuasaan legislatif, penguatan kelembagaan
ditandai dengan penegasan dan reposisi lembaga DPR sebagai
pemegang kekuasaan membentuk UU sebagaimana diatur
dalam

Pasal

20

ayat

(1).

Penguatan

peran

DPR

dalam

pembangunan hukum dipertegas dalam UU.No 10 Tahun 2004


tentang pembentukan peraturan perundang-undangan (UU PPP).
Dimana UU ini memberikan peranan yang dominan kepada DPR,
yaitu

mengkoordinasikan

penyusunan

Program

Legalisasi

Nasional (Prolegnas).
Sedangkan pada posisi kekuasaan yudikatif, UUD 1945
menetapkan dua lembaga pemengang kekuasaan yudikatif yaitu
MA dan MK, serta yang terkait dengan pelaksanaan kekuasaan
yudikatif ialah Komisi Yudisial. Penguatan lembaga yudikatif
yang bebas dan mandiri diatur lebih rinci dalam UU yang
mengatur masing-masing lembaga negara tersebut yaitu: UU
No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, UU No.5 Tahun

12

2004 tentang perubahan terhadap UU No.15 Tahun 1985


tentang Mahkamah Agung, dan UU No. 22 Tahun 2004 tentang
Komisi Yudisial.7

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Politik
hukum

nasional

adalah

kebijakan

dasar

penyelenggara negara dalam bidang hukum yang akan, sedang,


telah berlaku, yang bersumber dari nilai-nilai yang berlaku di
masyarakat untuk mencapai tujuan Negara yang dicita-citakan.
Adapun

kata

nasional

sendiri

diartikan

sebagai

wilayah

berlakunya politik hukum itu. Dalam hal ini yang dimaksud


adalah wilayah yang tercakup dalam kekuasaan Negara Republik
Indonesia. Dengan demikian, yang dimaksud dengan politik
hukum nasional adalah kebijakan dasar penyelenggara (Republik
Indonesia) dalam bidang hukum akan, sedang dan berlaku di
masyarakat untuk mencapai tujuan negara (Republik Indonesia)
yang dicita-citakan.
7 Ibid.

13

Sendi-sendi
membentuk

hukum

sistem

menjadi

hokum,

yang

kebijakan
didalamnya

politik
terdiri

yang
atas

komponen-komponen yang saling bekerja sedemikian rupa


sehingga membentuk suatu pola dengan ciri tersendiri. Diantara
yang menjadi sendi-sendi hukum tersebut adalah:
a. Ide kedaulatan rakyat
b. Negara berdasarkan atas hokum
c. Berbentuk Republik
d. Pemerintah berdasarkan konstitusi
e. Pemerintahan yang bertanggung jawab
f. Sistem Perwakilan
g. Sistem Pemerintahan Presidensial
Dalam menentukan kebijakan pembangunan

hukum,

diantaranya terdapat dua strategi pembangunan hukum yaitu:


1. Strategi Pembangunan Hukum yang ortodoks yaitu
segala usaha yang dilakukan oleh kelompok-kelompok
sosial dalam masyarakat yang berkenaan dengan
bagaimana hukum itu dibentuk, dikonseptualisasikan,
diterapkan, dan dilembagakan dalam suatu proses
politik. Dalam hal ini, peran lembaga-lembaga negara
dalam menentukan arah pembangunan hukum suatu
negara sangat dominan.
2. Strategi Pembangunan Hukum yang responsive yaitu
usaha pembangunan hukum yang peran besarnya
dilakukan oleh lembaga peradilan dan partisipasi luas
oleh kelompok-kelompok sosial dan individu-individu
dalam masyarakat.
Dari pembagian model strategi pembangunan hukum
nasional tersebut, menurut M. Solly Lubis menegaskan terhadap
landasan sosial dan landasan konstitusional bagi strategi
pembangunan hukum nasional ialah Pancasila dan UUD 1945
yang sudah diamandemen oleh MPR. Dengan demikian, yang
menjadi fokus perhatian dalam penataan rambu-rambu strategi

14

bagi manajemen pembangunan hukum nasional, ialah sejauh


mana

kebijakan

politik

hukum

(legal

policy)

yang

akan

dikembangkan tetap konsisten dengan value system yang


terdapat dalam pancasilan dan UUD 1945, serta sejauh mana
tujuan-tujuan nasional dalam pembukaan UUD 1945 dapat
direalisasikan melalui penerapan hukum yang akan datang
sebagai model strategi pembangunan hukum yang dipilihnya.

15