Anda di halaman 1dari 11

BIROKRASI PELAYANAN PUBLIK

1. Layanan public yang prioritas ditingkatkan


Sebagaimana dipahami bahwa administrasi sangat dibutuhkan oleh setiap
warga Negara. Bahkan secara umum masyarakat sangat maklum bahwa urusan
administrasi dimulai sejak seseorang lahir, pada saat hidup hingga meninggal dunia
sekalipun, tidak terlepas dari urusan administrasi. Dimanapun Negara didunia, satu-
satunya lembaga yang mempunyai otoritas untuk mengurus administrasi warga
negaranya dari segala keperluan seperti tersebut di atas adalah birokrasi.
Terkait dengan otoritas yang dimiliki birokrasi ini, maka tidak terelakkan lagi,
setiap warga Negara tidak mempunyai pilihan lain untuk mengurus kebutuhannya
tersebut.
Namun sebaliknya, birokrasi sebagai pemegang mandat tersebut, terkadang
tidak dapat melaksanakan fungsinya tersebut dengan baik. Disadari atau tidak,
sepertinya aparat birokrasi sesungguhnya mengetahui fungsi pelayanan ini. Akan
tetapi mereka cenderung masih kurang optimal dalam menyelenggarakan pelayanan
administrasi ini.
Bilamana ditarik lebih jauh, maka fungsi pelayanan public dalam bidang-
bidang lainnya pun sebenarnya pada awalnya merupakan domain para aparat
birokrasi. Bilamana pelayanan disediakan pihak swasta, maka biasanya birokrasi
tidak memiliki kemampuan untuk menyediakan layanan bagi seluruh warga Negara.
Biasanya pemerintah atau birokrasi dalam hal ini memegang otoritas dalam
pengaturan bagi pihak swasta. Namun untuk layanan public yang sangat vital dan
menyangkut hajat hidup masyarakat, tetap diselenggartakan oleh pemerintah atau
Negara. Contoh dalam hal ini adalah pengadaan tenaga listrik dan air minum. Bahkan
untuk penyelenggaraan jasa transportasi seperti kereta api, pemerintah masih tetap
menjadi pemain tunggal.
2

Disatu sisi, pemerintah sebagai operator dalam penyediaan layanan public,


sebenarnya sangat membantu warga masyarakat. Karena pemerintah dapat
memberikan subsidi dari anggaran pemerintah untuk menyediakan layanan ini.
Namun demikian, tidak jarang keluhan dilontarkan warga masyarakat atas kinerja
aparat pemerintah. Pelayanan yang buruk, fasilitas yang tidak terawat, prosedur yang
berbelit, dan bahkan dari aspek “safety”, terkadang seolah “diabaikan” para aparat
pelaksana. Kondisi ini juga diperparah dengan masih kurangnya mental pengabdian
sebagian aparat, sehingga mereka terkesan “tidak peduli” dengan kualitas layanan
yang diberikan kepada pelanggan atau warga masyarakat.
Gambaran tersebut, umumnya mewakili kondisi pelayanan public di Negara
kita. Upaya perbaikan sebenarnya sudah cukup banyak ditempuh. Namun persoalan-
persoalan dalam penyediaan layanan memang tidak mudah untuk diatasi dengan
segera. Kemampuan SDM aparat pelaksana menjadi salah satu kunci penentu
berhasilnya kebijakan perbaiakan kualitas layanan ini. Disamping itu komitmen para
pembuat kebijakan juga tidak kalah dibutuhkan dalam hal ini.
Tidak jarang pula komitmen para pembuat keputusan tidak diikuti oleh para
aparat pelaksana. Hal ini

Seiring dengan dimulainya era reformasi pada tahun 1998, telah memberikan harapan
bagi perubahan menuju perbaikan di segala bidang kehidupan berbangsa dan
bernegara. Termasuk dalam hal ini adalah perubahan dalam bidang pemerintahan
khususnya dari aspek pelayanan oleh Pemerintah. Pemerintah disini diartikan sebagai
organisasi publik, yakni organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan
pelayanan kepada warga masyarakat.
3

Perubahan yang terjadi pada era reformasi ini merupakan tuntutan


perkembangan dan dinamisasi kehidupan masyarakat. Sutiono dan Sulistiyani (2004)
mengemukakan tiga alasan penting yang mendorong birokrasi di Indonesia sejak era
reformasi pada tahun 1998 harus melakukan pembenahan. Ketiga factor dimaksud
adalah factor reformasi politik, globalisasi ekonomi dan otonomi daerah.
Khusus alasan terakhir yakni faktor otonomi daerah, disamping menimbulkan
harapan sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi birokrasi pemerintahan.
Tantangan terberat yang harus dihadapi adalah perubahan perilaku birokrasi itu
sendiri, terutama perubahan dari pelaksana menjadi pengambil inisiatif. Hal ini
menuntut kesiapan SDM di daerah-daerah yang lebih baik.
Tuntutan masyarakat pada saat ini menghendaki birokrasi lebih profesional,
netral dan menjadi abdi negara dan abdi masyarakat dengan mengutamakan pada
pelayanan umum dan pemberdayan masyarakat.
Pelayanan yang diberikan oleh aparat birokrasi hingga saat ini dirasakan oleh
masyarakat umumnya masih belum memuaskan. Penyebab dari keadaan ini seperti
disinyalir oleh Ariani (2004) sebagaimana dikemukakan oleh McCormick dan Tiffin
dikarenakan dua variable yang mempengaruhi kinerja birokrasi. Yang pertama adalah
variabel lingkungan jabatan, termasuk di dalamnya sarana dan prasarana kerja,
teknologi dan manajemen. Adapun yang kedua adalah variabel individual, termasuk
di dalamnya gaya manajemen, motif prestasi kerja, dan keterampilan. Jika dilihat dari
masing-masing variabel tersebut, variabel pertama yang menyangkut sarana dan
prasarana kerja kondisinya jauh dari mencukupi, sementara varibel kedua
menyangkut individu pegawai negeri itu sendiri, maka kualitasnya belumlah
memuaskan.
Sementara Sutiono dan Sulistiyani (2004) melihat persoalan kurangnya
kinerja aparat dalam memberikan pelayanan, berdasarkan pendapat Darwin (1996)
disebabkan masih adanya inefisiensi pada tubuh birokrasi itu sendiri yang ditandai
4

dengan adanya beberapa kecenderungan. Kecenderungan tersebut antara lain (1)


tingginya tingkat birokrasi, terutama jika dilihat dari pertumbuhan pegawai dan
pemekaran struktur birokrasi; (2) berkembangnya red-tape dalam pelayanan public;
(3) rendahnya kualitas atau profesionalisme aparatur pemerintah; (4) produktivitas
dan disiplin kerja pegawai negeri yang masih rendah; (5) masih meluasnya berbagai
macam praktek maladministrasi di kalangan aparatur pemerintah.
Dalam rangka penataan pemerintahan daerah sekaligus untuk memperbaiki
kondisi birokrasi dan kualitas pelayanan, pemerintah telah menerapkan pemberlakuan
undang-undang otonomi daerah. Terakhir adalah revisi atas UU Nomor 22 Tahun
1999 menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah.
Penerapan otonomi daerah telah pula membawa perubahan pada birokrasi
pemerintahan Daerah. Struktur pemerintahan mengalami perubahan yang cukup
mendasar. Di daerah-daerah dibentuk lembaga-lembaga perangkat daerah yang sesuai
dengan semangat otonomi daerah. Otonomi daerah dimaksudkan untuk mendekatkan
pelayanan birokrasi pemerintah kepada masyarakat, sehingga tercipta birokrasi yang
efektif dan efisien serta dapat menekan ekonomi biaya tinggi yang ditanggung
masyarakat.
Upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik menjadi
paradigma baru penyelenggaraan pemerintahan dalam beberapa tahun terakhir. Hal
ini terlihat dari langkah-langkah pemerintah dengan menerbitkan beberapa kebijakan
khusus serta perangkat lunak yang mendorong terciptanya kualitas pelayanan yang
lebih baik di daerah. Antara lain adalah PP Nomor 65 tahun 2005 tentang Standard
Pelayanan Minimal (SPM); PerMenpan Nomor 20 Tahun 2006 tentang pedoman
penyusunan standar pelayanan public; PerMendagri Nomor 24 Tahun 2006 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Masih banyak lagi
kebijakan pemerintah dalam bidang-bidang lainnya termasuk investasi yang
5

dirancang dengan spirit untuk peningkatan kualitas pelayanan public yang lebih
mudah, lebih cepat dan lebih murah.
Dalam tulisannya, Purbokusumo (2005) menengarai masih tetap berjalannya
praktek buruk terhadap jalannya birokrasi pada saat desentralisasi atau otonomi
daerah. Ia menyimpulkan bahwa apapun bentuk desentralisasi, pelayanan di sektor
publik yang dilakukan oleh birokrasi publik tetap buruk. Kecenderungan sentralisasi
menjadikan pelayanan birokrasi publik berbelit-belit, korup di tingkat pusat
pemerintahan, dan boros. Sementara ketika desentralisasi dilakukan secara radikal
seperti di era reformasi, pelayanan birokrasi publik juga tidak semakin baik; korupsi
menyebar dan merajalela ke daerah (baik oleh eksekutif maupun legislatif), beban
semakin berat dengan variasi pajak dan retribusi daerah yang bertumpuk dan
tumpang tindih, serta birokrasi tetap berbelit-belit.
Disamping pendapat di atas, Wursanto (2003) menyatakan bahwa apabila
birokrasi itu baik maka segala urusan dapat berjalan dan diselesaikan dengan baik.
Akan tetapi dalam prakteknya banyak hal dan urusan tidak dapat berjalan seperti
yang diharapkan sehingga menimbulkan kemacetan dan hambatan. Yang perlu
diketahui ialah bahwa hambatan dan kemacetan itu bukan disebabkan karena
birokrasi, tetapi disebabkan birokrasi yang tidak baik. Hambatan dan kemacetan
dalam birokrasi inilah yang memberikan gambaran negatif terhadap birokrasi
sehingga masih banyak orang (khususnya di Indonesia) yang mempunyai pengertian
dan pandangan yang keliru tentang birokrasi. Padahal birokrasi mempunyai peran
yang penting bagi setiap organisasi, baik organisasi pemerintah maupun swasta.
Selama ini pandangan negatif selalu dilekatkan pada birokrasi organisasi
publik. Pada umumnya masyarakat beranggapan bahwa mengurus administrasi serta
perijinan pada instansi penyelenggara pelayanan public berbelit-belit, memakan
waktu lama dan mengeluarkan biaya tinggi. Dengan kata lain bahwa pelayanan yang
diterima tidak sesuai dengan harapan publik yakni cepat, mudah dan murah.
6

Dengan demikian maka pemerintah pada semua tingkatan mempunyai


kewajiban untuk menciptakan sebuah model pelayanan public yang lebih berkualitas
untuk memberikan pelayanan yang lebih mudah, lebih cepat dan lebih murah secara
adil kepada segenap warga masyarakat atau warga negara.

---------------------------------------------------------------------------------------
7

Dari hal-hal yang dikemukakan di atas, maka penulis tertarik melakukan


penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja
organisasi Kantor Camat dengan melakukan studi pada Kantor Camat Tenggarong
Seberang dalam rangka pelaksanaan tugas serta pelayanan kepada masyarakat.
Adapun judul yang dipilih penulis adalah “Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja
Organisasi Birokrasi pada Kantor Camat Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai
Kartanegara”.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas maka masalah pokok dalam
penelitian ini adalah : “ Bagaimana kinerja organisasi birokrasi Kantor Camat
Tenggarong Seberang dan faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap kinerja
organisasi birokrasi Kantor Camat Tenggarog Seberang dalam rangka pelaksanaan
tugas dan fungsi serta pelayanan kepada masyarakat?”
Selanjutnya masalah tersebut di atas dirumuskan dalam pertanyaan penelitian
sebagai berikut :
1). Bagaimana kinerja organisasi birokrasi Kantor Camat Tenggarong Seberang
dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat?
2). Faktor-faktor apa yang mempengaruhi baik yang mendukung maupun yang
menghambat kinerja organisasi birokrasi Kantor Camat Tenggarong Seberang?

3. Tujuan Penelitian
Adapun penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan
menginterpretasikan aspek-aspek yang berhubungan dengan kinerja organisasi
birokrasi Kantor Camat Tenggarong Seberang, yaitu:
8

1. Untuk mengetahui kinerja organisasi birokrasi Kantor Camat Tenggarong


Seberang.

2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung kinerja organisasi birokrasi


Kantor Camat Tenggarong Seberang.

3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menghambat kinerja organisasi


birokrasi Kantor Camat Tenggarong Seberang.

4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Secara akademis, sebagai sumbangan pemikiran bagi pengembangan kajian-


kajian mengenai kinerja organisasi birokrasi pemerintahan.

2. Secara praktis, sebagai sumbangan serta bahan masukan bagi karyawan


Kantor Camat Tenggarong Seberang dalam rangka peningkatan kinerja
organisasi pada masa yang akan datang.

Sisa

Yang pertama adalah faktor Reformasi Politik yang telah menimbulkan


gelombang tuntutan yang dahsyat terhadap pemerintah untuk segera memperbaiki
kinerjanya. Isu reformasi yang paling populer sekaligus menunjuk paling tajam di ulu
hati para birokrat pemerintah adalah pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme.
9

Kondisi demikian memunculkan sikap rasional untuk segera melakukan langkah-


langkah perbaikan.
Alasan kedua adalah sistem ekonomi dunia yang semakin nyata menuju ke
arah globalisasi ekonomi. Tekanan globalisasi ekonomi menuntut sistem birokrasi
yang lebih fleksibel, responsif terhadap tuntutan konsumen dan yang paling penting
adalah tidak menghambat arus pergerakan barang, modal dan manusia yang semakin
hari semakin cepat. Kenyataannya selama ini birokrasi justeru dilatih untuk
memperlambat segala macam urusan yang berhubungan dengan birokrasi dengan
alasan prosedur baku atau ketentuan yang berlaku.
Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Santoso (1997) bahwa birokrasi pada
dasarnya merupakan “alat pemerintah” yang bekerja untuk kepentingan rakyat
secara keseluruhan. Dalam posisi demikian, maka tugas birokrasi adalah merealisasi
setiap kebijaksanaan pemerintah dalam rangka pencapaian kepentingan masyarakat.
Birokrasi seharusnya menempatkan dirinya sebagai mediating agent, penjembatan
antara kepentingan-kepentingan masyarakat dengan kepentingan pemerintah.
Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
(Menpan) Feisal Tamim yang menyatakan kondisi pegawai negeri saat ini 60% tidak
berkualitas (Suara Merdeka, 25 September 2002).
Kantor Camat sebagai salah satu organisasi birokrasi yang berada di bawah struktur
kabupaten juga merupakan organisasi birokrasi yang mempunyai misi yang sama
dalam rangka pemberdayaan serta pelayanan kepada masyarakat. Kantor Camat
cukup memegang peran yang strategis karena organisasi yang dipimpin oleh seorang
pejabat Camat ini merupakan jembatan dalam rangka menerapkan atau melaksanakan
kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah kabupaten kepada seluruh warga
masyarakat yang berada di desa/kelurahan.
Sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, Kecamatan merupakan salah
satu perangkat daerah. Tugas Camat diatur dalam pasal 126 (2) dan (3) Undang-
10

Undang Nomor 32 Tahun 2004. Pasal 126 ayat (2) menyebutkann bahwa Kecamatan
dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang bupati
atau walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. Sementara pasal
126 ayat (3) menyebutkan tugas lainnya yaitu untuk menyelenggarakan tugas umum
pemerintahan yang meliputi mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat;
mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum;
mengkoordinasikan penerapan dan penegakan peraturan perundang-undangan;
mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum;
mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan;
membina penyelenggaraan pemerintahan desa dan/atau kelurahan; melaksanakan
pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum
dapat dilaksanakan pemerintahan desa atau kelurahan.
Sesuai amanat Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 di atas bahwa
seyogyanya sebagian kewenangan yang ditangani oleh Kabupaten diserahkan kepada
Kecamatan. Dengan semangat ini, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara telah
melaksanakan amanat undang-undang dimaksud. Hal ini ditegaskan dengan
dikeluarkannya Surat Keputusan Bupati Kutai Kartanegara Nomor 180.188/HK-
537/2001 tentang pelimpahan sebagian kewenangan bupati kepada camat dalam
wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. Dalam keputusan ini Bupati melimpahkan
beberapa bidang kewenangan dalam urusan perijinan yang selama ini menjadi
kewenangan kabupaten kepada kecamatan. Kewenangan yang dilimpahkan ini antara
lain adalah bidang kependudukan bidang pertanahan, bidang PU, bidang
perdagangan, bidang pertanian, bidang perhubungan, bidang tenaga kerja, bidang
pertambangan, bidang peternakan.
Dengan adanya beberapa kewenangan yang sebelumnya menjadi kewenangan
Pemerintah Kabupaten, berarti telah ada upaya untuk memberdayakan sekaligus
memfungsikan keberadaan kecamatan dalam rangka mendekatkan pelayanan kepada
11

masyarakat. Hal ini telah memangkas jalur birokrasi dalam rangka pengurusan
administrasi perijinan bagi bidang-bidang usaha masyarakat di kecamatan. Dengan
memperpendek rentang birokrasi ini maka telah terjadi efisiensi baik dipandang dari
aspek waktu maupun biaya yang harus dikeluarkan masyarakat.
Berdasarkan tugas yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004, tugas organisasi Kantor Camat/kecamatan menjadi cukup luas. Oleh
karena itu, maka menjadi suatu kebutuhan bahwa Camat selaku Kepala Kecamatan
harus mendapat dukungan penuh dari staf pelaksana dalam struktur Kantor Camat
sebagai penyelenggara birokrasi pemerintahan di Kecamatan. Untuk melaksanakan
tugas-tugas yang telah diamanatkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, maka
kinerja aparat Pemerintah Kecamatan harus dapat menjawab kebutuhan masyarakat
di wilayah kecamatan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan
sebaik-baiknya.

Sejalan dengan pelaksanaan tugasnya, maka dalam memimpin jalannya


Pemerintah Kecamatan, Camat dibantu staf yang terlihat dalam struktur organisasi
Kecamatan. Adapun struktur jabatan yang merupakan pembantu tugas Camat
adalah terdiri dari unsur staf dan unsur lini. Unsur staf terdiri dari Sekretaris yang
dibantu dua orang Kepala Urusan. Sementara pada unsur lini, terdiri dari 5 (lima)
Kepala Seksi yang masing-masing membawahi 2(dua) orang Kepala Subseksi.

Demikian pula halnya pandangan umum masyarakat terhadap keberadaan Kantor


Camat Tenggarong Seberang sebagai penyelenggara administrasi pemerintahan serta
pelayanan tentunya juga tidak lepas dari pandangan negatif dimaksud.

Dari pengamatan di beberapa Kecamatan,