Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat
manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu
kehidupan yang bermakna, damai dan bermanfaat. Menyadari betapa
pentingnya agama, maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan
setiap pribadi menjadi nyata. Hal ini selaras dengan tujuan Pendidikan
Agama

Islam

yaitu

menghasilkan

manusia

yang

selalu

berupaya

meyempurnakan iman, takwa dan akhlak, serta aktif membangun peradaban


bangsa yang bermartabat1.
Sejalan dengan arus perubahan, kemajuan Iptek, munculnya berbagai
masalah sosial dan moralitas keagamaan, telah membawa banyak orang
untuk mempertanyakan peran pendidikan khususnya pendidikan agama
Islam. Tidak dipungkiri bahwa munculnya banyak kerusuhan, konflik dan
kekerasan untuk sebagian besar adalah cermin dari ketidakberdayaan
system pendidikan khususnya agama di negeri ini.

Departemen Pendidikan Nasional. Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran(Jakarta :


Depdiknas, 2006) hlm.6

Hal senada diungkap oleh Amin, Abdullah 2, bahwa pembelajaran


pendidikan agama yang berjalan hingga sekarang lebih banyak terfokus
pada persoalan-persoalan teoritis keagamaan yang bersifat kognitif semata.
Pendidikan agama terasa kurang terkait terhadap persoalan bagaimana
mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi makna dan
nilai yang diinternalisasikan dari diri peserta didik lewat berbagai cara,
media dan forum. Selanjutnya makna dan nilai yang telah terhayati
tersebut dapat menjadi sumber motivasi bagi peserta didik untuk bergerakberbuat-berperilaku secara konkrit agamis dalam wilayah kehidupan praktis
sehari-hari.
Selama ini, pembelajaran agama Islam berlangsung pasif, di mana
anak didik hanya mendengar dan menerima dari guru tanpa unsur
kreativitas. Guru lebih menanamkan pada memorisasi,menekankan hafalan
daripada penerapan dan pemikiran yang kritis.
Pengamatan yang dilakukan peneliti baik secara langsung maupun
wawancara dengan para guru di kelas VI SD Negeri 02 Galih Sari

di

temukan bahwa banyak siswa yang masih berperilaku tidak terpuji dan
bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini sangat memprihatinkan,
memandang bahwa tahap sekolah dasar adalah tahap pembentukan
karakter anak untuk menuju kedewasaan nantinya. Disamping itu, dalam
2

Abdullah Amin.Pendidikan Agama Islam (Jakarta : Rineka Cipta,2001) hlm.59

proses pembelajaran guru masih menggunakan metode yang konvensional,


sehingga siswa hanya menguasai ranah kognitif tanpa tersentuh ranah
afektif dan psikomotoriknya. Beberapa kejadian tersebut merupakan salah
satu kelemahan sistem pembelajaran khususnya Pendidikan Agama Islam
sehingga yang seharusnya siswa berperilaku terpuji sebagai pengaruh
Pendidikan Agama Islam malah cenderung berperilaku tidak terpuji karena
pembelajaran yang dilakukan tidak bermakna bagi peserta didik itu sendiri 3.
Berdasarkan kenyataan di atas, diperlukan model pembelajaran yang
tepat sehingga dapat menyentuh baik ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
Dengan menemukan model pembelajaran yang tepat maka pembelajaran
akan menjadi bermakna dan berpengaruh terhadap perilaku anak seharihari, sehingga anak-anak akan berperilaku terpuji atas dasar kesadaran diri.
Banyak

model

pembelajaran

yang

dapat

digunakan

dalam

pembelajaran. Namun, tidak semua model sesuai dengan karakteristik mata


pelajaran, materi dan peserta didik. Khususnya pada mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam yang cenderung harus dapat mewujudkan perilaku
terpuji sesuai kandungan Al-Quran dan Hadist dalam kehidupan sehari-hari.
Dari berbagai alasan tersebut salah satu alternatif model pembelajaran
yang ingin peneliti terapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah
model bermain peran . Bermain peran atau role playing merupakan salah
3

Tim Guru SDN 2 Galih Sari (Jurnal Harian SDN 2 Galih Sari, 2010) hlm. 37.

satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalahmasalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal
relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik 4.
Pengalaman

belajar

yang

diperoleh

dari

model

ini

meliputi,

kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterprestasikan suatu


kejadian. Melalui bermain peran, peserta didik mencoba mengeksplorasi
hubungan-hubungan antar manusia dengan cara memperagakan dan
mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat
mengeksplorasi parasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai
strategi pemecahan masalah
Dari uraian yang telah di kemukakan di atas, maka peneliti
berkeinginan untuk mengadakan suatu penelitian tindakan kelas dengan
judul Upaya Meningkatkan Kebiasaan Perilaku Terpuji melalui Model
Bermain Peran pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Kelas VI
Semester 2 SD Negeri 2 Galih Sari Kecamatan Lalan Kabupaten Musi
Banyuasin.

B. Rumusan Masalah
4

Mulyasa. Pembelajaran Kooperatif ( Jakarta : BumiAksara, 2003)hlm. 35.

Dari uraian latar belakang masalah sebagaimana disebutkan diatas


timbulah permasalahan sebagai berikut :
1.

Bagaimana Kebiasaan Perilaku Terpuji siswa sebelum diterapkan


Model Bermain Peran pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di
Kelas VI Semester 2 SD Negeri 2 Galih Sari Kecamatan Lalan
Kabupaten Musi Banyuasin ?

2.

Bagaimana Kebiasaan Perilaku Terpuji siswa sesudah diterapkan


Model Bermain Peran pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di
Kelas VI Semester 2 SD Negeri 2 Galih Sari Kecamatan Lalan
Kabupaten Musi Banyuasin ?

3.

Apakah penerapan Model Bermain Peran dapat meningkatkan


Kebiasaan Perilaku Terpuji siswa pada Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam di kelas VI Semester 2 SD SD Negeri 2 Galih Sari
Kecamatan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin ?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian


Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
Untuk mengetahui bahwa penerapan

Model Bermain Peran dapat

meningkatkan Kebiasaan Perilaku Terpuji pada mata pelajaran Pedidikan


Agama Islam kelas VI SD Negeri 2 Galih Sari Kecamatan Lalan Kabupaten
Musi Banyuasin.

Penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk :


1. Siswa
Hasil penelitian ini diharapkan

bermanfaat untuk meningkatkan

kebiasaan perilaku terpuji dan menerapkannya di kehidupan


sehari-hari.
2. Guru
Dengan dilaksanakannya penelitian tindakan ini, guru dapat lebih
terampil menggunakan Model Pembelajaran Bermain Peran, guru
akan terbiasa melakukan penelitian kecil yang tentu sangat
bermanfaat bagi perbaikan proses belajar mengajar.
3. Sekolah
Hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan dalam rangka
memperbaiki pembelajaran didalam kelas, peningkatan kualitas
sekolah dan bermanfaat bagi sekolah-sekolah lain.
D. Kajian Pustaka
1. Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik
dan

sumber

belajar

pada

suatu

lingkungan

belajar. Pembelajaran

merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses


6

pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat,


serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dalam
pembelajaran juga dibahas mengenai belajar, prestasi belajar, hasil belajar,
aktivitas, partisipatoris, motivasi dan minat belajar siswa 5.
2. Kebiasaan
Kata pembiasaan berasal dari kata dasar biasa yang berarti sebagai
sedia kala, sebagai yang sudah-sudah, tidak menyalahi adat, atau tidak
aneh. Kata membiasakan berarti melazimkan, mengadatkan, atau
menjadikan adat. Dan kata kebiasaan berarti sesuatu yang telah biasa
dilakukan, atau adat6. Jadi, kata pembiasaan berasal dari kata dasar biasa
yang memperoleh imbuhan prefiks pe dan sufiks an, yang berarti proses
membiasakan, yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu kebiasaan
atau adat.
Pembiasaan merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam. Pendekatan pembiasaan sangat penting dilakukan
terutama pada anak usia dini terutama sekolah dasar. Karena dengan
pendekatan pembiasaan siswa akan dengan rutin melakukan dan akhirnya
akan mencapai pemahaman7.
3. Perilaku Terpuji
Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk
hidup)yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis
semua makhluk hidup mulai dari tumbuh tumbuhan, binatang sampai
5

Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran. (Jakarta: Bumi Aksara,2010)


Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka, 2007)h.153.
7
Harto, Kasinyo.Metodologi Pembelajaran Berbasis Active Learning.(Palembang :Grafika
Telindo Press,2009)
6

dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktifitas masing


masing. Sehingga yang dimaksud perilaku manusia, pada hakikatnya
adalah tindakan atau aktifitas manusia darimanusia itu sendiri yang
mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara,
tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya 8.
Contoh perilaku terpuji yang dibahas dalam penalitian ini adalah tolong
menolong dalam kebaikan. Allah Jalla wa Ala berfirman dalam Al-Quran
yang artinya : Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah
amat berat siksa-Nya. [Al-Maidah : 2]9
4.

Model Pembelajaran Bermain Peran


Model pembelajaran Bermain Peran juga dikenal dengan nama model

pembelajaran Bermain Peran. Pengorganisasian kelas secara berkelompok,


masing-masing kelompok memperagakan/menampilkan scenario yang telah
disiapkan guru. Siswa diberi kebebasan berimprofisasi namun masih dalam
batas-batas skenario dari guru 10. Dengan bermain peran siswa dapat
mengalami pengalaman langsung dengan memerankan scenario yang telah

Sudarsono, Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja (Jakarta: Bina Aksara, 2003)hlm.114
Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek Pengadaan
Kitab Suci Al-Quran DEPAG, 1995)
10
Isjoni. Pembelajaran Kooperatif meningkatkan kecerdasan komunikasi antar peserta
Didik (Yogyakarta:Pustaka Pelajar.2010) hlm.49
9

dibuat, sehingga siswa lebih memahami dan pembelajaran menjadi lebih


bermakna.
5.

Pendidikan Agama Islam


Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan

hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama


menurut ukuran-ukuran Islam11.
Menurut KTSP12 tujuan Pendidikan Islam adalah :
a.

Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan


pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan,
serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi
manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya

b.

kepada Allah SWT.


Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak
mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas,
produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga
keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan
budaya agama dalam komunitas sekolah.

E. Kerangka Teori
Berdasarkan Kajian pustaka di atas, pembiasaan berasal dari kata
dasar biasa yang memperoleh imbuhan prefiks pe dan sufiks an, yang
11

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia,

1994)hlm.14
12

Depdiknas, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Jakarta : Depdiknas,2006) hlm.6.

berarti proses membiasakan, yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu


kebiasaan atau adat. Dalam pendidikan, jika siswa diberikan pembiasaan
pada suatu materi maka akan timbul kebiasaan yang relatif lama dan
melekat pada diri siswa.
Dalam materi perilaku terpuji pada mata pelajaran PAI, perilaku terpuji
yang akan diajarkan adalah tolong menolong dalam kebaikan diantaranya
mencontohkan mengenai tolong menolong Kaum muhajirin dan Kaum
Anshar13. Materi ini akan mudah diajarkan bila siswa dapat mempraktekkan
secara langsung peristiwa tolong menolong tersebut. Untuk itu model
pembelajaran bermain peran sangat tepat digunakan. Hal ini didukung
dengan pendapat Isjoni bahwa dengan bermain peran siswa dapat
mengalami pengalaman langsung dengan memerankan scenario yang telah
dibuat, sehingga siswa lebih memahami dan pembelajaran menjadi lebih
bermakna14.
Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka teori di atas, maka diduga
model Bermain Peran dapat meningkatkan pembiasaan berperilaku terpuji
pada mata pelajaran Pedidikan Agama Islam kelas VI SD Negeri 2 Galih
Sari Kecamatan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin.
F. Hipotesis
13

Mohammad Fauzi, Saya InginMenjadi Anak Saleh (Bandung :Grafindo,2008) hlm.100


Isjoni. Pembelajaran Kooperatif meningkatkan kecerdasan komunikasi antar peserta Didik
(Yogyakarta:Pustaka Pelajar.2010) hlm.49
14

10

Hipotesis yang diajukan dalam proposal penelitian ini adalah:


Melalui Model Bermain Peran dapat meningkatkan Pembiasaan Perilaku
Terpuji pada mata pelajaran Pedidikan Agama Islam kelas VI SD Negeri 2
Galih Sari Kecamatan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin.
G.Metodologi Penelitian
1.

Lokasi Penelitian
Dalam Penelitian ini, peneliti mengambil lokasi di SDN 02 Galih Sari

yaitu terletak di desa Galih Sari kecamatan Lalan Kabupaten Musi


Banyuasin provinsi Sumatera selatan. Peneliti memilih Sekolah Dasar ini
karena sekolah ini tempat peneliti bertugas menjadi guru bidang study
Pendidikan Agama Islam.
2.

Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester kedua tahun ajaran

2011/2012. Waktu penelitian ini akan berlangsung selama tiga bulan, mulai
dari tahap persiapn, pelaksanaan, dan penulisan laporan penelitian sejak
bulan Januari hingga bulan Maret pada semester II tahun pelajaran
2011/2012.
3.

Subjek yang Diteliti


Dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti mengambil sebagai subjek

penelitian adalah siswa kelas VI SD N 02 Galih Sari, dengan jumlah siswa


sebanyak 19 orang.
11

4.

Prosedur Penelitian
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah menggunakan

pendekatan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research).


Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus.
Menurut Arikunto15 terdapat empat tahapan penelitian tindakan yaitu
(1) perencanaan, (2) pelaksanaan. (3) pengamatan, dan (4) refleksi.
Model untuk masing-masing tahap adalah sebagai berikut.

Gambar 1. Tahapan Penelitian Tindak Kelas


1)

Tahap Perencanaan
Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan,

dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penelitian


tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak
15

Arikunto, Suharsimi dkk. Penelitian Tindak Kelas (Jakarta: Bumi


Aksara,2009)

12

yang melakukan tindakan dan pihak yang mengamati proses jalannya


tindakan16.
Langkah awal kegiatan perencanaan tindakan diawali dengan
menganalisis kompetensi pembelajaran sebagimana yang tertuang dalam
kurikulum (analisis pengembangan tujuan, menetapkan materi pelajaran,
menelaah buku paket Agama Islam yang ada , menyusun RPP, membuat
media atau alat peraga pembelajaran, membuat instrumen data (misalnya
pedoman observasi, wawancara, angket).
2)

Tahap pelaksanaan
Tahap pelaksanaan merupakan implementasi atau penerapan isi

rancangan, yaitu mengenakan tindakan di kelas 17. Dalam tahap ini guru
harus ingat dan berusaha mentaati apa yang telah dirumuskan dalam
rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak di buat- buat.
Kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanan tindakan ini dilakukan
dalam 2 siklus penelitian dengan kegiatan utama pembelajaran adalah
dengan model pembelajaran bermain peran. Selama kegiatan pembelajaran,
kegiatan pengamatan dilakukan untuk melihat efek dari pemberian tindakan.
3)

Tahap pengamatan
Menurut

Arikunto

18

tahap

pengamatan

merupakan

kegiatan

pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Pengamatan berlangsung


16
17
18

Arikunto, Suharsimi dkk. Penelitian Tindak Kelas (Jakarta: Bumi Aksara,2009)


Ibid.
Arikunto, Suharsimi dkk. Penelitian Tindak Kelas (Jakarta: Bumi Aksara,2009)

13

bersamaan dengan proses pelaksanaan. Saat proses pembelajaran


berlangsung, guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi
agar memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus berikutnya.
4)

Tahap Refleksi
Menurut Arikunto19 refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakan

kembali apa yang sudah dilakukan. Kegiatan refleksi dilakukan ketika guru
sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti
untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan.
Jadi refleksi merupakan kegiatan mengingat dan merenungkan suatu
tindakan yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami
proses, masalah, persoalan, dan kendala yang nyata dalam tindakan.
Refleksi biasanya dibantu dengan diskusi di antara peneliti dan kolaborator.
Melalui diskusi, refleksi memberikan dasar rencana perbaikan untuk
kegiatan pembelajaran berikutnya. Tahapannya meliputi analisis data,
memaknakan data, menyimpulkan kemudian merencanakan tindakan
selanjutnya.
5.

Deskripsi per Siklus


Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian dalam beberapa

siklus. Jika siklus I berhasil, maka pemantapan dilakukan pada siklus II dan
tidak perlu dilakukan siklus III. Akan tetapi jika siklus I gagal maka dilakukan
siklus II, bila siklus II berhasil maka siklus III dilakukan sebagai pemantapan.
19

Ibid.

14

a.

Siklus I
Pada siklus I terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh

peneliti, tahapan tersebut antara lain :


1)

Perencanaan
a) Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini meliputi:
Membuat skenario pelaksanaan tindakan yang tertuang dalam RPP
yang direncanakan dengan materi perilaku terpuji
b) Membuat alat bantu mengajar yang diperlukan dalam rangka
membantu siswa memahami konsep-konsep PAI dengan baik
dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran bermain peran.
c) Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana suasana
belajar mengajar dengan model pembelajaran bermain peran.
d) Mendesain alat evaluasi untuk melihat penguasaan materi PAI
siswa.

2)

Pelaksanaan Tindakan
Melaksanakan pembelajaran dengan skenario model pembelajaran

bermain peran berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah


disusun. Dalam setiap akhir pembelajaran diadakan tes sikap siswa. Pada
setiap akhir pembelajaran dilakukan proses evaluasi pembelajaran, evaluasi
tersebut dilakukan untuk melihat apakah ada atau tidak peningkatan

15

kebiasaan perilaku terpuji siswa. Alat evaluasi yang digunakan berupa


lembar pengamatan yang disusun oleh peneliti.
3)

Observasi
Observasi dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi yang

telah dibuat. Pelaksanaan observasi ini dilaksanakan oleh teman sejawat


yaitu guru kelas VI sebagai pengamat dalam proses pembelajaran.
Observasi dilakukan dengan tujuan untuk mengukur keaktifan dan
kebiasaan perilaku terpuji siswa dalam proses pembelajaran menggunakan
model pembelajaran bermain peran.
Lembar observasi dibuat sedemikian rupa oleh peneliti dengan diukur
menggunakan indikator yang sesuai. Indikator yang diukur meliputi:
a. Kebiasaan Tolong Menolong dalam kebaikan dengan rentang skor
1-10.
b. Kebiasaan Gigih dalam kebaikan dengan rentang skor 1-10 dan
dituliskan dalam bentuk abjad.
4)

Refleksi
Hasil (data) yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi

dianalisis dan dimaknai bersama dengan teman sejawat. Kelemahankelemahan atau kekurangan-kekurangan yang terjadi pada setiap siklus
akan menjadi bahan rekomendasi revisi kegiatan siklus berikutnya. Bentuk
antisipasi

dilakukan

dengan

menugaskan

siswa

membaca

materi

sebelumnya dan memberinya tugas mengenai materi berikutnya.


16

b.
c.
6.

Siklus II (tahapan penelitian sama dengan siklus I).


Siklus III (tahapan penelitian sama dengan siklus I dan II),
Teknik Pengambilan Data
Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan

nontes berupa observasi :


a)
Tes
Tes digunakan untuk mengungkap data tentang hasil belajar siswa
pada setiap akhir pembelajaran di setiap siklus . Bentuk dari instrumen tes di
dalam penelitian ini adalah tes tertulis yaitu pilihan ganda. Banyak soal
berjumlah 10 butir.

b)

Observasi
Observasi yang dilaksanakan menggunakan lembar pengamatan

terhadap kegiatan dalam pembelajaran dan pembiasaan perilaku terpuji


siswa. Data observasi ini jadikan sebagai bahan untuk refleksi setiap siklus.
Peneliti menggunakan lembar observasi sebagai instrument pengamatan.
7.

Teknik Analisis Data


Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

menggunakan analisis deskriptis kualitatif. Teknik ini digunakan untuk


mengolah data yang bersifat kualitatif, baik yang berhubungan dengan
keberhasilan proses maupun hasil pembelajaran. Adapun data yang bersifat
kuantitatif dianalisis dengan teknik deskriptif kuantitatif sederhana. Dalam
17

menganalisa data peneliti membandingkan hasil ulangan siswa sebelum


tindakan dengan hasil ulangan siswa setelah tindakan. Dari hasil analisis
data akan ditarik kesimpulan secara keseluruhan dengan menyatakan
kebenaran hipotesis tindakan yang telah ditetapkan.
Untuk menghitung tingkat keberhasilan menggunakan rumus 20 :
P=

F
X 100
N

Keterangan
P = persentase keberhasilan siswa
F = Jumlah skor yang diperoleh siswa
N = jumlah skor maksimun
Data

hasil

belajar

siswa

dianalisa

secara

deskriptif

dengan

menggunakan analisa statistic deskriptif. Mencari nilai rata-rata siswa dan


persentase keberhasilan belajar yang mengacu pada KKM siswa.
1)

Mencari nilai rata-rata siswa dapat dilakukan dengan menggunakan


rumus :

Me =

Keterangan : Me = nilai rata-rata siswa


20

Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran. (Jakarta: Bumi


Aksara,2010), hlm.123.

18

JN = Jumlah nilai seluruh siswa


S = Jumlah seluruh siswa
2)

Persentase ketuntasan siswa yang memenuhi standar KKM, diperoleh


dengan rumus :
PK =

x 100 %

Keterangan :

3)

PK : Persentase Ketuntasan
SK : Jumlah siswa yang memenuhi ketuntasan
S : jumlah seluruh siswa.
Menghitung persentase setiap siklus. Untuk menghitung persentase
digunakan rumus:

Keterangan :

8.

NP

= Persentase

Me1

= Nilai rata-rata siklus 1

Me2

= Nilai rata-rata siklus 2

Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini tercapai apabila

siswa kelas VI SD N 02 Galih Sari lebih dari 85% dapat mengalami


peningkatan kebiasaan perilaku terpuji.
H. Sistematika Pembahasan

19

Sistematika pembahasan dalam penelitian ini terdiri dari bab-bab


antara lain :
Bab I terdiri dari latar belakang, masalah, rumusan masalah, tujuan
dan kegunaan penelitian, kajian pustaka, kerangka teori, hipotesis,
metodologi penelitian, sistematika proposal, daftar pustaka dan jadwal
penelitian.
Bab II yaitu landasan teori berupa definisi pembelajaran, hasil dan
faktor yang mempengaruhi belajar, aktivitas, motivasi belajar, pembiasaan,
perilaku terpuji, model bermain peran beserta langkah-langkahnya, dan
Pendidikan Agama Islam.
Bab III yaitu setting wilayah penelitian SDN 2 Galih Sari Kecamatan
Lalan Kabupaten Musi Banyuasin, mengenai : sejarah berdiri, letak,
ketenagaan pendidikan, keadaan siswa, sarana prasarana dan struktur
organisasi sekolah.
Bab IV yaitu hasil penelitian dan pembahasan, meliputi hasil
pengolahan data mengenai meningkatkan pembiasaan perilaku

terpuji

melalui model bermain peran pada pembelajaran PAI di kelas VI semester 2


SD Negeri 2 Galih Sari Kecamatan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin. Bab V
yaitu penutup, meliputi kesimpulan dan saran.

20

BAB II
LANDASAN TEORI

A.
1.

Konsep Perilaku Terpuji


Pengertian Perilaku Terpuji
Imam Al-Ghazali menyebut perilaku ialah suatu sifat yang tertanam

dalam jiwa. Dari pada jiwa itu, timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah
tanpa melakukan pertimbangan fikiran.Sedangkan perilaku terpuji atau
akhlakul karimah adalah perilaku, perangai, ataupun adab yang didasarkan
pada nilai-nilai wahyu sebagaimana dipraktikkan oleh Nabi Muhammad
SAW.

Perilaku

terpuji

terbukti

efektif

dalam

menuntaskan

suatu

permasalahan serumit apa pun21.


2.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Terpuji

21

Sudarsono, Munir. Ahlakul Karimah dalam Islam. (Jakarta :


Gramedia,2002), hlm. 21

21

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku terpuji terbagi


menjadi dua, yaitu 22:
a.

Faktor Intern
Faktor intern merupakan dorongan untuk melakukan perilaku terpuji

yang berasal dari dalam diri sendiri (tiap individu bersangkutan). Diantaranya
yang termasuk faktor intern adalah :
1.
2.
b.

Dorongan hati nurani


Mengharap Ridha Allah
Faktor Ekstern
Faktor ekstern merupakan dorongan untuk melakukan perilaku terpuji

yang berasal dari luar diri sendiri atau dorongan dari luar individu
bersangkutan.
Diantaranya yang termasuk faktor ekstern adalah :

3.

1. Karena bujukan atau ancaman dari manusia lain


2. Mengharap pujian, atau karena takut mendapat cela
3. Mengharapkan pahala dan surga
4. Mengharap pujian dan takut azab Tuhan
Upaya Membentuk Perilaku Terpuji
Agar perilaku terpuji dapat terbentuk, maka kita harus berupaya untuk

membentuknya. Upaya tersebut dapat melalui 23:


a. Ilmu
Banyak membaca buku agar bisa mengambil keteladanan dari
sahabat-sahabat nabi dan mengikuti kajian-kajian Islam. Kemudian,
22

Ibid.,hlm.24.
Sudarsono, Munir. (Ahlakul Karimah dalam Islam. Jakarta :
Gramedia,2002), hlm. 43
23

22

berusaha mengelompokkan nilai-nilai iman yang sudah kita ketahui ke dalam


perilaku kita sehari-hari. Dalam pembelajaran, tentu PAI merupakan peran
penting dalam khasanah ilmu yang membentuk perilaku terpuji, terutama
pada usia sekolah dasar.

b. Latihan ibadah,
Dengan latihan ibadah yang terus menerus atau melalui pembiasaan
maka perilaku terpuji akan terbentuk dan melekat pada diri individu, dan
akhirnya akan menjadi terbiasa tanpa perlu berfikir terlalu lama apabila ingin
melakukan perilaku terpuji.
Mengurangi maksiat, membentuk lingkungan yang baik, melatih amal
atau kerja kita, bergaul dengan orang-orang saleh, meninggalkan lingkungan
yang buruk, dan mengambil hal positif dari lingkungan di sekitar kita.
4.

Bentuk-bentuk Perilaku Terpuji


Bentuk-bentuk perilaku tepuji dapat dibedakan menjadi dua, antara

lain24 :
a.

Perilaku Terpuji Terhadap Allah SWT


Perilaku terpuji terhadap Allah SWT diantaranya adalah sebagai

berikut :
1.

Taubat
24

http://mihwanuddin.wordpress.com/2011/03/07/pengertian-akhlaqmacam-macam-akhlaq-terpuji-dan-penerapan-akhlaq-dalam-kehidupan-seharihari/

23

Salah satu perilaku atau tindakan yang mendasari akhlak kepada


Pencipta adalah Taubat.Taubat secara bahasa berarti kembali pada
kebenaran.Secara istilah adalah meninggalkan sifat dan kelakuan yang tidak
baik,salah atau dosa dengan penuh penyesalan dan berniat serta berusaha
untuk tidak mengulangi kesalahan yang serupa.
Menurut Ibnu Katsir, taubat adalah Tobat adalah menjauhkan diri dari
perbuatan dosa dan menyesali atas dosa yang pernah dilakukan pada masa
lalu serta yakin tidak akan melakukan kesalahan yang sama pada masa
mendatang.Menurut A.Jurjani, tobat adalah kembali pada Allah dengan
melepaskan segala keterikatan hati dari perbuatan dosa dan melaksanakan
segala kewajiban kepada Tuhan. Menurut Hamka tobat adalah kembali ke
jalan yang benar setelah menempuh jalan yang sangat sesat dan tidak tentu
ujungnya. Dengan kata lain,taubat mengandung arti kembali kepada
sikap,perbuatan atau pendirian yang baik dan benar serta menyesali
perbuatan dosa yang sudah terlanjur dikerjakan serta berjanji tidak akan
mengulangi dosa yang pernah dilakukan.
2.

Tawakkal
Tawakal adalah berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam

menghadapi atau menunggu hasil dari suatu pekerjaan.


b.

Perilaku Terpuji Terhadap Sesama Manusia


Perilaku terpuji terhadap sesama manusia sangat banyak macamnya.

Berikut adalah beberapa macamperilaku terpuji terhadap sesama manusia :


24

1.

Husnuzzan
Husnuzzan adalah berprasangka baik atau disebut juga positive

thinking.Lawan dari kata ini adalah suuzzan yang artinya berprasangka


buruk ataup negative thinking.
2.

Adil
Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya.Adil juga berarti

tidak berat sebelah,tidak memihak.Dengan demikian berbuat adil adalah


memerlukan hak dan kewajiban secara seimbang tidak memihak dan tidak
merugikan pihak manapun.Sebagai contoh seseorang yang adil akan
melaksanakan tugas sesuai fungsi dan kedudukannya,menghukum orang
yang bersalah melakukan tindak pidana,membarikan hak orang lain sesuai
dengan haknya tanpa mengurngi sedikitpun.
3.

Kerjasama/ Tolong menolong


Kerjasama/tolong menolong merupakan sikap yang menggambarkan

bahwa manusia saling membutuhkan dan merupakan makhluk sosial.


4.

Gigih
Gigih merupakan sikap mental yang menggambarkan kesungguhan

dan keuletan dalam mencapai tujuan. Gigih atau kerja keras serta optimis
termasuk diantara akhlak mulia yakni percaya akan hasil positif dalam
segala usaha.
5.

Rela berkorban

25

Rela berkorban artinya rela mengorbankan apa yang kita miliki demi
sesuatu atau demi seseorang.Semua ini apabila dengan maksud atau
dilandasi niat dan tujuan yang baik.

6.

Tata krama
Tata karma terhadap sesama makhluk Allah SWT

ini sangat

dianjurkan kepada makhluk Allah karena ini adalah salah satu anjuran Allah
kepada kaumnya.
7.

Ridho/ Ikhlas
Ridho menurut bahasa artinya rela,sedangkan menurut istilah ridha

artinya menerima dengan senang hati segala sesuatu yang diberikan Allah
SWT.Yakni berupa ketentuan yang telah ditetapkan baik berupa nikmat
maupun saat terkena musibah.Orang yang mempunyai sifat tidak mudah
bimbang,tidak mudah menyesal ataupan menggerutu atas kehidupan yang
diberikan olaeh Allah,tidak iri hati atas kelebihan orang lain,sebab dia
berkeyakinan bahwa semua berasal dari Allah SWT,manusia hanya
berusaha.Ridho bukan ebrarti menyerah tanpa usaha namanya putus
asa.Dan sikap putus asa tidak dibenarkan dalam agama islam.
8.

Sabar
Sabar adalah tahan terdapat setiap penderitaan atau yang tidak

disenangi dengan sikap ridho dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada


Allah SWT.
26

9.

Bijaksana
Bijaksana adalah suatu sikap dan perbuatan seseorang yang

dilakukan dengan cara hati-hati dan penuh kearifan terhadap suatu


permasalahan yang terjadi,baik itu terjadi pada dirinya sendiri ataupun pada
orang lain.
10.

Qanaah
Qonaah adalah merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan

menjauhkan diri dari sifat ketidakpuasan atau kekurangan..


B.

Kebiasaan
Dalam kehidupan sehari-hari pembiasaan itu sangat penting, karena

banyak orang yang berbuat atau bertingkah laku hanya karena kebiasaan
semata- mata. Tanpa itu hidup seseorang akan berjalan lambat sekali, sebab
sebelum melakukan sesuatu ia harus memikirkan terlebih dahulu apa yang
akan dilakukan. Pembiasaan ini akan memberikan kesempatan kepada
peserta didik terbiasa mengamalkan ajaran agamanya, baik secara
individual maupun secara berkelompok dalam kehidupan sehari-hari 25.
Dalam penelitian ini, kebiasaan yang dimaksudkan adalah kebiasaan
perilaku terpuji. Jika perilaku terpuji dilakukan dengan terus menerus maka
tanpa berfikir siswa akan terbiasa melakukan perilaku terpuji di manapun
dan kapanpun mereka berada.

25

http://unicahyadotcom.wordpress.com/2011/09/17/metode-pembiasaan-dalam-pendidikanagama-islam/diakses tanggal 12 Februari 2012

27

C.
1.

Metode Bermain Peran


Pengertian Metode Bermain Peran
Menurut Mulyasa 26 terdapat empat

asumsi

yang

mendasari

pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan prilaku dan nilai sosial,


yang kedudukannya sejajar dengan model model mengajar lainnya. Ke
empat asumsi tersebut sebagai berikut :
Secara implisit bermain peran mendukung suatu situasi belajar
berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi
disini pada saat ini . Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik
dimungkinkan menciptakan analogi mengenai situasi kehidupan nyata.
Terhadap analogi yang diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik
dapat menampilkan respon emosional sambil belajar dari respons orang lain.
Bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk
mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin
pada orang lain. Bermain peran dalam konteks pembelajaran memandang
bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan
kegiatan utama dan integral dari pembelajaran.
Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat
diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses
kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa
saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang di perankan.

26

Mulyasa, E. Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK. (Bandung:


Remaja Rosdakarya,2004),hlm 141

28

Dengan demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang
lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat
dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Oleh sebab itu,
model mengajar ini berusaha mengurangi peran guru yang terlalu
mendominasi pembelajaran dalam pendekatan tradisional. Model bermain
peran dapat mendorong peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan
masalah sambil menyimak secara seksama. Bagaimana orang lain berbicara
mengenai masalah yang sedang dihadapi.
Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang
tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan sistem keyakinan dapat
diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan,
denagan demikian para peserta didik dapat menguji sikap dan nilainya yang
sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu
dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang lain, para peserta didik sulit
untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya. Terdapat tiga hal yang
menentukan kualitas dan keefektifan bermain peran sebagai model
pembelajaran, yakni : (1) kualitas pemeranan (2) analisis dalam diskusi (3)
pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan
dengan situasi kehidupan nyata.
2.

Prosedur Pelaksanaan Metode Bermain Peran

29

Menurut Shaftel27 mengemukakan sembilan tahap bermain peran yang


dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran : (1) menghangatkan suasana
dan memotivasi peserta didik, (2) memilih partisipan/ peran (3) menyusun
tahap-tahap peran (4) menyiapkan pengamat (5) pemeranan (6) diskusi dan
evaluasi (7) pemeranan ulang (8) diskusi dan evaluasi tahap dua (9)
membagi pengalaman dan kesimpulan. Kesembilan tahap tersebut dijelaskan
sebagai berikut.
Menghangatkan suasana kelompok, termasuk mengantarkan peserta
didik terhadap masalah pembelajaran yang perlu dipelajari.. Masalah dapat di
angkat dari kehidupan peserta didik, agar dapat merasakan masalah itu hadir
dihadapkan mereka. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan untuk memotivasi
peserta didik agar tertarik pada masalah karena itu tahap ini sangat penting
dalam bermain peran dan paling menentukan keberhasilan.
Memilih peran dalam pembelajaran. Tahap ini peserta didik dan guru
mendeskripsikan berbagai watak atau karakter, apa yang mereka suka,
bagaimana mereka merasakan, dan apa yang harus mereka kerjakan,
kemudian para peserta didik diberi kesempatan secara sukarela untuk
menjadi pemeran.
Menyusun tahap-tahap baru, pada tahap-tahap ini para pemeran
menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Dalam hal ini,
tidak perlu ada dialog khusus karena para peserta didik dituntut untuk
bertindak dan berbicara secara spontan.
27

Mulyasa, E. Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK. (Bandung:


Remaja Rosdakarya)hlm. 141

30

Menyiapkan pengamat, sebaiknya pengamat dipersiapkan secara


matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar semua peserta
didik turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif
mendiskusikannya.
Tahap pemeran, pada tahap ini para peserta didik mulai beraksi
secara spontan, sesuai dengan peran masing-masing. Mereka berusaha
memainkan setiap peran seperti benar-benar dialaminya. Adakalanya para
peserta didik keasyikan bermain peran sehingga tanpa disadari telah
memakan waktu yang terlalu lama. Dalam hal ini guru perlu menilai kapan
bermain perlu dihentikan.
Diskusi dan evaluasi pembelajaran, diskusi akan mudah dimulai jika
pemeran dan pengamat telah terlibat dalam bermain peran, baik secara
emosional maupun secara intelektual.
Pemeranan ulang, dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan diskusi
mengenai alternatif pemeranan. Mungkin ada perubahan peran watak yang
dituntut. Perubahan ini memungkinkan adanya perkembangan baru dalam
upaya pemecahan masalah. Setiap perubahan peran akan mempengaruhi
peran lainnya.
Diskusi dan evaluasi tahap dua, diskusi dan evaluasi pada tahap ini
sama seperti pada tahap enam, hanya dimaksudkan untuk menganalisis hasil
pemeranan ulang, dan pemecahan masalah pada tahap ini mungkin sudah
lebih jelas.
Membagi pengalaman dan pengambilan kesimpulan, tahap ini tidak
harus menghasilkan generalisasi secara langsung karena tujuan utama
31

bermain peran ialah membantu para peserta didik untuk memperoleh


pengalaman berharga dalam hidupnya melalui kegiatan interaksional dengan
temannya. Pada tahap akhir para peserta didik saling mengemukakan
pengalaman hidupnya dalam berhadapan dengan orang tua, guru, teman dan
sebagainya. Semua pengalaman peserta didik dapat diungkap atau muncul
secara spontan.

BAB III
SETTING WILAYAH PENELITIAN

A.

Sejarah SD Negeri 2 Galih Sari


Pendidikan merupakan suatau kebutuhan pokok bagi masyarakat kita

yang sedang menuju pembangunan dan kesejahteraan bangsa. Oleh karena


itu seyogyanya pemerintah menyusun dan semua pihak untuk mencukupi
sarana dan prasarana pendidikan di seluruh tanah air. Salah satunya
32

didirikan SD Negeri 2 Galih Sari oleh pihak pemerintah setempat dan


masyarakat desa,demikian hasil keputusan musyawarah desa pada waktu
itu28.
Dengan bermodalkan semangat dari beberapa unsur yang ada
dimasyarakat desa Galih Sari ,maka didirikanlah SD Negeri 2 Gali Sar di atas
tanah seluas 2000 m pada tahun 1989. Proses belajar mengajar di SD
Negeri 2 Galih Sari berlangsung lancer hingga sekarang. SD Negeri 2Galih
Sari memiliki NPSN 10605163
B.

dan NSS.101110105163.

Letak Geografis SD Negeri 2 Galih Sari


SD Negeri 2 Galih Sari berlokasi di jalan Primer 12 Desa Galih Sari

Karang Agung Tengah Kecamatan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin,


dibangun diatas tanah milik sendiri yang merupakan hibah pemerintah. SD
Negeri 2 Galih Sari terletak di daerah transmigrasi. Oleh karena itu, siswa
yang bersekolah di sekolah tersebut berasal dari beragam suku bangsa.
Berdasarkan letak geografis, letak SD Negeri 2 Galih Sari sangat
strategis. SD Negeri 2 Galih Sari berada di pinggir jalan utama dan posisinya
di tengah desa, sehingga mudah terjangkau oleh siswa. Namun SD Negeri 2
Galih Sari termasuk sekolah yang berada di daerah perairan. Untuk keluar
masuk desa Galih Sari, maka penduduk setempat menggunakan speed boat.
Sebenarnya untuk masuk ke Desa Tersebut sudah bias menggunakan motor

28

Dokumentasi SD Negeri 2 Galih Sari (2010)

33

atau maobil, akan tetapi bila hujan turun tanah akan sangat lengket dan licin
sehingga tidak bisa di lewati kendaraan.
Sekalipun

demikian

pihak

sekolah

masih

tetap

senantiasa

melaksanakan berbagai upaya agar lokasi sekolah aman dan nyaman untuk
tempat kegiatan belajar mengajar ,seperti penghijauan disekitar halaman
sekolah ,dan meningkatkan kebersihan lingkungan sekolah.
C.

Batas-Batas SD Negeri 2 Galih Sari


SD Negeri 2 Galih Sari memiliki batas-batas sebagai berikut :
1. Sebelah selatan berbatasan dengan jalan utama yaitu Jl. Primer 12
2. Sebelah utara berbatasan dengan pemukiman penduduk
3. Sebelah barat berbatasan dengan rumah penduduk
4. Sebelah timur berbatasan dengan rumah penduduk

D.

Visi SD Negeri 2 Galih Sari


Terwujudnya ahlak dan prestasi berwawasan global yang sesuai

dengan ajaran agama29.


E.

Misi SD Negeri 2 Galih Sari


1) Menanamkan keyakinan melalui pengalaman ajaran agama
2) Mengoptimalkan proses pembelajaran

29

Dokumentasi SD Negeri 2 Galih Sari (2010)

34

3) Membentuk sumber daya manusia yang aktif, kreatif inovatif sesuai


dengan bakat minat dan potensi siswa 30
F.

Tujuan Umum SD Negeri 2 Galih Sari


1) Siswa beriman dan bertaqwa kepadaTuhan Yang Maha Esa dan
berakhlak mulia.
2) Siswa sehat jasmani dan rohani.
3) Siswa memiliki dasar-dasar pengetahuan, kemampuan, dan
ketrampilan untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih
tinggi.
4) Mengenal

dan

mencintai

bangsa,

masyarakat,

dan

kebudayaannya.
5)

Siswa kreatif, terampil, dan bekerja untuk dapat mengembangkan


diri secara terus menerus.

G.

Subyek Penelitian
Setiap penelitian pasti memiliki subyek. Dalam penelitian ini, subyeknya

adalah siswa kelas VI SD Negeri 2 Galih Sari yang berjumlah 19 siswa.


Penelitian dilakukan pada saat pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan
materi perilaku terpuji yang meliputi perilaku gigih dan tolong menolong.
H.

Waktu Penelitian

30

Ibid.

35

Penelitian dilaksanakan antara 2 sampai 3 siklus. Bila siklus 1 berhasil


maka penelitian hanya sampai siklus 2, namun jika siklus 1 tidak berhasil
maka penelitian dilakukan hingga siklus 3. Data tersebut disajikan dalam
tabel berikut :
Tabel 1
Jadwal Pelaksanaan Penelitian Per Siklus
Siklus 1

Siklus 2

Siklus 3

27 Maret 2012

3 April 2012

10 April 2012

Sumber : Dokumentasi SD Negeri 2 Galih Sari


I.

Data Keadaan Guru


Tenaga guru di SD Negeri 2 Galih Sari berjumlah 8 orang dengan

rincian 6 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Pendidikan guru SD Negeri


2 Galih Sari pun beragam, akan tetapi sebagian besar sudah mencapai
jenjang S1.

Berikut disajikan data keadaan guru SD Negeri 2 Galih Sari :


Tabel 2
Data Keadaan Guru SD 2 Negeri Galih Sari Tahun 2011/2012

No

Nama Guru

L/P

Ijazah

Pangkat/Jabatan

Gol

Ket

Nurul Azis, A.Ma

D II

Kepala Sekolah

III/D

PNS

Sugeng, S.Pd

S1

Guru Kelas

III/D

PNS

36

Cawan S.H, S.Pd

S1

Guru Kelas

III/D

PNS

Sri Sumarni, S.Pd

S1

Guru Kelas

III/D

PNS

Tajudin, S.Pd.SD

S1

Guru Kelas

III/D

PNS

Bambang
Rahwana, S.Pd.

S1

Guru Kelas

II/B

PNS

I Ketut Tambun

SPG

Guru Kelas

GTT

Pina Pusari

SMA

Mulok

GTT

Sumber : Dokumentasi SD Negeri 2 Galih Sari


J.

Data Keadaan Siswa


Jumlah siswa SDN KPS 6 Tahun Pembelajaran 2011/2012 berjumlah

97 orang siswa yang terdiri dari 56 orang siswa laki-laki dan 41 orang siswi
perempuan. Dikarenakan lokasi sekolah yang dekat dengan PT sawit, maka
para orang tua siswa sebagian besar bekerja sebagai buruh di PT sawit.
Sebagian lainnya wali murid bekerja sebagai petani dan pedagang 31.

Data keadaan siswa SD Negeri 2 Galih Sari tersebut disajikan dalam


tabel berikut :
Tabel 3
Jumlah Siswa SD Negeri 2 Galih Sari Tahun 2011/2012
No.

Kelas

I
31

Jumlah Siswa
L

Jumlah Siswa
L+P

13

22

Dokumentasi SD Negeri 2 Galih Sari (2010)

37

II

10

III

10

17

IV

13

16

VI

11

19

Jumlah

56

41

Sumber : Dokumentasi SD Negeri 2 Galih Sari


K.

Data Keadaan Sarana dan Prasarana


Sarana dan prasarana di SD Negeri 2 Galih Sari cukup memadai, tiap

tahun dilakukan perbaikan dan pembaharuan

baik sarana

maupun

prasarana. Hal ini dilakukan demi kelancaran proses belajar dan mengajar di
SD Negeri 2 Galih Sari.
Gedung yang permanen membuat siswa lebih tenang dan terlindung
saat belajar. Selain itu prasarana seperti alat-alat olah raga dan kesenian
yang cukup lengkap menjadikan siswa dan guru lebih kreatif.
Tabel 4
Keadaan Sarana dan Prasarana SD Negeri 2 Galih Sari
Tahun 2011/2012

No.

Sarana dan Prasarana

Keadaan

Jumlah
Baik

Rusak

Ruang Perpustakaan

Ruang Kepsek

Ruang Guru

38

WC

Bola Sepak

Keyboard

Pianika

12

12

Gitar

Mobiler

100

100

10

Lemari

11

Printer

Sumber : Dokumentasi SD Negeri 2 Galih Sari

Sumber: Dokumentasi MTs Ilham Palembang Tahun Pembelajaran


2009/2010.

I. Daftar Pustaka
Amin, Abdullah. 2001.Pendidikan Agama Islam. Jakarta : Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi dkk.. 2009. Penelitian Tindak Kelas. Jakarta: Bumi
Aksara.

39

Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta:


Bumi Aksara.

Departemen Agama RI,1995. Alquran Dan Terjemahannya, Jakarta:


Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Quran DEPAG, 1995

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta :


Depiknas

Hamalik, Oemar. 2010. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi


Aksara.

Harto,

Kasinyo.2009.Metodologi

Pembelajaran

Berbasis

Active

Learning.Palembang :Grafika Telindo Press.

Isjoni. 2010. Pembelajaran Kooperatif meningkatkan kecerdasan


komunikasi antar peserta Didik. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Mulyasa. 2003. Pembelajaran Kooperatif . Jakarta : BumiAksara.


Poerwadarminta.2007. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka
40

Tim Guru SDN 2 Galih Sari.2010. Jurnal Harian SDN 2 Galih Sari. Galih
Sari

Sudarsono, 2003.Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja Jakarta: Bina


Aksara
http://alhafizh84.wordpress.com/2010/01/16/metode-sosiodrama-danbermain-peranan-role-playing-method/

J. Jadwal Kegiatan
Tabel 1. Jadwal Kegiatan
Bulan
No

Kegiatan

Desembe

Januari

Februari

Maret

r
41

Persiapan

Proposal
2

Pengumpulan

data
3

Pelaksanaan

penelitian
Pengolahan dan

analisa data
Penyelesaian

laporan akhir

42