Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat
manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu
kehidupan yang bermakna, damai dan bermanfaat. Menyadari betapa
pentingnya agama, maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan
setiap pribadi menjadi nyata. Hal ini selaras dengan tujuan Pendidikan Agama
Islam yaitu menghasilkan manusia yang selalu berupaya meyempurnakan
iman, takwa dan akhlak, serta aktif membangun peradaban bangsa yang
bermartabat1 (Depdiknas, 2006 : 6).
Sejalan dengan arus perubahan, kemajuan Iptek, munculnya berbagai
masalah sosial dan moralitas keagamaan, telah membawa banyak orang untuk
mempertanyakan peran pendidikan khususnya pendidikan agama Islam. Tidak
dipungkiri bahwa munculnya banyak kerusuhan, konflik dan kekerasan untuk
sebagian besar adalah cermin dari ketidakberdayaan system pendidikan
khususnya agama di negeri ini.
Hal senada diungkap oleh Amin, Abdullah (2001:59) 2, bahwa
pembelajaran pendidikan agama yang berjalan hingga sekarang lebih banyak
terfokus pada persoalan-persoalan teoritis keagamaan yang bersifat kognitif
semata. Pendidikan agama terasa kurang terkait terhadap persoalan bagaimana
mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi makna dan
nilai yang diinternalisasikan dari diri peserta didik lewat berbagai cara,
1 Departemen Pendidikan Nasional. Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran(Jakarta :
Depdiknas, 2006) h.6
2 Abdullah Amin.Pendidikan Agama Islam (Jakarta : Rineka Cipta,2001) h.59
1

media dan forum. Selanjutnya makna dan nilai yang telah terhayati
tersebut dapat menjadi sumber motivasi bagi peserta didik untuk bergerakberbuat-berperilaku secara konkrit agamis dalam wilayah kehidupan praktis
sehari-hari.
Selama ini, pembelajaran agama Islam berlangsung pasif, di mana
anak didik hanya mendengar dan menerima dari guru tanpa unsur kreativitas.
Guru lebih menanamkan pada

memorisasi,menekankan hafalan daripada

penerapan dan pemikiran yang kritis.


Pengamatan yang dilakukan peneliti baik secara langsung maupun
wawancara dengan para guru di kelas VI SD Negeri 02 Galih Sari di temukan
bahwa banyak siswa yang masih berperilaku tidak terpuji dan bertentangan
dengan ajaran Islam. Hal ini sangat memprihatinkan, memandang bahwa
tahap sekolah dasar adalah tahap pembentukan karakter anak untuk menuju
kedewasaan nantinya. Disamping itu, dalam proses pembelajaran guru masih
menggunakan metode yang konvensional, sehingga siswa hanya menguasai
ranah kognitif tanpa tersentuh ranah afektif dan psikomotoriknya. Beberapa
kejadian tersebut merupakan salah satu kelemahan sistem pembelajaran
khususnya Pendidikan Agama Islam sehingga yang seharusnya siswa
berperilaku terpuji sebagai pengaruh Pendidikan Agama Islam malah
cenderung berperilaku tidak terpuji karena pembelajaran yang dilakukan tidak
bermakna bagi peserta didik itu sendiri3(Tim Guru SDN 2 Galih Sari, 2010 :
37).
Berdasarkan kenyataan di atas, diperlukan model pembelajaran yang
tepat sehingga dapat menyentuh baik ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
Dengan menemukan model pembelajaran yang tepat maka pembelajaran akan
menjadi bermakna dan berpengaruh terhadap perilaku anak sehari-hari,
sehingga anak-anak akan berperilaku terpuji atas dasar kesadaran diri.
3 Tim Guru SDN 2 Galih Sari (Jurnal Harian SDN 2 Galih Sari, 2010) h. 37
2

Banyak model pembelajaran yang dapat digunakan dalam


pembelajaran.

Namun,

tidak

semua

model

sesuai

dengan

karakteristik mata pelajaran, materi dan peserta didik. Khususnya


pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang cenderung
harus dapat mewujudkan perilaku terpuji sesuai kandungan AlQuran dan Hadist dalam kehidupan sehari-hari.
Dari berbagai alasan tersebut salah satu alternatif model
pembelajaran

yang

ingin

peneliti

terapkan

untuk

mengatasi

permasalahan tersebut adalah model bermain peran . Bermain


peran atau role playing merupakan salah satu model pembelajaran
yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang
berkaitan

dengan

hubungan

antarmanusia

(interpersonal

relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik 4.


(Mulyasa, 2003:35)
Pengalaman belajar yang diperoleh dari model ini meliputi,
kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterprestasikan
suatu kejadian. Melalui bermain peran, peserta didik mencoba
mengeksplorasi hubungan-hubungan antar manusia dengan cara
memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersamasama para peserta didik dapat mengeksplorasi parasaan-perasaan,
sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah
Dari uraian yang telah di kemukakan di atas, maka peneliti
berkeinginan untuk mengadakan suatu penelitian tindakan kelas
dengan judul Upaya Meningkatkan Pembiasaan Perilaku Terpuji
melalui Model Bermain Peran pada Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam Di Kelas VI Semester 2 SD Negeri 2 Galih Sari Kecamatan
Lalan Kabupaten Musi Banyuasin.
4 Mulyasa. Pembelajaran Kooperatif ( Jakarta : BumiAksara, 2003)h. 35
3

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah sebagaimana disebutkan
diatas timbulah permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana

Pembiasaan

Perilaku

Terpuji

siswa

sebelum

diterapkan Model Bermain Peran pada Pembelajaran Pendidikan


Agama Islam Di Kelas VI Semester 2 SD Negeri 2 Galih Sari
Kecamatan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin ?
2. Bagaimana

Pembiasaan

Perilaku

Terpuji

siswa

sesudah

diterapkan Model Bermain Peran pada Pembelajaran Pendidikan


Agama Islam Di Kelas VI Semester 2 SD Negeri 2 Galih Sari
Kecamatan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin ?
3. Apakah penerapan Model Bermain Peran dapat meningkatkan
Kebiasaan Perilaku Terpuji siswa pada Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam di kelas VI Semester 2 SD SD Negeri 2 Galih Sari
Kecamatan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin ?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian


Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
Untuk mengetahui bahwa penerapan Model Bermain Peran dapat
meningkatkan Pembiasaan Perilaku Terpuji pada mata pelajaran
Pedidikan Agama Islam kelas VI SD Negeri 2 Galih Sari Kecamatan
Lalan Kabupaten Musi Banyuasin.

Penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk :


1. Siswa
4

Hasil penelitian ini diharapkan

bermanfaat untuk meningkatkan

pembiasaan perilaku terpuji dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari.

2. Guru
Dengan dilaksanakannya penelitian tindakan ini, guru dapat lebih terampil
menggunakan Model Pembelajaran Bermain Peran, guru akan terbiasa
melakukan penelitian kecil yang tentu sangat bermanfaat bagi perbaikan
proses belajar mengajar.
3. Sekolah
Hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan dalam rangka
memperbaiki pembelajaran didalam kelas, peningkatan kualitas sekolah
dan bermanfaat bagi sekolah-sekolah lain.
D. Kajian Pustaka
1. Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik
dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan
bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu
dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap
dan kepercayaan pada peserta didik. Dalam pembelajaran juga dibahas
mengenai belajar, prestasi belajar, hasil belajar, aktivitas, partisipatoris,
motivasi dan minat belajar siswa 5(Hamalik, Oemar,2010).
2. Pembiasaan
5 Hamalik, Oemar. 2010. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
5

Kata pembiasaan berasal dari kata dasar biasa yang


berarti sebagai sedia kala, sebagai yang sudah-sudah, tidak
menyalahi adat, atau tidak aneh. Kata membiasakan berarti
melazimkan, mengadatkan, atau menjadikan adat. Dan kata
kebiasaan berarti sesuatu yang telah biasa dilakukan, atau adat 6
(Poerwadarminta, 2007: 153). Jadi, kata pembiasaan berasal dari
kata dasar biasa yang memperoleh imbuhan prefiks pe dan
sufiks an, yang berarti proses membiasakan, yang pada akhirnya
akan menghasilkan suatu kebiasaan atau adat.
Pembiasaan

merupakan

suatu

pendekatan

dalam

pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Pendekatan pembiasaan


sangat penting dilakukan terutama pada anak usia dini terutama
sekolah dasar. Karena dengan pendekatan pembiasaan siswa akan
dengan

rutin

melakukan

dan

akhirnya

akan

mencapai

pemahaman7.

3. Perilaku Terpuji
Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme
(makhluk hidup)yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut
pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh
tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku,
karena mereka mempunyai aktifitas masing masing. Sehingga
yang dimaksud perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan
atau aktifitas manusia darimanusia itu sendiri yang mempunyai
bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara,
6 Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka, 2007)h.153
7 Harto, Kasinyo.2009.Metodologi Pembelajaran Berbasis Active Learning.Palembang
:Grafika Telindo Press.
6

tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya 8


(Sudarsono, 2003: 114).
Contoh perilaku terpuji yang dibahas dalam penalitian ini
adalah tolong menolong dalam kebaikan. Allah Jalla wa Ala
berfirman dalam Al-Quran yang artinya : Dan tolong-menolonglah
kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan
bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat
siksa-Nya. [Al-Maidah : 2]9

4. Model Pembelajaran Bermain Peran


Model pembelajaran Bermain Peran juga dikenal dengan
nama model pembelajaran Bermain Peran. Pengorganisasian kelas
secara

berkelompok,

masing-masing

kelompok

memperagakan/menampilkan scenario yang telah disiapkan guru.


Siswa diberi kebebasan berimprofisasi namun masih dalam batasbatas skenario dari guru10 (Isjoni, 2010). Dengan bermain peran
siswa

dapat

mengalami

pengalaman

langsung

dengan

memerankan scenario yang telah dibuat, sehingga siswa lebih


memahami dan pembelajaran menjadi lebih bermakna.

8 Sudarsono, Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja (Jakarta: Bina Aksara, 2003)h.114
9 Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek Pengadaan
Al-Quran DEPAG, 1995)

Kitab Suci

10 Isjoni. Pembelajaran Kooperatif meningkatkan kecerdasan komunikasi antar peserta Didik


(Yogyakarta:Pustaka Pelajar.2010) h.49

5. Pendidikan Agama Islam


Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani
berdasarkan

hukum-hukum

agama

Islam

menuju

kepada

terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam 11


(Ramayulis, 1994:14).
Menurut KTSP (2006 : 6)

12

tujuan Pendidikan Islam adalah :

a. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan


pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan,
serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi
manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya
kepada Allah SWT.
b. Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia
yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif,
jujur,

adil,

etis,

berdisiplin,

bertoleransi

(tasamuh),

menjaga

keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya


agama dalam komunitas sekolah.
E. Kerangka Teori
Berdasarkan Kajian pustaka di atas, pembiasaan berasal dari
kata dasar biasa yang memperoleh imbuhan prefiks pe dan
sufiks an, yang berarti proses membiasakan, yang pada akhirnya
akan menghasilkan suatu kebiasaan atau adat. Dalam pendidikan,
jika siswa diberikan pembiasaan pada suatu materi maka akan
timbul kebiasaan yang relatif lama dan melekat pada diri siswa.
11 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 1994)h.14
12 Depdiknas, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Jakarta : Depdiknas,2006) h.6
8

Dalam materi perilaku terpuji pada mata pelajaran PAI,


perilaku terpuji yang akan diajarkan adalah tolong menolong dalam
kebaikan diantaranya mencontohkan mengenai tolong menolong
Kaum muhajirin dan Kaum Anshar13 (Fauzi,2006 :100). Materi ini
akan mudah diajarkan bila siswa dapat mempraktekkan secara
langsung peristiwa tolong menolong tersebut. Untuk itu model
pembelajaran bermain peran sangat tepat digunakan. Hal ini
didukung dengan pendapat Isjoni (2010) bahwa dengan bermain
peran siswa dapat mengalami pengalaman langsung dengan
memerankan scenario yang telah dibuat, sehingga siswa lebih
memahami dan pembelajaran menjadi lebih bermakna 14.
Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka teori di atas, maka
diduga model Bermain Peran dapat meningkatkan pembiasaan
berperilaku terpuji pada mata pelajaran Pedidikan Agama Islam
kelas VI SD Negeri 2 Galih Sari Kecamatan Lalan Kabupaten Musi
Banyuasin.

F. Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam proposal penelitian ini adalah:
Melalui Model Bermain Peran dapat meningkatkan Pembiasaan Perilaku
Terpuji pada mata pelajaran Pedidikan Agama Islam kelas VI SD Negeri 2
Galih Sari Kecamatan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin.
G. Metodologi Penelitian
13 Mohammad Fauzi, Saya InginMenjadi Anak Saleh (Bandung :Grafindo) h.100
14 Isjoni. Pembelajaran Kooperatif meningkatkan kecerdasan komunikasi antar peserta
Didik (Yogyakarta:Pustaka Pelajar.2010) h.49
9

1.

Lokasi Penelitian
Dalam Penelitian ini, peneliti mengambil lokasi di SDN 02 Galih Sari yaitu

terletak di desa Galih Sari kecamatan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin


provinsi Sumatera selatan. Peneliti memilih Sekolah Dasar ini karena sekolah
ini tempat peneliti bertugas menjadi guru bidang study Pendidikan Agama
Islam.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester kedua tahun ajaran
2011/2012. Waktu penelitian ini akan berlangsung selama tiga bulan, mulai
dari tahap persiapn, pelaksanaan, dan penulisan laporan penelitian sejak bulan
Januari hingga bulan Maret pada semester II tahun pelajaran 2011/2012.
3. Subjek yang Diteliti
Dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti mengambil sebagai subjek
penelitian adalah siswa kelas VI SD N 02 Galih Sari, dengan jumlah siswa
sebanyak 19 orang.

4.

Prosedur Penelitian
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah menggunakan

pendekatan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Penelitian


dilaksanakan dalam 2 siklus.
Menurut Arikunto (2009)15 terdapat empat tahapan penelitian tindakan yaitu
(1) perencanaan, (2) pelaksanaan. (3) pengamatan, dan (4) refleksi.
Model untuk masing-masing tahap adalah sebagai berikut.

15 Arikunto, Suharsimi dkk. Penelitian Tindak Kelas (Jakarta: Bumi Aksara,2009)

10

dst.

Gambar 1. Tahapan penelitian tindak kelas (Arikunto, 2009:16)

1) Tahap Perencanaan
Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan,
dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penelitian
tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak
yang melakukan tindakan dan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan
(Arikunto:2009)16.
Langkah awal kegiatan perencanaan tindakan diawali dengan
menganalisis kompetensi pembelajaran sebagimana yang tertuang dalam
kurikulum (analisis pengembangan tujuan, menetapkan materi pelajaran,
16 Arikunto, Suharsimi dkk. Penelitian Tindak Kelas (Jakarta: Bumi Aksara,2009)
11

menelaah buku paket Agama Islam yang ada , menyusun RPP, membuat
media atau alat peraga pembelajaran, membuat instrumen data (misalnya
pedoman observasi, wawancara, angket).
2) Tahap pelaksanaan
Tahap pelaksanaan merupakan implementasi atau penerapan isi
rancangan, yaitu mengenakan tindakan di kelas17 (Arikunto:2009). Dalam
tahap ini guru harus ingat dan berusaha mentaati apa yang telah dirumuskan
dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak di buat- buat.
Kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanan tindakan ini dilakukan
dalam 2 siklus penelitian dengan kegiatan utama pembelajaran adalah dengan
model pembelajaran bermain peran. Selama kegiatan pembelajaran, kegiatan
pengamatan dilakukan untuk melihat efek dari pemberian tindakan.

3) Tahap pengamatan
Menurut Arikunto

18

(2009) tahap pengamatan merupakan kegiatan

pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Pengamatan berlangsung


bersamaan dengan proses pelaksanaan. Saat proses pembelajaran berlangsung,
guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar
memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus berikutnya.
4) Tahap Refleksi

17 Arikunto, Suharsimi dkk. Penelitian Tindak Kelas (Jakarta: Bumi Aksara,2009)


18 Arikunto, Suharsimi dkk. Penelitian Tindak Kelas (Jakarta: Bumi Aksara,2009)
12

Menurut Arikunto19(2009) refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakan


kembali apa yang sudah dilakukan. Kegiatan refleksi dilakukan ketika guru
sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti
untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan.
Jadi refleksi merupakan kegiatan mengingat dan merenungkan suatu tindakan
yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami proses,
masalah, persoalan, dan kendala yang nyata dalam tindakan. Refleksi biasanya
dibantu dengan diskusi di antara peneliti dan kolaborator. Melalui diskusi,
refleksi memberikan dasar rencana perbaikan untuk kegiatan pembelajaran
berikutnya.

Tahapannya

meliputi

analisis

data,

memaknakan

data,

menyimpulkan kemudian merencanakan tindakan selanjutnya.


5.

Deskripsi per Siklus


a. Siklus I
1) Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini meliputi:
a) Membuat skenario pelaksanaan tindakan yang tertuang dalam RPP yang
direncanakan dengan materi perilaku terpuji
b) Membuat alat bantu mengajar yang diperlukan dalam rangka membantu
siswa memahami konsep-konsep PAI dengan baik dalam pelaksanaan
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran bermain peran.
c) Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana suasana belajar
mengajar dengan model pembelajaran bermain peran.
d) Mendesain alat evaluasi untuk melihat penguasaan materi PAI siswa.
2) Pelaksanaan Tindakan
Melaksanakan pembelajaran dengan skenario model pembelajaran
bermain peran berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah

19 Arikunto, Suharsimi dkk. Penelitian Tindak Kelas (Jakarta: Bumi Aksara,2009)


13

disusun. Dalam setiap akhir pembelajaran diadakan tes sikap siswa. Pada
setiap akhir pembelajaran dilakukan proses evaluasi pembelajaran, evaluasi
tersebut dilakukan untuk melihat apakah ada atau tidak peningkatan
pembiasaan perilaku terpuji siswa. Alat evaluasi yang digunakan berupa
lembar pengamatan yang disusun oleh peneliti.
3) Observasi
Observasi dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi yang
telah dibuat. Pelaksanaan observasi ini dilaksanakan oleh teman sejawat yaitu
guru kelas VI sebagai pengamat dalam proses pembelajaran.
Observasi dilakukan dengan tujuan untuk mengukur keaktifan dan
pembiasaan perilaku terpuji siswa dalam proses pembelajaran menggunakan
model pembelajaran bermain peran.
Lembar observasi dibuat sedemikian rupa oleh peneliti dengan diukur
menggunakan indicator yang sesuai. Indikator yang diukur meliputi:
a. Pembiasaan Tolong Menolong dalam kebaikan dengan rentang skor 1-50.
b. Pembiasaan Gigih dalam kebaikan dengan rentang skor 1-50.
4) Refleksi
Hasil (data) yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi
dianalisis dan dimaknai bersama dengan teman sejawat. Kelemahankelemahan atau kekurangan-kekurangan yang terjadi pada setiap siklus akan
menjadi bahan rekomendasi revisi kegiatan siklus berikutnya. Bentuk
antisipasi dilakukan dengan menugaskan siswa membaca materi sebelumnya
dan memberinya tugas mengenai materi berikutnya.
b. Siklus II (tahapan penelitian sama dengan siklus I).
c. Siklus III (tahapan penelitian sama dengan siklus I dan II).

14

6. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah:


a) Tes
Tes digunakan untuk mengungkap data tentang hasil belajar siswa
pada setiap akhir pembelajaran di setiap siklus . Bentuk dari instrumen tes di
dalam penelitian ini adalah tes tertulis yaitu pilihan ganda. Banyak soal
berjumlah 10 butir.
b) Observasi
Observasi yang dilaksanakan menggunakan lembar pengamatan
terhadap kegiatan dalam pembelajaran dan pembiasaan perilaku terpuji siswa.
Data observasi ini jadikan sebagai bahan untuk refleksi setiap siklus. Peneliti
menggunakan lembar observasi sebagai instrument pengamatan.
7. Teknik Analisis Data
Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
menggunakan analisis deskriptis kualitatif. Teknik ini digunakan untuk
mengolah data yang bersifat kualitatif, baik yang berhubungan dengan
keberhasilan proses maupun hasil pembelajaran. Adapun data yang bersifat
kuantitatif dianalisis dengan teknik deskriptif kuantitatif sederhana. Dalam
menganalisa data peneliti membandingkan hasil ulangan siswa sebelum
tindakan dengan hasil ulangan siswa setelah tindakan. Dari hasil analisis data
akan ditarik kesimpulan secara keseluruhan dengan menyatakan kebenaran
hipotesis tindakan yang telah ditetapkan.
Untuk menghitung tingkat keberhasilan menggunakan rumus :
F
P = N X 100

(Hamalik, 2010:123)20

20 Hamalik, Oemar. 2010. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

15

Keterangan
P = persentase keberhasilan siswa
F = Jumlah skor yang diperoleh siswa
N = jumlah skor maksimun
Data hasil

belajar siswa dianalisa secara deskriptif dengan

menggunakan analisa statistic deskriptif. Mencari nilai rata-rata siswa dan


persentase keberhasilan belajar yang mengacu pada KKM siswa.
1) Mencari nilai rata-rata siswa dapat dilakukan dengan menggunakan
rumus :
Me =

JN
S

Keterangan : Me = nilai rata-rata siswa


JN = Jumlah nilai seluruh siswa
S = Jumlah seluruh siswa

2) Persentase ketuntasan siswa yang memenuhi standar KKM, diperoleh


dengan rumus :
PK =
Keterangan :

SK
S

x 100 %

PK : Persentase Ketuntasan
SK : Jumlah siswa yang memenuhi ketuntasan
S : jumlah seluruh siswa.

3) Menghitung persentase setiap siklus. Untuk menghitung persentase


digunakan rumus:

16

NP=

Me 2Me 1
x 100
Me1

Keterangan :
NP

= Persentase

Me1

= Nilai rata-rata siklus 1

Me2

= Nilai rata-rata siklus 2

8. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini tercapai apabila
siswa kelas VI SD N 02 Galih Sari lebih dari 85% dapat mengalami
peningkatan pembiasaan perilaku terpuji.
H. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan penelitian ini terdiri dari bab-bab antara lain :
Bab I terdiri dari latar belakang, masalah, rumusan masalah, tujuan
dan kegunaan penelitian, kajian pustaka, kerangka teori, hipotesis, metodologi
penelitian, sistematika proposal, daftar pustaka dan jadwal penelitian.
Bab II yaitu landasan teori berupa definisi pembelajaran, hasil dan
faktor yang mempengaruhi belajar, aktivitas, motivasi belajar, pembiasaan,
perilaku terpuji, model bermain peran beserta langkah-langkahnya, dan
Pendidikan Agama Islam.
17

Bab III yaitu setting wilayah penelitian SDN 2 Galih Sari Kecamatan
Lalan Kabupaten Musi Banyuasin, mengenai : sejarah berdiri, letak,
ketenagaan pendidikan, keadaan siswa, sarana prasarana dan struktur
organisasi sekolah.
Bab IV yaitu hasil penelitian dan pembahasan, meliputi hasil
pengolahan data mengenai meningkatkan pembiasaan perilaku terpuji melalui
model bermain peran pada pembelajaran PAI di kelas VI semester 2 SD
Negeri 2 Galih Sari Kecamatan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin. Bab V
yaitu penutup, meliputi kesimpulan dan saran.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pembelajaran
1. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik
dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan
bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu
dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap
dan kepercayaan pada peserta didik. Dalam pembelajaran juga dibahas
mengenai belajar, prestasi belajar, hasil belajar, aktivitas, partisipatoris,
motivasi dan minat belajar siswa 21(Hamalik, Oemar,2010).
2. Pengertian Belajar
Belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai
seseorang melalui aktifitas (Suprijono,2009:02)22. Menurut winataputra,dkk
21 Hamalik, Oemar. 2010. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
22 Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning, Teori & Aplikasi PAIKEM. Surabaya:
Pustaka Pelajar.h 2
18

(2008:1.5) menyatakan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan oleh


manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skills, and attitudes.
Sedangkan Riyanto (2009:5)23 menyatakan bahwa belajar merupakan
pengaitan pengetahuan baru pada struktur kognitif yang sudah dimiliki si
belajar. Hal ini diartikan bahwa dalam proses belajar, siswa akan
menghubung-hubungkan pengetahuan atau ilmu yang telah tersimpan dalam
memorinya dan kemusian menghubungkannya dengan pengetahuan baru.
Dengan kata lain, belajar adalah suatu proses untuk mengubah performansi
yang tidak terbatas pada keterampilan, tetapi juga meliputi fungsi-fungsi,
seperti skill, persepsi, emosi, proses berfikir, sehingga dapat menghasilkan
perbaikan performansi.
Hal ini sejalan dengan pendapat Sagala (2009)24 bahwa kosep belajar
itu selalu menunjukan kepada suatu proses perubahan perilaku atau pribadi
seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu dan hal hal pokok
dalam pengertian belajar adalah belajar membawa perubahan tingkah laku
karena pengalaman dan latihan, perubahan itu pada pokoknya didapatkan
kecakapan baru dan perubahan itu terjadi karena usaha yang disengaja.
Sudjana (2009:28)25, menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses
yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan
sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti
berubah pemahamannya, pengetahuannya, sikap dan tingkah lakunya, daya
penerimaan dan lain-lain aspek yang ada pada individu siswa.

23 Riyanto, Yatim.2009. Paradigma Baru Pembelajaran;Sebagai Referensi Bagi Pendidik Dalam


Implementasi Yang Efektif Dan Berkuaslitas. Jakarta: Prenada Media.h 5

24 Sagala, Syaiful.2003. Konsep Dan Makna Pembelajaran, Untuk Membantu Memecahkan


Problematika Belajar Dan Mengajar. Bandung:Alfabeta.
25 Sudjana, Nana. 2009. Penilaian hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja
Rosdakarya.h 26
19

Sementara itu Slameto (2010)26 mendefinisikan belajar sebagai suatu


proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar
adalah serangkaian proses

berfikir untuk memperoleh suatu perubahan

tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan
lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.

3. Hasil Belajar
Hasil belajar
kualitas hasil

belajar

tidak dapat dipisahkan dari proses belajar, karena


dipengaruhi

oleh

proses

belajar

itu

sendiri.

Menurut Winkel (2007)27 bahwa proses belajar yang dialami oleh siswa
menghasilkan

perubahan-perubahan

dalam

bidang

pengetahuan

dan

pemahaman dalam bidang nilai, sikap dan keterampilan.


Berbeda

dengan

pernyataan

Marsun

dan

Martaniah

(dalam

Wahyuningsih, 2004)28 hasil belajar yaitu sejauh mana siswa menguasai


bahan pelajaran yang diajarkan,

yang

diikuti

dengan

munculnya

perasaan puas bahwa ia telah melakukan sesuatu yang baik. Hal ini
berarti bahwa hasil belajar

hanya

bisa diketahui jika telah dilakukan

penilaian.
26 Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Jakarta: Bumi Aksara


27 Winkel, W.S. 2007. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Grasindo.
28 Wahyuningsih, W.A. 2004. Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Prestasi Belajar
Pada Siswa Kelas II SMU Lab School. Skripsi. Jakarta: Universitas Persada Indonesia Y.A.I.

20

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2005:36)29 hasil belajar merupakan


hasil suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar dan biasanya pada
individu yang belajar, jadi hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang
dari dua sisi yaitu sisi siswa dan sisi guru. Tingkat perkembangan mental
tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Pendapat tersebut menyatakan bila dilihat dari sisi siswa, hasil belajar
merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan
pada saat sebelum belajar, sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan
saat terselesaikannya bahan pelajaran.
Dari beberapa definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil
belajar merupakan usaha yang dicapai siswa berupa suatu kecakapan
dari

kegiatan belajar yang dapat

Adanya

perubahan tersebut

diketahui setelah dilakukan penilaian.

tampak dalam hasil belajar yang diperoleh

siswa terhadap pemberian pertanyaan atau tugas oleh guru. Hasil


memberi

informasi

belajar

kemajuan-kemajuan yang telah dicapai dalam belajar

baik siswa maupun guru.


4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Untuk mencapai hasil belajar, banyak faktor yang mempengaruhinya.
Menurut Slameto (2010:54-71)30, faktor yang mempengaruhi hasil belajar
siswa dapat digolongkan menjadi faktor intern dan faktor ekstern. Faktor
intern, yaitu faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar,
meliputi: faktor jasmaniah, berupa kesehatan dan cacat tubuh; faktor
psikologis, berupa inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan
kesiapan; faktor kelelahan, berupa kelelahan jasmani dan psikis.
29 Dimyati dan Mudjiono.2005.Belajar dan Pembelajaran.. Jakarta : Rineka Cipta.h.36
30 Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Jakarta: Bumi Aksara. h.54


21

Faktor ekstern, yaitu faktor yang ada di luar individu yang sedang
belajar, meliputi: faktor keluarga, berupa cara orang tua mendidik, relasi
antaranggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, perhatian
orang tua dan latar belakang kebudayaan; faktor sekolah, berupa metode
mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa,
disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, stndar pelajaran di atas
ukuran, keadaan gedung sekolah, metode belajar dan tugas rumah; faktor
masyarakat, berupa kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman
bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.
Menurut Hanafiah (2009:8-10), faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan belajar, antara lain:
1. Peserta didik dengan sejumlah latar belakangnya
2. Pengajar yang profesional
3. Atmosfir pembelajaran partisipatif dan interaktif
4. Sarana dan prasarana
5. Kurikulum
6. Lingkungan agama, sosial, budaya, politik, ekonomi, ilmu dan teknologi
serta lingkungan alam sekitar
7. Atmosfir kepemimpinan belajar yang sehat, partisipatif, demokratis, dan
situasional
8. Pembiayaan yang memadai
Jadi, untuk menunjang keberhasilan belajar siswa diharapkan adanya
pengajar yang professional yaitu seorang guru harus memiliki kemampuan
dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang baik dan terarah. Selain
itu harus memberikan suasana yang nyaman kepada siswa untuk belajar di
sekolah serta pemenuhan fasilitas pendidikan yang baik.

5. Aktivitas
22

Aktivitas belajar adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan siswa


dalam mengikuti pembelajaran sehingga menimbulkan perilaku belajar pada
diri siswa. Paul D. Dierich mengklasifikasikan aktivitas belajar atas delapan
kelompok, yaitu:
1. Kegiatan-kegiatan Visual : Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati
eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja dan
bermain.
2. Kegiatan-kegiatan Lisan (oral) : Mengemukakan suatu fakta atau prinsip,
menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran,
mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi.
3. Kegiatan-kegiatan Mendengarkan : Mendengarkan penyajian bahan,
mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu
permainan, mendengarkan radio.
4. Kegiatan-kegiatan Menulis : Menulis cerita, menulis laporan, memeriksa
karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes dan
mengisi angket.
5. Kegiatan-kegiatan Menggambar : Menggambar, membuat grafik, chart,
diagram, peta dan pola.
6. Kegiatan-kegiatan Metrik : Melakukan percobaan, memilih alat-alat,
melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan,
menari dan berkebun.
7. Kegiatan-kegiatan Mental : Merenung, mengingat, memecahkan masalah,
menganalisis faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan dan membuat
keputusan.
8. Kegiatan-kegiatan Emosional : Minat, membedakan, berani, tenang dan
lain-lain.
(Oemar Hamalik , 2008:172)31
31 Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. (Jakarta : Bumi Aksara) h. 172
23

6. Motivasi
Huitt, W. (2001)32 mengatakan motivasi adalah suatu kondisi atau
status internal (kadang-kadang diartikan sebagai kebutuhan, keinginan, atau
hasrat) yang mengarahkan perilaku seseorang untuk aktif bertindak dalam
rangka mencapai suatu tujuan. Jadi ada tiga kata kunci tentang pengertian
motivasi menurut Huitt, yaitu: 1) kondisi atau status internal itu mengaktifkan
dan memberi arah pada perilaku seseorang; 2) keinginan yang memberi
tenaga dan mengarahkan perilaku seseorang untuk mencapai suatu tujuan; 3)
Tingkat kebutuhan dan keinginan akan berpengaruh terhadap intensitas
perilaku seseorang.
Thursan Hakim (2000 : 26)33 mengemukakan pengertian motivasi
adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan
suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam belajar, tingkat
ketekunan siswa sangat ditentukan oleh adanya motif dan kuat lemahnya
motivasi belajar yang ditimbulkan motif tersebut.
Pengertian motivasi yang lebih lengkap menurut Sudarwan Danim
(2004 : 2) motivasi diartikan sebagai kekuatan, dorongan, kebutuhan,
semangat, tekanan, atau mekanisme psikologis yang mendorong seseorang
atau sekelompok orang untuk mencapai prestasi tertentu sesuai dengan apa
yang dikehendakinya. Motivasi paling tidak memuat tiga unsur esensial, yakni
: (1) faktor pendorong atau pembangkit motif, baik internal maupun eksternal,
(2) tujuan yang ingin dicapai, (3) strategi yang diperlukan oleh individu atau
kelompok untuk mencapai tujuan tersebut.
Motivasi merupakan suatu proses psikologis yang mencerminkan
sikap, kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang.
32 http://sunartombs.wordpress.com/2008/09/23/motivasi-belajar/diakses tanggal 12 fFebruari 2012

33 http://sunartombs.wordpress.com/2008/09/23/motivasi-belajar/diakses tanggal 12
fFebruari 2012
24

Motivasi sebagai proses psikologis timbul diakibatkan oleh factor di dalam


diri seseorang itu sendiri yang disebut instrinsik sedangkan factor di luar diri
disebut ekstrinsik.
Faktor instrinsik berupa kepribadian, sikap, pengalaman dan
pendidikan, atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau ke masa depan.
Sedangkan factor ekstrinsik dapat ditimbulkan oleh berbagai sumber, bisa
karena pengaruh pimpinan, kolega atau faktor-faktor lain yang kompleks.
Menurut Hermine Marshall Istilah motivasi belajar mempunyai arti yang
sedikit berbeda. Ia menggambarkan bahwa motivasi belajar adalah
kebermaknaan, nilai, dan keuntungan-keuntungan kegiatan belajar belajar
tersebut cukup menarik bagi siswa untuk melakukan kegiatan belajar.
Pendapat lain motivasi belajar itu ditandai oleh jangka panjang, kualitas
keterlibatan di dalam pelajaran dan kesanggupan untuk melakukan proses
belajar ( Carole Ames: 1990)34.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah
kesanggupan untuk melakukan kegiatan belajar karena didorong oleh
keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dari dalam dirinya ataupun yang
datang dari luar. Kegiatan itu dilakukan dengan kesungguhan hati dan terus
menerus dalam rangka mencapai tujuan.
B. Pembiasaan
Dalam kehidupan sehari-hari pembiasaan itu sangat penting, karena
banyak orang yang berbuat atau bertingkah laku hanya karena kebiasaan
semata- mata. Tanpa itu hidup seseorang akan berjalan lambat sekali, sebab
sebelum melakukan sesuatu ia harus memikirkan terlebih dahulu apa yang
akan dilakukan. Pembiasaan ini akan memberikan kesempatan kepada peserta

34 http://sunartombs.wordpress.com/2008/09/23/motivasi-belajar/diakses tanggal 12
Februari 2012
25

didik terbiasa mengamalkan ajaran agamanya, baik secara individual maupun


secara berkelompok dalam kehidupan sehari-hari (Azis : 2011)35.
Dalam penelitian ini, pembiasaan yang dimaksudkan adalah
pembiasaan perilaku terpuji. Jika perilaku terpuji dilakukan dengan terus
menerus maka tanpa berfikir siswa akan terbiasa melakukan perilaku terpuji
di manapun dan kapanpun mereka berada.
C. Metode Bermain Peran
1. Pengertian Metode Bermain Peran
Menurut Dr.E. Mulyasa, M.pd. ( 2004 : 141 ) 36 terdapat empat asumsi
yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan prilaku
dan nilai sosial, yang kedudukannya sejajar dengan model model mengajar
lainnya. Ke empat asumsi tersebut sebagai berikut :
secara implisit bermain peran mendukung suatu situasi belajar berdasarkan
pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi disini pada
saat ini . Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan
menciptakan analogi mengenai situasi kehidupan nyata. Terhadap analogi
yang diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan
respon emosional sambil belajar dari respons orang lain.
Bermain

peran

memungkinkan

para

peserta

didik

untuk

mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada


orang lain. Bermain peran dalam konteks pembelajaran memandang bahwa
diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan kegiatan
utama dan integral dari pembelajaran.

35 http://unicahyadotcom.wordpress.com/2011/09/17/metode-pembiasaan-dalampendidikan-agama-islam/diakses tanggal 12 Februari 2012


36 Mulyasa, E. 2004. Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK.
Bandung: Remaja Rosdakarya.h 141
26

Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat


diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses
kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja
muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang di perankan. Dengan
demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang
cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk
mengembangkan dirinya secara optimal. Oleh sebab itu, model mengajar ini
berusaha mengurangi peran guru yang terlalu mendominasi pembelajaran
dalam pendekatan tradisional. Model bermain peran dapat mendorong peserta
didik untuk turut aktif dalam pemecahan masalah sambil menyimak secara
seksama. Bagaimana orang lain berbicara mengenai masalah yang sedang
dihadapi.
Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang
tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan sistem keyakinan dapat
diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan, denagan
demikian para peserta didik dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai
dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu
dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang lain, para peserta didik sulit
untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya. Terdapat tiga hal yang
menentukan kualitas dan keefektifan bermain peran sebagai model
pembelajaran, yakni : (1) kualitas pemeranan (2) analisis dalam diskusi (3)
pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan
dengan situasi kehidupan nyata.
2. Langkah-langkah Metode Bermain Peran
Menurut Shaftel ( 1967 )37 mengemukakan sembilan tahap bermain
peran

yang

dapat

dijadikan

pedoman

dalam

pembelajaran

(1)

37 Mulyasa, E. 2004. Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK.


Bandung: Remaja Rosdakarya.h 141
27

menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik, (2) memilih partisipan/


peran (3) menyusun tahap-tahap peran (4) menyiapkan pengamat (5)
pemeranan (6) diskusi dan evaluasi (7) pemeranan ulang (8) diskusi dan
evaluasi tahap dua (9) membagi pengalaman dan kesimpulan. Kesembilan
tahap tersebut dijelaskan sebagai berikut.
Menghangatkan suasana kelompok, termasuk mengantarkan peserta
didik terhadap masalah pembelajaran yang perlu dipelajari.. Masalah dapat di
angkat dari kehidupan peserta didik, agar dapat merasakan masalah itu hadir
dihadapkan mereka. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan untuk memotivasi
peserta didik agar tertarik pada masalah karena itu tahap ini sangat penting
dalam bermain peran dan paling menentukan keberhasilan.
Memilih peran dalam pembelajaran. Tahap ini peserta didik dan guru
mendeskripsikan berbagai watak atau karakter, apa yang mereka suka,
bagaimana mereka merasakan, dan apa yang harus mereka kerjakan,
kemudian para peserta didik diberi kesempatan secara sukarela untuk menjadi
pemeran.
Menyusun tahap-tahap baru, pada tahap-tahap ini para pemeran
menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Dalam hal ini, tidak
perlu ada dialog khusus karena para peserta didik dituntut untuk bertindak dan
berbicara secara spontan.
Menyiapkan pengamat, sebaiknya pengamat dipersiapkan secara
matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar semua peserta
didik turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif
mendiskusikannya.
Tahap pemeran, pada tahap ini para peserta didik mulai beraksi secara
spontan, sesuai dengan peran masing-masing. Mereka berusaha memainkan
setiap peran seperti benar-benar dialaminya. Adakalanya para peserta didik
keasyikan bermain peran sehingga tanpa disadari telah memakan waktu yang

28

terlalu lama. Dalam hal ini guru perlu menilai kapan bermain perlu
dihentikan.
Diskusi dan evaluasi pembelajaran, diskusi akan mudah dimulai jika
pemeran dan pengamat telah terlibat dalam bermain peran, baik secara
emosional maupun secara intelektual.
Pemeranan ulang, dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan diskusi
mengenai alternatif pemeranan. Mungkin ada perubahan peran watak yang
dituntut. Perubahan ini memungkinkan adanya perkembangan baru dalam
upaya pemecahan masalah. Setiap perubahan peran akan mempengaruhi peran
lainnya.
Diskusi dan evaluasi tahap dua, diskusi dan evaluasi pada tahap ini
sama seperti pada tahap enam, hanya dimaksudkan untuk menganalisis hasil
pemeranan ulang, dan pemecahan masalah pada tahap ini mungkin sudah
lebih jelas.
Membagi pengalaman dan pengambilan kesimpulan, tahap ini tidak
harus menghasilkan generalisasi secara langsung karena tujuan utama bermain
peran ialah membantu para peserta didik untuk memperoleh pengalaman
berharga dalam hidupnya melalui kegiatan interaksional dengan temannya.
Pada tahap akhir para peserta didik saling mengemukakan pengalaman
hidupnya dalam berhadapan dengan orang tua, guru, teman dan sebagainya.
Semua pengalaman peserta didik dapat diungkap atau muncul secara spontan.
D. Materi Pembelajaran PAI
Perilaku Terpuji
1. Gigih
Gigih merupakan sikap mental yang menggambarkan kesungguhan
dan keuletan dalam mencapai tujuan. Sikap gigih ditunjukkan dengan sikap
tidak mudah putus asa.

29

Untuk mencapai tujuan bukan hal yang mudah,


diperlukan kegigihan. Dalam mencapai cita-cita dan
tujuan, manusia banyak menjumpai halangan dan
hambatan. Selain hambatan yang dating dari dalam
dirinya seperti rasa malas, rasa jenuh dan stress manusia
juga harus menghadapi hambatan dari luar dirinya.
Hambatan yang dijumpai harus dihadapi dengan
kerja keras dan kegigihan. Rasa putus asa hanya akan membuat seseorang
sulit mencapai cita-citanya. Allah menyuruh manusia untuk senantiasa gigih
dan pantang berputus asa. Allah berfirman dalam al-Quran surah yusuf ayat
87 berikut.

Dan janganlah kamu berputus asa atas rahmat Allah. Sesungguhnya tiada
berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum kafir.(QS. Yusuf : 87)
Anak yang berprestasi adalah mereka yang gigih memperjuangkan
cita-citanya dan tidak mudah putus asa. Halangan dan rintangan dihadapi
dengan kesabaran dan hasilnya ia akan bertawakal kepada Allah SWT.
Kaum Muhajirin dan Anshar bias membangun kota Madinah yang
bercahaya (Madinah al munawaroh) karena kegigihan dan usaha saling
menolong. Kaum Muhajirin berusaha hijrah dengan menghadapi rintangan
musyrikin Quraisy yang kejam. Atas kerja keras dan pertolongan Allah
kesuksesan membangun masyarakat Islam dapat tercapai (Fauzi, 2008 :99)38
2. Tolong Menolong
38 Fauzi, Mohammad. 2008. Saya Ingin Menjadi Anak Saleh PAI untuk Kelas VI SD.
Jakarta : Grafindo. h.99
30

Tolong menolong merupakan sikap terpuji. Apabila kita menolong


sesame yang memerlukan, Allah akan memberikan pahala. Menolong orang
lain tidak hanya dengan harta atau uang. Menolong sesame bias dilakukan
dengan tenaga dan pemikiran atau ide.
Tolong menolong akan mendapat pahala jika dalam urusan kebaikan.
Tolong menolong dilarang jika dalam hal kemaksiatan atau dosa. Meminjami
teman bolpoin adalah perbuatan terpuji. Memberi contekan kepada teman
ketika sedang ujian adalah perbuatan yang tercela. Tentang perintah untuk
tolong menolong diterangkan dalam al-Quran surah al-Maidah ayat 2 berikut.

Tolong menolonglah dalam kebaikan dan jangan tolong menolong dalam


keburukan dan permusuhan (QS. Al-Maidah : 2)
Islam menganjurkan agar umatnya selalu tolong menolong. Menolong
harus dengan keikhlasan dan mengharap ridho Allah. Pahala menolong akan
hilang jika dilandasi ingin diketahui orang lain atau riya.
Dalam kehidupan masyarakat biasa dikembangkan sikap tolong
menolong dan bekerja sama. Bergotong royong merupakan contoh sikap
bekerja sama. Sikap tolong menolong dan bekerja sama dilakukan oleh kaum
muhajirin dan Anshar dalam membangun kota Madinah.
Ukhuwah Islamiyah dan kerukunan uamt di Madinah tercipta salah
satunya karena kebiasaan tolong menolong pada masyarakat Madinah.
Mereka membangun masjid Nabawi dan menjadikannya sebagai pusat
pendidikan dan pengawasan pemerintah kota . Masjid Nabawi di bangun atas
dasar ikatan persaudaraan dan semangat tolong menolong.
Tolong menolong banyak manfaatnya, berikut ini manfaat dari tolong
menolong :
1. Memupuk rasa persaudaraan antar sesama manusia.
31

2. Mempermudah dan mempercepat terselesaikannya suatu pekerjaan.


3. Meringankan beban orang lain dan mendapat pahala bagi yang menolong.
4. Mendapat rida Allah, karena Allah mencintai makhluk-Nya yang
senantiasa menolong sesama manusia.
Kedamaian dan kerukunan antar umat di Madinah terbina salah
satunya karena kebiasaan penduduknya saling menolong. Terlepasnya beban
seseorang bisa dilakukan salah satunya apabila seseorang mau menolong
sesamanya. Mengingat tolong-menolong adalah perilaku terpuji, maka Allah
memerintahkan untuk senantiasa menjalankannya (Fauzi, 2008:102)39.

I. Daftar Pustaka
Amin, Abdullah. 2001.Pendidikan Agama Islam. Jakarta : Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi dkk.. 2009. Penelitian Tindak Kelas. Jakarta: Bumi
Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara.
Departemen Agama RI,1995. Alquran Dan Terjemahannya, Jakarta: Proyek
Pengadaan Kitab Suci Al-Quran DEPAG, 1995
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta : Depiknas
Hamalik, Oemar. 2010. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Harto,

Kasinyo.2009.Metodologi
Pembelajaran
Learning.Palembang :Grafika Telindo Press.

Berbasis

Active

39 Fauzi, Mohammad. 2008. Saya Ingin Menjadi Anak Saleh PAI untuk Kelas VI SD.
Jakarta : Grafindo. h.99
32

Isjoni. 2010. Pembelajaran Kooperatif meningkatkan kecerdasan komunikasi


antar peserta Didik. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Mulyasa. 2003. Pembelajaran Kooperatif . Jakarta : BumiAksara.

Poerwadarminta.2007. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka


Tim Guru SDN 2 Galih Sari.2010. Jurnal Harian SDN 2 Galih Sari. Galih Sari
Sudarsono, 2003.Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja Jakarta: Bina Aksara

J. Jadwal Kegiatan
Tabel 1. Jadwal Kegiatan
Bulan

No

Kegiatan

Persiapan Proposal

Pengumpulan data

Pelaksanaan

penelitian
Pengolahan dan

Desember

Januari

Februari

Maret

analisa data

33

Penyelesaian

laporan akhir

34