Anda di halaman 1dari 102

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI DENGAN

MEMANFAATKAN SISTEM RESI GUDANG STUDI KASUS


GAPOKTAN JAYA TANI INDRAMAYU

SKRIPSI

ADI FEBRIAN
H34070072

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011

RINGKASAN
ADI FEBRIAN. Analisis Pendapatan Usahatani Padi dengan Memanfaatkan
Sistem Resi Gudang Studi Kasus Gapoktan Jaya Tani Indramayu. Skripsi.
Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manejemen, Institut Pertanian
Bogor (Di bawah bimbingan YUSALINA).
Salah satu sasaran utama pembangunan pertanian dewasa ini adalah
peningkatan produksi pertanian dan pendapatan petani, karena itu kegiatan di
sektor pertanian diusahakan agar dapat berjalan lancar dengan peningkatan
produk pangan yang baik. Padi adalah tanaman pangan utama di Indonesia karena
Indonesia adalah negara dengan penduduk yang mengonsumsi beras sebagai
makanan utama. Dengan demikian, padi merupakan salah satu komoditi yang
mempunyai prospek menambah pendapatan para petani. Untuk memperoleh
pendapatan yang memadai, maka petani dituntut kecermatannya dalam
mempelajari perkembangan harga agar dapat menentukan pilihan dalam
memutuskan untuk menjual atau menahan hasil produksinya.
Untuk membantu petani dalam meningkatkan pendapatan usahatani
pemerintah mengeluarkan sistem pemasaran, yaitu Sistem Resi Gudang (SRG)
untuk membantu peningkatan posisi tawar petani dan Pasar Lelang Resi Gudang.
Sistem Resi Gudang merupakan dokumen yang membuktikan bahwa suatu
komoditas dengan jumlah dan kualitas tertentu telah disimpan dalam suatu
gudang. Salah satu gudang yang dibangun pemerintah adalah gudang SRG di
Indramayu Jawa Barat, karena Jawa Barat merupakan provinsi dengan produksi
padi tertinggi di Indonesia dengan Indramayu sebagai salah satu sentra padi di
Jawa Barat. Berdasarkan skema SRG, petani tidak lagi terpaksa harus menjual
hasil panennya dengan harga yang rendah, melainkan dapat melakukan tunda jual
dengan menyimpan hasil panennya di gudang, memperoleh resi gudang, dan
memanfaatkan sebagai agunan untuk memperoleh pinjaman dari perbankan atau
lembaga keuangan non bank. Pinjaman tersebut dapat dimanfaatkannya untuk
membiayai kebutuhan hidup sehari-hari, atau membeli bibit melanjutkan kegiatan
usahanya, sambil menunggu harga komoditas membaik. Saat harga komoditas
membaik, petani dapat menjual atau mengalihkan SRG miliknya, sehingga petani
dapat merasakan dan memperoleh keuntungan optimal dari usahanya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi manfaat dari penerapan
Sistem Resi Gudang bagi petani dan membandingkan tingkat pendapatan
usahatani padi yang menerapkan Sistem Resi Gudang dan yang tidak
memanfaatkannya. Informasi dan data yang dikumpulkan dalam penelitian ini
meliputi data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil pengisian
kuesioner oleh petani responden baik yang telah memanfaatkan SRG maupun
belum memanfaatkannya. Data sekunder diperoleh melalui beberapa literatur
berupa data pemanfaatan SRG yang pernah dilakukan berkaitan dengan kegiatan
penelitian dan data lain yang diperoleh dari perpustakaan dan instansi-instansi
terkait seperti Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu, PT. Pertani selaku
pengelola gudang, dan instansi-instansi terkait lainnya. Penentuan petani
responden dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu pengambilan contoh
secara acak (sstratified sampling) untuk petani yang belum memanfaatkan Sistem

Resi Gudang sebanyak 29 petani dan metode teknik sensus untuk petani yang
sudah memanfaatkan SRG sebanyak empat petani.
Sistem Resi Gudang yang disediakan pemerintah untuk membantu petani
dalam upaya meningkatkan pendapatan petani memiliki beberapa manfaat, yaitu
manfaat secara non ekonomi dan manfaat ekonomi. Manfaat non ekonomi yang
dirasakan oleh petani yang memanfaatkan SRG adalah manfaat penyimpanan,
manfaat jaminan mutu, manfaat pemasaran dan manfaat pembiayaan
Manfaat ekonomi yang dirasakan oleh petani adalah petani yang memanfaatkan
SRG memperoleh harga jual yang lebih baik dibandingkan petani yang tidak
memanfaatkan sistem resi gudang. Pendapatan atas biaya tunai per hektar per
tahun yang diterima petani yang memanfaatkan SRG yaitu Rp 10.727.502,11
lebih besar daripada pendapatan atas biaya tunai per hektar per tahun yang
diterima petani penyewa lahan yaitu Rp 7.626.303,5. Berdasarkan perhitungan
pendapatan atas biaya total dapat disimpulkan pula bahwa pendapatan atas biaya
total per hektar per tahun yang diterima petani yang memanfaatkan SRG yaitu
sebesar Rp 9.815.895,51 lebih besar daripada pendapatan atas biaya total per
hektar per tahun yang diterima petani konvensional yaitu sebesar Rp
6.864.010,22. Kegiatan usahatani yang dilakukan oleh petani yang memanfaatkan
SRG lebih baik bila dibandingkan dengan petani konvensional.
Nilai rasio R/C atas biaya tunai petani yang memanfaatkan SRG adalah 2,31
sedangkan nilai rasio R/C atas biaya tunai petani konvensional adalah 2,01. Untuk
rasio R/C atas biaya total petani yang memanfaatkan SRG adalah 2,08 sedangkan
nilai rasio R/C atas biaya total petani konvensional adalah 1,83.
Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang dapat diberikan untuk
meningkatkan pendapatan usahatani petani di Gapoktan Jaya Tani di Desa
Mangunjaya, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu yaitu: (1) Mengikuti
anjuran penyuluh pertanian lapang (PPL) agar mendapat kualitas padi yang baik,
(2) Petani yang belum memanfaatkan SRG beralih memanfaatkan SRG, (3)
meningkatkan peran pemerintah daerah Indramayu dalam mensosialisasikan
program SRG, dan (4) Meningkatkan peran gapokttan dalam penerapan SRG agar
petani kecil mampu memnuhi quota penyimpanan.

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI DENGAN


MEMANFAATKAN SISTEM RESI GUDANG STUDI KASUS
GAPOKTAN JAYA TANI INDRAMAYU

ADI FEBRIAN
H34070072

Skripsi ini merupkana salah satu syarat untuk


Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
4

Judul Skripsi

Nama

: Analisis Pendapatan Usahatani Padi dengan Memanfaatkan


Sistem Resi Gudang Studi Kasus Gapoktan Jaya Tani
Indramayu
: Adi Febrian

NIM

: H34070072

Disetujui,
Pembimbing

Dra. Yusalina M.Si


NIP 19650115 199003 2 001

Diketahui
Ketua Departemen Agribisnis
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi. MS


NIP 19580908 198403 1 002

Tanggal Lulus:

RIWAYAT HIDUP

Adi Febrian lahir di Kota Palembang, Sumatera Selatan pada tanggal 7


Februari 1989 merupakan anak kedua dari dua bersaudara pasangan Bapak Irpan
Ganda Putra dan Ibu Muasriyah. Penulius enyelesaikan pendidikan di Sekolah
Dasar Negeri Pedurungan Tengah 02 Semarang pada tahun 2001. Lalu,
melanjutkan pendidikan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 6 Bogor dan
kemudian di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bogor. Pada tahun 2007, diterima
di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).
Pada tahun 2008, diterima pada mayor Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi
dan Manajemen.
Selama masa perkuliahan, penulis aktif dalam kegiatan kemahasiswaan
\DLWXVHEDJDL6WDI'LYLVL /RJLVWLNGDQ7UDQVSRUWDVL nd (635(662,3%
Staf Divisi Logistik dan Transportasi Agrimeet 2008 dan Staf Divisi Pubdekdok
MPF FEM dan MPD Agribisnis 2009. Aktif di Organisasi Himpunan Profesi
Mahasiswa Peminat Agribisnis (HIPMA) pada tahun 2008-2009 sebagai Staf
Divisi MHD. Pernah mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional di Bali pada
tahun 2010 dan mendapat medali perak. Selain itu, pernah mendapatkan
pengalaman kerja pada CIRUS SURVEYOURS GROUP sebagai petugas quick
count pemilu 2009 dan PT Bina Inti Muda Utama sebagai asisten outbond
management training manajer Garuda Indonesia 2009.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji senantiasa dipanjatkan hanya kepada Allah SWT


yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi berjudul Analisis Pendapatan Usahatani Padi dengan
Memanfaatkan Sistem Resi Gudang Studi Kasus Gapoktan Jaya Tani Indramayu
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian
Bogor.

Bogor, November 2011


Adi Febrian
H34070072

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayah
Nya yang senantiasa mengiringi perjalanan hidup penulis, terutama dalam
penyelesaian skripsi ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyelesaian
skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, motivasi, dan kerjasama dari berbagai
pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
kepada :.
1.

Dra. Yusalina, M.Si sebagai pembimbing skripsi yang telah memberikan


bimbingan, saran, motivasi dan pengarahan dengan penuh kesabaran kepada
penulis.

2.

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS selaku Ketua Departemen Agribisnis, FEM IPB.

3.

Ir. Narni Farmayanti, MSc dan Arif Karyadi, Sp selaku dosen penguji pada
ujian siding penukis yang telah meluangkan waktunya serta memberi kritik
dan saran demi perbaikan skripsi ini.

4.

Kedua orang tua tercinta (Bapak Irpan Ganda Putra dan Ibu Muasriyah), dan
kakak tersayang (Dian Asriani) yang selalu mendoakan, memberikan
motivasi tiada henti, bantuan moril dan materiil selama penyusunan skripsi.

5.

Bapak Aming, Bapak Warsim dan seluruh petani di Gapoktan Jaya Tani yang
telah banyak memberikan bantuan dan kesempatan dalam penelitian.

6.

Bapak Kadir dan Bapak Khaerudin dan seluruh petugas di Gudang SRG di
Indramayu yang telah memberikan banyak bantuan selama penelitian.

7.

Seluruh staf pendidik dan staf kependidikan Departemen Agribisnis FEM IPB
yang sangat membantu terlaksananya perolehan ilmu dan penelitian penulis.

8.

Seluruh keluarga besar dari orangtua atas segala perhatian, doa dan dorongan
semangat yang diberikan.

9.

Sahabat sekaligus saudara terdekat bagi saya (Yodia dan Arlan) atas nasihat,
bimbingan, cerita, pengalaman dan waktu yang kalian luangkan untuk saya
yang selalu menjadi pendorong disaat saya terpuruk.

10. Sahabat dan teman-teman di Lacoste ( Mamat Sani, Chris, Uki, Dhani, Duta,
Fikhy, Celi, Upeh, Ima, Keken, Gema, Ira, dan Una) yang selalu bisa

memberikan tawa serta menjadi tempat untuk menemani dalam suka maupun
duka.
11. Sahabat-sahabat di Pohom (Hans, Awan, Agra, Roy, Topan, Damar, Kinan
dan Fauzi) yang selalu bisa membantu menghilangkan kepenatan saya dan
selalu memberikan semangat dalam melakukan penelitian.
12. Teman-teman satu bimbingan (Tia, Mega, dan Leni) atas dukungan,
semangat, motivasi dan kerjasamanya.
13. Seluruh teman-teman Agribisnis 44 dan Mahasiswa IPB lain yang selalu
mendoakan dan memberikan semangat.
14. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah diberikan oleh
semua pihak baik yang tersebutkan maupun yang tidak tersebut hingga
penyusunan skripsi ini selesai pada waktunya. Penulis menyadari sepenuhnya
bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam penyusunan skripsi ini,
semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang
memerlukannya.

Bogor, November 2011


Adi Febrian

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL .................................................................................

Halaman
ix

DAFTAR GAMBAR .............................................................................

xi

DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................

xii

I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ......................................................................
1.2. Rumusan Masalah .................................................................
1.3. Tujuan Penelitian ..................................................................
1.4. Manfaat Penelitian ................................................................
1.5. Ruang Lingkup Penelitian.....................................................

1
5
6
6
6

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Perkembangan Usahatani di Indonesia .................................
2.2. Sistem Resi Gudang .............................................................
2.3. Kajian Empiris Mengenai Usahatani ....................................

7
9
15

III. KERANGKA PEMIKIRAN


3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ................................................
3.1.1 Konsep Usahatani .......................................................
3.1.2 Keuntungan Usahatani ................................................
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional .........................................

16
16
19
21

IV. METODE PENELITIAN


4.1. Lokasi Penelitian ...................................................................
4.2. Jenis dan Sumber Data ..........................................................
4.3. Metode Pengumpulan Data ...................................................
4.3. Teknik Analisa Data..............................................................

24
24
25
25

V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN


5.1. :LOD\DKGDQ7RSRJUDIL .
5.2. 6RVLDO(NRQRPL0DV\DUDNDW .
5.3. Gudang Sistem Resi Gudang Indramayu ..............................
5.4. Profil Gabungan Kelompok Tani Jaya Tani .........................
5.5. Karakteristik Petani Responden ............................................

28
28
30
31
33

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI


6.1. .HUDJDDQ8VDKDWDQL3DGL ..
6.1.1. Pola Tanam .................................................................
6.1.2. Input Produksi .............................................................
6.1.2.1. Bibit.................................................................
6.1.2.2. Pupuk ..............................................................
6.1.2.3. Pestisida ..........................................................
6.1.2.4. Tenaga Kerja ..................................................
6.1.2.5. Alat-alat Pertanian ..........................................
6.1.3.Teknik Budidaya ..........................................................
6.1.3.1. Persiapan Lahan ...............................................

38
38
38
39
39
40
41
42
43
43
10

6.1.3.2. Penanaman .......................................................


6.1.3.3. Pemupukan .......................................................
6.1.3.4. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman ....
6.1.3.5. Pemanenan .......................................................
Analisis Penerimaan Usahatani Padi.....................................
Analisis Biaya Usahatani .....................................................
Analisis Pendapatan Usahatani .............................................
Analisis R/C Rasio ................................................................

43
44
44
44
45
47
51
53

VII. MANFAAT RESI GUDANG BAGI PETANI


7.1. Manfaat Sistem Resi Gudang ................................................
7.2. Kendala Pemanfaatan Sistem Resi Gudang ..........................

56
58

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN


8.1. Kesimpulaan .........................................................................
8.2. Saran .....................................................................................

60
60

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................

62

.....................................................................................

64

6.2.
6.3.
6.4
6.5.

LAMPIRAN

11

DAFTAR TABEL
Nomor
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Halaman
Lima Besar Provinsi Pengahasil Padi di Indonesia dengan Luas
Lahan, Produktivitas dan Total Produksinya Tahun 2009 .............

Daftar Pengelola Gudang SRG yang Mendapat Persetujuan


BAPPEBTI ....................................................................................

11

Daftar Lembaga Penilai Kesesuaian yang mendapat persetujuan


dari BAPPEBTI ............................................................................. .

12

Standar Mutu Komoditi Gabah Seperti Tercantum dalam


SNI 01-0224-1987 ..........................................................................

14

Contoh Perhitungan Pendapatan Usahatani dan R/C Rasio per


Hektar per Tahun Tanaman Tahunan ..............................................

27

Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan Warga Desa


MangunjayaBerdasarkan Lokasi Dusun Tahun 2010 (Orang) .......

29

Data Usia Sekolah Warga Desa Mangunjaya Berdasarkan


Lokasi Dusun Tahun 2010 (Orang) .................................................

30

Nama Kelompok Tani, Luas Lahan Garapan dan Jenis Tanaman


yang Diusahakan Gapoktan Jaya Tani Tahun 2011 ........................

32

Sebaran Usia Responden .................................................................

34

10. Sebaran Tingkat Pendidikan Responden..........................................

34

11. Sebaran Tingkat Pengalaman Usahatani Padi Petani


Responden .. ....................................................................................

35

12. Sebaran Penguasaan Luas Lahan Padi .............................................

36

13. Sebaran Jenis Pengairan Lahan Padi ...............................................

37

14. Rata-Rata Penggunaan Input Usahatani Padi Petani SRG dan


Konvensional per Hektar Periode Januari-April 2011 ....................

39

15. Jenis Pupuk, Harga Pupuk dan Penggunaan Pupuk Rata-rata


Petani Berdasar Sistem Penjualan Periode Januari-April 2011 .......

40

16. Penerimaan Rata-rata per hektar Petani yang Memanfaatkan


Sistem Resi gudang Periode Januari-April 2011 ............................

46

7.
8.
9.

17. Penerimaan Rata-rata per hektar Petani dengan Metode Penjualan


Konvensional Periode Januari-April 2011 .....................................
18. Biaya Rata-rata Usahatani Padi Petani SRG per Hektar di
DesaMangunjaya Bulan Januari April 2011.................................

46
49

12

Nomor

Halaman

19. Biaya Rata-rata Usahatani Padi Petani Konvensional per Hektar


di Desa Mangunjaya Bulan Januari April 2011 ...........................

50

20. Perhitungan Penerimaan dan Pendapatan Rata-rata Usahatani


Petani SRG di Desa Mangunjaya periode JanuriApril 2011 .........

52

21. Perhitungan Penerimaan dan Pendapatan Rata-rata Usahatani


Petani yang Belum Memanfaatkan Sistem Resi Gudang di
Desa Mangunjaya Periode JanuariApril 2011 ..............................

53

22. Penerimaan, Biaya, Pendapatan, dan R/C Rasio Usahatani Padi


PetaniGapoktan Jaya Tani ...............................................................

54

13

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Halaman

1. Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Usahatani Gabah dengan


Memanfaatkan Sistem Resi Gudang Studi Kasus Gapoktan
Jayatani Indramayu ........................................................................ ...

23

2. Struktur Organisasi Gapoktan Jaya Tani Tahun 2010...................... ..

33

14

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor

Halaman

1.

Profil Responden Berdasarkan Metode Penjualan (SRG) .............

64

2.

Profil Responden Berdasarkan Metode PEnjualan


(Konvensional) ...............................................................................

65

Penggunaan Tenaga Kerja Petani Padi SRG di Gapoktan Jaya


Tani Periode Januari-April 2011 ..................................................

68

Tenaga Kerja Petani Padi Konvensional di Gapoktan Jaya Tani


Periode Januari-April 2011 .............................................................

69

Jumlah Penjualan Padi oleh Petani yang Memanfaatkan Sistem


Resi Gudang ...................................................................................

71

Jumlah Pendapatan Diperhitungkan oleh Petani yang


Memanfaatkan Sistem Resi Gudang .............................................

71

7.

Jumlah Penjualan Padi oleh Petani Konvensional

.......................

72

8.

Jumlah Pendapatan Diperhitungkan oleh Petani yang


Memanfaatkan Sistem Resi Gudang ..............................................

74

Pengeluaran Usahatani Padi Petani SRG .......................................

76

10. Pengeluaran Usahatani Padi Petani Konvensional .........................

77

11. Contoh Dokumen Resi Gudang

................................................

78

12. Kondisi Fisik Gudang Sistem Resi Gudang Indramayu ..................

79

13. Kuesioner Penelitian .......................................................................

82

3.
4.
5.
6.

9.

15

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pembangunan nasional dewasa ini salah satunya diprioritaskan pada
bidang ketahanan pangan, sehingga pemerintah selalu berusaha untuk menerapkan
kebijakan dalam peningkatan hasil produksi pertanian1. Hal ini didukung oleh
kenyataan bahwa negara kita dikenal sebagai negara agraris yang mempunyai
areal pertanian yang cukup luas, dengan sumber daya alam yang masih perlu
digali, dan dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan manusia.
Sasaran utama pembangunan pertanian dewasa ini adalah peningkatan
produksi pertanian dan pendapatan petani, karena itu kegiatan di sektor pertanian
diusahakan agar dapat berjalan lancar dengan peningkatan produk pangan yang
baik. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai sasaran tersebut, antara lain
melalui intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasi pertanian yang diharapkan
dapat meningkatkan taraf hidup petani.
Tingkat pendapatan petani secara umum dipengaruhi oleh beberapa
komponen yaitu jumlah produksi, harga jual, dan biaya-biaya yang dikeluarkan
petani dalam usahataninya. Biaya-biaya tersebut banyak dipengaruhi oleh
kebijakan pemerintah di bidang pertanian, sehingga diharapkan pemerintah dapat
memberikan perhatian yang lebih intensif terhadap sektor pertanian dalam usaha
untuk memperbaiki taraf kehidupan petani.
Pendapatan petani di Indonesia secara umum masih rendah, tetapi petani
masih melakukan usaha di bidang petanian seperti sayuran ataupun tanaman
pangan, salah satunya adalah padi. Alasan padi masih diusahakan oleh petani di
Indonesia karena Indonesia adalah negara dengan penduduk yang mengkonsumsi
beras sebagai makanan utama. Dengan demikian, usahatani padi merupakan salah
satu komoditi yang mempunyai prospek menambah pendapatan para petani. Hal
tersebut

dapat

memberi

motivasi

tersendiri

bagi

petani

untuk

lebih

mengembangkan dan meningkatkan produksinya, dengan harapan pada saat panen


dapat memperoleh hasil penjualan tinggi guna memenuhi kebutuhannya. Setiap
1

www.batan.go.id/.../ARNBabIIFokusAreaPembangunanNasionalIptek.pdf. Kebijakan
Strategis Pembangunan Nasional IPTEK 2005-2009 [8 Desember 2010]

16

musim panen petani sering menghadapi masalah yang sama yaitu anjloknya harga
komoditi di pasaran, padahal mereka membutuhkan uang untuk menutupi modal
dan pinjaman yang telah dikeluarkan sebelumnya serta untuk memenuhi
kebutuhannya.
Untuk memperoleh pendapatan yang memadai, maka petani dituntut
kecermatannya dalam mempelajari perkembangan harga agar dapat menentukan
pilihan dalam memutuskan untuk menjual atau menahan hasil produksinya. Selain
itu, petani juga harus memahami fungsi penyimpanan, fungsi standarisasi mutu
dan grading pada produk pertanian agar mampu meningkatkan posisi tawar petani
yang akan berdampak pada meningkatnya pendapatan petani.
Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang berhasil menjadi lumbung
padi yang mampu memenuhi kebutuhan akan konsumsi beras dalam negeri setiap
tahunnya.

Pada tahun 2009,

terbanyak

di

Indonesia

Jawa Barat menjadi provinsi penghasil padi

sebesar

11.322.681 ton,

dengan

luas

lahan

1.950.203 hektar. Sebagaimana yang ditunjukkan pada Tabel 1, dari segi


produktivitas, Jawa Barat berada di atas ratarata produktivitas provinsi di
Indonesia, yaitu sebesar 58,06 kuintal per hektar, sedangkan produktivitas rata
rata provinsi di Indonesia hanya 49,99 kuintal per hektar. Berdasarkan luas lahan
yang digunakan secara produktif untuk usahatani padi, Provinsi Jawa Barat adalah
provinsi yang memiliki luas lahan terbesar jika dibandingkan dengan provinsi lain
di Indonesia.
Tabel 1.
No

Lima Besar Provinsi Penghasil Padi di Indonesia dengan Luas Lahan,


Produktivitas, dan Total Produksinya Tahun 2009
Provinsi

Produksi
(Ton)

Luas Lahan(Ha)

Produktivitas(Kuintal/Ha)

768.407

45,91

3.527.899

Sumatera Utara

Jawa Barat

1.950.203

58,06

11.322.681

Jawa Tengah

1.725.034

55,65

9.600.415

Jawa Timur

1.904.830

59,11

11.259.085

Sulawesi Selatan

862.017

50,16

4.324.178

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2010

www.bps.go.id/tnmn_pgn.php. Tanaman Pangan [8 Desember 2010]

17

Berdasarkan data BPS, Indramayu merupakan salah satu wilayah sentra


padi di Jawa Barat dengan produksi sekitar 1,03 juta ton atau sekitar 11 persen
total produksi padi di Jawa Barat pada tahun 2006. Indramayu selama ini dikenal
dengan lumbung padi Jawa Barat. Tingginya produksi padi di Indramayu ini
disebabkan oleh luasnya lahan sawah yang ada. Berdasarkan

luas wilayah

Indramayu yang mencapai 204 ribu ha, sekitar 114 ribu ha (55 persen) di
antaranya adalah lahan sawah. Indramayu menempati urutan pertama untuk luas
lahan dan produksi padi di Jawa Barat.
Sektor pertanian merupakan salah satu pilar penting penggerak
perekonomian Indramayu. Pada tahun 2006 menunjukkan kontribusi sektor ini
mencapai 13,37 persen dari total Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB)
Indramayu3. Pembangun sektor ini, selain akan meningkatkan pendapatan
perkapita, juga akan memperbaiki distribusi pendapatan masyarakat.
Dalam usahatani padi, harga jual menjadi salah satu masalah bagi petani
untuk meningkatkan kesejahteraannya. Selama ini petani dihadapkan dengan
permasalahan harga yang mereka terima dirasa lebih rendah dibandingkan dengan
harga pasaran yang berlaku. Hal ini dikarenakan informasi harga yang mereka
terima terkadang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Selain itu petani tidak
memiliki posisi tawar yang tinggi karena petani harus langsung menjual gabahnya
untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini menyebabkan petani tidak memiliki
pilihan selain menjual hasil taninya tanpa bisa menunggu sampai mendapatkan
tawaran harga yang menurut mereka menguntungkan.
Dalam rangka peningkatan posisi tawar petani dan untuk melindungi
kepentingan konsumen, pemerintah saat ini mencoba menawarkan suatu sistem
pemasaran baru yaitu melalui Sistem Resi Gudang (SRG) dan Pasar Lelang.
Sistem Resi Gudang berdasarkan UU No. 9 Tahun 2006 memiliki fungsi
penyimpanan dalam sistem pemasaran komoditi pertanian. Resi Gudang
(warehouse receipt) merupakan dokumen yang membuktikan bahwa suatu
komoditas (contoh : gabah) dengan jumlah dan kualitas tertentu telah disimpan
dalam suatu gudang.

http://bpmpindramayu.or.id/index.php?module=articles&func=display&ptid=18&aid=16
5. Profil Perekonomian Indramayu. [23 Februari 2011]

18

Berdasarkan skema SRG, petani tidak lagi terpaksa harus menjual hasil
panennya dengan harga yang rendah, melainkan dapat melakukan tunda jual
dengan menyimpan hasil panennya di gudang, memperoleh resi gudang, dan
memanfaatkan sebagai agunan untuk memperoleh pinjaman dari perbankan atau
lembaga keuangan non bank. Pinjaman tersebut dapat dimanfaatkannya untuk
membiayai kebutuhan hidup sehari-hari, atau membeli bibit melanjutkan kegiatan
usahanya, sambil menunggu harga komoditas membaik. Saat harga komoditas
membaik, petani dapat menjual atau mengalihkan SRG miliknya, sehingga petani
dapat merasakan dan memperoleh keuntungan optimal dari usahanya.
Dalam pelaksanaan skema SRG, cara untuk memanfaatkan SRG tersebut
adalah dengan mengikuti beberapa proses terlebih dahulu sebelum dikeluarkan
surat dokumen SRG atas komoditas tertentu. Pertama pemilik barang mengajukan
permohonan penyimpanan barang kepada pengelola gudang. Jika masih ada ruang
yang tersedia untuk meletakkan barang di gudang, maka pengelola gudang akan
mengkonfirmasi untuk kepada pemohon SRG. Tahap selanjutnya adalah
pembuatan surat perjanjian yang isinya adalah waktu pengujian mutu barang.
Setelah disepakati waktu pengujian maka barang diuji oleh Lembaga Penilaian
Kesesuaian (LPK). Jika hasil uji mutu sudah sesuai standar yang ditentukan maka
barang tersebut siap untuk dimasukkan ke gudang dengan terlebih dahulu sudah
mendapat kepastian waktu untuk memasukkan barang. Setelah barang masuk ke
gudang, pihak pengelola akan membantu menerbitkan polis asuransi untuk barang
yang dititipkan ke gudang. Setelah polis asuransi telah diterbitkan, dokumen SRG
akan diterbitkan dan diberikan kepada penyewa gudang.
Pada tahun 2008 di Indramayu telah diresmikan dua buah gudang Sistem
Resi Gudang yang dikelola oleh PT. Pertani. Pemilihan Indramayu sebagai
percontohan pelaksanaan SRG berdasarkan pertimbangan luas lahan, sehingga
Indramayu memiliki potensi yang besar di bidang pertanian yang sangat tepat
sebagai prototype penerapan SRG. Pelaksanaan SRG ini dilakukan Menteri
Perdagangan bekerjasama dengan Menteri Negara BUMN, Menteri Pertanian dan
PT Pertani.

19

1.2

Rumusan Masalah
Salah satu desa yang berdekatan dengan lokasi gudang SRG adalah Desa

Mangunjaya yang diharapkan memanfaatkan skema SRG tersebut. Bertani di


Desa Mangunjaya merupakan mata pencaharian utama penduduk desa. Seiring
dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk Indonesia maka permintaan
konsumsi akan beras juga akan meningkat. Meskipun demikian, pendapatan yang
diterima oleh petani belum cukup untuk memenuhi kehidupan mereka. Hal ini
dikarenakan rata-rata petani di Desa Mangunjaya merupakan petani kecil dengan
luas lahan rata-rata kurang dari 0,4 ha.
Petani-petani di Desa Mangunjaya ini kemudian tergabung dalam
Gapoktan Jaya Tani untuk mengatasi kendala-kendala yang muncul dalam
menjalankan usahatani mereka. Salah satu kendala yang muncul adalah masalah
pendanaan usahatani. Di lokasi penelitian petani yang menggunakan metode tebas
dalam penjualannya, terkadang tidak mendapat hasil yang sesuai dengan keadaan
sebenarnya dari jumlah padi yang dipanen. Hal ini dikarenakan padi petani dalam
penjualannya hanya dikira-kira oleh pembeli. Penjualaan kepada tengkulak juga
dirasakan petani kurang membantu petani dalam pembiayaan usahatani karena
seringnya keterlambatan pembayaran dari waktu yang dijanjikan. Berdasarkan
kondisi tersebut, pembangunan SRG yang dikelola oleh PT Pertani diharapkan
mampu menjadi salah satu instrumen penting dan efektif sebagai solusi dalam
sistem pembiayaan usahatani, khususnya dengan memberikan payung hukum
pemberian kredit bagi petani atau pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) terkait
dengan kesulitan yang dialami petani dalam pendanaan usahataninya.
Pada tahun 2010 beberapa petani yang tergabung dalam Gapoktan Jaya
Tani sudah memanfaatkan SRG dengan mendapatkan harga yang lebih baik
daripada petani yang tidak memanfaatkan SRG. Meskipun begitu masih banyak
petani lain yang belum mau memanfaatkan SRG karena menurut petani yang
belum memanfaatkan SRG mereka tidak melihat perbedaan yang signifikan dari
petani yang telah memanfaatkan SRG.
Berdasarkan

latar

belakang

yang

dikemukakan

tersebut,

maka

permasalahan yang dapat diangkat adalah apakah ada manfaat bagi petani dalam
penerapan Sistem Resi Gudang?

2
0

1.3. Tujuan Penelitian


Berkaitan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian adalah :
1. Membandingkan tingkat pendapatan usahatani padi yang menerapkan Sistem
Resi Gudang dan yang tidak memanfaatkannya.
2. Mengidentifikasi manfaat dari penerapan Sistem ResiGudang bagi petani.

1.4. Manfaat Penelitian


Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut :
1. Sebagai sumbangan pemikiran bagi pemerintah daerah khususnya dalam hal ini
adalah Pemerintah Daerah Indramayu untuk meningkatkan kesejahteraan
petani melalui peningkatan posisi tawar petani.
2. Untuk menambah pengalaman dan pengetahuan penulis tentang masalah
pertanian khususnya sektor tanaman padi.
3. Sebagai bahan referensi dan perbandingan bagi peneliti berikutnya yang akan
melakukan pengkajian masalah yang relevan.

1.5. Ruang Lingkup


Penelitian ini dilakukan dengan lingkup regional yaitu di Desa
Mangunjaya, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu dengan gabah sebagai
komoditi yang diteliti. Petani yang dijadikan responden dalam penelitian ini
adalah petani yang sudah memanfaatkan SRG dan petani yang belum
memanfaatkan SRG yang tergabung dalam Gapoktan Jayatani. Analisis kajian
dibatasi untuk melihat perbandingan tingkat pendapatan usahatani padi yang
belum dan yang sudah memanfaatkan Sistem Resi Gudang dan melihat manfaat
yang diperoleh petani yang telah memanfaatkan SRG.

2
1

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perkembangan Usahatani di Indonesia


Sektor pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi yang tidak
terpengaruh oleh krisis ekonomi pada tahun 1998 karena dalam kondisi krisis,
sektor ini masih memberikan pertumbuhan yang positif. Menurut data BPS 1999
pertumbuhan

nilai

ekspor

komoditi

hasil

sektor

pertanian

mengalami

pertumbuhan positif sebesar 0,22 persen di tahun 1998. Sementara pertumbuhan


sektor lain negatif, misalnya pertumbuhan sektor pertambangan dan migas negatif
4,16 persen, dan pertumbuhan sektor industri negatif 12,74 persen (BPS, 1999).
Hal ini mengindikasikan bahwa sektor pertanian mampu bertahan dalam
menghadapi krisis ekonomi.
Pengembangan sektor pertanian termasuk pengembangan industri yang
berbasis pertanian merupakan andalan potensial untuk membangkitkan dinamika
ekonomi masyarakat di tengah penurunan ekonomi dewasa ini. Pengembangan
sektor pertanian beserta program lanjutannya, dalam hal ini agroindustri, memiliki
nilai strategis untuk keluar dari krisis ekonomi.
Salah satu sasaran dari pengembangan sektor pertanian adalah untuk
meningkatkan kesejahteraan petani yang sebagian besar masih tergolong
penduduk miskin. Berbagai cara telah dilakukan dalam upaya memperbaiki
kesejahteraan petani. Beberapa upaya yang telah dilakukan baik dari segi teknis
usahatani, seperti sistem bertani organik, penggunaan bibit ungul dan sistem
penjualan hasil usahatani. Upaya tersebut dilakukan agar terjadi peningkatan
pendapatan petani. Salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan petani adalah
dengan menerapkan konsep sistem pertanian terpadu, yaitu mengkombinasikan
berbagai macam spesies tanaman dan hewan dan penerapan beraneka ragam
teknik untuk menciptakan kondisi yang cocok untuk melindungi lingkungan juga
membantu petani menjaga produktivitas lahan mereka dan meningkatkan
pendapatan mereka dengan adanya diversifikasi usaha tani. Penggunaan bibit
berkualitas bersertifikat juga dapat membantu petani dalam usaha peningkatan
pendapatan petani.

6DKHGD   GDODP SHQHOLWLDQQ\D \DQJ EHUMXGXO 3UHIHUHQVL dan


Kepuasan Petani Terhadap Benih Padi Varietas Lokal Pandan Wangi di
.DEXSDWHQ &LDQMXU \DQJ EHUWXMXDQ XQWXN PHQJLGHQWLILNDVL SURVHV SHQJDPELODQ
keputusan para petani terhadap penggunaan benih padi pandan wangi,
menganalisis kepuasan para petani terhadap atribut-atribut benih padi pandan
wangi, dan menentukan alternatif strategi dalam rangka pencapaian tujuan
kepuasan terhadap atribut-atribut benih padi pandan wangi.
Berdasarkan analisis tahap proses pengambilan keputusan petani terhadap
pembelian benih bersertifikat dan penggunaan benih tidak bersertifikat padi
pandan wangi, diketahui bahwa yang menjadi motivasi para petani untuk
menanam benih bersertifikat padi pandan wangi adalah karena harga jual yang
tinggi, dan para petani menganggap bahwa penggunaan benih bersertifikat penting
untuk digunakan. Sedangkan para petani yang tidak menggunakan benih
bersertifikat menganggap bahwa penggunaan benih bersertifikat biasa saja dan
sebagian besar petani mengetahui informasi benih padi pandan wangi dan sumber
yang dipercaya untuk penggunaan benih berasal dari kelompok tani, diri sendiri
dan lainnya yaitu keluarga. Atribut harga jual gabah dijadikan dasar dalam
pertimbangan untuk pembelian dan penggunaan benih tidak tidak bersertifikat.
Keputusan dalam cara penjualan hasil usahatani juga menjadi salah satu
faktor yang berpengaruh dalam pendapatan usahatani. Pratama (2008) melakukan
penelitian yang berjudul Efektivitas Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha
Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) (Kasus Petani Padi Pandan Wangi di
Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur) dengan tujuan menganalisis
efektivitas program DPM-LUEP terhadap stabilitas harga gabah di tingkat petani
di Provinsi Jawa Barat, menganalisis dampak kebijakan program DPM-LUEP
terhadap tingkat pendapatan petani di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten
Cianjur, Provinsi Jawa Barat, dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
keputusan petani dalam menjual gabahnya ke LUEP. Dengan membandingkan
perkembangan harga yang diterima petani di kecamatan yang mendapat DPMLUEP dan yang tidak mendapat program diketahui bahwa harga GKP pada
kecamatan yang mendapatkan program DPM-LUEP lebih tinggi daripada
kecamatan yang tidak mendapatkan program DPM-LUEP.

2
3

Indrayani (2008) dalam penelitiann\D \DQJ EHUMXGXO $QDOLVLV 3ROD


.HPLWUDDQ 'DODP 3HQJDGDDQ %HUDV 3DQGDQZDQJL %HUVHUWLILNDW PHQ\HEXWNDQ
bahwa salah satu contoh kegiatan kemitraan agribisnis dibidang pertanian
khususnya tanaman pangan adalah antara Gapoktan Citra Sawargi dengan CV.
Quasindo. Kemitraan yang terjalin merupakan kemitraan dalam pengadaan beras
pandan wangi brsertifikat. Kemitraan ini terjalin sejak April 2007, dengan
melibatkan tiga pelaku utama yakni Gapoktan, CV. Quasindo serta Lembaga
Sertifikasi Beras.

2.2. Sistem Resi Gudang


Resi Gudang (warehouse receipt) adalah surat berharga berupa dokumen
bukti kepemilikan atas barang yang di simpan di gudang yang diterbitkan oleh
pengelola gudang yang dapat diperdagangkan, dipertukarkan dalam sistem
pembiayaan perdagangan suatu negara. Selain itu, resi gudang juga dapat
digunakan sebagai jaminan atau diterima sebagai bukti penyerahan barang dalam
rangka pemenuhan kontrak deribatf yang jatuh tempo, sebagaimana terjadi dalam
kontrak berjangka. Dengan demikian, SRG dapat memfasilitasi pemberian kredit
bagi dunia usaha dengan agunan inventori atau barang yang disimpan di gudang.
Resi gudang dapat digunakan sebagai agunan karena resi gudang dijamin dengan
komoditas tertentu yang berada dalam pengawasan pihak ketiga (Pengelola
Gudang) yang terakreditasi. Sistem ini telah dipergunakan secara luas di negaranegara maju atau di negara-negara dimana pemerintah telah mulai mengurangi
perannya dalam menstabilisasi harga komoditi, terutama komoditi agribisnis.
Beberapa negara yang telah menerapkan SRG antara lain adalah India, Malaysia,
Filipina, Ghana, Mali, Turki, Polandia, Meksiko dan Uganda.
Di Indonesia, dalam hal ini Departemen Perdagangan yang diwakili oleh
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) telah menyusun
rencana Undang-undang (RUU) tentang Sistem Resi gudang. Pada tanggal 20 Juni
2006, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia telah menyetujui
RUU tersebut menjadi Undang-undang (UU). Presiden RI telah mensahkan UU
tersebut sebagai UU nomor 9 tahun 2006 tentang SRG pada tanggal 14 Juli 2006.

2
4

Tujuan diberlakukannya UU tentang SRG adalah untuk memberikan dan


meningkatkan akses masyarakat terhadap kepastian hukum, melindungi
masyarakat dan memperluas akses mereka untuk memanfaatkan fasilitas
pembiayaan usaha. UU Sistem Resi Gudang memberikan manfaat terutama bagi
pengusaha kecil dan menengah, petani dan kelompok tani, perusahaan pengelola
gudang, perusahaan pemberi pinjaman dan bank untuk mengakses permodalan
guna meningkatkan usahanya.
SRG merupakan terobosan instrument penjamin pengganti fixed asset.
Hal ini dikarenakan resi gudang dapat dialihkan, dijadikan jaminan utang dan
dapat digunakan sebagai dokumen penyerahan barang, sebagai document of title,
maka resi gudang dapat dijadikan sebagai jaminan utang sepenuhnya tanpa perlu
dipersyaratkan adanya jaminan lain. Ketentuan ini diharapkan akan sangat
membantu usaha kecil dan menengah, petani serta kelompok tani yang selama ini
mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses kredit, karena pada umumnya
mereka tidak memiliki fixed asset untuk dijadikan sebagai agunan.
Dalam penerapan SRG, terdapat beberapa pihak yang terkait dalam
penerbitan resi gudang. Lembaga pertama adalah pengelola gudang. Pengelola
gudang adalah pihak yang melakukan usaha perdagangan, baik gudang milik
sendiri maupun milik orang lain yang melakukan penyimpanan, pemeliharaan dan
pengawasan yang disimpan oleh pemilik barang. Lembaga ini dipersyaratkan
harus berbentuk badan usaha hukum dan telah mendapat persetujuan dari
BAPPEBTI. Dalam pelaksanaanya, pengelola gudang wajib membuat perjanjian
pengelolaan secara tertulis baik dengan pemilik barang, yang sekurang-kurangnya
memnuat identitas serta hak dan kewajiban para pihak, jangka waktu
penyimpanan, deskripsi barang dan asuransi. Daftar pengelola SRG yang telah
mendapat persetujuan dari BAPPEBTI dapat dilihat di Tabel 2.

2
5

Tabel 2. Daftar Pengelola Gudang SRG yang Mendapat Persetujuan BAPPEBTI.


No

Pengelola Gudang

Alamat Kantor Pusat

1.

PT. Bhanda Ghara Reksa


(BGR)

Jalan Kali Besar Timur Nomor 5-7, Jakarta


11110.

2.

PT. Pertani

Jalan Pertani Nomor 1 7 Durentiga


Pancoran Jakarta Selatan 12760

3.

PT. Petindo Daya Mandiri

Jalan Cempaka Putih Timur No. 3 Jakarta


Pusat 10510.

4.

PT. Sucofindo

Graha Sucofindo, Jl. Raya Pasar Minggu


Kav. 34 DKI Jakarta 12780

5.

PT. Reksa Guna


Interservice

Gd. Dana Graha Lt. 2 Jl. Gondangdia Kecil


No. 12-14 Jakarta Pusat 10350

6.

Koperasi Tani Bidara Tani

Jalan A. Yani Nomor 84, Kecamatan


Bareng, Kabupaten Jombang, Provinsi
Jawa Timur

Sumber : BAPPEPTI 2008


Lembaga kedua adalah Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK). LPK adalah
suatu

lembaga

terakreditasi yang melakukan

kegiatan

penilaian untuk

membuktikan bahwa persyaratan tertentu mengenai produk, sistem, proses, dan


atau sumber daya manusia yang dimiliknya telah terpenuhi dan sesuai dengan
standar. Kegiatan penilaian kesesuaian ini mencakup lembaga inspeksi,
laboratorium penguji dan lembaga sertifikasi sistem mutu. LPK yang mendapat
persetujuan dari BAPPEBTI seluruhnya diakreditasi oleh Komite Akreditasi
Nasional (KAN). Kegiatan penilaian kesesuaian yang dilakukan mencakup
kegiatan sertifikasi, inspeksi dan pengujian yang berkaitan dengan barang, gudang
dan pengelola gudang.
Penyimpanan barang di gudang sangat erat kaitannya dengan konsistensi
mutu barang yang disimpan, sehingga perlu disiapkan sistem penilaian kesesuaian
yang dapat menjamin konsistensi mutu barang yang disimpan. Sertifikat yang
diterbitkan oleh LPK memuat nomor dan tanggal penerbitan, identitas pemilik
barang, jenis dan jumlah barang, sifat barang, metode pengujian mutu barang,
tingkat mutu dan kelas barang, jangka waktu mutu barang dan tanda tangan pihak
yang berhak mewakili lembaga. Daftar Daftar Lembaga Penilaian Kesesuaian
yang telah mendapat persetujuan dari BAPPEBTI bisa dilihat pada Tabel 3.

2
6

Tabel 3. Daftar Lembaga Penilai Kesesuaian yang mendapat persetujuan dari


BAPPEBTI.
NO
LPK
Alamat
1
Inspeksi Gudang
a. PT. Bhanda Ghara Jalan Kali Besar Timur
(Penunjukan
Reksa (Persero)
Nomor 5-7, Jakarta
Kabappebti)
11110.
b. PT. SUCOFINDO Graha Sucofindo, Jl.
Raya Pasar Minggu
Kav. 34 Jakarta 12780
2. Sertifikat
PT. SUCOFINDO Graha Sucofindo, Jl.
Manajemen Mutu
Raya Pasar Minggu
Kav. 34 Jakarta 12780
3. Uji Mutu
a. PT. SUCOFINDO Graha Sucofindo, Jl.
Komoditi
(Lada,
Kopi, Raya Pasar Minggu
Kakao)
Kav. 34 Jakarta 12780
b. BPSMB
Jl. Gayung Kebonsari
&TEMBAKAU
Dalam No. 12 A
SURABAYA
Surabaya
(Kopi,
Lada,
Kakao dan Karet)
c.

4.

Uji Mutu
Komoditi
Penunjukan
Kabappebti

a.

b.

BPSMB
MAKASSAR
(Kopi, dan Lada)
BPSMB
&TEMBAKAU
SURABAYA
(Gabah)
UJASTASMA
PROBIS PERUM
BULOG
SUBDIVRE KAB.
BANYUMAS
(Gabah)

Jl.
A.
Pattarani
Makassar 90222
Jl. Gayung Kebonsari
Dalam No. 12 A
Surabaya
Jl. Jend. Sudirman No.
829 Purwokerto
Jateng

Sumber : BAPPEBTI 2008


Lembaga ketiga adalah pusat registrasi yang melakukan penatausahaan
Resi Gudang dan Derivatif resi Gudang yang meliputi pencatatan, penyimpanan,
pemindah bukuan kepemilikan, pembebanan hak jaminan, pelaporan, seta
penyediaan sistem dan jaringan informasi. Penatausahaan dilakukan untuk
menjamin keamanan dan keabsahan setiap pengalihan dan pembebanan hak
jaminan atas Resi gudang, karena setiap pihak yang menerbitkan, mengalihkan
dan melakukan pembebanan hak jaminan atas resi gudang wajib melaporkannya
kepada Pusat Registrasi. Berdasarkan sistem ini, pemerintah melalui Pusat

2
7

Registrasi dapat memantau pengalihan dan pembebanan hak jaminan atas resi
gudang, mencegah terjadinya penjaminan ganda dan melakukan tersediannya stok
nasional untuk komoditi tertentu. Pusat Registrasi yang telah mendapat
Persetujuan dari BAPPEBTI adalah PT. Kliring Berjangka Indonesia.
Lembaga terakhir adalah Badan Pengawas Resi Gudang. Badan ini
merupakan unit organisasi di bawah Menteri Perdagangan yang diberi wewenang
untuk melakukan pembinaan, pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan yang
berkaitan dengan SRG. Badan ini antara lain berwenang memberikan persetujuan
sebagai Pengelola Gudang, Lembaga Penilaian Kesesuaian dan Pusat Registrasi.
Saat ini tugas, fungsi dan kewenangan tersebut dilaksanakan oleh BAPPEBTI.
Adapun syarat komoditi yang dapat diresi gudangkan antara lain memiliki
daya tahan simpan minimal tiga bulan, memilik standar mutu nasional dan
memiliki struktur pasar terbuka. Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan No.
26/M-DAG/PER/6/2007 tentang Barang Yang Dapat Disimpan di Gudang Dalam
Penyelenggaraan Sistem Resi Gudang hingga saat ini baru terdapat delapan
komoditi yang dapat diresi gudangkan yaitu: Gabah, Beras, Jagung, Kopi, Kakao,
Lada, Karet, dan Rumput Laut. Setiap komoditi yang akan disimpan di gudang
harus memenuhi persyaratan standar mutu tertentu yang berlaku untuk komoditi
yang bersangkutan untuk memperoleh Resi Gudang. Contoh nilai standar mutu
gabah berdasarkan SNI bisa dilihat pada Tabel 4.

2
8

Tabel 4. Standar Mutu Komoditi Gabah Seperti Tercantum dalam SNI 01-02241987.
Persyaratan
No
Jenis Uji
Satuan
MUTU I MUTU II
MUTU
III
1
Kadar Air
% maks.
14.0
14.0
14.0
2.
Gabah Hampa
% maks.
1.0
2.0
3.0
3.
Butir Rusak + Butir
% maks.
2.0
5.0
7.0
Kuning
4.
Butir Mengapur +
% maks.
1.0
5.0
10.0
Gabah Muda
5.
Butir Merah
% maks.
1.0
2.0
4.0
6.
Benda Asing
% maks.
0.5
1.0
7.
Gabah Varietas lain
% maks.
2.0
5.0
10.0
Sumber : BAPPEBTI 2008
Untuk mendapatkan Resi

Gudang Petani terlebih dahulu mendatangi

Pengelola Gudang dengan membawa komoditi yang akan diresigudangkan.


Sebelum masuk gudang, komoditi tersebut terlebih dahulu diuji mutu dan
kuantitasnya oleh LPK yang ada di Gudang atau Kantor Pengelola Gudang.
Sementara itu Pengelola Gudang akan membuat perjanjian pengelolaan barang
yang berisi deskripsi barang dan asuransi. Diskripsi barang dibuat berdasarkan
sertifikat hasil uji mutu yang dikeluarkan oleh LPK.
Surat perjanjian pengelolaan barang yang telah ditandatangani, selanjutnya
Pengelola Gudang akan menghubungi Pusat Registrasi untuk meminta kode
registrasi. Pengelola Gudang dapat langsung menerbitkan Dokumen Resi Gudang
tepat setelah menerima kode registrasi dari Pusat Registrasi. Dokumen Resi
Gudang yang sah akan mencantumkan informasi antara lain judul dan jenis
komoditi, nama pemilik komoditi, lokasi gudang, tanggal penerbitan, nomor
penerbitan, nomor registrasi, deskripsi barang (kuantitas dan kualitas), waktu
jatuh tempo, biaya simpan, nilai barang dan harga pasar.

2.3. Kajian Empiris Mengenai Usahatani


Rachmawati

(2003)

dan

Gandhi

(2008)

dalam

penelitiannya

mengemukakan bahwa usahatani padi yang dilakukan oleh petani pemilik lahan
lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan petani penggarap. Hal tersebut
dapat dilihat dari nilai rasio R/C atas biaya tunai maupun biaya total petani

2
9

pemilik (3,14 dan 1,35) yang lebih besar dari petani penggarap (1,19 dan 1,18)
pada penelitian Rachmawati dan nilai rasio R/C atas biaya tunai maupun biaya
total petani pemilik (2,42 dan 1,19) yang lebih besar dari petani penggarap (1,07
dan 1,88) pada penelitian Gandhi. Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat
diketahui bahwa usahatani yang dilakukan, baik oleh petani pemilik maupun
petani penggarap, masih menguntungkan karena rasio R/C atas biaya tunai
maupun biaya totalnya lebih besar dari satu.
Hidayat (2010) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa pendapatan
usahatani jambu getas merah di Kelurahan Sukaresmi dikelompokkan berdasarkan
status penguasaan lahan yaitu petani pemilik lahan dan petani penyewa lahan.
Pendapatan atas biaya tunai per hektar per tahun yang diterima petani pemilik
lahan yaitu Rp 12.727.000,00 lebih besar daripada pendapatan atas biaya tunai per
hektar per tahun yang diterima petani penyewa lahan yaitu Rp 9.056.000,00.
Begitu pula berdasarkan perhitungan pendapatan atas biaya total, maka
pendapatan atas biaya total per hektar per tahun yang diterima petani pemilik
lahan yaitu Rp 8.146.666,67 lebih besar daripada pendapatan atas biaya total per
hektar per tahun yang diterima petani penyewa lahan yaitu Rp 8.047.333,33.
Kegiatan usahatani yang dilakukan oleh petani pemilik lahan dan petani penyewa
lahan menguntungkan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai rasio R/C atas biaya
tunai maupun biaya total petani pemilik lahan yang lebih tinggi (2,69 dan 1,67)
dari biaya tunai petani maupun biaya total penyewa lahan (1,81dan 1,66).
Terdapat beberapa persamaan dan perbedaan pada penelitian Rachmawati,
Gandhi dan Hidayat. Persamaan penelitian yang diteliti oleh Rachmawati, Gandhi
dan Hidayat adalah analisis usahatani dengan rasio R/C petani pemilik lahan lebih
besar daripada rasio R/C petani penggarap baik atas biaya tunai maupun biaya
total. Perbedaan penelitian ini adalah jenis komoditi yang diteliti yaitu jambu
merah yang diteliti oleh Hidayat, dan padi yang diteliti oleh Rachmawati dan
Gandhi.
Terdapat beberapa persamaan dalam metode penelitian yang digunakan
pada beberapa studi terdahulu seperti pada Rachmawati (2003) dan Murdani
(2008). Pada Rachmawati (2003) menggunakan metode analisis R/C rasio, margin
tataniaga, dan IDUPHUV 6KDUH dalam menganalisis penelitiannya mengenai topik

3
0

penelitian usahatani dan tataniaga. Pada penelitian mereka tidak menggunakan


analisis lembaga dan fungsi tataniaga, sehingga kurang memberikan gambaran
kondisi tataniaga karena penelitian lebih kuantitatif. Begitu pula pada penelitian
Murdiani (2008) yang menggunakan metode analisis yang sama dalam
menganalisis penelitiannya yaitu analisis pendapatan usahatani, rasio R/C, marjin
tataniaga,dan IDUPHUV VKDUH Walaupun pada kedua penelitian tersebut analisis
usahatani lebih dalam karena menambahkan analisis pendapatan usahatani, namun
analisis tataniaga terutama kondisi kualitatif seperti fungsi tataniaga dan analisis
lembaga tataniaga kurang dibahas secara komperhensif.
Pada penelitian Gandhi (2008) dan Hidayat (2010), merupakan penelitian
yang menggunakan metode analisis yang paling lengkap dalam menganalisis
penelitian untuk topik usahatani dan tataniaga. Keduanya melakukan analisis
kuantitatif yang baik dalam analisis usahatani dan tataniaga, juga melakukan
analisis kualitatif tataniaga dengan baik.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah alat analisis
yang digunakan sama dengan yang digunakan oleh Gandhi (2008) dan Hidayat
(2010). Perbedaan ini dengan penelitian terdahulu adalah jenis komoditas yang
dianalisis yaitu gabah, dan juga metode penjualan yang digunakan yaitu metode
tunda jual dengan memanfaatkan Sistem Resi Gudang. Penelitian ini berusaha
menganalisis perbandingan tingkat pendapatan usahatani petani yang tidak
memanfaatkan Sistem Resi Gudang dan yang sudah memanfaatkannya,
pendapatan usahatani dengan pendekatan penerimaan dan biaya usahatani, dan
R/C rasio untuk melihat tingkat efisiensi usahatani padi yang sudah
memanfaatkan Sistem Resi Gudang dan sistem konvensional. Melalui analisis
efisiensi dapat diketahui metode mana yang memberikan lebih banyak
keuntungan bagi petani.

3
1

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1.

Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1. Konsep Usahatani


Menurut Hernanto (1989) mendefinisikan usahatani sebagai organisasi dari
alam, kerja, dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian.
Organisasi ini ketatalaksanaanya berdiri sendiri dan sengaja diusahakan oleh
seorang atau sekumpulan orang, segolongan sosial, baik yang terikat genologis,
politis, maupun teritorial sebagai pengelolanya. Menurut Soeharja dan Patong
(1973), usahatani adalah proses pengorganisasian faktor-faktor produksi yaitu
alam, tenaga kerja, modal dan pengelolaan yang diusahakan oleh perorangan atau
sekumpulan orang untuk menghasilkan output yang dapat memenuhi kebutuhan
keluarga ataupun orang lain disamping bermotif mencari keuntungan. Menurut
Hernanto (1989) ada empat unsur pokok dalam usahatani yang sering disebut
sebagai faktor-faktor produksi yaitu :
1.

Tanah
Tanah merupakan faktor produksi yang relatif langka dibanding dengan

faktor produksi lain, distribusi penguasaannya tidak merata di masyarakat. Oleh


karena itu, tanah memiliki beberapa sifat yaitu : (1) luasnya relatif tetap atau
dianggap

tetap,

(2)

tidak

dapat

dipindah-pindahkan

dan

(3)

dapat

dipindahtangankan atau diperjualbelikan. Tanah usahatani dapat berupa tanah


pekarangan, tegalan dan sawah. Tanah tersebut dapat diperoleh dengan cara
membuka lahan sendiri, membeli, menyewa, bagi hasil (menyakap), pemberian
negara, warisan atau wakaf. Penggunaan tanah dapat diusahakan secara
monokultur maupun polikultur atau tumpangsari.
2. Tenaga Kerja
Tenaga kerja dalam usahatani digolongkan kedalam tiga jenis yaitu tenaga
kerja manusia, tenaga kerja ternak dan tenaga kerja mekanik.

Tenaga kerja

manusia dibedakan menjadi tenaga kerja pria, wanita dan anak-anak. Tenaga
kerja manusia dapat mengerjakan semua jenis pekerjaan usahatani berdasarkan
tingkat kemampuannya.

Kerja manusia dipengaruhi oleh umur, pendidikan,

3
2

ketrampilan, pengalaman, tingkat kecukupan, tingkat kesehatan, dan faktor alam.


Oleh karena itu dalam prakteknya, digunakan satuan ukuran yang umum untuk
mengatur tenaga kerja yaitu jumlah jam dan hari kerja total. Ukuran ini
menghitung seluruh pencurahan kerja mulai dari persiapan hingga pemanenan
dengan menggunakan inventarisasi jam kerja (1 hari = 7 jam kerja) lalu dijadikan
hari kerja total (HK total). Dalam teknis perhitungan, dapat dipakai konversi
tenaga kerja dengan cara membandingkan tenaga pria sebagai ukuran baku, yaitu :
1 pria = 1 hari kerja pria (HKP) ; 1 wanita = 0,7 HKP ; 1 ternak = 2 HKP dan 1
anak = 0,5 HKP. Tenaga kerja usahatani dapat diperoleh dari dalam dan luar
keluarga.
3. Modal
Modal merupakan barang atau uang yang bersama-sama dengan faktor
produksi lain dan tenaga kerja serta manajemen menghasilkan barang-barang baru
yaitu produksi pertanian. Dalam usahatani, yang dimaksud dengan modal adalah
tanah, bangunan, alat-alat pertanian, tanaman, ternak, ikan di kolam, bahan-bahan
pertanian, piutang di bank, serta uang tunai. Menurut sifatnya, modal dibedakan
menjadi dua yakni modal tetap yang meliputi tanah bangunan dan modal tidak
tetap yang meliputi alat-alat, bahan, uang tunai, piutang di bank, tanaman, ternak,
ikan di kolam. Modal dalam usahatani digunakan untuk membeli sarana produksi
serta pengeluaran selama kegiatan usahatani berlangsung. Sumber modal
diperoleh dari milik sendiri, pinjaman atau kredit (kredit bank, pelepas
uang/keluarga/tetangga), hadiah, warisan, usaha lain ataupun kontrak sewa.
4. Manajemen
Manajemen usahatani adalah kemampuan petani untuk menentukan,
mengorganisir, dan mengkoordinasikan faktor-faktor produksi dengan sebaikbaiknya sehingga mampu memberikan produksi pertanian sedemikian rupa
sebagaimana yang diharapkan. Pengenalan pemahaman terhadap prinsip teknik
dan ekonomis perlu dilakukan untuk dapat menjadi pengelola yang berhasil.
Prinsip teknis tersebut meliputi : (a) perilaku cabang usaha yang diputuskan; (b)
perkembangan teknologi; (c) tingkat teknologi yang dikuasai; (d) daya dukung
faktor yang dikuasai dan (e) cara budidaya dan alternatif cara lain berdasar
pengalaman orang lain. Prinsip ekonomis antara lain : (a) penentuan

perkembangan harga; (b) kombinasi cabang usaha; (c) pemasaran hasil; (d)
pembiayaan usahatani; (e) penggolongan modal dan pendapatan dan (f) ukuranukuran keberhasilan yang lazim.
Pengelolaan usahatani pada dasarnya terdiri dari pemilihan antara
berbagai alternatif penggunaan sumberdaya yang terbatas yang terdiri dari lahan,
kerja, modal, waktu dan pengelolaan. Hal ini dilakukan agar ia dapat mencapai
tujuan sebaikbaiknya dalam lingkungan yang penuh resiko dan kesukarankesukaran lain yang yang dihadapi dalam melaksanakan usahataninya
(Soekartawi, 1986). Seorang penyuluh pertanian memiliki peran yang penting
dalam memberikan petunjuk kepada petani dengan cara membantu petani melihat
permasalahannya, menganalisis permasalahan tersebut dan mengambil keputusan
dengan benar.
Lebih lanjut Soekartawi (1986) menambahkan bahwa terdapat kaitan yang
sangat erat antara ilmu usahatani dengan ilmu ekonomi. Hal ini dikarenakan ilmu
usahatani pada dasaranya memperhatikan cara-cara petani dalam memperoleh dan
memadukan sumberdaya (lahan, kerja, modal, waktu dan pengelolaan) yang
terbatas untuk mencapai tujuannya, maka disiplin induknya adalah ekonomi.
Penelitian usahatani dianggap mempunyai sifat multi disiplin karena harus
memperhatikan informasi, prinsi dan teori dari ilmu yang sangat erat kaitannya,
seperti sosiologi dan psikologi maupun berbagai bidang ilmu tanaman dan ilmu
hewan. Menurut Soekartawi (1986) umumnya penelitian usahatani merupakan
penelitian terapan dan mempunyai salah satu atau kedua tujuan umum di bawah
ini:
1. Menyediakan informasi yang dapat membantu petani dalam mengelola
usahataninya sehingga mereka lebih mampu mencapai tujuannya.
2.

Memberikan

informasi

kepada

pemerintah

mengenai

petani

dan

pengelolaannya sehingga membantu di dalam perumusan kebijsanaan dan


perencanaan pembangunan yang lebih baik.

3.1.2. Keuntungan Usahatani


Terdapat dua jenis keuntungan suatu usahatani, yaitu yang dapat dihitung
secara ekonomi (tangible) dan yang tidak dapat dihitung ke dalam satuan uang

3
4

(intangible). Keuntungan ekonomi adalah keuntungan berupa besar atau tidaknya


pendapatan dan efisien atau tidaknya suatu penelitian yang digambarkan oleh nilai
rasio R/C nya. Keuntungan non ekonomi terdiri dari kesuburan lingkungan,
pemandangan yang menjadi indah dan sebagainya.
Keberhasilan suatu usahatani dapat dilihat dari besarnya pendapatan yang
diperoleh petani dalam mengelola usahataninya. Pendapatan itu sendiri dapat
didefinisikan sebagai selisih pengurangan dari nilai penerimaan dengan biaya
yang dikeluarkan dalam proses usahatani. Pendapatan usahatani mengukur
imbalan yang diperoleh dari penggunaan faktor-faktor produksi, karena itu
pendapatan usahatani merupakan ukuran keuntungan usahatani yang dipakai
untuk

membandingkan

keragaan

beberapa

usahatani

(Mariani,

2007).

Analisis pendapatan usahatani memerlukan dua komponen pokok yaitu


penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu yang ditentukan. Kegunaan
anailisi ini adalah untuk menggambarkan keadaan sekarang dari suatu kegiatan
dan menggambarkan keadaan di masa yang akan datang dari perencanaan atau
tindakan (Soeharjo dan Patong, 1973)
Menurut Soekartawi (1986), penerimaan usahatani adalah suatu nilai
produk total dalam jangka waktu tertentu baik untuk dijual maupun untuk
dikonsumsi sendiri. Penerimaan usahatani mencakup semua produk yang dijual,
dikonsumsi rumah tangga petani, untuk pembayaran dan yang disimpan.
Penerimaan dinilai berdasarkan perkalian antara total produk dengan harga pasar
yang berlaku, sedangkan pengeluaran atau biaya usahatani merupakan nilai
penggunaan sarana produksi dan lain-lain yang dibebankan kepada produk yang
bersangkutan. Selain biaya tunai yang harus dikeluarkan ada pula biaya yang
diperhitungkan, yaitu nilai pemakaian barang dan jasa yang dihasilkan dan berasal
dari usahatani itu sendiri. Biaya yang diperhitungkan digunakan untuk
memperhitungkan berapa sebenarnya pendapatan kerja petani jika modal dan nilai
kerja keluarga diperhitungkan.
Penerimaan usahatani adalah nilai produk total usahatani dalam jangka
waktu tertentu, sedangkan pengeluaran usahatani adalah nilai semua input yang
habis terpakai dalam proses produksi tetapi tidak termasuk biaya tenaga kerja
kerluarga. Pengeluaran tunai adalah pengeluaran yang dibayar dengan uang,

3
5

seperti biaya pembelian saran produksi, biaya untuk membayar tenaga kerja.
Pengeluaran

yang

diperhitungkan

digunakan

untuk

menghitung

berapa

sebenarnya pendapatan kerja petani jika bunga modal dan nilai kerja kerluarga
diperhitungkan (Soeharjo dan Patong, 1973).

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional


Salah satu masalah yang dihadapi negara Indonesia sekarang ini adalah
bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yang dilakukan melalui
pembangunan di berbagai bidang, salah satunya adalah bidang pertanian. Hal ini
bisa dilihat dengan semakin banyak digalakkannya pembangunan di bidang
pertanian utamanya sub sektor pangan. Salah satu sub sektor pangan adalah
usahatani padi. Petani padi dalam melakukan proses produksi untuk menghasilkan
output, diperlukan biaya pengeluaran-pengeluaran yang digunakan dalam
mempertahankan kelangsungan proses produksi tersebut.
Dalam usahatani padi diharapkan adanya peningkatan pendapatan
sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan petani padi
pada khususnya. Hal ini menjadi salah satu ukuran kesejahteraan masyarakat yaitu
adanya peningkatan pendapatan dari petani tersebut.
Dalam usaha meningkatkan pendapatan usaha tani padi, pemerintah
mengeluarkan salah satu kebijakan baru yaitu Sistem Resi Gudang (SRG). Namun
pada

pelaksanaannya

belum

banyak

petani

di

Indonesia

yang sudah

memanfaatkan peraturan ini. Salah satu Resi Gudang tersebut berada di daerah
Indramayu, Jawa Barat. Tujuan dibangunnya Gudang tersebut di Indramayu
karena Indramayu merupakan sentra penghasil padi di Jawa Barat, dimana Jawa
Barat merupakan wilayah penghasil padi terbanyak di Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan
pendapatan usahatani petani padi di Kecamatan Anjatan Indramayu yang telah
memanfaatkan SRG dengan petani yang belum memanfaatkannya. Oleh karena
itu, dengan adanya penelitian yang membandingkan konsep usahatani
konvensional dan yang memanfaatkan Resi Gudang ini diharapkan dapat
membantu pihak terkait khususnya petani dalam pengambilan keputusan untuk
menjalankan atau menerapkan sistem usahatani yang mana yang lebih

3
6

menguntungkan bagi petani. Adapun bagan kerangka operasional dapat dilihat


pada Gambar 1.

3
7

x Upaya meningkatkan kesejahteraan


masyarakat.
x Pembangunan di bidang pertanian
sub sektor pertanian pangan.
x Peraturan pemerintah tentang Sistem
Resi Gudang.
x Jawa Barat merupakan sentra
penghasil padi di Indonesia.
x Pembangunan Gudang di Indramayu
J
B t

Pendapatan yang diperoleh petani gapoktan


Jayatani rendah.

Petani non Resi Gudang

Manfaat non ekonomis

Petani SRG

Manfaat ekonomis

Analisis Pendapatan Usahatani

x Analisis keragaan usahatani


x Analisis
pendapatan
usahatani
- Penerimaan usahatani
- Biaya usahatani
x Analisis efisiensi usahatani

Rekomendasi kepada petani dan pemerintah tentang pemanfaatan Sistem


Resi Gudang dalam usahatani di Desa Mangunjaya Indramayu

Gambar 1.

Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Usahatani Gabah


dengan Memanfaatkan Sistem Resi Gudang Studi Kasus Gapoktan
Jayatani Indramayu
3
8

IV. METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di Desa Mangunjaya, Kecamatan Anjatan,
Kabupaten Indramayu, Propinsi Jawa Barat dengan responden para petani yang
sudah memanfaatkan Sistem Resi Gudang dan para petani yang belum
memanfaatkan sitem tersebut yang tergabung dalam Gapoktan Jayatani.
Pemilihan lokasi ditentukan atas dasar pertimbangan bahwa daerah tersebut dekat
dengan letak Gudang Resi Gudang yang ada di Indramayu. Penelitian lapang
dilakukan selama tiga bulan, dimulai pada bulan April 2011 sampai bulan Juli
2011 untuk pengumpulan data. Karena pada saat tersebut di wilayah Desa
Mangunjaya dalam musim panen dan menunggu hasil penjualan gabah yang ada
di gudang SRG.

4.2. Jenis dan Sumber Data


Jenis data yang akan digunakan sebagai sumber data dan informasi adalah
sebagai berikut :
1. Data Primer
Data primer adalah data yang didapat dari pengamatan langsung ke
lapangan, yaitu hasil wawancara dengan petani responden yang belum dan
sudah memanfaatkan SRG dengan menggunakan daftar pertanyaan
(kuisioner).
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan pendukung data primer yang diperoleh dari
instansi-instansi terkait seperti Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu, PT.
Pertani selaku pengelola gudang, dan instansi-instansi terkait lainnya. Data
sekunder juga diperoleh melalui beberapa literatur berupa data
pemanfaatan SRG yang pernah dilakukan berkaitan dengan kegiatan
penelitian.

3
9

4.3.

Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara melalui


pengisian kuisioner yang pertanyaanya disampaikan kepada petani responden.
Penentuan petani responden dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu
pengambilan contoh secara acak (stratified sampling) untuk petani yang belum
memanfaatkan SRG dan

metode teknik sensus untuk petani yang sudah

memanfaatkannya.
Pengambilan petani responden didasarkan pada petani yang tergabung
didalam suatu gabungan kelompok tani. Jumlah responden yang diambil sebanyak
33 orang petani responden yang terdiri dari 29 petani yang belum memanfaatkan
SRG dan empat orang petani responden yang sudah memanfaatkan SRG. Jumlah
responden untuk petani yang belum memanfaatkan SRG diambil berdasarkan
kelompok tani yang tergabung dalam Gapoktan Jaya Tani yang menanam padi.
Kemudian setelah dibagi menjadi lima kelompok tani, untuk menentukan contoh
di tiap kelompok tani dilakukan dengan cara acak dan didapat 29 orang petani
responden. Sementara itu pemilihan petani yang telah memanfaatkan SRG
sebanyak empat petani karena dalam Gapoktan tersebut hanya empat petani
tersebut saja yang memanfaatkan SRG dengan menggunakan metode teknik
sensus.
4.4.

Teknik Analisa Data


Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dan kuantitatif,

kemudian dilalanjutkan dengan pengolahan dan analisis data. Analisis kualitatif


dilakukan bertujuan untuk menganalisis keragaan usahatani gabah di Desa
Cipancuh sedangkan analisis kuantitatif bertujuan untuk menganalisis pendapatan
usahatani yang sudah memanfaatkan Sistem Resi Gudang dan yang belum
memanfaatkanya berdasarkan penerimaaan dan biaya usahatani yang dikeluarkan,
sedangkan R/C rasio digunakan untuk mengetahui tingkat efisiensi usahatani.
Penerimaan total usahatani (total farm revenue) merupakan nilai produk
dari usahatani yaitu harga produk dikalikan dengan total produksi periode
tertentu. Total biaya atau pengeluaran adalah semua nilai faktor produksi yang
dipergunakan untuk menghasilkan suatu produk dalam periode tertentu.
Pendapatan total usahatani merupakan selisih antara penerimaan total dengan
4
0

pengeluaran total. Rumus penerimaan, total biaya dan pendapatan adalah


(Soekartawi, 1986) :
TR
TC
DWDVELD\DWXQDL
DWDVELD\DWRWDO

=
=
=
=

PxQ
biaya tunai + biaya diperhitungkan
TR - biaya tunai
TR TC

Keterangan :
TR
TC
P
Q

: total penerimaan usahatani yang dijual dalam bentuk gabah (Rp)


: total biaya usahatani (Rp)
: harga output (Rp/Kg)
: jumlah output (Kg)
: pendapatan atau keuntungan (Rp)

Pendapatan dianalisis berdasarkan biaya tunai dan biaya tidak tunai atau
biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai digunakan untuk melihat seberapa besar
likuiditas tunai yang dibutuhkan petani untuk menjalankan kegiatan usahataninya.
Biaya tidak tunai digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan
kerja petani jika penyusutan, sewa lahan dan nilai kerja keluarga diperhitungkan.
Salah satu ukuran efisiensi penerimaan untuk tiap rupiah yang dikeluarkan
(revenue cost ratio) adalah analisis R/C. Analisis R/C rasio dalam usahatani
menunjukkan perbandingan antara nilai output terhadap nilai inputnya yang
bertujuan untuk mengetahui kelayakan dari usahatani yang dilaksanakan. Selain
itu R/C rasio juga merupakan perbandingan antara penerimaan dengan
pengeluaran usahatani. Rasio R/C yang dihitung dalam analisis ini terdiri dari R/C
atas biaya tunai dan R/C atas biaya total. Rasio R/C atas biaya tunai dihitung
dengan membandingkan antara penerimaan total dengan biaya tunai dalam satu
periode tertentu. Rasio R/C atas biaya total dihitung dengan membandingkan
antara penerimaan total dengan biaya total dalam satu periode tertentu. Rumus
analisis imbangan penerimaan dan biaya usahatani adalah sebagai berikut
(Soekartawi, 1986) :
R/C rasio atas biaya tunai =

TR / biaya tunai

R/C rasio atas biaya total =

TR / TC

4
1

Keterangan :
TR

: total penerimaan usahatani (Rp)

TC

: total biaya usahatani (Rp)

Secara teoritis R/C menunjukkan bahwa setiap satu rupiah biaya yang
dikeluarkan akan memperoleh penerimaan sebesar nilai R/C. Suatu usaha dapat
dikatakan menguntungkan dan layak untuk diusahakan apabila nilai R/C rasio
lebih besar dari satu (R/C > 1), makin tinggi nilai R/C menunjukkan bahwa
penerimaan yang diperoleh semakin besar. Namun apabila nilai R/C lebih kecil
dari satu (R/C < 1), usaha ini tidak mendatangkan keuntungan sehingga tidak
layak untuk diusahakan (Soekartawi, 1986).
Tabel 5. Contoh Perhitungan Pendapatan Usahatani dan R/C Rasio per Hektar per
Tahun Tanaman Tahunan
No
A
B
1
2
3
4
5
C
1
2
3
D
E
F
G
H

Keterangan

Jumlah

Harga per
Satuan (Rp)

Total
(Rp)

Penerimaan
Biaya tunai
Bibit
Pupuk
Obat-obatan
Tenaga kerja luar keluarga
Irigasi
Total biaya tunai
Biaya yang diperhitungkan
Penyusutan
Sewa lahan
Tenaga kerja keluarga
Total biaya yang diperhitungkan
Total biaya (B+C)
Pendapatan atas biaya tunai (A-B)
Pendapatan atas biaya total (A-D)
R/C atas biaya tunai (A/B)
R/C atas biaya total (A/D)

4
2

V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5.1.

Wilayah dan Topografi


Desa Mangunjaya memiliki wilayah administratif dengan batas wilayah

yaitu sebelah utara berbatasan dengan Desa Cilandak, sebelah selatan dengan
Desa Bugis Tua, sebelah barat dengan Mekarjaya Kabupaten Subang, dan sebelah
timur dengan Desa Bugis. Desa Mangunjaya memiliki luas wilayah sebesar
11.063,37 hektar dan dihuni oleh 6.428 jiwa penduduk (Monografi Desa
Mangunjaya, 2010).
Topografi Desa Mangunjaya memiliki rata-rata ketinggian 200 meter dari
permukaan laut. Desa Mangunjaya memiliki kondisi iklim yang cukup tinggi
dengan suhu rata-rata tiap bulan mencapai 29,5C dengan suhu terendah 25C dan
suhu tertinggi 34C. Tingkat kelembaban udara yang dimiliki yaitu sebesar 70
persen dengan curah hujan rata-rata setiap tahun sekitar 2000 mm dan curah hujan
tertinggi berada pada bulan Januari dan Februari. Kondisi alam tersebut
mendukung potensi agribisnis pada Desa Mangunjaya, seperti padi dan tanaman
palawija.
Padi merupakan salah satu potensi agribisnis yang sangat potensial untuk
dikembangkan di Desa Mangunjaya dimana luas lahan sawah di Desa Mangun
jaya yang mencapai 480 hektar atau sekitar 4,3 persen dari total luas wilayah.
Selain padi, hortikultura merupakan salah satu potensi agribisnis yang dapat
dikembangkan lagi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

5.2

Sosial Ekonomi Masyarakat


Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa persebaran jumlah penduduk

berdasarkan jenis pekerjaan di Desa Mangunjaya terdapat 12 jenis pekerjaan,


dimana sektor pertanian menempati peringkat pertama dengan total 4.213
penduduk atau 65,64 persen dari total penduduk Desa Mangunjaya. Hal ini
menunjukkan bahwa bidang pertanian memiliki potensi yang besar dari sisi
Sumber Daya Manusia (SDM) untuk dapat berkembang lagi. Jumlah penduduk
paling banyak terdapat pada tingkat usia kerja di bidang pertanian dan diikuti
dengan penduduk di usia sekolah.
4
3

Tabel 6. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan Warga Desa Mangunjaya


Berdasarkan Lokasi Dusun Tahun 2010 (Orang)
Persentase
Lokasi

Jenis

(%)

Pekerjaan
No

Mangunsari Bodas Karangjaya Jumlah

PNS

22

0,37

TNI/Polri

0,04

Pensiunan

0,02

Wiraswasta

31

41

73

1,14

Industri kecil

13

0,20

Pedagang

14

51

50

115

1,80

Nelayan

Petani

708

644

699

2.051

31,94

Buruh tani

793

674

695

2.162

33,70

10

Pelajar

362

504

491

1.357

21,20

11

Mahasiswa

16

12

11

39

0,64

12

Lain-lain

294

129

152

575

8,95

6.428

100

Total

Sumber: Badan Keswadayaan Masyarakat Desa Mangunjaya 2010


Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa di Desa Mangunjaya masih banyak
warga yang tidak bersekolah, yaitu sebanyak 444 orang (20,96 persen). Jumlah
penduduk paling banyak terdapat pada tingkat pendidikan SD, yaitu sebanyak 706
orang (33,33) warga. Tingkat pendidikan paling tinggi adalah perguruan tinggi
sebanyak 139 orang (6,56 persen). Hal ini menunjukkan bahwa di Desa
Mangunjaya kesadaraan akan pentingnya pendidikan masih rendah.

Tabel 7. Data Usia Sekolah Warga Desa Mangunjaya Berdasarkan Lokasi Dusun
Tahun 2010 (Orang).
Persentase
Lokasi

Tingkat

Jumlah (%)

Pendidikan
No

Mangunsari Bodas

Karangjaya

Belum Sekolah

66

182

78

326

15,40

TK

12

18

20

50

2,36

SD

254

190

262

706

33,33

SLTP

48

29

96

173

8,17

SLTA

160

85

35

280

13,22

PT

16

112

11

139

6,56

Tidak Sekolah

39

141

264

444

20,96

595

757

766

2118

100

Jumlah

Sumber: Badan Keswadayaan Masyarakat Desa Mangunjaya 2010


Aktivitas usahatani yang dilakukan oleh petani di Desa Mangunjaya terdiri
dari dua jenis komoditas utama, yaitu padi dan hortikultura. Tanaman hortikultura
yang menjadi produk andalan adalah tanaman jeruk nipis.
5.3.

Gudang Sistem Resi Gudang Indramayu


Gudang SRG terletak di Desa Cipancuh, Kecamatan Haurgeulis

Kabupaten Indramayu. Gudang SRG ini dibangun pada tahun 2008 sebanyak dua
gudang yang dikelola oleh PT Pertani. Dalam pelaksanaannya gudang SRG ini
dibagi menjadi dua, yang pertama dijadikan gudang untuk menyimpan komoditi
beras dan yang satu lagi dijadikan sebagai tempat penyimpanan komoditi gabah.
Kapasitas gudang SRG di Indramayu sebesar 3500 ton untuk masing-masing
gudang. Pada tahun 2011 jumlah komoditi yang disimpan di gudang SRG telah
mencapai 861,6 ton dengan perincian 350 ton beras milik petani, 200 ton gabah
milik petani, 53,6 ton gabah milik gapoktan, 98 ton gabah milik poktan dan 160
ton gabah milik koperasi.
Untuk bisa menjadi gudang SRG suatu gudang harus memiliki persyaratan
umum seperti adanya akses jalan, bebas banjir dan longsor. Adapaun berdasarkan
peraturan Kepala BAPPEBTI 03/ BAPPEBTI/ PER-SRG/ 7/2007, suatu gudang
harus memiliki persyaratan teknis sebagai berikut:

4
5

1. Konstruksi : Kerangka, atap, dinding, talang air, pintu dan lantai.


2. Fasilitas

: Lorong-lorong air, listrik, hydrant, penangkal petir dan kantor.

3. Peralatan : Timbangan, palet, hygrometer, thermometer, tamgga staple dan


pemadam.
Dalam penerapan SRG, pengelola gudang bertugas untuk menjaga barang
yang dititipkan baik dari segi keamanan dan kualitas. Dalam upaya menjaga
kualitas brang, pengelola gudang melakukan perawatan dengan fumigasi dan
spraying untuk mencegah munculnya kutu pada beras dan gabah yang dilakukan
setiap satu bulan sekali. Gabah dan beras di gudang diletakkan di atas palet atau
alas dari kayu. Hal ini dilakukan agar gabah dan beras tidak bersentuhan langsung
dengan lantai yang menyebabkan gabah dan beras menjadi lembab. Perawatan
yang dilakukan oleh pengelola gudang dilakukan unuk menjaga mutu barang yang
dititipkan. Kondisi fisik gudang SRG Indramayu dapat dilihat pada Lampiran 12.

5.4.

Profil Gabungan Kelompok Tani Jaya Tani


Gabungan kelompok tani (Gapoktan) Jaya Tani merupakan suatu

organisasi petani yang dibentuk pada 4 Januari 2006 di Desa Mangunjaya sebagai
wadah menampung aspirasi para petani yang terdapat di Desa Mangunjaya.
Gapoktan Jayatani terdiri dari enam kelompok tani dimana lima kelompok tani
mengusahakan padi dan satu kelompok tani mengusahakan palawija.
Gapoktan Jaya Tani didirikan dengan tujuan sebagai wadah bagi para
petani untuk mengembangkan potensi pertanian di Desa Mangunjaya sehingga
jika ada permasalahan tentang pertanian di Desa Mangunjaya maka Gapoktan
Jaya Tani akan menjadi lembaga yang akan memberikan bantuan dan solusi bagi
para petani dalam menghadapi permasalahan yang muncul. Salah satu peranan
utama yang diharapkan

dapat dilakukan oleh Gapoktan Jaya Tani adalah

meningkatkan posisi tawar petani dalam pemasaran hasil panennya.

Pada

umumnya, tanpa adanya sebuah mekanisme pemasaran yang baik maka posisi
tawar petani cenderung rendah dibandingkan dengan para pembeli produk hasil
pertanian tersebut. Keberadaan Gapoktan Jaya Tani diharapkan posisi tawar
petani padi dapat meningkat. Gapoktan Jaya Tani memiliki visi untuk

4
6

mensejahterakan petani anggotanya. Untuk mewujudkan visi tersebut maka


Gapoktan Jaya Tani menyusun beberapa misi, yaitu :
1) Mendorong peningkatan produksi, produktivitas dan mutu hasil pertanian
2) Mendorong kemandirian dan peran serta petani, kelembagaan tani, dan
pengusaha pertanian dalam pembangunan pertanian.
3) Meningkatkan pendapatan petani melalui peningkatan posisi tawar.
Tabel 8. Nama Kelompok Tani, Luas Lahan Garapan dan Jenis Tanaman yang
Diusahakan Gapoktan Jaya Tani Tahun 2011.
No Nama Kelompok Tani
Luas lahan (ha)
Jenis Tanaman
1

Bidun Utara

142

Padi

Bidun Selatan

100

Padi

Sahartepak Barat

78

Padi

Sahartepak Tengah

75

Padi

Karya Tani Mandiri

85

Padi

Karya Tani Bakti

75

Hortikultura

Sumber: Badan Keswadayaan Masyarakat Desa Mangunjaya 2010


Berdasarkan Tabel 8 hanya kelompok tani Karya Tani Bakti saja yang
mengusahakan tanaman hortikultura sebagai komoditas utamanya, sedangkan
sisanya mengusahakan padi sebagai komoditas utamanya. Padi yang ditanam
mencapai 86,49 persen luas lahan dari total lahan yang diusahakan oleh petani
yang tergabung di dalam Gapoktan Jaya Tani di Desa Mangunjaya.
Gapoktan Jaya Tani dibagi menjadi beberapa macam unit, yaitu unit
pengelolaan usahatani, unit pengelolaan sarana produksi pertanian, unit
pengolahan, unit pengelolaan permodalan dan unit pemasaran. Unit pengelolaan
usahatani bertugas membantu unit lain mulai dari sub sistem hulu hingga hilir.
Unit pengelolaan sarana produksi bertugas untuk mendata kebutuhan sarana
produksi pertanian untuk usahatani yang diperlukan petani gapoktan. Unit
pengolahan bertugas untuk membantu petani lainnya dalam pengolahan lahan
sawah, mulai dari penentuan pola tanam dan penanggulangan hama. Unit
pengelolaan permodalan bertugas untuk membantu petani yang kesulitan modal
dalam menjalankan usahataninya. Unit pemasaran bertugas untuk memasarkan
produk dari hasil usahatani yang dilakukan.
4
7

Ketua

Sekretaris

Bendahara

Unit Pengelolaan
usahatani

Unit Pengelolaan
Saraana Produksi

Unit Perngelolaan
Permodalan

Unit Pengelolaan
Pengolahan

Unit Pemasaran

Gambar 2. Struktur Organisasi Gapoktan Jaya Tani Tahun 2010


Sumber : Gapoktan Jaya Tani Desa Mangunjaya 2010

5.5.

Karakteristik Petani Responden


Karakteristik petani responden yang akan dijelaskan diklasifikasikan

menurut usia, tingkat pendidikan baik formal maupun informal, status usahatani,
pengalaman usahatani dan status kepemilikan lahan. Keragaman karakteristik
tersebut akan mempengaruhi keputusan petani responden dalam melakukan
usahatani.

4
8

Karakteristik responden secara umum meliputi umur, tingkat pendidikan,


lama bertani, dan luas lahan. Karakteristik responden tersebut dianggap penting
karena mempengaruhi cara petani responden dalam menjual hasil usahataninya.
Tabel 9 menunjukkan jenjang usia petani responden. Usia rata-rata
responden dari hasil penelitian dikelompokkan dalam tiga kelompok yaitu
responden berusia 21-30 tahun, 31-40 tahun, 41-50 tahun dan usia lebih dari 50
tahun.
Tabel 9. Sebaran Usia Responden
Petani SRG
Golongan
Usia
Jumlah
Persentase
(tahun)
(orang)
21-30
0
0
31-40
2
50
41-50
1
25
>50
1
25
Jumlah
4
100

Petani Konvensional
Jumlah
Persentase
(orang)
5
17,24
14
48,28
5
17,24
5
17,24
29
100

Petani responden di tempat penelitian memulai usahataninya di atas 20


tahun karena usahatani dijadikan sebagai sumber utama pencarian petani. Hal ini
dilakukan karena hampir seluruh petani melakukan usahatani setelah mereka
menikah pada usia 20 tahun. Pada petani responden yang telah berusia lebih dari
50 tahun banyak petani yang tidak berani menerapkan teknologi baru yang ada
karena mereka takut untuk mengambil resiko dari menerapkan teknologi baru.
Berbeda dengan petani pada jenjang usia 30-40 tahun, mereka berani untuk
menerapkan teknologi baru yang ada pada cara bercocok tanam.
Tabel 10 menunjukkan tingkat pendidikan petani responden. Tingkat
pendidikan akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan usahatani. Hal ini
terkait dengan metode yang digunakan dalam menjalankan usahatani dan
keputusan petani dalam menentukan metode penjualan hasil panennya.
Tabel 10. Sebaran Tingkat Pendidikan Responden
Petani SRG
Petani Konvensional
Tingkat
Pendidikan
Jumlah (orang)
%
Jumlah (orang)
%
Tidak Tamat SD
1
25
7
24,14
Tamat SD
2
50
15
51,72
Tamat SMP
1
25
7
24,14
Jumlah
4
100
29
100

4
9

Berdasarkan Tabel 10, dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan tertinggi


petani responden hanya hingga tingkat SMP saja. Rendahnya tingkat pendidikan
yang dimiliki oleh petani responden berpengaruh terhadap cara petani responden
melakukan usahataninya, baik dari segi teknis seperti penerapan cara bertanam
dan juga penyerapan informasi terhadap inovasi teknologi pertanian yang baru.
Pada petani responden yang telah berusia lebih dari 50 tahun, banyak petani yang
tidak berani menerapkan teknologi baru yang ada karena mereka takut untuk
mengambil resiko dari penerapan teknologi baru tersebut. Berbeda dengan petani
pada jenjang usia 30-40 tahun, mereka berani untuk menerapkan teknologi baru
yang ada pada cara bercocok tanam.
Tabel 11 menunjukkan tingkat pengalaman usahatani padi. Hal ini
merupakan karakateristik yang cukup penting karena tingkat pengalaman
usahatani dapat mempengaruhi tingkat pengambilan keputusan terhadap cara
menjalankan usatani dan pemilihan cara penjualan hasil usahatani.
Tabel 11. Sebaran Tingkat Pengalaman Usahatani Padi Petani Responden
Tingkat
Pengalaman
(tahun)
1-5
6-10
11-15
> 15
Jumlah

Petani SRG
Jumlah
Persentase
(orang)
4
100
16
100

Petani Konvensional
Jumlah
Persentase
(orang)
8
27,59
5
17,24
16
55,17
29
100

Tingkat pengalaman usahatani petani responden berpengaruh terhadap


cara petani dalam menjalankan usahataninya baik dari penerapan teknologi dan
cara penjualan hasil usahatani. Petani yang memiliki tingkat pengalaman lebih 15
tahun telah paham bagaimana cara menangani permasalahan teknis yang muncul
dalam pengolahan lahannya karena mereka memiliki tingkat pengalaman yang
lebih lama dibandingkan dengan petani yang tingkat pengalaman usahatani lebih
rendah. Petani yang memiliki tingkat pengalaman lebih lama juga menerapkan
metode penjualan yang berbeda dibandingkan dengan yang tingkat pengalaman
yang lebih rendah. Pada petani yang memiliki tingkat pengalaman lebih dari 10

5
0

tahun lebih memilih menjual hasil padinya kepada tengkulak dibandingkan


menjualnya kepada
Tabel 12 menunjukkan penguasaan luas lahan padi. Namun demikian,
penguasaan luas lahan tidak dapat menentukan jumlah hasil panen yang akan
didapat oleh petani responden. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti
modal, jumlah pupuk yang digunakan, serangan hama dan jenis pengairan sawah.
Tabel 12. Sebaran Penguasaan Luas Lahan Padi
Petani SRG
Luas Lahan
Jumlah
(ha)
Persentase
(orang)
0,0001-0,5
1
25
0,5001-1
1,0001-1,5
1
25
1,5001-2
1
25
>2
1
25
Jumlah
4
100

Petani Konvensional
Jumlah
Persentase
(orang)
13
41,38
4
17,25
6
20,69
3
10,34
3
10,34
29
100

Luas lahan tidak berpengaruh terhadap keputusan petani responden dalam


pemilihan metode penjualan gabah dan penerapan teknologi dalam bercocok
tanam, seperti pada pemilihan SRG sebagai metode penjualan. Tidak semua
petani yang memanfaatkan SRG memiliki luas lahan lebih dari satu hektar, begitu
juga dengan teknik becocok tanam. Sebagai contoh, penggunaan pestisida oleh
petani responden yang memiliki luas lahan lebih kecil ada yang lebih banyak
dibandingkan dengan petani yang memiliki luas lahan lebih besar. Hal ini
dikarenakan oleh kebiasaan dari petani responden dalam penggunaan jumlah
pestisida yang selalu habis digunakan dalam satu periode tanam. Luas lahan hanya
berpengaruh terhadap cara penggunanan tenaga kerja pada tahap penanaman padi
oleh petani. Petani responden dengan luas lahan kurang dari 0,5 hektar biasanya
menerapkan metode tanam ceblok yaitu metode penanaman dimana pekerja yang
menanam hanya diberi upah makan namun mendapatkan kepastian akan
dipekerjakan kembali pada saat proses pemanenan. Pada petani yang memiliki
luas lahan lebih dari 0,5 hektar, petani responden menerapkan menggunakan
sistem borongan pada proses penanaman, dimana pekerja mendapat upah berdasar
luas lahan yang ditanam kemudian dibagi jumlah pekerja yang menanam.

5
1

Tabel 13 menunjukkan jenis pengairan lahan petani. Jenis pengairan akan


mempengaruhi besarnya pengeluaran oleh petani responden. Terdapat dua jenis
sistem pengairan yang dilakukan oleh petani responden, yaitu pengairan teknis
dan diesel.
Tabel 13. Sebaran Jenis Pengairan Lahan Padi
Petani SRG
Jenis
Jumlah
Pengairan
Persentase
(orang)
Teknis
3
75
Diesel
1
25
Jumlah
4
100

Petani Konvensional
Jumlah
Persentase
(orang)
22
75,86
7
24,14
29
100

Pengairan teknis adalah jenis pengairan dimana lahan petani tidak


memerlukan alat tambahan untuk mengairi sawahnya. Pengairan diesel
memerlukan bantuan alat tambahan untuk mengairi lahannya karena lahan
tersebut jauh dari sumber air. Jenis pengairan akan berpengaruh terhadap
pendapatan petani, dimana petani yang menggunakan jenis pengairan teknis hanya
perlu membayar iuran berupa hasil panen sebanyak 75 kg per hektar dan 450 kg
per hektar untuk jenis pengairan diesel.

5
2

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI

6.1.

Keragaan Usahatani Padi


Keragaan usahatani padi menjelaskan tentang kegiatan usahatani padi di

Gapoktan Jaya Tani Desa Mangunjaya, Kecamatan Indramayu, Kabupaten


Indramayu. Usahatani padi merupakan usaha yang telah lama diusahakan oleh
warga di Desa Mangunjaya. Hal ini terlihat dari tingkat pengalaman petani yang
rata-rata telah mengusahakan padi lebih dari 15 tahun. Keragaan usahatani
dilakukan dengan mengidentifikasikan penggunaan input produksi, teknik
budidaya, dan output yang dihasilkan dari usahatani padi.
6.1.1. Pola Tanam
Padi merupakan produk utama yang diusahakan oleh anggota Gapoktan
Jayatani di Desa Mangujaya. Usahatani padi yang dilakukan oleh anggota
Gapoktan Jaya Tani dilakukan dalam dua periode tiap tahunnya, yaitu pada
periode Januari-April pada musin rendeng atau penghujan dan pada periode JuniOktober pada musim rendeng atau kemarau. Pola tanam yang hanya dilakukan
dua kali dalam setahun dikarenakan di Desa Mangunjaya selalu diadakan acaraacara hajatan dan semacamnya pada saat selang waktu antara musim tanam satu
dan yang lainnya sehingga para petani tidak menanam padi.
6.1.2. Input Produksi
Sarana produksi atau input yang digunakan pada usahatani padi terdiri dari
bibit; pupuk; pestisida; tenaga kerja; dan alat-alat pertanian. Perincian penggunaan
bibit, pupuk dan pestisida per hektar pada periode Januari-April 2011 pada
usahatani padi di Gapoktan Jaya Tani antara petani SRG dan petani konvensional
dapat dilihat pada Tabel 14.

5
3

Tabel 14. Rata-Rata Penggunaan Input Usahatani Padi Petani SRG dan
Konvensional per Hektar Periode Januari-April 2011
No
1.
2.

.
3

Komponen
Input
Bibit
Pupuk
Urea (kg)
SP 36 (kg)
NPK (kg)
Phonska (kg)
Za (kg)
Kompos (kg)
Pestisida
Cair (L)
Padat (kg)

Petani SRG
Harga
Jumlah
Nilai (Rp)
(Rp)
23,25
9000
209.250

Petani Konvensional
Harga
Nilai
Jumlah
(Rp)
(Rp)
18,81
9000
169293

289,73
49,67

1650
2100

478.054,5
104.307

226,82
66,22
198,68

2350
1450
800

533.027
96019

280.39
98.51
32.64
204.58
13.35

51.695,77
64.072,85

5,16
2,22

0,83
2,15

1650
2100
2350
2350
1450

462.643,50
206.871
76.704
480.763
19.357,50

330.593,70
64.563,98

6.1.2.1. Bibit
Bibit yang digunakan oleh petani baik petani SRG dan konvensional
adalah bibit yang dibeli dari kios saprotan yang ada di Desa Mangunjaya. Varietas
bibit yang digunakan adalah jenis padi ciherang. Pemilihan jenis padi ciherang
dikarenakan menurut petani di lokasi penelitian, harga jual yang didapat relatif
lebih tinggi di banding varietas padi yang lainnya seperti padi IR 64. Selain harga
yang lebih tinggi, petani memilih menanam padi jenis ciherang karena varietas ini
merupakan varietas yang cocok untuk ditanam di musim hujan maupun musim
kemarau. Alasan utama petani memilih menanam jenis padi ciherang adalah
karena jenis padi ini memiliki umur masa tanam yang lebih pendek dibanding
varietas lain seperti IR 64.
Jumlah rata-rata bibit per hektar yang digunakaan oleh petani SRG pada
periode tanam Januari-April 2011 adalah sebanyak 15,40 kilogram per hektar.
Sedangkan Jumlah rata-rata bibit per hektar yang digunakaan oleh petani
konvensional pada periode tanam Januari-April 2011 adalah sebanyak 16,45
kilogram per hektar. Penggunaan jumlah bibit padi akan mempengaruhi total
pengeluaran untuk input produksi padi.

6.1.2.2. Pupuk
Pupuk yang digunakan oleh petani responden terdiri dari dua macam, yaitu
pupuk organik (pupuk kompos) dan pupuk anorganik (pupuk urea, SP36, NPK,
Phonska dan Za). Pupuk kompos yang digunakan adalah pupuk yang dibeli dari
5
4

kios saprotan yang ada di Desa Mangunjaya. Begitu juga dengan pupuk (pupuk
urea, SP36, NPK, Phonska dan Za) diperoleh petani dengan membelinya di kios
saprotan yang ada di Desa Mangunjaya. Penggunaan pupuk organik (pupuk
kompos) hanya dilakukan oleh seorang petani SRG. Dimana petani lainnya baik
petani SRG maupun konvensional masih bergantung terhadap pupuk anorganik
saja. Jumlah penggunaan pupuk oleh petani SRG dan konvensional bisa dilihat
pada Tabel 15.
Tabel 15. Jenis Pupuk, Harga Pupuk dan Penggunaan Pupuk Rata-rata Petani
Berdasar Sistem Penjualan Periode Januari-April 2011.
No. Jenis
Harga per
Petani SRG
Petani Konvensional
Pupuk

Kg(Rp)

(Kg)

(Kg)

1.

Urea

1.650

289,74

280,39

2.

Sp36

2.100

49,67

98,51

3.

NPK

2.350

32,64

4.

Phonska

2.350

262,82

204,58

5.

Za

1.450

66,22

13,35

6.

Kompos

800

198,68

6.1.2.3. Pestisida
Pestisida yang digunakan oleh petani tergantung dari petani itu sendiri.
Pada saat penelitian dilakukan banyak lahan sawah petani yang terserang hama
wereng sehingga menyebabkan banyaknya jumlah pestisida yang digunakan oleh
petani. Banyaknya pestisida yang digunakan juga dikarenakan menurut petani
hama wereng yang menyerang sawah mereka sudah kebal terhadap pestisida yang
diberikan oleh petani, baik itu pestisida bubuk dan pestisida cair. Hal ini
dikarenakan petani di Desa Mangunjaya sering memberikan pestisida terhadap
tanaman padinya meskipun tanaman padi tersebut tidak sedang dijangkiti hama
wereng. Petani responden di Desa Mangunjaya beranggapan dengan memberikan
pestisida ke tanamannya maka akan menyebabkan tanamannya tahan terhadap
hama.
Pestisida yang digunakan oleh petani terdiri dari dua jenis yaitu pestisida
cair dan bubuk. Penggunaan pestisida dilakukan dengan cara mencampurkan

konsentrat padat ataupun cair tersebut kemudian disemprotkan ke tanaman padi.


Penyemprotan dilakukan pada pagi hari. Rata-rata penyemprotan pestisida oleh
petani dilakukan sesuai dengan keinginan petani tersebut. Jika oleh petani dinilai
tanaman padinya memerlukan pestisida, penyemprotan bisa dilakukan hingga
empat kali dalam satu masa tanam.
Jumlah rata-rata pestisida yang digunakan oleh petani pemilik SRG per
hektar lahan pada periode tanam Januari-April 2011 sebanyak 0,828 liter pestisida
cair dan 2,15 kilogram pestisida bubuk. Untuk rata-rata jumlah pestisida yang
digunakan oleh petani konvensional adalah sebanyak 5,16 liter pestisida cair dan
2,22 kilogram pestisida bubuk. Dengan demikian, rata-rata penggunaan pestisida
yang digunakan oleh petani konvensional lebih banyak dibandingkan dengan
petani SRG.

6.1.2.4. Tenaga Kerja


Tenaga kerja yang digunakan oleh petani SRG dan petani konvensional
terbagi menjadi dua kelompok yaitu tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja
luar keluarga. Tenaga kerja yang digunakan dalam semua kegiatan usahatani padi
yang dilakukan di lokasi penelitian seluruhnya dikerjakan oleh tenaga kerja lakilaki. Penggunaan tenaga kerja baik tenaga kerja dalam keluarga maupun tenaga
kerja luar keluarga digunakan dalam kegiatan usahatani mulai dari persiapan
lahan, penanaman, pemupukan, penyemprotan pestisida dan pemanenan.
Pada jenis kegiatan penanaman terdapat dua cara dalam pembayaran
tenaga kerja yang dilakukan. Cara pertama adalah dengan cara ceblok, yaitu
petani hanya membayar upah makan dengan kisaran biaya Rp 10.000,00-Rp
15.000,00 dengan kondisi tenaga kerja yang digunakan akan mendapat kepastian
akan dipekerjakan kembali ketika kegiatan pemanenan. Hal ini biasanya
dilakukan oleh petani yang memiliki lahan kecil. Cara kedua adalah dengan cara
borongan, yaitu petani akan membayar upah kepada tenaga kerja sesuai dengan
luas lahan yang akan ditanam. Besar upah untuk cara borongan berkisar dari Rp
400.000,00 sampai Rp 500.000,00 per satu bahu atau 0,66 hektar. Untuk kegiatan
pemanenan, baik petani SRG maupun konvensional menerapkan cara yang sama
dalam pembayaran upah tenaga kerja, yaitu dengan menggunakan cara bawon.

5
6

Cara pembayaran bawon adalah cara pembayaran bagi hasil dimana tenaga kerja
akan mendapatkan satu per enam dari hasil panen petani. Jumlah tenaga kerja
yang digunakan dalam analisis usahatani padi menggunakan satuan HKP (Hari
Kerja Pria). Di lokasi penelitian lama jam kerja tidak ditentukan oleh petani.
Petani hanya menginginkan dengan upah yang dibayar suatu jenis pekerjaan bisa
selesai dalam satu hari dimana untuk satu HKP adalah delapan jam per hari.
Rata-rata penggunaan tenaga kerja petani padi per hektar periode JanuariApril 2011 untuk petani SRG adalah 29,761 HKP untuk tenaga kerja luar keluarga
yang terdiri dari 7,53 HKP pada proses penanaman, 14,081 HKP pada proses
pemanenan dan 8,15 HKP untuk proses lainnya. Pada penggunaan tenaga kerja
dalam keluarga, jumlah tenaga kerja yang digunakan oleh petani SRG adalah 3,92
HKP. Rata-rata penggunaan tenaga kerja petani padi per hektar periode JanuariApril 2011 untuk petani konvensional adalah 41,49 HKP untuk tenaga kerja luar
keluarga yang terdiri dari 10,86 HKP pada proses penanaman, 15,85 HKP pada
proses pemanenan dan 7,39 HKP untuk proses lainnya untuk tenaga kerja luar
keluarga. Pada penggunaan tenaga kerja dalam keluarga, jumlah tenaga kerja yang
digunakan oleh petani konvensional adalah 4,24 HKP. Dengan demikian, jumlah
penggunaan tenaga kerja petani konvensional lebih banyak daripada petani SRG.

6.1.2.5. Alat-Alat Pertanian


Jenis alat pertanian yang digunakan dalam kegiatan padi adalah cangkul,
arit, ember, linggis, pompa air, alat semprot hama dan traktor. Cangkul digunakan
untuk menggemburkan tanah, arit digunakan untuk menyiangi ilalang yang ada di
sekitar lahan sawah, linggis digunakan untuk membalikkan tanah dan memecah
tanah keras, pompa air digunakan untuk membantu mengairi sawah, alat semprot
hama digunakan sebagai wadah penyemprot pestisida untuk memberantas hama
dan

traktor digunakan untuk membajak sawah dan menggemburkan tanah.

Peralatan yang digunakan oleh petani responden adalah milik pribadi.


Metode perhitungan penyusutan alat pertanian yang digunakan adalah
metode penyusutan garis lurus. Nilai biaya penyusutan peralatan pertanian yang
digunakan dalam kegiatan usahatani padi dihitung ke dalam komponen biaya yang
diperhitungkan. Nilai rata-rata penyusutan alat pertanian petani SRG adalah

5
7

sebesar Rp 794.006,6 dan Rp 818.039,90 untuk nilai rata-rata penyusutan alat


pertanian petani konvensional.

6.1.3. Teknik Budidaya


Teknik budidaya merupakan faktor penting pada usahatani dalam
menentukan jumlah output yang diharapkan. Pada usahatani padi, teknik budidaya
terdiri dari persiapan lahan, penanaman, pemupukan, pengendalian hama dan
penyakit tanaman (HPT) dan pemanenan.

6.1.3.1. Persiapan Lahan


Tahap persiapan lahan dilakukan untuk mengubah sifat fisik tanah agar
lapisan yang semula keras menjadi lebih lembut. Hal ini dilakukan agar gulma
yang ada pada lahan sawah mati dan membusuk menjadi humus. Pada tahap
persiapan lahan dilakukan juga perbaikan dan pengaturan pematang sawah dan
selokan. Pengaturan pematang sawah diupayakan agar tetap baik untuk
mempermudah pengaturan irigasi sehingga sawah tidak boros air dan
mempermudah dalam perawatan tanaman. Setelah perbaikan pematang sawah
kemudian dilakukan tahap pencangkulan. Pencangkulan dilakukan untuk
memperlancar

pada

tahap

pembajakan

sawah

menggunakan

traktor.

Pembajakan dilakukan untuk membuat tanah menjadi gembur dan percampuran unsurunsur hara yang terkandung di dalam tanah.

6.1.3.2. Penanaman
Penanaman padi yang dilakukan oleh petani responden ditanam dengan
jarak yang teratur. Jarak tanam antara tanaman padi satu dengan lainnya adalah 25
cm. Sebelum dilakukan penanaman, dua sampai tiga hari sebelumnya lahan sawah
telah diberi pupuk dasar terlebih dahulu. Pemberian pupuk dasar dilakukan
dengan tujuan untuk memperbaiki struktur dan memberi nutrisi bagi tanah. Pada
saat penanaman, bibit padi ditancapkan ke dalam lahan yang sudah digenangi air
sedalam 10 cm sampai 15 cm hingga akar tanaman padi masuk ke bawah
permukaan tanah.

5
8

6.1.3.3. Pemupukan
Pada kegiatan usahatani, pemupukan dilakukan dengan tujuan agar
tanaman padi dapat tumbuh optimal dan menghasilkan output yang baik.
Pemupukan yang dilakukan oleh petani SRG dilakukan dengan menggunakan dua
jenis pupuk yaitu pupuk organik (pupuk kompos) dan pupuk anorganik (pupuk
urea, SP36, Phonska dan pupuk Za). Sedangkan pada petani konvensional,
pemupukan hanya dilakukan dengan menggunakan pupuk anorganik (pupuk urea,
SP36,NPK, Phonska dan pupuk Za).

6.1.3.4. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman


Pengendalian hama dalam kegiatan usahatani padi merupakan salah
satu komponen penting yang menentukan keberhasilan usahatani padi. Pada
petani di Desa Mangunjaya, pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan oleh
petani responden adalah dengan menyemprotkan pestisida ke tanaman padi
dengan tujuan untuk mencegah dan menanggulangi munculnya hama dan
penyakit pada tanaman. Pada saat penelitian berlangsung, hama yang banyak
menjangkiti tanaman padi adalah hama wereng. Hama wereng akan menyebabkan
tanaman padi menjadi kering dan mati karena wereng menghisap cairan nutrisi
yang ada pada tanaman padi.
Selain dengan penyemprotan, cara lain yang dilakukan petani dalam
mengatasi permasalahan hama wereng adalah dengan melakukan pola tanam
serentak. Meskipun telah dianjurkan penanaman dengan pola tanam serentak
namun masih banyak sawah petani yang terjangkit hama wereng. Hal ini
disebabkan oleh petani yang tidak mau mengikuti penyeragamaan pola tanam
yang dilakukan.

6.1.3.5. Pemanenan
Kegiatan pemanenan dilakukan pada saat usia padi sudah mencapai 100
hari atau padi dinilai sudah cukup umur dan mencapai kondisi yang diingikan oleh
petani. Cara panen padi yang dilakukan adalah dengan memotong padi dengan
menggunakan sabit. Pemotongan padi dilakukan pada bagian atas padi. Hal ini
dilakukan karena setelah padi dipotong padi akan dirontokkan dengan

5
9

menggunakan mesin perontok. Perontokan padi dilakukan dengan tujuan untuk


melepaskan gabah dari malainya. Penggunaan mesin perontok dilakukan agar
persentase rendemen padi rendah. Selain itu persentase padi yang tidak rontok
rendah bila dibandingkan dengan menggunakan sistem gebot atau dibanting.
Dengan demikian, hasil gabah yang didapat juga lebih banyak.
6.2.

Analisis Penerimaan Usahatani Padi


Penerimaan usahatani padi terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan

yang diperhitungkan. Penerimaan tunai adalah penerimaan yang diterima oleh


petani dalam bentuk uang tunai hasil dari penjualan produksi usahataninya.
Penerimaan yang diperhitungkan adalah penerimaan yang diterima petani dalam
bentuk konsumsi padi dari hasil usahataninya. Jumlah dari penerimaan tunai dan
penerimaan yang diperhitungkan adalah penerimaan total petani untuk tiap
kilogram padi yang dijual. Harga yang diterima petani atas padinya memiliki
banyak ragam, hal ini dikarenakan perbedaan waktu panen, kualitas padi yang
dijual dan metode penjualan hasil padi yang dilakukan. Penerimaan tunai adalah
hasil perkalian antara hasil produksi yang dijual dengan harga yang diterima
ditambah dengan padi yang disimpan dikurangi padi yang dikonsumsi dikalikan
dengan harga jual yang berlaku saat itu. Penerimaan yang diperhitungkan adalah
hasil perkalian dari jumlah padi yang dikonsumsi dikalikan dengan harga yang
berlaku saat padi tersebut disimpan. Pada penelitian ini hasil usahatani petani
responden dijual dalam dua jenis gabah, yaitu gabah kering panen (GKP) dan
gabah kering giling (GKG).
Tabel 16 menunjukkan penerimaan penjualan padi dengan menggunakan
metode SRG. Pada petani yang telah menerapkan Sistem Resi Gudang dalam
penjualan hasil usahataninya, harga gabah kering produksi (GKP) terendah yang
diterima petani adalah sebesar Rp 2.700,00 per kilogram dan RP 3.000,00n per
kilogram untuk harga tertinggi dengan rata-rata harga Rp 2.884,46 per kilogram.
Harga gabah kering giling (GKG) terendah yang diterima petani

responden

adalah sebesar Rp 3.600,00 per kilogram dan Rp 4.000,00 per kilogram untuk
harga tertinggi dan Rp 3.920,00 per kilogram untuk harga rata-rata. Penerimaan
tunai yang diterima oleh petani responden berdasarkan Tabel 15 adalah Rp
18.516.541,13 sedangkan untuk penerimaan yang diperhitungkan adalah GKP
6
0

yang dikonsumsi dengan nilai Rp 417.210,00. Penerimaan total yang diterima


oleh petani responden adalah sebesar Rp 18.933.751,1
Tabel 16. Penerimaan Rata-rata per hektar Petani yang Memanfaatkan Sistem
Resi gudang Periode Januari-April 2011
Harga RataPenerimaan
Jumlah (kg/ha) rata (Rp/kg)
Nilai (Rp)
Gabah Kering Panen
1446,89
2.884,46
4.173.496,33
Gabah Kering Giling
3.658,94
3.920,00
14.343.044,8
Penerimaan Tunai
18.516.541,13
Konsumsi RT
Gabah Kering Panen
139,07
3.000,00
417.210
Gabah Kering Giling
Penerimaan Diperhitungkan
417.210
18.933.751,13
Total Penerimaan
Tabel 17 menunjukkan penerimaan penjualan padi dengan menggunakan
metode konvensional. Pada petani yang masih menerapkan metode penjualan
konvensional dalam penjualan hasil usahataninya, harga gabah kering produksi
(GKP) terendah yang diterima petani adalah sebesar Rp 2.600,00 dan RP 3.300,00
untuk harga tertinggi dengan rata-rata harga RP 2919,23. Harga gabah kering
giling yang diterima petani sebesar Rp 3,300,00 untuk harga terendah Rp 3.600
untuk harga tertinggi dan Rp 3.400,00 untuk harga rata-rata. Penerimaan tunai
yang diterima oleh petani responden berdasarkan Tabel 16 adalah Rp
14.852.477,54 sedangkan untuk penerimaan yang diperhitungkan adalah GKP
yang dikonsumsi dengan nilai Rp 313.813,5. Penerimaan total yang diterima oleh
petani responden adalah sebesar Rp 15.166.291,04
Tabel 17. Penerimaan Rata-rata per hektar Petani dengan Metode Penjualan
Konvensional Periode Januari-April 2011
Harga RataNilai (Rp)
Penerimaan
Jumlah (kg/ha) rata (Rp/kg)
Gabah Kering Panen
3.904,80
2.919,23
11.399.000,3
Gabah Kering Giling
1.015,73
3400
3.453.477,24
Penerimaan Tunai
14.852.477,54
Konsumsi RT
Gabah Kering Panen
51,14
3025
154.698,5
Gabah Kering Giling
48,40
3287,5
159.115
Penerimaan Diperhitungkan
313.813,5
15.166.291,04
Total Penerimaan
6
1

Berdasarkan Tabel 16 dan Tabel 17 terlihat bahwa rata-rata penerimaan


total per hektar yang diterima petani yang memanfaatkan SRG lebih besar
dibandingkan petani yang tidak memanfaatkan SRG. Selain itu harga GKG
tertinggi didapat petani karena memanfaatkan SRG sehingga memperoleh
informasi harga dari PT Pertani selaku pengelola Resi Gudang dan mampu
memperoleh harga terbaik. Hal ini dikarenakan harga yang diterima oleh petani
yang memanfaatkan SRG lebih baik daripada petani yang menggunakan metode
penjualan konvensional.

6.3.

Analisis Biaya Usahatani


Biaya yang dikeluarkan dalam usahatani terdiri dari dua jenis biaya yaitu

biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai adalah biaya yang
dikeluarkan dalam betuk uang tunai, yang termasuk dalam biaya tunai pada
usahatani adalah biaya input pembelian bibit, pupuk dan pestisida, sewa lahan,
sewa alat pertanian, biaya irigasi dan biaya tenaga kerja luar keluarga (TKLK),
biaya pajak, biaya sewa gudang dan bunga peminjaman uang. Sedangkan biaya
yang diperhitungkan adalah biaya yang dikeluarkan petani tidak dalam bentuk
uang tunai, yaitu biaya penyusutan alat pertanian dan biaya tenaga kerja dalam
keluarga (TKDK).
Pada analisis usahatani yang dilakukan terhadap petani responden yang
memanfaatkan SRG, biaya tunai terbesar adalah biaya tenaga kerja luar keluarga
(TKLK) sebesar Rp 4.264.252,00. Tenaga kerja menjadi kompenen terbesar
dalam biaya usahatani karena dalam setiap kegiatan usahatani yang dilakukan
mulai dari persiapan lahan hingga pemanenan, hampir seluruh petani
menggunakan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Di lokasi penelitian, petani
responden menerapkan dua cara dalam memberikan upah untuk penanaman yaitu
dengan menggunakan sistem ceblok dan borongan.
Sistem ceblok biasanya dilakukan oleh petani yang memiliki lahan kurang
dari 0,5 hektar dengan hanya memberi upah harian sebesar Rp 10.000,00 dan
mendapat kepastian bahwa tenaga kerja tersebut akan dipekerjakan kembali saat
proses pemanenan. Sistem borongan digunakan oleh petani yang memiliki luas
lahan lebih dari 0,5 hektar dengan biaya terendah sebesar Rp 400.000 per 0,67

6
2

hektar dan Rp 500.000,00 untuk biaya terbesarnya. Dari total biaya tenaga kerja
luar keluarga (TKLK) yang dikeluarkan, biaya pemanenan merupakan biaya
terbesar dengan nilai Rp 3.428.692,00 dari total Rp 4.264.251,68 untuk total biaya
tenaga kerja. Hal ini disebabkan karena petani pada lokasi penelitian menerapkan
sistem bawon pada saat pemanenan, dimana tenaga kerja akan mendapatkan padi
seperenam dari total padi yang dipanen untuk upah. Upah untuk tenaga kerja pria
rata-rata sebesar Rp 30.000,00 dengan jam kerja per hari selama delapan jam
kerja.
Biaya lain yang menjadi salah satu biaya terbesar adalah biaya pembelian
pupuk sebesar Rp 1.211.407,50 dan biaya pembelian pestisida sebesar Rp
115.768,6. Biaya penggunaan pupuk menjadi salah satu komponen biaya yang
besar dikarenakan penggunaan pupuk oleh petani responden dalam menjalankan
usahataninya melebihi anjuran yang disarankan oleh dinas pertanian sebesar 250
kg -300 kg per hektar, sedangkan rata-rata penggunaan pupuk anorganik oleh
petani responden mencapai 632,446 kg per hektar. Pestisida yang digunakan oleh
petani responden terdiri dari dua jenis yaitu pestisida cair dan pestisida bubuk,
dimana rata-rata penggunaan pestisida cair mencapai 0,83 liter per hektar dan 2,15
kg per hektar untuk pestisida bubuk. Banyaknya penggunaaan pestisida oleh
petani responden dikarenakan padi di sawah petani responden sempat terjangkit
wabah wereng. Terdapat kepercayaan petani di lokasi penelitian bahwa dengan
menggunakan banyak pestisida mampu mencapai produksi yang diharapkan
karena dengan menggunakan pestisida petani berharap tanaman padinya akan
tahan terhadap hama yang akan menyerang tanaman padinya.
Salah satu komponen biaya yang muncul pada analisis usahatani yang
dilakukan terhadap petani responden yang memanfaatkan Sistem Resi Gudang
adalah biaya penyimpanan barang yaitu sebesar Rp 228.476,8 dan biaya untuk
membayar bunga pinjaman dari bank yang bekerjasama dalam Sistem Resi
Gudang sebesar Rp 109.825,3 dari total pinjaman yang diberikan seperti yang
ditunjukkan dalam Tabel 18.

6
3

Tabel 18. Biaya Rata-rata Usahatani Padi Petani SRG per Hektar di Desa
Mangunjaya Bulan Januari April 2011
Harga
Keterangan
Jumlah
Satuan (Rp)
Nilai (Rp)
Biaya Tunai
Bibit

23,25 kg

9000

138.600

Pupuk Kompos

198,68 kg

800

158.944

1. Urea

289,73 kg

1650

478.054,5

2. SP36

49,67 kg

2100

104.307

3. Phonska

226,82 kg

2350

533.027

4. Za

66,22 kg

1450

96.019

Pupuk Anorganik

Pestisida
1. Cair

0,83 L

51.695,77

2. Bubuk

2,15 kg

64.072,85

TKLK
1. Pria

8,15 HKP

30000

Penanaman

9,52 HKP

591.059,6

Pemanenan

17,38 HKP

3.428.692

Air Irigasi

244.500

519.775

Sewa Alat Tani

885.761,6

Sewa Gudang

228.476,8

Pajak
Bunga Bank
Karung
Transportasi Barang
Jemur Gabah
Total Biaya Tunai
Biaya Diperhitungkan

1
1
61 karung
3.046,36 kg
3.046,36 kg

195.529,8
109.825,3
134.200
152.318
91.390,8
8.206.249,02

2200
50
30

TKDK
1. Pria
Penyusutan
Total Biaya Diperhitungkan
Total Biaya

3,92 HKP
1

30000

117.600
794.006,6
911.606,6
9.117.855,62

Pada Tabel 19 diketahui bahwa biaya usahatani pada petani yang masih
menerapkan sistem konvensional yang menjadi komponen biaya terbesar pada
biaya tunai petani konvensional adalah biaya tenaga kerja luar keluarga TKLK
6
4

sebesar Rp 4.014.184,35. Dari total tersebut upah pemanenan merupakan biaya


terbesar dari biaya TKLK yaitu sebesar Rp 3.209.259,10. Pada biaya tenaga kerja
untuk pemanenan meskipun nilai HOK petani konvensional lebih besar daripada
petani resi gudang, namun biaya yang dikeluarkan untuk pemanenan petani
konvensional lebih kecil daripada petani resi gudang. Hal ini dikarenakan nilai
gabah yang didapat konvensional rendah. Pupuk anorganik yang digunakan oleh
petani konvensional rata-rata per hektar adalah sebesar 629,47 kg dengan biaya
Rp 1.246.339,00.
Tabel 19. Biaya Rata-rata Usahatani Padi Petani Konvensional per Hektar di Desa
Mangunjaya Bulan Januari April 2011
Harga Satuan
Keterangan
Jumlah
(Rp)
Nilai (Rp)
Biaya Tunai
Bibit
16,45
9000
148.050
Pupuk Anorganik
1. Urea
284,96
1650
470.184
2. SP36
100,11
2100
210.231
3. NPK
33,17
2350
77.949,50
4. Phonska
207,91
2350
488.588,50
5. Za
13,57
1450
19.676,50
Pestisida
1. Cair
5,25
335.977
2. Bubuk
2,26
65.615,29
TKLK
7,50
31206.90
234.051,75
Penanaman
13.78
574.306,26
Pemanenan
19,78
3.209.259,10
Air Irigasi
1
655.685,55
Sewa Alat Tani
1
1.045.261,29
Pajak
1
184.422,40
Jemur Gabah
1.064,13 30
31.923,9
Total Biaya Tunai
7.539.987,54
Biaya Diperhitungkan
TKDK
1. Wanita
2. Pria
4,30
31206.90
134.189,67
Penyusutan
1
628.103,61
Total Biaya Diperhitungkan
762.293,28
Total Biaya
8.302.280.82

6
5

Berdasarkan Tabel 18 dan Tabel 19 diketahui bahwa biaya tenaga kerja


luar keluarga merupakan komponen biaya terbesar dalam melakukan usahatani
padi oleh petani responden. Dalam komponen biaya tenaga kerja luar keluarga
biaya pemanenan merupakan biaya terbesar yang harus dikeluarkan untuk
membayar biaya tenaga kerja. Dapat diketahui pula bahwa penggunaan pupuk
anorganik oleh petani responden baik yang sudah memanfaatkan SRG dan yang
belum memanfaatkannya melebihi batas anjuran yang telah ditetapkan oleh
pemerintah. Komponen biaya tunai yang berbeda dari petani responden yang
sudah memanfaatkan SRG adalah biaya pembayaran bunga bank atas pinjaman
yang diberikan kepada petani dan juga biaya sewa gudang untuk menitipkan
barang petani tersebut. Hal ini menyebabkan total biaya rata-rata usahatani padi
petani SRG lebih besar daripada petani konvensional, yaitu Rp 9.117.855,62
untuk petani SRG dan Rp 8.302.280.82 untuk petani konvensional.

6.4.

Analisis Pendapatan Usahatani


Analisis pendapatan usahatani padi menggunakan pendekatan perhitungan

penerimaan dan biaya usahatani per hektar per musim tanam. Hal ini dilakukan
karena tanaman padi di Desa Mangunjaya hanya diproduksi sebanyak dua kali
dalam satu tahun, yaitu pada periode tanam Januari - April dan Juni - Oktober.
Periode produksi padi tertinggi pada bulan Januari - April yaitu pada saat musim
hujan (Wawancara petani, 2011). Pada penelitian ini analisis usahatani dilakukan
terhadap 29 orang petani responden yang masih menggunakan metode penjualan
konvensional atau penjualan secara langsung kepada pembeli dan empat orang
petani yang sudah memanfaatkan SRG dalam penjualan hasil usahataninya.
Analisis yang digunakan untuk menghitung pendapatan usahatani
mengacu pada konsep pendapatan atas biaya yang dikeluarkan yaitu biaya tunai
dan biaya total. Biaya tunai adalah seluruh biaya yang dikeluarkan dalam bentuk
tunai untuk melakukan kegiatan usahatani padi seperti biaya pembelian bibit,
pupuk dan biaya tenaga kerja luar keluarga. Biaya total adalah biaya tunai
ditambah dengan biaya diperhitungkan. Biaya diperhitungkan adalah seluruh
biaya yang dikeluarkan untuk melakukan kegiatan usahatani dalam bentuk tidak
tunai seperti biaya tenaga kerja dalam keluarga.

Berdasarkan Tabel 20, pendapatan atas biaya tunai petani yang telah
memanfaatkan SRG pada periode Januari-April 2011 adalah sebesar Rp
10.727.502,11per hektar dan pendapatan atas biaya total yang telah memanfaatkan
SRG pada periode Januari-April 2011 adalah sebesar Rp 9.815.895,51. Hasil
analisis tersebut menunjukkan bahwa pendapatan usahatani total atas biaya tunai
dan atas biaya total lebih dari nol sehingga usahatani yang dilakukan petani
responden yang telah memanfaatkan SRG di Gapoktan Jaya Tani Desa
Mangunjaya menguntungkan.

Tabel 20. Perhitungan Penerimaan dan Pendapatan Rata-rata Usahatani Petani


SRG di Desa Mangunjaya periode JanuriApril 2011
Komponen
Nilai (Rp)
A. Penerimaan Tunai
18.516.541,13
B. Penerimaan Diperhitungkan
417.210
C. Total Penerimaan (A+B)
18.933.751,13
D. Biaya Tunai
8.206.249,02
E. Biaya Diperhitungkan
911.606,6
F. Total Biaya (D+E)
9.117.855,62
Pendapatan atas Biaya Tunai (C-D)
10.727.502,11
Pendapatan atas Biaya Total (C-F)
9.815.895,51
Pada tabel 21, pendapatan atas biaya tunai petani responden yang belum
memanfaatkan SRG pada periode Januari-April 2011 adalah sebesar Rp
7.626.303,5 per hektar dan pendapatan atas biaya total petani responen yang
belum memanfaatkan SRG pada periode Januari-April 2011 adalah sebesar Rp
6.864.010,22. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa pendapatan usahatani
total atas biaya tunai dan atas biaya total lebih dari nol sehingga usahatani yang
dilakukan petani responden yang belum memanfaatkan SRG di Gapoktan Jaya
Tani Desa Mangunjaya menguntungkan.

6
7

Tabel 21. Perhitungan Penerimaan dan Pendapatan Rata-rata Usahatani Petani


yang Belum Memanfaatkan Sistem Resi Gudang di Desa Mangunjaya
Periode JanuariApril 2011
Komponen
Nilai (Rp)
A. Penerimaan Tunai
14.852.477,54
B. Penerimaan Diperhitungkan
313.813,5
C. Total Penerimaan (A+B)
15.166.291,04
D. Biaya Tunai
7.539.987,545
E. Biaya Diperhitungkan
762.293,28
F. Total Biaya (D+E)
8.302.280.82
Pendapatan atas Biaya Tunai (C-D)
7.626.303,5
Pendapatan atas Biaya Total (C-F)
6.864.010,22
Berdasarkan tabel 20 dan tabel 21 diketahui bahwa pendapatan atas biaya
tunai dan pendapatan atas biaya total yang diterima oleh petani yang telah
memanfaatkan SRG lebih besar daripada pendapatan atas biaya total petani yang
belum memanfaatkan SRG. Rendahnya pendapatan atas biaya tunai dan biaya
total yang diperoleh petani konvensional karena harga yang diterima lebih rendah
dibandingkan petani yang memanfaatkan SRG. Dapat disimpulkan pula bahwa
usahatani padi dengan memanfaatkan SRG lebih menguntungkan dibandingkan
dengan yang tidak memanfaatkan SRG.

6.5. Analisis R/C Rasio


Analisis R/C rasio terdiri dari R/C rasio atas biaya tunai dan R/C rasio atas
biaya total. R/C rasio atas biaya tunai diperoleh dari rasio antara penerimaan total
dengan pengeluaran tunai. R/C rasio atas biaya total diperoleh dari rasio
penerimaan total dengan pengeluaran total. Suatu usaha dapat dikatakan
menguntungkan dan layak untuk diusahakan apabila nilai R/C rasio lebih besar
dari satu (R/C > 1), semakin tinggi nilai R/C menunjukkan bahwa penerimaan
yang diperoleh semakin besar. Namun apabila nilai R/C lebih kecil dari satu (R/C
< 1), maka usaha ini tidak mendatangkan keuntungan sehingga tidak layak
diusahakan.

6
8

Tabel 22. Penerimaan, Biaya, Pendapatan, dan R/C Rasio Usahatani Padi Petani
Gapoktan Jaya Tani
Nilai (Rp)
Komponen
Nilai (Rp)
Resi Gudang
Konvensional
A. Penerimaan Tunai
18.516.541,13
14.852.477,54
B. Penerimaan Diperhitungkan
417.210
313.813,5
C. Total Penerimaan (A+B)
18.933.751,13
15.166.291,04
D. Biaya Tunai
8.072.049,02
7.539.987,545
E. Biaya Diperhitungkan
911.606,6
762.293,28
F. Total Biaya (D+E)
9.117.855,62
8.302.280.82
Pendapatan atas Biaya Tunai (C-D)
10.727.502,11
7.626.303,5
Pendapatan atas Biaya Total (C-F)
9.815.895,51
6.864.010,22
R/C atas Biaya Tunai
2,31
2.01
R/C atas Biaya Total
2,08
1,83
Berdasarkan Tabel 22, R/C rasio usahatani padi dibedakan berdasarkan
metode penjualan yang diterapkan oleh petani yaitu yang memanfaatkan Sistem
Resi Gudang dan yang belum memanfaatkannya atau konvensional. Hasil
perhitungan nilai R/C rasio atas biaya tunai untuk petani konvensional adalah 2,01
dan 2,31 untuk petani SRG. Nilai 2,01 pada petani konvensional memiliki arti
bahwa setiap pengeluaran tunai sebesar Rp 1,00 akan menghasilkan penerimaan
sebesar Rp 2,01. Nilai 2,31 pada petani resi gudang memiliki arti bahwa setiap
pengeluaran tunai sebesar Rp 1,00 akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp
2,31. Hasil perhitungan rasio atas biaya total untuk usahatani petani konvensional
adalah 1,83 dan 2,08 untuk petani resi gudang. Nilai 1,83 pada petani
konvensional memiliki arti bahwa setiap pengeluaran total sebesar Rp 1,00 akan
menghasilkan penerimaan sebesar Rp 1,83. Nilai 2,08 pada petani resi gudang
memiliki arti bahwa setiap pengeluaran total sebesar Rp 1,00 akan menghasilkan
penerimaan sebesar Rp 2,08. Tabel 19 juga menunjukkan bahwa R/C rasio atas
biaya tunai dan R/C rasio atas biaya total petani SRG memilik nilai yang lebih
besar dibandingkan R/C rasio atas biaya tunai dan R/C rasio atas biaya total petani
konvensional. Hal ini disebabkan komponen penerimaan tunai dan penerimaan
total petani konvensional lebih rendah dibandingkan petani SRG. Walaupun

6
9

demikian, dapat disimpulkan bahwa petani yang memanfaatkan SRG dan yang
belum memanfaatkan SRG sama-sama menguntungkan.

70

VII. MANFAAT RESI GUDANG BAGI PETANI


7.1.

Manfaat Sistem Resi Gudang


Dalam penerapan SRG yang dilakukan oleh petani responden di Gapoktan

Jaya Tani, ada beberapa manfaat yang dirasakan oleh petani responden. Manfaat
tersebut terdiri dari dua jenis manfaat. Manfaat pertama adalah manfaat dari segi
non ekonomis dan yang kedua adalah manfaat dari segi ekonomi.
Manfaat dari segi non ekonomis yang dirasakan oleh petani responden
yang telah memanfaatkan SRG terdiri dari manfaat penyimpanan, manfaat
keamanan, manfaat jaminan mutu dan manfaat pemasaran. Manfaat penyimpanan
yang dirasakan oleh petani responden adalah gabah yang dimiliki oleh petani bisa
dititipkan di gudang SRG karena tidak memiliki tempat penyimpanan yang besar.
Manfaat kedua yang dirasakan adalah manfaat keamanan, yaitu mendapatkan
asuransi atas gabah yang mereka simpan. Berdasarkan asuransi atas gabah yang
petani simpan di gudang SRG, maka petani akan mendapatkan jaminan keamanan
atas gabah mereka. Hal ini menurunkan resiko yang diterima oleh petani atas
gabah mereka.
Asuransi didapatkan petani setelah gabah lolos uji mutu yang dilakukan
oleh LPK yang ditunjuk pengelola gudang. Menurut petani responden, biaya yang
dikeluarkan oleh petani untuk menyimpan dan mendapatkan asuransi atas gabah
mereka sangat ringan yaitu Rp 75,00 per kilogram untuk jangka waktu
penyimpanan tiga bulan.
Manfaat ketiga yang dirasakan oleh petani responden adalah manfaat
jaminan mutu. Manfaat jaminan mutu yang didapat petani adalah gabah milik
petani yang disimpan di gudang SRG sudah dipastikan merupakan barang dengan
kualitas mutu yang baik. Mutu yang baik ditentukan berdasarkan standar yang
ditetapkan oleh LPK, dimana standar mutu yang diacu oleh LPK adalah standar
mutu berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan oleh Badan
Standarisasi Nasional (BSN). Berdasarkan jaminan mutu pada gabah yang
dimiliki oleh petani, petani dapat meningkatkan posisi tawar mereka kepada calon
pembeli gabah. Peningkatan posisi tawar petani responden didapatkan karena
petani memiliki gabah dengan kualitas yang baik dimana hal ini dibuktikan

71

dengan adanya sertifikat uji mutu yang dimiliki oleh petani. Petani bisa
mengklaim bahwa gabah yang dimiliki oleh mereka memiliki kualitas yang lebih
baik dari gabah petani lain yang tidak memilii sertifikat standar mutu. Dengan
demikian, petani mampu meningkatkan posisi tawarnya agar mendapatkan harga
yang tinggi dari calon pembeli gabah.
Manfaat non ekonomis terakhir yang dirasakan oleh petani responden dari
pemanfaatan SRG adalah manfaat pemasaran. Manfaat pemasaran yang
didapatkan oleh petani responden dalam penerapan SRG adalah petani bisa
memantau harga di pasaran. Informasi harga didapat petani dengan bertanya
langsung kepada pengelola gudang. Pengelola gudang akan memberikan
perkembangan harga yang ada di pasaran kepada petani responden yang
memanfaatkan SRG.
Selama ini, petani merasa informasi harga yang mereka dapat terkadang
tidak sesuai dengan kenyataan, dimana informasi harga terkadang sering ditutuptutupi oleh tengkulak, contohnya ketika tengkulak memberi informasi bahwa jika
petani menjual hasil panennya pada waktu tertentu, harga yang diberikan oleh
tengkulak ternyata lebih rendah dari harga pasaran yang sedang berlaku. Petani
menganggap dengan adanya informasi harga terkini, petani bisa menentukan
kapan penjualan gabah harus dilakukan sehingga petani bisa mendapatkan harga
terbaik. Pada manfaat pemasaran selain mendapatkan informasi harga, petani
mendapatkan bantuan dalam memasarkan gabah mereka dimana pengelola SRG
juga akan memberikan informasi tentang gabah yang dimiliki petani responden
kepada calon pembeli.
Manfaat ekonomis pertama yang dirasakan oleh petani responden adalah
manfaat pembiayaan, dimana petani bisa mendapatkan bantuan pinjaman bagi
usahataninya. Pinjaman didapatkan petani responden dari bank yang bekerja sama
dengan pihak SRG yaitu bank BRI dan bank BPD Jabar dengan menggunakan
dokumen resi gudang sebagai agunan bagi pinjaman yang mereka lakukan.
Dengan memanfaatkan SRG petani bisa memperoleh pinjaman sebesar 70 persen
dari total nilai komoditi yang tertera di dokumen resi gudang. Dalam pemberian
pinjaman tersebut petani harus membayar bunga pinjaman yang dirasa tidak
memberatkan, yaitu sebesar 1,5 persen untuk masa pinjaman selama tiga bulan.

72

Proses untuk mengurus dokumen SRG selama dua hari dan dua hari lagi untuk
mengurus pinjaman hingga pinjaman bisa dicairkan membantu petani dalam
pembiayaan usahatani dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini
membatu petani yang menjual hasil panennya ke tengkulak, dimana terkadang
pembelian yang dilakukan oleh tengkulak mengalami kelambatan pembayaran
dari waktu yang telah disepakati. Selama ini petani mengalami kesulitan dalam
pembiayaan usahataninya yang menyebabkan petani terpaksa harus menjual
gabahnya tanpa ada kesempatan untuk menunggu harga terbaik bagi gabahnya.
Penjualan gabah oleh petani dikarenakan petani harus memenuhi kebutuhan
hidupnya dan untuk melakukan kembali usahataninya. Dengan memanfaatkan
SRG petani bisa memenuhi kebutuhannya dan melakukan usahataninya melalui
pinjaman yang diperoleh sambil menunggu harga yang terbaik bagi gabahnya.
Manfaat ekonomis kedua adalah petani SRG mampu mendapatkan harga
yang lebih baik dibandingkan dengan petani yang tidak memanfaatkan SRG.
Harga yang lebih baik ini didapatkan petani dengan cara memanfaatkan metode
tunda jual. Dengan memanfaatkan metode tunda jual, petani menunggu harga
terbaik yang akan didapat saat menjual gabahnya. Hal ini dilakukan petani saat
musim panen tiba. Ketika musim panen tiba harga yang diterima petani lebih
rendah karena jumlah gabah yang ada di pasaran masih banyak, namun ketika
petani menunggu hingga tiga bulan atau sesuai dengan batas masa penyimpanan
gabah mereka di gudang SRG, maka petani akan mendapatkan harga yang lebih
baik. Hal ini dikarenakan jumlah gabah yang ada di pasaran lebih sedikit
dibandingkan saat musim panen.

7.2.

Kendala Pemanfaatan Sistem resi Gudang


Dalam pelaksanaan pemanfaatan SRG petani responden juga mengalami

beberapa masalah. Seluruh petani reponden mengalami dua masalah utama yang
sama yaitu masalah dengan pengeringan gabah dan hambatan dari keluarga yaitu
istri petani responden. Kesulitan dalam menjemur gabah terjadi karena di Desa
Mangunjaya sering terjadi hujan, sehingga menyebabkan petani responden
kesulitan untuk menjemur gabahnya dan menghasilkan gabah yang sesuai standar
mutu dalam waktu cepat. Adapun hambatan petani yang berasal dari keluarga

73

karena istri petani yang biasanya mengatur keuangan keluarga merasa bahwa SRG
ini belum terbukti memberikan keuntungan secara nyata, selain itu istri petani
takut mengalami kegagalan jika menerapkan sistem ini. Selain itu istri petani
sudah terlebih dahulu skeptis dalam menanggapi munculnya program baru dari
pemerintah. Hal ini dikarenakan sudah beberapa kali petani sering dikecewakan
dengan program-program yang di ajukan oleh pemerintah.
Untuk mengatasi permasalahan utama yang muncul tersebut, petani
responden menerapkan dua jenis cara, yaitu petani menjemur gabahnya di dalam
gudang penyimpanan beras pada saat turun hujan dan menjemur di bawah sinar
matahari langsung pada saat hari cerah. Untuk permasalahan meyakinkan istrinya,
petani responden meyakinkan istrinya secara perlahan dan dibantu petani lain dan
juga diajak ikut untuk menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh
pengelola gudang saat sosialisasi SRG dengan demikian istri petani menyetujui
agar petani responden menerapkan Sistem Resi Gudang.

74

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

8.1.

Kesimpulan
Sistem Resi Gudang yang disediakan pemerintah untuk membantu petani

dalam upaya meningkatkan pendapatan petani memiliki beberapa manfaat, yaitu


manfaat secara non ekonomi dan manfaat ekonomi. Manfaat non ekonomi yang
dirasakan oleh petani yang memanfaatkan SRG adalah manfaat penyimpanan,
manfaat keamanan, manfaat jaminan mutu dan manfaat pemasaran. Manfaat
penyimpanan yang didapat oleh petani responden adalah petani bisa menyimpan
gabah jika tidak memiliki tempat yang besar. Manfaat keamanan adalah petnai
mendapat asuransi untuk gabahnya. Manfaat jaminan mutu yang didapat oleh
petani responden adalah gabah petani mendapat sertifikat kualitas atas gabahnya.
Manfaat pemasaran yang didapat oleh petani responden adalah petani mendapat
bantuan dalam memasarkan gabahnya. Petani juga mendapat manfaat dari segi
nilai dimana pendapatan petani sesuai dengan jumlah yang dihasilkan dan juga
mendapat manfaat dari segi waktu yang lebih singkat dalam mendapatkan
pembiayaan.
Manfaat ekonomi yang dirasakan oleh petani adalah manfaat pembiayaan.
Petani bisa mendapatkan pinjaman untuk usahataninya dengan bunga yang
rendah, yaitu 1,5 persen. Manfaat ekonomi kedua adalah petani yang
memanfaatkan SRG memperoleh harga jual yang lebih baik dibandingkan petani
yang tidak memanfaatkan sistem resi gudang. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai
rasio R/C atas biaya tunai petani yang memanfaatkan SRG dengan nilai 2,31
sedangkan rasio R/C atas biaya tunai petani konvensional nilainya adalah 2,01.
Begitu pula untuk Rasio R/C atas biaya total petani yang memanfaatkan SRG
dengan nilai 2,08 sedangkan rasio R/C atas biaya total petani konvensional
nilainya adalah 1,83.

8.2.

Saran
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan petani

padi di Gapoktan Jaya Tani di Desa Mangunjaya, Kecamatan Anjatan, Kabupaten


Indramayu antara lain :
75

1. Meningkatkan kualiatas padi dengan cara mulai mengikuti anjuran


penyuluh pertanian lapang (PPL) agar dapat menghasilkan gabah kering
panen (GKP) dan gabah kering giling (GKG) yang baik. Peningkatan
kualitas gabah akan meningkatkan posisi tawar petani dalam menjual hasil
panennya sehingga pembeli akan menghargai lebih tinggi gabah.
2. Petani yang belum memanfaatkan Sistem Resi Gudang mulai beralih
memanfaatkan Sistem Resi Gudang dalam penjualan hasil usahataninya,
agar mampu mendapatkan harga yang lebih tinggi. Selain itu, dengan
memanfaatkan Sistem Resi Gudang petani akan memperoleh pinjaman
untuk melakukan usahataninya sambil menunggu harga tertinggi untuk
menjual hasil usahataninya.
3. Peran pemerintah daerah Indramayu dan instansi terkait sangat dibutuhkan
untuk mensosialisasikan program penerapan SRG kepada para petani agar
para petani paham apa SRG itu dan menyadari manfaat yang akan diterima
jika memanfaatkan SRG karena masih banyak petani yang belum
memahami dan mengetahui tentang SRG.
4. Meningkatkan peranan gapoktan dalam penerapan SRG agar petani kecil
mampu memenuhi quota minimal penyimpanan di gudang SRG.

76

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
[Depdag] Departemen Perdagangan. 2008. Buku Saku Sistem Resi Gudang.
Jakarta : BAPPEBTI, Departemen Perdagangan.
Gandhi. 2008. Analisis Usahatani dan Tataniaga Padi Varietas Unggul (Studi
Kasus Padi Pandan Wangi di Kecamatan Warung Kondang, Kabupaten
Cianjur) [skripsi]. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Hasian, DE. 2008. Usahatani dan Tataniaga Kacang Kapri di Kecamatan
Warungkondang, Cianjur, Provinsi Jawa Barat [skripsi]. Bogor : Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Hernanto, F. 1989. Ilmu Usahatani. Jakarta : Penebar Swadaya.
Hidayat. 2010. Analisis Pendapatan Usahatani dan Tataniaga Jambu Getas Merah
Studi Kasus Kelurahan Sukaresmi Tanahsareal Bogor [skripsi]. Bogor :
Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Indrayani 2008. Analisis Pola Kemitraan Dalam Pengadaan Beras Pandanwangi
Bersertifikat. [skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Mariani 2007. Analisis Perbandingan Keuntungan Usahatani Bebas Pestisida dan
Padi Anorganik di kecamatan Cigombong. [skripsi]. Bogor : Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Murdani. 2008. Analisis Usahatani dan Pemasaran Beras Varietas Pandan Wangi
dan Varietas Unggul Baru (Kasus Kecamatan Warungkondang, Kabupaten
Cianjur, Jawa Barat) [skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut
Pertanian Bogor.
Pemerintah Desa Mangunjaya Kecamatan Anjatan Kabupaten Indramayu. 2010.
Monografi Desa Mangunjaya Kecamatan Anjatan Kabupaten Indramayu.
Bogor : Pemerintah Desa Mangunjaya.
Pratama. 2008. Efektivitas Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi
Pedesaan (DPM-LUEP) (Kasus Petani Padi Pandan Wangi di Kecamatan
Warungkondang, Kabupaten Cianjur) [skripsi]. Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
Rachmawati. 2003. Analisis Usahatani dan Pemasaran Beras Pandan Wangi di
Kecamatan Warungkondang dan Cugenang. [skripsi]. Bogor : Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian Bogor
77

Saheda, AA. 2008. Preferensi dan Kepuasan Petani Terhadap Benih Padi Varietas
Lokal Pandan Wangi di Kabupaten Cianjur [skripsi]. Fakultas Pertanian,
Institut Pertanian Bogor.
Rachmawati, S. 2003. Analisis Usahatani dan Pemasaran Beras Pandan Wangi di
Kecamatan Warungkondang dan Cugenang. [skripsi]. Bogor : Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Soeharjo, A dan D Patong. 1973. Sendi-Sendi Pokok Ilmu Usahatani. Bogorr:
Departemen Ilmu-ilmu Sosial ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian,
Institut Pertanian Bogor.
Soekartawi dan Soeharjo, A. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk
Perkembangan Petani Kecil. Dillon JL, Hardaker JB, penerjemah; Jakarta:
UI Press. Terjemahan dari: Farm Management Research for Small
Development.
Soekartawi. 2002. Analisis Usahatani. Jakarta: Universitas Indonesia.
Tirtayasa, M.F. 2009. Analisis Pendapatan Usahatani Jambu Biji Petani Primatani
di Kota Depok Jawa Barat. [skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan
Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

78

79

Lampiran 1. Profil Responden Berdasarkan Metode Penjualan (SRG)


No

Nama
Petani

Umur
(tahun)

Tingkat
Pendidikan

Lama
Bertani
(tahun)

Jumlah
Anggota
Keluarga
(orang)

Luas
Lahan (ha)

1.

Aming

dusun mangun 39
sari
desa
mangunjaya
rt
04/ rw 01

Tamat SD

18

2.

Asdana

dusun bodas desa 53


mangunjaya
rt
10/rw 02

Tidak tamat SD

33

2,5

3.

Warsim

dusun bodas desa 37


mangunjaya
rt
10/rw 02

Tamat SMP

17

1,32

4.

Wartana

dusun mangun 41
sari
desa
mangunjaya
rt
04/ rw 01

Tamat SD

20

0,22

88
22

14
3,5

5,88
1,47

Jumlah
Rata-Rata

6
4

Alamat

Lampiran 2. Profil Responden Berdasarkan Metode Penjualan (konvensional)


No

Nama
Petani

1.

Arya
Priyana

2.

Asan

3.

Caryadi

4.

Casna

Daman

Durakhma
n

Jani
Kadarfan

Karsid

Kartalim

10

Kasan

6
5

Alamat

Umur
(tahun
)

dusun mangun sari 36


desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun mangun sari desa36
mangunjaya rt 02/ rw 01
dusun mangun sari 52
desa mangunjaya rt
06/ rw 02
dusun mangun sari 56
desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun mangun sari 38
desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun mangun sari 30
desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun mangun sari 34
desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun mangun sari 37
desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun mangun sari 36
desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun mangun sari 38

Tingkat
Pendidikan

Jumlah
Anggota
Keluarga
(orang)

Lama
Bertani
(tahun)

Luas Lahan
(ha)

Tamat SMP

10

1,33

Tamat SMP

13

0,67

Tidak tamat SD

12

1,33

Tidak tamat SD

0,165

Tamat SD

16

Tamat SD

0,45

Tamat SD

14

0,17

Tamat SD

16

Tamat SMP

16

1,5

Tamat SD

17

1,33

11

12

Nugroho
Gatot
Raharjo
Saemin

13

Sakam

14

Salman

15

Samsudin

16

Sanafi

17

Sariya

18

Sauchi

19

Siwan

20

Suherman

21

Sunir

desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun mangun sari
desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun karangjaya rt
13/rw3
desa
mangunjaya
dusun mangun sari
desa mangun jaya rt
5/ rw 1
dusun mangun sari
desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun mangun sari
desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun mangun sari
desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun mangun sari
desa mangunjaya rt
05/ rw 01
dusun mangun sari
desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun mangun sari
desa mangunjaya rt
09/ rw 02
dusun karangjaya rt
13/rw
3
desa
mangun jaya
dusun mangun sari

30

Tamat SMP

1,33

45

Tidak tamat SD

25

0,165

28

Tamat SMP

0,5

26

Tamat SD

1,33

28

Tamat SD

0,84

61

Tidak tamat SD

42

39

Tamat SD

18

0,18

60

Tidak tamat SD

40

53

Tamat SD

33

0,33

40

Tamat SD

19

0,5

31

Tamat SD

10

0,223

Sutardi
22

Sutoyo

23

Tarsiman

24

Taswid

25

Usman

26

Wardiyah

27

Warun

28

Wasan

29

Yadi

Jumlah
Rata-Rata

6
7

desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun mangun sari
desa mangunjaya rt
05/ rw 01
dusun boodas desa
mangun jaya rt 8/rw
2
dusun mangun sari
desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun mangun sari
desa mangunjaya rt
06/ rw 02
dusun mangun sari
desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun mangun sari
desa mangunjaya rt
04/ rw 01
dusun mangun sari
desa mangunjaya rt
09/ rw 01
dusun mangun sari
desa mangun jaya rt
5/ rw 1

45

Tidak tamat SD

25

37

Tamat SMP

16

3,7

35

Tamat SD

15

0,33

41

Tamat SMP

21

43

Tamat SD

24

41

Tidak tamat SD

19

0,16

37

Tamat SD

16

0,33

33

Tamat SD

12

0,33

497
17,069

106
3,65

33,163
1,143

Lampiran 3. Penggunaan Tenaga Kerja Petani Padi SRG di Gapoktan Jaya Tani Periode Januari-April 2011
Nama

Tenaga Kerja Luar Keluarga (HKP)


Luas
Lahan
Jenis Kegiatan
(ha)
1
2
3
4
5
Total
1.
2 2
16,875 12,5
6
28,125 65,5
Aming
2.
2,5 2,25 17
5
7,5
31.875 63,625
Asdana
3.
1,32 0
9,69
8
6
21.25 44,938
Warsim
4.
0,22 0
1,9
0
0
8.75
Wartana
5,7
Total
6,04 4,25 45.465 25,5
19,5 85,05 179,763
Rata-rata/Ha
0,703 7,53
4,221 3,228 14,081 29,762
Keterangan :
Jenis Kegiatan
:
1 = Persiapan Lahan;
No

Pestisida;

4 = Pemupukan;
HKP

6
8

Tenaga Kerja Dalam Keluarga (HKP)


Jenis Kegiatan
1
2
3
4
5
Total
1
0
6,25
2
0
9,25
1,25 0
2,5
3
0
6,75
1,5
0
3
1
0
5,5
0,675 0
1
1
0
2,675
4,425 0
12,75 7
0
24,175
0,733 0
2,607 1,159 0
3,92
2 = ; Penanaman
3
Penyemprotan
5 = Pemanenan.

Hari Kerja Pria

Lampiran 4. Penggunaan Tenaga Kerja Petani Padi Konvensional di Gapoktan Jaya Tani Periode Januari-April 2011

No

Nama

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.

Arya P
Asan
Caryadi
Casna
Daman
Durakhman
Jani K
Karsid
Kartalim
Kasan
Nugroho
Saemin
Sakam
Salman
Samsudin
Sanafi
Sariya
Saucho
Siwan
Suherman
Sunir S
Sutoyo
Tarsiman
Taswid
Usman
Wardiyah
Warun
Wasan
Yadi

6
9

Luas
Lahan
(ha)
1.33
0.67
1,33
0,165
2
0,45
0,17
2
1,5
1,33
1,33
0,165
0,5
1,33
0,84
3
0,18
1
0,33
0,5
0,223
1
3,7
0,33
2
5
0,16
0,3
0,33

Tenaga Kerja Luar Keluarga (HKP)


Jenis Kegiatan
1
2
3
4
2,25
16,425
2,25
5
1
10,625
3
2,5
1,25
12,75
4,5
2,5
0
3,1
0
0
2,25
35,063
13,5
5,25
0
15,928
0
0
0
1.05
0
0
3
12,6
6,75
4,5
2,25
18
3,75
4,5
1
7,8
1,875
1,5
2,25
16,875
1,5
1,75
0
4,05
0
0
0
5,55
1,125
3
1,5
8,325
7,5
3
1
9,713
6
2,5
4
38
15.625
15
0
2,375
0
0
1
13,125
5
1,5
0
9,3
0
0
0,75
8,55
0
0
0
2,55
0
0
1,25
11,4
1,125
4,5
5
38,25
15,75
12
0,875
0
0
0
2
17,438
8
3,75
11,25
0
20
15
0
1,2
0
0
0
0
0
0
0
3,075
0
0

5
21,25
21,25
17
4,65
31,875
21,25
4,25
31,875
30,388
13
21,25
6,65
21,25
15,263
21,25
38,75
3,325
21,875
13,95
15,675
4,25
19
42,5
7,425
21,313
46,75
8,2
3,938
4,1

Total
47.175
38.375
38.000
7.750
87.938
37.178
5.300
58.725
58.888
25.175
43.625
10.700
30.925
35.588
40.463
111.375
35.625
42.500
23.250
24.975
6.800
37.275
113.500
8.300
52.501
93.000
9.400
3.938
7.175

Tenaga Kerja Dalam Keluarga (HKP)


Jenis Kegiatan
1
2 3
4
5 Total
1
0 2,25
3
0 6,25
1
0 3
1
0 5
1,25
0 2,25
1
0 4,5
0,75
0 0,75
1
0 1,5
1,125 0 6,75
3
0 10,875
1
0 2,5
1
0 4,5
1,125 0 1,75
2
0 4,875
1
0 2,25
2
0 5,25
1,125 0 3,75
2
0 6,875
1
0 1,875
2
0 4,875
1,125 0 1,5
2
0 4,625
0,635 0 1,125
1,25
0 3,01
1
0 1,125
1
0 3,125
0,75
0 3,75
2
0 6,5
1
0 3
1
0 5
1
0 3,125
3
0 7,125
0,75
0 1,125
1
0 2,875
1
0 2,5
1
0 4,5
0,75
0 3
2
0 5,75
0,75
0 2
2
0 4,75
0,5
0 1,125
2
0 3,625
0,625 0 1,125
2
0 3.75
1
0 5,25
3
0 9,25
0,875 0 3
1
0 4,875
1
0 4
2
0 7
1,125 0 2,5
1
0 4,625
0,875 0 1,875
1
0 3,75
0,625 0 1
1
0 2,625
1
0 1,875
1
0 3,875

Total
33,163
Rata-rata/Ha

Keterangan :

43,875
1,323

Jenis Kegiatan

HKP

70

365,488
10,859

117,25
3,536

84,75
2,532

533.502
15,851

1.135,419
34,28

26,76
0,807

1 = Persiapan Lahan;

2 = Penanaman;

4 = Pemupukan

5 = Pemanenan.

Hari Kerja Pria

0
0

71,125
2,145

48,25
1,455

0
0

146,135
4,406

3=Penyemprotan Pestisida;

Lampiran5. Jumlah Penjualan Padi oleh Petani yang Memanfaatkan Sistem Resi Gudang
Keterangan GKG
GKP
NO NAMA
LuasLahan
Harga
Jumlah
Harga
Jumlah
1 Aming
2
3000
1020
3600
3700
SRG
4000
6100
SRG
2 Asdana
2.5
2837.838
3700
4000
5000
3000
3640
SRG
3 Warsim
1.32
4000
6700
4 Wartana
Jumlah
Harga Rata-rata

0.22
6.04

2700

SRG

500
8860

2884.459
Rata-Rata JumlahProduksi GKP per Ha
Rata-Rata JumlahProduksi GKG per Ha

4000

600
22100

3920
1466.89
3658.94

Lampiran6. Jumlah Pendapatan Diperhitungkan oleh Petani yang Memanfaatkan Sistem Resi
Gudang
GKG
GKP
Diiperhitungkan
Diperhitungkan
No
NAMA
LuasLahan
Harga
Jumlah
Harga
Jumlah
1 Aming
2
3000
480
2 Asdana

2.5

3 Warsim

1.32

4 Wartana

0.22

Jumlah

3000

6.04

Harga Rata-rata
3000
Rata-Rata JumlahKonsumsi GKP per Ha
Rata-Rata JumlahKonsumsi GKG per Ha

6
4

360

840

139,07
0

Lampiran7. Jumlah Penjualan Padi oleh Petani Konvensional


GKP
No
Nama
LuasLahan
Harga
Jumlah Harga
1 AryaPriyana
1.33
3000
7500
2 Asan

0.67
1.32

2700
2800
3000

1200
1520
8000

3 caryadi
4 Casna

0.165

2800

800

2750

8000

6 Durakhman

0.67

2600

3150

7 JaniKadarfan

0.17

3100

690

3000

10000

1.5

2900

8600

10 Kasan

1.32

3000

7400

11 Nugroho

1.32

3200

5200

12 Saemin

0.165

3150

250

13 Sakam

0.5

3000

260

14 Salman

1.32

3000

6000

15 Samsudin

0.67

3000

4700

16 Sanafi

2800

3960

17 Sariya

0.67

2700

1200

18 Sauco

19 Siwan

0.33

5 Daman

8 Karsid
9 Kartalim

6
5

0
3300

1300

GKG
Jumlah

3300

316

3500

1420

3300

11194

3600

4600

20 Suherman
21 SunirSunardi
22 Sutoyo

0.5

2350

0.223

3400

930

3400

1792

3300

11100

2800

2700

3.7

3200

18800

24 Taswid

0.33

3000

1500

25 Usman

2700

9650

26 Wardiyah

2700

16000

27 Warun

0.16

2700

600

28 Wasan

0.3

3300

1390

29 Yadi

0.3

3500

1420

23 Tarsiman

Jumlah
33.633
Harga Rata-rata
Rata-Rata JumlahKonsumsi GKP per Ha
Rata-Rata JumlahKonsumsi GKG per Ha

3000

131330
2919.23

34162
3400
3904.80
1015.73

Lampiran8. Jumlah Pendapatan Diperhitungkan oleh Petani yang Memanfaatkan Sistem Resi
Gudang
GKG
GKP Diperhitungkan
Diperhitungkan
No
Nama
LuasLahan
Harga
Jumlah
Harga
Jumlah
1 AryaPriyana

1.33

3000

500

2 Asan

0.67

2800

480

3 caryadi

1.32

4 Casna

0.165

5 Daman
6 Durakhman

0.67

7 JaniKadarfan

0.17

8 Karsid
9 Kartalim

6
7

3300

384

3150

530

3300

306

2
1.5

10 Kasan

1.32

11 Nugroho

1.32

12 Saemin

0.165

13 Sakam

0.5

14 Salman

1.32

15 Samsudin

0.67

16 Sanafi

17 Sariya

0.67

18 Sauco

19 Siwan

0.33

3000

240

20 Suherman
21 SunirSunardi
22 Sutoyo
23 Tarsiman

0.5
0.223
1
3.7

24 Taswid

0.33

25 Usman

26 Wardiyah

27 Warun

0.16

28 Wasan

0.3

29 Yadi

0.3

Jumlah

3400
3300

33.633

Harga Rata-rata
3025
Rata-Rata JumlahKonsumsi GKP per Ha
Rata-Rata JumlahKonsumsi GKG per Ha

6
8

408

500

1720

1628

3287.5
51.14025
48.40484

Lampiran 9. Pengeluaran Usahatani Padi Petani SRG


BiayaTunai
pupuk
No

nama

ha

urea
jml/kg
1200
1

AryaPriyana

Daman

Kartalim

Sakam

pestisida
anorganik

kompos
tot/Rp
960000

jml/kg

npk
jml/kg

sp36
tot/Rp

jml/kg
300

poska

tot/Rp
630000
0

jml/kg

cair

za

600

tot/Rp
990000

600

tot/Rp
1410000

jml/kg
400

tot/Rp
580000

600

990000

320

752000

500

825000

400

940000

50

82500

50

117500

jml/kg

Sewa alat tani

bubuk
tot/Rp

jml/kg
10

138000

174242.4

tot/Rp
170000

irigasi

pajak

sewagudang

bunga bank

penyusutan

Bibit
(kg)

Total/Rp

2400000

450000

390000

549000

230580

527800

30

270000

1900000

541500

494000

450000

178500

1735000

40

360000

200000

900000

541500

260000

603000

232215

2413400

20

180000

17000

150000

270000

37000

54000

22050

119600

27000

1.33
2
1.5
0.5
1200

960000

1750

2887500

300

630000

1370

3219500

400

580000

312242.4

13

387000

5350000

1803000

1181000

1656000

663345

4795800

93

837000

198.68

158940.4

289.73

478062.91

49.67

104304.6

226.82

533029.8

66.22

96026.49

0.83

51695.77

2.15

64072.85

885761.59

298509.93

195529.80

274172.18

109825.3

794006.6

15.39735

209250

Jumlah
Rata- rata

72

Lampiran 10.PengeluaranUsahataniPadiPetaniKonvensional
BiayaTunai
pupuk

No

Nama

ha

jml/kg
1AryaPriyana
2Daman
3Kartalim
4Sakam
5Sariya
6SunirSunardi
7Usman
8Yadi
9Asan
10Durakhman
11Kasan
12Salman
13Sauco
14Sutoyo
15Wardiyah
16Caryadi
17JaniKadarfan
18Nugroho
19Samsudin
20Siwan
21Tarsiman
22Warun
23Casna
24Karsid
25Saemin
26Sanafi
27Suherman
28Taswid
29Wasan
total
rata-rata

77

1.33
2
1.5
0.5
0.18
0.223
2
0.33
0.67
0.45
1.33
1.33
1
1
5
1.33
0.17
1.33
0.84
0.33
3.7
0.16
0.165
2
0.165
3
0.5
0.33
0.3
33.163

pestisida
anorganik
Sewaalattani
cair
bubuk
urea
npk
sp36
poska
za
tot/Rp jml/kg
tot/Rp
jml/kg tot/Rp
jml/kg
tot/Rp
jml/kg
tot/Rp
jml/kg
tot/Rp
jml/kg
tot/Rp
jml/kg
tot/Rp
300
495000
0
0
0
0
300 705000
0
0
1
105000
3
68000
1600000
500
825000
0
0
800 1680000
500 1175000
0
0
11.25 1360000
0
0
2400000
600
990000
0
0
0
0
400
940000
0
0
2
42000
2 100000
1132000
200
330000
0
0
0
0
100 235000
0
0
1
35000
2
42000
200000
50
82500
0
0
0
0
50 117500
0
0
4
105000
0
0
220000
50
82500
0
0
0
0
50
117500
0
0
1
65000
2
34000
100000
400
660000
0
0
300 630000
0
0
0
0
6
530000
1
17000
2400000
100
165000
0
0
100 210000
50
117500
0
0
3
180000
0
250000
100
165000
100 235000
300 630000
0
0
0
0
9
585000
0
950000
50
82500
0
0
50 105000
50
117500
0
0
2
70000
0
267000
800 1320000
800 1880000
0
0
0
0
0
0
5
445000
0
900000
400
660000
0
0
200 420000
400
940000
200 290000
8
420000
0
1600000
400
660000
0
0
300 630000
0
0
200 290000
30 1140000
33 855000
600000
200
330000
100 235000
100 210000
0
0
0
0
9
855000
3 105000
1200000
1500 2475000
0
0
0
0
1500 3525000
0
0
30
270000
0
3000000
400
660000
0
0
400 840000
0
0
0
0
0.75
145000
1
21000
1800000
50
82500
0
0
50 105000
50
117500
0
0
1
35000
4
84000
160000
200
330000
0
0
300 630000
0
0
0
0
5
565000
3
51000
1600000
200
330000
0
0
0
0
200 470000
0
0
4
880000
2
34000
1125000
50
82500
50 117500
0
0
50 117500
0
0
0
0
4 162000
450000
1100 1815000
0
0
0
0
1375 3231250
0
0
20 1875000
0
0
4675000
50
82500
0
0
0
0
50 117500
0
0
1
35000
1
17000
150000
100
165000
0
0
0
0
100 235000
0
0
0
0
5
85000
100000
900 1485000
0
0
0
0
600 1410000
0
0
5
175000
2
42000
2400000
50
82500
0
0
20
42000
20
47000
0
0
2
70000
2
50000
100000
450
742500
0
0
400 840000
900 2115000
0
0
10 1050000
0
3825000
50
82500
50 117500
0
0
50 117500
50
72500
0
0
3 375000
600000
150
247500
0
0
0
0
50
117500
0
0
0
0
1
17000
400000
50
82500
0
0
0
0
50 117500
0
0
3
105000
1
17000
460000
9450 15592500
1100 2585000
3320 6972000
6895 16203250
450 652500
174 11142000
75 2176000
34664000
284.9561 470177.6 33.1695 77948.32 100.1116 210234.3 207.9124 488594.2 13.56934 19675.54 5.246811 335976.8 2.261557 65615.29
1045261

kompos

irigasi

pajak

300000 260000
4125000 260000
406000 368000
1125000
97500
94500
35000
290000
37000
243000 330000
72500
65000
135000 130000
103950
87000
1800000 220000
300000 260000
1350000 225000
420000 195000
2610000 780000
300000 260000
37700
32500
260000 260000
187500
97500
66250
65000
5280000 550000
33750
37000
42000 260000
450000 390000
198750
27000
630000 585000
675000
82500
138600
55000
70000
65000
21744500 6116000
655685.6 184422.4

penyusutan

bibit

total

168800
20 180000
1033800
30 270000
2695600
20 180000
409800
10
90000
115800
5
45000
101000
2.5
22500
133800
15 135000
98600
5
45000
101600
15 135000
162800
8
72000
2521400
30 270000
121800
20 180000
4303600
20 180000
114800
18 162000
6331600
105 945000
113800
20 180000
58000
5
45000
187800
10
90000
119000
20 180000
111600
5
45000
191800
55 495000
84200
3
27000
125200
4
36000
134000
25 225000
131600
5
45000
210600
50 450000
174200
10
90000
713600
5
45000
59600
5
45000
20829800
545.5 4909500
628103.6 16.44905 148041.5

Lampiran 12. Kondisi Fisik Lokasi Gudang Sistem Resi Gudang Indramayu.

79

80

81

Kuisioner Penelitian Responden Petani

ANALISIS USAHATANI PADI


(Kasus Gapoktan Jayatani Desa Mangunjaya, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu)

RESPONDEN PETANI PADI



Nama Petani
Alamat



Tanggal Pengisian



Peneliti :
Adi Febrian
H34070072

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

82

I. KARAKTERSITIK PETANI
1.1 Identitas Petani
a. Nama
:..................................
b. Pekerjaan utama
:..................................
c. Pekerjaan sampingan
:..................................
d. Umur
:..................................
e. Jenis Kelamin
:..................................
f. Alamat
:..................................
g. Pendidikan
:..................................
h. Jenis Pengairan
:..................................
i. Jumlah anggota keluarga RUDQJ
j. Anggota keluarga yang membantu usahatani
RUDQJ
Penguasaan asset pertanian dan sarana produksi
Jumlah
Umur
Harga
Jenis Aset yang
yang
teknis
beli
dimiliki
dimiliki
(Tahun)
((Rp/unit)
(unit)
1. Alat Pertanian
- Cangkul
- Arit
- Pompa Air
- Golok
- Linggis
- Ember
- Traktor
- Sprayer

Nilai
sekarang
(Rp)

2.Sarana Produksi
- Pupuk
- Pestisida
3. Lainnya

II.
PEMASUKAN DAN PENGELUARAN USAHATANI PADI
2.1 Luas lahan yang dianalisis
KD
2.2 Status penguasaan lahan

2.3 Input usahatani padi
83

Jenis Sarana
Produksi
1. Bibit/Benih
2. Pupuk kimia :
- UREA
- Kcl
- NPK
- SP 36
- ................

Sumber1)

Sistem
Pemabayaran2)

Jumlah
(kilogram)

Harga
(Rp/Kg)

Nilai
(Rp)

3. Pupuk buatan :
- Pupuk kandang
- Pupuk kompos
- Pupuk organik

2. Pestisida
3. Lainnya
-

Ket :

 6XPEHU6HQGLUL3HWDQLODLQ.LRVVDSURWDQ*DSRNWDQ/DLQQ\D
 &DUD3HUROHKDQ%D\DUWXQDL.UHGLWSLQMDP/DLQQ\D

2.4. Input tenaga kerja usahatani padi


Jenis Kegiatan

Upah
(Rp/pekerja)

Keluarga
Nilai
HOK
(Rp)

Luar Keluarga
Nilai Borongan
HOK
(Rp)
(Rp)

1. Pembenihan
a. Cara/Frekuensi
b. Jumlah tenaga kerja
- Pria
- Wanita
2. Penanaman
a. Cara/Frekuensi
b. Jumlah tenaga kerja
- Pria
- Wanita
3. Pengendalian HPT
a. Cara/Frekuensi
b. Jumlah tenaga kerja
- Pria
- Wanita
4. Pemupukan
a. Cara/Frekuensi
b. Jumlah tenaga kerja
- Pria
- Wanita
84

5. Pemanenan
a. Cara/Frekuensi
b. Jumlah tenaga kerja
- Pria
- Wanita
6/DLQQ\D
a. Cara/Frekuensi
b. Jumlah tenaga kerja
- Pria
- Wanita

2.5 Biaya lain-lain untuk usahatani padi (Rp/musim)


Uraian
1. Sewa pompa
2. Iuran kelompok tani
3. Iuran keluarahan
4. Iuran pengairan
5. Sewa Traktor
6. Sewa Ternak
7/DLQQ\D

2.6 Total dan nilai produksi per musim


Bentuk Produksi
Volume (kg)
1. Padi
2. Gabah
/DLQQ\D

Nilai (Rp)

Harga (Rp/kg)

Nilai (Rp)

III. INFORMASI PENJUALAN


3.1
Hasil yang dijual
Hasil Produksi
1. Gabah Kering Panen
2. Gabah Kering Giling
3. Lainnya...
3.2 Hasil yang disimpan
Hasil Produksi
1. Gabah Kering Panen
2. Gabah Kering Giling
3. Lainnya...

Jumlah

Harga

Jumlah

Harga

=Terima Kasih=
85

KUISIONER
ALASAN DAN MANFAAT DARI PENERAPAN SISTEM RESI GUDANG BAGI
PETANI

Pertanyaan
1. Apakah alasan anda dalam kegiatan usahatani padi anda memanfaatkan Sistem Resi
Gudang yang dikelola PT Pertani?
( ) Mengikuti petani yang lain

( ) Peningkatan pendapatan

( ) Saran dari PPL

( ) Lainnya

2. Apakah dalam pelaksanaan kerjasama ini anda mengetahui dan memahami peraturan
yang ada?
( ) Ya
( ) Tidak
Apa alasan anda tidak mengetahui dan memahaminya

3. Apa hak dan kewajiban yang dimiliki anda sebagai pihak yang memanfaatkan Resi
Gudang?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..................
4. Apa manfaat yang anda dapatkan dengan memanfaatkan Sistem Resi Gudang?
()

Mendapatkan harga lebih baik dengan tunda jual ketika harga rendah

()

Mendapatkan kepastian mutu dan kuantitas karena komoditi yang disimpan


digudang diuji oleh LPK yang terakreditasi.
86

()

Mendapatkan jaminan keamanan karena komoditi yang disimpan di Gudang


otomatis diasuransikan.

()

Mendapatkan kemudahan akses pembiayaan dari perbankan karena Resi


Gudang dapat dijadikan sebagai agunan/jaminan kredit.

()

Meningkatkan posisi tawar petani dan mendorong mereka untuk bekerja secara
berkelompok

5. Masalah dan kendala apa saja yang anda dapatkan selama proses penerapan Resi
Gudang?
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..................
6. Bagaimana cara penyelesaian yang dilakukan bila ada masalah yang terkait dengan
Resi Gudang?
..........................................................................................................................................

=Terima Kasih=

87