Anda di halaman 1dari 2

Konflik, kekerasan, dan upaya penyelesaiannya (materi sosiologi kelas XI SMA)

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas ratusan kelompok masyarakat
dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda sehingga potensi konflik amat rentan
terjadi. Dalam proses interaksi, tidak seluruh masyarakat dapat berjalan beriringan. Selalu
akan ada perbedaan dalam mencapai sebuah tujuan, baik antarindividu, maupun kelompok.
Hal inilah yang akan menimbulkan konflik pada masyarakat. Ada banyak konflik yang
terjadi, seperti konflik sosial di Provinsi Riau karena faktor memperebutkan sumber daya
alam (SDA).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) konflik diartikan sebagai percekcokan,
perselisihan atau pertentangan. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses
sosial antara dua orang atau lebih (atau juga kelompok) yang berusaha menyingkirkan pihak
lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tak berdaya. Konflik merupakan suatu
proses disosiatif yang menyebabkan ketidakteraturan dalam kehidupan masyarakat, namun
konflik juga memiliki fungsi bagi masyarakat. Konflik menurut Soerjono Soekanto konflik
berisi perasaan yang memperdalam perbedaan-perbedaan antara individu dan kelompok yang
memicu keinginan untuk saling menekan dan menghancurkan pihak lain.
Pada prinsipnya, sebuah konflik terjadi dalam proses interaksi sosial dalam mencapai suatu
tujuan. Perbedaan antarindividu, setiap manusia memiliki ego sendiri-sendiri yang jika tidak
di kendalikan secara tepat dapat menimbulkan konflik dengan individu. Perbedaan
kebudayaan, individu merupakan bagian dari suatu masyarakat dimana pola-pola
pemikirannya dipengaruhi oleh masyarakat tersebut sehingga secara sadar atau tidak timbul
pertentngan karena perbedaan kebudayaan. Perbedaan kepentingan, setiap individu maupun
kelompok tentu memiliki kebutuhan dan kepentingan yang berbeda dalam mengerjakan
sesuatu. Perubahan sosial, hal ini merupakan faktor penting penyebab terjadinya konflik
misalnya pada masyarakat yang tertutup dan sulit menerima perubahan akan menentang
perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan yang telah ada.
Bentuk-bentuk konflik menurut Soerjono Seoekanto :
1. Konflik atau pertentangan pribadi, terjadi antara dua orang atau lebih karena
perbedaan pandangan dan biasanya didasari oleh rasa benci.
2. Konflik atau pertentangan rasial, umumnya timbul karena perbedaan-perbedaan ras
seperti ciri fisik dan kebudayaan.
3. Konflik atau pertentangan antar kelas-kelas sosial, terjadi disebabkan oleh perbedaan
kepentingan antar kelompok kelas sosial dalam sebuah masyarakat.
4. Konflik atau pertentangan politik, tujuan-tujuan politis suatu kelompok dapat
mempengaruhi interaksinya dengan kelompok lain dengan tujuan politis yang
berbeda.
5. Konflik atau pertentangan yang bersifat internasional, perbedaan kepentingan yang
akhirnya berpengaruh pada kedaulatan negara.
Sebuah konflik tentu memiliki dampak bagi kehidupan masyarakat yang berkonflik tersebut,
berikut ini ada beberapa dampak konflik sebagai berikut :

1. Menambah solidaritas in group sebuah kelompok, hal ini terjadi karena konflik antar
kelompok mengharuskan setiap individu berlaku solid terhadap kelompoknya.
2. retaknya persatuan suatu kelompok, karena individu-individu dalam kelompok
berlaku tidak solid yang mengakibatkan perasaan saling terkhianati.
3. Perubahan kepribadian, karena konflik yang terjadi secara berkepanjangan akan
mengakibatkan perubahan perilaku pada individu yang berkonflik misalnya seseorang
yang awalnya berkepribadian terbuka setelah terjadi konflik akan cenderung tertutup
dan tidak percaya diri.
4. Munculnya dominasi kelompok pemenang, konflik yang terjadi antar kelompok sosial
akan memecah masyarakat menjadi dua kubu yang tentu akan saling mempengaruhi
dalam segala aspek kehidupan.
Secara umum bentuk-bentuk pengendalian sosial sebagai berikut :
1. Konsiliasi, diskusi dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh dua pihak
berkonflik dengan bantuan lembaga-lembaga tertentu.
2. Mediasi, menggunakan bantuan pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak
bertikai dengan tujuan mencapai penyelesaian masalah secara halus yang nantinya
tidak akan melukai harga diri kedua belah pihak.
3. Arbitrasi, menghadirkan pihak ketiga dalam diskusi bersama namun hasil keputusan
dari pihak ketiga ini bersifat mengikat dan wajib diterima oleh dua belah pihak
bertikai.

SUMBER :
Soekanto, Soerjono. 1986. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: CV Rajawali.
Maryati, Kun. 2014. Sosiologi (Kelompok peminataan ilmu-ilmu sosial). Jakarta: Esis.
http://blog.unnes.ac.id/fafarikhah/

Anda mungkin juga menyukai