Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dewasa ini telah muncul berbagai macam penyakit, salah satunya adalah
BPH (Benign Prostatic Hyperplasia) atau yang lebih dikenal pada masyarakat
umum dengan pembesaran prostat. Penyakit ini umumnya menyerang pada
pria dengan usia di atas 50 tahun. Sekitar 50% dari penderita yang ada akan
menunjukkan tanda dan gejala klinik seperti gangguan sistem perkemihan dan
masalah seksualitas. Kebanyakan dari masyarakat akan berobat jika keadaan
sudah memburuk. Jika keadaan penyakit sudah sangat buruk maka
penanggulangan harus dengan prosedur pembedahan.
Mengingat hal tersebut di atas maka diharapkan masyarakat harus peka
terhadap gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini, yaitu dengan cepat
mengontrolkan diri jika terjadi yang buruk yang mungkin terjadi bisa dicegah
secara dini.
Oleh karena itu peran perawat sangat penting, melalui perannya sebagai
tim kesehatan yang mempunyai tanggung jawab untuk membantu mengurangi
jumlah penderita penyakit BPH.
B. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Memperoleh pengalaman nyata dalam merawat pasien dengan BPH
sehingga dapat menerapkan konsep-konsep keperawatan yang telah
dipelajari.
2. Memperoleh gambaran nyata pelaksanaan asuhan keperawatan pada apsien
BPH di P.K. St. Carolus.
3. Untuk penugasan akhir dari mata ajar keperawatan medikal bedah V DKA
400.
C. METODE PENULISAN
Metode penulisan yang digunakan adalah :
1. Studi kepustakaan
Yaitu dengan mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan BPH.

2. Studi kasus
Yaitu dengan cara pengamatan langsung pada penderita BPH di Unit Lukas
P.K. Sint Carolus.
D. SISTEMATIKA PENULISAN
Penulisan makalah ini diawali dengan kata pengantar, daftar isi yang
dilanjutkan dengan Bab I yaitu pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan
penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Bab II yaitu tinjauan
teoritis yaitu berisi definisi, insiden, anatomi fisiologi, etiologi, patofisiologi,
tanda dan gejala, tes diagnostik, penatalaksanaan medik, komplikasi; konsep
asuhan keperawatan dan patoflowdiagram. Bab III yaitu pengamatan kasus
yang berisi pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan, rencana
keperawatan, pelaksanaan keperawatan dan evaluasi keperawatan. Bab IV
yaitu pembahasan kasus, Bab V yaitu kesimpulan dan diakhiri daftar pustaka.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP MEDIK
1. Definisi
Benign prostatic hyperplasia adalah kondisi patologis yang paling
umum pada pria lansia dan penyebab kedua yang paling sering untuk
intervensi medis pada pria di atas usia 60 tahun. (Brunner & Suddarth,
2001).
Benign prostatic hyperplasia adalah penyakit yang pada umum
nyamenyeran gpria. Prostat adalah bagian saluran kemih yang seringkali
disebabkan oleh pertumbuhan yang non invasif. (Joyce M. Black, 1997).
2. Insiden

Pria di atas 50 tahun: 50%

Pria di atas 80 tahun: 75%

Umumnya lebih banyak pada pria kulit putih.


3. Anatomi Fisiologi
Struktur dan sistem reproduktif pria adalah testis, vas deferen
(duktus deferen) dan vesika seminalis, penis dan kelenjar asesori tertentu,
seperti kelenjar prostat dan kelenjar cowper (kelenjar bulbouretral). Testis
dibentuk p ada masa embrio di dalam rongga abdomen dekat dengan ginjal.
Testis bersarang di dalam skrotum, yang menjaga keduanya pada suhu
yang sedikit lebih rendah dari suhu tubuh keseluruhan untuk memfasilitasi
spermatogenesis (pembentukan sperma). Testis terdiri atas banyak tubulus
seminiferus

tempat

dimana

sperma

dibentuk.

Tubulus

koligentes

mengirimkan sperma ke dalam epididimis, suatu struktur seperti topi yang


terletak pada testis dan mengandung duktus yang melebar yang mengarah
ke dalam vasdeferen. Struktur tubulus yang keras ini menjalar ke arah atas
melalui kanalis inguinalis untuk memasuki rongga abdomen di belakang
peritoneum dan kemudian memanjang ke bawah ke arah basal kandung
kemih. Suatu tonjolan berkantung dari struktur ini disebut vesika
seminalis, yang berfungsi sebagai wadah untuk sekresi testikuler. Traktus

ini berlanjut sebagai duktus ejakulatorius, yang kemudian menjalar melalui


kelenjar prostat untuk masuk ke dalam uretra. Sekresi testikuler melewati
jalur ini ketika mereka keluar penis dalam aksi reproduktif.
Fungsi Glandulat. Testis mempunyai fungsi ganda: pembentukan
spermatozoa dari sel-sel germinal tubulus seminiferus dan sekresi hormon
seks

pria

yaitu

testosteron,

yang

menyebabkan

dan

memelihara

karakteristik seks pria. Kelenjar prostat terletak tepat di bawah leher


kandung kemih. Kelenjar ini mengelilingi uretra dan dipotong melintang
oleh duktus ejakulatorius, yang merupakan kelanjutan dari vasdeferen.
Kelenjar ini menghasilkan sekresi yang penyalurannya dari testis secara
kimiawi dan fisiologis sesuai dengan kebutuhan spermatozoa.
Kelenjar Cowper terletak di bawah prostat di dalam aspek posterior
uretra. Kelenjar ini membuang sekresinya ke dalam uretra saat ejakulasi,
dengan memberikan lubrikasi. Penis mempunyai fungsi ganda: penis
merupakan organ untuk kopulasi dan untuk urinasi. Secara anatomis, penis
terdiri atas glans penis, korpus, dan pangkal penis (radik). Glans penis
adalah bagian bulat yang lunak pada ujung distal penis. Uretra, tuba yang
membawa urin, membuka pada ujung glans. Normalnya, glans ditutupi
atau dilindungi oleh kulit yang memanjang dari kandung kemih melalui
prostat ke ujung distal penis.
4. Etiologi dan Faktor Pencetus

Penyebab pasti BPT belum diketahui

Faktor usia

Faktor hormonal: Dihidrotestosteron (DHT)

Kanker prostat

5. Patofisiologi
Pembesaran kelenjar prostat benigna adalah suatu peningkatan
jumlah sel dalam kelenjar prostat (hiperplasia) daripada peningkatan
ukuran sel (hipertropi). Walaupun penyakit ini sebelumnya dikenal dengan
benign prostatic hypertropy, benign prostatic hyperplasia adalah nama
yang paling tepat. Seiring dengan penuaan usia, kelenjar periuretral
mengalami hiperplasia. Timbulnya BPH diduga karena adanya faktor

hormon Dihydrocestosteron (DHT) pada pasien yang sudah tua.


Dihydrotestosteron mengakibatkan pertumbuhan jaringan prostat.
Akibat pembesaran prostat akan berdampak pada penyumbatan
parsial atau sepenuhnya pada saluran kemih bagian bawah. Salah satu
gejala BPH adalah nocturia (bangun tengah malam untuk berkemih) dan
sering berkemih. Orang mengenal bahwa berkemih menjadi sedikit dan
sukar pada permulaannya. Otot kandung kemih harus berkontraksi lebih
kuat untuk melewatkan urine dari daerah yang tersumbat dan otot yang
harus bekerja keras menjadi hipertropi.
Kandung kemih tidak mampu mengosongkan sepenuhnya pada tiap
kali berkemih (resiko urine), urine menjadi alkali akibat statis dan menjadi
subur untuk pertumbuhan bakteri. Kemudian penderita akan mengeluh
gejala-gejala

Cystitis

(sering

buang

air

kecil)

dan

bisa

timbul

vesicolithiasis. Kemudian penderita juga mengeluh hematuri karena


pecahnya pembuluh darah akibat tekanan kandung kemih yang meningkat.
Aliran urine dari ureter menjadi terganggu oleh karena penyumbatan,
mengakibatkan hydroureter. Situasi yang sama terjadi pada ginjal,
mengakibatkan hydro nephrosis, karena aliran urine tersumbat di ureter
dan urine berbalik naik. Dalam keadaan ini pelvis dan kaliks ginjal
menjadi penuh dengan urine dan jaringan ginjal menjadi atrofi. Akhirnya,
akibat obstruksi urine yang lama dan refluks dapat menyebabkan
insufisiensi ginjal.
6. Tanda dan Gejala
-

Retensi urin

Inkontinensia urine

Dysuria

Sering b.a.k

Nocturia

Berkemih tidak tuntas

Pancaran urine lemah; urine menetes

Hematuria

Abdomen tegang

Mual, muntah

Demam

Fatique

Uremia

Sulit memulai berkemih

Mengejan

7. Tes Diagnostik
a. Darah rutin

Leukosit meningkat

Haemoglobin menurun

Hematokrit menurun

Trombosit menurun

b. Darah kimia

BUN meningkat

Kreatinin meningkat

c. Urine lengkap

Leukosit meningkat

Eritrosit meningkat

d. Cystoscopy
Pemeriksaan langsung dari kandung kemih dengan menggunakan
instrumen yang disebut cystoscopy. Pada pemeriksaan ini akan
menunjukkan adanya pembesaran kelenjar prostat.
e. EKG (elektrokardiogram)
Untuk menilai status jantung pre operasi, digunakan sebagai dasar
untuk membandingkan bila timbul perubahan.
f. IVP (INTra Venous Pyelogram)
Untuk melihat adanya obstruksi dan beratnya obstruksi ginjal.
g. PSA (Prostat Specific Antigen)
Digunakan untuk mendeteksi kanker prostat. PSA akan meningkat
dengan adanya kanker prostat.
h. USG (Ultra Sonography)
Trans Rectal Ultrasound (TRUS) dilakukan untuk mendeteksi kanker
prostat tak teraba.

8. Penanganan Medik

a. Farmakologi
1) -1-adrenergic

blockade

(mis,

terazosin)

digunakan

untuk

melemaskan otot halus kolum kandung kemih dan prostat.


2) Hormonal (mis, finasteride (proscar)
Digunakan untuk menurunkan kadar dihydrotestosteron sehingga
aktivitas sel glandular ditekan dan mengakibatkan penurunan
ukuran prostat.
b. Surgical therapy
1) Trans Urethral Resection of the Prostate (TURP)
TURP dilaksanakan bila pembesaran terjadi pada lobus
tengah yang langsung melingkari uretra. Sedapat mungkin hanya
sedikit jaringan yang mengalami reseksi sehingga perdarahan yang
besar dapat dicegah dan kebutuhan waktu untuk bedah tidak terlalu
lama untuk mencegah kehilangan darah terlalu banyak.
Resectoscop (sejenis instrumen hampir serupa dengan
cystoscope) tapi dilengkapi dengan alat pemotong dan counter yang
disambungkan dengan arus listrik yang dimasukkan lewat uretra.
Kandung kemih dibilas terus menerus selama prosedur berjalan.
Prostatectomy transuretra dilakukan dengan anastesi umur atau
spinal.
TURP ulang dapat dibutuhkan karena struktur uretra post
operasi, parut leher kandung kemih dan berlanjutnya hyperplasia
jaringan prostat. Setelah TURP dipasang kateter. Ukuran kateter
yang besar dipasang untuk memperlancar membuang gumpalan
darah dari kandung kemih. Kateter foley tiga jalur dilengkapi balon
berisi 30 ml dengan menggunakan cairan irigasi isotonik. Air tidak
boleh digunakan untuk irigasi karena dapat menyebabkan hemolysis
dan gagal ginjal akut.
2) Suprapubic Prostatectomy
Metode lain dari prostatectomy adalah operasi terbuka pada reseksi
supra pubis kelenjar prostat diangkat dari uretra lewat kandung
kemih. Bentuk reseksi ini dilakukan bila banyak masa jaringan yang
harus diangkat.
3) Retropubic Prostatectomy

Pada reseksi retropubis dibuat insisi pada abdominal bawah tetapi


kandung kemih tidak dibuka. Tapi hanya ditarik dan jaringan
edematous prostat diangkat melalui insisi pada anterior kapsul
prostat. Otot-otot spingter jarang rusak oleh prostatectomy
retropubis dan tidak terjadi fistula urine. Dipasang kateter folley
yang besar seteleh operasi, dan irigasi dilakukan terus-menerus
untuk selama 24 jam.
4) Perineal prostatectomy
Insisi dibuat diantara scrotum dan rectum. Perineal prostatectomy
dilkukan untuk menangani kanker prostat. Karena kemungkinan
terjadinya disfungsi ereksi, tindakan ini tidak dilakukan untuk
penanganan BPH.
5) Trans Urethral incision of the Prostate (TUIP)
Prosedur ini memiliki sedikit komplikasi post operasi dan dapt
dilakukan dengan anestesi lokal untuk pasien dengan resiko tinggi
operasi. Banyak pasien melaporkan tidak adanya perubahan dalam
ejakulasi yang menjadikan prosedur ini merupakan pilihan pada
pasien yang lebih muda.
6) Trans Uretral Ultra Sound Guided Laser Incision of the Prostate
(TULIP)
TU:IP merupakan pengobatan terbaru, hampir sama dengan TUIP
tetapi insisi dibuat dengan menggunakan laser. Prosedur ini
menimbulkan sedikit kehilangan darah, tidak membutuhkan irigasi
dan pasien tidak memerlukan kateter setelah operasi, prosedur ini
biasanya dilakukan pada pasien rawat jalan.
c. Non Surgical Invasive
1) Transurethral Ballon Dilation of the Prostate
Merupakan prosedur lain yang sedang popular. Proseur ini bukan
tindakan pembedahan tetapi merupakan tindakan invasif. Kateter
kecil dimasukkan ke dalam urethra, kemudian balon diposisikan di
dalam prostatic urethra dan dibiarkan selam 15 menit. Setelah
tindakan, pasien menggunakan kateter selama selama semalam.
Prosedur ini dapat dilakukan dengan anesthesi lokal dan tidak
menyebabkan kehilangan darah yang membuat prosedur ini tepat
untuk banyak pasien dengan resiko tinggi operasi.

2) Insertion of Prostatic Stents


Prosedur ini digunakan pada pasien yang mempunyai resiko buruk
untuk operasi, melalui alat endoscopy, tube dimasukkan ke dalam
prostatic urethra, diman tube ini akan menahan urethra tetap
terbuka.
9. Komplikasi
a. Pre Operasi
1. UTI ( Urinary Tract Infection )
Dapat terjadi oleh karena statis urine dalam kandung kemih yang
menjadikan PH urine alkali sehinga menjadi subur untuk
pertumbuhan kuman
2. Hydroureter dan hydronefritis
Terjadi karena sumbatan aliran urine sehingga terjadi aliran balik
urine ke ureter dan ginjal.
3. Gagal Ginjal Kronik (CRF)
Akibat obstruksi urine yang lama dan refluk, pelvis dan kaliks
ginjal menjadi penuh dengan urine dan jaringan ginjal menjadi
atropi dan menyebebkan insufisiensi ginjal.
b. Post Operasi
1) Perdarahan
Perdarahan dapat terjadi dari semua tipe pembedahan, tetapi hal ini
merupakan masalah yang paling sering terjadi pada TURP.
Perdarahan vena selama awal periode post operasi sering terjadi.
Jika diperlukan, hal ini dapat ditangani dengan pemasangan traksi
pada kateter selama 6 sampai 8 jam post operasi
2) Striktur Urethra
Striktur urethra

adalah penyempitan atau konstriksi dari lumen

urethra karena instrumen, infeksi. Striktur urethra dapat diperbaiki


dengan urethrotomi visual transurethral atau dengan urethroplastik.
Urethroplastik adalah perbaikan cara bedah terbuka dengan cara
pendekatan melalui bawah abdominal.
3) Inkontinensia Urine
Biasanya terjadi disebabkan oleh karena trauma pada springter
urinarius. Komplikasi ini dapat diturunkan dengan melakukan

perineal exercise untuk meningkatkan kontrol otot (seperti, kegel


exercise)
4) Epididimis
Terjadi karena penyebaran infeksi dari prostatic urethra melalui
vasdeferens ke dalam epdidimis.
5) Shock hipovolemik
Bila perdarahan yang keluar terlalu banyak, maka udema vaskuler
akan berkurang.
6) Obstruksi kateter
Terjadi karena adanya pembentukan bekuan darah sehingga kateter
dapat tersumbat dan mengakibatkan retensi urine.
7) Ejakulasi retrograde ( semen dikeluarkan ke dalam kandung kemih )
Karena adanya trauma pembedahan pada leher kandung kemih.
Tidak

ada

penanganan

khusus

untuk

ejakulasi

retrograde.

Penjelasan tentang kondisi ini kepada klien dibutuhkan agar klien


tidak merasa takut dan cemas dengan hal ini. Kondisi ini
menyebabkan sterilitas karena sperme diejakulasikan ke dalam
kandung kemih.
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Pre Operasi
a. Pola persepsi Pemeliharaan kesehatan

b.

Riwayat infeksi saluran kemih

Riwayat obstruksi kandung kemih

Penggunaan obat obat antibiotik untuk UTI

Pola Nutrisi Metabolik


-

Mual

Muntah

Anorexia

BB menurun

Demam

c. Pola eliminasi
-

Retensi urine

Dysuria

Sering BAK

10

Nocturia

Berkemih tidak tuntas

Pancaran urine lemah ; urine menetes

Sulit memulai berkemih

Mengejan

d. Pola latihan aktivitas


-

Penurunan aktivitas karena nyeri

Fatigue

e. Pola tidur istirahat


-

Gangguan tidur karena nyeri, nocturia, sering BAK, inkontinensia


urine.

f. Pola persepsi kognitif


-

Pengetahuan tentang penyakit (BPH) atau prosedur pembedahan

g. Pola persepsi konsep diri


-

Takut, cemas tentang perubahan gambaran diri.

h. Pola berhubungan dengan sesama


-

Isolasi sosial berhubungan dengan penyakit

i. Pola sexual reproduksi


-

Impoten

j. Pola koping toleransi terhadap stress


-

Takut

Cemas

Depresi

k. Pola kepercayaan
-

Meningkatkan kebutuhan spiritualnya sebagai mekanisme koping.

Pre Operasi
a. Pola Persepsi pemeliharaan kesehatan
-

Riwayat operasi protatectomy

Penggunaan alat alat medik post operasi : infus, kateter.

b. Pola nutrisi metabolik


-

Mual

Muntah

Anorexia

Demam

11

c. Pola eliminasi
-

Retensi urine

Inkontinensia urine

Hematuria

d. Pola latihan aktivitas


-

Penurunan aktivitas karena nyeri

Fatigue

e. Pola tidur istirahat


-

Gangguan tidur karena nyeri

f. Pola persepsi kognitif


-

Pengetahuan tentang komplikasi pembedahan dan perawatan post


operasi

g. Pola persepsi konsep diri


-

Takut, cemas tentang perubahan gambaran diri, komplikasi operasi

h. Pola berhubungan dengan sesama


-

Isolasi sosial berhubungan dengan penyakit

i. Pola sexual reproduksi


-

Impoten

j. Pola koping toleransi terhadap stress


-

Takut

Cemas

Depresi

k. Pola kepercayaan
-

Peningkatan kegiatan spiritual

12

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Operasi
1. Perubahan pola eliminasi : retensi urine b.d obstruksi aliran urine
2. Resiko infeksi b.d pemasangan kateter, retensi urine
3. Nyeri b.d retensi urine, distensi kandung kemih
4. Kecemasan b.d pembedahan yang akan dihadapi dan kurang
pengetahuan tentang aktivitas rutin dan aktivitas post operasi
Post Operasi
1. Resiko tinggi kurang volume cairan tubuh b.d obstruksi aliran urine
2. Nyeri b.d obstruksi kateter, spasme kandung kemih
3. Resiko tinggi infeksi b.d pemasangan kateter
4. Resiko tinggi perubahan sexual : penurunan libido b.d cemas karena
inkontinensia.
5. Resiko tinggi perubahan pola eliminasi : retensi urine b.d obstruksi
kateter urine
3. RENCANA KEPERAWATAN
1. Perubahan pola eliminasi : retensi urine b.d obstruksi aliran urine
Hasil Yang Diharapkan :
Pasien akan kembali mempertahankan eliminasi urine normal ditandai
dengan, keluaran urine 0,5 1 cc/kg BB/jam
Intervensi
1) Monitor intake cairan dan out put urine
Rasional : Menilai

keseimbangan

antara

pemasukan

dan

pengeluaran urine. Pengeluaran urine yang kurang


menandakan terjadinya retensi urine.
2) Kaji distensi kandung kemih dengan palpasi daerah supra pubis
Rasional : Distensi kandung kemih merupakan indikasi retensi
urine
3) Anjurkan klien untuk tidak mengejan saat BAK

13

Rasional : Peningkatan tekanan abdomen akan mengakibatkan


rusaknya pembuluh darah kandung kemih yang akan
menyebabkan hematuria

4) Kolaborasi dengan medik untuk pemasangan kateter


Rasional : Pemasangan kateter merupakan penanganan medis
yang sifatnya sementara untuk melancarkan aliran
urine dari kandung kemih.
2. Resiko infeksi b.d pemasangan kateter, retensi urine
Hasil Yang Diharapkan
Pasien tidak menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi ditandai dengan :
- Suhu 36 37 oC
- Nadi 60 100 x/menit
- Pernafasan 12 20 x/menit
- Leukosit 5.000 10.000
Intervensi
1) Observasi tanda tanda vital (terutama suhu)
Rasional : Peningkatan suhu merupakan salah satu indikasi
adanya proses infeksi
2) Rawat kateter internal secara periodik
Rasional : Mencegah infeksi
3) Berikan minum sesuai kebutuhan ( 2500 3000 cc/ hari)
Rasional : Melancarkan aliran urine, mencegah statis urine
sehingga infeksi tidak terjadi.
4) Kolaborasi medik untuk pemberian Antibiotik
Rasional : Mencegah infeksi
5) Kolaborasi medik untuk pemeriksaan laboratorium (leukosit)
Rasional : Memantau peningkatan nilai leukosit yang merupakan
indikasi adanya proses infeksi.
3. Nyeri b.d retensi urine, distensi kandung kemih
Hasil Yang Diharapkan
-

Pasien mengungkapkan nyeri berkurang/hilang

Intensitas nyeri 0 1

14

Ekspresi wajah tampak rileks

Intervensi
1) Kaji keluhan nyeri pasien, gunakan skala nyeri 0 10
Rasional : Menentukan tindakan yang akan dilakukan
2) Ajarkan pasien teknik relaksasi, menarik nafas dalam
Rasional : Relaksasi otot mengurangi nyeri
3) Anjurkan pasien untuk tirah baring
Rasional : Mengurangi ketegangan kandung kemih
4) Kolaborasi dengan medik untuk pemberian analgetik
Rasional : Mengurangi nyeri
4. Kecemasan b.d pembedahan yang akan dihadapi dan kurang
pengetahuan tentang aktivitas rutin dan aktivitas post operasi
Hasil Yang Diharapkan :
Klien akan menyebutkan alasan pembatasan aktivitas, kateterisasi,
irigasi dan peningkatan asupan cairan.
Intervensi :
1) Pertegas penjelasan dokter tentang operasi yang telah dijadwalkan
dan jawab beberapa pertanyaan.
2) Jelaskan prosedur operasi yang telah diperkirakan seperti di bawah
ini :
- Kateterisasi
- Irigasi manual dan kontinyu
- Infus intra vena
3) Jelaskan pembatasan aktivitas yang diharapkan
- Tirah baring untuk hari pertama post operasi
- Mobilisasi aktif dimulai hari pertama post operasi
- Hindari aktivitas yang mengencangkan daerah kandung kemih
Rasional : 1 3 pemahaman klien dapat membantu mengurangi
kecemasan yang berhubungan dengan ketakutan akibat
ketidaktahuan
4) Jelaskan bahwa hematuri sementara adalah normal dalam periode
segera setelah operasi
Rasional : Menyiapkan klien terhadap hematuri post operasi,
mencegah klien terkejut atas kejadian tersebut.
5) Jelaskan pentingnya asupan cairan

15

Rasional : Urine yang encer menghambat pembentukan bekuan


darah

Post Operasi
1. Resiko tinggi kurang volume cairan tubuh b.d perdarahan post operasi
Hasil Yang Diharapkan :
Perdarahan post operasi dapat terkontrol, ditandai dengan
-

TD

: 120/80 130/85 mmHg

: 60 100 x/menit

Hb

: 12 18 mg/dl

HL

: 37 52 %

Intervensi
1) Pantau tanda tanda perdarahan
Rasional : Selama 24 jam pertama setelah pembedahan, urine
berwarna pink atau merah terang, secara bertahap
menjadi kekuningan sampai sedikit berwarna pink
sampai hari keempat post operasi. Urine yang berwarna
merah terang dengan bekuan darah menunjukkan
pendarahan arteri.
2) Pantau keluaran urine lewat kateter
Rasional : Pendekatan pembedahan transurethra mengakibatkan
perdarahan hebat.
3) Instruksikan klien untuk menghindari mengedan ketika BAB
Rasional : Peningkatan tekanan pada kandung kemih dapat
meningkatkan penekanan pada daerah operasi dan
mencetuskan pendarahan.
4) Lakukan irigasi kandung kemih sesuai pesanan
Rasional : Irigasi kandung kemih kontinyu dengan normal saline
mengencerkan darah dalam urine untuk mencegah
pembentukan bekuan darah.
2. Nyeri b.d obstruksi kateter, spasme kandung kemih

16

Hasil Yang Diharapkan


-

Nyeri berkurang/hilang, intensitas nyeri 0 - 1

Pasien melaporkan pengurangan nyeri

Intervensi
1) Pantau nyeri suprapubik, spasme kandung kemih, sensasi terbakar
pada ujung penis, gunakan skala nyeri 0 10
Rasional : Iritasi dari kateter folley dapat menyebabkan spasme
kandung kemih dan nyeri pada ujung penis. Obstruksi
kateter

dapat

menyebabkan

retensi

urine

yang

menimbulkan spasme kandung kemih dan peningkatan


resiko infeksi
2) Fiksasi kateter dengan tepat, hindari manipulasi berlebihan
Rasional : Tekanan dari kateter yang terjuntai dapat merusak
sfingter

yang

mengakibatkan

inkontinensia

urine

setelah pencabutan kateter. Gerakan kateter juga


meningkatkan spasme kandung kemih.
3) Dorong klien untuk meningkatkan asupan cairan oral yang adekuat
(minimal 2 liter/hari, kecuali ada kontra indikasi)
Rasional : Hidrasi yang adekuat meningkatkan pengenceran urine
yang membantu mendorong bekuan darah keluar
4) Beri obat sesuai instruksi untuk nyeri dan spasme
Rasional : Obat anti spasmodik mencegah spasme kandung
kemih. Obat analgetik mengurangi nyeri.
3. Resiko tinggi infeksi b.d pemasangan kateter
Hasil Yang Diharapkan
Tidak ada tanda tanda infeksi, ditandai dengan :
-

Suhu 36 37 oC

Leukosit 5.000 10.000

Intervensi
1) Jaga sterilitas sistem kateterisasi, rawat kateter secara teratur
dengan sabun dan air, olesi bethadin sekitar orifisium urethra
Rasional : Mencegah infeksi
2) Jaga drainase urine, hindari masuknya urine kembali ke dalam
kandung kemih

17

Rasional : Refluks urine dari kantong urine kembali ke kandung


kemih dapat menyebabkan infeksi
3) Monitor tanda tanda vital (terutama suhu)
Rasional : Peningkatan suhu tubuh merupakan salah satu indikasi
adanya proses infeksi
4) Monitor nilai laboratorium (leukosit)
Rasional : Leukosit merupakan salah satu sistem kekebalan tubuh
peningkatan leukosit merupakan tanda adanya infeksi
5) Berikan anti biotik sesuai program medik
Rasional : Anti biotik mencegah infeksi
4. Resiko tinggi perubahan seksual : penurunan libido b.d cemas karena
inkontinensia.
Hasil Yang Diharapkan
-

Ekspresi wajah rileks dan melaporkan kecemasan berkurang

Mengungkapkan pengertiannya tentang situasi individual

Mendemonstrasikan kemampuan mengatasi masalah

Intervensi
1) Siapkan lingkungan yang menjamin privasi dan rahasia untuk
diskusi dan dorong klien untuk mengekspresikan kekhawatirannya
Rasional : Banyak klien enggan untuk mendiskusikan hal hal
yang berkenaan dengan seksual. Privasi mungkin
mendorong klien berbagi rasa.
2) Gunakan istilah istilah umum jika mungkin dan jelaskan tentang
istilah istilah yang tidak umum.
3) Dorong klien untuk menanyakan kepada dokter selama di rawat dan
pada kunjungan lanjutan.
Rasional : Dialog terbuka dengan dokter mendorong untuk
mengklarifikasikan

kekhawatiran

dan

memberikan

akses ke penjelasan yang spesifik


5. Resiko tinggi perubahan pola eliminasi : retensi urine b.d obstruksi
kateter urine
Hasil Yang Diharapkan
-

Urine dalam jumlah yang cukup (0,5 1 cc/kg BB/ja )

18

Tidak ada tanda kandung kemih penuh

Intervensi
1) Kaji keluhan pasien : kandung kemih penuh, nyeri
Rasional : Retensi kandung kemih dapat menyebabkan spasme
kandung kemih dan menyebabkan nyeri.
2) Monitor pemasukan dan pengeluaran cairan
Rasional : Menilai

keseimbangan

pengeluaran.

antara

Pengeluaran

pemasukan

urine

yang

dan
kurang

menandakan terjadinya retensi urine.


3) Lakukan irigasi kandung kemih sesuai pesanan
Rasional : Irigasi kandung kemih secara kontinyu mengencerkan
darah dalam urine untuk mencegah pembentukan
bekuan darah dan mencegah obstruksi kateter.
4) Pastikan asupan cairan yang adekuat ( oral, parenteral )
Rasional : Hidrasi yang optimal mengencerkan urine untuk
mencegah pembentukan bekuan darah dan obstruksi
kateter
4. PERENCANAAN PULANG
1) Jelaskan kepada pasien jangan mengangkat beban berat
2) Anjurkan untuk banyak minum air putih
3) Jelaskan tentang obat obat yang di minum, dosis, jadwal pemberian
dan efek samping obat (biasanya analgetik dan antibiotik).
4) Jelaskan kepada pasien tentang komplikasi yang mungkin muncul
setelah TURP, termasuk striktur urethra, inkontinensia dan fertilitas.
5) Ajarkan kepada pasien tentang Kegels exercise untuk mengontrol
komplikasi inkontinensia.
6) Jelaskan kepada pasien tentang potensial berulangnya BPH (biasanya
10 tahun atau lebih setelah operasi)
7) Anjurkan kepada pasien untuk follow-up ke dokter setelah TURP
8) Jelaskan tentang tanda dan gejala retensi urine, perdarahan atau infeksi
setelah TURP dan segera ke dokter.

19

C. PATOFLOWDIAGRAM

Etiologi BPH :

Peningkatan jumlah sel kelenjar prostat

Secara pasti tidak diketahui


Faktor usia

Pembesaran kelenjar prostat

Faktor hormonal
Obstruksi sebagian/seluruh urethra

DP.
Perubahan
pola eliminasi
retensi urine

Berkemih tidak tuntas

Pancaran urine lemah,

Retensi urine

DP. Risti Infeksi

urine menetes

Sering b.a.k

mengejan

Tekanan kand.
Kemih meingkat

Pemasangan kateter

Statis Urine

Batu

UTI

P.D. Kandung kemih


rusak

Refluks urine

Hematuria

Hidroureter

Syok hipovolemik

Hidroneprosis

Demam
Mual
Muntah

Gangguan fungsi ginjal

Gangguan
keseimbangan cairan
Gangguan
keseimbangan asambasa

DP.
Gangguan
keseimbangan asam
dan basa
20

21