Anda di halaman 1dari 13

TUGAS DISKUSI

KESEHATAN LINGKUNGAN , TOPIK ECOHEALTH

PENGENDALIAN PENYAKIT ZOONOTIK FLU BURUNG DENGAN


PENDEKATAN ECOHEALTH

DISUSUN OLEH :
1. TARUBAT BOSTON
2. HENDRIK
3. NI KETUT HESTI W.D. (15/388174/PKU/18535)
4. WASLIAH HASAN (15/388174/PKU/15475)
5. SEPTA MELIANA PUSPITASARI
(15/388174/PKU/18582)
6. WIWIK
7. TRIAS SARAS PERTIWI (15/388174/PKU/388245)
8. SEPTIANA DWI SUSANTI AISYAN
(15/388174/PKU/18583)
9. NAOMI (15/388174/PKU/18533)
10. SINTA (15/388174/PKU/18586)

PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS KEDOKTERAN


SISTEM INFORMASI & MANAJEMEN KESEHATAN
HEALTH POLICY OF MANAGEMENT (HPM)
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
ECOHEALTH FLU BURUNG

Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia, berada di garis depan melawan


penyakit yang mematikan yaitu avian influenza atau AI. Penyakit yang lebih dikenal
sebagai flu burung ini disebabkan oleh virus H5Ni yang seecara umum lebih banyak
ditemukan pada unggas. Sejak tahun 2003, penyakit ini telah menyebar dari burungburung di Asia ke Timur Tengah, Eropa dan Afrika. Dalam kasus-kasus yang tertentu,
manusia juga dapat terkena penyakit ini, umumnya karena berhubungan dengan
unggas-unggas yang sakit. Sampai saat ini, lebih dari kasus AI pada manusia sudah
tercatat di seuruh dunia dan dari 200 diantaranya meninggal dunia.
Kematian - kematian yang tragis tersebut hanyalah ujung dari gunung es. Saat ini
H5N1 tidak menular dengan mudah dari unggas ke manusia, atau dari manusia ke
manusia. Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa H5N1 memiliki potensi untuk
menjadi penyebab pandemi influenza di dunia. Jika terjadi pandemi, jumlah orang
yang terkena dan kematian akan sangat banyak, diikuti dengan dampak-dampak
ekonomi dan sosial. (http://www.unicef.org/indonesia/id)

6 Pilar prinsip Ecohealth pada pendekatan kasus Flu Burung :


1. Systems Thinking (berpikir sistemik)
Menunjukkan pola dan hubungan antara system sosioekonomi dan ekosistem.
Sistem berpikir merupakan cara sistem dapat dipahami dalam konteks hubungan
mereka satu sama lain dan dengan sistem lainnya, bukan dalam isolasi. Sistem
berpikir berfokus pada cycles daripada linier sebab dan akibat. Berpikir sistem
menunjukkan bahwa cara untuk memahami sistem adalah untuk memeriksa
keterkaitan dan interaksi antara unsur-unsur yang membentuk sistem.
(Unahalekhaka, A., Pichpol, D., Meeyam, T., Chotinun, S., Robert, G. L., & Robert, C. S.,
2013)

Berpikir sistemik pada kasus flu burung yaitu bagaimana perubahan ekosistem
bumi mempengaruhi kesehatan manusia dan memiliki banyak prospek (Jejaring, U.
M. Kerja, Tahun 2014). Perubahan lingkungan biologis, fisik, sosial dan ekonomi

serta pengaruhnya terhadap kesehatan manusia. Penyakit ini sebagai akibat

perubahan ekosistem yang dilakukan oleh manusia.

Segi Sosioekonomi, umumnya usaha itik di Indonesia merupakan usaha skala


kecil dengan kendala keterbatasan modal, lahan, manajemen,dan memiliki risiko
bisnis (Ilham ., 2014). Menurut Yusdja et al. (2005) hanya sebagian kecil usaha
peternakan itik yang berskala menengah ke atas. Usaha itik merupakan usaha
skala kecil dengan kendala keterbatasan modal, lahan, manajemen, dan memiliki
risiko bisnis. Namun pada sisi lain usaha peternakan skala kecil, seperti usaha
itik, menjanjikan lapangan kerja dan mampu menekan terjadinya urbanisasi
(Basuno 2008). Usaha dengan modal terbatas menyebabkan pengusaha tidak
menambah biaya produksi untuk vaksin A1 sehingga virus ini berkembang
menyerang unggas maupun berdampak pada manusia terjadi wabah bahkan
kematian dan kerugian ekonomi.

Ekosistem mengalami perubahan. Bahri, S., & Syafriati, T. menyatakan pada keadaan

curah hujan atau musim hujan yang berkepanjangan akan meningkatkan


kelembaban termasuk di lokasi peternakan unggas terutama ayam kampung
maupun itik yang dipelihara masyarakat secara tradisional sehingga keadaan
lingkungan di sekitar kandang unggas tersebut menjadi lembab dan virus AI
H5N1 yang masih terdapat di Indonesia akan bertahan hidup lebih lama,
sementara itu kondisi ayam tersebut menjadi lemah. Keadaan demikian akan
memicu munculnya wabah penyakit flu burung. Migrasi burung/unggas pada
keadaan pemanasan global dan perubahan iklim global juga akan terus terjadi,
dan migrasi burung/unggas liar dari China dan negara Asia bagian Barat dan
Utara masih belum bebas AI akan memicu munculnya penyakit AI strain baru
(hasil mutasi dari virus H5N1 yang ada). Oleh karena itu, hal demikian perlu
diantisipasi dengan mengembangkan vaksin AI yang sesuai dan biosekuriti yang
ketat.

2. Transdisciplinary Research (Riset / Penelitian Lintas Disiplin).


Mengintegrasikan metodologi, teori, dan konsep dari berbagai disiplin ilmu
dengan perpektif non-akademis. Indonesia merupakan bagian dari Internasional
yang wajib menyusun strategi nasional dalam menghadapi Flu Burung. Rencana
strategis nasional RI disusun secara terpadu, baik penanganan kesehatan hewan
maupun manusia. Hal ini perlu dilakukan secara terpadu karena dampak flu
burung dapat menyerang hewan, pekerja, keadaan ekonomi sehubungan dengan
usaha peternakan unggas yang sangat banyak di Indonesi dan dampak terhadap
ketersediaan

pangan.

Perlu

mengutamakan

keselamatan

manusia,

mempertimbangkan faktor ekonomi, dan menekankan upaya terintegrasi seluruh


komponen bangsa: pemerintah, dunia usaha, masyarakat, organisasi profesi, dan
lembaga internasional. Berikut ini gambar keterkaitan antar strategi pengendalian
flu burung.

Gambar 1. Keterkaitan antar strategi pengendalian flu burung


Sumber : RI. Rencana Strategi Nasional Pengendalian Flu Burung dan
Kesiapsiagaan menghadapi Pandemi Influenza 2006-2008.

Contoh penerapan transdisiplin ilmu pengetahuan dalam mengontrol dan


mencegah penularan Flu burung perlu dilakukan :
a. Jaga jarak dan jangan melakukan kontak langsung dimana unggas sedang terjangkit
b.

wabah flu burung


Jangan menyentuh kotoran unggas disekitar kita kalau perlu segerakan pembersihan

c.

kotoran tersebut
Pembersihan secara berkala kandang hewan peliharaan unggas dan penyemprotan

d.

desinfektan
Hindari berdekatan dengan orang yang terinfeksi virus, dan gunakan masker setiap kali

e.
f.

harus berdekatan
Jika merasakan gejala flu burung segerakan ke rumah sakit untuk pemeriksaan
Menjaga sanitasi atau kebersihan lingkungan, biasakan rajin mencuci tangan dengan

g.

sabun, dan mulailah gaya hidup sehat untuk meningkatkan daya tahan tubuh
Lakukan vaksinasi virus flu manusia untuk mengurangi terjadinya gabungan virus flu
burung manusia dan flu burung dalam satu orang.

3. Participatory
Perang melawan flu burung memerlukan orang-orang yang berbeda untuk
bekerjasama: para peternak / masyarakat, paramedik veteriner, dokter hewan
kabupaten dokter hewan provinsi, laboratorium dan dokter.
a.

Peternak / masyarakat
a) Peternak ayam sebagai kelompok yang paling dekat dengan ternak ayam
dituntut untuk bersikap positif terhadap penyakit flu burung.
b) Komunikasikan kepada keluarga, tetangga, dan warga sekitar mengenai
dampak flu burung serta pencegahannya Beri pengertian pada warga
untuk mempraktekkan kebersihan diri dan lingkungan untuk selalu
tanggap dan waspada.
c) Lapor pada aparat desa jika ada kasus flu burung dan bantu keluarga dan
rekan kita bila tertular dengan membawa ke puskesmas dan rumah sakit

b.

Selalu hidup bersih dan makan bergizi


Paramedik veteriner
Paramedik veteriner merupakan orang penting di dalam jaringan kemitraan
ini, jadi dia harus mempunyai hubungan sosial yang baik dengan para
peternak, harus bereaksi dengan cepat dan harus memberikan informasi
kepada dokter hewan kabupaten atau provinsi dan pemuka desa atau
kampung.

c.

Dokter hewan kabupaten dokter hewan provinsi


Jika dipastikan penyakit tersebut adalah Flu Burung, Dokter Hewan
kabupaten dan Paramedik Veteriner harus memastikan bahwa tindakan
pengendalian dipertahankan/diperluas sesuai dengan keputusan Dinas
Peternakan Kabupaten (disarankan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan

Dinas Peternakan Provinsi).

d.

Laboratorium
Pada dasarnya pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menilai kondisi
kesehatan pasien, sekaligus mendeteksi bakteri / virus yang menyerang
pasien tersebut. Pemeriksaan untuk menilai kondisi kesehatan pasien antara
lain dengan menilai kadar leukosit, fungsi hati, fungsi ginjal, serta analisis

e.

gas darah arteri.


Dokter
Upaya menemukan virus flu burung, dokter akan melakukan pemeriksaan
serologi untuk menilai respons antigen antibodi dan / atau mengisolasi
virusnya. Pada kasus flu burung juga dapat dijumpai peningkatan titer
netralisasi antibodi dan dapat pula dilakukan analisis antigenik dan genetik,
antara lain untuk mengetahui apakah sudah ada mutasi dari virus flu burung..

4. Gender and Social Equity


a.

Gender and Social equity dalam pencegahan Kasus Flu Burung


Dalam pencegahan kasus Flu Burung, berdasarkan penelitian yang
dilakukan di Desa Gondangmanis, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten
Karanganyar terhadap responden yang memiliki tingkat pendidikan yang
bervariasi mulai dari tidak sekolah sampai tingkat perguruan tinggi, dilihat
dari faktor sosial terdapat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat
kesiapsiagaan masyarakat. Pemberian pendidikan kesehatan tentang flu
burung dengan metode penyuluhan efektif dapat meningkatkan tingkat
kesiapsiagaan responden dalam menyikapi terjadinya penyakit flu burung
sewaktu-waktu. (Ningtyas, 2014)

b.

Gender and Social equity dalam penularan dan penyebaan Kasus Flu Burung
Dalam penularan dan penyebaran kasus Flu Burung apabila dilihat dari faktor
sosial yang mempengaruhi adalah tingkat pendidikan dan pengetahuan
masyarakat karena kurang adanya sarana informasi dan pendidikan yang
cukup sehingga penyebaran kasus ini cukup tinggi pada masyarakat yang

kurang mampu, dimana jika dihubungkan tingkat pendidikan dengan status


infeksi, usaha unggas terinfeksi wabah flu burung jauh lebih banyak terjadi
pada peternak yang buta huruf. (Ilham & Yusdja, 2010)
Selain itu dari faktor sosial ekonomi, dengan banyak bermunculan
peternakan kecil (skala rumah tangga) yang tersebar luas, hal ini juga
meningkatkan jumlah peternak dan sebaran

daerah peternakan yang

menyebabkan proses penularan dan penyebaran semakin meningkat, dimana


tujuan dari peternakan ini untuk meningkatkan kemampuan ekonomi bahkan
menjadi sumber ekonomi utama dalam keluarga. (Basuno & Yusdja, 2009)
Terkait gender, berdasarkan karakteristik epidemiologi kasus-kasus Flu
Burung di Indonesia dalam rentang waktu Juli 2005 Oktober 2006,
perbedaan jumlah kasus laki-laki dan perempuan tidak besar (4 berbanding
3), namun angka kematian perempuan jauh lebih tinggi. Perbedaan ini
secara statistik tidak bermakna, namun sudah menunjukkan adanya
kecenderungan. Penyebab perbedaan ini belum diketahui secara pasti.
Dugaan bahwa kasus perempuan lebih berat daripada kasus laki-laki ketika
dibawa ke rumah sakit berlawanan dengan kenyataan bahwa kasus
perempuan lebih cepat dibawa ke rumah sakit daripada laki-laki, perbedaan
ini tidak bermakna secara statistic. Masih perlu dilakukan observasi klinis
yang lebih ketat serta penelitian lain untuk memastikan penyebab perbedaan
proporsi kematian ini. (Sedyaningsih et al., 2006)

c.

Gender and Social equity dalam penanganan Kasus Flu Burung


Dalam penanganan kasus Flu Burung, terkait keadilan sosial maka
Pemerintah dalam melakukan penanganan dan pengendalian kasus tidak
melakukan pemusnahan massal terhadap unggas karena dapat menyebabkan
hancurnya industry perunggasan (baik skala besar maupun kecil)

dan

dampaknya sangat mungkin mengganggu perekonomian nasional, ketahanan


pangan dan keseimbangan ekologis. Apabila pemusnahan massal diputuskan,
maka lebih dari 100 juta ekor unggas di daerah tertular harus dimusnahkkan

untuk mengatasi wabah. Pemerintah selanjutnya menetapkan kebijakan


pemberian vaksinasi setelah melalui pertimbangan yang sangat matangdan
komprehensif dengan menilai situasi sebenarnya di dalam negeri menyangkut
skala penyebaran, intensitas penyakit, dampak ekonomi dan lingkungan,
serta kemampuan keuangan Negara. (Naipospos, 2006)

5. Sustainability
Sustainability adalah Integrasi keberlanjutan/kelestarian sosial dan ekologis yang
mendukung bidang ecohealth. Pengendalian berkelanjutan untuk wabah flu
burung yang dilaksanakan antara lain :
a.

Control terhadap Unggas


a) Pemusnahan pada unggas/burung yang terinfeksi H5N1
b) Faksinasi pada unggas yang sehat
c) Melakukan pengawasan secara ketat terhadap lalu lintas atau masuknya

unggas ke daerah yang bebas flu burung.


b. Control terhadap orang yang terinfeksi
a) Pengobatan penderita
b) Peningkatan survelaince terhadap kajadian kasus baru
c) Pemantauan terhadap penderita yang telah diobati (kemungkinan timbul
c.

gejala kembali).
Control terhadap petugas kesehatan
a) Penggunaan alat pelindung diri (masker dan handscone) bagi petugas
kesehatan yang kontak langsung dengan penderita/orang yang terinfeksi.
b) Awasi kesehatan dari petugas kesehatan yang kontak langsung dengan

penderita/orang yang terinfeksi flu burung.


d. Control terhadap lingkungan
a) Perbaikan sumber air masyarakat
b) Menjaga kebersihan kandang ternak unggas/burung
e. Pendidikan kesehatan
Informasi tentang flu burung meliputi penyebab, cara penularan dan
pencegahan dan penanggulangannya.

6. Knowledge to Action (Berorientasi Tindakan)


Pendekatan berorientasi-tindakan pada penelitian untuk meningkatkan kesehatan

dan kesejahteraan, serta mempromosikan kesetaraan dan kelestarian. Melalui


upaya mempromosikan atau menginformasikan kepada masyarakat hasil-hasil
penelitian dalam pencegahan serta pengendalian penyakit flu burung untuk
dilakukan rekomendasinya oleh masyarakat, lembaga terkait dan pemerintah.
Telah diketahui bahwa Flu Burung berkembang dari unggas yang terinfeksi dan
menularkannya pada manusia. Virus berkembang di tempat lembab, dan
mengakibatkan kematian baik kepada hewan maupun manusia. Karena itu perlu
dilakukan upaya pencegahan flu burung sebagai berikut:
a. Pada Unggas:
a) Pemusnahan unggas/burung yang terinfeksi flu burung
b) Vaksinasi pada unggas yang sehat
b. Pada Manusia :
a) Kelompok berisiko tinggi (pekerja peternakan dan pedagang)
Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja.
Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinfeksi
flu burung.enggunakan alat pelindung diri (contoh masker dan
pakaian kerja).
Meninggalkan pakaian kerja ditempat kerja.
Membersihkan kotoran unggas setiap hari.
Imunisasi.
b) Masyarakat umum
Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi &
istirahat cukup.
Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu : Pilih unggas yang
sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya) dan
Memasak daging ayam sampai dengan suhu 800 C selama 1 menit
dan pada telur sampai dengan suhu 640C selama 4,5 menit.
Strategi pengendalian flu burung berdasarkan SK Dirjen No. 17 tahun 2004
yang diturunkan dalam bentuk program pengendalian berupa sembilan langkah
strategi pengendalian dengan cara: 1) peningkatan biosekuriti, 2) vaksinasi daerah
tertular dan tersangka, 3) depopulasi terbatas dan kompensasi, 4) pengendalian
lalu-lintas unggas dan produknya, 5) surveilans dan penelusuran kembali, 6)
pengisian kandang kembali, 7) stamping out di daerah tertular baru, 8) public
awareness, dan 9) monitoring dan evaluasi. (Putra & Haryadi, 2011).

Upaya Pencegahan dan Pengendalian flu burung menurut yang dikeluarkan


secara Nasiona dalam Renstra Nasional Pengendalian Flu Burung (Avian
Influenza) dan kesiapsiagaan menghadapi pandemi influenza 2006-2008, sebagai
berikut:
a. Perlindungan terhadap kelompok risiko tinggi.
b. Peningkatan biosekuriti pada daerah yang berisiko tinggi terjadi penularan
c.
d.

flu burung dan pandemi influenza.


Penguatan pengawasan lalu-lintas unggas dan produknya serta manusia.
Penyediaan obat antivirus dan vaksin flu burung dan pandemi influenza

e.

(strain subtipe baru)


Pengembangan kapasitas memproduksi obat antivirus dan vaksin flu burung

f.

dan pandemi influenza dalam negeri (virus influenza subtipe baru)


Penelitian kaji-tindak mengenai penatalaksanaan kasus flu burung pada
hewan dan pandemi influenza pada manusia.

Referensi :
Bahri, S., & Syafriati, T. (2014). Mewaspadai Munculnya Beberapa Penyakit Hewan Menular
Strategis di Indonesia Terkait dengan Pemanasan Global dan Perubahan Iklim (Anticipating
the Emerging of Some Strategical Infectious Animal Diseases in Indonesia Related to the
Effect of Global Warming. JITV,19(3).

Bappenas. (2005). Rencana Strategis Nasional Pengendalian Flu Burung (Avian


Influenza) Dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza 2006-2008.
http://www.bappenas.go.id/files/9013/6082/9890/renstra.pdf
Conrad, Patricia A., et al. (2009). Evolution of a transdisciplinary One MedicineOne Health
approach to global health education at the University of California, Davis. Preventive
veterinary medicine 92.4 (2009): 268-274.

Ilham, N., & Yusdja, Y. (2010). Dampak Flu Burung Terhadap Produksi Unggas dan
Kontribusi Usaha Unggas Terhadap Pendapatan Peternak Skala Kecil di
Indonesia.
Agro
Ekonomi,
28,
3968.
Retrieved
from
http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles/JAE 28-1c.pdf
Ilham, N. (2014). Penyebaran Flu Burung pada Ternak Itik dan Perkiraan Dampak Sosial
Ekonomi: Belajar dari Kasus Flu Burung pada Ayam. JITV,19(3).
Jejaring, U. M. Kerja. http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles/semrut_30042014.pdf

Komnas FBPI. (2009). Pedoman Umum Pengendalian Penyakit Avian Influenza (Flu

10

Burung
dan
Program
Penangananannya.
https://www.k4health.org/sites/default/files/General%20Guidelines%20for%20AI
%20Management%20KOMNAS%20%28Ch%201-5%29_sm.pdf
Naipospos, T. S. P. (2006). Perangi Flu Burung dengan Vaksinasi Unggas.
Ningtyas, A. N. (2014). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Penyakit Flu
Burung Terhadap Tingkat Kesiapsiagaan Masyarakat Di Desa Gondangmanis
Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar. Retrieved from
http://eprints.ums.ac.id/31113/24/NASKAH_PUBLIKASI.pdf
Leng, Adrian C. Sleigh Chee Heng, Brenda SA Yeoh Phua Kai Hong, and Rachel Safman.(2006).
Transdisciplinary approaches to population dynamics and infectious diseases in Asia.

o, E., & Yusdja, Y. (2009). Dampak Wabah Flu Burung Terhadap Perubahan Modal
Sosial Masyarakat Peternak dan Pedesaan di Indonesia, 126. Retrieved from
http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles/Semnas_250209_5.pdf
Parkes, Margot W., et al. (2005). All hands on deck: transdisciplinary approaches to emerging
infectious disease. EcoHealth 2.4 (2005): 258-272.
Photiou, Efstratios. (2010) The Viewpoint of ED Personnel about Avian Flu: Do Emergency
Department Healthcare Professionals Feel Ready to Face Epidemics/Pandemics?. Pandemics
and Bioterrorism: Transdisciplinary Information Sharing for Decision-Making Against
Biological Threats 62 (2010): 99.

Putra, R. A. R. S., & Haryadi, F. T. (2011). Efektivitas kebijakan strategi pengendalian


wabah flu burung di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Buletin
Peternakan, 35(3), 197201.
RI. (2005). Rencana Strategi Rencana Strategi Nasional Pengendalian Flu Burung dan

Kesiapsiagaan menghadapi Pandemi Influenza 2006-2008.


Sedyaningsih, E. R., Setyawati, V., Rifati, L., Harun, S., Heriyanto, B., AP, K. N.,
Tresnaningsih, E. (2006). Karakteristik Epidemiologi Kasus-kasus Flu Burung Di
Indonesia Juli 2005 - Oktober 2006. Buletin Penelitian Kesehatan, 34, 137146.
Retrieved
from
http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/BPK/article/viewFile/1201/292
Silkavute, Pornpit, Dinh Xuan Tung, and Pongpisut Jongudomsuk. (2013). Sustaining a regional
emerging infectious disease research network: a trust-based approach. Emerging health
threats journal 6.
Unahalekhaka, A., Pichpol, D., Meeyam, T., Chotinun, S., Robert, G. L., & Robert, C. S. (2013).

11

EcoHealth manual.

WHO. (2008). Rekomendasi pencegahan dan pengendalian infeksi flu burung di


fasilitas
pelayanan
kesehatan.
http://apps.who.int/csr/disease/avian_influenza/guidelines/AIDE
%20MEMOIREAvianFlu_bahasa.pdf

DAFTAR ISI YANG BELUM FIX :


Kristina., Isminah., Wulandari, Leny. (2008). Flu Burung Epidemiologi, Pencegahan, Pengobatan,
Kebijakan,
Pemerintah,
Kesimpulan
yang
dimuat
di

http://www.litbang.depkes.go.id/mask...fluburung1.htmhttp://www.litbang.depkes.go.i
d/mask...fluburung1.htm
https://www.k4health.org/sites/default/files/General%20Guidelines%20for%20AI
%20Management%20KOMNAS%20%28Ch%201-5%29_sm.pdf

http://www.slideshare.net/septianraha/129570809programpemerintahtentangfluburung

https://redboxmedicalplus.wordpress.com/2013/10/31/enam-prinsip-ecohealth/

12

13

Anda mungkin juga menyukai