Anda di halaman 1dari 4

Korosi Basah dan Korosi Atmosferik

Haris Dwi Happy Putra


Teknik Fisika ITS, 2413100001
Surabaya, Indonesia
harisdwihp@gmail.com

AbstrakSecara umum korosi itu di sebut berkarat. Logam


yang paling cepat berkarat yaitu besi. Secara teori, korosi
adalah degradasi (perusakan atau penurunan kualitas) material
akibat interaksi dengan lingkungan. Untuk logam, reaksinya
disebut reaksi elektrokimia sedangkan untuk non logam disebut
degradasi atau pelapukan. Pada percobaan kali ini menentukan
laju korosi secara kondisi lingkungan basah dan atmosferik
(kering). Berdasarkan dari percobaan didapatkan laju korosi
paling besar yaitu pada korosi basah HCL 3M sebesar
0.000020161 (cm/jam). Hasil tersebut menunjukan bahwa korosi
dapat terjadi secara kondisi basah dan atmosferik. Lingkungan
dapat mempengaruhi korosi.

Gambar 1. Bentuk Korosi

Kata Kunci : Korosi, Basah, Atmosferik.

I.

PENDAHULUAN

Di lingkungan ITS misalnya besi-besi pagar kampus, besi


pagar parkiran, besi kursi dan meja, serta besi-besi lainnya
telah berwarna kecoklatan dan keropos ketika di pegang. Hal
ini menandakan bahwa besi-besi tersebut telah terjadi korosi.
Korosi sendiri definisinya yaitu degradasi (perusakan atau
penurunan kualitas) material akibat interaksi dengan
lingkungan. Korosi ini kalau dibiarkan tanpa adanya
perawatan, maka pagar kampus tersebut bisa rusak, kursi dan
meja akan hancur. Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa
harus tahu dalam menangani akan kejadian korosi tersebut.
Sehingga, diadakanlah praktikum Rekayasa Bahan ini tentang
korosi basah dan korosi atmosferik yang memiliki tujuan
untuk mengetahui jenis-jenis korosi tersebut, pengaruh
lingkungan pada logam, dan laju korosi.
II.

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Korosi
Korosi adalah degradasi (perusakan atau penurunan
kualitas) material akibat interaksi dengan lingkungan. Untuk
logam, reaksinya disebut reaksi elektrokimia sedangkan untuk
non logam disebut degradasi atau pelapukan. Secara umum,
kata korosi identik dengan karat. Jenis-jenis korosi antara lain:
a.
Korosi basah: korosi dalam lingkungan air.
b.
Korosi atmosferik: korosi dalam lingkungan campuran
udara + uap.
c.
Korosi kering: korosi tanpa adanya fasa cair (proses
oksidasi).
d.
Korosi temperatur tinggi: korosi pada temperatur di atas
+ 500C : oksidasi, sulfidasi, karburasi, nitridasi, dll.

B. Mekanisme Korosi
Korosi terjadi jika terjadi reaksi elektrokimia, yakni jika
ada:

anoda dan katoda

elektrolit

konduktor listrik
Proses elektrokimia yang terjadi pada korosi merupakan
reaksi oksidasi dan reduksi.
Reaksi oksidasi :

M M n ne
Reaksi reduksi :

2H 2e H 2
O2 4H 4e H 2 O
O2 2H 2 O 4e 4OH
M n ne M
Yang terjadi di bawah titik air:
Awal :

Fe Fe2 2e
O2 2H 2 O 4e 4OH

Berikutnya :

Fe2 2H 2 O Fe(OH ) 2 2H

Gambar 2. Korosi

C. Penentuan Laju Korosi


Dalam menentukan laju korosi yang umum menggunakan
metoda pengukuran perubahan massa. Dimana pada keadaan
awal spesimen uji dianggap tidak mengalami korosi sama
sekali.
Sehingga perumusan laju korosi dapat dilakukan dengan
menggunakan persamaan :

corrosion .rate

K .W
D. A.t

(1)

Dengan konstanta (K) sebesar 3,45x106 untuk mils per


year (mpy) dan 8,76x104 untuk milimeter per year (mm/y)
dengan W dalam gram, D (density) dalam g/cm3, A dalam
cm2, t dalam jam. Corrosion rate bersatuan mm/year. Atau
bisa memakai K = 1 cm/hari dengan W dalam gram, D dalam
g/cm3 , A dalam cm2, dan t dalam jam. Corrosion rate
bersatuan cm/hour.
III.

METODOLOGI

Pertama Peralatan dan bahan disiapkan berupa,kemudia


Larutan NaOH dibuat dengan molaritas sebesar 0,5 M, 1 M dan
3 M masing- masing di dalam sebuah gelas plastic,lalu larutan
HCl dibuat dengan molaritas sebesar 0,5 M, 1 M dan 3 M mas
ing- masing di dalam sebuah gelas plastik ,setelah itu larutan
NaCl dibuat dengan molaritas sebesar 0,5 M, 1 M dan 3 M
masing- masing di dalam sebuah gelas plastic,kemudian Gelas
berisi aquades disiapkan kesepuluh gelas tersebut
ditandai,kemudian 20 buah paku di bersihkan dengan amplas
hingga bersih mengkilat,setelah itu masing- masing paku
ditimbang kemudian dicatat beratnya,lalu paku dicelupkan
hingga basah masing- masing satu buah ke dalam masingmasinglarutan.kemudian paku-paku yang telah dicelup tersebut
diletakan di atas wadah plastic kemudian dicatatwaktu (jam)
pada saat diletakkan setelah itu masing- masing 1 paku di
Masukkan ke dalam tiap larutan dan catat waktu (jam) padasaat
paku dimasukkan.semua paku di Biarkan selama 3 hari Setelah
3 hari, dicatat keadaan masing- masing paku Masing- masing
paku di bersihkan kembali dengan amplas, dicatat waktu (jam)
saat paku dibersihkan. Kemudian Masing- masing paku
ditimbang lalu dicatat beratnya laju korosi di hitung pada
masing- masing pakukurva di Buat dari hasil laju reaksi yang
diperoleh.
IV.

1
3

3.8
3.9

0.27
0.28

1.05
1.06

1.06
1.08

-0.01
-0.02

3.34
3.55

0.5

3.9

0.27

1.06

0.8

0.26

3.42

1
3

3.8
3.8

0.26
0.25

1.06
1

0.39
0.03

0.67
0.97

3.21
3.08

0.5

3.8

0.26

1.04

-0.04

3.21

1
3

3.9
3.8

0.27
0.24

1.04
1.03

1.07
1.02

-0.03
0.01

3.42
2.95

3.8

0.28

1.03

1.04

-0.01

3.46

HCl

NaCl

Aqua
-des

Tabel 2. Data Korosi Atmosferik


Larut
-an

p
cm

d
cm

Mo
gr

Mi
gr

W
gr

A
(cm2)

0.5

3.7

0.29

1.08

1.05

0.03

3.50

1
3

3.8
3.9

0.29
0.28

1.11
1.09

1.02
1.05

0.09
0.04

3.59
3.55

0.5

3.8

0.25

1.08

1.04

0.04

3.08

1
3

3.8
3.8

0.26
0.26

1.05
1.06

1.03
1.03

0.02
0.03

3.21
3.21

0.5

3.7

0.26

1.03

1.09

-0.06

3.13

1
3

3.7
3.8

0.27
0.28

1.06
1.07

1.08
1.06

-0.02
0.01

3.25
3.46

3.7

0.29

1.09

1.04

0.05

3.50

NaOH

HCl

NaCl

Aqua
-des

Percobaan dimulai dari hari Kamis pukul 08.30 WIB


sampai hari Minggu pukul 19.00 WIB sehingga total
waktunya yaitu 82.5 jam. Berikut ini gambar dari korosi
atmosferik.

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Data
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapatkan
data korosi atmosferik dan korosi basah sebagai berikut.
Tabel 1. Data Korosi Basah
Larut
-an

p
cm

d
cm

Mo
gr

Mi
gr

W
gr

A
(cm2)

NaOH

0.5

3.9

0.26

1.05

1.06

-0.01

3.29

Gambar 3. Korosi Atmosferik

Tabel 3. Laju Korosi Basah dan Atmosferik


Laju Korosi
Larutan
Molar
Basah
Atmosferik
(cm/jam)
(cm/jam)
0.5
-0.000000195
0.000000549
NaOH
1
-0.000000192
0.000001605
3
-0.000000361
0.000000721
0.5
0.000004867
0.000000831
HCl
1
0.000013362
0.000000399
3
0.000020161
0.000000598
0.5
-0.000000798
-0.000001227
NaCl
1
-0.000000562
-0.000000394
3
0.000000217
0.000000185
Aquades
-0.000000185
0.000000915
Dari data Tabel 3. maka dapat dibuat grafik laju korosi
setiap larutan seperti di bawah ini.

Laju Korosi (NaOH)

0.000002000
0.000001500

Korosi Basah

0.000001000
0.000000500

Korosi
Atmosferik

0.000000000
-0.000000500 0.5 1 3
M M M

0.000000500
Laju Korosi (NaCl)

Dengan menggunakan data-data tersebut, maka laju korosi


dapat dihitung sebagaimana persamaan (1) dengan konstanta
laju korosi (K) sebesar 0.04167 cm/jam maka akan didapat
data seperti berikut ini.

0.000000000
0.5 1 3
-0.000000500 M M M
-0.000001000

Korosi Basah
Korosi
Atmosferik

-0.000001500

Gambar 6. Grafik Laju Korosi NaCl


B. Pembahasan
Percobaan ini membahas tentang laju korosi dari sepuluh
paku dengan berbeda keadaan yaitu menggunakan Larutan
NaOH, HCl, NaCl dan Aquades. Dengan di diamkan kurang
lebih 82.5 jam didapatkan laju korosi basah dan atmosferiknya
(kering). Laju korosi basah dan atmosferik dari NaOH, HCl,
NaCl, dan Aquades dapat dilihat pada Tabel 4.3. Di tabel
tesebut terdapat laju korosi yang bernilai negatif hal itu
disebabkan dimana massa akhir lebih besar daripada massa
awal, seharusnya jika terjadi korosi massa akhir akan selalu
lebih kecil daripada massa awal. Hal ini terjadi di akibatkan
terjadinya error pada timbangan dan kurang ketelitian
praktikan dalam mengambil data. Dan laju korosi pada NaCl,
semakin besar molaritas larutan semakin besar pula laju
korosinya. Akan tetapi pada HCl korosi atmosferik laju
korosinya stabil seiring semakin besarnya molaritas
larutannya. Dan laju korosi paling besar yaitu pada korosi
basah HCl 3M sebesar 0.000020161(cm/jam). Ini
membuktikan bahwa larutan asam lebih cepat daripada larutan
basa NaOH, sehingga pH berpengaruh terhadap laju reaksi
korosi.
V. KESIMPULAN DAN SARAN

Gambar 4. Grafik Laju Korosi NaOH

Laju Korosi (HCl)

0.000025000
0.000020000
0.000015000

Korosi Basah

0.000010000
0.000005000

Korosi
Atmosferik

0.000000000
0.5 1 M3 M
M

Gambar 5. Grafik Laju Korosi HCl

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum P1
Rekayasa Bahan antara lain :
a. Korosi terbagi menjadi korosi atmosferik dan korosi
basah.
b. Beberapa kondisi di lingkungan dapat menyebabkan
sebuah suatu bahan logam dapat terkorosi, misalnya pH
lingkungan.
c. Laju korosi dipengaruhi oleh pH dimana larutan asam
lebih cepat daripada larutan basa.
B. Saran
Adapun saran untuk praktikum ini antara lain :
a. Peralatan untuk praktikum seharusnya sudah disiapkan
dan tidak ada kerusakan untuk menimalisir error yang
terjadi.
b. Waktu untuk korosinya sebaiknya diperlama menjadi
seminggu supaya terlihat perbedaan beratnya.

REFERENSI
[1] Lab Bahan, Ed., Modul Rekayasa Bahan. Surabaya, Indonesia:
Dyah Sawitri, Doty Dewi Risanti, Lizda Johar Mawarani, 2015.

LAMPIRAN
Mekanisme NaOH dalam korosi yaitu bahwa NaOH
merupakan larutan elektrolit sehingga dalam terjadinya korosi
akan sangat cepat di bandingkan dengan larutan. Dan pada
larutan HCl merupakan larutan asam sehingga pH nya tinggi,
dimana pH sangat berpengaruh terhadap korosi logam. Pada
larutan NaOH merupakan larutan yang bersifat basa dan untuk
mempengaruh korosinya termasuk lambat dan pelan.
Sedangkan pada Aquades H2O pH nya netral dimana laju
korosinya sangat lambat. Dan untuk mencegah korosi ini
sebaiknya logam di lapisi dengan cat anti korosi, dan selalu di
perbarui jika catnya luntur.