Anda di halaman 1dari 39

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayahnya. Sehingga saya selaku penulis dapat menyelesaikan tugas
pendidikan kewarganeraan yaitu Makalah tentang demokrasi dan pemilu di
Indonesia dengan baik.
Makalah ini disusun menggunakan bahasa yang efektif dan mudah
dimengerti serta dipahami. Sehingga diharapkan makalah ini dapat bermanfaat
bagi pembaca.
Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu
tersusunnya makalah ini. Semoga awal baik yang diberikan mendapat balasan dari
Tuhan yang Maha Esa. Sebagai penulis, saya menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran selalu kami harapkan
agar makalah ini dapat lebih bermutu dan bermanfaat. Untuk itu kami
mengucapkan terima kasih.

Surabaya, 29 September 2015

Penulis

41

DAFTAR ISI

Kata pengantar.........................................................................................................2
Daftar isi...................................................................................................................3
BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................4
1.1 latar belakang............................................................................................4
1.2 batasan masalah........................................................................................5
1.3 rumusan masalah......................................................................................5
1.4 tujuan dan manfaat...................................................................................5
1.5 hasil yang diharapkan...............................................................................6
BAB 2 PEMBAHASAN.........................................................................................7
2.1 demokrasi..................................................................................................7
2.2 demokrasi di Indonesia...........................................................................13
2.3 pemilu.....................................................................................................18
2.4 pemilu di Indonesia.................................................................................26
BAB 3 PENUTUP..................................................................................................34
3.1 kesimpulan..............................................................................................34
3.2 saran........................................................................................................37
Daftar pustaka........................................................................................................40

41

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Faham

yang

dianut

oleh

suatu

Negara

sangat

memengaruhi

kesinambungan pembangunan Negara tersebut. Menurut pendapat penyusun


secara tersirat, faham merupakan kartu mati Negara selain Ideologi, dimana ia
akan membawa kemakmuran bila dilaksanakan secara baik dan benar, dan
membawa malapetaka bila dalam pelaksanaannya ternoda tindakan tak bermoral.
Walaupun faham suatu Negara dapat dirubah seiring gejolak di lingkungan elit
politik, namun hal itu akan menjadi masalah besar karena sebuah faham dianut
atas asas, tujuan, serta maknanya yang sesuai dengan pemikiran/ideologi bangsa.
Lalu apa faham yang dianut oleh Negara yang besar ini? Ya, Indonesia
menganut Faham Demokrasi, dimana faham ini telah digunakan sejak ratusan
tahun sebelum masehi. Sistem demokrasi dalam setiap Negara tentu berbeda
mengingat setiap Negara memiliki kebudayaan dan kepribadian serta ideologi
yang tidak sama. Dalam pengimplementasian demokrasi di Indonesia, diadakan
Pemilihan Umum (Pemilu) untuk memilih wakil rakyat, Kepala Daerah, dan
Presiden. Keberhasilan Pemilu dapat diartikan keberhasilan pelaksanaan sistem
demokrasi yang dianut. Akan tetapi keberhasilan tersebut bergantung pada rakyat.
Apabila rakyat faham akan pentingnya demokrasi, maka rakyat akan
menggunakan hak pilihnya dengan sebaik-baiknya tanpa terpengaruh dengan

41

noda-noda politik didalamnya. Oleh karena itu, makalah ini akan menjelaskan apa
yang dimaksud Demokrasi dan Pemilu di Indonesia.

1.2 BATASAN MASALAH


Peneliti membatasi masalah agar pembahasan makalah yang telah di buat
tidak terlalu meluas dan fokus pada judul. Dan masalah yang akan di bahas yaitu
tentang Demokrasi dan Pemilu di Indonesia.

1.3 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang, berikut beberapa rumusan masalah yang akan
kita bahas pada makalah ini :

Apakah demokrasi itu ?


Bagaimanakah demokrasi di Indonesia?
Apakah pemilu itu?
Bagaimanakah pemilu di Indonesia?

1.4 TUJUAN dan MANFAAT

Mengetahui apa itu demokrasi.


Mengetahui demokrasi di Indonesia.
Mengetahui apa itu pemilu.
Mengetahui Bagaimana pemilu di Indonesia.

1.5 HASIL yang DIHARAPKAN

41

Hasil yang diharapkan penulis pada pembaca melalui makalah ini yaitu
lebih memahami dan mengerti bagaimana itu demokrasi dan pemilu di Indonesia.
Dan di harapkan pula makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

BAB II
41

PEMBAHASAN

2.1 DEMOKRASI
A. PENGERTIAN DEMOKRASI
Secara etimologis istilah demokrasi berasal dari bahasa Yunani, demos
berarti rakyat dan kratos/kratein berarti kekuasaan. Konsep dasar demokrasi
berarti rakyat berkuasa (goverment of rule by the people). Demokrasi memiliki
arti penting bagi masyarakat yang menggunakannya, sebab dengan demokrasi hak
masyarakat untuk menentukan sendiri jalannya organisasi Negara dijamin. Jadi
Negara demokrasi adalah Negara yang diselenggarakan berdasarkan kehendak
dan kemauan rakyat, atau jika di tinjau dari sudut organisasi, ia berarti suatu
pengorganisasian Negara yang dilakukan oleh rakyat sendiri atas asas persetujuan
rakyat karena kedaulatan berada di tangan rakyat.
Menurut Henry B. Mayo bahwa sistem politik demokratis adalah sistem
yang menunjukkan bahwa kebijaksanaan umum ditentukan atas dasar mayoritas
oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihanpemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan
diselenggarakan dalam suasana terjaminnya kebebasan politik.
Penerapan demokrasi diberbagai Negara di dunia, memiliki ciri khas dan
spesifikasi masing-masing, yang lazimnya sangat dipengaruhi oleh ciri khas
masyarakat sebagai rakyat dalam suatu Negara. Sehingga dapat disimpulkan
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang semua warga Negaranya memiliki
hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka.

41

Demokrasi mengizinkan warga Negara berpartisipasibaik secara langsung atau


melalui

perwakilandalam

perumusan,

pengembangan,

dan

pembuatan

hukum. Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang


memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara.

B. SEJARAH DEMOKRASI
Di zaman kuno, Kata "demokrasi" pertama muncul pada mazhab politik
dan filsafat Yunani kuno di Negara-kota Athena. Dipimpin oleh Cleisthenes, warga
Athena mendirikan Negara yang umum dianggap sebagai Negara demokrasi
pertama pada tahun 508-507 SM. Cleisthenes disebut sebagai "bapak demokrasi
Athena." Dimana Demokrasi Athena berbentuk demokrasi langsung . Demokrasi
Athena tidak hanya bersifat langsung dalam artian keputusan dibuat oleh majelis,
tetapi juga sangat langsung dalam artian rakyat, melalui majelis, boule, dan
pengadilan, mengendalikan seluruh proses politik dan sebagian besar warga
Negara terus terlibat dalam urusan publik. Meski hak-hak individu tidak dijamin
oleh konstitusi Athena dalam arti modern (bangsa Yunani kuno tidak punya kata
untuk menyebut "hak"), penduduk Athena menikmati kebebasan tidak dengan
menentang pemerintah, tetapi dengan tinggal di sebuah kota yang tidak dikuasai
kekuatan lain dan menahan diri untuk tidak tunduk pada perintah orang
lain. Pemungutan suara kisaran pertama dilakukan di Sparta pada 700 SM. Apella
merupakan majelis rakyat yang diadakan sekali sebulan. Di Apella, penduduk
Sparta memilih pemimpin dan melakukan pemungutan suara dengan cara
pemungutan suara kisaran dan berteriak. Setiap warga Negara pria berusia 30
tahun boleh ikut serta. Aristoteles menyebut hal ini "kekanak-kanakan", berbeda

41

dengan pemakaian kotak suara batu layaknya warga Athena. Tetapi Sparta
memakai cara ini karena kesederhanaannya dan mencegah pemungutan bias,
pembelian suara, atau kecurangan yang mendominasi pemilihan-pemilihan
demokratis pertama. Kemudian selama Abad Pertengahan, muncul berbagai
sistem yang memiliki pemilihan umum atau pertemuan meski hanya melibatkan
sebagian kecil penduduk. Sistem-sistem tersebut misalnya pemilihan Gopala oleh
kasta atas di Bengal, Anak Benua India,, dan Althing di Islandia, serta Lgting
di Kepulauan Faeroe, dan lain-lain. Hingga di Era modern pada Abad ke-18 dan
19, muncul bangsa pertama dalam sejarah modern yang mengadopsi konstitusi
demokrasi yaitu Republik Korsika pada tahun 1755. Konstitusi Korsika
didasarkan pada prinsip-prinsip Pencerahan dan sudah mengizinkan hak suara
wanita, hak yang baru diberikan di Negara demokrasi lain pada abad ke-20.
Kemudian pada masa Transisi abad ke-20 ke demokrasi liberal muncul dalam
serangkaian "gelombang demokrasi" yang diakibatkan oleh perang, revolusi,
dekolonisasi, religious and economic circumstances. Perang Dunia I dan
pembubaran Kesultanan Utsmaniyah dan Austria-Hongaria berakhir dengan
terbentuknya beberapa Negara-bangsa baru di Eropa, kebanyakan di antaranya
tidak terlalu demokratis. Dan Pada tahun 2010 pun , Perserikatan Bangsa-Bangsa
menyatakan 15 September sebagai Hari Demokrasi Internasional.
Negara-Negara
oleh Democracy

berikut
Index

dikategorikan

sebagai

pada

tahun

Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia, Selandia

Baru

Australia, Swiss, Kanada, Finlandia, Belanda,


Irlandia, Austria, Jerman,

Malta, Republik

demokrasi

penuh
2011:
,

Luksemburg,
Ceko,

Uruguay, Britania
41

Raya, Amerika

Serikat, Kosta

Rika, Jepang,

Korea

Selatan, Belgia, Mauritius, Spanyol. Democracy Index memasukkan 53 Negara di


kategori

berikutnya,

demokrasi

Argentina, Benin, Botswana, Brasil,


Verde, Chili, Kolombia, Kroasia, Siprus, Republik

tidak

sempurna

Bulgaria, Tanjung
Dominika, El

Salvador, Estonia, Perancis, Ghana, Yunani, Guyana, Hongaria, Indonesia, India, I


srael, Italia, Jamaika, Latvia, Lesotho, Lituania, Makedonia, Malaysia, Mali, Mek
siko,Moldova, Mongolia, Montenegro, Namibia, Panama, PapuaNugini, Paraguay,
Peru, Filipina, Polandia, Portugal, Indonesia, Rumania, Serbia, Slowakia, Sloveni
a, Afrika Selatan, Sri Lanka, Suriname, Taiwan, Thailand, Timor-Leste, Trinidad
dan Tobago, Zambia.
C. BENTUK-BENTUK DEMOKRASI
Demokrasi langsung
Demokrasi langsung merupakan suatu bentuk demokrasi dimana setiap
rakyat memberikan suara atau pendapat dalam menentukan suatu keputusan.
Dalam sistem ini, setiap rakyat mewakili dirinya sendiri dalam memilih suatu
kebijakan sehingga mereka memiliki pengaruh langsung terhadap keadaan politik
yang terjadi.
Demokrasi perwakilan
Dalam demokrasi perwakilan, seluruh rakyat memilih perwakilan melalui
pemilihan umum untuk menyampaikan pendapat dan mengambil keputusan bagi
mereka.

D. PRINSIP-PRINSIP DEMOKRASI
41

Prinsip-prinsip demokrasi dan prasyarat dari berdirinya Negara demokrasi,


dapat ditinjau dari pendapat Almadudi yang kemudian dikenal dengan "soko guru
demokrasi" Menurutnya, prinsip-prinsip demokrasi adalah: Kedaulatan rakyat;
Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah; Kekuasaan
mayoritas; Hak-hak minoritas; Jaminan hak asasi manusia; Pemilihan yang bebas,
adil dan jujur; Persamaan di depan hukum; Proses hukum yang wajar; Pembatasan
pemerintah secara konstitusional; Pluralisme sosial, ekonomi, dan politik; Nilainilai toleransi, pragmatisme, kerja sama, dan mufakat.

E. ASAS POKOK DEMOKRASI


Gagasan pokok atau gagasan dasar suatu pemerintahan demokrasi adalah
pengakuan hakikat manusia, yaitu pada dasarnya manusia mempunyai
kemampuan yang sama dalam hubungan sosial. Berdasarkan gagasan dasar
tersebut terdapat dua asas pokok demokrasi, yaitu:
1. Pengakuan partisipasi rakyat dalam pemerintahan, misalnya pemilihan wakil-

wakil

rakyat

untuk

lembaga

perwakilan

rakyat

secara

langsung,

umum, bebas, dan rahasia serta jujur dan adil; dan


2. Pengakuan hakikat dan martabat manusia, misalnya adanya tindakan

pemerintah untuk melindungi hak-hak asasi manusia demi kepentingan


bersama.

Ciri-ciri pemerintahan demokratis Dalam perkembangannya, demokrasi


menjadi suatu tatanan yang diterima dan dipakai oleh hampir seluruh Negara
di dunia.Ciri-ciri suatu pemerintahan demokrasi adalah sebagai berikut:

41

1. Adanya keterlibatan warga Negara (rakyat) dalam pengambilan keputusan


politik, baik langsung maupun tidak langsung (perwakilan).
2. Adanya pengakuan, penghargaan, dan perlindungan terhadap hak-hak
asasi rakyat (warga Negara).
3. Adanya persamaan hak bagi seluruh warga Negara dalam segala bidang.
4. Adanya lembaga peradilan dan kekuasaan kehakiman yang independen
sebagai alat penegakan hukum
5. Adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga Negara.
6. Adanya pers (media massa) yang bebas untuk menyampaikan informasi
dan mengontrol perilaku dan kebijakan pemerintah
7. Adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang duduk di
lembaga perwakilan rakyat
8. Adanya pemilihan umum yang bebas, jujur, adil untuk menentukan
(memilih) pemimpin Negara dan pemerintahan serta anggota lembaga
9.

perwakilan rakyat.
Adanya pengakuan terhadap perbedaan keragamaan (suku, agama,
golongan, dan sebagainya)

2.2 DEMOKRASI DI INDONESIA


A. PERKEMBANGAN DEMOKRASI DI INDONESIA.
Dalam sejarah Negara republik inddonesia yang telah lebih dari setengah
abad, perkembangan demokrasi telah mengalami pasang surut. Perkembangan
demokrasi di Indonesia dapat dibagi dalam empat periode, yaitu:
a. Periode 1945 1959 masa demokrasi parlementer.
Pada masa demokrasi parlementer lebih menonjolkan peranan parlemen
serta partai partai. Kelemahan demokrasi parlementer memberi peluang untuk
dominasi partai partai politik dan DPR.
b. Periode 1959 - 1965 masa demokrasi terpimpin.
41

Pada masa demokrasi terpimpin banyak aspek yang telah menyimpang


dari demokrasi konstitusional dan lebih menampilkan beberapa aspek dari
demokrasi rakyat.
c. Periode 1966 1998 masa demokrasi pancasila era orde baru.
Pada masa demokrasi pancasila era orde baru merupakan demokrasi
konstitusional

yang

menonjolkan

system

presidensial.

Namun

dalam

perkembangannya peran presiden semakin dominan terhadap lembaga lembaga


Negara yang lain. Kelemahan demokrasi ini adalah pancasila hanya digunakan
sebagai legitimasi politis penguasa saat itu, sebab kenyataannya yang
dilaksanakan tidak sesuai dengan nilai nilai pancasila.
d. Periode 1999 - sekarang masa demokrasi pancasila era reformasi.
Pada masa demokrasi pancasila era reformasi berakar pada kekuatan multi
partai yang berusaha mengembalikan perimbangan kekuatan antar lembaga
Negara, antara lain eksekutif, yudikatif, dan legislative. Kelebihan pada masa ini
adalah peran partai politik kembali menonjol, sehingga iklim demokrasi
memperoleh nafas baru. Konstitusi Indonesia, UUD 1945, menjelaskan bahwa
Indonesia adalah sebuah Negara demokrasi. Presiden dalam menjalankan
kepemimpinannya harus memberikan pertanggungjawaban kepada MPR sebagai
wakil rakyat. Oleh karena itu secara hirarki rakyat adalah pemegang kekuasaan
tertinggi melalui sistem perwakilan dengan cara pemilihan umum. Pada era
Presiden Soekarno, Indonesia sempat menganut demokrasi terpimpin tahun 1956.
Indonesia juga pernah menggunakan demokrasi semu(demokrasi pancasila) pada
era Presiden Soeherto hingga tahun 1998 ketika Era Soeharto digulingkan oleh
gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa yang telah memakan banyak sekali harta

41

dan nyawa dibayar dengan senyum gembira dan rasa syukur ketika Presiden
Soeharto mengumumkan "berhenti sebagai Presiden Indonesia" pada 21 Mei
1998. Setelah era Seoharto berakhir Indonesia kembali menjadi Negara yang
benar-benar demokratis mulai saat itu. Pemilu demokratis yang diselenggarakan
tahun 1999 dimenangkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Pada
tahun 2004 untuk pertama kali Bangsa Indonesia menyelenggarakan pemilihan
umum presiden. Ini adalah sejarah baru dalam kehidupan demokrasi Indonesia.
B. PELAKSANAAN DEMOKRASI DI INDONESIA
Berdasarkan Pembukaan UUD 1945, telah dijelaskan bahwa bentuk
pemerintahan Indonesia adalah demokrasi Pancasila dengan sistem pemerintahan
presidensil.
Demokrasi Pancasila adalah sistem pemerintahan yang telah mengatur
berbagai sisi kehidupan masyarakat Indonesia yang memiliki komposisi majemuk.
Pada perjalanannya, Negara ini telah mencoba beberapa sistem demokrasi untuk
mengatur pemerintahan di Indonesia, seperti demokrasi liberal dan demokrasi
terpimpin. Namun, sistem demokrasi pancasila dinilai paling cocok dengan
keadaan Negara tersebut sehingga tujuannya

mampu untuk mengatasi

permasalahan disintegrasi sosial yang sangat rawan terjadi pada masyarakat


Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, demokrasi pancasila belum mampu dijalankan
secara optimal. Sehingga masih banyak kekurangan yang dapat dilihat dari sistem
pemerintahan yang ada. Bukan karena tidak cocok atau Pancasila tidak mampu
lagi untuk mengatur Negara ini, namun kurang optimalnya pelaksanaan demokrasi

41

Pancasilalah yang sebenarnya menjadi penyebab utama timbulnya kekurangankekurangan tersebut.


Masih banyak lagi permasalahan jika hari terus berlanjut. Kehidupan
dimana demokrasi sekarang menjadi sebuah kepentingan telah mencoreng arti
demokrasi Pancasila yang sebenarnya. Ironisnya, masyarakat hanya mampu
menjadi saksi bisu apa yang dilakukan oleh pejabat-pejabat Negara. Entah karena
kurangnya wadah untuk menyampaikan aspirasinya atau memang kesadaran akan
berdemokrasi

telah

mengalami

kejenuhan.

Sehingga

masyarakat

hanya

menganggap suara mereka adalah suara yang percuma.

Sebagai pejabat, pemerintah kurang berhasil membawa masyarakatnya


menuju perubahan dimana mereka dapat selalu berkicau menghiasi iklim
demokrasi di Negara ini. Namun, di sisi lain masyarakat juga masih kurang ilmu
dalam sistem yang ada sekarang ini. Masyarakat juga cenderung masih melakukan
banyak penyimpangan guna kepentingan mereka sendiri. Di sisi lain, juga masih
banyak warga Negara yang meras takut untuk menyampaikan kritik kepada
pemerintah guna kemajuan bersama.
Ketakutan-ketakutan dan penyimpangan-penyimpangan itulah yang tidak
sesuai dengan tujuan Pancasila sebagai dasar Negara. Masyarakat tidak menyadari
bahwa secara sistem, rakyatlah yang memegang kekuasaan tertinggi dan
seharusnya selalu mampu menjadi pengawas pemerintah dalam menjalankan
tugasnya.

C. PRINSIP DEMOKRASI DALAM NEGARA INDONESIA

41

Dalam demokrasi kekuasaan tertinggi di suatu Negara adalah di tangan


rakyat, maksudnya adalah menyangkut baik penyelenggaraan Negara maupun
pemerintahan. Itu artinya; pertama: pemerintahan berada ditangan rakyat , kedua:
pemerintahan

oleh

rakyat,

ketiga:

pemerintahan

untuk

rakyat.

prinsip

pemerintahan berdasarkan kedaulatan rakyat tersebut bagi Negara Indonesia


terkandung dalam pembukaan UUD 1945 alinea IV, yang berbunyi: ................
maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan
berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan
beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan
suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Maka prinsip demokrasi
dalam Negara Indonesia selain tercantum dalam pembukaan juga berdasarkan
pada dasar filsafat Negara pancasila sila keempat yaitu kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Dimaksud
bahwa dalam pelaksanaan demokrasi di Indonesia itu didasarkan pada moral
kebijaksanaan yang terkandung dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan
kemanusiaan yang adil dan beradap. Selain itu dasar pelaksanaan demokrasi
Indonesia juga secara eksplisit tercantum dalam UUD 1945 pasal 1 ayat (2) yang
berbunyi kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UndangUndang Dasar. Sistem demokrasi dalam penyelenggaraan Negara Indonesia juga
diwujudkan dalam penentuan kekuasaan Negara, yaitu menentukan dan
memisahkan tentang kekuasaan eksekutif, yudikatif, dan legislatif (trias politica :
sebuah ide bahwa sebuah pemerintahan berdaulat harus dipisahkan antara dua

41

atau lebih kesatuan kuat yang bebas, mencegah satu orang atau kelompok
mendapatkan kuasa yang terlalu banyak. Pemisahan kekuasaan merupakan suatu
cara pembagian dalam tubuh pemerintahan agar tidak ada penyalahgunaan
kekuasaan, antara legislatif, eksekutif dan yudikatif).
Prinsip semacam trias politica ini menjadi sangat penting untuk
diperhitungkan ketika fakta-fakta sejarah mencatat kekuasaan pemerintah
(eksekutif) yang begitu besar ternyata tidak mampu untuk membentuk masyarakat
yang adil dan beradab, bahkan kekuasaan absolut pemerintah seringkali
menimbulkan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.Demikian pula
kekuasaan berlebihan di lembaga Negara yang lain, misalnya kekuasaan
berlebihan dari lembaga legislatif menentukan sendiri anggaran untuk gaji dan
tunjangan anggota-anggotanya tanpa mempedulikan aspirasi rakyat, tidak akan
membawa kebaikan untuk rakyat. Intinya, setiap lembaga Negara bukan saja
harus akuntabel (accountable), tetapi harus ada mekanisme formal yang
mewujudkan akuntabilitas dari setiap lembaga Negara dan mekanisme ini mampu
secara operasional (bukan hanya secara teori) membatasi kekuasaan lembaga
Negara tersebut.
2.3 PEMILU
A. DEFINISI PEMILU
Pemilihan umum (Pemilu) adalah salah satu cara dalam sistem demokrasi
untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk di lembaga perwakilan
rakyat, serta salah satu bentuk pemenuhan hak asasi warga Negara di bidang
politik. Pemilu dilaksanakan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat. Sebab, rakyat
tidak mungkin memerintah secara langsung. Karena itu, diperlukan cara untuk

41

memilih wakil rakyat dalam memerintah suatu Negara selama jangka waktu
tertentu.

Menurut Austin Ranney, pemilu dikatakan demokratis apabila memenuhi


kriteria sebagai berikut:
Penyelenggaraan secara periodik (regular election),
Pilihan yang bermakna (meaningful choices),
Kebebasan untuk mengusulkan calon (freedom to put forth candidate),
Hak pilih umum bagi kaum dewasa (universal adult suffrage),
Kesetaraan bobot suara (equal weighting votes),
Kebebasan untuk memilih (free registration oh choice),
Kejujuran dalam perhitungan suara dan pelaporan hasil (accurate counting of
choices and reporting of results).

Pemilihan umum dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:


a. Cara langsung, dimana rakyat secara langsung memilih wakil-wakilnya
yang akan duduk di badan-badan perwakilan rakyat. Contohnya, pemilu di
Indonesia untuk memilih anggota DPRD, DPR, dan Presiden.
b. Cara bertingkat, di mana rakyat terlebih dahulu memilih wakilnya
(senat), lantas wakil rakyat itulah yang memilih wakil rakyat yang akan
duduk di badan-badan perwakilan rakyat.

Berdasarkan daftar peserta partai politik


Sistem pemilihan umum terbagi 2 jenis yaitu:

41

Sistem terbuka, yaitu pemilih mencoblos/mencontreng nama dan foto

peserta partai politik


Sistem tertutup, yaitu pemilih mencoblos/mencontreng nama partai
politik tertentu. Kedua sistem memiliki persamaan yaitu pemilih memilih
nama tokoh yang sama di mana tokoh-tokoh tersebut bisa bermasalah di
depan publik.

Dalam suatu pemilu, ada tiga sistem utama yang sering berlaku, yaitu:
1. Sistem perwakilan distrik (satu dapil/daerah pemilihan untuk satu
wakil)
yaitu sistem yang berdasarkan lokasi daerah pemilihan, bukan berdasarkan jumlah
penduduk. Dari semua calon, hanya ada satu pemenang. Dengan begitu, daerah
yang sedikit penduduknya memiliki wakil yang sama dengan daerah yang banyak
penduduknya, dan tentu saja banyak suara terbuang. Karena wakil yang akan
dipilih adalah orangnya langsung, maka pemilih bisa akrab dengan wakilnya.,
Sistem ini sering dipakai di Negara yang menganut sistem dwipartai, seperti
Inggris dan Amerika. sistem distrik memiliki karakteristik, antara lain:
a. first past the post : sistem yang menerapkan single memberdistrict dan
pemilihan yang berpusat pada calon, pemenangnya adalah calon yang
mendapatkan suara terbanyak.
b. the two round system : sistem ini menggunakan putaran kedua sebagai
dasar untuk menentukan pemenang pemilu. ini dijalankan untuk
memperoleh pemenang yang mendapatkan suara mayoritas.
c. the alternative vote : sama dengan first past the post bedanya adalah para
pemilih diberikan otoritas untuk menentukan preverensinya melalui
penentuan ranking terhadap calon-calon yang ada.
41

d.

block vote : para pemilih memiliki kebebasan untuk memilih calon-calon


yang terdapat dalam daftar calon tanpa melihat afiliasi partai dari caloncalon yang ada.

Kelebihan Sistem Distrik

Sistem ini mendorong terjadinya integrasi antar partai, karena kursi

kekuasaan yang diperebutkan hanya satu.


Perpecahan partai dan pembentukan partai baru dapat dihambat, bahkan

dapat mendorong penyederhanaan partai secara alami.


Distrik merupakan daerah kecil, karena itu wakil terpilih dapat dikenali
dengan baik oleh komunitasnya, dan hubungan dengan pemilihnya

menjadi lebih akrab.


Bagi partai besar, lebih mudah untuk mendapatkan kedudukan mayoritas

di parlemen.
Jumlah partai yang terbatas membuat stabilitas politik mudah diciptakan.

Kelemahan Sistem Distrik

Sistem ini kurang memperhitungkan adanya partai-partai kecil dan


golongan minoritas, apalagi jika golongan ini terpencar dalam beberapa

distrik.
Sistem ini kurang representatif dalam arti bahwa calon yang kalah dalam
suatu distrik, kehilangan suara-suara yang telah mendukungnya. Hal ini
berarti bahwa ada sejumlah suara yang tidak diperhitungkan sama sekali;
dan kalau ada beberapa partai yang mengadu kekuatan, maka jumlah suara
yang hilang dapat mencapai jumlah yang besar. Hal ini akan dianggap
tidak adil oleh golongan-golongan yang merasa dirugikan.

41

Ada kecenderungan wakil tersebut lebih mementingkan kepentingan

daerah pemilihannya dari pada kepentingan nasional


Umumnya kurang efektife bagi suatu masyarakat heterogen

2. Sistem Proposional ( satu dapil memilih beberapa wakil )


Dalam sistem perwakilan proporsional, jumlah kursi di DPR dibagi kepada
tiap-tiap partai politik, sesuai dengan perolehan jumlah suara dalam pemilihan
umum. khusus di daerah pemilihan. Untuk keperluan itu, maka ditentukan suatu
pertimbangan, misalnya 1 orang wakil di DPR mewakili 500 ribu penduduk. Jadi
Sistem yang melihat pada jumlah penduduk yang merupakan peserta pemilih.
Berbeda dengan sistem distrik, wakil dengan pemilih kurang dekat karena wakil
dipilih melalui tanda gambar kertas suara saja. Sistem proporsional banyak
diterapkan oleh Negara multipartai, seperti Italia, Indonesia, Swedia, dan
Belanda.Sistem ini juga dinamakan perwakilan berimbang ataupun multi member
constituenty. ada dua jenis sistem di dalam sistem proporsional, yaitu ;

list proportional representation : disini partai-partai peserta pemilu


menunjukan daftar calon yang diajukan, para pemilih cukup memilih

partai. alokasi kursi partai didasarkan pada daftar urut yang sudah ada.
the single transferable vote : para pemilih di beri otoritas untuk
menentukan preferensinya. pemenangnya didasarkan atas penggunaan
kota.

Kelebihan Sistem Proposional

Dipandang lebih mewakili suara rakyat sebab perolehan suara partai sama
dengan persentase kursinya di parlemen.

41

Setiap suara dihitung & tidak ada yang terbuang, hingga partai kecil &
minoritas memiliki kesempatan untuk mengirimkan wakilnya di parlemen.
Hal ini sangat mewakili masyarakat majemuk(pluralis).

Kelemahan Sistem Proposional

Sistem proporsional mempermudah terjadinya fragmentasi partai, kurang


mendorong partai untuk saling berintegrasi atau bekerjasama, bahkan
sebaliknya cenderung mempertajam perbedaan, jika terjadi konflik
umumnya anggota partai cenderung mendirikan partai politik baru,
mengingat adanya peluang partai baru untuk mendapatkan kursi dengan

menggabung suara yang tersisa.


Banyaknya partai yang bersaing, menyulitkan munculnya partai dengan
suara mayoritas (50% + 1) yang diperlukan untuk membentuk

pemerintahan yang kuat.


Sistem proporsional memberikan kewenangan yang kuat terhadap partai
politik melalui sistem daftar (list system). Prosedur sistem daftar
bervariasi, umumnya yang dipakai adalah partai politik menawarkan daftar
calon kepada pemilih. Rakyat pemilih memilih suatu partai dengan semua
calonnya untuk berbagai kursi yang diperebutkan. Sehingga wakil rakyat
yang terpilih tidak memiliki hubungan yang kuat kepada pemilih,

melainkan loyalitas terhadap partai politik.


Dengan demikian, sistem Proporsional dapat menggeser kedaulatan rakyat
menjadi kedaulatan partai Politik.

Perbedaan utama antara sistem proporsional & distrik adalah bahwa cara
penghitungan suara dapat memunculkan perbedaan dalam komposisi perwakilan
dalam parlemen bagi masing-masing partai politik.
41

3. Sistem campuran
Selain kedua bentuk utama sistem pemilu di atas, terdapat pula sistem
campuran. Artinya, dalam sistem ini setiap pemilih mempunyai dua suara:
memilih

calon

berdasarkan

distrik

dan

sekaligus

berdasarkan

sistem

proporsional.Sistem ini membagi wiliyah Negara dalam beberapa daerah


pemilihan.Sisa suara pemilihan tidak hilang melainkan diperhitungkan dengan
jumlah kursi yang belum dibagi.Sistem gabungan ini ditetapkan sejak pemilu
tahun 1997 dalam pemilihan anggota DPR,DPRD I,DPRD II. Pengikut sistem
proporsional menganggap bahwa sistem campuran yang masih ada unsur
distriknya masih terdapat kesenjangan perolehan kursi dengan jumlah pemilihan
(distortion effect), sedangkan penganut sistem distrik berpendapat bahwa sistem
campuran yang mengandung unsur proporsional tidak menunjang secara penuh
kontrak rakyat dengan wakilnya.

B. FUNGSI PEMILU
Pemilihan umum mempunyai tiga fungsi utama, yaitu sebagai:

Sarana memilih pejabat publik (pembentukan pemerintahan),


Sarana pertanggungjawaban pejabat publik, dan
Sarana pendidikan politik rakyat

Selain fungsi tersebut,akan tetapi pemilu berfungsi juga sebagai :


Media

bagi

rakyat

kebijakan,Mengganti

untuk

menyuarakan

pemerintahan

pendapatnya

Menuntut

pertanggung

Mengubah
jawaban,

Menyalurkan aspirasi lokal .

41

C. MAKNA PEMILU

Pemilu menunjukan seberapa besar dukungan rakyat kepada pejabat atau

partai politik.
Sarana bagi kita untuk melakukan kesepakatan politik baru dengan partai

politik, wakil rakyat dan penguasa.


Sebagai sarana mempertajam kesepakatan pemerintah dan anggota
legislatif terhadap aspirasi rakyat.

D. TUJUAN PEMILU
Rakyat sebagai pemegang kedaulatan berhak menentukan warna dan
bentuk pemerintah serta tujuan yang hendak dicapai,sesuai dengan konstitusi yang
berlaku.
Berikut ini beberapa tujuan pemilu secara umum : Melaksanakan kedaulatan
rakyat, Sebagai perwujudan hak asasi politik rakya, Untuk memilih wakil-wakil
rakyat yang duduk di DPR,DPD,dan DPRD, serta memilih presiden dan wakil
presiden, Melaksanakan pergantian personal pemerintahan secara damai,aman,dan
tertib (secara konstitusional), Menjamin kesinambungan pembangunan nasional.

E. PRINSIP PEMILU DEMOKRATIS

Dilaksanakan oleh Lembaga Penyelenggara Pemilu (Jajaran KPU dan


Jajaran BAWASLU) yang mandiri dan bebas intervensi dari pihak

manapun.
Dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.
Semua tahapan dilaksanakan secara demokratis, prosedural, transparan dan

akuntabel.
Pemerintah dan jajarannya menjaga integritas dan netralitas.

41

Melindungi dan menjaga kesamaan hak pemilih dengan prinsip satu suara
mempunyai nilai yang sama (one person, one vote dan one value).

2.4 PEMILU DI INDONESIA


Pemilihan umum (pemilu) di Indonesia pada awalnya ditujukan untuk
memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD
Kabupaten/Kota. Setelah amandemen keempat UUD 1945 pada 2002, pemilihan
presiden dan wakil presiden (pilpres), yang semula dilakukan oleh MPR,
disepakati untuk dilakukan langsung oleh rakyat sehingga pilpres pun dimasukkan
ke dalam rezim pemilu. Pilpres sebagai bagian dari pemilu diadakan pertama kali
pada Pemilu 2004. Pada 2007, berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun
2007, pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (pilkada) juga
dimasukkan sebagai bagian dari rezim pemilu. Pada umumnya, istilah "pemilu"
lebih sering merujuk kepada pemilihan anggota legislatif dan presiden yang
diadakan setiap 5 tahun sekali.

A. ASAS PEMILU
Pemilihan umum di Indonesia menganut asas "Luber" yang merupakan
singkatan dari "Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia". Asal "Luber" sudah ada
sejak zaman Orde Baru. Langsung berarti pemilih diharuskan memberikan
suaranya secara langsung dan tidak boleh diwakilkan. Umum berarti pemilihan
umum dapat diikuti seluruh warga Negara yang sudah memiliki hak menggunakan
suara. Bebas berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya tanpa ada paksaan
dari pihak manapun, kemudian Rahasia berarti suara yang diberikan oleh pemilih
bersifat rahasia hanya diketahui oleh si pemilih itu sendiri.
41

Kemudian di era reformasi berkembang pula asas "Jurdil" yang merupakan


singkatan dari "Jujur dan Adil". Asas jujur mengandung arti bahwa pemilihan
umum harus dilaksanakan sesuai dengan aturan untuk memastikan bahwa setiap
warga Negara yang memiliki hak dapat memilih sesuai dengan kehendaknya dan
setiap suara pemilih memiliki nilai yang sama untuk menentukan wakil rakyat
yang akan terpilih. Asas adil adalah perlakuan yang sama terhadap peserta pemilu
dan pemilih, tanpa ada pengistimewaan ataupun diskriminasi terhadap peserta
atau pemilih tertentu. Asas jujur dan adil mengikat tidak hanya kepada pemilih
ataupun peserta pemilu, tetapi juga penyelenggara pemilu.
B. PERKEMBANGAN PEMILU DI INDONESIA
Sejak kemerdekaan hingga tahun 2014 bangsa Indonesia telah menyelenggarakan 11 kali pemilihan umum, yaitu 1945, 1971, 1977, 1982, 1992, 1997,
1999, 2004 ,2009 dan 2014. Akan tetapi pemilihan pada tahun 1955 merupakan
pemilihan umum yang dianggap istimewa karena ditengah suasana kemerdekaan
yang masih tidak stabil Indonesia melakukan PEMILU , bahkan dunia
internasional memuji pemilu pada tahun tersebut. Pemilihan umum berlangsung
dengan terbuka, jujur dan fair, meski belum ada sarana komunikasi secanggih
pada saat ini ataupun jaringan kerja KPU. Semua pemilihan umum tersebut tidak
diselenggarakan dalam situasi yang vacuum, melainkan berlangsung di dalam
lingkungan yang turut menentukan hasil pemilihan umum itu sendiri. Dari
pemilihan umum tersebut juga dapat diketahui adanya upaya untuk mencari
sistem pemilihan umum yang cocok untuk Indonesia.
a. Zaman Demokrasi Parlementer (1945-1958)

41

Pada masa ini pemilu diselenggarakan oleh kabinet BH-Baharuddin Harahap


(tahun 1955). Pada pemilu ini pemungutan suara dilaksanakan 2 kali yaitu yang
pertama untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat pada bulan September
dan yang kedua untuk memilih anggota Konstituante pada bulan Desember.
Sistem yang diterapkan pada pemilu ini adalah sistem pemilu proporsional.
Pelaksanaan pemilu pertama ini berlangsung dengan demokratis dan hikmat,,
Tidak ada pembatasan partai politik dan tidak ada upaya dari pemerintah
mengadakan intervensi atau campur tangan terhadap partai politik dan kampanye
berjalan menarik. Pemilu ini diikuti 27 partai dan satu perorangan.
Akan tetapi stabilitas politik yang begitu diharapkan dari pemilu tidak tercapai.
Kabinet Ali (I dan II) yang terdiri atas koalisi tiga besar: NU, PNI dan Masyumi
terbukti tidak sejalan dalam menghadapi beberapa masalah terutama yang
berkaitan dengan konsepsi Presiden Soekarno zaman Demokrasi Parlementer
berakhir.
b. Zaman Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
Sesudah mencabut maklumat pemerintah November 1945 tentang kebebasan
mendirikan partai , presiden soekarno mengurangi jumlah partai menjadi 10.
Kesepuluh ini antara lain : PNI, Masyumi,NU,PKI, Partai Katolik, Partindo,Partai
Murba, PSIIArudji, IPKI, dan Partai Islam, kemudian ikut dalam pemilu 1971 di
masa orde baru. Di zaman demokrasi terpimpin tidak diadakan pemilihan umum.
c. Zaman Demokrasi Pancasila (1965-1998)
Sesudah runtuhnya rezim demokrasi terpimpin yang semi otoriter ada harapan
besar dikalangan masyarakat untuk dapat mendirikan suatu sistem politik yang
demokratis dan stabil. Salah satu caranya ialah melalui sistem pemilihan umum .
41

pada saat itu diperbincangkan tidak hanya sistem proporsional yang sudah dikenal
lama, tetapi juga sistem distrik yang di Indonesia masih sangat baru.
Jika meninjau sistem pemilihan umum di Indonesia dapat ditarik berbagai
kesimpulan. Pertama, keputusan untuk tetap menggunakan sistem proporsional
pada tahun 1967 adalah keputusan yang tepat karena tidak ada distorsi atau
kesenjangan antara perolehan suara nasional dengan jumlah kursi dalam DPR.
Kedua, ketentuan di dalam UUD 12945 bahwa DPR dan presiden tidak dapat
saling menjatuhkan merupakan keuntungan, karena tidak ada lagi fragmentasi
karena yang dibenarkan eksistensinya hanya tiga partai saja. Usaha untuk
mendirikan partai baru tidak bermanfaat dan tidak diperbolehkan. Dengan
demikian sejumlah kelemahan dari sistem proporsional telah teratasi.
Namun beberapa kelemahan masih melekat pada sistem politik ini. Pertama,
masih kurang dekatnya hubungan antara wakil pemerintah dan konstituennya
tetap ada. Kedua, dengan dibatasinya jumlah partai menjadi tiga telah terjadi
penyempitan dalam kesempatan untuk memilih menurut selera dan pendapat
masing-masing sehingga dapat dipertanyakan apakah sipemilih benar-benar
mencerminkan, kecenderungan, atau ada pertimbangan lain yang menjadi
pedomannya. Ditambah lagi masalah golput, bagaimanapun juga gerakan golput
telah menunjukkan salah satu kelemahan dari sistem otoriter orde dan hal itu patut
dihargai.
d. Zaman Reformasi (1998-sekarang)
Seperti dibidang-bidang lain, reformasi membawa beberapa perubahan
fundamental. Pertama, dibukanya kesempatan kembali untuk bergeraknya partai
politik secara bebas, termasuk mendirikan partai baru. Kedua, pada pemilu 2004

41

untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia diadakan pemilihan presiden dan
wakil presiden dipilih melalui MPR. Ketiga, diadakannya pemilihan umum untuk
suatu badan baru, yaitu Dewan Perwakilan Daerah yang akan mewakili
kepentingan daerah secara khusus. Keempat, diadakannya electoral thresold ,
yaitu ketentuan bahwa untuk pememilihan legislatif setiap partai harus meraih
minimal 3% jumlah kursi anggota badan legislatif pusat.

Jadi dapat disimpulkan bahwa sistem pemilu yang pernah di anut di


Indonesia adalah :
Pemilu

Terbuka/tertutup

1955
1971
1977
1982
1987
1992
1997
1999
2004
2009
2014

Tertutup

Distrik/proporsional
/campuran
Proporsional

Terbuka

Campuran

Dan Jumlah kepimpinan yang dipilih rakyat Pemilihan Total :


Pemilihan
Presiden
Gubernur
Walikota/Bupati
DPR
DPRD
DPD
DPRA

Total
2
64
1022
560
20 per kabupaten/kota
4 per provinsi
70

41

C. SISTEM PEMILU DI INDONESIA MEMBERIKAN PELUANG


MONEY POLITIC
Money politic (politik uang) merupakan uang maupun barang yang
diberikan untuk menyogok atau memengaruhi keputusan masyarakat agar
memilih partai atau perorangan tersebut dalam pemilu, padahal praktek money
politic merupakan praktek yang sangat bertentangan dengan nilai demokrasi.
Lemahnya Undang-Undang dalam memberikan sanksi tegas terhadap
pelaku money politic membuat praktek money politic ini menjamur luas di
masyarakat. Maraknya praktek money politic ini disebabkan pula karena
lemahnya Undang-Undang dalam mengantisipasi terjadinya praktek tersebut.
Padahal praktek money politic ini telah hadir dari zaman orde baru tetapi sampai
saat ini masih banyak hambatan untuk menciptakan sistem pemilu yang benarbenar anti money politic. Praktek money politic ini sungguh misterius karena
sulitnya mencari data untuk membuktikan sumber praktek tersebut, namun
ironisnya praktek money politic ini sudah menjadi kebiasaan dan rahasia umum di
masyarakat. Real-nya Sistem demokrasi pemilu di Indonesia masih harus banyak
perbaikan, jauh berbeda dibandingkan sistem pemilu demokrasi di Amerika yang
sudah matang. Hambatan terbesar dalam pelaksanaan pemilu demokrasi di
Indonesia yaitu masih tertanamnya budaya paternalistik di kalangan elit politik.
Elit-elit politik tersebut menggunakan kekuasaan dan uang untuk melakukan
pembodohan dan kebohongan terhadap masyarakat dalam mencapai kemenangan
politik. Dewasanya, saat ini banyak muncul kasus-kasus masalah Pilkada yang
diputuskan melalui lembaga peradilan Mahkamah Konstitusi (MK) karena
pelanggaran nilai demokrasi dan tujuan Pilkada langsung. Hal itu membuktikan

41

betapa terpuruknya sistem pemilu di Indonesia yang memerlukan penanganan


yang lebih serius.
D. SOLUSI MENGATASI MONEY POLITIC
Kita sebagai masyarakat harus ikut berpartisipasi untuk mengkaji
keputusan Mahkamah Konstitusi dalam menyelesaikan kasus-kasus pemillu agar
tidak menyimpang dari peraturan hukum yang berlaku. Calon-calon pada pemilu
juga harus komitmen untuk benar-benar tidak melakukan praktek money politik
dan apabila terbukti melakukan maka seharusnya didiskualifikasi saja.
Bentuk Undang-Undang yang kuat untuk mengantisipasi terjadinya money
politic dengan penanganan serius untuk memperbaiki bangsa ini, misalnya
membentuk badan khusus independen untuk mengawasi calon-calon pemilu agar
menaati peraturan terutama untuk tidak melakukan money politic.
Sebaiknya secara transparan dikemukan kepada publik sumber pendanaan
kampaye

oleh

pihak-pihak

yang

mendanai

tersebut.

Transparan

pula

mengungkapkan tujuan mengapa mendanai suatu partai atau perorangan, lalu


sebaiknya dibatasi oleh hukum mengenai biaya kampanye agar tidak berlebihan
mengeluarkan biaya sehingga terhindar dari tindak pencarian pendanaan yang
melanggar Undang-Undang. Misalnya, anggota legislatif yang terpilih tersebut
membuat peraturan Undang-Undang yang memihak pada pihak-pihak tertentu
khususnya pihak yang mendanai partai atau perorangan dalam kampanye tersebut.
Sadarilah apabila kita salah memilih pemimpin akan berakibat fatal karena
dapat menyengsarakan rakyatnya. Sebaiknya pemerintah mengadakan sosialisasi
pemilu yang bersih dan bebas money politic kepada masyarakat luas agar tingkat
partisipasi masyarakat dalam demokrasi secara langsung meningkat.
41

Perlu keseriusan dalam penyuluhan pendidikan politik kepada masyarakat


dengan penanaman nilai yang aman, damai, jujur dan kondusif dalam memilih.
Hal tersebut dapat membantu menyadarkan masyarakat untuk memilih
berdasarkan hati nurani tanpa tergiur dengan praktek money politic yang dapat
menghancurkan demokrasi.
Dari penjelasan-penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
sebenarnya pemilu merupakan suatu hak dan partisipasi masyarakat, juga sebagai
penghubung antara infrastruktur politik atau kehidupan politik dilingkungan
masyarakat dengan supra struktur politik atau kehidupan politik dilingkungan
pemerintah

sehingga

memungkinnya

tercipta

pemerintahan

dari

rakyat,

pemerintahan oleh rakyat, dan pemerintahan untuk rakyat.


Meski dapat kita lihat bahwa pemilu yang ada di Indonesia ini belum bisa
berjalan dengan baik. Hal ini dapat kita lihat , bahwa sampai sekarang ini masih
banyak masyarakat yang masih Golput, ini menjadi tanggung jawab kita bersama
dimana pemilu ini penting untuk menentukan pemerintahan kita selama 5 Tahun
mendatang.

41

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

A. DEMOKRASI
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang semua warga Negaranya
memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup
mereka. Demokrasi mengizinkan warga Negara berpartisipasibaik secara
langsung atau melalui perwakilan dalam perumusan, pengembangan, dan
pembuatan hukum. Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya
yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara.
bentuk-bentuk demokrasi yaitu;. Demokrasi langsung, dan Demokrasi perwakilan,
sedangkan asas pokok demokrasi yaitu Pengakuan partisipasi rakyat dalam
pemerintahan, dan Pengakuan hakikat dan martabat manusia.

B. DEMOKRASI DI INDONESIA
Indonesia adalah sebuah Negara demokrasi. Pada era Presiden Soekarno,
Indonesia sempat menganut demokrasi terpimpin tahun 1956. Indonesia juga
pernah menggunakan demokrasi semu(demokrasi pancasila) pada era Presiden
Soeherto hingga tahun 1998 ketika Era Soeharto digulingkan oleh gerakan
mahasiswa. Gerakan mahasiswa yang telah memakan banyak sekali harta dan
nyawa dibayar dengan senyum gembira dan rasa syukur ketika Presiden Soeharto

41

mengumumkan "berhenti sebagai Presiden Indonesia" pada 21 Mei 1998. Setelah


era Seoharto berakhir Indonesia kembali menjadi Negara yang benar-benar
demokratis mulai saat itu. Pemilu demokratis yang diselenggarakan tahun 1999
dimenangkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Pada tahun 2004
untuk pertama kali Bangsa Indonesia menyelenggarakan pemilihan umum
presiden. Ini adalah sejarah baru dalam kehidupan demokrasi Indonesia.
Sedangkan prinsip demokrasi dalam Negara Indonesia berdasarkan pada dasar
filsafat Negara pancasila sila keempat yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Dimaksud bahwa
dalam pelaksanaan demokrasi di Indonesia itu didasarkan pada moral
kebijaksanaan yang terkandung dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan
kemanusiaan yang adil dan beradap. Selain itu dasar pelaksanaan demokrasi
Indonesia juga secara eksplisit tercantum dalam UUD 1945 pasal 1 ayat (2) yang
berbunyi kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UndangUndang Dasar. Sistem demokrasi dalam penyelenggaraan Negara Indonesia juga
diwujudkan dalam penentuan kekuasaan Negara, yaitu menentukan dan
memisahkan tentang kekuasaan eksekutif, yudikatif, dan legislatif (trias politica).

C. PEMILU
Pemilihan umum (Pemilu) adalah salah satu cara dalam sistem demokrasi
untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk di lembaga perwakilan
rakyat, serta salah satu bentuk pemenuhan hak asasi warga Negara di bidang
politik. Dimana Pemilihan umum dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: Cara
langsung, dan Cara bertingkat. Berdasarkan daftar peserta partai politik Sistem

41

pemilihan umum terbagi 2 jenis yaitu: sistem terbuka, dan sistem tertutup.Dalam
suatu pemilu, ada tiga sistem utama yang sering berlaku, yaitu:

Sistem perwakilan distrik (satu dapil/daerah pemilihan untuk satu wakil)


Sistem Proposional ( satu dapil memilih beberapa wakil )
Sistem campuran

B. PEMILU DI INDONESIA
Pemilihan umum di Indonesia menganut asas "Luber" yang merupakan
singkatan dari "Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia". Kemudian di era
reformasi berkembang pula asas "Jurdil" yang merupakan singkatan dari "Jujur
dan Adil".
Sejak kemerdekaan hingga tahun 2014 bangsa Indonesia telah menyelenggarakan 11 kali pemilihan umum, yaitu 1945, 1971, 1977, 1982, 1992, 1997,
1999, 2004 ,2009 dan 2014. Namun seiring berjalannya waktu sistem pemilu di
Indonesia memberikan peluang money politic. Padahal praktek money politic
merupakan praktek yang sangat bertentangan dengan nilai demokrasi. Ironisnya
praktek money politic ini sudah menjadi kebiasaan dan rahasia umum di
masyarakat. Real-nya Sistem demokrasi pemilu di Indonesia masih harus banyak
perbaikan, jauh berbeda dibandingkan sistem pemilu demokrasi di Amerika yang
sudah matang. Maka solusi untuk mengatasi money politic adalah Harus ada
perubahan bersama, baik itu dari masyarakat, UU, dan juga pemerintah.

3.2 SARAN

41

Berdasarkan pembahasan di atas, kita dapat menilai bahwa pada dasarnya


seluruh sistem yang ada dalam demokrasi adalah suatu kebaikan bersama. Meski
segala kebaikan/kelebihan tersebut masih mengandung kekurangan, apabila
sistem tersebut berjalan dengan baik, kekurangan tersebut dapat diminimalisir.
Pemilu sebagai wujud pelaksanaan demokrasi di Indonesia seharusnya
menjadi hal penting dan sakral bagi setiap orang yang melaksanakannya. Tetapi
seperti yang kita ketahui sekarang, walaupun pendidikan kewarganegaraan telah
diberikan semenjak jenjang sekolah dasar, tetap tidak mendorong elit politik
maupun masyarakat sendiri untuk bersikap Luber Jurdil. Ketika kita memandang
secara luas, tentu penyampaian sikap kewarganegaraan melalui jenjang sekolah
masih belum maksimal karena masih banyaknya anak tidak bersekolah. Meski
perkembangan teknologi semakin canggih, segala informasi tercakup didalamnya,
namun tidak semua rakyat sempat mengenyam canggihnya teknologi tersebut
sehingga dapat dipastikan masih membutuhkan komunikasi langsung kepada
masyarakat sendiri. Dengan adanya Otonomi Daerah, Pemerintah Pusat dapat
memberikan penyuluhan pada setiap daerah, melalui Pemerintah Daerah yang
disampaikan kepada setiap perwakilan organisasi muda yang ada di setiap desa
(Karang Taruna) agar penyuluhan kepada masyarakat merata dan lebih maksimal.
Kepada elit politik secara khusus, mestinya mereka lebih memahami
makna demokrasi dan pelaksanaan pemilu. Tidak mementingkan ambisi
kekuasaan dan kepentingan golongan. Mengingat demokrasi sendiri adalah
kepemimpinan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Maka segala kebijakan
politik harus mempertimbangkan suara rakyat dengan tidak melupakan unsur
moralitas kebudayaan bangsa.

41

DAFTAR PUSTAKA

41

Kaelan, dan achmad zubaidi,2010, pendidikan kewarganegaraan,paradigma:


yogyakarta http://delviindriadi.blogspot.com/2013/06/sistem-pemilu-diindonesia.html , diakses tanggal : 14.05.14
http://donitadn083.blogspot.com/ diakses tanggal : 14.05.14 http://get-andshare.blogspot.com/2013/03/demokrasi-dan-pemilu-di-indonesia.html diakses
tanggal : 12.06.14
http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi , diakses tanggal : 12.05.14
http://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum , diakses tanggal : 12.05.14
http://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum_di_Indonesia ,diakses tanggal :
14.05.14
http://id.wikipedia.org/wiki/Pemisahan_kekuasaan diakses tanggal : 14.05.14
http://martmarthen.blogspot.com/2014/01/implementasi-uu-pemilu-dalamdemokrasi.html
, diakses tanggal : 14.05.14 http://pantaupemilu.org/pemilu-dan-demokrasi ,
diakses tanggal : 14.05.14
http://politikindonesia.com/index.php?k=pendapat&i=15403 , diakses tanggal :
14.05.14 http://priankarara.blogspot.com/2013/03/pengertian-pemilu.html, diakses
tanggal : 14.05.14 http://sanggahutama.blogspot.com/2010/04/makalah-analisisimplementasi-demokrasi.html , diakses tanggal : 12.06.14
http://simplenews05.blogspot.com/2013/08/tujuan-pemilihan-umum-pemilu.html,
diakses tanggal : 14.05.14 http://sistempemerintahanindonesia.blogspot.com/2013/05/demokrasi-di-indonesia-pengertian-sejarahpelaksanaan-penerapan.html , diakses tanggal : 12.06.14

41

http://sistempemerintahan-indonesia.blogspot.com/2013/06/pemilu-di-indonesiasistem.html ,diakses tanggal : 14.05.14


http://sweeperjamnas.wordpress.com/2012/12/28/pelaksanaan-demokrasi-diindonesia/
diakses tanggal : 13.05.14
http://thynaituthya.wordpress.com/2013/11/23/makalah-pkn-tentang-demokrasiindonesia/, diakses tanggal : 12.06.14
http://www.dw.de/sistem-pemilu-campuran/a-4713509 ,diakses tanggal : 14.05.14
http://www.pengertianahli.com/2013/12/pengertian-pemilihan-umum-pemilu.html
, diakses tanggal : 14.05.14
http://www.sharemyeyes.com/2013/04/tugas-demokrasi-danimplementasinya.html ,diakses tanggal : 12.05.14

41

Disusun Oleh

NPM. 15510102

TAHUN AJARAN 2015/2016

41