Anda di halaman 1dari 42

PEMERIKSAAN FISIK TORAKS

Prof. dr. Tamsil Syafiuddin, Sp.P(K)


Kontributor Blok Sistem Respirasi
Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Sumatera Utara

Materi Pelatihan
Menentukan Lokasi Kelainan Pada
Dinding Toraks Anterior & Posterior.
Teknik Pemeriksaan Fisik Toraks.
Persiapan Pasien.
Observasi (pengamatan awal).
Inspeksi.
Palpasi.
Perkusi.
Auskultasi.

Menentukan Lokasi Kelainan


Pada Dinding Toraks Anterior &
Posterior
Menghitung sela iga.
Menggunakan
pedoman
tulang-tulang
yang menonjol pada dinding toraks
posterior :
Processus vertebrae prominens.
Angulus inferior skapula.
Menggunakan garis-garis vertikal imajiner
:
Dinding dada anterior.
Dinding dada posterior.

Menghitung Sela Iga

Anatomi Dinding Dada Anterior

Garis-Garis Pedoman Pemeriksaan


Toraks

Garis-Garis Vertikal Imajiner Sepanjang Dinding Toraks


Anterior

Garis-Garis Pedoman Pemeriksaan


Toraks

Garis-Garis Vertikal Imajiner Sepanjang Dinding Toraks Posterior &


Lateral

Teknik Pemeriksaan Fisik


Toraks
Persiapan pasien
Dokter memberitahukan dan menjelaskan kepada
pasien tentang prosedur pemeriksaan fisik toraks
yang akan dilakukan (secara lisan, dengan
bahasa yang dimengerti oleh pasien).
Kemudian dokter akan menuliskan di dalam
status medical record pasien apakah pasien
bersedia atau tidak.
Aturlah posisi pasien agar berada dalam posisi
duduk.
Bila pasien tidak dapat duduk, pemeriksaan
dapat dilakukan dengan cara memiringkan pasien
ke salah satu sisi, kemudian ke sisi lainnya.

Teknik Pemeriksaan Fisik


Toraks
Persiapan pasien
Pada pemeriksaan dinding toraks posterior,
mintalah kepada pasien untuk menyilangkan
kedua lengannya pada dada, sehingga kedua
tangannya dapat diletakkan pada masing-masing
bahu secara kontralateral, agar kedua skapula
bergeser ke lateral, sehingga dapat memperluas
lapangan paru yang akan diperiksa.
Aturlah pakaian pasien sedemikian rupa sehingga
seluruh toraks dapat diperiksa.
Pada pasien wanita, pada saat dilakukan
pemeriksaan pada toraks bagian belakang, maka
toraks bagian depan ditutup dengan pakaian,
atau kain periksa.

Teknik Pemeriksaan Fisik


Toraks
Observasi.
Ada tidaknya kelainan pada daerah kepala
leher yang berkaitan dengan kelainan
pada paru dan saluran pernafasan,
misalnya :
Sianosis ujung lidah (hipoksemia).
Bull Neck pada Sindrom Vena Cava
Superior.
Deviasi trakea (biasanya ke sisi kanan).
Pembengkakan KGB leher.

Observasi (pengamatan
awal)

Sindrom Vena Cava Superior (bull neck) Atrofi Otot Tangan (Sindrom
Pancoast)

Teknik Pemeriksaan Fisik


Toraks
Observasi
Ada tidaknya kelainan pada daerah ekstremitas
yang berkaitan dengan kelainan pada paru dan
saluran pernafasan :
Clubbing Finger
Sianosis perifer pada kuku jari.
Karat nikotin pada perokok.
Atropi pada otot-otot tangan dan lengan, pada
Sindrom Pancoast.

Teknik Pemeriksaan Fisik


Toraks
Observasi
Terdengar, atau tidaknya suara-suara
nafas abnormal suatu pasien datang :
Mengi, atau wheezing.
Stridor (suara mendengkur) terutama
stridor inspiratoar.
Suara serak, atau hoarseness.

Observasi (pengamatan
awal)

Clubbing Finger
berat)

Karat Nikotin (perokok

Inspeksi
Kelainan pada dinding toraks.
Kelainan pada bentuk toraks.
Kesimetrisan toraks pada saat
bernafas.
Frekuensi pernafasan.
Jenis pernafasan.
Irama pernafasan.

Inspeksi
Kelainan pada dinding toraks :
Jaringan parut bekas operasi pada
dada.
Pelebaran vena-vena superfisial pada
dinding dada.
Massa abnormal pada dinding dada.
Pembesaran payudara pada pria.
Pelebaran, atau adanya retraksi otototot interkostalis.

Inspeksi
Kelainan bentuk toraks
Dada paralitikum.
Dada emfisema (barrel chest).
Pectus excavatum.
Pectus carinatum.
Kifosis.
Skoliosis.

Kelainan Bentuk Toraks

Dada Emfisema (barrel chest)


Lumbar

Skoliosis Toraks & Skoliosis

Kelainan Bentuk Toraks

Pectus Carinatum (pigeon chest)

Pectus Excavatum

Kesimetrisan Toraks Pada Saat


Bernafas
Amatilah apakah kedua lapangan toraks simetris
saat bernafas. Pada keadaan normal kedua
lapangan toraks simetris saat bernafas.
Apakah ada lapangan toraks yang tertinggal saat
bernafas, misalnya pada :
Emfisema berat.
Pasien dengan ukuran tumor paru, atau
mediastinum yang besar.
Efusi pleura yang masif.
Kolaps paru.
Perhatikan ada tidaknya pemakaian otot-otot
bantu pernafasan, misalnya pada kasus PPOK
berat.

Inspeksi

Gambaran Pasien PPOK (Barrel Chest & Hipertrofi Otot


Pernafasan)

Frekuensi Pernafasan
Hitunglah berapa banyak pasien bernafas dalam
satu menit.
Orang dewasa normal bernafas 14-20 kali per
menit.
Pada bayi yang sehat frekuensi bernafas 24-32
kali per menit.
Bandingkan frekuensi bernafas pasien, dengan
nilai yang normal.
Apakah frekuensi bernafas pasien normal.
Frekuensi terlalu cepat (takipneu).
Frekuensi terlalu lambat (bradipneu).
Frekuensi tidak bernafas (apneu).

Jenis Pernafasan
Amatilah
jenis
pernafasan
pasien
(jenis
pernafasan normal) :
Apakah torakoabdominal (terutama pada wanita).
Apakah abdominotorakal (terutama pada pria).
Amatilah apakah terdapat jenis pernafasan
abnormal seperti :
Pernafasan torakal.
Pernafasan abdominal.
Pursed Lips Breathing.
Pernafasan cuping hidung yang cepat dan
dangkal.

Irama Pernafasan
Amatilah irama pernafasan pasien. Irama
pernafasan normal adalah, pernafasan yang silih
berganti antara inspirasi dan ekspirasi, dengan
frekuensi yang normal
Amatilah ada tidaknya irama pernafasan yang
abnormal seperti :
Bradipneu.
Takipneu.
Hiperpneu.
Pernafasan Cheyne Stokes.
Pernafasan Biot.
Sighing Respiration.

Palpasi
Palpasi kelenjar getah bening kepala & leher (di
bahas lebih lanjut pada pemeriksaan fisik Blok
Sistem Organ Khusus)
Palpasi trakea.
Palpasi statis dinding dada anterior.
Palpasi dinamis :
Pemeriksaan ekspansi paru.
Pemeriksaan tactile vocal fremitus.

Palpasi KGB Kepala & Leher

Kelenjar Getah Bening Kepala & Leher

Palpasi Trakea
Pemeriksa berada di depan pasien.
Letakkanlah ujung jari telunjuk tangan kanan
(dapat juga dengan ujung jari tengah dan jari
manis) pada lekukan suprasternal.
Tekanlah jari ke arah trakea secara perlahanlahan, kemudian geser jari perlahan-lahan ke
arah atas untuk menilai ada tidaknya deviasi
trakea.
Pada orang yang normal posisi trakea terletak
pada garis tengah tubuh.
Terkadang dapat juga ditemukan adanya deviasi
trakea ringan ke arah kanan pada orang normal.

Palpasi Trakea

Palpasi Trakea

Palpasi Dinding Toraks Anterior (palpasi


statis)
Lakukan palpasi dinding toraks anterior, dengan
telapak tangan untuk menentukan ada tidaknya
kelainan pada dinding dada.
Tentukan ada tidaknya kelainan pada dinding
dada, misalnya seperti :
Nyeri tekan pada dinding dada.
Krepitasi karena emfisema subkutis.
Tumor.

Pemeriksaan Ekspansi Paru (palpasi dinamis)


Letakkan kedua telapak tangan, dan ibu jari
secara simetris pada masing-masing tepi iga,
sedangkan jari-jari lainnya menjulur sepanjang
sisi lateral lengkung iga.
Kedua ibu jari harus saling berdekatan di garis
tengah, dan sedikit diangkat, agar dapat
bergerak bebas secara simetris saat pasien
menarik nafas (inspirasi).
Bila terdapat kelainan pada salah satu sisi toraks,
ekspansi dada pada sisi tersebut akan berkurang,
sehingga gerakan kedua ibu jari menjadi tidak
simetris.

Pemeriksaan Ekspansi Paru (palpasi dinamis)

Pemeriksaaan Ekpansi Paru Dinding Toraks Anterior &


Posterior

Pemeriksaan Tactile Vocal Fremitus (palpasi


dinamis)
Letakkan kedua telapak tangan pada permukaan dinding
toraks.
Mintalah pasien menyebutkan kata-kata yang menimbulkan
resonansi yang tinggi sehingga getaran suara yang teraba
pada dinding toraks akan terasa lebih jelas seperti angka
77 atau 99.
Rasakanlah getaran suara yang timbul dengan seksama.
Bandingkanlah tactile vocal fremitus pada yang dirasakan
pada telapak tangan kanan dan kiri pada dinding toraks
anterior maupun posterior, mulai dari bagian atas, tengah
dan bawah. Apakah fremitus normal, melemah (pada
emfisema atau pneumotoraks), atau mengeras (pada
pneumonia atau Tb paru aktif).
Setiap melakukan pemeriksaan tactile vocal fremitus,
kedua telapak tangan harus disilangkan secara bergantian
untuk konfirmasi getaran suara yang dirasakan, bila terasa

Pemeriksaan Tactile Vocal Fremitus (palpasi


dinamis)

Pemeriksaan Tactile Vocal Fremitus

Perkusi
Teknik perkusi dasar dinding
toraks.
Perkusi batas paru-hati.
Peranjakan hati.
Perkusi dinding toraks posterior.

Teknik Perkusi Dasar Dinding


Toraks
Letakkan telapak tangan kiri pada dinding toraks.
Tekan sedikit jari telunjuk atau jari tengah tangan kiri (jari
fleksimeter) pada sela iga daerah toraks yang akan
diperiksa.
Ketuklah bagian tengah falang medial dari jari fleksimeter
dengan ujung jari tengah kanan (jari fleksor) dengan
menggunakan sendi pergelangan tangan sebagai poros.
Lakukanlah perkusi secara bergantian pada sela iga dinding
toraks sebelah kanan ke sela iga dinding toraks sebelah
kiri, dimulai dari toraks sebelah atas, tengah dan bawah
pada dinding toraks anterior.
Lakukanlah teknik perkusi yang sama, pada dinding toraks
posterior.
Lakukanlah penilaian terhadap suara perkusi yang timbul
pada dinding toraks pasien apakah sonor (normal),
hipersonor (pada PPOK), redup (pada efusi pleura) dan
beda (pada efusi pleura masif)

Teknik Perkusi Dinding Toraks

Lokasi Titik Perkusi Dinding Toraks Anterior & Posterior

Perkusi Batas Paru-Hati


Tentukanlah garis pedoman pemeriksaan yaitu
garis midklavikula kanan .
Lakukanlah perkusi pada sela-sela iga, di
sepanjang garis midklavikula kanan dari atas ke
bawah.
Bandingkan perubahan bunyi ketukan yang
terdengar. Pada perkusi sela iga ke-4 dan ke-5,
terjadi perubahan bunyi ketukan dari sonor
menjadi sonor memendek yang dinamakan batas
paru-hati relatif.
Bandingkan perubahan bunyi ketukan yang
terdengar. Pada perkusi sela iga ke-5 dan ke-6,
terjadi perubahan bunyi ketukan dari sonor
memendek
menjadi
pekak
(beda)
yang

Peranjakan Hati (hepar)


Letakkan 2 jari tangan kiri tepat di bawah batas
paru hati absolut yaitu pada sela iga ke-6 dan 7.
Mintalah pasien menarik nafas yang dalam
kemudian ditahan, sementara itu pemeriksa
melakukan perkusi pada kedua jari tersebut.
Dalam keadaan normal akan terjadi perubahan
bunyi perkusi, dari pekak (beda) menjadi sonor
disebabkan terdorongnya hati ke arah bawah,
karena terdorong oleh paru yang mengembang
maksimal.
Peranjakan hati dalam keadaan normal adalah
sebesar 2 jari.

Perkusi Dinding Toraks


Posterior
Mintalah penderita untuk menyilangkan
kedua lengannya di dada, dengan kedua
telapak tangan diletakkan pada masingmasing bahu secara kontralateral.
Lakukanlah perkusi secara bergantian
pada sela iga dinding toraks sebelah
kanan, ke sela iga dinding toraks sebelah
kiri, dimulai dari toraks sebelah atas,
tengah dan bawah pada dinding toraks
posterior.

Teknik Auskultasi
Letakkanlah stetoskop pada seluruh dinding
toraks secara sistematis dan bergantian, pada
sela iga dinding toraks sebelah kanan ke sela iga
dinding toraks sebelah kiri, dimulai dari toraks
sebelah atas, tengah dan bawah pada dinding
toraks anterior.
Mintalah pasien untuk melakukan inspirasi dan
ekspirasi, lalu dengarkanlah dengan seksama
suara nafas yang terdengar.
Lakukanlah teknik pemeriksaan auskultasi yang
sama, pada dinding toraks posterior.

Teknik Auskultasi

Lokasi Pemeriksaan Auskultasi Dinding Toraks Anterior &


Posterior

Suara Nafas
Suara nafas normal :
Vesikuler.
Bronkial.
Bronkovesikuler.
Suara nafas tambahan :
Ronkhi basah.
Ronkhi kering dan wheezing.
Bising gesek pleura.
Bising krepitasi.

Penilaian Auskultasi
Lakukanlah penilaian terhadap suara pernafasan
normal (terutama vesikuler), yang terdengar dari
stetoskop :
Intensitas (normal, melemah, atau mengeras)
Letaknya, apakah terdengar pada tempat yang
seharusnya, atau tidak (misalnya terdengarnya
suara bronkial pada lapangan perifer paru, karena
adanya penghantar seperti infiltrat atau tumor).
Dengarkanlah dengan seksama ada tidaknya
suara nafas tambahan, seperti ronkhi basah,
ronkhi kering, mengi, dan krepitasi.