Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Deskripsi Tanaman Manggis
1. Klasifikasi
Kerajaan
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Bangsa
: Malpighiales
Suku
: Clusiaceae
Marga
: Garcinia
Jenis
: Garcinia mangostana
2. Nama Umum
3. Nama Daerah
4. Morfologi
5. Kandungan Kimia
Kandungan zat aktif kulit buah manggis adalah xanthones (9H-xanthen-9-one
dibenzo--pirone 1) dan derivatnya dengan aktivitas biologis sebagai antioksidan, peredam
radikal bebas dan penghambat perosidasi lipid. Derivatnya antara lain adalah senyawa ,
dan -mangostin, nor-mangostin dan gartanin yang diekstrak dengan berbagai larutan
yang berbeda dan kemampuannya sebagai antioksidan dapat diukur dengan beberapa
assay yang berbeda, antara lain Ferric Reducing Ability of Plasma (FRAP) assay.
Senyawa -mangostin dan -mangostin merupakan komponen utama dalam ekstrak kulit
buah manggis, tergantung dari jenis (species) nya dengan struktur kimia yang berbedabeda (Pothitirat 2008).

Gambar
kimia

Struktur

mangostin.

Pedraza-Chaverri et al (2008), menelaah manfaat medis (medicinal properties)


atas ekstrak kulit buah manggis dan menyimpulkan beberapa manfaat, antara lain
sebagai:

a) Anti oksidan, anti inflamasi dan danti alergi


Kandungan zat aktif ekstrak kulit buah manggis adalah xanthones, yang
bersifat sebagai anti-oksidan yang kuat setelah diuji dengan metode
Kromatografi

Lempeng

Tipis

memakai

senyawa

2,2-diphenyl-1-

picrylhydrazyl DPPH. Xanthones juga dapat menghambat produksi proinflammatory cytokines, sehingga meredakan proses inflamasi. Dengan
demikian xanthones dapat menghambat produksi ROS (Kumar 2011).
b) Anti mikroba, anti jamur,dan anti virus termasuk anti plasmodium
Ekstrak kulit buah manggis memiliki sifat anti-mikroba terhadap bakteri
Propionibacterium acnes dan Staphilococcus epidemidis yang umumnya
menginfeksi kelenjar sebasea di permukaan kulit, termasuk infeksi pada
kasus jerawat (Chomnawang 2007).
c) Anti Kanker
Beberapa uji pra-klinik pada hewan coba tikus menunjukkan manfaat zataktif - mangostin (derivat xanthone) sebagai chemopreventive pada lesi
praneoplastik kolon (Nabandith 2004).
6. Khasiat
Secara tradisional pohon manggis telah dimanfaatkan, dari bagian:
a)

Kulit batang pohon sebagai astringent untuk sariawan

b)

Daun sebagai astringent untuk sariawan dan luka

c)

Kulit buah (rind, pericarp) untuk disentri

d)

Buah (peel) untuk diare dan disentri

e)

Akar (root) untuk gangguan haid

B. Kandungan Gizi Buah Manggis


C. Khasiat Buah Manggis Secara Empiris
D. Efek Farmakologi Buah Manggis Berdasarkan Hasil Penelitian
1. Anti Hiperlipidemia
Sondang Manurung, dkk telah meneliti efek anti hiperglikemia dari ekstrak kulit
buah manggis pada tikus putih jantan galur wistar yang diinduksi sukrosa dan
membandingkan efektivitasnya dengan glibenklamid. Tiga kelompok uji tikus jantan
diinduksi dengan larutan sukrosa. Lalu kelompok pertama diberi aquadest, kelompok kedua
diberi ekstrak kulit buah manggis 20% dan kelompok ketiga diberi glibenklamid 0.3030
mg/g BB. Dari hasil yang didapatkan diketahui bahwa ekstrak kulit buah manggis 20%
dapat menurunkan kadar gula darah ke level normal sama dengan efek yang ditimbulkan

glibenklamid. Hal tersebut karena dalam ekstrak kulit buah manggis mengandung senyawasenyawa yang dapat berperan sebagai zat antihiperglikemik pada tikus yang diinduksi
sukrosa. Senyawa-senyawa dari kulit buah manggis yang diketahui dapat berperan untuk
menurunkan kadar gula darah bahkan mencegah terjadinya komplikasi, yaitu vitamin C
(Asam askorbat) yang dapat menurunkan kadar sorbitol (gula yang merusak saraf, mata,
dan ginjal) dalam tubuh, vitamin B (Niasin) untuk membantu memperbaiki sel pankreas
dalam memproduksi insulin dan vitamin B6 yang dapat mencegah diabetes mellitus
neuropathy (dengan gejala kesemutan, mati rasa, rasa sakit dan otot lemah) dan membantu
magnesium masuk ke dalam sel. (Manurung dkk 2011).
2. Anti Bakteri
Manggis (Garcinia mangostana L) merupakan salah satu buah yang sangat
bermanfaat yang mengandung senyawa Xanthone yang terdiri dari molekul kecil seperti
mangostin, mangostenol, mangostinon A, mangostinon B, trapezifolixanthone, tovophyllin
B, alfa mangostin, beta mangostin, garcinon B, mangostanol, flavonoid epicatechin, dan
gartanin sehingga dapat digunakan sebagai antibakteri.
.Ekstrak kulit manggis diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut

alkohol 70%. Metode pengujian aktivitas antibakteri dengan metode difusi dan dilusi
terhadap Staphylococcus aureus. Pengenceran ekstrak kulit manggis dibuat dalam berbagai
konsentrasi dengan menggunakan aquadest steril.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa ekstrak kulit manggis mempunyai aktivitas
antibakteri, hal ini di dukung oleh sejumlah penelitian yang dilakukan yang menunjukan
bahwa kulit buah manggis mempunyai daya antibakteri terhadap beberapa bakteri. Seperti
penelitian yang dilakukan oleh Suksamran pada tahun 2003, kandungan alpha-mangostin,
beta-mangostin dan garcinone B pada kulit manggis mampu menghambat pertumbuhan
bakteri Mycobacterium tuberculosis penyebab penyakit paru- paru atau tuberculosis (TBC).
Selain itu juga hasil penelitian tentang xanthone dari tepung kulit manggis membuktikan
bahwa xanthone mampu mematikan bakteri Salmonella enteritidis yang sering
menyebabkan penyakit melalui komsumsi makanan (foodborne disease). Ekstrak kulit
manggis dapat merangsang produksi sel fagositik yang akan mematikan bakteri intraseluler
(Raharjati 2012).
E. Uji Praklinik Buah Manggis
1. Uji Toksisitas
Uji toksisitas akut dengan dosis 2, 3 dan 5 g/kg berat badan (BB) per oral pada
hewan coba Swiss albino mice, dan diobservasi gejala toksisitasnya pada jam ke-1, 2, 4

dan 6. Uji

toksisitas

subakut

juga dilakukan

dengan

pemberian

oral selama

28 hari dengan

dosis 0, 50,

500 dan 1000

mg/kg BB.

Hasilnya

per

tidak

menunjukkan
tanda-tanda

patologis

organ

hewan coba.
Uji toksisitas akut dengan dosis 2 dan 5 kg/BB dan subkronik dengan

pada
dosis

400, 600 dan 1200 mg/kg BB per oral selama 12 minggu pada hewan coba Wistar rats,
tidak menimbulkan kelainan pada parameter pemeriksaan darah dan tidak menunjukkan
adanya kelainan histopatologis pada organ-organ vital.
Uji toksisitas kronis dengan dosis 10, 100, 500, dan 1000 mg/kg BB per oral
selama 6 bulan pada Wistar rats, tidak menunjukkan kelainan farmakotoksik maupun
parameter hematologis. Namun pada dosis lebih besar dari 500mg/kg BB, terjadi
peningkatan ALT, AST, BUN dan creatinine.
Median lethal dose (LD50) ekstrak air Garcinia mangostana adalah sebesar 9.37
g/kg pada mencit, dan pemberian suspensi -mangostin per oral sampai 10 g/kg BB
mencit, tidak menyebabkan kematian dalam waktu 24 jam (Sutono 2013).
2. Bioavaibilitas Zat Aktif Ekstrak Kulit Buah Manggis
Penelitian bioavailabilitas -mangostin pada manusia menunjukkan bahwa setelah
mengkonsumsi per oral 59 ml suplemen likuid yang mengandung mangostin, aloe vera,
green tea dan multivitamin menunjukkan, kadar maksimum plasma (C max) adalah 3.12
1.47 ng/mL pada satu jam pertama (tmax) kemudian menurun sampai 1/3 dari Cmax
pada jam ke-4 dan kadar ini bertahan selama 6 jam.

Gambar 2 Ketersediaan hayati (bioavailability) -mangostin pada manusia.


Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka pada penelitian ini, kapsul ekstrak
kulit buah manggis diberikan kepada subyek penelitian dengan dosis 3 kali 1 kapsul per
hari (Sutono 2013).
3. Farmakokinetik Zat Aktif Ekstrak Kulit Buah Manggis
Penelitian farmakokinetik -mangostin pada tikus (male Spraque-Dawley rats, 6-7
weeks, 250 12 g) yang diberi -mangostin per oral dengan dosis 40 mg/kg BB tikus
(setara dengan 8 mg/200 g BB tikus) menunjukkan parameter farmakokinetik seperti
yang terlihat pada Tabel 1dan konsentrasi mangostin dalam plasma tikus seperti terlihat
pada Gambar 3 (Sutono 2013).
Tabel 1 Parameter farmakokinetik pada
tikus yang diberi mangostin 40 mg/kg BB
per oral
Parameter
Farmakokinetik
T max (min)
Cmax (g mL-1)
AUC (g min mL1) Half-life (h)

Kadar dalam plasma setelah pemberian


mangostin 40 mg/kg BB per oral
62.99
4.79
702.45
7.24

Gambar 3 Profil konsentrasi mangostin dalam plasma


tikus setelah pemberian dosis 40 mg/kg BB per oral.
F. Uji Klinik Buah Manggis

Toni Sutono melakukan uji klinik dalam tesisnya yang berjudul Efektivitas Ekstrak
Etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L) Meredam Stres Oksidatif Penderita
Jerawat (acne vulgaris) Derajat Ringan dan Sedang Pada Siswa Di Asrama Akademi
Perawatan Di Jakarta.
Uji klinik dilakukan secara acak dengan pembanding acak dan tersamar ganda
selama 3 minggu pada 94 subjek berjerawat ringan dan sedang, berumur 18-30 tahun yang
tinggal di asrama agar relatif homogen. Parameter penelitian ini adalah derajat keparahan
jerawat menurut kriteria Lehman dan kadar malondialdehid (MDA) di dalam darah subjek.
Dengan menggunakan tabel konversi Lawrence dan Bacharach, dan ekstrapolasi
menggunakan luas permukaan tubuh, maka dosis pada manusia (dengan berat badan 70kg)
adalah 56/0.14 kali dosis tikus (dengan berat badan 200g), sama dengan 3200mg perhari. Pada
manusia dengan BB 50Kg, maka dosis perhari adalah 50/70 x 3200mg = 2286mg.
Penelitian ini memakai sediaan kapsul ekstrak etanol kulit buah manggis (EKBM)
yang sudah beredar dipasaran yaitu yang diperoleh dari PT Sido Muncul, yang melakukan
ekstraksi dengan metoda perkolasi menggunakan pelarut etanol 40%, dikemas dalam kapsul.
Subyek penelitian diberi dosis minimum, yakni 3 kali sehari 1 kapsul @ 400mg
selama 3 minggu masa penelitian., dengan jadwal yang disesuaikan dengan ketersediaan
hayatinya (bioavailability), sebagai berikut:
a. jam sebelum makan pagi (sekitar jam 6:30)
b. jam sebelum makan siang (sekitar jam 12:30)
c. jam sebelum makan malam (sekitar jam 18:30)
Kepada subjek penelitian (SP) kelompok perlakuan diberikan peroral kapsul EKBM
dengan dosis seperti di atas. sedangkan

SP kelompok kontrol diberikan kapsul plasebo

dengan dosis yang sama, 3 x 1 kapsul setiap hari selama 3 minggu masa penelitian.
Setiap pagi sesudah bangun tidur dan sore hari, semua SP diminta untuk mencuci
wajahnya dengan sabun bayi, setiap hari selama 3 minggu masa penelitian.
Obat standar diberikan kepada semua SP, baik pada kelompok kontrol maupun kelompok
perlakuan, karena Komite Etik Penelitian Kesehatan FKUI-RSCM mensyaratkannya,
disamping pemberian kapsul EKBM yang menjadi bahan uji. Obat standar yang diberikan
adalah sediaan krim yang mengandung asam retinoat 0,025% yang digunakan secara topikal
pada wajah berjerawat derajat ringan dan sedang, setiap malam, selama 3 minggu masa
penelitian.
Periode 3 minggu penelitian untuk menilai efektivitas ekstrak herbal berbahan alam
dipandang terlalu pendek, namun dilaksanakan dengan pertimbangan kepatuhan SP pada

protokol penelitian dan biaya penelitian. Selama periode 3 minggu tersebut, tidak ada keluhan
dari SP yang dapat diduga sebagai gejala efek samping dan intoksikasi akibat pemberian
ekstrak kulit buah manggis (EKBM), walaupun tidak dilakukan pemeriksaan fungsi hati dan
fungsi ginjal pada SP.
Pada penelitian uji klinis ini, EKBM diberikan per oral kepada manusia, dimana EKBM
mengalami proses metabolisme di dalam tubuh dan antioksidan yang berasal dari EKBM
bekerja secara sistemik. Ada kemungkinan bahwa efektifitas antioksidan (xanthone) tersebut
tidak spesifik untuk jerawat.
Dari hasil penelitian ini, pada SP berjerawat ringan dan sedang, nilai MDA pada
kelompok kontrol 1.736 1.241 dan pada kelompok perlakuan 1.310 0.928. Setelah 3
minggu perlakuan, kadarnya turun, yaitu kelompok control 1.070 0.477

dan pada

kelompok perlakuan 1.007 0.304.


Penurunan kadar MDA tersebut belum mencapai kadar MDA pada orang sehat, karena
pada akhir periode penelitian SP masih berjerawat. Apabila periode penelitian diperpanjang
(lebih dari 3 minggu), kemungkinan kadar MDA akan mendekati kadar pada orang sehat.
Pada kasus jerawat beradang (papula dan pustula) terjadi inflamasi yang diakibatkan
oleh stres oksidatif dan pengaruh ROS. EKBM mengandung zat aktif xanthone yang berefek
sebagai antioksidan yang kuat untuk meredam stres oksidatif. Peredaman stres oksidatif
tersebut terjadi oleh xanthone (golongan polifenol) dengan cara mendonasikan atom H yang
berasal dari hidroksil aromatik (OH), sehingga dapat meredakan aktivitas unpaired electron
pada radikal bebas. (Fang 2002 )
Dengan demikian, kasus jerawat yang diawali oleh peroksidasi lipid, dapat diredam
oleh antioksidan. Secara klinis, peredaman tersebut dapat diukur dengan parameter nilai MDA
dalam darah penderita jerawat, dan berkurangnya tingkat keparahan jerawat.
Dalam penelitian ini, secara klinis telah terjadi penurunan kadar MDA dan pengurangan
keparahan jerawat beradang (papula dan pustula), yang ditunjukkan dengan menurunnya
proporsi SP yang jumlah lesi jerawatnya berkurang >20%, walaupun secara statistik tidak
bermakna.
Berdasarkan analisis hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian kapsul
EKBM pada penderita jerawat ringan dan sedang dengan per oral selama periode 3 minggu,
dapat membantu mengurangi keparahan jerawat (derajat ringan dan sedang) dan dapat
menurunkan kadar MDA dalam plasma darah subyek penelitian, namun secara statistik tidak
bermakna.

DAFTAR PUSTAKA
Pothitirat W, Gritsanapan W. Quantitative analysis of total mangostins in Garcinia
mangostana fruit rind. J Health Res. 2008; 22:161-6.
Nabandith V, Suzuli M, Morioka T, Kaneshiro T, Kinjo T, Matsumoto K, et al.
Inhibitory effect of crude -mangostin, a xanthone derivative, on two different categories
of colon preneoplastic lesions induced by 1, 2-dimethylhydralazine in the rat. Asian Pac J
Cancer Prev. 2004; 5:433-8.
Pedraza-Chaverri J, Cardenas-Rodriguez N, Orozzco-Ibarra M, Perez-Rojas JM.
Medicinal properties of mangosteen (Garcinia mangostana). Food and Chemical
Toxicology. 2008; 46:322739.
Chomnawang MT. Effect of Garcinia mangostana on inflammation caused by
Propionibacterium acnes. Fitoterapia. 2007; 78:401-8.
Kumar S. Free radicals and antioxidants: human and food system. Adv Appl Sci Res.
2011; 2:129-35.
Fang YZ, Yang S, Wu GY. Free radicals, Antioxidants, and Nutrition. Nutrition.
2002; 18:872-9.
Sutono T. 2013. Efektivitas Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia
mangostana L) Meredam Stres Oksidatif Penderita Jerawat (acne vulgaris) Derajat
Ringan dan Sedang Pada Siswa Di Asrama Akademi Perawatan Di Jakarta. Tesis.
Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, Depok. Hlm. 11
Manurung S, dkk. 2011. Efek Antihiperglikemia Dari Ekstrak Kulit Buah Manggis
(Garcinia mangostana L.) Terhadap Tikus Putih Jantan Galur Wistar (Rattus
norvegicus L.) yang Diinduksi Sukrosa. Manado: FMIPA UNSRAT
Raharjati D.P, Nony Puspawati.2012. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit
Manggis (Garcinia mangostana L.) Terhadap Staphylococcus aureus.
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=153035&val=5912. Diakses
13 November 2015.