Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

Cara Merawat Orang Sakit dan Merawat Jenazah


Pembimbing : drs. Ngadino, M.Ag
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan
Pendidikan Program Profesi Dokter Umum
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta

Disusun Oleh :
IGN Surya Dharma
J510155006
KEPANITERAAN KLINIK
BAITUL INSAN KAMIL
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015

LEMBAR PENGESAHAN
MAKALAH
Cara Merawat Orang Sakit dan Merawat Jenazah
Yang diajukan Oleh :
IGN Surya Dharma

J5101550006

Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program pendidikan Profesi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Pada hari.....................tanggal ...........................

Pembimbing
drs. Ngadino, M.Ag

(..)

Disahkan Ka Profesi FK UMS


Nama

: dr. D. Dewi Nirlawati

(..)

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Memandikan jenazah adalah salah satu kewajiban yang harus dilakukan orang
saat ada orang yang meninggal dunia. Namun, tidak semua orang berani untuk
melakukannya. Apalagi jika orang yang meninggal tersebut memiliki riwayat
penyakit yang membuat tubuhnya tidak dalam kondisi baik lagi atau orang
tersebut meninggal karena kecelakaan yang menyebabkan kondisi fisik mayat
tersebut sangat memperihatinkan. Selain itu juga mitos-mitos orang meninggal
yang katanya menakutkan dan kalau melihat langsung dapat terbawa sampai ke
mimpi, padahal itu hanya sugesti sebagian orang saja yang selalu berfikir ke arah
yang mistis.
Namun sesungguhnya sangat disayangkan jika ada orang yang takut untuk
memandikan jenazah, karena suatu saat nanti kita juga akan menjadi seperti orang
yang meninggal tersebut. Bayangkan jika semua orang takut untuk memandikan
jenazah, bagaimana jika nanti kita yang mengalaminya lalu tidak ada orang yang
berani untuk memandikannya. Ataupun jika sanak-saudara kita atau bahkan orang
tua kita yang pergi labih dulu apakah kita akan tetap takut untuk memandikannya?
Jawabannya haruslah tidak kita hendaknya tidak takut untuk malakukan hal
tersebut karena suatu saat nanti kita akan dibutuhkan untuk hal itu.
Memandikan jenazah juga sangat berikatan dengan akhlak dan kekuatan hati
atau iman. Orang-orang yang sudah terbiasa memandikan jenazah adalah orang
yang bisa dikatakan bagus akhlaknya, kuat hati dan imannya. Kenapa? Karena
memandikan jenazah itu tidak semudah kedengarannya atau kelihatannya.
Memandikan jenazah itu harus sangatlah bersih dan tidak boleh tersisa kotoran
sedikitpun. Bayangkan orang yang memandikan jenazah itu harus mengeluarkan
kotoran mayat itu sampai bersih, lebih lagi jika kondisi mayat nya yang kurang
baik,dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Haruslah hatinya kuat untuk
menghadapi itu semua agar tetap tegar dan tidak trauma untuk memandikan
jenazah, yang baik kondisinya maupun yang kondisi nya sudah memperihatinkan.

Mengurusi orang yang sakit parah itu juga sangatlah berbeda dengan
mengurusi orang yang sakit biasa. Orang yang sakit parah memerlukan banyak
bimbingan dari banyak orang pula. Karena saat seseorang sakit parah atau
sakarotul maut, orang tersebut akan terasa sangat terganggu oleh syaitan yang
akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Jadi saat seseorang sakit parah
hendaknya kita selalu menemaninya dan jangan meninggalkannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. SAKIT
1. Doa orang yang sedang sakit
Hadits dari Imam Muslim dari Utsman bin Abul Ash bahwa ia
mengadukan rasa sakit yang dideritanya kepada Rasulullah saw, maka
beliau saw pun bersabda: Letakkanlah tanganmu diatas bagian tubuh yang
terasa sakit itu dan ucapkanlah Bismillah, lalu bacalah sebanyak tujuh
kali: Auzu biizzatillahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaaziru
Aku berlindung dengan kemuliaan dan kekuasaan Allah dari bencana
penyakit yang kurasakan dan kucemaskan ini. Kata Utsman: kulakukanlah
seperti itu berkali-kali hingga Allah menghilangkan rasa sakitku.
Selanjutnya akupun senantiasa menganjurkan keluargaku untuk melakukan
hal yang sama (HR Muslim). Itulah antara lain doa yang diajarkan kepada
kita ketika sakit. Pada dasarnya kesembuhan itu hanya datang dari Allah dan
hanya Allah-lah yang dapat menyembuhkan hambaNya yang sakit.

2. Tata Cara Menjenguk Orang Sakit


Menjenguk orang sakit termasuk perkara yang disyariatkan Islam.
Bahkan dijadikannya sebagai satu bagian dari hak muslim yang atas muslim
lainnya. Janji ganjaran yang disediakan juga sangat menggiurkan. Semua itu
untuk memotifasi muslim agar menghidupkan akhlak Islam yang agung
guna tercipta kehidupan masyarakat muslim yang harmonis dan peduli.
Bagi seorang muslim yang menjenguk sesamanya dianjurkan untuk
menghiburnya, meringankan bebannya, dan mendoakan kesembuhan
baginya. Karena hal itu memiliki dampak baik bagi diri orang yang sakit.
Maka di antara yang bisa disampaikan oleh orang yang menjenguk adalah:
a. Dianjurkan menanyakan tentang kondisinya, seperti: Bagaimana
keadaanmu ? apa yang kamu rasakan ?, dan semisalnya. Hal itu telah

dilakukan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam saat menjenguk


seorang pemuda yang sedang sakit dan mendekati kematiannya. (HR.
Al-Tirmidzi no. 983 dan dihassankan oleh Syaikh Al-Albani).
Diriwayatkan juga dalam Shahihain, dari Aisyah Radhiyallahu 'Anha,
saat ia menjenguk Abu Bakar dan Bilal yang sedang sakit demam
tinggi lalu ia menanyakan apa yang dirasakan.
b. Menghiburnya dengan kesabaran dan ridha dengan takdir, bahwa sakit
yang dideritanya menjadi penghapus dosanya.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, ia berkata,
"Adalah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam apabila menjenguk orang
sakit beliau berkata padanya,




"Tidak apa-apa, Insya Allah Suci (dari dosa-dosa dan kesalahan)."
(HR. al-Bukhari)
c. Mendoakan kesembuhan untuknya sebanyak tiga kali sebagaimana
pernah diucapkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam saat menjenguk
Sa'ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Allahumma
Isyfi Sa'dan (Ya Allah sembuhkanlah Sa'ad) sebanyak tiga kali." (HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
d. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengusapkan telapak tangan
kanannya atas orang sakit sambil beliau berdoa
e. Diriwayatkan Imam Ahmad dan Abu Dawud, Nabi Shallallahu 'Alaihi
Wasallam bersabda, "Siapa yang menjenguk orang sakit yang belum
sampai ajalnya, lalu dia mendoakannya sebanyak tujuh kali:




"Saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Rabb 'Arsy yang
Agung,

agar

Dia

menyembuhkannya."

Pasti

Allah

akan

menyembuhkannya. (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam


Shahih Abi Dawud).

3. Manfaat menjenguk orang sakit


Menjenguk orang sakit memiliki beberapa manfaat, diantaranya:
a. Menjenguk orang sakit berpotensi memberi perasaan dan kesan
kepadanya bahwa ia diperhatikan orang-orang disekitarnya, dicintai, dan
diharapkan segera sembuh dari sakitnya. Hal ini dapat menentramkan
hati si sakit.
b. Menjenguk orang sakit dapat menumbuhkan semangat, motivasi, dan
sugesti dari pasien; hal ini dapat menjadi kekuatan khusus dari dalam
jiwanya untuk melawan sakit yang dialaminya. Dalam dirinya ada energi
hebat untuk sembuh.
c. mencari tahu apa yang diperlukan si sakit.
d. mengambil pelajaran dari penderitaan yang dialami si sakit.
e. mendoakan si sakit
f. melakukan ruqyah (membaca ayat-ayat tertentu dari Al Quran) yang
syari.
4. Doa menjenguk orang sakit





Allohumma Robbannaas azhibil basa isyfihi wa antasy syaafi laa
syifaaan illa syifaauka syifaaan yaa yughoodiru saqoman
Artinya ;
Ya Allah Wahai Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakitnya,
sembukanlah ia. (hanya) Engkaulah yang dapat menyembuhkannya, tidak
ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak
kambuh lagi. ( HR. Bukhori Muslim)

5. Dasar hukum menjenguk orang sakit


Hukum menjenguk atau mengunjungi orang sakit adalah sunnah
mu'akkadah atau bahkan fardhu kifayah menurut sebagian ulama. Berikut
dalil dasarnya:
a. Hadits sahih riwayat Bukhari:

, ,
Artinya: Berilah makan orang lapar. Dan jenguklah orang sakit.
b. Hadtis sahis riwayat Muslim
:

Artinya: Ada 5 (lima) hal yang wajib bagi seorang muslim pada sesama
muslim lain: menjawab salam, memberi minum orang haus, menghadiri
undangan, menengok orang sakit dan mengantar jenazah.
c. Hadits sahih riwayat Muslim

Artinya: Orang muslim yang menengok saudaranya yang muslim (yang
sedang sakit) maka dia senantiasa di sisi surga sampai dia kembali.

B. SAKARATUL MAUT

1. Tata cara menuntun sakaratul maut


tata cara untuk menuntun seseorang yang telah mengalami sakaratul Maut:
a. Menalqin(menuntun) dengan syahadat
Sesuai sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Talqinilah orang
yang akan wafat di antara kalian dengan, Laa illaaha illallah.
Barangsiapa yang pada akhir ucapannya, ketika hendak wafat, Laa
illaaha illallaah, maka ia akan masuk surga suatu masa kelak,
kendatipun

akan

mengalami

sebelum

itu

musibah

yang

akan

menimpanya. Perawat muslim dalam mentalkinkan kalimah laaillallah


dapat dilakukan pada pasien muslim menjelang ajalnya terutama saat
pasien akan melepaskan nafasnya yang terakhir sehingga diupayakan
pasien meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Para ulama berpendapat, Apabila telah membimbing orang yang akan
meninggal dengan satu bacaan talqin, maka jangan diulangi lagi. Kecuali
apabila ia berbicara dengan bacaan-bacaan atau materi pembicaraan lain.

Setelah itu barulah diulang kembali, agar bacaan La Ilaha Illallha


menjadi ucapan terakhir ketika menghadapi kematian. Para ulama
mengarahkan pada pentingnya menjenguk orang sakaratul maut, untuk
mengingatkan, mengasihi, menutup kedua matanya dan memberikan hakhaknya." (Syarhu An-nawawi Ala Shahih Muslim : 6/458)
Ciri-ciri pokok pasien yang akan melepaskan nafasnya yang terakhir,
yaitu :
1) penginderaan dan gerakan menghilang secara berangsur-angsur yang
dimulai pada anggota gerak paling ujung khususnya pada ujung kaki,
tangan, ujung hidung yang terasa dingin dan lembab,
2) kulit nampak kebiru-biruan kelabu atau pucat.
3) Nadi mulai tak teratur, lemah dan pucat.
4) Terdengar suara mendengkur disertai gejala nafas cyene stokes.
5) Menurunnya tekanan darah, peredaran darah perifer menjadi terhenti
dan rasa nyeri bila ada biasanya menjadi hilang. Kesadaran dan
tingkat kekuatan ingatan bervariasi tiap individu. Otot rahang menjadi
mengendur, wajah pasien yang tadinya kelihatan cemas nampak
lebih pasrah menerima.
b. Hendaklah mendoakannya dan janganlah mengucapkan dihadapannya
kecuali kata-kata yang baik
Berdasarkan hadits yang diberitakan oleh Ummu Salamah bahwa
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda.
Artinya : Apabila kalian mendatangi orang yang sedang sakit atau orang
yang hampir mati, maka hendaklah kalian mengucapkan perkataan yang
baik-baik karena para malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan.
Maka perawat harus berupaya memberikan suport mental agar pasien
merasa yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan selalu memberikan yang
terbaik buat hambanya, mendoakan dan menutupkan kedua matanya
yang terbuka saat roh terlepas dari jasadnya.
c. Berbaik Sangka kepada Allah

Perawat membimbing pasien agar berbaik sangka kepada Allah SWT,


seperti di dalam hadits Bukhari Tidak akan mati masing-masing kecuali
dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah SWT. Hal ini
menunjukkan apa yang kita pikirkan seringkali seperti apa yang terjadi
pada kita karena Allah mengikuti perasangka umat-Nya
d. Membasahi kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut
Disunnahkan bagi orang-orang yang hadir untuk membasahi
kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut tersebut dengan air atau
minuman. Kemudian disunnahkan juga untuk membasahi bibirnya
dengan kapas yg telah diberi air. Karena bisa saja kerongkongannya
kering karena rasa sakit yang menderanya, sehingga sulit untuk berbicara
dan berkata-kata. Dengan air dan kapas tersebut setidaknya dapat
meredam rasa sakit yang dialami orang yang mengalami sakaratul maut,
sehingga hal itu dapat mempermudah dirinya dalam mengucapkan dua
kalimat syahadat. (Al-Mughni : 2/450 milik Ibnu Qudamah)
e. Menghadapkan orang yang sakaratul maut ke arah kiblat
Kemudian disunnahkan untuk menghadapkan orang yang tengah
sakaratul

maut

kearah

kiblat.

Sebenarnya

ketentuan

ini

tidak

mendapatkan penegasan dari hadits Rasulullah Saw., hanya saja dalam


beberapa atsar yang shahih disebutkan bahwa para salafus shalih
melakukan hal tersebut.
Para Ulama sendiri telah menyebutkan dua cara bagaimana
menghadap kiblat :
a) Berbaring terlentang diatas punggungnya, sedangkan kedua telapak
kakinya dihadapkan kearah kiblat. Setelah itu, kepala orang
tersebut diangkat sedikit agar ia menghadap kearah kiblat.
b) Mengarahkan bagian kanan tubuh orang yang tengah sakaratul
maut menghadap ke kiblat. Dan Imam Syaukai menganggap bentuk
seperti ini sebagai tata cara yang paling benar. Seandainya posisi
ini menimbulkan sakit atau sesak, maka biarkanlah orang tersebut
berbaring kearah manapun yang membuatnya selesai.

2. Adab-Adab Mentalqin Orang Hendak Meninggal


a. Hendaknya dilakukan secukupnya tanpa perlu mengulang-ulang
Para ulama memakruhkan talkin yang dilakukan berulang-ulang dan
terus menerus. Karena hal ini justru akan mengakibatkan seorang yang
sedang sakaratul maut merasa tertekan dengan tuntunan itu. Padahal ia
sedang merasakan penderitaan yang sangat. Sehingga ditakutkan akan
munculnya ketidaksukaannya terhadap kalimat ini di dalam qalbunya.
Bahkan bisa jadi akan ia ungkapkan dengan ucapannya, sehingga bukan
ucapan tauhid yang ia ucapkan, justru celaan dan kebencian terhadap
kalimat ini yang keluar dari mulutnya.
b. Cukup sekali, kecuali bila mengucap ucapan lainnya
Apabila orang yang sedang sakaratul maut telah mengucapkan kalimat
ini, maka telah mencukupi dan tidak perlu di-talkin lagi. Namun, bila
setelah ia mengucapkan kalimat ini ia mengucapkan kalimat lain, maka
perlu kembali di-talkin, sehingga kalimat ini adalah kalimat akhirnya.
c. Talkin adalah mengingatkan bukan memerintahkan
Kadang kita dapati seorang men-talkin saudaranya dengan kalimat
tauhid ini namun dengan cara memerintah. Padahal, talkin yang
dilakukan saat seperti ini sifatnya sekadar mengingatkan. Sebab, selain
dituntut untuk mengatakan kalimat tauhid, juga dituntut untuk meyakini
kandungan kalimat ini. Nah, kalau talkin ini bersifat perintah, boleh jadi
ia akan mengucapkannya karena tekanan perintah saja, sedangkan
jiwanya mengingkarinya. Lalu apakah artinya ucapan ini bila tidak
diyakini. Demikian yang dijelaskan oleh Asy Syaikh Ibnu Utsaimin
rahimahullah dalam Syarh Riyadush Shalihin.
d. Talkin diperuntukkan kepada seluruh orang
Yakni tidak khusus diperuntukkan untuk seorang muslim saja. Namun
juga dianjurkan bagi orang kafir untuk mengucapkan kalimat ini.
Diharapkan, di akhir hidupnya termasuk orang yang bertauhid.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wassalam men-talkin paman
beliau Abu Thalib tatkala menghadapi kematian.

e. Talkin dengan lafadz Allah saja


Sebagian orang berpendapat bahwa men-talkin boleh dengan lafadz
Allah saja. Alasannya khawatir dengan kalimat yang panjang, laa ilaaha
illallah, bisa jadi baru membaca laa ilaaha keburu mati. Sehingga
maknanya justru sangat fatal, yaitu tidak ada sesembahan. Sehingga
menurut mereka, orang semacam ini mati dalam keadaan tidak bertuhan.
Pendapat ini tidak benar karena beberapa alasan. Di antaranya:
a) Dalam hadits secara tegas men-talkin dengan laa ilaaha illallah.
b) Lafadz

Allah

saja

tidak

menunjukkan

tauhid

orang

yang

mengucapkannya.
c) Allah mengangkat hukum (tidak memberikan beban) kepada siapa
saja di luar kemampuannya. Seperti orang yang lupa atau terpaksa.
Maka kondisi saat sekarat tentu lebih utama untuk dimaafkan. Apalagi
orang tersebut tentunya meniatkan untuk melafadzkan secara utuh.
Sedangkan

dalam

Shahih

Bukhari

dan

Muslim,

Rasulullah

menjelaskan bahwa amalan itu sesuai dengan niatnya. Allahu alam.

C. MENINGGAL

1. Tata cara mengurusi jenazah sesaat setelah meninggal


a. Menutupkan kelopak matanya.
b. Mengikat rahangnya dengan tali yang lembut.
c. Menutupinya dengan kain dari kepala sampai telapak kakinya.
d. Menempatkannya ditempat yang layak dan jauh dari gangguan binatang.
e. Memohonkan ampunan.

2. Tata cara mengurusi jenazah sesaat setelah meninggal


Adapun beberapa hal penting yang berkaitan dengan memandikan
jenazah yang perlu diperhatikan yaitu:
a. Orang yang utama memandikan jenazah
a) Untuk mayat laki-laki

Orang yang utama memandikan dan mengkafani mayat laki-laki


adalah orang yang diwasiatkannya, kemudian bapak, kakek, keluarga
terdekat, muhrimnya dan istrinya.
b) Untuk mayat perempuan
Orang yang utama memandikan mayat perempuan adalah ibunya,
neneknya, keluarga terdekat dari pihak wanita serta suaminya.
c) Untuk mayat anak laki-laki dan anak perempuan
Untuk mayat anak laki-laki boleh perempuan yang memandikannya
dan sebaliknya untuk mayat anak perempuan boleh laki-laki yang
memandikannya.
d) Jika seorang perempuan meninggal sedangkan yang masih hidup
semuanya hanya laki-laki dan dia tidak mempunyai suami, atau
sebaliknya seorang laki-laki meninggal sementara yang masih hidup
hanya perempuan saja dan dia tidak mempunyai istri, maka mayat
tersebut tidak dimandikan tetapi cukup ditayamumkan oleh salah
seorang dari mereka dengan memakai lapis tangan. [3] Hal ini
berdasarkan sabda Rasulullah SAW, yakninya:

(
)
Artinya: Jika seorang perempuan meninggal di tempat laki-laki
dan tidak ada perempuan lain atau laki-laki meninggal di tempat
perempuan-perempuan dan tidak ada laki-laki selainnya maka kedua
mayat itu ditayamumkan, lalu dikuburkan, karena kedudukannya sama
seperti tidak mendapat air. (H.R Abu Daud dan Baihaqi).

2. Syarat bagi orang yang memandikan jenazah


a. Muslim, berakal, dan baligh
b. Berniat memandikan jenazah
c. Jujur dan sholeh

d. Terpercaya, amanah, mengetahui hukum memandikan mayat dan


memandikannya sebagaimana yang diajarkan sunnah serta mampu
menutupi aib si mayat.

3. Mayat yang wajib untuk dimandikan


a. Mayat seorang muslim dan bukan kafir
b. Bukan bayi yang keguguran dan jika lahir dalam keadaan sudah
meninggal tidak dimandikan
c. Ada sebahagian tubuh mayat yang dapat dimandikan
d. Bukan mayat yang mati syahid

4. Tatacara memandikan jenazah


Berikut beberapa cara memandiakan jenazah orang muslim, yaitu:
a. Perlu diingat, sebelum mayat dimandikan siapkan terlebih dahulu
segala sesuatu yang dibutuhkan untuk keperluan mandinya, seperti:
1) Tempat memandikan pada ruangan yang tertutup.
2) Air secukupnya.
3) Sabun, air kapur barus dan wangi-wangian.
4) Sarung tangan untuk memandikan.
5) Potongan atau gulungan kain kecil-kecil.
6) Kain basahan, handuk, dll.
7) Ambil kain penutup dan gantikan kain basahan sehingga aurat
utamanya tidak kelihatan.
8) Mandikan jenazah pada tempat yang tertutup.
9) Pakailah sarung tangan dan bersihkan jenazah dari segala kotoran.
10)

Ganti sarung tangan yang baru, lalu bersihkan seluruh badannya


dan tekan perutnya perlahan-lahan.

11)

Tinggikan kepala jenazah agar air tidak mengalir kearah kepala.

12)

Masukkan jari tangan yang telah dibalut dengan kain basah ke


mulut jenazah, gosok giginya dan bersihkan hidungnya,
kemudiankan wudhukan.

13)

Siramkan air kesebelah kanan dahulu kemudian kesebelah kiri


tubuh jenazah.

14)

Mandikan jenazah dengan air sabun dan air mandinya yang


terakhir dicampur dengan wangi-wangian.

15)

Perlakukan jenazah dengan lembut ketika membalik dan


menggosok anggota tubuhnya.

16)

Memandikan jenazah satu kali jika dapat membasuh ke seluruh


tubuhnya itulah yang wajib. Disunnahkan mengulanginya
beberapa kali dalam bilangan ganjil.

17)

Jika keluar dari jenazah itu najis setelah dimandikan dan


mengenai badannya, wajid dibuang dan dimandikan lagi. Jika
keluar najis setelah di atas kafan tidak perlu diulangi mandinya,
cukup hanya dengan membuang najis itu saja.

18)

Bagi jenazah wanita, sanggul rambutnya harus dilepaskan dan


dibiarkan menyulur kebelakang, setelah disirim dan dibersihkan
lalu dikeringkan dengan handuk dan dikepang.

19)

Keringkan tubuh jenazah setelah dimandikan dengan kain


sehingga tidak membasahi kain kafannya.

20)

Selesai mandi, sebelum dikafani berilah wangi-wangian yang


tidak mengandung alkohol.

D. Mengkafani Jenazah
Mengkafani jenazah adalah menutupi atau membungkus jenazah dengan
sesuatu yang dapat menutupi tubuhnya walau hanya sehelai kain. Hukum
mengkafani jenazah muslim dan bukan mati syahid adalah fardhu kifayah.
Dalam sebuah hadist diriwayatkan sebagai berikut:


, ,

( )

Artinya: Kami hijrah bersama Rasulullah SAW dengan mengharapkan


keridhaan Allah SWT, maka tentulah akan kami terima pahalanya dari Allah,
karena diantara kami ada yang meninggal sebelum memperoleh hasil duniawi
sedikit pun juga. Misalnya, Mashab bin Umair dia tewas terbunuh diperang
Uhud dan tidak ada buat kain kafannya kecuali selembar kain burdah. Jika
kepalanya ditutup, akan terbukalah kakinya dan jika kakinya tertutup, maka
tersembul kepalanya. Maka Nabi SAW menyuruh kami untuk menutupi
kepalanya dan menaruh rumput izhir pada kedua kakinya. (H.R Bukhari)
Hal-hal yang disunnahkan dalam mengkafani jenazah adalah:
a. Kain kafan yang digunakan hendaknya kain kafan yang bagus, bersih dan
menutupi seluruh tubuh mayat.
b. Kain kafan hendaknya berwarna putih.
c. Jumlah kain kafan untuk mayat laki-laki hendaknya 3 lapis, sedangkan
bagi mayat perempuan 5 lapis.
d. Sebelum kain kafan digunakan untuk membungkus atau mengkafani
jenazah, kain kafan hendaknya diberi wangi-wangian terlebih dahulu.
e. Tidak berlebih-lebihan dalam mengkafani jenazah.
Adapun tata cara mengkafani jenazah adalah sebagai berikut:
a. Untuk mayat laki-laki
1) Bentangkan kain kafan sehelai demi sehelai, yang paling bawah lebih
lebar dan luas serta setiap lapisan diberi kapur barus.
2) Angkatlah jenazah dalam keadaan tertutup dengan kain dan letakkan
diatas kain kafan memanjang lalu ditaburi wangi-wangian
3) Tutuplah lubang-lubang (hidung, telinga, mulut, kubul dan dubur)
yang mungkin masih mengeluarkan kotoran dengan kapas.
4) Selimutkan kain kafan sebelah kanan yang paling atas, kemudian
ujung lembar sebelah kiri. Selanjutnya, lakukan seperti ini selembar
demi selembar dengan cara yang lembut.
5) Ikatlah dengan tali yang sudah disiapkan sebelumnya di bawah kain
kafan tiga atau lima ikatan.

6) ikat kain kafan tidak cukup untuk menutupi seluruh badan mayat
maka tutuplah bagian kepalanya dan bagian kakinya yang terbuka
boleh ditutup dengan daun kayu, rumput atau kertas. Jika seandainya
tidak ada kain kafan kecuali sekedar menutup auratnya saja, maka
tutuplah dengan apa saja yang ada.
b. Untuk mayat perempuan
Kain kafan untuk mayat perempuan terdiri dari 5 lemabar kain putih,
yang terdiri dari:
1) Lembar pertama berfungsi untuk menutupi seluruh badan.
2) Lembar kedua berfungsi sebagai kerudung kepala.
3) Lembar ketiga berfungsi sebagai baju kurung.
4) Lembar keempat berfungsi untuk menutup pinggang hingga kaki.
5) Lembar kelima berfungsi untuk menutup pinggul dan paha.
Adapun tata cara mengkafani mayat perempuan yaitu:
1) Susunlah kain kafan yang sudah dipotong-potong untuk masingmasing bagian dengan tertib. Kemudian, angkatlah jenazah dalam
keadaan tertutup dengan kain dan letakkan diatas kain kafan sejajar,
serta taburi dengan wangi-wangian atau dengan kapur barus.
2) Tutuplah lubang-lubang yang mungkin masih mengeluarkan kotoran
dengan kapas.
3) Tutupkan kain pembungkus pada kedua pahanya.
4) Pakaikan sarung.
5) Pakaikan baju kurung.
6) Dandani rambutnya dengan tiga dandanan, lalu julurkan kebelakang.
7) Pakaikan kerudung.
8) Membungkus dengan lembar kain terakhir dengan cara menemukan
kedua ujung kain kiri dan kanan lalu digulungkan kedalam.
9) Ikat dengan tali pengikat yang telah disiapkan

E. Menshalatkan Jenazah
Menurut ijma ulama hukum penyelenggaraan shalat jenazah adalah fardhu
kifayah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW, yang berbunyi:
) (
Artinya: Shalatilah orang yang meninggal dunia diantara kamu
Orang paling utana untuk melaksanakan shalat jenazah yaitu:
1. Orang yang diwasiatkan si mayat dengan syarat tidak fasik atau tidak ahli
bidah.
2. Ulama atau pemimpin terkemuka ditempat itu.
3. Orang tua si mayat dan seterusnya ke atas.
4. Anak-anak si mayat dan seterusnya ke bawah.
5. Keluarga terdekat.
6. Kaum muslimim seluruhnya.
Rukun shalat jenazah ialah:
1. Berniat menshalatkan jenazah.
2. Takbir empat kali.
3. Berdiri bagi yang kuasa.
Adapun tata cara melakukan shalat jenazah adalah sebagai berikut:
1. Niat shalat jenazah
Niat shalat jenazah dilakukan dalam hati serta ikhlas karena Allah SWT.
Sebelum shalat jenazah dilakukan maka kepada imam dan seluruh makmum
hendaknya berwudhu dan menutup aurat. Untuk menyalatkan mayat lakilaki imam berdiri sejajar dengan kepala si mayat, sedangkan untuk mayat
perempuan, imam berdiri di tengah-tengah sejajar pusat si mayat.
Lafal niat shalat jenazah:
1) Untuk mayat laki-laki
/
Sengaja aku berniat shalat atas mayat laki-laki empat takbir fardhu
kifayah menjadi makmun/imam karena Allah taala

2) Untuk mayat perempuan


/
Sengaja aku berniat shalat atas mayat perempuan empat takbir fardhu
kifayah menjadi makmun/imam karena Allah taala
2. Takbir 4 kali
a. Takbir pertama dimulai dengan mengangkat tangan dan membaca AlFatihah.
Artinya:
1) Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang,
2) Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,
3) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,
4) Yang menguasai di hari Pembalasan,
5) Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan Hanya kepada
Engkaulah kami meminta pertolongan,
6) Tunjukilah kami jalan yang lurus,
7) (yaitu) jalan orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat kepada
mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan)
mereka yang sesat.

b. Takbir kedua dan membaca shalawat




.
Artinya: Ya Allah berikanlah kesejahteraan kepada Muhammad dan
keluarganya, sebagaimana engkau telah memberikan kesejahteraan
kepada

Ibrahim

dan

keluarganya.

Berkatilah

Muhammad

dan

keluarganya, sebagaimana engkau telah memberkati Ibrahim dan


keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi bijaksana

c. Takbir ketiga dan membaca doa untuk si mayat


)( )( )( )( )(
)( )( )(
)( )( )( )(
)( .
Artinya: Ya Allah, ampunilah dia, kasihilah dia, maafkanlah dia dan
sentosakanlah dia, muliakan tempatnya, lapangkanlah kuburnya,
sucikanlah dia dengan air embun dan es, sucikanlah dia dari
kesalahannya, sebagaimana sucinya kain putih dari kotoran. Gantikanlah
rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada rumahnya, dan
gantikan keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, masukkan ia
kedalam syurga, dan jauhkan ia dari siksa kubur dan siksa neraka.
d. Takbir keempat lalu diam sejenak dan membaca doa
)( )( )(
Artinya:

Ya Allah janganlah Engkau tahan untuk kami

pahalanya dan janganlah engkau tinggalkan fitnah untuk kami setelah


kepergiannya

F. Menguburkan Jenazah
Adapun tata cara menguburkan jenazah adalah:
1. Masukkanlah mayat dari arah kakinya, jika tidak ada kesulitan.
2. Bagi mayat perempuan, ketika menguburkannya disunnahkan ditirai
dengan kain.
3. Bagi mayat perempuan yang memasukkannya kedalam kuburan
hendaklah muhrimnya.
4. Letakkan mayat di lahat dalam posisi miring ke kanan dan mukanya
menghadap ke kiblat. Rapatkan ke dinding kuburan supaya tidak
bergeser dan berikan bantalan di bagian belakang dengan gumpalan tanah
agar tidak terbalik ke belakang.

5. Letakkan mayat di dalam kuburan dengan membaca doa



Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah
6. Lepaskan ikatan kain kafan di bagian kepala dan kaki mayat.
7. Setelah selesai meletakkan mayat di dalam kuburan, terlebih dahulu
mayat di tutup dengan kabin (kepingan-kepingan tanah, papan) barulah
di timbun dengan tanah.
8. Disunnahkan sebelum menimbun kuburan meletakkan tiga gengam tanah
pada bagian kepala, pinggang dan kaki.

Hal-hal yang dilarang dan dianjurkan melakukannya setelah kuburan


ditimbun yaitu:
1. Tinggikan kuburan (20 cm) dari tanah sebagai tanda bahwa itu adalah
kuburan.
2. Boleh memberi tanda kuburan dengan batu atau sejenisnya.
3. Membundarkannya lebih baik daripada meratakannya.
4. Haram membuat bangunan diatas kuburan,
5. Makruh duduk dan berdiri di atas kuburan dan haram buang air di atas
kuburan.
6. Tidak boleh membangun mesjid di atas kuburan dan membuat jendela
khusus ke arah kuburan.
G. Taziyah
Taziyah artinya menghibur orang yang sedang tertimpa kesusahan karena
kematian salah satu sanak keluarganya dengan cara memberi nasehat dan
menggembirakannya. Menggembirakan disini dapat dilakukan dengan cara
menerangkan pahala-pahala yang diterima oleh si mayyit, siapa saja yang dapat
bersabar hati dalam menerima musibah dari ALLAHU SUBHANAHU
WATAALA JALAJALALUH, dan mendoakan baik kepada mayyit maupun
kepada ahli warisnya.

Taziyah hukumnya sunnah, dan pahalanya tidak kecil. Disebutkan dalam


hadits Rasulullah SAW :
Tidak ada seorang mumin yang mentaziyahi saudaranya karena suatu
musibah yang menimpanya kecuali Allah akan memberi kepadanya pakaian
dari perhiasan kemulyaan besok pada hari kiamat.
Sebaiknya taziyah dilakukan sebelum jenazah diberangkatkan sekalipun
boleh bertaziyah sesudah jenazah diberangkatkan hingga 3 hari kemudian.
1. Adab Tata Cara Bertaziyah
Sesuai dengan arti taziyah, maka yang ditaziyahi adalah ahli
keluarganya yang ditinggalkan dan yang sedang mendapat kesusahan.
Adapun adab tata cara bertaziyah adalah sebagai berikut :
a. Setelah bertemu dengan keluarga mayyit sampaikan ucapan doa :
Adhamallaahu ajraka wa ahsana azaa-aka wa ghafara limayyitika
(Semoga Allah mengagungkan pahalamu dan membaguskan
kesabaranmu dan memberi ampun kepada mayyitmu)
b. Dalam bercakap-cakap, janganlah mengeluarkan pembicaraan yang
dapat menambah kesusahan bagi ahli waris si mayyit
c. Usahakan dengan segala macam cara yang diridhai ALLAHU
SUBHANAHU WATAALA JALAJALALUH

agar ahli waris

dapat bertabah hatinya serta tidak goncang Iman dan tauhidnya


karena terkena musibah
d. Batasilah percakapan sewaktu bertaziyah dengan patut dan jangan
sekali kali bersendau gurau dengan mengeluarkan ketawa yang
terbahak bahak
e. Hindarilah perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan suasana
berkabung, seperti permainan kartu (judi), dan lain lain
f. Ikutilah upacara menyalati mayyit sebagaimana tersebut dalam
sebuah hadits : Tidak ada seorang Islam yang meninggal dunia lalu
dishalati jenazahnya oleh empat puluh orang yang tidak musyrik,
kecuali Allah pasti memberi syafaatNya kepada si mayyit.

g. Sempurnakanlah dengan mengantarkan jenazah hingga sampai ke


makam. Hadits Rasulullah SAW : Barang siapa yang mengantarkan
jenazahnya seorang Islam dengan penuh Iman dan ikhlas, dan
iapun

menshalatinya

serta

mengantarkan

hingga

selesai

pemakamannya maka ia akan memperoleh pahala dua qirath, tiap


qirath adalah seperti gunung Uhud. Tetapi apabila ia menyalatinya
lalu kembali, maka ia memperoleh pahala satu qirath.
H. Suguhan Bagi yang Bertaziyah
Bagaimanapun keadaanya, orang yang sedang kematian sanak keluarganya
adalah orang yang sedang tertimpa kesusahan. Sedangkan kewajiban bagi yang
lain adalah turut meringankan beban kesusahannya. Oleh karena itu, pada
waktu mayyit belum dimakamkan hendaknya jangan mengeluarkan suguhan
apa-apa kepada para tamu yang sedang bertaziyah walaupun berupa minuman
saja.
Sepatutnya orang yang sedang tertimpa kesusahan tidak patut diberi beban,
tetapi tetangga atau keluarga yang lain yang seharusnya mengirim makanan
yang sudah masak untuk keluarganya yang sedang susah.
Apabila dikehendaki untuk memberikan penghormatan kepada orang yang
bertaziyah, hendaknya suguhan itu dikeluarkan sepulang dari kubur, atau
sesudah jenazah diberangkatkan menuju ke makam. Namun tetap harus diingat
bahwa hukum penggunaan harta peninggalan mayyit untuk bersedekah,
terlebih apabila si mayyit meninggalkan anak yatim atau tanggungan
kewajiban yang lain.

I. Adab Tata Cara Ziarah Kubur


Kata-kata ziarah menurut arti bahasanya adalah menengok. Ziarah kubur
artinya menengok kubur. Menurut syariat Islam, ziarah kubur merupakan
suatu amal yang shalih dan termasuk perbuatan yang baik. Ziarah kubur itu
bukan hanya sekedar menengok kubur, bukan pula sekedar mengetahui dimana
ia dikubur, atau mengetahui keadaan makam. Akan tetapi kedatangan

seseorang ke kubur atau makam dengan maksud untuk mendoakan kepada


yang dikubur dengan mengirim pahala untuknya atas bacaan-bacaan dari
ayat-ayat Al-Quran, Shalawat, kalimat Thayyibah (Tahlil, Tahmid, Tasbih),
dan lain-lain. Apalagi yang diziarahi itu adalah makan seorang Wali atau
pemimpin yang telah berjasa kepada masyarakat. Maka sebagai orang yang
tahu

balas

budi,

sudah

sepantasnya

kita

mendoakannya

dan

menghadiahkannya pahala dari bacaan-bacaan tersebut.


1. Hukum Ziarah Kubur
Hukum ziarah kubur adalah sunnah, artinya apabila dikerjakan akan
mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak akan mendapat siksa.
Rasulullah SAW juga melakukan ziarah kubur. Disebutkan didalam hadits
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad, dan Imam Ibnu
Majah yang berbunyi :
Adalah Rasulullah SAW berziarah ke makam pahlawan Uhud dan
makan ahli Baqi, Beliau memberi salam dan mendoakan kepada mereka,
katanya :
Assalamualaikum ahladdiyaari minal muminiina wal muslimiina
wainnaa insyaa Allaahu bikum laa hiquuna nas-alullaaha lanaa walakumul
aafiyata
Semoga kesejahteraan tetap bagimu wahai ahli kubur dari orang-orang
mumin dan orang-orang Islam. Insya Allah kami akan bertemu dengan
kamu.

Kami

mohon

kesehatan

kepada

ALLAH

SUBHANAHU

WATAALA JALAJALALUH untuk kami dan kamu.


Sesungguhnya telah keluar Rasulullah SAW dari kubur, maka berkata
beliau :
Assalamualaikum daara qaumin muminiina wainna insyaa Allaahu
bikum laa hiquuna.

2. Hikmah Ziarah Kubur


Disamping maksud utama ziarah yaitu untuk mendoakan terhadap
mayyit

yang

diziarahi

agar

mendapat

ampunan

dari

ALLAHU

SUBHANAHU WATAALA JALAJALALUH dan mendapatkan rahmat


serta pahala, ziarah kubur juga mengandung hikmah yang bermanfaat bagi
peziarah itu sendiri. Hikmah yang terkandung dalam berziarah kubur adalah
a. Mengingatkan Akan Alam Akhirat
Di alam akhirat, manusia yang telah meninggal akan dibangunkan
kembali untuk menerima keadilan dan balasan atas perbuatan mereka
selama di dunia. Apabila perbuatan yang mereka lakukan itu baik, maka
akan dibalas dengan pahala. Sedangkan perbuatan yang buruk akan
dibalas dengan siksa. Oleh karena itu sebelum ajal seorang manusia itu
datang, seharusnya manusia itu cepat bertaubat dan mohon ampun atas
segala kesalahan yang telah diperbuatnya. Karena ketika ajal itu telah
datang, maka kesempatan untuk beramal telah berakhir.
b. Untuk Dapat Berzuhud Terhadap Dunia
Zuhud terhadap dunia artinya adalah meninggalkan dunia untuk
berbakti

kepada

ALLAHU

SUBHANAHU

WATAALA

JALAJALALUH. Jangan sampai seorang manusia itu terpikat hati dan


pikirannya dengan tipu muslihat dunia, tetapi dia dapat menyalurkan dan
menggunakan harta bendanya untuk kepentingan amal-amal shalih.
Karena seperti yang kita ketahui, ketika seorang manusia sudah mencapai
ajalnya, harta bendanya tidak akan dibawa ke dalam kubur, melainkan
akan ditinggalkan bersama ahli warisnya. Akan tetapi, orang tersebut
tetap harus bertanggung jawab atas harta benda tersebut. Karena itu,
seorang manusia perlu memanfaatkan harta bendanya untuk amal-amal
shalih.

3. Tata Cara Ziarah Kubur


Dibawah ini adalah beberapa petunjuk dalam cara berziarah ke kubur
menurut syariat Islam, yaitu :
a. Hendaklah berwudhu sebelum berziarah
b. Setelah sampai di pintu gerbang makan, hendaknya memberi salam :
Assalamualaikum ahladdiyaari minal muminiina wal muslimiina

wainnaa insyaa Allaahu bikum laa hiquuna nas-alullaaha lanaa


walakumul aafiyata
c. Sesampainya di depan makam yang dituju, kemudian menghadap ke arah
muka mayyit seraya mengucap salah khusus, yaitu : Assalamualaikum
ya ....(nama yang diziarahi)
d. Bacalah ayat-ayat Al-Quran seperti membaca surat Yasin, Ayat Kursi,
dan lain lain
e. Setelah selesai, menghadap ke arah kiblat dengan membaca doa
f. Dalam melakukan ziarah hendaknya dilakukan dengan penuh hormat dan
khidmat serta khusyu
g. Hendaknya dalam hati ada ingatan bahwa kita pasti akan mengalami
kematian
h. Setelah berziarah hendaknya memperbanyak amal-amal kebaikan dan
menambah taat kepada ALLAHU SUBHANAHU WATAALA
JALAJALALUH
i. Hendaknya jangan menduduki nisan kubur dan melintas diatasnya,
karena hal itu termasuk perbuatan Idza (menyakitkan) terhadap si
mayyit

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sepanjang uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwasanya manusia
sebagi makhluk yang mulia di sisi Allah SWT dan untuk

menghormati

kemuliannya itu perlu mendapat perhatian khusus dalam hal penyelenggaraan


jenazahnya. Dimana, penyelengaraan jenazah seorang muslim itu hukumnya
adalah fardhu kifayah. Artinya, kewajiban ini dibebankan kepada seluruh
mukallaf di tempat itu, tetapi jika telah dilakukan oleh sebagian orang maka
gugurlah kewajiban seluruh mukallaf.
Adapun 4 perkara yang menjadi kewajiban itu ialah:
1. Memandikan
2. Mengkafani
3. Menshalatkan
4. Menguburkan
Adapun hikmah yang dapat diambil dari tata cara pengurusan jenazah,
antara lain:
1. Memperoleh pahala yang besar.
2. Menunjukkan rasa solidaritas yang tinggi diantara sesame muslim.
3. Membantu meringankan beban kelurga jenazah dan sebagai ungkapan
belasungkawa atas musibah yang dideritanya.
4. Mengingatkan dan menyadarkan manusia bahwa setiap manusia akan mati
dan masing-masing supaya mempersiapkan bekal untuk hidup setelah mati.
5. Sebagai bukti bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia, sehingga
apabila salah seorang manusia meninggal dihormati dan diurus dengan
sebaik-baiknya menurut aturan Allah SWT dan RasulNya.

B. Saran
Dengan adanya pembahasan tentang tata cara pengurusan jenazah ini,
pemakalah berharap kepada kita semua agar selalu ingat akan kematian dan

mempersiapkan diri untuk menyambut kematian itu. Selain itu, pemakalah juga
berharap agar pembahasan ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita
semua serta dapat mengaplikasikannya dengan baik dalam kehidupan
bermasyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Karim. 2004. Petunjuk Merawat Jenazah Dan Shalat Jenazah. Jakarta:
Amzah
Abd. Ghoni Asyukur. 1989. Shalat Dan Merawat Jenazah. Bandung: Sayyidah
M. Rizal Qasim. 2000. Pengamalan Fikih I. Jakarta: Tiga Serangkai
http://zainlzainal.blogspot.com/2012/10/tata-cara-penyelenggaraan-jenazah.html
http://saffiralindra.blogspot.com/2012/09/adab-tata-cara-ziarah-kubur.html
http://tanbihun.com/fikih/tata-cara-mengurus-janazah-versilengkap/#.UTSaFPJnJH0
http://ziespdi.blogspot.com/2012/03/tata-cara-menjenguk-orang-sakit.html
http://subsafan.blogspot.com/atom.xml?redirect=false&start-index=1&maxresults=500
http://www.alkhoirot.net/2011/12/doa-mengunjungi-orang-sakit.html
http://salafiyunm.blogspot.com/2009/01/tata-cara-pengurusan-jenazah.html
https://fadhlihsan.wordpress.com/2011/08/01/tata-cara-pengurusan-jenazahdisertai-gambar/
http://moslemnurse.blogspot.com/2009/11/bimbingan-sakaratul-maut-bagipasien.html